
Allana berjalan mondar mandir di kamarnya. Dia memikirkan apa yang dikatakan Melissa padanya.
"Kekuatan sihir? Kekuaran sihir apa? Dia memang penyihir, ayahnya, tapi.. Bukankah dia tidak bisa menahan kekuatan sihir di tubuhnya? Lalu kenapa Melissa berkata dia akan menguasai sihirnya? Apa yang sudah di rencanakannya?"
Tok tok tok
Sebuah ketukan pintu terdengar. Allana terdiam.
"Siapa?"
"Ini aku, Renald."
Allana berjalan menuju pintu dan membukanya. Allana melihat Renald membawa nampan berisi makanan bersamanya.
"Aku hanya memastikan kau makan. Apa aku boleh masuk?"
"Tentu." Allana membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Renald masuk. Renald meletakkan makanan di atas meja lalu duduk di kursi.
"Kemarilah. Kau harus makan."
"Tapi aku tidak lapar."
"Aku tahu, tapi kamu tetap harus makan, walaupun hanya sedikit."
"Huft, baiklah. Uhmm... Apa kamu ingin aku menutup pintunya atau membiarkannya terbuka." Allana menunjuk pintu kamarnya. Renald tersenyum.
"Terserah kamu saja Allana. Di buka atau tutup sama saja. Kita tidak sedang melakukan hal yang rahasia."
"Ahh ya, benar." Allana tersipu. "Aku akan membiarkannya terbuka."
Allana duduk di kursi yang berada di depan Renald.
"Jika kamu tidak ingin memakan yang terlalu berat, makan roti saja atau buah-buahan. Untuk tenagamu."
Allana mengangguk. Allana memakan makanan yang di bawa Renald. Renald hanya menatapnya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa aku terlihat aneh?" tanya Allana. Renald menggeleng.
"Tentu saja tidak. Kamu lebih cantik jika sedang makan. Apa kamu tidak nyaman? Aku akan pergi."
"Tidak, tidak. Tidak apa-apa." sahut Allana. Mereka kembali terdiam. "Apa kamu tidak ingin bertanya apapun?"
"Aku akan menunggumu sampai kamu selesai makan."
"Aku tidak apa-apa Renald. Tanya saja."
"Apa aku boleh tau ada apa di hutan Allana? Aku telah mendengarnya dari Derek, tapi aku ingin mendengarmya langsung darimu."
"Aku bertemu dengan Melissa. Luna Chloe memiliki dua beta, Melissa dan Beck. Mereka berdua sama-sama kuat. Dia menyerangku, berusaha membawaku ke pack Crysort. Tapi aku berusaha melawannya."
"Itu bagus."
"Tidak, tidak bagus. Aku merasa mereka merencanakan sesuatu."
"Merencakan apa?"
"Entahlah. Dia mengatakan hal aneh."
"Hal aneh apa?"
"Jika luna Chloe akan melakukan sesuatu. Melissa berkata Luna Chloe akan menguasai sihirnya. Itu aneh."
"Anehnya dalam hal apa? Apa luna Chloe adalah penyihir juga?"
"Ayah luna Chloe adalah penyihir sementara ibunya adalah manusia serigala. Luna Chloe lemah karena kutukan ayahnya. Karena itu dia mengambil jiwa serigalaku. Seharusnya dia tidak bisa menggunakan sihir karena kutukan itu. Tapi Melissa berkata, luna Chloe akan segera menguasai sihirnya. Bukankah ini aneh?"
"Itu aneh."
"Karena itu.. Aku harus melakukan sesuatu."
"Sesuatu?"
"Aku tidak ingin ada masalah lagi. Tidak boleh ada Leysha-Leysha selanjutnya. Uhmm.. Apa kamu akan menghukum Gyria?"
"Kenapa aku akan melakukan itu?"
"Dia sudah menyerangmu, terlebih Leysha adalah sahabatnya."
