Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 52 : Mantra itu telah hilang sempurna



"Paman?" tanya Kate. Dia bingung tapi masih waspada pada pria yang mengaku sebagai paman Renald itu.


"Aku adik dari ibumu, kid. Namaku Thomas Bellhood." Thomas mengulurkan tangannya. Kate berdiri di depan Renald, menghalangi uluran tangan Thomas. Thomas menatap Kate.


"Not so fast, sir."


Thomas menurunkan ulurkan tangannya dan menghela nafas kasar. Thomas menyibak tangan jasnya, memperlihatkan gelang putihnya lalu melukai kecil tangannya, mengeluarkan setetes darah dan menyihir darah itu, membentuk satu lambang sebuah keluarga penyihir. Jika mereka penyihir terpandang dan memiliki darah murni, biasanya memiliki lambang keluarga sendiri. Lambang itu melayang di udara beberapa detik lalu menghilang seperti asap.


"Apa kalian sudah percaya?" tanya Thomas.


"A-apa itu?" tanya Renald dari balik tubuh Kate.


"Itu lambang keluarga kita ponakan. Keluargamu adalah keluarga penyihir terpandang dan bangsawan. Karena itu kita memiliki lambang keluarga kita sendiri." jelas Thomas. "Aku bisa mengajarimu membuatnya. Kamu juga kelurga kami."


"Keluarga katamu? Apa kalian bercanda?" timpal Kate.


"Nona, apa anda tidak pernah di ajarkan jika ikut campur urusan orang lain itu sangat tidak sopan?" tanya Thomas dengan nada lembut dan tegas.


"Ughhh percayalah tuan, aku ingin sekali. Tapi aku tidak punya pilihan selain menuruti yang memintaku."


"Well." Thomas berjalan mendekat pada Kate lalu berbisik di telinganya. "Ayahku yang menyuruhku. Aku tidak bisa menolaknya." Thomas menatap Kate lalu tersenyum.


"Yeah aku tahu itu. Tapi sayangnya yang menyuruhku lebih penting dari ayahmu." Kate menatap Thomas dengan ketidaktertarikannya.


"Kate?" panggil seseorang. Semuanya menoleh pada arah suara. Bian sudah berdiri tidak jauh dari mereka. "Ada apa ini?"


"Lihatlah, yang memintaku sudah datang." bisik Kate. "Tidak ada apa-apa, Bian. Kami baik."


Bian berjalan mendekat. Thomas mengamati Bian dengan teliti. Dia yakin dia pernah melihatnya entah di mana.


"Dimana anak itu?" tanya Bian. Kate dengan segera menyingkirkan tubuhnya dari hadapan Renald sehingga Renald bisa terlihat jelas. Renald menatap Bian yang juga menatapnya dengan penuh arti. "Apa ada perkembangan?"


"Tidak banyak."


"Apa selambat itu?" tanya Bian lagi.


"Karena dia melakukan adegan tidak menerima kenyatan siapa dirinya."


"Hey! Semua ini baru untukku! Aku hanya... Tidak siap. Sekarang aku siap. Ayo lanjutkan lagi nona Magnofold." kata Renald mantap. Kate menatap tidak percaya pada Renald sejenak lalu menatap Bian yang juga sedang menatapnya. Bian menghela nafas lalu mendatangi Renald.


"Dengar alpha--"


"Apa kau akan menjadi lawanku? Baiklah ayo kita mulai." Renald berjalan menjauh, memberikan jarak pada mereka. "Okay, aku siap. Berikan serangan terbaikmu."


"Ohh Kamu akan menyesal meminta itu kid."


Renald menarik nafasnya sedalam mungkin lalu menghembuskannya. "Do it."


Bian menatap Kate. Kate mengangkat kedua bahunya.


"Apa kalian akan membiarkan ini? Biar aku yang melatihnya."


"Tidak!!" pekik Renald. "Serang aku!"


"Sebaiknya kamu melakukannya Bian. Dia anak yang sensitif." bisik Kate. Bian menatap Kate sejenak lalu menggelengkan kepalanya.


"Dia hanya anak-anak."


"Oh dia lebih kuat dari anak seumurannya, tidak, manusia serigala seumurannya."


"Dia alpha."


