You Are My Romance Story

You Are My Romance Story
Paket Baru.



Keesokkan paginya, Salina keluar dari kamar dengan mata bengkaknya sisa tangis semalaman. Ia merapatkan cardigannya sambil melihat sekeliling, tapi ia tidak menemukan sosok pria bertubuh tinggi itu. Salina mendekati pintu kamar Abrisam yang selalu tertutup rapat, ia menempelkan salah satu telinganya pada pintu itu.


Tapi ia tidak mendengar suara apa-apa. Unit apartemen itu kosong, hanya ada dirinya seorang.


Matanya tertuju pada meja makan yang sudah terdapat tudung saji di atas meja. Ia mendekati meja, membuka tudung saji itu. Sepiring roti isi, segelas jus buah dan satu wadah kecil tertutup berisi vitamin ada di sana. Secarik post it tertempel pada permukaan meja dengan tulisan tangan yang rapi.


[Makan sarapanmu dan minum vitaminmu. Setelah itu, buka paket yang ada di meja tengah. Itu untukmu.]


Salina mengernyit, kepalanya menengok pada ruang tengah, benar saja, ada sebuah kotak kardus bertengger tenang di atas meja.


“Apa itu?” Alih-alih duduk dan menyantap sarapannya, Salina justru menjauhi meja makan dan duduk pada sofa ruang tengah. Di atas kotak kardus itu lagi terdapat secarik post it yang tertempel dengan pesan tertera.


[Gunakan mereka mulai sekarang, semua data sudah ada di dalamnya.]


Salina tidak membuang waktu dan langsung membuka tutup kotak itu. Matanya melebar begitu melihat dua benda di dalam kotak itu. Sebuah laptop dan sebuah ponsel yang keduanya adalah keluaran terbaru sebuah merk cukup mahal.


Tapi kemudian Salina mencebik, menyadari kedua benda mahal itu tidak diberikan cuma-Cuma, keduanya pasti telah disadap dan dipasangkan GPS, jadi tidak mungkin Salina bisa mendapatkan kesempatan. Ia meraih ponsel karena benda itu bergetar dan sebuah notif muncul pada layarnya. Salina menautkan kedua alis matanya bingung.


[Suami]


Makan sarapanmu, setelah itu kau bisa kembali pada ponsel baru dan laptop barumu. Jangan kau cari lagi ponsel lamamu yang sudah kau banting dan laptop lamamu itu, keduanya sudah kubuang.


“Ish! Dasar! Seenaknya aja buang-buang barang milik orang!” Gerutu Salina. Tapi kemudian pesan baru masuk lagi.


[Suami]


Jangan menggerutu, cepat makan sarapanmu, lalu minum vitaminmu. Aku akan pulang nanti siang.


“Apa ini? Kenapa dia tahu aku menggerutu?” Salina menengok-nengok, mencari sesuatu yang mencurigakan. Tapi tidak ada yang aneh, tidak ada kamera CCTV yang terpasang di sana.


Semua benda masih sama pada tempatnya, tidak ada yang baru, tidak ada yang mencurigakan.


Sial! Kini dia bahkan memantau gerak gerikku di dalam rumah. Nyebelin!


.


.


.


Abrisam tersenyum melihat kekesalan pada wajah Salina dan berjalan sambil menghentakkan kaki ke meja makan untuk mulai menyantap sarapannya, ia terus memantau pergerakan Salina dari layar ponselnya sendiri.


Kau tidak akan menemukan kamera dan mikrofon yang aku sembunyikan. Kau tidak akan bisa bertindak bodoh lagi, Sal.


Ia tersenyum dengan puas di tengah-tengah pertemuan penting yang dilakukannya di perusahaan.  Jika bukan karena perintah Hadran untuk menyelesaikan masalah di perusahaan itu, Abrisam lebih memilih untuk kerja lapangan, menggunakan tinju dan tendangannya untuk memberikan pelajaran untuk para pengkhianat.


Setelah selesai dengan meeting yang membosankan, Abrisam ingin segera pulang ke apartemen, bertengkar dengan Salina, melihat ekspresi gadis itu setiap kali Abrisam mengancamnya dan menggodanya mulai dinikmati olehnya. Sikap sinis, galak, dan berani gadis itu membuat Abrisam sangat terhibur.


Abrisam melangkah dengan pasti keluar dari gedung, ia mengenakan kaca mata hitamnya ketika seseorang memanggil namanya.


“Kak Abi!”


Abrisam menengok. “Liona?”


Tanpa aba-aba, Liona langsung berlari kea rah Abrisam dan memeluknya.


“Lepaskan tubuhmu.” Titah Abrisam.


Liona menggeleng. “Tidak mau.” Tolak Liona.


“Jangan memaksaku berbuat kasar padamu.” Abrisam memberikan peringatan.


“Tapi… aku takut, Kak.” Cicit Liona.


“Apa yang membuatmu takut?”


“Seseorangmenguntitku.”


Abrisam menaikkan kedua alis matanya.


“Dimana pengawalmu?”


“Aku tidak tahu.”


“Baiklah, kuantar kau pulang.”


