
Para penyihir itu membaca mantra. Beck dan Melisa sudah meletakkan Allana di tengah-tengah para penyihir. Allana masih tidak sadarkan diri. Gyria berlari menuju Allana tapi beberapa orang menangkapnya.
"Allana!! Apa yang kalian lakukan padanya!"
"Tenanglah Gyria. Ini hanya sebuah ritual."
"Ritual? Dia tidak sadarkan diri!"
Melisa berjalan ke Gyria dan menamparnya.
"Bersikap sopanlah! Kamu berada di hadapan luna."
"Tapi... Tidak, ini tidak benar. Beta Beck..."
"Cukup Gyria!"
Gyria tidak berbicara lagi tapi masih mencoba melepaskan diri. Allana menggerakkan tubuhnya perlahan. Dia mencoba membuka matanya. Allana terkejut. Dia sudah berada di tengah-tengah orang yang mengelilinginya.
"A-ada apa ini?"
Orang-orang yang mengelilinginya masih saja membaca sesuatu yang Allana tidak mengerti. Di tengah kerumunan orang, Allana melihat Gyria.
"Gyria... Tolong aku... Tolong aku..."
Tapi tentu, Gyria tidak bisa berbuat banyak. Tiba-tiba Allana berteriak kesakitan. Allana tidak sadarkan diri lagi. Gyria panik. Allana..
Gyria menutup matanya, mengatur nafasnya dan berusaha konsentrasi. Gyria membuka matanya. Bola matanya sudah berubah menjadi warna biru terang. Gyria mencoba melawan lagi. Dia menghempas satu orang yang memegang tangannya kemudian membanting satunya lagi. Beberapa orang mencoba melawan Gyria. Gyria bisa melawan mereka. Gyria merupakan salah satu gamma yang bisa bertarung meski tidak dalam wujud serigala. Gyria hampir mendekati Allana tapi tiba-tiba beta Beck menghalanginya. Gyria menggeram kasar. Beck merubah dirinya menjadi serigala dan berbalik menggeram.
'Hentikan Gyria'
'Tidak beta. Mereka menyakiti Allana.'
'Mereka melakukan tugas mereka.'
'Tugas? Tidak. Anda berkata luna hanya ingin bertemu, kenapa sekarang seperti ini?'
'Ini harus di lakukan jadi menyingkirlah.'
'Saya tidak akan menyingkir'
Gyria menggeram. Dia tahu jika dia tidak menyingkir dia harus melawan Beck, beta yang di hormatinya. Tapi Gyria merasa ini tidak benar. Gyria melompat tinggi tapi dengan cepat Beck bisa menepisnya, membuat Gyria terhempas ke samping. Tapi Gyria bangkit lagi. Dia kembali menyerang tanpa henti. Beck lebih kuat darinya. Beck bisa menahan semua serangan Gyria.
'Hentikan! Atau kamu akan terluka.'
Tapi Gyria tidak mendengarkan. Dia masih berusaha meraih Allana. Beck tiba-tiba menggigit pundak Gyria lalu pinggangnya. Gyria menggeram kesakitan. Dia mundur perlahan dan mencoba mengatur nafasnya. Tapi Gyria tidak berhenti sampai di situ saja. Meski sakit, dia tidak menyerah. Dia masih berusaha menyerang.
'Dasar keras kepala!'
Bukk!!!
Tubuh Gyria mengenai dinding goa itu. Gyria berusaha bangkit dan bersiap lagi.
"Gyria!!"
Sebuah panggilan menghentikannya. Gyria mencari arah suara dan mendapati beta Melisa bersama ibu dan adiknya.
'I-ibu...'
"Ibumu sudah bersumpah setia pada pack, jadi kami bisa melakukan apapun adanya."
Gyria menggeram kasar dan tidak suka.
"Jika kau masih mengacau, lihat saja apa yang aku bisa perbuat dengan ibu dan adikmu."
Gyria terdiam. Ucapan beta Melisa tidak bisa dianggap remeh. Jika urusan menyiksa, beta Melisa yang paling bisa menepati ucapannya. Dia tahu beta Melisa saat ini tidak bermain-main.
"Rubah wujudmu dan tenanglah."