"Aku mengerti kenapa dia melakukan itu. Leysha sahabatnya dari kecil, tentu dia akan melakukan untuknya. Entah kenapa aku melihat penyesalan di matanya."
"Penyesalan? Apa maksudnya?"
"Dia seperti menyalahkan dirinya. Entahlah mungkin perasaanku saja."
Mereka terdiam tiba-tiba. Mereka terdiam dengan pemikiran mereka sendiri.
"Uhmm.. Apa aku bisa meminta bantuan?" tanya Allana.
"Katakan saja."
"Apa pack kalian bekerja sama dengan penyihir? Atau mungkin kalian mengenal penyihir?"
"Penyihir? Untuk apa?"
"Aku ingin menghubungi temanku yang penyihir tapi aku tidak tahu bagaimana. Mungkin sesama kaum putih bisa."
"Tapi untuk apa? Kenapa memerlukan penyihir?"
"Jika yang di katakan Melissa benar, bukankah kita memerlukan penyihir?"
"Bisa saja itu hanya gertakannya saja. Hanya untuk menakuti."
"Aku rasa tidak. Dia terlihat meyakinkan."
"Exactly. Mereka harus terlihat meyakinkan untuk menakuti."
"Aku rasa tidak. Entah kenapa aku merasa dia tidak sedang bercanda. Setidaknya untuk berjaga-jaga. Setelah semua ini, bukankah kita harus waspada? Ini baru manusia serigalanya saja yang menyerang. Bisa saja penyihir berikutnya."
Renald hanya diam.
"Renald? Apa.. Kamu baik-baik saja?" Allana bingung melihat Renald terdiam tiba-tiba.
"Aku baik. Akan aku usahakan. Makalah yang banyak. Aku harus pergi dulu. Setelah makan, istirahatlah."
Renald berdiri dan meninggalkan Allana yang masih bengong di tempatnya. Renald berjalan cepat menuju ruangannya. Dia bertemu Ted disana.
"Dari mana saja kamu? Aku mencarimu kemana-mana." sahut Ted.
"Kenapa mencariku? Aku dari kamar Allana mengantarkan makanan." Renald masuk ke dalam ruangannya. Ted mengikutinya.
"Apa di rumah ini kekuarangan pelayan? Sampai kamu harus mengantarkannya?"
"Kamu tidak akan mulai cerewet kan? Kenapa mencariku?"
"Aku sudah mendapatkan kabar dari alpha Dwaine. Dia marah besar alpha."
"Lalu dia menyalahkan kita?"
"Tidak, dia akan berurusan langsung dengan Derek."
"Derek memutuskan sesuatu yang sangat beresiko. Tentu, alpha Dwaine akan marah. Aku dengar Derek adalah beta terbaiknya."
"Jika begitu, kenapa dia melakukan itu? Dia sudah gila."
"Jika mate kita memilih sesuatu yang membahayakan nyawanya tentu kita tidak akan membiarkan mate kita sendirian kan? Aku dan kamu mungkin tidak akan mengerti, karena kita belum memiliki mate."
"Mungkin saja. Tapi jika hanya karena wani-- tunggu, apa? Siapa mate nya siapa?!"
"Sudahlah, biarkan saja mereka. Itu sudah keputusan mereka. Tolong aku panggilkan wanita itu."
"Wanita? Wanita siapa? Allana?"
"Bukan dia. Tapi wanita itu."
"Astaga Renald, bicara yang jelas. Wanita siapa?"
"Ibuku."
"Ibu? Apa aku tidak salah dengar? Bibimu maksudmu?"
"Apa aku pernah memanggil bibiku dengan sebutan wanita itu?" Terlihat kekesalan di wajah Renald. Ted yang menyadari itu dengan cepat mengangguk lalu pergi. Renald menghembuskan nafas dengan kasar lalu menjatuhkan dirinya di kursi. Dia menatap lurus kedepan, tubuhnya di sandarkan ke kursi. Jari telunjuknya mengetuk meja. Terlalu banyak yang dia pikirkan untuk anak tujuh belas tahun.
