Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 24 : Finally, A Temple



"Ada apa yang mulia? Lidah anda beku?"


"Tidak tentu. Akan aku carikan cara untuk membantu pack mu."


Luna Chloe tersenyum sinis. "Tidak ada cara lain, yang mulia. Aku adalah luna terakhir."


"Aku akan mencari cara lain. Jadi aku perintahkan untuk tidak menyentuh Allana." Kei mendekat pada luna Chloe lalu berbicara tepat di telinganya. "Biar aku tegaskan, Ini bukan ancaman, tapi perintah. Kamu ikuti, aku akan berusaha membantu dan melindungi packmu, tapi jika kamu membantah dan melawan perintahku, kamu dan packmu, menghadapiku secara langsung dan kamu tidak akan menyukainya. Terlebih aku memiliki Lycan, dan bisa aku pastikan, kamu tidak akan ingin melawannya."


Kei berjalan mundur lalu berbalik pergi dari pack Crysort. Luna Chloe menggenggam kedua tangannya. Dia cukup kesal di perintah oleh anak kecil. Luna Chloe menatap Gyria yang masih terduduk lemas di hadapannya. Luna Chloe mengangkat tangannya, bersiap memukul Gyria tapi Beck dengan cepat berdiri di hadapan Gyria.


"Menyingkirlah." geram luna Chloe.


"Saya mohon luna. Dia sudah cukup menderita. Dia terluka cukup parah, bahkan dia belum juga menyembuhkan dirinya." pinta Beck. Luna Chloe terdiam sejenak, lalu menurunkan tangannya. Dia menghela nafas kasar.


"Panggil Rosmary. Aku ingin dia memeriksa anak itu. Mungkin saja dia terkena sihir." Luna Chloe beranjak pergi. Beck langsung menggendong Gyria di punggungnya.


"Astaga, lukamu kelihatan parah sekali."


"A-ak-aku... baik..ba-baik... sa-saja... Beta..."


"Baik? kamu bahkan hampir tidak bisa berbicara! sudah, kamu diam saja. Aku akan meminta Rosmary mempercepat penyembuhanmu."


Gyria memejamkan mata. Dalam hati dia sedikit lega.


******


Kei sudah keluar dari wilayah pack Crysort. Dia berjalan agak jauh lalu berhenti. Kei mengelus dadanya.


"Kenapa kamu Kei?" tanya Ian bingung.


"Dia, luna itu, benar-benar galak. Hampir saja aku tidak bisa menjawab perkataannya tadi." Kei bernafas lega.


''Dia memang luar biasa alpha."


"Benar. Bahkan aku lebih takut dengannya dari pada alpha Roger. Tapi aku baik-baik saja kan? Tidak terlihat gugup?"


"Tidak, hanya saja kamu hampir di kalahkan olehnya." jawab Ian seenaknya.


"Di kalahkan? Kau bercanda! Aku tidak kalah."


"Well, baiklah. Seimbang."


"Se-- Waahh... Mengecewakan sekali." Kei berkacak pinggang.


"Tapi alpha, apa anda yakin dia akan mematuhi perintah anda?"


"Itu yang aku tidak yakin. Aku harap."


"Alpha, bagaimana? Apa anda baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Jason datang lalu segera memeriksa tubuh Kei.


"H-hei.. Lepaskan! Berhenti menyentuhku. Aku baik-baik saja dan tidak ada yang terluka karena tidak ada pertempuran."


"Tidak ada? Ahh mengecewakan sekali."


Pletak!!


Kei baru saja akan memukul Jason tapi Mike sudah lebih dulu.


"Aarrghh! Sakit! Kenpa selalu kepalaku?!"


"Biar kamu kembali waras."


"Aku tidak gila!" Jason mengelus kepalanya.


"Ohhh benarkah? Kamu terlihat gila bagiku." Mike berjalan menjauh.


"Sini kau!!" pekik Jason lalu mengejar Mike.


"Astaga.. Mereka benar-benar tidak berubah."


"Apa aku boleh tahu bagaimana hasilnya? Gyria bagaimana? Apa dia disiksa oleh wanita itu?"


"Tidak All, aku rasa dia akan baik-baik saja, untuk saat ini."


"Syukurlah."


"Kita harus pergi lagi. Kian, panggil kedua orang bodoh itu."


Kian mengangguk lalu segera pergi.


"Kita akan ke kota CivilHill sekarang?"


"Tidak All, semua rencana berubah. Kita akan ke kuil MoonGodness."