Gyria merubah wujudnya. Dia menatap ibu dan adiknya. Ibunya sudah tua, bahkan lebih tua dari ibu Allana dan ibu Gyria sakit parah
Dua orang membuat Gyria duduk diatas lututnya. Tak lama Allana berteriak lagi. Dia tampak kesakitan. Gyria menutup matanya. Dia tidak bisa melihat semua itu.
Mereka melukai tangan Allana lalu tangan Luna. Menampung darah mereka menjadi satu dan mengikat tangan mereka menjadi satu dengan sebuah pita merah yang panjang. Para penyihir membaca mantra lagi. Kali ini yang berteriak tidak hanya Allana tapi luna juga. Luna sudah berlutut dan masih menutup kedua matanya sementara Allana sudah terlihat sangat lemas. Para penyihir membuka ikatan pita. Luna kembali ketempat duduknya sementara Allana sudah terbaring lemas dengan wajah tepat menghadap Gyria. Allana membuka matanya. Meski samar, dia melihat Gyria. Allana mengangkat satu tangannya, berusaha mencari perhatian Gyria.
"Gyria.. Aku.. Aku mohon... Tolong aku..."
Gyria tertunduk. Dia meneteskan air matanya. Maafkan aku Allana, aku sungguh minta maaf..
*****
Sinar matahari yang masuk ke kamarnya memaksa Allana membuka matanya. Allana membuka matanya perlahan, mencoba membiasakan matanya dengan cahaya. Allana menatap sekitarnya. Dia ingat dia masih berada di pack Crysort. Allana duduk perlahan dan memegang kepalanya.
"Agghh... Kenapa kepalaku sakit sekali."
Allana memijat pelan kepalanya lalu turun dari tempat tidur dan mengambil air mineral di atas nakas. Allana menuang airnya ke dalam gelas dan meneguk satu gelas air sekaligus. Allana mengusap mulutnya lalu berjalan keluar kamar. Sesekali dia memegang kepalanya yang masih sakit.
Di luar cuaca sangat cerah. Allana tidak mau membuang waktu dan segera ke luar rumah. Allana membuka pintu dan terkejut. Dia mendapati Gyria sudah berdiri di depan pintunya.
"Astaga Gyria. Kamu buat aku terkejut saja." Allana mengelus dadanya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Gyria yang tampak khawatir. Gyria bahkan tidak bisa tidur semalaman. Setelah mengantar ibu dan adiknya pulang dan memastikan mereka berdua baik-baik saja, Gyria langsung menuju tempat Allana berada dan menunggunya sampai pagi.
"Selain sakit kepalaku yang tiba-tiba, aku baik-baik saja." jawab Allana lalu mulai berjalan. Gyria mengikutinya.
"Kamu sakit kepala?"
"Begitulah. Mungkin karena aku mendudukkan tubuhku terlalu cepat saat aku bangun."
"Apa perlu aku bawakan obat?"
"Tidak, tidak perlu. Mungkin hanya sementara. Ahh iya! Bagaimana luna?"
"Ba-bagaimana maksud kamu?"
"Katanya dia ingin bertemu denganku, kenapa sampai sekarang aku tidak menemuinya? Apa dia begitu sibuk?"
"A-a-apa?" Gyria melongo tidak percaya.
"Iya, bukankah aku harus menemuinya? Bukankah itu tujuan kita kemari?"
"Ahh... Aku... Aku.."
"Gyria kau ini kenapa?" Allana menatap Gyria heran. "Kenapa kamu jadi aneh seperti ini?"
"Apa... Apa kamu tidak ingat?"
"Ingat? Ingat tentang?"
"Se...malam."
"Semalam? Memangnya ada apa semalam?" tanya Allana bingung. "Yang aku ingat semalam... Aku tidur. Sangat pulas. Sampai-sampai aku sakit kepala pagi ini."
Gyria menatap Allana bingung.
'Kenapa dia tidak ingat? Apa aku bermimpi? Tidak, tidak mungkin. Aku bahkan tidak tidur semalaman. Tapi kenapa dia tidak ingat. Tunggu, apa aku sekarang sedang bermimpi? Apa aku sekarang tidur?'
Gyria mencubit lengannya dengan kuat.
"Aaghh... Sakit... Aku tidak bermimpi."
"Gyria, ada apa sebenarnya denganmu? Dari tadi kau aneh sekali. Sekarang kamu mencubit dirimu sendiri." Allana menggelengkan kepalanya.
