
Abrisam menerobos masuk begitu saja ke rumah Hadran, para pengurus rumah yang sudah terbangun cukup terkejut dengan kedatangan Abrisam di pagi-pagi buta seperti itu. Ditambah dengan ekspresi wajahnya yang dingin dan sorot matanya yang gelap.
“Bangunkan Om Hadran, aku tunggu dia di ruang kerjanya.” Titah Abrisam pada pengurus rumah. Dia menunggu Om-nya dengan emosi yang sudah menggebu-gebu namun ia harus menahannya. Ia terus bolak-balik di dalam ruangan itu sambil mengepalkan tangannya, sampai pintu terbuka dan Hadran masuk, masih mengenakan piyama tidurnya yang mahal.
“Ada apa ini, Ab? Kenapa pagi-pagi sekali kau sudah-”
Prak!
Abrisam melemparkan dokumen yang dibawanya dari lokasi kejadian dan dilemparkannya di atas coffee table di ruangan itu.
“Apa maksud Om?!”
“Apa itu, Ab?”
Abrisam menyeringai, “Jangan berpura-pura tidak tahu.” Ujar Abrisam dengan suara rendahnya.
Hadran terdiam.
“Aku tahu apa yang sedang kau skenariokan, tapi biar kuberitahu, skenariomu sangat buruk!”
“Aku tidak mengerti.” Hadran masih dengan ekspresinya yang bingung.
“Aku tahu kau yang mengirimkan orang-orangmu untuk memata-matai kami, lalu kau kirim Liona untuk melihat kami dari dalam, dan sekarang kau mau menjebak istriku dengan skenario murahan seperti ini?!”
Ekspresi bingung dan tak tahu menahu pada wajah Hadran pun menguap, digantikan dengan ekspresi yang tidak asing lagi.
Dia menghela napas ringan, seraya melangkah menuju meja kerjanya, duduk pada kursi kebesarannya dengan tenang.
“Lihat apa yang terjadi padamu, Abi. Kau nyaris kehilangan nyawamu untuknya. Kau mengorbankan dirimu untuk gadis itu. Dia sudah membuatmu lemah seperti ini. Kau pikir aku akan diam saja melihatmu dibuat lemah olehnya.”
Abrisam mengeraskan rahangnya. Dia menghampiri meja, mencondongkan tubuhnya untuk mengintimidasi Hadran. Sorot matanya yang gelap dan menusuk disaat bersamaan tak dipungkiri membuat Hadran harus waspada, menyelipkan tangannya di bawah meja untuk meraih pistolnya. Tapi… pistol itu tidak ada.
“Ini peringatan terakhirku, Om. Jangan sekali-sekali lagi kau menganggu istriku, apa lagi menyentuhnya. Jika Salina sampai terluka, kau tidak tahu apa yang bisa kuhancurkan untukmu.” Pelan, rendah, dingin menjadi satu dalam nada suara yang keluar dalam setiap kata yang diucapkan Abrisam pada Hadran.
Meski terlihat tenang, namun sejujurnya Hadran cukup ketar-ketir dengan keponakannya itu. Ia tahu betul apa yang bisa dilakukan Abrisam.
“Jauhi tangan-tanganmu dari istriku dan keluarganya. Aku tidak akan mengingatkanmu lagi.”
Brak!
Abrisam menghentakkan pistol Hadran di atas meja lengkap dengan pelurunya yang sudah dia lepas-lepaskan. Kemudian melangkah dengan pasti keluar dari ruang kerja itu, meninggalkan Hadran yang mulai khawatir dengan kesetiaan Abrisam padanya.
.
.
.
Suara pintu terbuka membuat Salina yang sejak semalam tidak benar-benar tidur tersentak bangun dari sofa ruang tengah. Tatapan khawatir pada matanya seketika menguap tergantikan dengan tatapan penuh lega melihat sosok pria itu kini tengah berdiri dengan gagah meski terlihat letih pada wajahnya.
“Kau… tidak apa-apa?” tanya Salina. Sejujurnya, Salina juga tidak mengerti untuk apa ia mengajukan pertanyaan melankolis untuk Abrisam.
“Aku? Kau mengkhawatirkan aku?” Abrisam melangkah pelan mendekati Salina, sementara Salina sudah belajar dari pengalaman untuk tidak berada terlalu dekat dengan pria itu.