"A-apa? Tapi..."


"Tidak ada tapi. Aku tahu kamu menghindari semua ini tapi percayalah, menghindar bukan jalan yang tepat. Karena suatu saat kamu harus menghadapinya, suka atau tidak. Dan ini saatnya. Sebelum luna itu lebih kuat dan menyerang lagi, membahayakanmu dan orang terdekatmu, sebaiknya kita percepat."


Allana mengangguk. Apa yang di katakan Kei benar. Dia tidak bisa terus menghindar. Sudah saatnya dia menghadapinya.


"Perjalanan kita akan panjang dan berbahaya, apa kamu siap?"


Allana mengangguk pasti. "Siap."


"Tenang saja, kami akan membantu dan menjagamu."


"Terima kasih."


"Tidak perlu. Mari pergi."


"Yang mulia!"


Sebuah panggilan menghentikan langkah mereka. Allana mengerutkan dahinya.


"Renald?"


"Ahh... Alpha Renald. Bagaimana kamu bisa kemari?"


Renald tersenyum. "Apa anda lupa? Jalan menuju Pack saya lewat sini."


"Ahh iya, benar... Aku lupa."


"Tidak masalah yang mulia. Lalu.. Apa yang anda lakukan disini?" mata Renald tertuju pada satu sosok. "Allana?"


"Kami baru saja dari pack Crysort."


"Crysort?" Renald kembali menatap Allana. "Jika ini tentang Crysort pasti ini ada hubungannya dengan Allana."


"Iya, kebetulan kami ada urusan disana. Ahh iya, bagaimana keadaanmu dan anggota packmu? Aku dengar kamu membantu Allana dan para penyihir saat mereka sedang menuju ke packku."


"Kami semua baik yang mulia, terima kasih pada para penyihir yang sudah membantu kami menyembuhkan diri lebih cepat."


"Syukurlah."


Dalam hati Allana ikut bersyukur. Karena dia melihat beberapa serigala terluka parah.


"Apa anda sudah akan pergi?"


"Iya, kami harus pergi ke suatu tempat."


"Apa tidak ingin mampir ke pack saya?"


"Maaf, mungkin lain kali. Karena ada urusan mendadak dan penting."


"Tidak masalah yang mulia. Saya akan menunggu kedatangan anda di pack saya. Anda akan selalu di sambut."


"Terima kasih Ren." Kei memukul pelan lengan Renald. "Baiklah, kami pergi dulu."


"Tentu, hati-hati."


"Kamu juga."


Kei dan pack nya saling berpegangan tangan, Allana juga ikut. Allana masih menatap Renald, begitu juga dengan Renald. Mereka saling menatap dalam diam. Allana tersenyum kecil. Lalu tak lama mereka menghilang seketika.


"Ayo, kita lanjutkan perjalan lagi alpha."


"Ya, ayo."


******


Allana sampai di sebuah hutan. Hutan itu terlihat lebih lebat dari hutan di kota tempat dia tinggal. Pohon-pohonnya berbatang besar dan berdaun lebat.


"Maaf yang mulia, kami hanya bisa mengantar sampai sini. Selanjutnya kalian hanya bisa berjalan kaki." sahut Livia.


"Tidak masalah Liv. Ini sudah cukup. Ayo kita berubah. All, kamu naik di punggung Ian sementara Livia di punggung Ryan dan Lily, tidak masalah jika aku pasangkan dengan Jason?"


Lily menghembuskan nafasnya kasar. "Tidak masalah."


"Bagus. Ayo berubah."


Kei dan semua anggota packnya berubah menjadi serigala. Allana dengan segera naik dipunggung Ian. Mereka berlari secepat yang mereka bisa. Setelah beberapa lama berlari, Mereka memutuskan untuk berhenti karena hari sudah mulai gelap.


"Kita istirahat saja disini malam ini. Besok pagi, kita akan cari di mana lokasi kuil itu."


Semua orang menurut perkataan Kei dan langsung bersiap untuk beristirahat.


"Entah kenapa aku lupa di mana lokasinya." kata Kei pada Ian.


"Aku juga. Ini aneh."


Malam semakin larut. Semua orang sudah tertidur di sisi agak jauh dari api unggun. Hanya tersisa Mike dan Jason yang masih terbangun karena mereka harus berjaga.


Tatapan Jason hanya tertuju pada satu arah, Lily, yang tengah tertidur.


