Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 8 : What A Day



Matahari menyinari wajah Allana yang masih tertidur pulas. Perlahan Allana membuka matanya. Dia menatap lurus ke atas. Putihnya awan dan birunya langit, itu yang dia lihat. Dia juga merasakan semilir angin yang berhembus. Allana mengangkat kepalanya, menatap kesekitar, kanan dan kiri. Dia bingung lalu segera duduk. Dia berada di suatu padang rumput yang cukup luas. Di sekitar padang itu terdapat banyak pohon. Allana berdiri perlahan. Dia masih kebingungan.


Matahari bersinar hangat. Angin berhembus lembut. Tapi tidak ada satupun orang disana. Hanya dia. Hanya Allana.


Tak lama Allana mendengar suara tawa. Allana mencoba mencari arah suara. Dia berjalan perlahan menuju suara itu. Awalnya suara itu hampir tidak terdengar tapi semakin Allana mengikutinya, suara tawa itu semakin jelas. Allana berhenti melangkah. Dia melihat dari kejauhan beberapa anak gadis, berumur kurang lebih darinya sedang duduk di rumput beralaskan sebuah kain tipis. Ada empat anak gadis disana. Mereka mengenakan pakaian terusan panjang, seperti pakaian jaman dahulu, seperti yang pernah di jelaskan oleh guru sejarahnya.


Allana melangkah kembali untuk mendekat. Tak lama datang dua wanita dewasa mendatangi ke empat gadis itu. Mereka bebicara menggunakan bahasa yang tidak di ketahui Allana. Di tengah mereka sudah terdapat berbagai macam makanan bahkan buah.


"Permisi..." Allana mulai menyapa. Tapi mereka tidak menghiraukan Allana. "Permi--"


Bukk!! Bukk!!


Beberapa serigala besar datang tiba-tiba dan mendekati para anak gadis dan wanita itu. Allana panik.


"H-hei.. Awas... Awas...!!" pekik Allana. Tapi mereka masih saja asik dengan kegiatan mereka masing-masing. Serigala-serigala itu semakin dekat dan menggeram kasar. Allana mundur perlahan. Tampak satu wanita tersenyum melihat beberapa serigala itu lalu mengatakan sesuatu yang Allana tidak mengerti. Serigala-serigala itu berubah menjadi manusia satu persatu. Wanita yang tersenyum tadi memberikan mereka pakaian dan ikut bergabung bersama para gadis.


"Kenapa aku masih saja suka terkejut jika menghadapi serigala." Allana menghela nafas pasrah. Allana memperhatikan mereka. Mereka tampak bahagia. "Sepertinya mereka tidak mendengarku. Hei...! Apa kalian tidak mendengarku?" pekik Allana. Tapi tetap saja. Tidak ada yang memperhatikan Allana, seolah-olah Allana tidak ada. Allana mendengus kesal dan akhirnya menyerah.


Allana bingung tapi akhirnya kembali berjalan menjauhi mereka. Allana melihat bukit tak jauh di sana lalu memutuskan mendakinya. Tak lama Allana terbelalak kaget. Dia melihat pemandangan yang membuat takjub dirinya. Beberapa rumah kuno dan ada yang terlihat seperti kastil, tanah yang hijau dan alam yang asri. Semua terlihat begitu indah.


"Aku... Ada di mana?" gumamnya akhirnya.


"Cantik bukan?" sahut seseorang membuat Allana tersentak. Dia melihat seorang wanita paruh baya. Dia mengenakan pakaian berwarna biru terang dan menyanggul rambutnya dan di beri beberapa bunga yang sudah di bentuk khusus seukuran kepalanya. wanita paruh baya. Dia mengenakan pakaian berwarna biru terang dan menyanggul rambutnya dan di beri beberapa bunga yang sudah di bentuk khusus seukuran kepalanya.


"Kamu siapa?" Allana bingung. "Tunggu, kamu bisa melihatku? Kamu bisa melihatku kan?!"


"Jika aku tidak bisa melihatmu, aku tidak akan berbicara padamu." jawab wanita itu lembut.


"Tapi.. Tapi kenapa mereka tidak menyahut saat aku sapa?"


"Karena mereka tidak bisa melihatmu Allana. Hanya aku yang bisa."


"Tapi kenapa?"


"Karena ini adalah ingatanku." jawab wanita itu sambil menatap lurus kedepan. Allana terkejut.


"Tunggu-- apa? Kenapa aku--"


"Apa kamu melihatnya? Cantik bukan?" potong wanita itu. Allana ikut melihat apa yang wanita itu lihat. Desa yang di lihat Allana saat dia pertama sampai di bukit.


