Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 6 : Who Am I Exactly



Terdengar percapakan yang cukup serius di bawah. Renald yang hendak turun, menghentikan langkahnya di tangga.


"Aku hanya ingin berbicara padanya, ada yang ingin aku sampaikan."


"Seharusnya kamu memberitahukan kedatanganmu padaku Lucia. Kamu tahu Renald membencimu sejak kepergianmu."


"Tapi kamu tahu alasan kepergianku Agatha. Kamu tahu aku harus meninggalkannya."


"Aku tahu tapi dia tidak. Aku sudah berkali-kali mencoba berbicara tentangmu padanya. Tapi dia terus menolak membicarakanmu. Dan kamu tahu wataknya seperti adikku, ayahnya, suamimu. Dia sangat keras."


"Karena itu aku akan tinggal. Aku akan berusaha melindunginya sekarang."


"Dengan apa?"


"Apapun.. Apa yang akan terjadi adalah bencana. Biarkan aku membantunya, Agatha."


"Entahlah Lucia. Aku..."


Agatha terdiam. Dia mendengar Renald datang.


"Kenapa bangun? Apa kamu sulit tidur?" tanya Agatha.


"Aku hanya ingin minum." jawab Renald malas. Dia bahkan tidak menoleh sedikitpun pada ibunya saat berjalan melewatinya. Renald mengambil minum dan membawanya ke kamarnya tapi sebelum hilang di pintu dapur dia menghentikan langkahnya.


"Suruh wanita itu pergi secepatnya. Aku tidak ingin melihatnya disini." kata Renald tanpa menoleh.


"Tapi Renald..."


"Ini perintah bibi!!" bentak Renald. Dia menoleh marah pada bibinya. "Aku adalah alpha disini dan itu adalah perintahku!"


Agatha mengangguk dan terdiam. Dia tahu Renald sangat marah saat ini. Meskipun dia adalah bibinya tapi Renald tetap alpha disana. Renald berjalan kembali menuju kamarnya.


"Maafkan aku Lucia, sebaiknya kamu pergi."


"Tidak apa-apa Agatha, aku mengerti. Tapi aku senang bisa melihat sosok Syger di Renald."


"Kamu benar Lucia. Dia memang sangat mirip dengannya."


"Aku akan tetap disisinya. Tidak akan pergi kemanapun."


Agatha memandang iba Lucia. Dia di beritakan telah meninggal oleh semua orang. Luna dan alpha yang meninggal akibat penyerangan. Tapi yang sebenarnya, luna masih hidup. Renald mengetahui hal itu hanya saja dia tidak tahu alasan sebenarnya kenapa ibunya pergi meninggalkannya.


*****


"Aku tidak melihat Hope hari ini. Kemana dia?" kata Erica yang baru saja duduk di kantin bersama Allana. Allana tampak panik tapi dia berusaha menenangkan dirinya.


"Eh.. Uhmm... Dia... Sakit, kurasa."


"Benarkah? Kita akan kunjungi dia sepulang sekolah."


"Eh tidak, tidak usah... Dia berpesan untuk tidak mengganggunya dulu. Dia ingin beristirahat total."


"Dia berkata seperti itu? Aneh... Tidak biasanya."


"Mungkin... Dia hanya ingin beristirahat. Kita kunjungi dia setelah dia merasa lebih baik."


"Huft... Baiklah kalau begitu."


Allana merutuki dirinya dalam hati. Dia mencelakakan sahabatnya dan kini berbohong pada sahabatnya yang lain. Benar-benar bencana.


"Sekolah ini tidak buruk." sahut Gyria tiba-tiba datang dan duduk bersama Allana dan Erica. Erica langsung memasang muka masam pada Gyria.


"Kalian tidak keberatan aku duduk disini kan? Well yeah, aku masih baru jadi masih belum tahu seluk beluk sekolah ini." kata Gyria santai. Dia mulai makan makanan yang dia bawa. Gyria masih menatap Allana dengan pandangan yang sulit di mengerti.


"Sepertinya kamu sangat tertarik pada Allana." Erica mulai merasa tidak suka.


"Bukankah kamu juga seperti itu?" Gyria menyeringai sinis. Terdengar geraman dari Erica. Allana terkejut karena Erica menggeram. Erica tersadar jika dia seharusnya tidak menggeram.