"Allana.." sebuah panggilan membuat Allana dan Gyria menoleh. Beck berjalan mendekat.
"Beta Beck."
"Bagaimana tidurmu?"
"Nyenyak. Bahkan karena terlalu nyenyak, saya sampai sakit kepala paginya."
"Aku akan meminta Gyria mengambil obat."
"Ahh tidak, tidak perlu. Sudah mendingan, terima kasih."
"Apa kamu siap untuk bertemu luna?"
"Sekarang? Tapi saya tampak berantakan."
"Kamu terlihat baik-baik saja Allana." sahut Beck lalu tersenyum. "Ayo, aku bawa ke rumah luna."
"Tidak perlu, aku sudah disini." sahut sebuah suara. Mereka menoleh dan mendapati luna bersama Melisa. "Halo Allana. Saya luna Chloe." luna mengulurkan tangannya. Allana dengan gugup membalas uluran tangannya.
"Saya... Allana."
"Selamat datang di pack. Maaf aku baru bisa menemuimu."
"Ahh... Ti-tidak apa-apa." Allana tersenyum kikuk. Dia sedari tadi memperhatikan luna Chole. Dia mengagumi kecantikannya. Rambut pirang tergerai panjang sepinggang dan tampak sangat anggun. Wajah luna pun terlihat mengaggumkan.
"Mari kita minum teh di rumahku. Aku ingin berbicara banyak denganmu."
"Ten-tentu."
Mereka berjalan menuju rumah luna Chloe. Semua orang berada di luar termasuk Gyria. Hanya luna dan Allana yang masuk ke dalam rumah.
"Uhmm.. Beta?" Gyria menegur Beck.
"Ada apa lagi Gyria." Melisa yang menjawab.
"Uhmm... Allana sepertinya tidak mengingat kejadian semalam dan saya yakin saya tidak sedang bermimpi. A-ada apa sebenarnya?"
Melisa menarik tangan Gyria menjauhi beberapa orang.
"Dengarkan aku Gyria. Dia tidak akan mengingat apapun jadi tutup mulutmu! Jangan sampai dia mengetahui apapun tentang semalam. Dia atau keluarganya. Kamu mengerti?"
"Tap-tapi beta..."
"Lihatlah Luna. Betapa dia menjadi sangat baik. Anak itu memang warrior yang di ramalkan dan sebentar lagi, pack kita akan kembali lagi, kuat dan berjaya seperti dulu. Bukannya kamu ingin melihat pack kita menjadi pack saat luna Brea memimpin?"
"Tapi tidak dengan cara seperti ini."
"Allana akan baik-baik saja."
"Dia tidak terlihat baik-baik saja beta. Dia terlihat... Berbeda."
"Sebelum kamu mengatakan apapun pada Allana, ingat ibu dan adikmu. Sebaliknya kamu camkan itu."
Melisa meninggalkan Gyria sendiri. Gyria bahkan tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia serba salah. Dia bingung, apa dia harus mengorbankan Allana atau ibu dan adiknya.
Setelah beberapa lama, pertemuan Allana dan luna Chloe selesai. Allana pamit dan mulai berjalan keluar wilayah pack bersama Gyria yang membawa satu nampan penuh makanan. Allana terus berbicara tentang pertemuannya dengan luna bahkan memuji luna. Tapi Gyria hanya terdiam membisu.
"Aku kira lunamu sekarat. Tapi dia terlihat baik-baik saja. Apa dia sudah sembuh?"
Gyria masih diam.
"Gyria!!"
"Eh? Oh? ya, Allana?"
"Kau ini kenapa? Sedari tadi hanya diam." Allana menghentikan langkahnya lalu berdiri di hadapan Gyria sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa ada masalah?"
"Masalah? Masalah apa? Ti-tidak ada." kata Gyria sambil berlalu. Allana menatap Gyria bingung.
"Tidak, pasti ada sesuatu. Ya kan?"
"Tidak ada Allana. Aku hanya kurang tidur."
"Kurang tidur?"
"Iya, semalam entah kenapa aku tidak bisa tidur."
"Ahh jadi itu kenapa pagi-pagi kamu sudah di depan pintuku?"
Mereka sampai di perbatasan dan keluar dengan segera. Allana melihat kakaknya dan memeluknya.
"Bagaimana? Apa pertemuannya lancar?"
