You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Obrolan Ringan Di Pagi Hari.



Salina terbangun, mungkin setelah dua atau tiga jam ia berhasil tidur. Ia menengok ke arah Abrisam, pria itu sudah terlelap seperti bayi. Sementara Salina, ia terpaksa turun dari tempat tidur agar sekujur tubuhnya yang bergemetar tidak sampai membuat Abrism ikut terbangun. Ia mengusap keringat dingin yang memenuhi dahinya.


“Tidak apa-apa, semua sudah berakhir. Tidak apa-apa, semua sudah berakhir.” Salina terus menggumamkan kalimat-kalimat itu. Ia memeluk tubuhnya sendiri, memejamkan matanya sambil berjalan bolak-balik di dalam kamar.


“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Aku akan bertahan. Aku akan bertahan.” Gumamnya terus menerus sampai ia merasa tubuhnya mulai tenang tidak lagi gemetar, barulah ia membuka mata, kembali mengatur napasnya. Ia duduk kemudian pada sofabed, sesekali ia melirik pada Abrisam yang masih tenang dalam lelap tidurnya.


Dari lengan baju Abrisam yang naik, Salina dapat melihat perban yang mengintip pada lengan pria itu. Ia melangkah sepelan mungkin untuk berada pada tepi kasur tempat Abrisam tidur, ia menunduk sedikit untuk memastikan tidak ada darah yang merembes lagi.


“Apa yang kau lakukan?” Diluar dugaan, Abrisam memeregokinya lagi. Salina mundur dengan sedikit kegugupan.


“Aku…” Salina tidak ingin lagi berbohong tentang membekap Abrisam dengan bantal. “Aku hanya ingin mengecek apakah ada darah lagi yang merembes dari jahitanmu, jika ada, mungkin baiknya nanti pagi ke dokter.”


Abrisam dengan matanya yang masih beradaptasi dengan cahaya lampu tidur di atas meja sebelahnya, ia melihat waktu pada ponselnya, merespon Salina dengan nada tak percaya, “Pada jam tiga pagi?”


“I-iya. Aku hanya… hanya… aku hanya tidak bisa tidur karena sekamar dan seranjang denganmu!” Omel Salina pada akhirnya mencari alasan. “Aku akan tidur di sofa.” Salina menjauh dan menuju sofa. Ia langsung merebahkan dirinya di atas sofa tanpa bantal juga selimut.


“Lehermu akan sakit kalau kau tidur seperti itu.”


“Kembalilah tidur, jangan hiraukan aku.” Salina berbalik badan memunggungi Abrisam.


“Kau tidak bisa tidur karena aku, atau karena mimpi burukmu?” Abrisam dapat melihat punggung Salina yang menegang. Tapi, gadis itu tidak menjawab dan memilih untuk diam.


Tapi tiba-tiba sebuah tangan terselip di bawah punggung juga di bawah tengkuk kakinya, kemudian dirinya melayang di udara.


“Hei, apa yang kau lakukan?!” Omel Salina sambil memberontak, dan Abrisam pun akhirnya melepaskan dan mendaratkan Salina kembali di atas ranjang.


“Kau tidurlah di kasur, biar aku yang di sofa.” Abrisam hendak mengambil bantalnya, tapi Salina menahannya.


“Mana bisa? Sofa itu terlalu kecil untukmu. Biar aku saja.”


Abrisam mendengkus, menatap Salina dengan tatapan mengantuknya, “Kau tahu, kita ini sama-sama keras kepala, kita bisa memperdebatkan ini selama satu minggu tanpa tidur. Tapi saat ini aku benar-benar butuh tidur yang berkualitas.”


“Baiklah, tidur saja di ranjang, aku juga akan kembali tidur lagi di ranjang.”


“Good girl.” Abrisam kembali naik ke atas ranjang pada posisinya, sementara Salina memunggunginya.


“Aku tahu apa yang kau lakukan tadi.” Gumam Abrisam berhasil membuat Salina membalikkan tubuhnya dan melihat Abrisam dengan tatapan kagetnya.


“Kau… kau melihatku?”


Abrisam menangguk pelan. “Apa kau selalu seperti itu?”


Salina terdiam, namun kemudian ia mengangguk. “Aku selalu bermimpi tentang masa lalu itu. Terkadang aku bermimpi mereka melakukannya di kamarku. Terkadang mereka membekapku ketika aku tidur dan melakukannya. Terkadang mereka mengejarku dalam ruangan gelap yang tidak ada ujungnya. Terkadang…” Salina tidak meneruskan kalimatnya.


“Sudahlah, kau kembalilah tidur, aku rasa aku akan menulis saja.”


Tapi alih-alih bisa bangkit dari tempat tidur, Abrisam malah menarik Salina dan membawanya dalam dekapannya.


“Hei apa yang-”


“Tidurlah. Aku akan menjadi perisaimu. Kau tahu, ada pistol di bawah bantalku, aku bisa langsung menembak siapa pun yang masuk dan menganggumu.”


“Tapi-”


“Ssshh. Tidur.” Dekapannya malah semakin dipererat, tidak memberikan celah pada Salina untuk bisa lolos.


Dan anehnya, ya. Anehnya juga ajaibnya, Salina langsung merasakan kantuk. Ia seketika merasakan kenyamanan dalam dekapan tangan kekar Abrisam yang menyelimutinya. Ia melihat Abrisam yang sudah kembali memejamkan matanya. Salina pun turut memejamkan matanya di atas dada bidang pria itu. Dan untuk kali pertama, Salina merasa begitu aman. Mereka pun jatuh tertidur dengan saling mendekap.