"Ahh tenggorokanku sakit sekali." dengan canggung Erica meminum minuman di dekatnya. Gyria tersenyum sinis.


"Menyedihkan sekali." ejek Gyria.


Erica mendengus kesal lalu menarik tangan Allana dan bangkit. Erica melihat Gyria sejenak lalu membawa Allana pergi.


"Apa kamu punya masalah dengannya?" tanya Allana.


"Ahh tidak... Aku... Aku hanya tidak menyukainya."


"Entah kenapa aku juga merasa begitu. Ada sesuatu yang aneh dengannya."


"Benarkan? Ohh syukurlah.. Aku kira hanya aku yang merasa seperti itu."


"Tapi geramanmu sungguh sangat menyeramkan. Seperti hewan liar di hutan."


"Ah oh.. Aku hanya... Uhm..." Erika panik. "Ah iya, kita benar-benar tidak akan mengunjungi Hope?"


"Sebaiknya jangan. Biarkan dia beristirahat dulu." sahut Allana berusaha menguasai rasa paniknya.


"Baiklah, ayo kita pulang."


"Uhm Erica.."


"Ya?"


"Aku ada janji dengan kakakku, Derek. Kamu pulanglah duluan."


"Janji? Dengan Derek? Tumben sekali. Tapi baiklah, aku pulang sendiri. Hati-hati. Bye Allana..." Erica berlari meninggalkan Allana.


Allana menghela nafasnya.


"Untung saja."


Allana berjalan lemas dan menunduk. Lalu..


Bukk!!


"Aww!!" keluh Allana sambil mengelus kepalanya pelan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya orang yang ditabrak oleh Allana. Allana mengangkat kepalanya dan menatap orang itu dan terkejut.


"Dia... Tampan..."


"Hei..!"


Laki-laki itu menjentikkan jarinya beberapa kali didepan wajah Allana. Allana tersadar.


"Hah? Apa?"


"Aku bertanya, apa kamu baik-baik saja."


"Ahh itu.. Aku baik.. Kurasa." Allana masih menatap laki-laki itu penuh kekaguman.


"Apa kamu yakin?"


Allana tidak menjawab.


"Sepertinya kamu suka sekali bengong."


"Eh? Ah maaf.. Aku baik."


Allana tersadar lalu cepat-cepat pergi dari sana. Laki-laki itu hanya menatap Allana heran.


"Kau bodoh Allana! Bisa-bisanya kamu terpana menatapnya. Aghh malu sekali..."


Allana berjalan cepat keluar sekolah tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia memegangi telinganya. Ada suara yang sangat keras dan memekakkan telinganya. Allana jatuh terduduk dan berteriak. Semua orang menatapnya heran.


"Ada apa ini?" tanya salah satu guru yang baru datang. "Miss Layford.. Miss Layford? Kamu baik-baik saja? Allana?"


Allana masih memejamkankan matanya. Kedua tangannya pun masih ditelinganya. Telinganya terasa sangat sakit. Terdengar bunyi yang sangat memekakkan telinganya. Allana mengatur nafasnya. Setelah tenang, Allana membuka matanya perlahan dan melepaskan tangannya dari telinganya. Allana menatap sekitar. Terdengar suara-suara orang berbicara.


"Kenapa dia?"


"Sepertinya ada yang aneh dengannya."


"Dia sakit."


"Tidak, dia hanya mulai gila kurasa."


Allana menatap orang-orang yang menatapnya heran. Lalu matanya menatap dua gadis yang sedang berbicara dan berdiri jauh darinya.


"Tidak, aku tidak suka. Kostum itu sangat jelek untuk pesta Halloween. Aku ingin yang berbeda."


"Sebaiknya kita mulai berkeliling kota agar dapat yang terbaik."


"Aku setuju."


Allana tampak bingung matanya beralih lagi ke beberapa laki-laki yang baru saja masuk dari pintu masuk sekolah.


"Benar, terlalu sulit. SMA Beuville terlalu sulit di kalahkan. Mereka saingan utama kita."


"Meski begitu, bahkan kita tidak pernah bisa masuk ke babak seperempat final. Kita payah."