"Kau coba saja sendiri." saran Kate. Bian menghela nafas.


"Kau yakin dengan semua ini alpha?" tanya Bian.


"Serang aku dengan serangan terbaikmu, nona." kata Renald mantap. Dia melemaskan tangannya tapi tubuhnya tiba-tiba terpental dan mendarat kasar ditanah. "Ughhh..."


"Kau baik-baik saja?"


"Aku baik." kata Renald lalu segera bangkit. "Aku sangat baik. Hahahha.. Sekarang mari kita lanjutkan. Tapi aku mohon untuk mem--"


Belum selesai Renald berbicara, tubuhnya kembali terhempas.


"Akkhh sial..." rintihnya. Dia kembali bangkit perlahan. "Kenapa aku tidak bisa mendengar mantra yang dia ucapkan?"


"Sekarang serang aku." kata Bian.


"Tidak, aku tidak akan menyerang wanita." kata Renald membuat Bian mengerutkan keningnya.


"Apa kau bercanda sekarang?" tanya Bian.


"Tentu saja tidak."


"Ahhh kamu memang keturunan keluarga Bellhood. Sangat mengenal sopan santun." puji Thomas sementara Bian dan Kate sudah menatapnya dengan tatapan aneh. "Apa? Itu benar."


"Jangan beralasan atau berbicara omong kosong, alpha. Aku tahu betul kamu sebenarnya mengetahui mantra yang di ucapkan Kate. Kamu adalah manusia serigala. Kamu bisa mendengarnya dengan jelas dan bahkan bisa memprediksinya karena instingmu yang kuat. Tapi kamu sengaja melemahkan dirimu. Kamu mempelajari gerakannya. Jadi, berhenti berkata omong kosong dan serang aku."


"Hmm.. Baiklah..." kata Renald akhirnya. Dia menutup matanya dan mengatur nafasnya. Dia membuka matanya kembali. "Dipercantian!!"


Bian mengayunkan tangannya menepis mantra itu begitu saja. Renald cukup kaget dengan itu. Bian bahkan tidak mencoba untuk menghindar. Hanya mengayunkan tangannya, mantra itu bisa di tepisnya. Renald membaca mantra yang dia tahu dan kuasai. Tapi Bian tetap hanya mengayunkan tangannya, semua mantra bisa di tepisnya sambil maju mendatangi Renald. Renald panik. Saat Bian mendekat bola matanya berubah menjadi merah dan menggeram keras.


"Ohh alpha aku bukan manusia serigala. Jangan menggeram padaku." kata Bian. Renald tersadar lalu menggelengkan kepalanya.


"A-aku.."


"Kita sedang melakukan sihir bukan shifting." kata Bian lagi.


"Ma-maaf... Aku.. A-aku..."


"Kamu tahu kenapa mantramu sama sekali tidak berhasil padaku?" tanya Bian.


"Karena aku terlalu lemah? Atau karena kamu seorang wanita?"


"Lemah? Itu benar. Seorang wanita? Aku bahkan jauh lebih kuat darimu. Yang utama adalah kamu tidak melakukan dari sini." Bian menunjuk dada Renald. "Aku tahu kamu seorang manusia serigala dari lahir. Tidak terbiasa dengan sihir. Tapi kamu adalah penyihir sekarang. Kamu harus menerima itu. Jangan berpikir tentang dirimu. Ini tidak hanya tentangmu alpha. Tapi tentang seluruh packmu. Mereka tidak memiliki alpha mereka saat ini, kau ingat? Dengan semua masalah yang ada dan yang akan datang, kamu harus menguasai sihirmu. Menjadi alpha dan penyihir sekaligus adalah anugrah. Seharusnya kamu bersyukur."


"Aku sudah mencobanya, tapi itu tidak mudah!"


"Aku tidak pernah mengatakan itu akan mudah. Tapi bukan berarti kamu tidak akan bisa. Rasakan kekuatanmu. Rasakan kekuatan itu mengalir keseluruh tubuhmu." kata Bian. Renald menatap Bian penuh arti. Bian menganggukkan kepalanya lalu menutup matanya. "Rasakan kekuatan itu seperti kamu bisa merasakan kekuatan manusia serigalamu."