Setelah beberapa lama, dia mendengar sebuah ketukan di pintu ruangannya.
"Masuk."
Ibu Renald membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Kamu memanggilku, alpha?"
"Katakan padaku, bagaimana menghubungi penyihir."
"Apa?"
"Kamu mendengarku."
Ibu Renald menghela nafas. "Tergantung."
"Apa maksudnya itu?"
"Renald, para penyihir memiliki cara sendiri untuk berkomunikasi. Dan biasanya itu tergantung kelompoknya."
"Dia menyebut kaum putih."
"Dia? Dia siapa?"
"Bukan siapa-siapa. Kaum putih?"
"Kamu ingat gelang yang selalu aku pakai sewaktu kamu kecil? Kamu selalu bertanya gelang apa itu."
"Aku sedang tidak ingin mengenang masa lalu."
"Iya aku tahu. Tapi apa kamu ingat?"
Renald tidak menjawab. Dia hanya terdiam dan mencoba mengingat. Ibunya selalu menggunakan gelang berwarna putih. Gelang itu aneh menurutnya.
"Gelang berwarna putih itu..." lanjut ibunya. "Adalah gelang elder. Elder adalah suatu pemerintahan kaum putih. Elder memiliki tingkatan. Paling rendah hijau, tengah biru, yang paling tinggi adalah putih."
"Aku sungguh tidak ingin tahu tentang penyihir." Renald mendengus kesal.
"Gelang itu adalah cara komunikasi mereka. Ada yang menggunakan api, ada juga yang menggunakan burung. Tergantung dari golongan mana."
"Kenapa tidak dari tadi saja mengatakan hal itu?" Renald semakin kesal.
"Aku minta maaf, aku hanya mencoba untuk menjelaskan."
"Jadi bagaimana menghubungi kaum putih?"
"Tergantung golongannya. Apa dia Elder?"
"Aku tidak tahu."
"Kalau begitu pakai burung saja. Tidak ada api Lurde. Gelang Elderku juga sudah tidak ada."
"Burung... Apa? Burung hantu? Harry Potter?"
Ibu Renald tersenyum geli.
"Bukan, bukan burung hantu. Mari aku tunjukkan."
"Mau kemana?"
"Kamu ingin mengirim pesankan? Itu sejenis burung sihir. Jadi tidak bisa di lakukan di dalam pack."
"Baiklah, kita bertemu di taman. Aku akan memanggil Allana terlebih dahulu." Renald bangkit dari duduk nya dan langsung berjalan keluar ruangan.
"Jadi ini semua tentang gadis itu?" kata-kata ibunya membuat Renald menghentikan langkahnya. "Apa kamu tidak terlalu jauh mencampuri urusannya?"
Renald tidak menjawab dan langsung pergi menuju kamar Allana.
*******
"Lucia?"
"Kenapa kamu berdiri di situ sendiri? Cuaca masih dingin Lucia dan kamu bukan manusia serigala yang tahan akan dingin." sahut bibi Agatha. "Ambilkan selimut tebal di dalam." bibi Agatha menyuruh salah satu orang.
"Tidak perlu Agatha. Aku baik-baik saja. Aku sudah mengenakan jaket tebal ini."
"Lalu sedang apa kamu disini?"
"Menunggu anakku."
"Renald? Ada apa dengannya? Kenapa kamu menunggunya?"
"Dia memintaku untuk mengajarinya memanggil penyihir."
"Penyihir? Untuk apa?"
"Entahlah Agatha, aku tidak tahu. Tapi sepertinya ini berhubungan dengan gadis itu, Allana."
"Apa kamu tidak merasa heran?"
"Tentang?"