"Hei, aku tidak sepayah kau."


"Ya, kau juga payah. Jika tidak, kita pasti masih bisa menang."


"Hei, jangan salahkan aku. Salahkan anggota tim lain dan juga kau! Tidak mungkin aku bertanding sendirian. Lagipula kerja sama tim kita payah. Kau harus akui itu."


Beberapa laki-laki itu berbelok. Bahkan Allana masih bisa mendengar percakapan mereka. Allana bingung sekaligus takut. Kedua anak gadis tadi berdiri lumayan jauh darinya, di ujung koridor. Dan beberapa anak laki-laki tadi juga jauh dari dirinya.


"Kenapa aku bisa mendengar percakapan mereka?"


Allana tampak bingung. Dia mulai sedikit panik.


"Miss Layford? Miss Layford?" guru tadi masih memanggil Allana tapi Allana masih tidak bereaksi. "Allana?!"


Allana tersentak lalu menoleh.


"Mr. Sam." ucap Allana pelan.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Sa-saya baik pak. Saya hanya... Hanya sedikit pusing."


"Apa kamu bisa berdiri?"


"Saya rasa bisa pak."


Mr.Sam membantu Allana berdiri.


"Mari kita ke ruang perawatan."


"Tidak, tidak pak. Saya... Saya baik-baik saja."


"Kamu yakin? Kamu terlihat pucat sekali."


"Saya yakin pak. Saya baik-baik saja. Lagipula kakak saya sudah menunggu di depan sekolah."


"Baiklah kalau begitu. Pulang dan bersitirahatlah."


"Baik pak, terima kasih."


Allana mulai berjalan menjauhi guru matematikanya itu dan menuju pintu keluar.


"Oke, baiklah. Tidak ada lagi tontonan. Sekarang pulanglah." Mr. Sam membubarkan kerumunan murid.


Allana membuka pintu kaluar. Cahaya matahari menyilaukan matanya. Entah kenapa matanya juga ikut menjadi sangat sensitif saat ini. Ponsel Allana berbunyi. Ada pesan masuk.


"Allana, karena sesuatu hal aku tidak bisa menjemputmu. Kita bertemu di hutan, di tempat kemarin saja. Aku menunggumu di sana.


Derek."


Allana menghela nafasnya kasar. Dia akhirnya berjalan kaki ke tempat yang sudah di tunggu oleh kakaknya. Allana memasuki hutan. Berjalan perlahan. Dia masih bingung apa yang terjadi tadi. Semua indra mulai berubah menjadi sangat tajam. Bahkan dia bisa mendengar aliran sungai yang jauhnya masih bermil-mil dan juga mencium bau tanah basah disekitaran sungai itu.


Srek!


Terdengar suara. Langkah Allana terhenti seketika. Dia mulai takut. Suara itu semakin mendekat.


"Semakin dekat. Tunggu, apa itu Derek? Tidak, tidak mungkin. Lokasi pertemuan kita masih lumayan jauh. Lagipula suara itu sangat cepat, apa mungkin.."


Suara berlari itu terdengar sangat cepat dan mendekat cepat ke Allana. Tampak dari jauh beberapa daun bergoyang. Allana dengan cepat bersembunyi di balik semak belukar.


Tak lama muncul dua ekor serigala besar. Dua serigala itu berhenti tepat di dekat Allana bersembunyi. Dua serigala itu tampak sedang berbicara tapi Allana tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi yang Allana tahu, dua serigala itu adalah manusia serigala. Tubuh mereka jauh lebih besar dari hewan serigala pada umumnya.


Allana terdiam di tempatnya. Bahkan dia menahan nafas, agar tidak terdengar oleh kedua serigala itu.


"Sepertinya kamu kurang ahli dalam hal bersembunyi." sahut seseorang dari belakang Allana. Allana tersentak kaget dan menoleh. Gyria sudah berdiri di belakangnya.


"Ka-kamu..."


"Sedang apa kamu disini?"


"Sssttt... Jangan berisik nanti--"


Suara geraman terdengar. Allana menoleh dan terkejut. Dua serigala itu sudah berada di depan semak, tempat Allana bersembunyi. Allana terdiam kaku di tempatnya, nafasnya juga tertahan. Gyria menatap Allana heran lalu padangannya beralih pada kedua serigala di depannya. Gyria tidak tampak ketakutan sama sekali.