Renald membuka matanya lalu menatap Bian heran. "Bagaimana mungkin aku bisa membedakan kedua kekuatan itu? Itu sama-sama kekuatan supranatural."


Bian tersenyum. "Jika kamu benar-benar merasakan kekuatan sihirmu, kamu akan tahu perbedaannya."


Renald menatap Bian penuh tanda tanya tanpa bertanya apapun. Bian menganggukkan kepalanya. Renald menutup matanya, dia mencoba merasakan kekuatan dalam dirinya. Sementara Bian memperhatikan Renald. Tak lama Renald membuka matanya. Bola matanya berwarna merah pekat. Bian menghela nafasnya. Bukan sesuatu yang di tunggunya. Bian mundur beberapa langkah.


"Okay-okay baiklah ladies. Biar aku yang akan mengatasinya." Thomas berjalan mendekat. "Mungkin dia malu karena harus menghadapi wanita jadi sebaiknya biar pria yang menghadapinya."


"Hmm tuan, aku rasa itu bukan ide yang--"


Tubuh Thomas tiba-tiba terbang di udara, terhempas jauh dari tempatnya berdiri saat tangannya menyentuh pundak Kei.


"Yeah.. Kami yakin anda akan baik-baik saja tuan." kata Kate santai lalu menarik tangan Bian menjauh.


"Tunggu, apa kau yakin akan meninggalkan mereka?" tanya Bian.


"Ohh sangat yakin. Dia sangat percaya diri bisa menghadapi keponakannya then let him be."


Kate membawa Bian menuju rumah yang di tempatinya. Kate menyajikan kopi buatannya.


"Dari bertemu Allana?" tanya Kate sambil duduk dikursi bersebrangan dengan Bian. Bian mengangguk.


"Hmm.." dia menyeruput kopinya.


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia sudah lebih baik dan aku juga memberikan pilihanku padanya."


"Apa dia menerimanya dengan baik?"


"Kurasa Kate. Tapi aku yakin dia tidak akan mau melakukannya."


"Bagaimana kamu bisa yakin?"


"Dia bekerja keras untuk manusia serigalanya."


"Tapi kamu tahu, kemungkinan dia kalah itu besar."


"Mungkin, tapi aku percaya padanya. Bagaimana dengan mate-nya?"


"Manja, menyebalkan, suka mengeluh dan keras kepala. Aku tidak menyangka dia seorang alpha." keluh Kate. Bian tertawa kecil.


"Dia cukup ahli dengan kemampuannya."


"Ya tapi tidak dengan sihir. Ughh aku hampir menyerah."


"Tapi kamu harus memastikan dia setidaknya bisa sihir dasar, Kate. Aku mohon padamu."


"Aku tahu Bian dan aku akan berusaha semampuku. Aku hanya berharap pamannya tidak akan menggangguku."


"Kamu bisa menjadikannya samsak."


"Ide yang bagus. Ohh i will."


Kate dan Bian tertawa.


...***...


"Ughhh...."


Allana mengerang di dalam tidurnya. Dia merasakan tubuhnya yang sakit, terasa remuk, dadanya sesak. Allana duduk dengan memegangi dadanya. Dia mencoba mengatur nafasnya yang tertahan. Ada rasa yang menggebu yang menyesakkan dadanya.


"Ada apa ini?" tanya pada dirinya sendiri. Dia baik-baik saja sepanjang hari, kenapa malam ini tiba- tiba dia seperti ini?


Allana mengambil air minum di atas nakas dan meminumnya. Tapi rasa itu tidak juga hilang.


"Ada apa denganku?" Allana kembali mengelus dadanya. Rasa menggebu di tambah sesak di dada. "Apa luna Chloe menyerangku lagi?"


Allana turun dari kasurnya lalu berjalan ke arah jendela. Dia membuka jendela kamarnya yang berada di mansion. Alpha Jackson sengaja meminta Allana untuk tinggal bersamanya agar lebih mudah dijaga. Allana menghirup udara sebanyak-banyaknya. Matanya tertuju pada satu sosok yang berdiri di dekat pohon, Gina.


"Apa kamu baik-baik saja?" Gina berkata pelan tapi dia yakin Allana mendengarnya karena Allana adalah manusia serigala. Allana menggeleng lalu menyentuh dadanya. Gina berteleportasi menuju kamar Allana. "Ada apa?"


