Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 37 :Let's Race



Allana masih menatap Renald. Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa senang.


"Al? Kau baik-baik saja?" Renald bingung melihat Allana berdiri diam dan hanya menatapnya. Allana tersadar dengan panggilan itu.


"Ahh ya.. Aku.. Aku tidak baik, tiba-tiba jantungku berdetak tidak karuan, lebih cepat dari biasanya dan aku merasa begitu senang melihatm---" Allana menghentikan kata-katanya dan menutup mulutnya dengan tangannya. Dia tersadar sudah mengucapkan hal aneh. "Aku baik." sahut Allana akhirnya. Ingin sekali dia memukul mulutnya yang sudah kelepasan bicara.


Renald tertawa geli.


"Tampan sekali saat dia tertawa.. Astaga Allana.. Hentikan itu. Ada apa denganku?"


"Ah iya. Di taman belakang ada kakak dan temanmu. Mereka datang untuk mengunjungimu."


"Kakak? Teman?"


"Ya. Uhmm.. Derek dan Erica dan Griya. Mereka kakak dan temanmu kan?"


"Ya, tentu. Mereka ada di mana?"


"Ditaman belakang." Renald menunjuk arah belakangnya. "Allana aku rasa kamu harus-- Hei! Allana!" belum selesai dia berbicara Allana sudah berlari pergi. Allana berlari sekuat tenaga. Dia senang bertemu dengan Erica, Gyria dan kakaknya tapi dia lebih senang jika bisa menghindar dari Renald. Allana berhenti setelah berlari agak jauh, Dia mengatur nafasnya.


"Aku harus segera pergi dari sana. Jika tidak, aku tidak akan bisa mengontrol ucapanku padanya. Akkhh.... bodoh sekali. Ada apa denganku? Tidak, aku yakin ini hanya crush sesaat, seperti biasanya. Ya, itu pasti."


Tiba-tiba ada seseorang menepuk bahunya. Allana membeku seketika. Dia bahkan tidak bisa menoleh pada orang yang berdiri di belakangnya.


"Apa yang crush sesaat? Apa kau sedang menyukai seseorang?" tanya orang itu. Allana mengenal suara itu. Terlebih, dia yakin orang itu bukan Renald karena itu suara wanita. Allana seketika menoleh dan mendapati Erica di sana. Allana segera memeluknya erat.


"Astaga Er, aku kira aku tidak akan bertemu lagi denganmu!"


"Aku juga. Kami sangat khawatir tahu! Kau tidak mengirimi kabar sama sekali padahal kau sudah pergi selama tiga bulan."


Allana dengan cepat melepas pelukannya, menatap Erica dengan bingung. "Tiga bulan? Apa maksudmu?"


"Kau sudah pergi selama tiga bulan lebih Allana dan kamu tidak sekalipun mengirimi kami kabar. Aku tahu keluargamu khawatir meski mereka berkata kamu aman di sana tapi aku dan Gyria tidak. Kami harus menemuimu."


"Tunggu, biar aku proses terlebih dahulu ucapanmu. Tiga bulan? Er, aku hanya pergi beberapa minggu. Mungkin sebulan? Tapi tidak lebih dari itu, aku yakin."


"Apa kau sudah gila? Lalu kau pikir aku berbohong? Kau bisa tanya Gyria dan Derek jika kau masih tidak percaya."


"Maaf bukannya aku tidak percaya padamu hanya saja aku yakin aku tidak berada di kuil itu selama tiga bulan. Aku hanya--"


Allana terdiam. Ada kelopak bunga jatuh di tangannya. Allana mengamati itu lalu melihat ke atas. Allana baru menyadari sekitarnya. Beberapa pohon mulai bermekaran bunganya, begitu pula taman di sana. Meski masih ada hawa dingin tapi musim semi sudah datang. Allana terkejut melihat pohon yang berada di dekatnya. Bunga di pohon itu bermekaran dengan indahnya dan tidak hanya satu warna, tapi ada tiga warna bercampur.


"Whoa... Pohon apa itu?"


"Kami menyebutnya Tsvegi." sahut Renald yang sudah berada di dekat mereka. "Gabungan dua kata dari pelangi dan bunga dari bahasa lokal."