“Aku… aku… tidak! Aku hanya takut jahitanmu terbuka lagi, dan darah yang sudah kuberikan akan sia-sia.” Salina beralasan. Namun Abrisam tahu bagaimana gadis itu mengkhawatirkannya.
“Aku baik-baik saja, hanya sangat lapar sekali. Bisakah kau masakkan soto ayam seperti semalam?” Abrisam menyenderkan sebelah tangannya yang bebas dari jahitan ke dinding, menelengkan kepalanya dan menatap intens pada Salina.
Tatapan yang entah sejak kapan membuat Salina merasakan kegugupan.
“Masih ada, aku akan panaskan, kau sebaiknya mandi.” Salina hendak bergerak menuju dapur sebelum kata-kata Abrisam menahannya dan membuatnya mendelik.
“Omong-omong, aku tidak bisa mandi sendiri. Jahitanku tidak bisa terkena air. Bagaimana kalau kau bantu mandikan aku?”
“Kau akan aku tenggelamkan di dalam bathtub jika aku memandikanmu! Cepat sana mandi!” Salina berlalu begitu saja, tapi Abrisam masih bisa melihat bagaimana daun telinga Salina yang berubah merah.
Lucu sekali! Dan aku mulai gila! Sepertinya aku harus menenggelamkan diriku di dalam bathtub.
Abrisam meninggalkan Salina menuju kamarnya, melepaskan semua pakaiannya, melihat bagaimana jahitan pada lengannya yang berotot itu agak berdarah, tapi ia sama sekali tidak merasakan sakit atau pun nyeri, wajahnya justru menampilkan sebuah senyuman.
Kenapa aku merasakan senang melihatnya marah-marah seperti itu? Kenapa aku senang melihat segala tingkahnya yang galak? Kenapa aku tadi begitu takut dan ragu? Dan keraguanku muncul begitu aku membayangkan jika aku mati dan dia tidak bisa melindungi lagi gadis itu? Ah, apa yang terjadi padaku?
Setelah selesai membersihkan dirinya, Abrisam keluar tanpa pakaian, hanya mengenakan celana olahraga panjang. Dengan pedenya ia melangkah mengekspos setiap otot-otot bisep-trisep dan kawan-kawannya yang membuat Salina tidak fokus dan salah menuangkan kuah sayur. Bukannya ke dalam mangkuk tapi malah ke dalam gelas.
“Eh? Ah! Ya ampun!” Salina mengutuk dirinya sendiri. “Kenapa kau tidak memakai pakaianmu?! Dasar dementor gila!”
Abrisam terkekeh. “Kenapa memangnya? Kau terpesona dengan tubuhku? Kau boleh menyentuhnya jika kau mau.” Goda Abrisam sambil mengusap dadanya sendiri.
“Aku lebih baik menyentuh gigi buaya dari pada menyentuh badanmu. Cepat pakai bajumu!” Omel Salina tanpa melihat Abrisam dan menyibukkan diri dengan menyiapkan toping untuk soto ayamnya.
“Tidak bisa, lihat nih, jahitanku berdarah. Aku tidak bisa mengganti perbanku sendiri. Aku butuh bantuanmu.”
Ah, aku mulai suka menggodanya, reaksinya menggemaskan. Aku pasti benar-benar sudah gila.
Salina langsung melepaskan peralatan masaknya untuk melihat apa yang dikatakan Abrisam sambil menggerutu, “Aku akan membuatmu mendapatkan jahitan lagi jika kau berbohong.” Dan pria itu tidak berbohong.
Tiba-tiba wajah galak dan jutek gadis itu berubah panik, sangat panik malah melihat sela-sela jahitan pada lengan Abrisam merembes darah segar.
“K-kau berdarah! Kau berdarah lagi!” Perubahan ekspresi dan emosi gadis itu membuat Abrisam heran dan bingung sendiri. Salina langsung mencari kotak p3k di dapur, tapi tidak menemukannya, ia mencarinya di kamar mandi juga tidak menemukannya, ia berlari ke ruang tengah untuk mencarinya pada kabinet televisi, tapi juga tidak menemukannya, tiba-tiba saja gadis itu menangis sesegukan sambil berjongkok memeluk lututnya sendiri.