"Renald. Dia memang anak yang baik tapi dia sudah terlalu jauh mencampuri urusan gadis itu. Biasanya dia selalu berhati-hati. Tapi ini? Dia seperti tidak perduli apapun."
"Mungkin dia menyukainya?"
"Menyukainya? Ahh tidak, sebaiknya tidak. Jika bukan matenya, sebaiknya jangan. Itu berbahaya."
"Dia masih remaja Agatha, biarkan saja. Dari kecil hidupnya sudah penuh beban. Dari kehilngan ayahnya, tragedi yang menimpanya dan dia juga harus menanggung beban menjadi alpha saat usianya masih sangat muda. Dia tidak terlalu menikmati masa kecilnya. Jadi jangan terlalu keras padanya Agatha. Dia berhak mendapatkan kesenangan setelah apa yang terjadi."
"Aku mengerti itu Lucia, hanya saja--"
"Bibi? Sedang apa bibi disini?"
Ibu Renald dan bibi Agatha menoleh. Renald dan Allana sedang berjalan ke arah mereka.
"Aku menemukan ibumu berdiri disini, sendirian, di cuaca yang dingin." jawab bibinya.
"Sudah aku katakan aku tidak apa-apa. Kalian sudah siap?" tanya ibu Renald.
"Maaf tapi... Kita akan pergi ke mana?"
"Batas wilayah pack Allana."
"Kamu Allana kan? Aku Lucia, aku--"
"Cukup basa basinya. Ayo pergi." Renald memotong perkataan ibunya lalu menarik Allana pergi. Ibu Renald menghela nafas dan menatap bibi Agatha dengan senyum di wajahnya lalu menyusul Renald dan Allana.
Mereka bertiga mulai berjalan menuju hutan. Hanya ibu Renald, Allana dan Renald. Mereka menyusuri hutan dengan berjalan kaki dan masih berwujud manusia mengingat ibu Renald bukanlah manusia serigala. Beberapa orang menawarkan untuk menemani mereka, tapi Renald menolak dan meminta mereka berjaga-jaga saja.
"Kenapa kita harus ke perbatasan?" tanya Allana sedikit berbisik pada Renald.
"Karena mungkin kita akan melakukan sihir Allana."
"Sihir? Lalu kenapa tidak di sana saja tadi, di rumahmu?"
"Pack ini.. Rumit. Pack ini dilindungi.. Aku tidak tahu apa sebutannya, yang jelas membuat pack ini tidak bisa di masuki oleh penyihir. Sihir menjadi tidak berguna jika di lakukan di dalam pack."
"Kenapa begitu?"
"Karena peristiwa masa kecilku Allana. Keluargaku di serang dan membuat seseorang membaca mantra untuk melindungi pack ini, setidaknya itu yang aku tahu."
"Siapa orang itu? Penyihir di packmu?"
"Dia penyihir dan dia juga ibuku."
"Tunggu, kau... Kau penyihir juga? Apa kamu bisa melakukan sihir?"
"Tidak, tidak.. Aku tidak bisa melakukan sihir Al, aku hanya keturunan penyihir, itu saja. Tapi aku manusia serigala."
"Ahh begitu... Lalu ibumu di mana sekarang?"
Pertanyaan Allana membuat Renald terdiam. Bahkan ibu Renald yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka juga hanya diam saja sedari tadi.
"Ahh maaf aku tidak bermaksud...." Allana tidak melanjutkan kata-katanya. Dia sibuk merutuki dirinya karena menanyakan hal itu.
"Tidak apa-apa Al. Aku yang memulainya."
"Karena itu..." Sahut ibu Renald. Dia sudah berhenti berjalan dan menghadap Renald dan Allana. "Kau akan belajar menggunakan sihir."
"Apa? Aku tidak salah dengar kan?"
"Kamu penyihir Renald, kamu harus belajar menyihir."
"Tidak, tidak akan pernah." Renald kembali berjalan dengan tampang kesalnya melewati ibunya.