"Cantik sekali. Kenapa mereka memiliki banyak warna? Apa itu mungkin?" Allana masih menatap pohon itu takjub.


"Pohon ini hanya ada di kota ini. "


Allana menoleh. "Benarkah?"


"Hmm... konon katanya jika ada yang memindahnyaa atau mengambil bibit dari pohon itu ke luar dari kota ini, pohon itu tidak akan pernah tumbuh."


"Kenapa seperti itu?" tanya Allana.


"Apa ada sihirnya?" Erica ikut bertanya.


Renald tertawa. "Entahlah. Sudah seperti itu sedari dulu. Setiap aku bertanya pada nenekku dulu atau bibiku, mereka tidak pernah memberitahunya."


"Tapi pohon itu berbeda." Erica menunjuk pohon yang jaraknya jauh dari mereka. "Dan beberapa pohon lagi yang aku lihat. Hanya memiliki satu warna bunga."


"Itu hobi bibiku. Bibiku menyukai pohon-pohon berbunga. Dia membawa pohon-pohon itu dari negaranya dan merawatnya dengan sangat baik. Entah bibiku memiliki keahlian apa tapi setiap pohon atau bunga yang di rawatnya, selalu tumbuh dengan subur. Seperti yang kamu tunjuk tadi, itu pohon sakura dari jepang. Dan ada beberapa pohon lain. Bahkan ada pohon berbunga mawar. Bibiku penggila bunga dan pohon. Aku rasa dia lebih menyayangi bunga dari pada aku, keponakan satu-satunya. Ugh.. dia sungguh pilih kasih."


"Ahh jadi kamu ingin bibi sayangi seperti bunga?" sahut bibi Agatha yang sedari tadi sudah berdiri di belakang mereka. "Kemarilah keponakan bibi sayang, sini sayang.... bibi kasih pupuk." bibinya memberikan beberapa pupuk pada Renald. Renald yang terkejut sontak menghindar. "Dan bibi kasih air..." bibi Agatha mengambil penyiram bunga.


"Ooohhhh... tidak tidak tidak... jangan bibi.."


"Apa? kenapa? kau bilang bibi lebih menyayangi bunga dari keponakan bibi satu-satunya. Kalau begitu bibi ingin menyayangi keponakan bibi satu-satunya ini sama seperti bibi menyayangi bunga bibi. Harus adil kan? bibi tidak ingin pilih kasih. Kemarilah, ."


"Akkhh tidak mau!!"


Renald berlari menjauhi bibinya yang mengejarnya sambil menyiraminya dengan penyiram tanaman. Renald berlari lebih cepat dan memasuki rumah. Bibinya hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali pada Allana dan Erica.


"Maafkan keponakanku itu. Dia memang alpha, tapi kelakuannya masih seperti anak kecil. Bisa-bisanya cemburu dengan bunga."


Erica dan Allana tersenyum geli,


"Ah iya! bagaimana kabarmu? apa kau sudah baikkan? Kenapa sudah turun dari tempat tidur? seharusnya kamu beristirahat." bibi Agatha menatap Allana.


"Saya baik-baik saja nyonya, terima kasih sudah merawat saya."


"Tidak perlu sungkan. Jangan terlalu banyak berjalan. Kamu harus banyak istirahat."


"Baik nyonya."


"Jangan memanggilku nyonya. Panggil saja bibi."


"Ba-baik nyo-- bibi."


"Aku masuk dulu, harus mempersiapkan makan siang. Ingat, jangan terlalu lama di luar. Memang sudah musim semi, tapi disini musim semi masih dingin."


"Baik bi,"


Bibi Agatha masuk ke dalam rumah.


"Dimana kakakku?"


"Ikut aku." Erica dan Allana mulai berjalan. "Jadi... bagaimana tubuhmu? apa terasa sakit?"


"Aku sudah baik-baik saja Er, bahkan tubuhku sama sekali tidak sakit. Aku hanya seperti sedang bangun tidur."


"Benarkah? kata alpha Renald kau terluka parah."


"Sepertinya begitu, aku tidak begitu ingat. Terakhir yang aku ingat, aku melawan serigala itu besar itu."


