
"Kenapa kalian diam saja? Ayo katakan ada apa?" kata Derek. Allana. dan Gyria saling tatap lalu Allana mencoba tersenyum.
"Tidak ada apa-apa kak. Aku masuk dulu, kalian hati-hati pulangnya."
Gyria dan Leysha mengangguk dan langsung pergi bahkan tanpa pamit pada Derek. Leysha ingin pamit pada Derek yang statusnya lebih tinggi darinya meskipun berbeda pack, tapi Gyria menahannya dan langsung menarik tangan Leysha pergi.
"Ada apa itu tadi?" tanya Derek lagi sepeninggal Gyria dan Leysha.
"Tidak ada apa-apa kak."
"Benar? Kamu tidak bohong kan Allana?"
"Tentu saja tidak kak. Mereka hanya melihat keadaanku. Tadi latihannya cukup berat."
"Memang apa saja yang di ajari mereka disana?"
"Banyak. Mengusai kekuatanku yang paling penting."
"Apa kamu betah di sana?"
"Aku baik-baik saja kak. Mereka juga memperlakukanku dengan baik."
"Baiklah kalau begitu." kata Derek akhirnya. "Tapi ada apa dengan salah satu temanmu itu? Dia aneh."
"Aneh? Siapa yang aneh?"
"Salah satu dari temanmu yang tadi. Dia terlihat sangat tidak menyukaiku."
"Gyria maksud kakak?" Allana langsung tahu siapa yang di maksud Derek. Karena hanya Gyria yang tidak akur dengan Derek.
"Gyria atau siapapun namanya. Dia aneh. Ada masalah apa dengannya sebenarnya?"
"Tidak ada masalah apapun. Tapi ini aneh. Kenapa kalian selalu bertengkar?"
"Itu yang aku maksud. Aku tidak tahu apa masalahnya tapi dia selalu bersikap seperti itu padaku. Dia memang aneh."
"Hati-hati kak. Nanti bisa suka."
"Hei... Hei... Aku tidak suka arah bicaramu."
Allana tertawa geli.
"Benarkan? Kadang orang yang kita benci bisa manjadi orang yang kita cinta. Cinta dan benci itu beda tipis kak."
"Wahh adikku satu ini sudah dewasa. Lihatlah, sekarang mulai menasehati aku yang lebih pengalaman."
"Iya iya... kakak yang lebih berpengalaman. Apa harus menyebutkan itu?" Allana menggelengkan kepalanya. "Ahh iya, Apa kakak sudah menemukan Mate?"
"Belum."
"Dari sekian banyak pacar kakak, tidak ada satupun mate kakak?"
"Entah kenapa aku merasa jadi laki-laki jahat saat kamu berkata seperti itu." gumam Derek. Allana terkekeh.
"Maaf kak. Tapi kakak memang punya banyak pacar."
"Tidak, hanya beberapa."
"Hanya beberapa itu banyak kak. Satu itu yang sedikit."
"Iya iya apa katamu saja. Ayo kita pulang. Ibu akan mengamuk jika tahu kita di luar malam-malam begini." Derek menarik pelan tangan Allana. Allana dengan malas mengikutinya. Tapi tiba-tiba langkah Allana terhenti.
"Tunggu, bagaimana dengan Kathy? Kakak bertunangan dengannya, sudah seharusnya di mate kakak kan?"
"Kamu ini cerewet sekali. Sudah ayo kita pergi saja." Derek mendorong paksa tubuh Allana.
"Tunggu dulu." Allana menghentikan dorongan dari kakaknya dan berbalik menghadap kakaknya. "Jelaskan padaku." Allana berkacak pinggang.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan." kata Derek tapi Allana masih diam dan menatap kakaknya. "Ya tuhan Allana... Baiklah apa yang kamu mau tahu?"
"Kathy, apa dia benar tunangan kakak?"
"Tentu saja dia tunanganku, kamu melihat saat aku bertunangan dengannya."