"Di mana itu?"


"Sebuah desa di tempat asalmu Allana. Pack moon Crysort."


"Itu... Adalah..."


"Benar. Pack Moon Crysort. Tampak indah karena semua penghuninya adalah wanita. Mereka merawat semuanya dengan baik."


"Tapi... Bukankah pack moon Crysort sudah hancur? Maksudku, itu yang di katakan Gyria."


"Sudah aku katakan, ini ada ingatan aku. Bukan keadaan saat di mana kamu berada."


"Lalu... Siapa kamu?"


"Aku adalah Brea. Aku adalah penyihir sekaligus Shewolf dan luna di pack Moon Crysort."


"Luna berarti..."


"Benar. Karena kami tidak memiliki manusia serigala laki-laki yang bisa di panggil alpha, jadi kami memilih Luna."


"Kenapa pack ini hanya berisikan manusia serigala wanita?"


"Karena aku ingin melindungi dan melatih mereka agar mereka sejajar dengan manusia serigala laki-laki. Kamu tahu? Para pria menegaskan bahwa kami wanita hanya bisa diam di rumah, melakukan pekerjaan yang mudah. Aku membuat semua ini untuk membuktikan pada mereka bahwa kita sama, bahwa para wanitapun bisa melakukannya."


"Ah..." hanya itu yang bisa di katakan Allana.


"Allana..." wanita itu menghadap Allana dan menatapnya lekat. "Pack ini tidak akan seperti ini lagi bahkan menghilang. Hanya satu warrior yang bisa mengembalikannya kembali seperti semula. Pack ini sudah diramalkan akan hancur dan terpecah belah dan sudah di ramalkan juga satu Warrior akan bisa menyatukan pack ini kembali. Dan warrior itu adalah kamu, Allana. Kamu yang akan menyatukan pack ini. Hanya kamu yang bisa membuat pack ini, kembali seperti yang sekarang kamu lihat."


"Tapi bagaimana anda bisa yakin bahwa saya adalah warrior itu? Bisa saja orang lain."


"Aku penyihir Allana. Kekuatanku yang paling utama adalah meramal. Aku melihat bagaimana pack ini hancur. Dan aku melihat kamu datang."


"Meskipun benar, aku tidak tahu caranya. Aku tidak tahu apapun."


"Ada sebuah ramalan kuno dari penyihir sejenisku dan ramalan itu terkait dengan ramalan yang aku lihat tentang pack kita. Cari ramalan itu Allana, cari penyihir itu. Ramalan itu akan menuntunmu pada hal lain yang akan membangkitkan pack kita lagi."


"Di mana aku bisa mencarinya?! Aku bahkan masih tidak paham dengan keadaanku saat ini!" Allana tertunduk. Dia memejamkan matanya. Wanita itu berjalan mendekat lalu memegang pundak Allana dan menatap Allana lembut. Allana menatapnya juga.


"Anggota pack kita bukan pack yang lemah. Kita kuat. Akan ada caranya untuk menuntunmu memulainya. Ikuti instingmu, bukan insting serigala tapi hatimu. Dan sekarang kamu harus bangun Allana. Bangunlah.."


"Aku... Aku tidak bisa."


"Kamu bisa Allana... Bangun sekarang!"


Wanita itu mendorong keras tubuh Allana kebelakang. Allana jatuh dari bukit itu. Dia berteriak.


"Aaaakkkkhhhh...!!!"


Allana terduduk. Tubuhnya basah karena keringat. Nafasnya cepat dan tidak beraturan. Dia melihat kesekitarnya. Dia berada ditempat tidur dan terbalut selimut yang hangat. Allana sadar dia berada di kamarnya. Dia bingung, apa yang sedang terjadi.


"Ada apa ini? Apa itu mimpi? Tapi kenapa begitu... Nyata."


Pintu kamar Allana terbuka. Ibunya masuk ke dalam kamar dan segera berhambur ke Allana.


"Allana.. Sayang.. Kamu sudah sadar?"


Ibu Allana duduk di pinggir tempat tidur Allana.


"Kamu berkeringat. Bagaimana keadaan kamu?"


"Baik, sepertinya."


"Syukurlah. Kamu membuat ibu khawatir." ibu Allana mengehela nafas lega. Allana hanya diam kembali. "Apa kamu mau makan? Minum? Atau apapun?"


"Allana baik-baik saja bu. Allana hanya ingin sendiri."


Allana kembali merebahkan dirinya dan menutupnya dengan selimut. Ibunya hanya bisa menghela nafas kembali dan tersenyum.