"Serigala besar? Apa warrior kuil?"


"Tidak Er, dia bukan warrior kuil. Warrior kuil tidak akan menyakitiku. Tapi dia... Berbeda. Anehnya dia bisa masuk ke dalam kuil. Itu aneh mengingat tidak ada yang bisa masuk ke kuil kecuali para warrior, yang terpilih atau Kei, raja Lycanthrope. Tapi dia masuk seolah-olah bukan tempat suci."


"Aneh..."


"Di mana kakakku?"


"Di sebelah sana. Tempat ini luas. Aku kira alpha disini adalah raja atau pangeran di dunia manusia biasa. Ternyata dia bangsawan. Wah! Pantas saja rumahnya begitu luas dan--"


"Kau terlalu berlebihan Er." Allana tertawa.


"Tapi pack ini kurang lebih mirip seperti packku. Meski alpha tidak memiliki istana seperti alpha disini, tapi aku rasa jumlah anggota packnya sama."


"Benarkah? apa kekuatan sebuah pack berpengaruh dari kekayaan alphanya?" tanya Allana.


"Itu tergantung bagaimana alpha menggunakan kekayaannya dan menggunakan kekuatannya sebagai alpha. Jika alpha itu bijak atau menggunakan kekayaannya untuk pack, aku yakin packnya akan tumbuh dengan baik. Tapi aku pernah bertemu dengan pack kecil yang memiliki kekuatan luar biasa. Maksudku... mereka bahkan bisa menandingi Derek! Mereka tidak memiliki pack sebesar ini, alpha sekaya ini, mereka hanya tinggal di sebuah kota kecil. Tapi anggota pack mereka sangat kuat. Mereka hanya kalah jumlah, tapi mereka tidak bisa di remehkan. Jadi aku rasa semua tergantung bagaimana alpha mengatur semuanya."


"Sepertinya tugas alpha sangat berat."


"Sudah pasti itu Allana. "


Allana melihat kejauhan beberapa orang sedang berlatih.


"Itu mereka?" tanya Allana.


"Hmm.. aku yakin Derek ada-- hei! tunggu aku!" Erica berlari mengejar Allana.


"Beta, lihatlah!" tunjuk satu orang yang sedang berlatih dengannya. Derek menoleh dan mendapati Allana berlari ke arahnya. Derek tersenyum dan membuka kedua tangannya lebar. Allana melompat ke arah Derek dan Derek menangkapnya dengan mudah lalu memutar tubuh mereka sejenak lalu segera menurunkan Allana.


"Aku sungguh senang kau baik-baik saja. Aku sangat khawatir."


"Ouhhh. tumben sekali khawatir padaku. Biasanya kau dan Alice selalu menggodaku atau mengerjaiku."


"Kami adalah kakakmu. Begitulah kakak dan adik. Penuh canda."


"Hah! alasan apa itu?"


Derek tertawa. "Aku serius Allana. Apa kau sudah baik-baik saja?"


"Aku baik. Lihatlah!" Allana memutar tubuhnya. "Aku benar-benar baik!"


"Kata alpha kau terluka parah jadi aku pikir kamu akan sulit bangun."


"Bukan terluka parah. Tapi aku pikir aku akan mati. Serigala itu sudah menyerang habis-habisan. Tap entah kenapa aku seperti---tidak terluka sedikitpun."


"Ceritakan padaku, ada apa di sana?"


"Penyerangan, Rogue."


"Rogue? menyerang kuil?"


"Itu aneh." sahut Gyria yang baru saja datang. Allana langsung memeluk Gyria. "Senang bertemu denganmu lagi Al."


"Tunggu, kenapa rogue menyerang kuil? dan seharusnya kalian baik-baik saja bukan? mereka hanya rogue."


"Tapi mereka banyak kak. Sangat banyak. Aku belum pernah melihat kawanan sebanyak itu dan siap menyerang. Kami kalah jumlah. Dan yang paling aneh, pemimpin rogue itu, dia bisa masuk kuil. Dia yang secara brutal menyerangku."


"Apa yang mereka inginkan?"


"Mata air pelangi."


Semua tampak bingung dengan jawaban Allana.


"Mata air.... apa?"