"Tapi apa Kathy mate kakak? Bukannya kakak berkata percintaan manusia serigala berbeda dengan manusia biasa?"
"Ah.. Itu.. Hei untuk apa aku memberitahukanmu? Sudahlah ayo kita pergi."
"Tapi kan--"
"Ayoo.."
Derek mendorong pelan tubuh Allana. Allana dengan malas menurutinya.
****
Pack Moon Crysort
Semua orang terdiam di tempat mereka berdiri. Hanya terdengar suara batuk berkali-kali.
"Luna, sebaiknya anda beristirahat, masih--"
"Aku baik-baik saja."
Sang Luna memperbaiki duduknya. Dia menyandarkan punggungnya di kursi. Wanita paruh baya dengan baju tidur yang cukup elegan, membiarkan rambut pirang panjangnya terurai.
"Katakan padaku."
Semua terdiam. Bahkan tidak ada yang bergerak sedikitpun. Luna menghela nafas kesal.
"Apa kalian akan diam saja seperti ini?"
"Dia memang warrior itu Luna."
Melisa mulai berbicara. Luna Chloe menatap Melisa.
"Dengan dia melakukan hal itu pada Arnett. Tidak ada manusia serigala yang bisa melakukan hal itu, meski dia serigala baru. Itu mustahil."
"Masih belum bisa di katakan seperti itu Mel."
"Dari mana belum? Kita berdua sama-sama melihatnya Beck!"
"Memangnya apa yang di lakukannya pada Arnett?" tanya satu orang yang menggunakan gaun terusan panjang berwarna putih. Rambut hitam panjangnya di ikat rapi ke atas.
"Dia mendorong Arnett hingga dia terpental jauh."
"Bukankan itu wajar jika kalian manusia serigala. Kalian kuat."
"Tapi sangat tidak wajar jika kita mendorong orang, terlebih orang itu manusia serigala, dengan sekuat, setinggi dan sejauh itu, masih bisa di katakan tidak mungkin kecuali dia memiliki kekuatan khusus."
Semua kembali terdiam. Luna Chloe menatap wanita bergaun putih itu. Wanita itu tampak berbeda dari yang lain.
"Bagaimana Rosmary? Apa pendapatmu?"
"Aku masih belum tahu Chloe. Aku bukan penyihir sejenis Brea. Tapi dari ciri-ciri yang diberikan mereka, dia memang orangnya. Tidak ada salahnya di coba, tidak ada yang rugi."
"Allana yang akan rugi nyonya." Beck mencoba berbicara. "Tunggu sampai kita tahu pasti dia adalah orangnya. Mungkin kita bisa--"
"Tidak, pack kita tidak punya waktu lagi." potong Melisa.
"Pack sudah bisa bertahan selama ini, kita bisa bertahan sedikit lagi. Jadi kurasa sebaiknya kita yakin terlebih dahulu."
"Karena itu... Karena kita telah menunggu selama itu, kita sudah tidak bisa menunggu lagi. Pack kita sudah diambang kehancuran." Melisa tampak tidak sabaran. "Luna saya mohon pertimbangkan."
"Semua terserah padamu Chloe." kata Rosmary. Semua orang menatap Luna Chloe. Luna Chloe menghela nafas. Dia tampak berpikir.
"Persiapkan ritualnya."
Semua mulai riuh. Banyak di antaranya menghela nafas lega. Hanya Beck yang tampak tidak senang.
"Beck.."
"Iya, Luna."
"Persiapan ritual masih cukup lama. Aku rasa dalam proses itu kamu sudah bisa mempersiapkan dia."
"Anda yakin tentang hal ini Luna?"
"Yakin. Sekarang pergilah, persiapkan anak itu."
Beck menghela nafas. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Luna sudah memutuskan.
"Baik Luna."
