
Salina tidak bisa berkutik di bawah pagutan bibir maskulin Abrisam, sampai beberapa detik yang terasa begitu lama, Abrisam menarik dirinya, melepaskan pagutan itu hanya untuk memberikan Salina ruang untuk mengambil oksigen.
“Inih… bukan ciuman karena aku…. melakukan protes, kan?”
“Bukan…” Abrisam menatap lekat kedua mata indah milik gadis itu. Tangannya menelusuri lengan hingga lompat ke pipi chubby Salina, mengusap pipi itu dengan lembut.
“Lalu apa?” tanya Salina.
Abrisam tidak dapat menjawabnya.
“Jangan melakukannya jika kau tidak bisa memberikan jawaban.” Salina mendorong tubuh Abrisam untuk melepaskan diri dari pria itu, sayangnya, dorongan Salina tidak memberikan efek pergerakan apa pun pada tubuh Abrisam.
“Kau? Apa kau akan menyerahkan dirimu padaku jika aku memberikanmu jawaban?”
“Ya.” Jawab Salina tanpa ragu.
“Kenapa?”
“Karena aku jatuh cinta padamu!”
Deg!
Sesuatu menghantam hati Abrisam. Bukan hantaman yang menyakitkan, namun sebuah hantaman yang menyadarkannya bahwa perasaannya mendapatkan balasan. Namun disisi lain, dia terlalu takut untuk menerima cinta tulus gadis itu. Terlalu takut jika nanti cintanya akan memberikan penderitaan untuk Salina juga untuk keluarganya.
“Kau…
membenciku.” Ujar Abrisam.
“Memang. Tapi entah bagaimana dan entah sejak kapan kau justru membalikkan perasaanku padamu. Kau membuatku melihat siapa dirimu. Dan aku jatuh cinta padamu.” Ungkap Salina. Abrisam memalingkan wajahnya, melemparkan pandangannya kearah lain, tapi, kedua lengannya enggan melepaskan Salina dari kuncian posisi mereka.
“Kisahku terlalu gelap untuk kau masuki, Sal.” Ujar Abrisam lirih.
Salina menggerakkan tangannya, menyentuh rahang tegas milik Abrisam, membawa kembali dengan lembut tatapan dalam pria itu untuk mereka saling bertatapan.
“Kau pun tahu bagaimana kisahku.” Ucap Salina lembut.
Mereka berdua saling diam, untuk beberapa saat, hanya tatap mata yang saling bersuara tanpa suara.
“Jika memang nyatanya cintaku tak terbalas, kumohon berhenti bersikap begitu baik padaku, berhenti bersikap yang membuatku bingung.” Ujar Salina lirih.
Namun Abrisam masih juga menutup bibirnya.
Ada perjanjian yang harus dia tepati. Ada perasaan yang tak lagi mampu dia sembunyikan. Ada hasrat yang tak mampu lagi dia bendung. Ada cinta yang menunggunya dengan tulus. Namun, ada juga luka yang nantinya harus dia bayar.
Dilema begitu memenjarakannya.
“Baiklah, jika memang kau tidak bisa memberikanku jawaban, ku mohon, lepaskan aku. Jangan membuatku tersiksa dengan perasaanku atas sikapmu.” Salina akhirnya bisa melepaskan diri dari kedua lengan kekar Abrisam yang melingkar pada pinggangnya. Hatinya terasa sakit.
Namun hanya beberapa langkah saja Salina beranjak dari tempatnya, kedua lengan kekar itu kembali memerangkapnya dari belakang. Memeluknya erat, menghidu aroma manis dari cekung leher Salina.
Salina berontak, berusaha melepaskan diri dari Abrisam.
“Lepaskan aku!”
Abrisam menggelengkan kepala.
“Apa yang kau inginkan sebenarnya dariku?! Lepas! Lepas!”
Abrisam malah semakin erat memeluk Salina. Menolak semua perasaan ragu dalam hatinya untuk kali ini saja dalam hidupnya ia ingin jujur atas rasa yang ada dalam hatinya.
“Tidak.” Ucap Abrisam.