"Mata air pelangi kak. Kakak tidak tahu itu apa?"


"Well tentu tahu. Tapi bukankah mata air itu telah mengering?"


"Tidak, aku melihatnya. Mata air itu tidak mengering."


"Tentu saja tidak kering. Karena yang terpilih masih ada."


"Ah... benar juga." Derek mengangguk. "Tapi aneh, kenapa pemimpin Rogue ingin mata air itu."


"Tentu saja agar dia lebih kuat, kau bodoh ya?" ejek Gyria.


"Tidak perlu kasar padaku."


"Tidak perlu menunjukkan kebodohanmu pada kami. Yang kau bisa hanya mengandalkan ototmu saja." Gyria berbalik dan berjalan menjauh.


"Ahhh... jadi kau merasa lebih baik dariku?"


"Aku tidak pernah berkata seperti itu."


"Astaga.... mereka mulai lagi." Erica menggelengkan kepalanya.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Allana.


"Entahlah Allana, aku bingung. Mereka terus saja bertengkar."


"Apa mereka mate?"


"Aku rasa tidak. Aku pernah bertanya pada Gyria. Tapi aneh jika mereka mate, sangat aneh."


"Aneh kenapa?"


"Seharusnya mereka jatuh cinta, bukan bertengkar!"


Allana menatap Derek dan Gyria yang masih bertengkar. Entah kenapa dia merasa mereka terlihat jatuh cinta dari pada saling membenci.


******


Allana sudah berlari mengitari hutan cukup lama. Dia akhirnya berjalan pelan menuju satu bangku ditaman. Allana meraih handuk kecli dan mengusap wajah dan lehernya.


"Apa kau tidak terlalu berlebihan?" sahut Renald yang baru saja datang. Dia menyerahkan sebotol air pada Allana. Allana mengambil air itu. "Bahkan air minummu habis saja kamu tidak mau repot mengambilnya."


Allana hanya tersenyum lalu meminum minuman itu.


"Kamu baru sembuh Al, jangan paksakan dirimu."


"Aku sudah lelah beristirahat. Bahkan bibimu tidak memperbolehkan aku melakukan apapun."


"Begitulah bibi. Dia cerewet tapi sangat perhatian. Tapi bibi benar. Kamu baru sembuh dari terluka parah."


"Tapi aku baik-baik saja. Aku hanya seperti... seperti baru saja bangun tidur."


"Ya, dan itu cukup aneh bagiku."


"Aku dengar kau menyelamatkanku, kenapa? dari mana kamu tahu aku dalam bahaya?"


"Bunga bluemoon."


"Bluemoon? sepertinya aku pernah mendengar bunga itu."


"Bunga itu berasal dari Kuil Allana."


"Ah ya! bunga biru!"


"Benar. Bunga itu."


"Tapi bukannya bunga itu hanya--"


"Yang terpilih yang bisa memetiknya, benar. Dan yang terpilih sendirilah yang memberikan ku bunga itu."


"Yang terpilih? tapi kenapa? maksud aku... kenapa kamu? bukannya Derek atau Gyria atau mungkin orang tuaku?"


"Dugaanku karena aku orang yang tidak akan pernah di duga oleh orang lain." sahut Renald di sambut pandangan bingung Allana. "Siapa yang akan mengira aku, orang yang tidak memiliki hubungan apapun denganmu, yang akan menyelamatkanmu. Crysort juga akan mengira seperti itu. Jika mereka harus mengawasi orang terdekat yang mungkin akan menyelamatkan atau menemuimu pasti keluargamu, teman-temanmu, bahkan si Arthur, mate-mu."


"Dia bukan-- huft baiklah. Mungkin dugaanmu benar."


"Sekarang, masuklah. Kau harus istirahat, hari ini latihanmu sudah cukup."


"Sekarang kau memerintahku?"


"Hei! ini packku, aku alphanya dan kau berada di wilayahku."


"Hah! tidak bisa dipercaya!" Allana mendengus kesal. Renald tersenyum geli melihat ekspresi Allana.


"Alpha! kita di serang." satu pasukan mindlink Renald.


"Apa? di serang siapa?"


"Entahlah, mereka cepat sekali. Kami hampir tidak bisa mengejarnya."