"Tentu. Benarkan? Aku baik-baik saja. Ibu dan kakak terlalu berlebihan."
"Iya, iya kami yang salah. Dasar cerewet."
Allana dan Derek tertawa.
"Hei, apa itu makanan untuk kami?" celetuk Steve melihat Gyria membawa satu nampan penuh makanan.
"Ahh.. Iya. Ini, makanlah."
"Waaahhh lebih banyak dari kemarin!!" pekik Steve.
"Steve, ayolah. Kamu memalukan sekali."
"Apa? Aku kan berkata benar."
"Ini rasa terima kasih dari luna kami karena sudah memperbolehkan dan mengantar Allana kemari."
"Benarkah? Wahhh.... Beta, apa kami boleh makan?"
"Tentu saja. Makanlah. Setelah itu kita kembali."
"Mereka rakus sekali." komentar Allana.
"Begitulah serigala Allana."
"Aku tidak begitu."
"Ahh jadi kamu sekarang serigala?"
"Setengah."
"Setengah?"
"Iya, setengah manusia dan serigala."
"Ahh..." Derek tertawa.
"Hei, tidak ada yang lucu."
"Iya, iya adikku yang cerewet. Apa kamu sudah makan?"
"Sudah, bersama luna tadi."
"Ahh baiklah." Derek beranjak berdiri untuk mengambil makanan. Derek memakan makanannya lahap sampai dia melihat Gyria yang berdiri tidak jauh dan tertunduk. "Apa kamu sudah makan?"
Derek bertanya pada Gyria tapi Gyria hanya diam tertunduk.
"Hei! Apa kamu dengar?" Derek sedikit meninggikan suaranya. Gyria menoleh dan menatap Derek. "Aku tanya apa kamu sudah makan."
"Aku akan makan nanti."
"Ada apa denganmu Gyria? Sedari tadi kamu bersikap aneh dan selalu melamun." tanya Allana bingung.
"Aku baik Allana. Ah iya, aku tidak akan ikut kamu kembali. Ada yang harus aku lakukan disini."
"Benarkah? Sayang sekali."
"Kita akan bertemu besok di sekolah."
"Tentu."
Gyria kembali terdiam. Hanya terdengar ocehan dari gamma dan omega Derek. Allana bahkan sesekali tertawa mendengar pertengkaran mereka.
"Kami selesai. Terima kasih makanannya. Benar-benar enak!" Thomas menyerahkan nampan yang sudah kosong.
"Sama-sama."
"Kita pergi sekarang?"
"Tentu beta."
"Kalau begitu berubahlah."
Semua berubah kecuali Allana dan Derek. Allana memeluk Gyria.
"Sampai jumpa di sekolah besok."
Allana melepaskan pelukkannya lalu berubah menjadi serigala.
"Terima kasih jamuannya. Maaf merepotkan."
"Tidak masalah. Hati-hati."
Gyria berbalik dan mulai berjalan tapi Derek menahannya.
"Sebenarnya ada apa denganmu?"
"Tidak ada apa-apa."
"Tidak, Allana benar. Kamu terlihat aneh."
Gyria menghela nafas kesal dan berbalik.
"Aku baik-baik saja. Meski ada sesuatu denganku, aku rasa itu bukan urusanmu."
"Ahh baiklah, baiklah. Tidak perlu marah. Aku hanya--" mata Derek menatap sesuatu. "Kamu terluka."
Gyria terkejut. Dia memperbaiki kaos yang dia kenakan. Luka akibat semalam masih terlihat dan belum sembuh.
"Aku baik-baik saja."
"Itu terlihat parah."
"Aku baik-baik saja! Pergilah atau kalian akan sampai malam hari."
Gyria berbalik dan langsung berjalan masuk ke dalam perbatasan. Derek masih menatapnya. Apa karena luka itu dia terlihat aneh? Tapi apa perduliku?
Derek merubah dirinya dan langsung menyusul yang lain.
Gyria pov
Aku berlari ke rumah Leysha tapi hal itu percuma karena Leysha tidak ada dirumah. Aku bingung harus mencari di mana. Ah iya dia selalu berada di hutan untuk mengambil tumbuhan obat. Aku berlari masuk ke dalam hutan tapi belum jauh aku melihat seseorang sedang berdiri sendirian. Aku mengenali dan menghormati orang itu, sampai tadi malam.
