
Abrisam menikmati pemandangan di depan matanya saat ini, gadis yang dicintainya tengah memanaskan kembali makan malam mereka yang tertunda karena interupsi percintaan yang tak bisa ditunda lagi tadi. Gadis itu memilih memakai kaus hitam Abrisam yang terlihat berkali-kali lipat lebih seksi dari pada lingere atau G-string yang menerawang-menerawang itu. Sementara dirinya membiarkan otot-otot tubuh bagian atasnya terekspos begitu saja tanpa beban.
"Perlu bantuan?" tanya Abrisam basa-basi, dagunya dia topang pada salah satu tangannya, menatap intens Salina.
Salina meletakkan semangkuk besar sup panas di atas meja, dua piring nasi, sepiring gorengan. Makanan yang akan memberikanmu lemak menumpuk. Tapi aroma dan kelaparan kedua orang itu tidak mampu menolak apa yang tersaji di atas meja.
"Ish, telat sekali Anda menawarkan bantuan." Cibir Salina.
"Namanya juga basa-basi." Kekeh Abrisam kemudian.
Ketika Salina hendak menarik kursi untuk dirinya duduk, Abrisam menahan kursi itu.
"Kenapa?" Salina menatap Abrisam bingung.
Pria itu menepuk kedua pahanya, memberikan kode pada Salina agar duduk di atas pangkuannya.
"Apaan sih? Malu ah!" Salina memalingkan wajahnya yang tersipu. Aneh, padahal mereka baru saja menyelesaikan aktifitas yang membuka semua hal pada tubuhnya.
Abrisam mengulum senyum dan tidak melepaskan Salina begitu saja, ia menarik lembut lengan Salina hingga gadis itu jatuh di atas pangkuannya.
"Malu? Setelah apa yang kita lakukan tadi?" Goda Abrisam.
"Sudah ah, jangan menggodaku, ayo kita makan. Aku sangat lapar." Salina menarik piring untuknya, dan untuk Abrisam, tapi dengan tangannya, Abrisam memindahkan nasi pada piringnya ke piring Salina.
"Hei! Kenapa?"
"Aku mau makan sepiring berdua dengan istriku." jawab Abrisam.
Seketika telinga Salina memerah, ia sangat tersipu dengan perlakukan yang sangat manis dari pria ini. Sungguh tak pernah menyangka Abrisam memiliki sisi semanis ini dan seromantis ini.
Pria itu melingkarkan tangannya pada pinggang Salina, menikmati aroma dan lekuk tubuh Salina dalam pelukannya.
"Akan lebih romantis jika kau juga tidak memakai baju sepertiku." Celetuk Abrisam yang mengundang pelototan dari Salina.
"Astaga! Tak kusangka otakmu rupanya sangat ngeres ya? Nih, makan saja, makan!" Salina menyuapi Abrisam dengan suapan besar.
***
Malam semakin larut, bahkan hanya beberapa jam lagi fajar segera menyapa dari tempatnya, namun dua insan yang tengah menikmati kebersamaan mereka, menikmati cinta mereka yang terpendam selama ini.
"Katakan padaku, kemana kau waktu itu?" tanya Abrisam santai, sambil sebelah tangannya mengusap-usap lembut kulit lengan Salina. Mereka duduk di sofa, dengan dua cangkir teh hangat di atas meja. Salina meringkuk nyaman dalam dekapan Abrisam yang hangat. Wajahnya menempel pada kulit dada bidang Abrisam yang kini telah menjadi tempat ternyamannya.
"Kau tahu, aku sangat khawatir, cemas dan takut saat aku tidak bisa melacak sinyal GPS dari ponselmu." Aku Abrisam dengan jujur.
"Benarkah?" tanya Salina.
Abrisam mengangguk. Ia memejamkan matanya. "Pikiranku melayang tak menentu, memikirkan keselamatanmu. Memikirkan kemana kau pergi. Memikirkan apakah kau akan kembali lagi padaku. Memikirkan bagaimana jika kau pergi dariku. Memikirkan bagaimana bisa kau memblokir sinyal GPSnya. Semuanya bercampur."
"Wah... aku tidak menyangka kau sudah bucin padaku rupanya." Salina terkekeh.
"Kau menggodaku, ya!" Abrisam gemas menggelitiki Salina hingga gadis itu memohon ampun tak tahan lagi menerima kegeliannya.
"Memangnya, sejak kapan kau mulai menyukaiku? Padahal sejak awal kau bilang aku bukan tipemu."
"Aku bohong. Sejujurnya, aku mengatakan itu hanya untuk mengabaikan rasa yang tumbuh dalam hatiku. Padahal sejak awal, sejak kau menubrukku di depan pintu lobi rumah sakit, kau sudah mencuri perhatianku." jawab Abrisam.
Jawaban yang sontak membuat Salina menegakkan tubuhnya dan menatap Abrisam dengan tatapan tak percaya. Ekspresi Salina yang terkejut seperti itu selalu berhasil membuat Abrisam gemas dan tak bisa untuk tidak mencium bibir gadis itu.
Cup!
"Tunggu!" Salina mendorong tubuh Abrisam. "Yang aku ingat hari itu adalah hari dimana kau menodongkan pistol padaku, mengancamku, mengancam keluargaku, dan memberikanku pilihan untuk menikah denganmu atau aku akan celaka. Iya, kan?"