"Di mana?"


"Selatan hutan terlarang."


"Kejar, jangan sampai lolos. Aku pergi sekarang."


"Kau kenapa?" Allana bingung melihat ekspresi Renald yang tiba-tiba menjadi serius.


"Ada penyusup. Sepertinya berbahaya. Aku harus menyusul mereka. Kamu masuklah dan istirahat."


"Dimana?"


"Selatan hutan terlarang. Allana per-- hei!! Allana!! astaga..."


Allana berlari cepat menuju tempat yang di sebutkan Renald tadi. Renald beralri menyusul di belakang. Allana merubah dirinya menjadi serigala dan terus berlari cepat. Renald hampr kewalahan mengejarnya jika dia tidak menggunakan kekuatan alphanya.


"Allana.. kau gila! kembali dan istirahatlah." sahut Renald yang berhasil mensejajarkan larinya dengan Allana.


"Bagaimana jika kita balapan sampai sana." Allana berlari semakin cepat.


"Ap-- astaga gadis ini."


Allana membuat jarak mereka semakin besar. Renald mulai kewalahan. Tak berapa lama Renald kehilangan jejak Allana. Renald mulai kebingungan.


"Allana? Allana!!"


Renald mulai berlari lagi dan akhirnya mendapatkan sosok serigala Allana berdiri diam.


"Allana, apa yang kau--" Renald melihat apa yang di tatap Allana. Tiga orang tergeletak di tanah tidak bergerak.


"Siapa mereka?" tanya Allana.


"Itu pasukanku. Sepertinya mereka yang memberitahukanku tentang penyusup."


"Lalu di mana penyusupnya?"


"Entahlah. Aku sudah meminta anggota packku bergerak dan mencari. Akan sulit jika mereka sudah kepemukiman manusia biasa. Aku akan mengantarmu kembali."


"Aku bisa kembali sendiri."


"Tidak Allana. Setelah melihat mayat-mayat itu, sebaiknya kamu tidak sendirian."


"Aku baik- baik saja Renald, aku warrior, kau ingat?"


"Aku tidak pernah lupa siapa kamu atau apa kamu. Hanya saja kau berada di packku, berarti kau tanggung jawabku."


"Arrggghhh .. baiklah, baiklah. Aku menurut saja, jika tidak, kau tidak akan berhenti mengomel." Allana berbalik dan beranjak pergi. Renald menghela nafas. Tak lama datang dua serigala besar lainnya.


"Kalian urus mayat-mayat ini."


"Baik alpha."


Renald berlari mengejar Allana. Tapi anehnya dia tidak menemukan Allana di manapun.


"Dia tidak mungkin jauh, kemana dia?"


Semantara Allana...


Bukk!!


"Akkhhh...." Allana meringis kesakitan. Dia berguling cukup cepat. Kini dia sudah berubah menjadi manusia biasa. "Sakit sekali. Aku tersandung apa tadi? "


Allana berdiri melihat sekelilingnya. "Ini.. dimana? astaga aku nyasar. Bodoh sekali kau Allana." Allana merutuki dirinya.


"Ya, kau memang bodoh." sahut seseorang. Allana terkejut. Ada orang lain selain dirinya di sana dan dia mengenal suara itu. "Kau terlalu naif dan bodoh."


Allana menajamkan penglihatannya, melihat dengan mata serigalanya. Dia berharap dia salah mengenali suaranya. Seorang wanita bertubuh tegap, berjalan ke arahnya. Allana menatap wajah wanita itu dan terkejut. Melisa.


"Bagai.. bagaimana kamu bisa.."


"Masuk ke sini? tentu aku bisa. Pack ini hanya terlarang untuk penyihir, bukan untuk manusia serigala dan aku bukan penyihir."


"Apa yang kau inginkan?"


"Kau tentu. Aku akan membawamu pergi ke luna Chloe."


"Never."


Allana berubah menjadi serigala dan bersiap menyerang. Melisa tertawa keras.


"Kau pikir kau bisa melawanku? kau? hahahahha...!!! bahkan mengendalikan kekuatanmu saja tidak bisa!"


Allana menggeram keras.