Beck memberi hormat lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kalian semua pergilah. Rapat selesai. Aku ingin istirahat." pinta Luna Chloe. "Kecuali kamu Rosmary. Aku masih ingin berbicara denganmu."
Semua orang pergi keluar ruangan sampai tersisa Luna Chloe dan Rosmary.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"
"Tentang penyihir yang pernah kita bicarakan, apa ada kabar?"
"Banyak penyihir yang bisa meramal sekaligus tapi mempunyai kekuatan khusus seperti Brea? Tidak ada. Dulu ada dan dia Luna di satu pack. Tapi aku dengar dia sudah mati bersama Alpha yang juga suaminya. Hanya tersisa anak satu-satunya dan bisa dipastikan anaknya murni manusia serigala. Dia tidak punya sisi penyihir di dalam dirinya."
"Tidak ada sedikitpun?"
"Sejauh yang aku tahu, tidak ada. Aku sudah meletakkan mata-mata didalam pack itu."
"Seorang penyihir?"
"Tentu saja bukan. Pack itu terlarang buat penyihir. Tidak ada satupun penyihir yang bisa masuk."
"Kenapa begitu?"
"Karena sebelum sang Luna mati, dia melakukan sebuah mantra, untuk melindungi pack itu. Aku dengar karena dia mendapat penglihatan bahwa anaknya akan mati bersama pack itu. Untuk mencegah hal itu terjadi dia melakukan hal itu."
"Tapi apa hubungannya dengan penyihir?"
"Entahlah Chloe. Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu bagaimana ramalan itu sebenarnya."
"Tapi... Apa aku benar jika melakukan hal itu?"
"Kita harus cari tahu, suka atau tidak. Dan satu-satunya cara saat ini hanya dengan melakukan ritual itu. Aku bersama para penyihir lain akan berusaha agar anak itu tidak mati atau terluka."
"Baiklah, terima kasih. Hanya saja, aku masih merasa hal ini tidak benar."
"Mungkin karena kamu belum yakin dengan semua ini. Tenanglah.. Fokus saja pada ritual itu. Jangan khawatirkan hal lain."
"Sepertinya aku memang harus seperti itu."
Luna Chloe menghela nafas. Pikirannya penuh, memikirkan tentang semua yang terjadi.
*****
Allana berjalan santai di koridor sekolah. Dia berjalan menuju lokernya. Allana berhenti tepat didepan loker miliknya. Allana membuka loker itu dan mulai meletakkan beberapa buku yang akan di pelajarinya nanti. Dia hanya menyimpan buku yang akan di pelajari saat ini di ranselnya.
"Allana..."
Sebuah panggilan menghentikan kegiatannya. Allana menoleh dan melihat Gyria berjalan ke arahnya.
"Sepertinya kita sekelas pagi ini."
"Benarkah?"
"Iya. Ahh dan jangan lupa sore ini latihan lagi."
"Uhmm... Entahlah Gyria. Aku tidak tahu."
"Apa maksudmu?"
"Setelah yang terjadi, yang telah aku lakukan pada Arnett, aku rasa--"
"Allana, itu hal yang wajar. Lagipula dia baik-baik saja."
"Tapi aku tidak. Aku hampir membunuhnya."
"Itu hal yang sering kita lakukan."
"Apa maksudnya itu?"
"Kita akan terus bertempur, terlebih jika kita adalah pack kecil. Kita akan coba di kuasai oleh pack-pack besar. Dan kita harus bertahan dari itu."
"Meski dengan membunuh?"
"Aku kira kalian sudah modern."
"Hidup kami memang modern Allana. Tapi kami juga memiliki sisi serigala kami yang haus akan teritory." Gyria menatap Allana. Dia melihat keraguan di wajahnya. "Datanglah latihan. Kami akan membantumu untuk mengendalikan kekuatanmu, itu yang terpenting. Entah kamu akan bergabung atau tidak setelah itu, itu tidak masalah."
Allana menarik nafas panjang.