"Baiklah. Panggil ibu jika ingin sesuatu."


Allana memejamkan matanya. Dia hanya tidak sedang ingin di ganggu saat ini. Ibunya berjalan keluar kamar. Allana kembali membuka matanya saat ibunya sudah keluar dari kamarnya. Allana kembali duduk di tempat tidurnya dengan selimut yang masih membalut di kakinya. Dia menundukkan kepalanya, menyandarkan wajahnya pada dengkulnya.


"Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa aku?"


Tuk!


Sebuah suara ketukan kecil terdengar dari jendela kamarnya. Allana mengangkat wajahnya.


Tuk!


Suara itu ada lagi. Allana turun dari tempat tidurnya mendekati jendela. Jendela Allana masih tertutup. Dia mencoba mengintip dari jauh tapi tidak menemukan apapun.


Tuk!


Suara itu lagi. Sekarang tepat di depan Allana. Allana tahu apa yang membuat suara itu. Ada yang melempar sesuatu di jendelanya. Allana segera membuka jendelanya dan melihat ke luar.


"Lama sekali." kata Gyria pelan tapi anehnya Allana bisa mendengarnya dengan jelas. Allana hanya menatap Gyria tanpa menjawabnya. "Hei! Apa pendengaranmu mulai bermasalah?"


"Sedang apa kamu disini?"


"Kami menunggumu kemarin. Apa ada masalah?"


Allana terdiam. Dia teringat kejadian kemarin. Perkelahian itu, gigitan dan cakaran itu. Allana mengingat semuanya.


"Hei...!! Allana....!!" panggil Gyria lagi.


"Sepertinya dia mulai gila. Aku rasa dia tidak sanggup menahan semua yang terjadi padanya." Leysha menambahkan.


"Hei, aku mendengarmu dan aku tidak gila." protes Allana. Gyria dan Leysha tertawa.


"Kalau begitu turunlah! Ayo..!!"


"Kemana? Dan bagaimana aku bisa turun di tempat setinggi ini? Kamarku di lantai dua, kalian lihat?"


"Aku bisa melihat itu Allana. Lompatlah."


"Apa kalian gila?!"


"Tidak, kami tidak gila. Ayo lompat!"


Allana terdiam. Dia mulai menganggap dua orang di luar sudah kehilangan akalnya.


"Oh ayolah Allana... Jangan diam saja disana."


"Apa kamu takut?"


"Aku tidak... Takut." jawab Allana ragu.


"Hmm yaa, dia takut."


"Godness..." Gyria memutar bola matanya dan mendengus kesal. "Allana.. Semua akan baik-baik saja. Kamu tidak akan luka atau mati. Lompat saja please!" Gyria mulai kesal. "Ah! Bawa tasmu, isi dengan baju. Kamu akan memerlukannya nanti."


Allana mendengus kesal tapi tetap melakukan apa yang di minta Gyria. Allana menggantungkan tas ranselnya di pundaknya lalu menarik nafas panjang. Dia mulai menaiki jendela kamarnya dan melangkah keluar dari jendela kamarnya. Allana sudah berdiri di atas atap rumahnya. Dia melirik kebawah. Hanya dua lantai tapi bagi Allana terlalu tinggi. Dia pasti mati atau setidaknya patah tulang, itu yang ada di pikirannya.


"Kenapa lama sekali?! Lompatlah!!" Gyria dan Leysha terlihat tidak sabaran. Allana masih terlihat sangat gugup.


"Apa kita harus membawakannya tangga?"


"Huft.. sepertinya."


"Di mana kita bisa mendapatkan tangga?"


Bukk!!


"Tidak perlu." Allana mendarat dengan sempurna. "Aku sudah di bawah."


"Well.. Okay, baiklah. Ayo kita pergi."


"Tunggu, kita mau kemana?"


"Ikut saja, ayo!"


"Hei apa ibuku tidak mendengar semua keributan tadi." kata Allana sambil masih terus berlari.


"Entahlah, mungkin dia tahu."


"Ibu bisa mengomel dengan dahsyatnya jika dia tahu."


"Jangan di pikirkan. Sebaiknya kita berubah saja. Itu akan lebih cepat."


Gyria berubah menjadi serigala dengan cepat, di susul Leysha.


"Hei, aku belum bisa-- akhhh baiklah, aku coba."


Allana menghentikan larinya dna melempar tasnya. Dia berkonsentrasi untuk berubah. Tapi anehnya tubuhnya tidak mau menuruti keinginannya.


"Oh ayolah.... Atau aku akan kehilangan jejak mereka."


Allana kembali mencoba. Merubah dirinya.