“Jangan!” Cegah Liona. “Di rumah pun sama saja, penguntit itu bahkan mendapatkan poto-potoku di dalam kamar.”


“Sudah beberapa hari ini aku merasa seseorang mengawasiku, Kak. Di rumah pun aku merasa tidak aman. Aku tinggal di apartemen Kakak saja, ya.”


“Jangan aneh! Sekali pun seseorang menodongkan pistol di kepalamu, kau tetap tidak akan tinggal di apartemenku.” Ucap Abrisam dingin.


“Tapi aku takut…”


“Aku akan hubungi Om untuk memeriksa kamarmu dan orang-orang di rumah, dan sementara itu, kau bisa istirahat di apartemenku.”


.


.


.


Salina cukup terkesima dengan isi kabinet dapur yang lengkap, segala macam makanan ringan ada disana, segala macam rasa kopi instan juga lengkap seperti rak mini market. Tak hanya isi kabinet, isi lemari pendingin pun tak kalah mencenangkannya. Berbagai macam bahan makanan tersimpan dengan rapi dalam kotak-kotak penyimpanan yang disusun rapi. Botol-botol air mineral dan softdrink juga tersusun rapi.


“Apa ini? Apa dia OCD?” tanya Salina pada dirinya sendiri. Sebuah fakta lain yang sungguh membuat Salina tidak akan mempercayainya jika ia tidak melihatnya sendiri. Manusia kasar dan berdarah dingin seperti Abrisam ternyata sangat rapi.


Ah, Salina baru ingat, hari pertamanya datang ke apartemen ini, Abrisam merelakan kamar kerjanya untuk ditempati Salina dari pada barang-barang Salina menganggu pandangan matanya.


Salina menyeduh salah satu kopi instan rasa Vanilla Latte. Sambil menunggu air panas mendidih adalam teko listrik, Salina memandangi bungkus kopi instan itu.


“Instan sih, tapi tidak murahan. Ck, orang itu seleranya tinggi juga. Sangat bertolak belakang dengan kelakuannya.”


Salina terus saja memaki dan mencela Abrisam tanpa dia sadari suaranya ocehannya sampai pada telinga Abrisam melalui earbuds yang tersemat pada salah satu telinga Abrisam.


“Tidak ada bir? Kupikir si darah dingin itu hanya minum bir. Ternyata dia mengkonsumsi kopi, softdrink dan air mineral juga. Pantas saja bibirnya tidak terasa pahit… eh, astaga! Apa yang aku pikirkan!”


Tapi… Salina tidak memungkiri, sepagian tadi sambil menghabiskan sarapannya dan vitaminnya, Salina mengisi kepalanya dengan ingatan akan sentuhan bibir Abrisam kali keduanya. Santuhan bibir yang awalnya kasar namun diakhiri dengan begitu lembut.


Tangannya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri, mengusapnya dan bayangan akan sentuhan bibir Abrisam sekali lagi menyabotase pikirannya.


“Ah! Lupakan! Lupakan! Ciuman sialan itu tidak akan mempengaruhi apa-apa! Lain kali jika dia menciumku lagi, aku akan langsung memuntahi wajahnya!”


Sumpah Salina membuat sudut bibir Abrisam bergerak naik walau hampir tak kasat mata.


“Kak Abi.” Suara Galih langsung menyapa kedatangan Abrisam bersama Liona. Galih langsung menghampiri keduanya. “Oh, ada Liona juga.”


Liona hanya tersenyum sinis.


“Bagaimana hari ini?” tanya Abrisam.


“Aman Kak.”


“Bagus.”


“Apa ada sesuatu yang…” Galih melirik Liona.


“Ya, tapi kau tidak perlu melakukan apa-apa, ini urusan Om Hadran. Liona akan istirahat sebentar di apartemenku sampai nanti Om Hadran menjemputnya.”


Liona terlihat tidak suka dengan penjelasan Abrisam pada Galih.


“Baik, Kak. Tapi kalau memang membutuhkan bantuanku, aku siap, Kak.”


“Ya aku tahu. Kau bisa pulang sekarang.” Ujar Abrisam sambil menepuk dua kali bahu Galih. Kemudian meninggalkan lobi bersama Liona untuk menuju lift.


Abrisam membuka pintu unitnya dengan kartu yang dibawanya. Aroma kopi langsung menyambut kedatangan Abrisam dan Liona.


Mendengar suara pintu dibuka, Salina tidak perlu lagi mencari tahu siapa, karena orang itu pasti Abrisam. Ia segera bangkit dari tempatnya duduk bergegas menghampiri Abrisam untuk mengajukan protes karena telah membuang laptop lamanya tanpa bertanya dulu padanya.


“Hei kenapa laptop ku kau bu…”


“Halo sayang.” Abrisam menyapa Salina dengan sapaan romantis.


“Eh, Liona?” Salina tersenyum rikuh melihat saudara sepupu Abrisam yang berdiri tepat di samping Abrisam dengan ekspresi wajah yang sama. Tidak suka pada Salina.


Mau apa anak itu kesini?!


.


.


.


TBC~