"Baiklah, akan aku coba."
"Aku kira kamu akan menjadi pengecut, bersembunyi lagi di balik ibumu."
"Tidak lucu."
Mereka berdua terkekeh geli. Tiba-tiba mata Allana menuju satu orang yang baru saja datang. Di sekitarnya juga terdengar mulai riuh.
"Apa sekolah ini berubah menjadi sekolah yang mementingkan tampang? Kenapa banyak sekali anak laki-laki berwajah perempuan disini hari ini?"
"Anak laki-laki berwajah perempuan?"
"Hmm iya.. Laki-laki cantik. Lihatlah wajah-wajah mereka yang tampan, tidak, sangat tampan. Sepertinya mereka sering melakukan perawatan."
Allana tertawa geli mendengar komentar Gyria tentang para anak laki-laki yang baru saja datang. Loker mereka hanya berseberangan dengan loker Allana. Salah satu dari mereka menatap Allana sedari tadi. Allana sedikit risih dengan itu.
"Apa kamu tertarik padanya?"
"A-ah.. Tidak, aku hanya--"
"Kamu terlihat tertarik padanya."
"Aku tidak tertarik. Hanya saja aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya."
"Mereka murid baru sepertiku?"
"Sepertinya."
"Mereka murid pertukaran pelajar." sahut Erica yang sudah berdiri di belakang mereka. Allana dan Gyria menoleh. "Jika penasaran kalian bisa menanyakan langsung pada mereka. Aku yakin mereka mendengar kalian sejak tadi."
"Whoah.. Aku benar-benar baru menyadarinya." Gyria menatap satu persatu anak laki-laki baru itu.
"Apa kita berbicara terlalu keras?" bisik Allana pada Gyria.
"Bukan, tapi mereka manusia serigala. Meskipun kamu berbisik, mereka akan mendengar."
Allana terdiam menatap mereka. Beberapa dari mereka tersenyum.
"Apa ini migrasi serigala?" komentar Gyria
"Allana, bisa kita berbicara?" pinta Erica.
"Kalian bisa berbicara disini, bukankah kita sama-sama manusia serigala?"
"Apa kamu benar-benar akan berteman dengannya?"
"Setidaknya aku tidak menyembunyikan apapun pada temanku."
Gyria dan Erica saling menatap tajam dan mulai menggeram.
"Apa kita akan menonton pertarungan perempuan disini? Luar biasa. Aku akan menyukai sekolah ini." salah satu anak laki-laki itu mulai berbicara dan melipat tangannya di dadanya.
"Kalian berdua hentikan." pinta Allana. Allana berusaha agar tidak ada pertarungan disekolah. "Mari kita bicara Erica."
Allana berjalan menjauhi bahkan cukup jauh dari mereka semua.
"Apa ini cukup jauh? Agar mereka tidak mendengar?"
"Tentu."
"Baiklah apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Allana, aku tahu aku keterlaluan dengan menyembunyikan tentang dirimu dan berpura-pura tidak terjadi apapun. Keluargamu yang memintaku melakukannya dan aku setuju karena itu untuk melindungimu."
"Melindungiku? Dari apa?"
"Allana, ini tidak sesederhana yang kamu kira."
"Kamu masih menyembunyikan hal lain, benarkan?" tebak Allana. Erica menarik nafasnya. Ya, ada yang masih disembunyikannya. Hanya saja dia sudah bersumpah untuk tidak mengatakan apapun sampai keluarga Allana memintanya untuk mengatakannya.
"Tanya saja kepada keluargamu. Mereka mengetahui siapa dan apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa mereka begitu melarangmu bersama pack Crysort dan kenapa mereka mengirim mata-mata untuk mengikutimu setiap hari."
"Mereka mengirimku apa? Mata-mata?"