.


.


.


Salina membuka mata, memicing begitu cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela yang tirainya sudah dibuka lebar-lebar. Ia sendirian di atas ranjang, tidak ada Abrisam. Kemudian ia tersenyum lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya, setelah itu bukannya turun dari tempat tidur, tapi malah kembali menggelung dirinya di bawah selimut.


Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum pada wajah bantalnya, mengingat kembali bagaimana semalam ia tidur dalam pelukan pria yang pernah begitu sangat dibencinya. Namun, justru dalam pelukannya, Salina untuk pertama kalinya bisa merasakan tidur tanpa bermimpi buruk dan begitu nyenyak.


Salina menghidu aroma tubuh Abrisam yang tertinggal pada permukaan seprai. Kini ia percaya pada apa yang pernah diucapkan Galih.


“Apakah aku orang yang dia pilih untuk dia jaga dan lindungi? Rupanya ia mempunyai hati yang cukup hangat.” Gumam Salina, ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Abrisam masuk.


“Kau sudah bangun?”


“Ya.” Jawab Salina sambil menganggukkan kepala.


“Kupikir kau masih tidur, baru saja aku mau memanggil pemadam kebakaran untuk membangunkanmu.”


“Ish!” Salina memicing sinis padanya. Baru saja aku memujinya, tapi orang ini sudah kembali menyebalkan lagi!


“Ayo bangun, makan, lalu bersiap-siap.”


“Eh, Bersiap-siap? Kemana?”


“Ya, kemana?”


Abrisam melihat Salina sambil menelengkan kepala, “Cepat bangun. Makan. Mandi.” katanya mengulang perintahnya pada Salina.


“Tapi-”


CUP!


“HEI!”


“Salah sendiri tidak pernah belajar dari pengalaman.” Sahut Abrisam cuek seraya melenggang keluar kamar setelah mencuri kecupan.


“Ih nyebelin!” Omel Salina. Namun omelannya sungguh bertolak belakang dengan debaran jantung juga kupingnya yang memerah.


Akhirnya Salina keluar dari dalam kamar, setelah mencuci wajah dan menyikat gigi. Ia mencepol rambutnya asal, kemudian memastikan tidak ada kotoran mata pada sudut-sudut matanya. Entah kenapa, ia ingin terlihat cantik natural di depan Abrisam. Sungguh aneh!


“Duduklah.” Titah Abrisam pelan pada Salina.


Salina melihat sepotong roti isi dan segelas susu juga ada segelas jus untuknya. Ia melihat Abrisam terlihat serius dengan layar ponselnya.


“Hei,” Panggil Salina.


“Hm?”


“Apa kau selalu sarapan makanan ala Barat begini?” tanya Salina sambil mengigit rotinya.


Abrisam mengalihkan padangannya dari layar laptop kepada Salina. “Kenapa memangnya?”


“Tidak apa-apa. Aku hanya sulit percaya, dengan tubuhmu yang besar itu, kau sarapan sebegini dikitnya, apa kau tidak akan merasa kelaparan sebelum jam makan siang?”


“Tidak, karena nutrisi dan gizinya seimbang.” jawab Abrisam. Lalu ia melihat Salina dengan tatapan menilai. “Melihat dari tubuhmu yang kecil, pasti kau hanya tahu makan tanpa memikirkan gizi dan nutrisinya, kan?”


Salina hanya memberengut, tapi kemudian dia mengajukan pertanyaan lagi. “Boleh aku bertanya lagi?”


“Kau selalu bertanya, kanapa tiba-tiba membutuhkan ijin?”


“Apa kau pernah menyukai seseorang?”


“Pernah.” Jawab Abrisam kembali fokus pada layar ponselnya.


“Kau mencintainya?”


“Ya.” Jawab Abrisam tanpa ragu.


“Sampai sekarang?”


Abrisam kembali melihat Salina, kemudian menjawab, “Ya.”


Ekspresi Salina berubah tanpa Salina sadari, namun Abrisam menyadarinya dan menikmatinya.


“Kalau kau masih mencintai seseorang kenapa kau malah menikahiku?” Ada nada kesal dalam kalimat yang terucap.


“Karena kau akan mati jika tidak menikah denganku, kau lupa itu?” Abrisam menatap intens.


Salina mengalihkan wajahnya, ia meletakkan roti isinya untuk menenggak jus buahnya.


“Kenapa kau terdengar kesal?”


“Kesal? Siapa? Aku? Hahahah! Mana ada! Tentu saja aku tidak lupa alasan kita menikah, lagi pula… lagi pula… kita menikah memang karena terpaksa. Tapi perlu kau ketahui, meski kau mencintai orang lain, aku tidak menyetujui poligami, jadi kau tidak bisa dan tidak boleh berpoligami.”


Abrisam meletakkan ponselnya agar bisa lebih fokus bicara dengan Salina yang tiba-tiba mengajukan pertanyaan aneh bin ajaib dengan arah yang menjurus pada sebuah kecemburuan.


“Kenapa tidak boleh? Apa kau takut kau tidak lagi bisa tidur dalam dekapanku?”


“Ih! Geer sekali Anda!” Salina mencibir.


“Akui saja, kau tidur dengan sangat nyaman dan tentram, seperti anak bayi dalam pelukan ibunya. Kau bahkan sampai tidak sadar kalau…”


“Kalau apa?” Wajah Salina mulai menegang begitu kalimat Abrisam sengaja dibuatnya menggantung.


“Kalau aku beberapa kali menciummu.”


“APA?! DASAR KAU MESUM!”


.


.


.


TBC~