"Huft.. Sepertinya ini akan sangat menyusahkan."


Gyria mengambil tangan Allana lalu menariknya kuat dan kasar.


"Eh.. Tung-tunggu... Ma-mau kemana?"


Gyria melepaskan genggaman tangannya saat Allana sudah berada di luar semak tempat Allana bersembunyi. Allana menatap Gyria bingung lalu beralih ke dua wanita dewasa yang baru saja berubah menjadi manusia. Satu wanita berambut pirang sebahu dan bertubuh kurus dan satu lagi wanita bertubuh semampai dengan rambut hitam panjang. Gyria memberikan kedua wanita itu pakaian.


"Apa itu dia?" tanya wanita yang mempunyai rambut berwarna hitam.


"Benar. Itu dia." jawab Gyria.


"Siapa namamu nak?" kali ini yang rambut pirang bertanya. Allana diam saja, tidak menjawab. Dia masih tampak bingung.


"Hei! Dia bertanya padamu."


"A-Allana.. Tapi kalian... Siapa?"


"Dia masih baru beta, saya rasa akan sangat sulit. Aku yakin dia tidak bisa bertempur sama sekali bahkan menyeimbangkan tubuhnya saja tidak bisa."


"Benarkah?".


"Tidak, kami berbeda tentu." wanita berambut pirang melangkah maju mendekati Allana. Gyria menyerahkan sebatang kayu kecil dan panjang pada wanita pirang itu. Allana mulai mundur perlahan saat wanita itu berjarak sangat dekat dengannya.


"Ka-kamu mau apa?" Allana terus mundur dan mulai panik. "Berhenti mendekat!"


Wanita itu tidak berhenti, terus mendekati Allana. Kali ini dia menggoyangkan kayu yang di bawanya. Dia memutar kayu itu dengan satu tangannya lalu...


Bukk!!


Dia memukul kaki Allana dengan kayu itu.


"Aww!!... Hei!"


"Sebisa mungkin, hindari kayu ini. Jangan sampai mengenainya."


Wanita itu kembali menggoyangkan kayunya, kanan dan kiri. Allana tampak kebingungan.


"Aku yakin dengan sangat, dia tidak akan berhasil."


"Apa dia separah itu?"


"Sangat."


Bukk... Bukk..


Allana terus mengenai kayu itu.


"Hei, hentikan.. Sa-sakit."


"Kamu seorang warrior! Kamu harus kuat. Lagi!"


Terdengar suara kayu di pukulkan. Secepat dan sekuat apapun Allana menghindar, tapi dia tetap terkena pukulan.


"Hentikan! Ada masalah apa denganmu?!" pekik Allana.


"Kau harus dilatih!"


"Tunggu, apa maksudmu?! Kenapa aku harus dilatih? Bahkan aku tidak mengenalmu!"


"Tidak masalah kamu mengenalku atau tidak. Tugasku adalah melatihmu dan itu yang sedang aku lakukan saat ini."


"Ap-apa?! Kau gila!"


"Well Allana.." sahut Gyria. "Memang itulah panggilannya. Beck, si Beta gila."


Gyria dan satu wanita lagi tertawa.


"Ada apa semua ini Gyria?!"


"Ahhh... Kamu mengenalku? Kukira kamu tidak pernah menyebut namaku karena kamu tidak mengenalku."


"Cukup berbicaranya. Ayo kita berlatih lagi."


"Apa? Tidak, tidak, tidak.. Aku tidak akan berlatih lagi."


Allana berbalik dan mulai berjalan cepat menjauhi mereka. Beck bermuka masam lalu berubah menjadi serigala dan berlari menuju ke depan Allana. Allana terkejut dan menghentikan langkahnya. Serigala Beck menggeram marah.


"Aku bilang aku tidak ingin berlatih. Kamu bukan siapa-siapa yang bisa menyuruhku seenaknya."


Beck tidak perduli. Dia menundukkan kepalanya sedikit, bersiap menyerang.


"Uhm.. Sepertinya ini mulai menjadi serius." Gyria tampak mulai panik. "A-aku rasa Allana belum siap dengan hal itu. Dia tidak akan bertahan."