"Lalu... Siapa yang akan melakukan sihir nanti?"
Kata-kata ibunya menghentikan langkah Renald. Renald berbalik dan menatap ibunya.
"Renald, aku tidak bisa melakukan sihir lagi, kamu lupa? Apa yang akan kita lakukan nanti adalah sihir. Allana, apa kamu bisa sihir? Atau ayah atau ibumu adalah penyihir?"
Allana menggeleng. "Orang tuaku.. Manusia serigala nyonya."
"Berarti diantara kita bertiga yang memiliki peluang melakukan sihir adalah kamu Renald. Aku tidak akan bisa melakukannya. Sementara kamu memiliki darah penyihir, kamu pasti bisa sihir meskipun hanya dasarnya saja."
"Tapi aku--"
"Tidak ada tapi-tapi, kau, harus melakukan sihir. Tenang saja, aku akan membantumu." ibu Renald menepuk bahu anak satu-satunya itu lalu mulan berjalan kembali, disusul Allana. Hanya Renald yang masih diam di tempatnya.
*****
"Apa masih lama sampainya? Sebenarnya kemana kita akan pergi?" tanya Gyria.
"Jika tidak ada halangan, kita akan sampai tepat waktu, tenang saja."
"Iya, kemana kita akan pergi? Kita sudah berkendara berjam-jam!"
"Kamu akan lihat nanti. Ada tempat aman bagi kita untuk mengubur jasad temanmu."
Gyria mendengus kesal. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Gyria menatap jalanan di depannya. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang aneh. Langit yang cerah tiba-tiba mendung hanya dalam hitungan detik. Dia juga mendengar hal aneh.
"Apa kamu dengar itu?" tanya Gyria.
"Hm? Dengar apa?"
Gyria melihat sekelilingnya. Mobil mereka hanya satu-satunya di jalan itu. Disisi kanan dan kiri mereka hanya rerumputan yang tidak terlalu rimbun.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah?" Derek bingung melihat sikap Gyria yang aneh.
"Entahlah, perasaanku tidak enak."
"Hanya perasaanmu saja. Istirahatlah. Tidur saja. Kamu tidak tidur semalaman. Pasti ngantuk. Akan aku bangunkan jika sudah sampai."
Gyria masih merasa aneh. Dia merasa ada yang mengikutinya. Tapi dia tidak melihat siapapun. Mungkin Derek benar, dia hanya terlalu lelah. Dia akhirnya menyerah dan memejamkam matanya. Setelah beberapa lamapun hatinya tetap tidak tenang. Gyria membuka matanya dan duduk tegak.
"Tidak jadi tidur?"
"Tidak, aku--" Gyria menatap keluar jendela. Dia yakin dia melihat sesuatu sosok yang besar sedang berlari bersama mobilnya. Gyria kembali menatap keluar jendela. Dia tidak berpaling sedikitpun. Bahkan ketika Derek memanggilnya.
"Uhmm... Derek..."
"Hm?"
"I-itu.."
Derek menatap Gyria sejenak lalu menatap yang di tunjuk Gyria. Dia melihat serigala besar berlari mengejar mobilnya dari samping. Dia terkejut lalu segera melajukan kendaraannya. Tapi serigala itu bisa mengejar. Serigala itu mendekati mobilnya dan Brak!! Serigala itu menabrak keras mobil Derek membuat mobil itu terbalik dan terseret cukup jauh.
******
Sementara itu....
Luna Chloe berdiri disuatu hutan bersama para pengikutnya yang berdiri di belakangnya.
"Apa kamu yakin dia akan datang?"
"Kemungkinan luna."
Luna Chloe menatap Melissa dengan ketidaksukaan di wajahnya.
"Kemungkinan?"
"Maafkan saya luna, dia--"
Luna Chloe mengangkat tangannya, menyuruh Melissa diam. Melissa diam seketika.