"Aku tahu kamu sekarang membenciku, aku mengerti itu. Aku sudah menjelaskan semuanya dan aku akan menerima jika kamu masih membenciku. Tapi jangan lakukan itu pada Hope. Dia tidak nengetahui apapun tentang semua ini. Dia seorang manusia biasa yang tidak mengetahui tentang supranatural."
"Hope..." Allana teringat satu sahabatnya lagi. Dia memang terlalu sibuk berlatih sehingga dia tidak menjenguk Hope. Allana merasa bersalah karena itu. "Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?"
"Dia sudah membaik tenang saja. Mungkin besok dia bisa bersekolah. Dia menunggumu di rumahnya."
"Aku... Maksudku... Dia mengetahui siapa aku, apa aku."
"Tenang saja. Kami sudah meminta bantuan penyihir soal itu."
"Apa maksudmu?"
"Kelebihan penyihir adalah mereka bisa menghilangkan sebagian atau beberapa bahkan seluruh ingatan. Kami meminta bantuan mereka untuk menghapus ingatan Hope tentang manusia serigala."
"Jadi dia tidak ingat apapun?"
"Tidak, yang dia ingat dia terjatuh di jurang saat berjalan-jalan di hutan."
Allana mengangguk mengerti.
"Kunjungilah dia. Mungkin kamu tidak ingin berteman denganku setidaknya tetaplah berteman dengan Hope." Erica berjalan meninggalkan Allana sendirian.
"Erica--" Allana ingin memanggil tapi dia mengurungkan niatnya. Mungkin nanti, pikirnya. Allana mengela nafas lalu berjalan kembali ke kelas. Tapi langkahnya terhenti melihat satu orang berdiri di depannya.
"Kamu baik-baik saja. Syukurlah. Mereka memang keluargamu kalau begitu."
"Kamu siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
'Dia tidak mengingatku.'
"Mungkin." Renald tersenyum tipis, hampir tidak terlihat lalu berjalan melewati Allana tanpa melihatnya lagi. Allana hanya mengerutkan keningnya.
"Aku tidak menyangka kamu bisa berbicara dengan anak peremuan." Ted datang dan berjalan berdampingan dengan Renald. "Aku bangga padamu Ren." Ted mengalungkan tangannya di pundak Renald.
"Terserah kamu saja." Renald tampak tidak tertarik. "Dan turunkan tanganmu dari pundakku."
"Oh ayolah. Kamu berbicara pada anak perempuan merupakan peningkatan yang luar biasa."
"Akhh!!! diamlah!!" Renald mulai tampak kesal. Renald tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya menuju satu titik, hutan di belakang sekolah. Dia mempertajamkan penglihatannya. Renald menggeram tiba-tiba. Raut wajahnya tampak tidak senang.
"Ada apa denganmu?"
"Ada yang mengawasi wilayah ini."
"Itu wajar Ren. Apa kamu lupa ini wilayah netral?"
"Tapi ini aneh. Kenapa harus alphanya?"
"Alpha? Apa maksudmu?" Ted mempertajam penglihatannya juga. Dia menggunakan mata serigalanya. "Itu bukannya--"
"Iya itu dia. Jika dia sampai turun tangan mengawasi wilayah ini, pasti ada sesuatu."
"Apa baik curiga padanya seperti itu?"
"Dia memang begitu."
"Dia teman kecilmu Ren."
"Tidak lagi setelah dia mengkhianatiku begitupula keluargaku."
"Ren, semua sudah terbukti jika itu hanya salah paham."
"Mungkin kedua orang tuanya iya, tapi tidak dengannya. Terlebih sekarang dia adalah alpha di pack itu."
"Sepertinya dendam kalian tidak akan selesai."
"Aku tidak menaruh dendam padanya. Aku hanya... Tidak menyukainya. Tapi.. Ada apa di kota ini? Apa yang begitu penting sampai-sampai alpha mereka datang kemari?"