"Kenapa lama sekali?" protes Gyria yang kembali karena Allana tidak kunjung berlari bersamanya dan Leysha.


"Aku sedang mencobanya!"


"Apa kau yakin? Kamu terlihat seperti sedang buang air besar." komentar Leysha sontak membuat Gyria tertawa terbahak. Allana bermuka masam.


"Tidak lucu."


"Tidak perlu berwajah seperti itu. Cukup tenangkan dirimu dan perintahkan jiwa serigalamu untuk berubah."


"Aku tahut itu!.. Secara teori. Tapi sulit di lakukan. Huft!"


"Karena kamu belum terbiasa. Ayolah cepat."


"Iya iya cerewet sekali."


Gyria dan Leysha berubah kembali menjadi serigala. Allana masih berusaha membuat serigala Gyria menggeram kesal.


"Sabarlah!!" pekik Allana. Allana menarik nafasnya perlahan.


"Berubahlah, aku mohon.. Ayo berubah.. Berubah.."


Tak lama terdengar suara patahan tulang. Allana berhasil berubah. Allana menggigit tasnya lalu ikut berlari bersama Gyrian dan Leysha.


'Dengan begini kita akan cepat sampai.'


'Memangnya kita akan kemana?'


'Tempat pelatihan.'


'Tapi aku sedang tidak ingin berlatih'


'Allana kamu butuh latihan, percayalah. Terlebih saat aku melihat wajahmu saat merubah wujudmu.'


Allana menggeram marah.


'Ayo lebih cepat. Gunakan kekuatan serigalamu Allana.'


Mereka berlari semakin cepat. Allana awalnya sering menabrak pohon dan semak tapi semakin dia berlari dia semakin bisa mengendalikan tubuhnya.


Tak berapa lama mereka sampai di suatu tempat. Sudah menunggu beberapa serigala di sana dan sudah pasti Allana tidak mengenal mereka. Allana hanya berhenti sejenak lalu berlari lagi. Kini mereka lebih dari lima serigal, berlari semakin jauh dan semakin cepat.


Mereka berhenti di suatu tempat. Di sana sudah berdiri beberapa tenda. Ada beberapa wanita di sana dan semua mata tertuju pada Allana. Ada beberapa yang terkejut dan ada yang kagum. Mereka menghentikan pekerjaan yang mereka lakukan dan menatap Allana.


"Hey All, berubahlah, kita sudah sampai."


Allana menuruti Gyria. Dia bisa berubah dengan mudah, tidak seperti perubahannya menjadi serigala. Semua orang masih menatapnya saat Allana melewati mereka.


"Uhm.. ada apa dengan mereka? Kenapa mereka menatapku seperti itu?"


"Aku sudah pernah mengatakan padamu, yang tersisa di pack ini hanya mereka yang percaya kehadiranmu bisa menyatukan dan membangun pack ini kembali."


"Tapi aku masih berumur enam belas tahun! Bagaimana bisa pack kalian menaruh harapan padaku?"


"Begitulah yang kami percayai."


Allana mendengus kesal. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi.


Allana pov


Aku sampai di belakang tenda-tenda itu dan melihat beberapa orang sedang berlatih. Mereka melakukan latihan fisik, saling bertarung satu sama lainnya menggunakan wujud manusia maupun serigala.


"Beta." panggil Gyria.


"Ahh kalian sudah datang?" Beck berjalan mendatangi mereka. "Halo Allana."


Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Sangat canggung.


"Bagimana perjalanannya? Apa ada masalah?"


"Tidak beta, semua lancar."


Beta Beck dan Gyria sedang berbincang dan tampak serius. Aku tidak ingin ikut campur. Aku mulai berjalan pelan dan menatap kesekitar.


Aku kira dengan semua orang menganggap mereka punah, jumlah mereka akan sedikit. Entah kenapa aku masih ragu. Mereka tampak begitu... Putus asa. Apa hanya ini anggota mereka? Dan aku yang mereka katakan bisa menyatukan pack ini? Tampaknya mereka memang sudah putus asa. Lalu mimpi apa itu? Apa aku tanyakan saja? Tidak, tidak sebaiknya jangan. Aku tidak ingin mereka semakin berharap padaku. Lalu aku harus apa? Aku tidak mungkin memecahkan ini sendiri. Apa yang harus aku lakukan?


"Sepertinya kamu terlalu banyak pikiran."


Aku menoleh dan mendapati Beck sudah berdiri di belakangku.


"Aku baik-baik saja."


"Benarkah? Tidak terlihat baik bagiku. Jika mungkin ada yang kamu pertanyakan, jangan sungkan bertanya padaku. Aku akan menjawab semunya."