"Tenanglah... Beta Beck tahu apa yang dia lakukan."


Beck mulai maju. Allana berbalik dan berlari. Beck mengejarnya lalu mendorong tubuh Allana dengan kepalanya. Allana terhempas jauh. Dia meringis kesakitan. Allana menatap Beck yang masih menatapnya tajam. Allana mencoba bangkit karena dia tahu Beck akan segera menyerangnya kembali. Dan benar saja. Saat Allana mulai berlari, Beck kembali mengejarnya dan menghempasnya lagi. Kali ini tubuh Allana mengenai pohon dan terhempas ditanah. Allana berusaha bangkit kembali tapi tubuhnya tidak bisa di gerakkan.


"Dia tidak akan bertahan. Beta Beck sangat kuat. Belum ada satu shewolfpun yang bisa melawannya. Apa kita tidak akan menghentikannya?"


Gyria menatap wanita berambut panjang itu. Tapi wanita itu hanya diam menatap Beck dan Allana. Gyria menghela nafas panjang.


"Oh ayolah... Aku tahu kamu bisa menghentikannya. Dia adik dari beta Derek, beta dari pack Hysort. Pack itu adalah salah satu pendukung terbaik raja Lycanthrope. Kita tidak bisa melawannya, terlebih kamu tahu keberadaan kita adalah rahasia!"


"Astaga tenanglah! Beta tidak akan membunuhnya jika itu yang kamu khawatirkan."


"Tapi jika dia terluka, para anggota pack Hysort akan memburu kita lalu keberadaan kita akan diketahui."


"Dia akan segera sembuh."


"Entah kenapa aku tidak yakin dengan hal itu. Dia baru saja menjadi manusia serigala dan aku perhatikan semua indra serigalanya tidak berfungsi dengan baik."


"Apa kamu yakin?"


Gyria mengangguk pasti. Wanita berambut hitam itu berlari mendekati Beck yang akan menyerang Allana. Allana menutupi kepala dengan tangannya.


"Beta! Jangan!"


Beck hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap Allana dan menggeram.


"Tidaaak! Jangan! Hentikan!"


Beck menggeram keras dan kasar pada wanita itu. Dia merasa terusik.


"Dia belum menjadi manusia serigala seutuhnya. Seluruh indra serigalanya belum sempurna!"


Beck masih menatap dan menggeram marah.


"Dia tidak bisa menyembuhkan diri!"


Beck terdiam lalu menatap wanita itu. Wanita itu mengangguk. Beck menatap Allana yang masih terdiam di tempatnya. Beck dengan tiba-tiba mengayunkan tangannya lalu menghempas Allana lagi. Allana terhempas jauh. Tapi kali ini dia mendarat di tubuh serigala besar. Seekor serigala menangkap tubuh Allana.


Serigala itu meletakkan tubuh Allana ditanah lalu menyerang Beck. Beck dengan mudah mengalahkan serigala itu. Beck menendang bahkan menghempas kasar tubuh serigala itu. Dengan sekejap serigala itu sudah tergeletak lemah di tanah.


"Siapa serigala itu?"


"Dia adalah teman baik Allana. Huh! Dia pikir bisa seenaknya saja."


Erica berdiri dengan susah payah. Gyria maju mendekati Beck.


"Biar aku saja beta. Aku bisa mengatasi ****** ini." Gyria tersenyum senang. "Lihatlah Allana. Siapa teman kamu sebenarnya."


Gyria merubah dirinya lalu menyerang Erica. Erica juga menyerang Gyria. Allana menatap mereka dari jauh.


"Te-temanku?"


Allana masih memperhatikan Gyria dan Erica bertarung. Dia masih belum bisa mengetahui siapa serigala yang menolongnya tadi. Erica terhempas. Tenaganya sudah terkuras setelah melawan Beck tadi. Dia menatap Allana. Allana berdiri dengan susah payah. Dia memperhatikan semua orang, bahkan Erica. Beck melihat Allana lalu menggeram.