"Entahlah, aku tidak tahu Ren. Aku dan beberapa gamma telah menyelidiki kota ini sebelumnya. Netral dan ada beberapa anggota pack lain yang tinggal disini. Dan juga penyerangan itu, yang kita membantu mengusir para rogue, kota ini memiliki beberapa penyerangan dan sudah ada jatuh korban. Tampaknya sherif disini tidak mengetahui apapun tentang makhluk supranatural."
"Apa mungkin karena itu?"
"Mungkin saja. Beberapa pack juga di serang. Mungkin saja mereka mengejarnya sampai sini."
"Mungkin..."
"Sudahlah, lupakan mereka. Kita akan terlambat masuk kelas di hari pertama kita disini. Ayo cepat!"
Ted memukul pundak Renald dan langsung berlari. Renald masih terdiam membisu. Dia masih menatap laki-laki yang berdiri cukup jauh darinya. Dia merasa, luka lama terbuka kembali. Pertama dari kedatangan ibunya dan fakta jika ibunya masih hidup. Sekarang, dia bertemu sahabat sekaligus musuh lamanya. Sepertinya semua ini adalah tanda tentang sesuatu. Tapi apa?
"Ren!!" panggila Ted membuyarkan lamunan Renald. Renald menghela nafas dan langsung ikut berlari menuju kelasnya.
Di kejauhan, di seberang tempat Renald berdiri tadi, anak laki-laki yang ditatap Renald, juga masih menatap Renald sampai Renald hilang dari pandangannya.
"Rome."
"Iya, alpha."
"Apa anggota pack Zykolt ada disini?"
"Benar alpha. Saya dan beberapa anggota yang lain melihat beberapa anggota pack Zykolt sedang berada disini."
"Apa mereka ada urusan disini?"
"Saya kurang tahu alpha. Bukankah anda melarang kami berhubungan dengan pack Zykolt?"
"Itu benar. Tapi dia disini juga."
"Dia?"
"Anak buangan itu."
"Ahhh... Alpha Renald. Benarkah? Saya tidak melihatnya."
"Sudahlah lupakan saja anak buangan itu. Kita kembali ke masalah kita. Kemana mata-mata kita? Aku tidak ingin perjalananku ke sini menjadi sia-sia. Sangat membuang-buang waktuku."
"Bawa mereka kesini!"
Empat orang berjalan mendekat.
"Ini Joy, mata-mata untuk pack Crysort dan ini Cole, mata-mata untuk pack Hysort."
"Apa yang kalian dapatkan?"
"Saya mendengar, Allana dan alpha Dwaine pernah bertarung satu lawan satu dan alpha Dwaine mengakui kekuatan dari Allana dan bahwa Allana adalah warrior itu." jelas Cole.
"Saya menyaksikan sendiri alpha, Allana menghempas keras salah satu gamma terkuat dari pack Crysort sampai hampir mati. Dan Luna pack Crysort akan segera mengadakan sebuah ritual." kali ini Joy yang berbicara.
"Ritual? Ritual apa?"
"Ritual untuk membangun pack Crysort lagi dan itu melibatkan Allana. Saya masih mencari tahu seperti apa ritual itu."
"Tetaplah cari tahu. Sampai dapat."
"Baik alpha."
Semua orang mulai beranjak pergi. Hanya tersisa Arthur dan betanya Rome.
"Alpha, apa mungkin pack Zykort disini karena Allana?" tanya Rome. Arthur diam sejenak.
"Apa itu mungkin? Tapi tidak masalah jika memang dia ke sini karena Allana. Dia mateku. Jadi meskipun mereka menginginkannya, mereka tidak akan pernah mendapatkannya."
"Tapi alpha Renald adalah sahabat anda alpha."
"Mantan sahabat. Dia bukan sahabatku lagi. Aku tidak perduli padanya dan aku tidak akan pernah mengalah."
Arthur menatap sekolah itu lagi. Dia tahu Renald adalah ancaman baginya jika memang Renald juga mengincar Allana.
*****
tadariez