Aku diam tidak menjawab. Aku masih ragu.


"Aku... Baik-baik saja.."


"Baiklah, mari kita berlatih. Kamu perlu melatih semua otot-ototmu."


Beck berbalik dan berjalan menjauh.


"Sebenarnya..." kataku akhirnya. Kulihat Beck menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku. Oh tuhan, haruskah aku mengatakannya. Aku menatap Beck. Aku menggigit bibir bawahku. Kulihat Beck menungguku berbicara.


"Aku... Uhm.. Apa anda mengenal seseorang bernama Bre... B-Brea..?"


"Brea? Jika Brea yang kamu maksud sama dengan Brea yang aku pikirkan, berarti dia adalah Luna pertama di pack ini dan juga yang menciptakan pack ini. Kenapa dengan Luna Brea dan dari mana kamu tahu tentangnya?"


"Ahh itu... Sepertinya aku mendengar tentang Brea dari.. Uhm..."


astaga aku harus menjawab apa?


"Gyria. Iya! Dia pernah menyebutkan tentanya."


oh astaga, kenapa aku berkata seperti itu.


Aku menundukkan kepalaku.


"Ahh baiklah. Gyria dan Leysha memang menyukai luna Brea. Dia seperti panutan mereka meski mereka belum bertemu sebelumnya. Tapi kamu juga perlu tahu tentang luna Brea. Jika kamu berlatih disini lagi, akan aku pinjamkan buku tentangnya. Baiklah, cukup berbicaranya. Sekarang ayo berlatih."


Aku mengangguk dan termenung ditempatku. Ini adalah kesempatanku untuk mengetahui ramalan yang sebenarnya tentangku dan juga ada apa sebenarnya. Aku hanya perlu bertahan sampai besok. Ya, aku rasa itu tidak terlalu buruk. Apa yang bisa terjadi? Mereka tidak mungkin membunuhku. Jadi kurasa semua akan baik-baik saja.


"Allana...!! Kenapa diam saja disana? Ayo kemari dan berlatihlah!"


*****


Author pov


Allana terbaring di tanah tidak berdaya. Dia sudah sangat kelelahan. Nafasnya tidak beraturan. Detak jantungnya cepat.


"Aku benar-benar tidak bisa melanjutkannya lagi. Ini gila! Aku tarik kata-kataku tadi. Ini lebih buruk dari mereka membunuhku. Sial!!"


Allana mengacak rambutnya kesal. Dia tidak menyangka jika latihannya akan sesulit ini.


"Hei! Apa kau akan terus berbaring disana? Berdiri dan kerjakan tugasmu!"


Allana mendengus kesal dan bergerak tidak beraturan di tanah. Allana mengatur nafasnya lalu segera bangkit. Allana kembali mengangkat sebuah batang pohon yang cukup besar.


"Ayolah Allana, jangan lambat begitu. Cepatlah." Gyria berjalan melewati Allana dengan dua batang pohon yang ukurannya sama dengan yang di bawa Allana. Kedua batang kayu itu sudah ada di kedua bahunya.


"Lucu sekali." Allana menatap Gyria kesal. "Apa kita harus mengangkat semua batang pohon ini? Untuk ala semua batang pohon ini?!"


"Entahlah. Mau di jual?" kata Gyria seenaknya lalu pergi meninggalkan Allana yang masih bengong tidak percaya. Allana mendengus kesal sekali lagi.


"Tentu semua ada manfaatnya." kata Beck yang sedari tadi memperhatikan Allana.


"Ini hanya mengumpulkan batang pohon."


"Aku tahu tapi..." Beck mengambil kayu yang ukurannya hampir sebesar kayu yang di bawa Allana dan memukulkannya pada Allana. Allana dengan cepat menangkis dengan tangannya. Kayu itu patah saat mengenai tangan Allana. "... Cukup untuk melatih kekuatan tangannmu."


Allana bengong. Dia tidak tahu jika dia bisa mematahkan kayu itu.


"Tapi... Bagaimana... Bagaimana bisa?"


"Kamu manusia serigala pemula. Kamu baru saja menjadi manusia serigala yang artinya kamu perlu melatih tidak hanya cara bertarungmu, tapi kekuatan dan semua indramu."


Allana masih terdiam. Dia masih memperhatikan tangannya.


"Baiklah, ayo tebang dan angkat kayu lagi."


"Apa ini belum cukup? Ini sudah banyak!"


"Masih perlu lagi. Ayo cepat! Jangan malas!"


Allana menunduk lemas.


Sampai kapan aku akan begini


*****


tadariez