"Kenapa tidak kamu ungkapkan saja Jas? Dia mate-mu dan dia tahu itu." ucap Mike yang memergokinya tengan menatap Lily.


"Jangan mulai membahas itu."


"Oh ayolah Jason. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Apa kamu memiliki alasan untuk tidak melakukan itu?"


"Tidak, tidak ada."


"Apa karena ibumu? Ahh tidak mungkin. Jika ibumu tahu, dia pasti akan menyetujuinya."


"Jangan memberitahukan apapun pada ibuku dan berhentilah membicarkan itu. Kamu menyebalkan sekali."


Mike tertawa geli. Sudah lama Jason mengetahui Lily adalah mate-nya. Tapi dari pertama kali dia mengetahui itu, dia tetap bersikeras tidak akan melakukan apapun perihal itu.


"Apa itu? Mirip mata seseorang. Atau hewan? Apa manusia serigala? Tapi warna itu... Aku tidak pernah melihatnya. Tapi kenapa cahaya itu seperti menatapku?"


Saat Allana bertanya-tanya, sepasang mata itu masih memperhatikannya. Lalu tak lama mata itu seperti semakin menjauh. Allana duduk. Dia mencoba melihat cahaya itu. Tapi cahaya semakin menjauh. Allana berdiri dan mulai berjalan mengikuti cahaya putih itu.


"Allana?" panggil Mike. Jason ikut menoleh. Tapi Allana tidak menghiraukan panggilan Mike. "Mau kemana dia?"


"Kencing?"


"Mungkin, tapi dia terlihat aneh. Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?" mereka masih memperhatikan Allana yang semakin masuk ke dalam gelapnya hutan. "Aku akan mengikutinya. Kamu berjaga disini."


"Mungkin dia hanya akan kencing."


"Ya, seharusnya dia bilang pada kita. Entahlah, aku merasa tidak enak. Jaga saja disini."


"Melolonglah jika terjadi sesuatu."


"Oke."


Mike menelusuri jalan yang tadi di lewati Allana. Allana sudah tidak terlihat lagi. Mike menutup matanya dan menarik nafasnya lalu membuka matanya lagi. Dengan sekejap matanya sudah berubah menjadi biru terang karena Mike adalah gamma.


Mike bisa melihat dengan jelas di dalam gelap menggunakan mata gammanya. Mike terus melangkah dan mendapati Allana yang berjalan agak jauh di depannya. Mike mempercepat langkahnya. Saat sudah berada tepat di belakang Allana, Mike menepuk pelan pundak Allana. Allana tersentak kaget dan menoleh.


"Kau mengagetkanku."


"Sedang apa kamu disini?"


"Aku melihat-- kemana dia?" Allana menoleh lagi tapi sepasang mata tadi tidak ada. Allana kembali berjalan, mencari cahaya mata itu.


"H-hei, ada apa?"


"Ada yang mengawasi tadi. Entah kenapa aku merasa dia akan menunjukkan sesuatu padaku."


"Siapa?"


"Entah aku tidak tahu." Allana masih terus berjalan.


"Allana... Hei! Berhenti! Jangan di kejar lagi! Allana!!" Mike berusaha menghentikan Allana. Tapi Allana masih terus berjalan, bahkan sekarang jarak mereka jauh.


Allana melihat sepasang cahaya mata itu lagi. Dia berjalan semakin cepat meninggalkan Mike di belakangnya.


Tiba-tiba Allana masuk ke sebuah tempat yang berbeda. Beberapa bebatuan yang besar. Ada air terjun disisi sebelah kanan, agak jauh darinya berdiri saat ini dan juga sungai kecil di dekat air terjun. Di sebelah air terjun ada sebuah bukit. Di bukit itu ada sebuah goa besar. Allana tidak yakin apa yang ada di dalam goa itu. Dia hanya menduga, pasti ini adalah kuil itu. Allana sibuk mengagumi semua keindahan yang dia lihat. Meski sudah malam, tapi sinar bulan seperti menyinari tempat itu dengan terangnya. Allana tidak menyadari kedatangan Mike.


"Allana, kamu--" Mike terkejut. Dia memperhatikan pemandangan di hadapannya. Mulutnya terbuka lebar. "Apa... Apa ini kuil itu?"


"Aku rasa. Tidak ada hal seperti ini di tempat lain di hutan ini dan aku melihat beberapa serigala di sana." Allana menunjuk beberapa serigala yang sedang bergerombol dan menatap mereka.


"Sepertinya memang iya."