"Beta." tegurku pada beta Beck.
"Gyria, sedang apa kamu disini?"
"Mencari Leysha." jawabku dingin. Aku ingin bersikap seperti biasa tapi aku kecewa dengannya. Aku kembali berjalan dan melewatinya.
"Aku tahu kamu pasti terkejut tentang semalam. Tidak ada jalan lain Gy, itu harus di lakukan."
"Katakan pada saya beta. Allana akan baik-baik sajakan?"
"Kamu lihat dia baik-baik saja."
"Tidak, ada sesuatu yang terjadi dengannya."
"Apa maksud kamu?"
"Dia terlihat berbeda beta. Entah apa itu."
"Itu hanya fikiranmu saja. Allana baik-baik saja." beta Beck mulai berjalan meninggalkanku. Dari raut wajahnya aku tahu ada sesuatu.
"Pasti ada sesuatu kan? Katakan pada saya ada apa. Saya berhak tahu setelah kejadian semalam." kata-kataku membuat beta berhenti. Ya tentu, aku harus tahu. Tapi beta tetap berjalan dan tidak memperdulikanku. Oh tidak, tidak akan aku biarkan. Aku harus mendapat penjelasan.
"Beta, saya mohon katakan ada apa? Dan ritual apa semalam."
"Semakin sedikit yang kamu tahu semakin baik."
"Tidak. Saya ingin tahu. Saya mohon." aku terus mendesak beta.
"Kamu keras kepala sekali."
Aku terdiam dan menatap penuh harap padanya. Tapi dia hanya berjalan melewatiku. Aku menghela nafas pelan. Aku kembali berjalan mencari Leysha.
"Namanya ritual penyembuhan." beta Beck kembali berbicara dengaku. Aku berbalik menatapnya.
"Penyembuhan?"
"Iya, untuk menyembuhkan luna."
"Apa itu berhasil?"
"Kamu bisa lihat bagaimana luna tadi pagi. Itu sangat berhasil."
"Lalu Allana? Kenapa itu terlihat menyakitkan untuk Allana?"
Beta beck terdiam lagi, aku menjadi tidak sabaran dengan sikapnya. Beta selalu berbicara tegas dan menjelaskan secara rinci. Tapi ini, dia bahkan terlihat menutupi sesuatu.
"Beta, saya mohon... Katakan pada saya. Saya juga tidak akan bisa mengatakan pada Allana, karena ibu dan adik saya. Tapi setidaknya saya ingin tahu."
Aku melihat beta Beck hanya terdiam. Dia terlihat ragu. Aku menunduk. Harapan aku mengetahui semuanya terasa kandas. Hanya beta Beck yang selalu terbuka padaku tapi kali ini, betapun tidak bisa berkata apapun.
"Allana tidak baik-baik saja. Luna kita adalah korban kutukan masa lalu. Apa kamu tahu kutukan pack kita seperti apa?"
Aku mulai berpikir dan mengingat kembali.
"Pack kita akan terpecah belah dan itu sudah terjadi. Lalu akan ada warrior yang menyatukan pack kita, dan itu Allana."
"Benar. Itu yang Allana lakukan semalam."
Aku menatap beta bingung. Bagaimana rasa sakit Allana bisa menyatukan pack.
"Satu hal yang tidak kamu ketahui. Luna kita adalah luna terakhir menurut ramalan."
"Benarkah?" aku terkejut. Tentu aku terkejut.
"Dan menurut ramalan, luna terakhir akan terkena penyakit yang akan mengakhiri nasib pack ini. Tanpa luna, tidak ada pack."
"Jadi kalian memerlukan Allana untuk menyembuhkan luna?"
"Itu benar."
"Lalu apa yang akan terjadi pada Allana?"
"Tidak ada. Dia hanya akan menjadi... Normal."
Well normal bagus. Jika Allana baik-baik saja. Jika dia tidak tersakiti atau apapun. Tapi tunggu. Normal? Normal seperti apa?
"Apa maksud anda dengan normal?"
Aku melihat beta menghela nafas berat. Dia terlihat berat mengatakannya.
"Beta, apa ada masalah? Saya mohon jujur pada saya."
"Allana... Dia... Menjadi normal. Menjadi normal maksudnya.. Dia bukan manusia serigala lagi."
"Apa?!"
******
Tadariez