"Aku sedang tidak ingin mendengar ketidakbecusanmu." sahut luna Chloe dingin.
"Luna." satu orang pasukan luna Chloe mendatanginya. "ada yang datang."
Luna chloe melihat ada seseorang berjalan mendekat bersama sekumpulan serigala. Hanya satu orang yang tidak berubah menjadi serigala. Orang itu sudah berdiri tepat di hadapan luna Chloe.
"Langsung pada intinya."sahut pria yang baru saja datang.
"Kerja sama. Aku ingin mengajakmu kerja sama." sahut luna Chloe.
"Dan.. Apa keuntunganku?"
"Kekuasaan?"
Pria itu tertawa keras. "Ternyata aku memang telah membuang waktuku datang kemari." pria itu berjalan pergi.
"Lancang! Luna belum selesai." sahut Melissa marah.
"Aku tidak perlu berbicara apapun lagi. Aku tidak tertarik, pergilah bersama kelompok kecil kalian." sahut pria itu tanpa menoleh sedikitpun. Pria itu kembali berjalan.
"Zykolt. Apa kamu mengenal nama itu?" tanya luna Chloe dan pertanyaannya berhasil membuat langkah pria itu terhenti lagi. "Aku tahu peristiwa tentang kamu dengan Zykolt sebelumnya."
Pria itu membalikan tubuhnya dan menatap marah pada luan Chloe.
"Kamu tidak tahu apapun tentang diriku."
"Oh aku tahu. Kamu yang menghabisi kakakmu dan keponakanmu sendiri demi menguasai pack. Tapi sayang, kamu tidak berhasil membunuh keponakanmu itu."
Pria itu menggeram kasar. Serigala-serigala yang bersamanya juga ikut menggeram.
"Kamu tahu pasukanku lebih banyak jumlahnya dan mereka tidak terkendali. Tidak perduli sekalipun jika itu adalah luna."
"Tenanglah.... Aku memintamu kemari bukan untuk bertarung atau menyatakan perang. Aku ingin bekerja sama denganmu."
"Apa maumu?"
"Menyerang Zykolt."
Pria itu tersenyum sinis. "Kamu memiliki penyihir, lakukan saja sendiri."
"Tidak ada penyihir ataupun sihir yang bisa masuk kedalam sana, terima kasih padamu. Dengan membunuh sang alpha dan membahayakan anaknya, kamu membuat sang luna yang juga seorang penyihir kuat membaca mantra berbahaya dan kuno yang membuat pack itu kebal terhadap sihir. Bahkan penyihir yang masuk, akan mati. Karena itu aku membutuhkanmu dan pasukan rogue mu."
"Apa yang kamu inginkan dari pack itu? Mengambil alih packnya?"
"Aku tidak tertarik pada packnya. Jika kita berhasil, kamu bisa mengambilnya. Aku tidak perduli. Aku hanya menginginkan sesuatu yang menjadi milikku."
Pria itu menatap bingung.
"Itu adalah urusanku. Dan bukankah kamu juga memiliki urusan yang belum selesai disana? Karena itu, Mari kita bekerja sama."
Pria itu masih menatap luna Chloe dalam diam.
"Aku akan menunggu jawabanmu. Besok, jam yang sama, ditempat yang sama. Pikirkan dengan baik."
Pria itu akhirnya berbalik dan pergi tanpa berkata sepatah katapun.
"Ah iya!" luna Chloe berkata lagi. Pria itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "Aku harap kamu belum menggunakan air dari mata air dari kuil itu."
Pria itu kembali berjalan. Dia tidak berkata apa-apa, hanya merasa aneh dan bingung.
"Siapa luna itu sebenarnya? Bagaimana dia bisa mengetahui masa lalu yang hanya aku yang mengetahuinya? Dan dari mana dia tahu aku mengambil air itu?"
*******
...tadariez...