"Aku akan masuk." Allana melangkah masuk melewati perbatasan tampat itu dengan hutan.


"Hei--" Mike ingin menghentikan Allana tapi Allana sudah berjalan terlebih dahulu. Mike juga ikut melangkah, berjalan masuk ke wilayah kuil. Tapi baru beberapa langkah di wilayah kuil, dia merasakan tubuhnya berat dan sangat lemah. Serasa kekuatan dan tenaganya habis dengan cepatnya.


"Aakhhh..." Mike terduduk dan segera terbaring lemah di tanah. Allana berbalik dan melihat Mike tidak berdaya lagi.


"Mike? Mike!" Allana berlari mendatangi Mike. "Mike, ada apa denganmu?!"


Mike terlihat semakin parah. Dia tidak berkata apapun. Nafasnya mulai pendek.


"Oh tidak, Mike!" Allana berdiri dan menatap beberapa serigala di sana. "Tolong kami! Aku mohon, tolong kami!" pinta Allana. Tapi para serigala masih saja berdiri dan menatapnya.


"Kenapa kalian diam saja?! Tolong kami!!" Allana berteriak putus asa. Para serigala masih diam di tempat mereka. Allana kembali berjongkok di sebelah Mike. "Mike... Apa yang harus aku lakukan? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Ya tuhan, aku harus bagaimana?"


Allana menangis. Dia tidak tahu harus berbuat apapun.


"Bawa dia keluar dari sini." kata seseorang yang sudah berdiri di dekat mereka. Salah satu serigala tadi telah berubah menjadi manusia. Allana menatap pria itu bingung. "Cepat! Bawa dia pergi, keluar dari wilayah kuil, atau dia akan mati."


Allana mengangguk lalu segera menarik tubuh Mike menjauh dari wilayah kuil. Allana beruntung Mike hanya berjarak beberapa langkah dari perbatasan wilayah kuil. Allana menyandarkan Mike di sebuah pohon saat mereka sudah di luar wilayah kuil. Mike masih tidak sadarkan diri. Nafasnya masih berat.


"Dia akan baik-baik saja. Butuh waktu, tapi dia akan baik-baik saja." kata pria tadi. Pria itu mengikuti Allana keluar wilayah kuil.


"A-ada apa sebenarnya? Kenapa dia bisa seperti itu?"


"Itu adalah kuil MoonGodess. Tidak bisa di masuki oleh semua orang, kecuali dia yang memang di takdirkan untuk bisa masuk ke sini. Jika mereka memaksa masuk, mereka akan menjadi seperti temanmu itu."


Allana menatap Mike. Kini nafasnya sudah mulai teratur tapi masih belum sadar.


"Anda yakin dia akan baik-baik saja?" tanya Allana.


"Yakin. Dia akan baik-baik saja. Jangan biarkan dia masuk kembali." kata pria itu. Allana mengangguk pelan. "Tapi kamu harus masuk."


"Saya?"


"Apa yang terjadi padanya tidak akan terjadi padamu saat masuk ke dalam kuil, jadi tenang saja. Tapi kamu harus masuk sekarang."


"Tapi kenapa saya harus masuk?"


"Bukankah ini tujuan kamu kemari? Kuil ini?"


"Iya tapi... Bagaimana anda bisa tahu?"


"Ada yang memberitahukan pada kami. Dan orang itu, sedang menunggu di dalam."


"Siapa?"


"Masuklah dan kamu akan tahu."


"Tapi kenapa saya baik-baik saja jika masuk kesana?"


"Kami adalah warrior penjaga kuil ini dan percaya atau tidak, kamu juga."


"Saya? Penjaga kuil? Itu tidak mungkin.."


Pria itu hanya menatap Allana dengan keseriusan diwajahnya.


"I-itu tidak benar kan?"


"Orang itu yang akan menjelaskannya. Masuklah."


Allana masih berdiri diam. Dia tidak tahu harus bagimana.


"Aku.. Aku tidak bisa. Aku tidak mungkin meninggalkan Mike yang masih lemah disini sendirian."


"Sudah aku katakan, dia akan baik-baik saja. Butuh waktu untuk pulih, tapi dia akan baik-baik saja. Kamu harus melakukan ritual itu secepatnya, bukan?"


Deg!


Allana teringat dengan ritual itu. Dia bingung dari mana pria itu mengetahui itu dan dengan segera dia menebak jika orang itu yang memberitahukannya. Allana semakin penasaran, siapa orang itu sebenarnya.