"Entahlah. Aku merasakan hal yang aneh. Dadaku sesak. Apa...apa mereka menyerangku?"


"Inperocss Reflec" Gina mengayunkan tangannya sambil membaca mantra. Terlihat kerlipan-kerlipan kecil di sekitar Allana. Gina mengerutkan keningnya. "Tidak ada apapun Allana. Mereka tidak menyerangmu. Aku tidak melihat mantra apapun."


"Apa kau yakin? Tapi... Tapi ini aneh."


"Apa kamu bermimpi buruk?"


Allana menggeleng. "Tidak, well tidak bisa di katakan mimpi buruk."


"Atau sedang memikirkan sesuatu? Seseorang?"


"Aku rasa-- tunggu, Renald. Aku hanya memikirkan apa dia baik-baik saja lalu dia muncul dalam mimpiku kemudian aku sesak nafas."


"Mimpi tentang Renald?"


"Hanya melihatnya dari kejauhan. Lalu sebuah tali-- tidak, lebih mirip benang, mengikat lenganku. Benang itu sangat panjang. Anehnya aku merasa Renald juga terikat benang itu. Lalu saat Renald mulai menghilang, benang itu semakin erat mengikatku lalu aku terbangun."


Gina menatap Allana lalu menghela nafasnya. "Sepertinya telah di mulai phasenya."


"Pha-- apa?"


"Allana mantra yang menghalangi matemu telah hilang sempurna. Sekarang kamu akan bisa merasakan mate-mu."


"Merasakan? Ahhh ha-hal yang tidak aku rasakan selama ini pada Arthur? Apa kau yakin?"


"Yakin tapi bukan Arthur, tapi Renald."


"Apa?! Tunggu... Seharusnya Arthur kan? Maksudku.. Dia merasakan semua itu padaku."


"Dengarkan aku Allana." Gina membuat Allana duduk di pinggir kasur. Gina berjongkok didepannya. "Mate-mu telah dihalangi. Ada yang menghalangimu merasakan mate-mu. Karena itu kamu tidak bisa merasakan bahkan jika mate-mu didekatmu sekalipun."


"Tapi siapa yang melakukan itu? Luna Chloe? Ibuku?"


"Bukan padamu mantra itu berada, tapi pada mate-mu. Mate-mu di mantrai agar dia tidak bisa merasakan mate-nya begitu pula dengan mate-nya yaitu kamu, yang juga tidak merasaknnya. Sebenarnya itu adalah konsekuesi yang harus di tanggung."


"Tunggu, aku tidak mengerti."


"Ibu Renald, dia memberikan seluruh sihirnya untuk melakukan sihir berbahaya dan terlarang demi melindungi pack Zykolt dan Renald. Karena paman Renald, adik dari ayah Renald, ingin merebut pack itu. Itu tidak bisa di biarkan karena pamannya sudah bersumpah dengan kuil untuk menjadi warrior kuil. Dia tidak boleh memimpin pack. Tapi dia mengingkari sumpahnya dan menyerang pack Renald lalu membunuh ayahnya. Karena itu ibunya melakukan sihir itu dengan menanggung konsekuensinya."


"Lalu... Apa hubungannya denganku?"


"Renald adalah mate-mu, Allana."


"Apa? Tidak, itu tidak mungkin. Mate-ku adalah Arthur. Dia merasakan itu."


"Tidak, itu adalah konsekuensi dari mantra ibunya Renald. Mate kalian akan kacau."


"Lalu kenapa Arthur?"


"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya, yang jelas kamu adalah mate dari Renald begitu juga sebaliknya. Benang yang kamu lihat pada mimpimu adalah buktinya. Benang itu hanya terikat pada seseorang yang sudah di takdirkan untukmu."


"Bisa saja itu konsekuensi juga atau... Atau luna Chloe yang memberi mantra." Allana masih menyangkal.


"Mimpi seperti itu sangat sulit di dapatkan dan di manipulasi dengan kekuatan apapun. Ikatan di antara kalian berdualah yang memberikan mimpi itu dan aku yakin Renald juga memipikan dan merasakan hal yang sama, saat ini juga."


"Dia... Juga?"


...***...