“Kenapa?” Salina mulai menitikan air matanya. “Apa yang kau inginkan dariku?” Suaranya mulai bergetar. Hatinya tak lagi karuan merasakan perasaan-perasaannya yang menyesakkan dada.
“Karena aku…” Abrisam membalikkan tubuh Salina, hingga mata mereka saling beradu. “mencintaimu.”
Tangis pun akhirnya pecah dari bibir mungil Salina. Tak lagi kuasa ia menahan perasaanya, kali ini dibiarkannya lepas. Begitu pun dengan Abrisam. Seperti beban berat yang menekan dadanya, menghalau oksigen masuk ke dalam paru-parunya. Kini, beban itu terangkat, oksigen mengisi paru-parunya dengan sempurna, membuatnya
kembali bisa bernapas dengan suka cita.
Abrisam menarik Salina, memeluknya erat seolah gadis itu akan tersedot ke dalam lubang hitam dan menghilang. Begitu pun Salina, membalas pelukan erat pria yang telah membuatnya jatuh hati juga jatuh cinta pada cerita hidupnya yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.
“Aku mencintaimu.” Abrisam mengulangi pengakuan cintanya. Salina menganggukkan kepalanya dalam dekapan pria itu.
Dan yang terjadi kemudian, Abrisam tiba-tiba saja mengangkat tubuh Salina, dibiarkannya kedua telapak kaki Salina melayang di udara, hingga keduanya mendarat di atas kasur yang empuk dan nyaman. Abrisam mengecup kedua mata Salina yang basah karena air mata yang deras mengalir.
“Ssstt… tenanglah, ini aku.” Bisik Abrisam dengan begitu lembut. Tangannya mengusap air mata pada sudut kedua mata gadis itu. “Lihatlah, ini aku. Abrisam. Ini aku.”
Perlahan, sorot ketakutan pada kedua mata Salina memudar, ia kembali melihat Abrisam. Ia kembali pada kenyataan, saat ini dirinya berada di bawah kukungan pria yang dia cintai. Suaminya.
“Abi…” Lirihnya.
“Ya ini aku.”
Abrisam kembali memberikan sentuhan-sentuhan lembut juga kecupan-kecupan lembut pada wajah Salina hingga ke ceruk leher Salina. Salah satu tangannya pun ikut berwisata pada setiap lekuk yang tertutup kaus kebesaran itu, hingga sampai pada puncak dua bu*ah dada yang kencang dan begitu pas pada telapak tangannya.
Suara desah lolos tanpa disengaja dari bibir Salina. Suara yang semakin membangkitkan hasrat juga pemberontakkan pada bagian bawah tubuh Abrisam.
Tapi, belum saatnya bagi Abrisam untuk melepaskan pemberontakan itu, ia masih ingin mengeksplor pada setiap penjuru keindahan yang tersembunyi di bawah kungkungan tubuhnya sendiri.
Jemarinya mengusap lembut puncak bu*ah dada itu, hingga memberikan efek tak karuan pada Salina. Gadis itu mengigit bibir bawahnya dengan sangat sensual, tangannya meremas lembut rambut Abrisam, ia menerima semua sentuhan pria itu. Rasa takut, trauma dan kabut suram yang memenjarakannya selama ini pada kisah masa lalunya
perlahan beranjak pergi.
Ia tidak bisa menghapus masa lalunya, ia tidak bisa mengubah masa lalunya, dan seseorang yang kini tengah mencum*bunya telah menerima segala kekurangan gadis itu, lalu mengapa ia tidak bisa menerima dirinya sendiri dengan segala kisahnya. Seperti halnya ia yang menerima dengan tulus dan lapang pria itu masuk ke dalam
hatinya, ia juga pada akhirnya bisa menerima dirinya sendiri.
Ia berhak untuk bahagia bersama seseorang yang mencintainya dan dicintainya.
Abrisam menegakkan tubuhnya, ia melepaskan kaus hitamnya lalu melemparkannya ke sembarang arah, membuat Salina melebarkan matanya melihat tampilan otot-otot yang menempati tubuh Abrisam dengan proposi yang pas sempurna. Tidak berlebihan, tidak pula tanggung-tanggung. Jemari lentiknya bergerak menyentuh otot yang membentuk kotak-kotak pada perut kencang Abrisam.