"Baiklah, aku juga harus membawamu after all dan aku tahu kau tidak akan ikut dengan suka rela."


Melisa merubah dirinya menjadi serigala. Melisa merubah dirinya menjadi serigala. Melisa dan Allana saling menatap dan mengawasi satu sama lain. Mereka berjalan pelan membuat lingkaran.


"Sebaiknya kau menyerah saja Allana. Kau tidak akan pernah menang. Terlebih jika luna Chloe sudah menguasai sihirnya."


"Tidak akan pernah. Aku tidak takut padamu ataupun pada wanita yang kau sebut Luna."


"Dia juga luna mu, kau berasal dari Crysort. Jadi sebaiknya, kau kembali ke asalmu dan menurut pada lunamu."


"Aku tidak berasal dari pack manapun. Aku adalah aku. Tidak ada yang bisa memerintahku dan aku, tidak takut padamu atau ancamanmu, tidak lagi."


"We'll see, sejauh mana kamu bisa bertahan."


Melisa berlari lalu melompat ke arah Allana. Allana dengan sigap menghindar. Melisa beralih ke Allana lagi dan terus menyerang.


"Jangan menghindar Allana, kau tahu kau tidak bisa menghindar selamanya. Ternyata kau masih sama, penakut."


"Aku tidak takut padamu."


"Benarkah? Kalau begitu lawan aku. Bertempur."


Allana menggeram lalu segera menyerang. Melisa menghindar lalu menyerang balik. Melisa menggigit leher belakang Allana. Allana meringis lalu dengan cepat membanting tubuhnya sendiri agar terlepas dari gigitan Melisa. Melisa yang terkejut melepas gigitannya tapi dengan segera menghempas tubuh Allana dengan mendorong tubuh Allana menggunakan kepalanya. Allana terhempas di atas tanah yang dingin. Belum sempat dia bangkit, Melisa sudah berada di atas tubuhnya, mencoba mencabik tubuhnya dengan giginya yang tajam. Allana berusaha menahannya. Melisa sangan kuat. Allana mencoba menggerakkan kakinya dan bukk!! Dia berhasil. Allana menendang tubuh Melisa. Meski tidak kuat, tapi tendangan tadi cukup membuatnya melepaskan diri. Allana berusaha menjauh tapi tentu, Melisa tidak membiarkan hal itu. Dalam sekejap Allana sudah terhempas di tanah.


"Pengecut! Kau bahkan tidak bisa melawanku dan kau ingin melawan luna?"


Allana bangkit dan menggeram marah. Ya, dia tahu dia tidak bisa menghindar terus menerus. Menghadapinya adalah jawabannya. Dia harus menghadapi ketakutannya. Allana berlari dan melompat tinggi, menyerang Melissa. Melissa menghindar. Saat kaki Allana mendarat dia segera bergerak lagi. Dia sudah membaca gerakan Melissa. Dia tahu Melissa akan menghindar. Allana menoleh ke arah Melissa, tubuh depannya terangkat sedikit, mengesankan jika dia akan melompati Melissa lagi. Melissa bersiap menerima serangan itu tapi justru Melissa terhempas keras kesamping. Allana tidak menerjangnya, Allana kaki depannya hanya untuk mengalihkan perhatian Melissa. Allana justru memutar tubuh bagian belakang dan menendang Melissa saat Melissa lengah. Melissa yang terkejut tidak sempat melakukan apapun. Allana berlatih gerakan itu saat dia berada di kuil. Dia tidak pernah berhasil saat melakukan itu dan sekarang dia berhasil. Bahkan Allana pun terkejut.


Melissa tidak tinggal diam. Dia dengan cepat menerjang Allana. Allana melangkah mundur beberapa langkah lalu bersiap menerima serangan Melissa. Dia tidak menghindar atau melarikan diri. Allana justru berusaha merobek dan menggigit bahkan menendang Melissa.


Kini tubuh dua serigala itu lemah dia sisi masing-masing. Tapi mereka masih berdiri tegak, bersiap. Tubuh mereka penuh luka. Mata mereka masih saling menatap siaga. Mereka sudah bertempur cukup lama dan menyakitkan. Melissa menggeram keras lalu berlari ke arah Allana lagi.


********


...tadariez...