"Ayo, ikuti aku."


Pria itu berjalan terlebih dahulu. Allana ragu tapi akhirnya melangkah pergi. Tapi belum kakinya melangkah, tangannya di tahan oleh Mike yang telah sadar.


"Ja-jangan..." ucap Mike lemah.


"Aku akan baik-baik saja Mike. Tenang saja. Setelah kamu pulih, beritahukan pada Kei tentang semua ini, kamu mengerti?"


Mike masih menggeleng lemah, mencegah Allana untuk pergi. Tapi Allana melepaskan pegangan tangan Mike.


"Aku akan baik-baik saja Mike. Beritahukan saja pada Kei." Allana melangkah pergi.


"A-Allana...." Mike yang masih lemah tidak bisa mengejarnya. Allana berbalik.


"Dan.. Jangan masuk lagi Mike, atau kamu akan mati." ucap Allana lalu berbalik pergi. Allana mengikuti pria itu yang sudah berada di wilayah kuil.


Allana masuk ke dalam kuil. Dia melihat para serigala telah berubah menjadi manusia kembali. Pakaian mereka cukup unik. Mereka seperti mengenakan rok panjang berwarna kuning di tubuh bagian bawah. Yang pria tidak mengenakan baju, hanya selembar kain di tubuh bagian atas. Sementara yang wanita hanya ditutupi bagian payudara mereka. Semua berwarna kuning terang.


Mereka menunjukkan Allana tangga untuk Allana dilewati. Allana cukup terkejut dengan tangga itu. Terlihat panjang dan tinggi.


"Aku... Harus ke atas sana?"


"Iya, dia menunggumu di atas sana, di dalam goa."


Allana menghela nafas. "Baiklah."


Allana melangkah, menaiki anak tangga satu demi satu. Baru beberapa anak tangga, Allana berhenti kembali dan menoleh pada para warrior.


"Kalian tidak ikut?"


"Tidak, kami akan berjaga disini. Lagipula, kamu yang ingin di temuinya."


Allana menghela nafas lagi. "Baiklah kalau begitu. Jika teman-temanku datang, tolong jelaskan situasi ini. Apa bisa?"


"Tentu, tapi mereka tidak akan bisa masuk. Kecuali raja itu."


"Kalian tahu Kei?"


"Kami pernah bertemu dengannya. Karena keistimewaannya, dia bisa masuk kemari, meskipun tidak bisa terlalu lama."


"Saya mengerti. Kalau begitu, saya pergi lagi."


Allana kembali menaiki anak tangga. Entah kenapa dia semakin gugup. Semakin dia dekat dengan mulut goa, dia semakin gugup dan detak jantungnya tidak karuan.


"Kamu bisa Allana. Kamu harus melakuan ini. Demi dirimu, keluargamu dan semua orang. Kamu harus bisa!"


Allana mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri. Langkah Allana terhenti tepat di mulut goa. Dia kembali ragu untuk masuk ke dalam.


Allana menggigit bibir bawahnya. Matanya tertutup. Dia mencoba menenangkan hati dan pikirannya, bahkan mencoba meredakan detak jantungnya yang berdetak semakin cepat. Allana menarik nafas panjang lalu dihembuskan perlahan sampai tiga kali lalu dia berjalan masuk ke dalam gua.


Di dalam gua cukup terang. Ada lilin yang di letakkan disisi-sisi goa yang menerangi goa itu. Allana berjalan masuk lebih dalam lagi. Tak lama dia menemukan sebuah ruangan yang cukup luas. Ruangan itu cukup unik. Beberapa benda melayang dan seperti di lindungi sesuatu berwarna kuning dan bening. Lalu ada sebuah meja batu di tengah-tengah ruangan. Dan di depan, agak jauh dari meja batu, ada sebuah obor api biru yang menyala


Ada satu orang wanita yang berdiri menatap api biru itu. Allana melangkah perlahan ke tengah ruangan. Dia masih memperhatikan sekitarnya.


Tak lama wanita itu berbalik. Allana menatap wanita itu takjub. Wanita itu tersenyum.


"Kami sudah datang. Hallo Allana."


"Kamu... Siapa?"


"Aku Bian, yang terpilih. Aku yang akan melakukan ritual padamu, secara langsung. Apa kamu siap?"


Allana terdiam. Dia tidak bisa menjawab. Bahkan sekarang yang akan melakukan ritual padanya adalah penyihir terkuat didunia. Sebenarnya ritual apa itu?


*****


Tadariez