Abrisam menghampirinya, turut berjongkok di depan Salina, ia bingung, tak mengerti apa yang membuat Salina jadi menangis seperti itu.
“Maaf, aku… aku tidak dapat menemukan… kotak obat… kotak p3k… kau berdarah… kau berdarah lagi… aku… kau… darahmu… ya Tuhan bagaimana ini? Bagaimana kalau darahmu tak berhenti? Kita harus ke rumah sakit! Ya, kita harus ke rumah sakit. Ayo berdiri, kita ke rumah sakit secepatnya. Kita harus-” Salina berdiri bersamaan dengan Abrisam, dan saat itu juga Abrisam langsung memeluk Salina, memeluk gadis itu pada dadanya yang terbuka bebas tanpa kaus atau bahan apapun, membuat wajah Salina menempel sempurna pada kulitnya. Air mata pada wajah Salina membasahi dadanya.
Bukannya melepaskan diri dari pelukan Abrisam, Salina malah membenamkan wajahnya, menangis semakin sesegukan dalam dekapan Abrisam sambil terus meracau. Abrisam tidak bicara sepatah kata pun, membiarkan gadis itu meluapkan emosi kesedihannya yang tidak Abrisam mengerti. Sesekali dalam isakan tangisnya, Abrisam mendengar Salina menyebutnya 'Kak'. Abrisam tidak mengerti, tapi untuk saat ini, ia memilih untuk diam.
Setelah puas menumpahkan air matanya, Salina melepaskan dirinya dengan sedikit hentakan pada dada Abrisam, ia mengusap wajahnya yang basah dengan ujung lengan kausnya. Menghindari tatapan intens Abrisam.
“Aku akan ke apotek membeli perban.”
Grep!
Abrisam meraih tangan Salina, lalu membawa gadis itu ke kamarnya.
“Hei!” Salina menghentakkan tangannya dari genggaman Abrisam. “Jangan kau pikir setelah aku menangis dalam… dalam pelukanmu, kau bisa membawaku ke kamarmu ya!”
“Astaga, kau memang sesuatu sekali.” Abrisam melipat kedua tangannya di depan dadanya. Tak percaya melihat Salina yang kini sudah kembali menatapnya galak. “Kotak p3k ada di dalam kamarku, di lemari.”
“Ya sudah, kau ambil saja sendiri, aku akan membantu mengganti perbanmu di sofa.”
“Tidak bisa, kepalaku pusing karena terlalu lama berdiri memelukmu yang nangis sesegukan tadi. Jadi aku harus berbaring sementara kau mengganti perbanku.”
“Berbaring saja di sofa.”
“Tidak cukup, kakiku akan menggantung jika berbaring di sofa. Cepatlah, kepalaku sudah sangat pusing.” kata Abrisam sambil berlalu dengan memunggungi Salina, namun bibirnya melengkung membentuk senyuman.
“Tapi… aku tidak mau berduaan di dalam kamar itu denganmu.” Tolak Salina.
“Kenapa? Kau takut aku ngapa-ngapain dirimu?”
“Ya!” jawab Salina tanpa ragu.
“Astaga! Kau bukan tipeku. Aku tidak suka wanita berdada datar sepertimu.” Sahut Abrisam cuek dan santai sambil duduk di tepi tempat tidurnya.
Salina langsung menyilangkan tanganya di depan dadanya sendiri.
“Dasar mesum!” Maki Salina.
“Ya sudahlah, biar kan saja darah ini makin lama makin banyak merembesnya.” Keluh Abrisam seraya membaringkan tubuhnya dengan berpura-pura lemah dan memejamkan matanya.
Terdengar lagi Salina bersungut-sungut menjauh dari kamar, Abrisam membuka matanya sedikit untuk melihat apakah triknya berhasil. Dilihatnya Salina sedang menyeret salah satu kursi makan dari meja makan kemudian dijadikannya kursi itu untuk mengganjal pintu kamar agar tetap terbuka.
“Astaga, kau benar-benar berpikir aku akan berbuat mesum padamu, ya?” Abrisam melebarkan matanya tak percaya.
“Mau kubantu ganti perbanmu atau tidak?” tanya Salina dengan ekspresi wajahnya yang cemberut.
.
.
.
TBC~