'Tidak, jangan beta dia tidak bisa--'


Beck tidak perduli dengan ucapan Gyria lalu segera berlari mendekati Allana. Dia ingin menyerangnya lagi. Allana menatap Beck dengan marah. Beck melompat dan menerjang Allana. Allana ikut melompat ke arah Beck dengan wujud manusianya lalu berubah menjadi serigala saat dia sudah di udara dan mendorong keras tubuh Beck. Tubuh serigala Beck hanya terhempas sedikit dan langsung membalas menyerang Allana. Beck berusaha untuk menggigit Allana. Dia berdiri dengan kedua kaki belakangnya, kedua kaki depannya bertumpu pada tubuh Allana dan membuka lebar mulutnya lalu mencapkan giginya yang tajam. Allana mengerang kesakitan, berusaha melepaskan diri. Allana mendorong keras tubuh Beck. Beck mundur tapi langsung kembali menyerang. Allana sudah sigap. Dia menyerang Beck, menghempasnya kasar.


Beck kembali berdiri tegak. Allana menatapnya. Kali ini tatapannya berbeda. Beck menyadari itu. Beck yang semula ingin bertarung lagi, kini hanya diam menatap Allana. Allana berlari menerjang Beck. Beck dengan sigap menghindar tapi dia tidak cukup cepat. Allana berhasil merubuhkan tubuh serigala Beck dan menahannya dengan kedua kakinya.


Allana menggeram kasar lalu mendekatkan wajahnya ke serigala Beck yang masih ditahan oleh kaki Allana. Dia mengendus wajah Beck. Anehnya dia seperti mengenali bau dari Beck. Awalnya ada hasrat untuk membunuh Beck saat itu. Hasratnya begitu besar. Bahkan Allana sulit untuk mengendalikannya. Tapi setelah mengenali bau tubuh Beck, Allana mengurungkan niatnya. Dia bisa kembali mengendalikan pikiran serigalanya yang masih liar.


'Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu tampak sangat... Familiar? Baumu... Aku mengenal baumu.'


'Tentu kamu mengenal bauku. Meskipun kita baru bertemu, tapi kita akan mengenali anggota satu pack kita dengan bau.'


'Pack? Apa maksudmu?'


'Pack, pack kita. Pack moon Crysort.'


'Crysort? Tidak, aku tidak mengenal packmu. Packku adalah pack moon Hysort, pack dari kakakku.'


'Tidak, sejak lahir kamu milik pack moon Crysort. Kamu berasal dari sana. Kamu adalah warrior itu.'


'Kenapa semua orang memanggilku warrior?'


Allana mundur. Dia melepaskan cengkramannya pada Beck. Beck langsung bangkit.


'Karena kau adalah warrior yang kami tunggu-tunggu sejak lama. Warrior yang akan menyatukan dan membangkitkan pack kita lagi.'


'Tidak, kau salah! Aku baru saja mengetahui jika aku adalah manusia serigala, bahwa aku baru saja bisa berubah. Tidak, kau pasti salah..'


'Seandainya memang begitu. Tapi kau adalah warrior itu. Semua tanda yang ada di dirimu adalah buktinya. Aku tidak tahu bagaimana kamu baru mengetahui kamu adalah manusia serigala, tapi... Kamu adalah warrior itu.'


Allana terdiam. Dia bimbang.


'Tidak Allana.. Jangan percaya mereka.' Erica mulai berbicara.


'Diam!' bentak Gyria.


'Tunggu, aku mengenalmu. E-Erica? Kau Erica?'


'Maafkan aku Allana.. Aku...'


'Lihatlah! Sahabatmu sendiripun menipumu!'


'Allana, aku tahu kamu butuh waktu untuk menerima semua ini. Kami menunggu kehadiranmu. Hanya kamu yang bisa membangkitkan pack Crysort lagi. Kembalilah pada kami Allana. Bersatulah dengan kami dan kembalikan pack kita.'


'Jangan dengarkan mereka Allana..!!'


Bukk!!


Gyria menghempas Erica dengan kepalanya.


'Diam saja kau penipu! Kau sahabatnya bahkan menyembunyikan siapa sebenarnya dia. Dia milik pack kami. Dan kalian para pack lain, enyahlah. Ini bukan urusan pack kalian.'


'Dia sahabatku dan itu menjadi urusanku.'


'Kau bilang sahabat? Cih!'