“Kenapa kau begitu sempurna?” Suara Salina hampir menyerupai bisikan.
Abrisam hanya tersenyum, kemudian tanganya mulai meraih ujung kaus Salina hendak melepaskan kaus kebesaran itu dari surga dunianya. Tapi, tangan Salina menahannya.
“Kenapa?” Tanya Abrisam. “Apa kau takut?”
Salina menggeleng. “Aku… malu… tubuhku tidak cantik.”
Abrisam kembali tersenyum, ia mengecup kening Salina. Kemudian berkata, “Apa kau lupa aku sudah pernah melihat tubuhmu ketika kau mabuk?”
“Ah!” Salina menutup mulutnya. “Benar juga! Ah, aku malu sekali.” Kali ini Salina menutup wajahnya.
“Kenapa harus malu? Bagiku, kau adalah hal yang paling indah yang pernah kuterima dalam hidupku.”
Perlahan Salina mendapatkan rasa percaya dirinya, ia membiarkan Abrisam menyingkirkan kaus itu dari antara mereka. Penutup merah pada dada Salina menyambut Abrisam, begitu pun dengan segitiga pengaman
pada bagian tubuh Salina yang paling intim.
“Kau membuatku gila, Sal.” Dan setelah itu yang terjadi hanyalah bahasa tubuh mereka, saling memberi dan saling menerima efek bergelenyar dari setiap sentuhan yang terjadi diantara mereka berdua. Abrisam tidak sedikit pun
melewati setiap jengkal tubuh Salina tanpa meninggalkan tanda.
“Kau milikku, Sal. Kau hanya milikku.” Bisik Abrisam sembari melepaskan sisa kain-kain yang tersisa pada tubuh mereka berdua. Dengan mudah Abrisam melepaskan pengait bra yang berada pada bagian depan.
“Terpujilah mereka yang menciptakan pengait di depan.” Ujar Abrisam sembil tersenyum lapar melihat dua kekembaran yang tersembunyi sejak tadi, menggoda Abrisam dengan sempurna hingga pria itu langsung melahapnya dengan rakus.
******* pun kembali lolos dari bibir Salina. Sungguh di luar kendali Salina setiap rasa yang dia rasakan saat ini. Semuanya begitu lembut, begitu menggoda, begitu menggila, begitu menagih, begitu mengharukan bagi Salina.
“Aku milikmu, Abi.” Bisik Salina tepat di atas telinga Abrisam. “Dan kau pun juga milikku.”
Rangsangan setiap rangsangan yang diterima pun telah membuat milik Salina begitu siap untuk menerima milik Abrisam yang kuat.
“Kau sudah sangat siap…” Tatap Abrisam mata Salina, kedua tatapan mereka sama-sama telah ditutupi kabut gairah yang tak lagi terbendung. Jemari Abrisam yang bermain-main di bawah sana membuat Salina semakin kehilangan akal dan menggelinjang, lalu detik berikutnya tubuhnya terasa begitu lemas ketika ia melepaskan sesuatu yang begitu hangat keluar dari dalam dirinya.
Lalu berikutnya, penyatuan pun dilakukan dengan sangat pelan-pelan, penuh kelembutan dan dilakukan dengan tempo yang membuat keduanya saling kehilangan akal mereka. Derit per pada kasur dan suara-suara kenikmatan dari keduanya saling mengisi dan memenuhi kamar utama dari unit apartemen itu, hingga pada akhirnya setelah beberapa menit dan beberapa pose yang memberikan sensasi berbeda, mereka sama-sama mencapai puncak dan melepaskannya bersama.
Abrisam memeluk erat Salina ketika miliknya perlahan mengendur di dalam milik Salina yang saat ini berada di atas Abrisam. Salina merebahkan kepalanya di atas dada bidang Abrisam yang berkeringat, mendengarkan degupan jantung pria itu yang perlahan teratur, dadanya yang bergerak naik turun membuat Salina begitu nyaman.
Kumohon, jangan melepaskanku.
.
.
.
TBC~