"Tapi kau bilang barusan..."
"Semua yang kulakukan hari itu hanya sandiwara. Aku terpaksa bersikap kasar padamu di depan Hadran, untuk membuatnya percaya bahwa aku akan membereskanmu sesuai instruksinya. Jika aku tidak seperti itu, Hadran akan menyuruh orang lain. Aku terpaksa menodongkan pistol dan selalu mengancammu hanya untuk membuatmu percaya bahwa aku tidak main-main, selain itu, untuk membuatmu tidak kabur dan tidak pergi dariku."
"Apa?"
"Selain keegoisanku yang telah jatuh padamu, aku... untuk kali pertama setelah bertahun-tahun berlalu, aku kembali merasakan takut. Takut akan kehilangan lagi. Takut aku tidak dapat melindungimu. Ketakutan yang kupikir tidak akan pernah lagi aku rasakan."
Salina sungguh tersentuh dengan kejujuran dan penjelasan Abrisam. Ia merasakan perutnya bergelenyar dan darahnya begitu berdesir membayangkan betapa besarnya Abrisam mencintainya.
Ia bergerak mengecup pipi Abrisam kemudian memeluknya.
"Lalu kenapa kau tidak pernah mengatakan perasaanmu padaku? Apa kau takut aku menolakmu?" Kekeh Salina.
"Tidak juga. Kupikir saat itu, jika pun kau menolakku, aku tetap tidak akan melepaskanmu. Aku akan tetap mempertahankanmu, meski kau membenciku. Kupikir, tak apa, selama aku mencintaimu."
"Ya Tuhan, rasanya aku ingin menangis saat ini. Bagaimana mungkin kau bisa memiliki hati selembut ini."
"Aku mencoba untuk mengabaikan rasa yang kupendam padamu, mencoba untuk tidak hanyut dalam rasa yang selalu tumbuh semakin besar. Tapi, aku tidak bisa menahannya. Aku pun juga tidak bisa mengungkapnya. Bukan karena takut kau menolakku, tapi aku takut cintaku justru akan menyakitimu, memberikanmu luka karena hidupku yang terlalu gelap."
Salina semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Abrisam. "Kenapa kau berpikir hidupmu gelap?"
"Aku menyakiti Ibuku. Mengecewakannya. Dan yang kulakukan malah bergabung, berdiri pada sisi seseorang yang menjadikanku seperti ini."
Salina menggeleng, mengusap lembut dada Abrisam.
"Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, Abi. Kau masih sangat muda. Kau kehilangan orang-orang yang kau sayang. Kau hanya melakukan apa yang harus kau lakukan untuk bertahan hidup dan untuk menyelamatkan nyawa Ibumu."
"Kau... tahu?" Abrisam menatap tak percaya pada Salina.
Salina menyulam senyum sendu dan mengangguk. "Waktu itu aku pergi ke rumah Ibumu, aku mencari tahu tentangmu dari beliau." Dan pada akhirnya aku mengerti, kau adalah pria yang luar biasa.
*"*Apa Ibu sangat membenciku?"
Salina menggeleng. "Ibu hanya membenci ginjal yang ada di dalam tubuhnya. Tapi tidak sedikitmu Ibu membencimu. Ia sepenuhnya mengerti posisimu, hanya saja kebenciannya pada Hadran menutupi kepedulian hatinya padamu."
Abrisam menghela napas pelan. "Ibu tidak membenciku..."
Salina mengangguk.
"Lalu. kau, apa kau menerimaku karena kasihan atas kisahku?"
Salina kembali mengecup pipi Abrisam. Kemudian menjawab, "Jika aku hanya kasihan pada kisahmu? Apa kabar dengan kisahku? Seharusnya pertanyaan itu kuajukan padamu bukan?" Salina terkekeh.
Abrisam mencubit pelan ujung hidung Salina dan mengecupnya. "Lalu apa alasanmu? Bukankah kau bilang kau akan membenciku sampai mati?"
"Awalnya memang begitu." Kekeh Salina. "lagi pula siapa yang tidak akan membencimu jika posisinya seperti aku. Tapi," Salina mengubah posisi duduknya hingga mata mereka saling bertemu. "Kau dengan segala sikapmu yang begitu membingungkanku perlahan mengubah sudut pandangku padamu. Awalnya aku tidak mengerti dengan segala hal baik yang kau lakukan padaku. Hingga aku tak sadari, kebencian dalam hatiku untukmu ternyata sudah tidak ada lagi. Sampai pada akhirnya aku memutuskan memilih untuk bertahan bersamamu. Meski aku berada di tengah-tengah hujan peluru, selama itu aku bersamamu, aku akan bertahan."
Keterbukaan yang mereka sama-sama lakukan pada waktu menjelang subuh itu membuat aliran yang menyetrum keduanya, hingga menciptakan tegangan tinggi yang berbahaya jika tidak dilepaskan.
Abrisam menarik dan menahan tengkuk leher Salina sementara bibirnya melahap bibir Salina dengan kelaparan yang tak terduga. Begitu pun Salina, membalas setiap sapuan lembut, basah dan hangat itu dengan sama intensnya. Dan ronde kedua pun terjadi di atas sofa. Dua cangkir teh di atas meja pun menjadi saksi bisu dua insan yang kembali melakukan penyatuan hingga pelepasan penuh peluh.
.
.
.
TBC~