Gyria dan Erica saling menggeram marah. Mereka bersiap menyerang lagi.


'Hentikan! Tidak perlu bertarung lagi. Erica, selama ini kamu tahu apa aku dan siapa aku tapi kamu diam saja? Aku kecewa Erica. Kamu berjanji memberitahukan semuanya, apapun yang terjadi. Tapi kamu menyembunyikan hal ini dariku.'


'Tidak Allana, aku melakukannya untuk kebaikanmu. Kamu belum siap, kamu--'


'Hahaha...lucu sekali. Kamu tidak ada bedanya dengan anggota pack menyedihkan lainnya.'


'Kau--'


'Dan kau Gyria.'


Allana merubah dirinya menjadi manusia. Tubuhnya langsung bereaksi saat dia ingin kembali menjadi manusia. Jauh lebih mudah dari saat pertama kali.


"Aku bukan anggota pack siapapun. Aku adalah aku. Aku juga bukan warrior. Jadi hentikan semua ini. Aku tidak akan kemanapun.'


"Kamu tidak bisa merubah semua yang sudah di ramalkan." kata wanita berambut hitam.


"Mungkin benar. Tapi aku yang memutuskan untuk menjadi apa dan akan ikut siapa. Kalian tidak punya hak untuk ikut campur. Pergi! Dan jangan kembali."


Terdengar derap langkah yang cukup banyak. Semua orang mendengarnya, bahkan Allana juga.


"Derek. Pergilah sebelum kalian tertangkap."


"Tapi disini adalah wilayah netral!"


"Tapi kalian bermasalah denganku. Pergilah."


Beck menggeram pada Gyria, memintanya untuk pergi. Gyria mengerti, lalu mendengus kesal. Gyria merubah dirinya menjadi serigala lalu segera pergi, disusul wanita berambut hitam yang juga merubah dirinya menjadi serigala berwarna abu-abu. Beck menatap Allana sejenak, lalu pergi berlari menyusul Gyria dan wanita berambut hitam.


Tak lama muncul beberapa serigala. Allana mengenali beberapa serigala itu. Derek dan ayahnya.


"Allana? Ada apa ini?" tanya ayahnya yang telah berubah menjadi manusia. Mereka melihat beberapa pohon tumbang dan tanah teracak dan berhamburan.


"Tidak ada apa-apa ayah." sahut Allana pelan.


"Mereka kesini." kata Erica yang juga sudah berubah menjadi manusia.


"Mereka?"


"Iya, mereka. Anggota pack Crysort."


"Apa? Tunggu, tunggu.. Apa? Pack Crysort?"


"Benar, mereka menyebut diri mereka pack Crysort dan mengajak Allana pergi."


"Apa benar itu Allana?"


Allana hanya diam menunduk. Dia enggan menjawab. Derek mendekat lalu memegang kedua pundak Allana dan menggoyangkan pelan tubuh Allana.


"Allana... Jawab aku. Apa itu benar?"


Allana menatap kakaknya.


"Mungkin... Aku tidak perduli."


"Allana..."


Allana melepaskan kedua tangan Derek dari pundaknya lalu beranjak pergi.


"Allana, aku masih belum selesai berbicara."


Derek menarik tangan Allana. Allana dengan cepat menarik balik tangan Derek lalu memutarnya dan meletakkan tangan Derek di belakang punggung Derek. Allana terkejut dengan apa yang dilakukannya. Dia segera melepaskan tangan Derek. Dia semakin tidak mengerti ada apa dengannya.


"Allana.. Ayah tahu kamu bingung. Tapi dengarkan ayah..."


"Tidaak! Jangan katakan apapun!! Aku tidak mau mendegarnya!" Allana menutup telinganya dengan tangannya.


"Allana... Mari kita pulang dan--"


"Tidak ayah. Cukup. Dan kamu Derek, Jangan menyuruhku melakukan apapun lagi."


"Tapi itu semua untuk kebaikkanmu."


"Aku tidak perduli. Kalian terlalu banyak membohongiku. Lagipula aku bukan anggota packmu. Kamu bukan betaku."


Allana berlari menjauhi mereka. Dia menangis. Entah kebenaran apalagi yang harus dia dengar dan siapa dia sebenarnya...


****


tadariez