
Allana berlari di koridor sekolah. Dia tampak sangat kelelahan. Dia sudah berlari cukup lama tapi entah kenapa koridor sekolah tidak ada ujungnya. Pintu demi pintu dia buka, tapi selalu ada koridor di balik pintu.
Nafas Allana berat. Dia berhenti dan mengatur nafasnya. Dia memperhatikan sekelilingnya.
"Aku benar berada di sekolah, ini sekolah, tapi.. Tapi kenapa hanya ada koridor? Dimana kelasnya? Dan kenapa gelap sekali?"
Allana mulai panik. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Allana menarik nafasnya dan bersiap berlari. Tapi belum melangkah, dia sudah terkejut. Ada satu orang berdiri agak jauh dari tempat dia berdiri. Allana tidak bisa melihat dengan jelas siapa itu karena gelap. Penerangan hanya dari lampu jalanan di luar.
"Hallo? Siapa disana?"
Tidak ada jawaban. Seseorang didepannya hanya berdiri diam. Allana melangkah mendekat dengan perlahan.
"Uhm.. Ini di sekolahkan? Bisa beri tahu ada apa ini?"
Tetap hening. Allana menghentikan langkahnya. Dia tahu orang itu seorang perempuan karena terlihat rambutnya yang panjang. Tiba-tiba terdengar suara lolongan serigala. Lolongan itu cukup keras. Allana menoleh ke sekitarnya. Dia mencoba mencari arah suara lolongan itu.
Suara lolongan itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat, tidak, sangat dekat. Tapi dia tidak menemukan siapapun selain...
"Egghh.."
Wanita itu sudah berdiri tepat di depan Allana dan mencekiknya. Allana berusaha meronta tapi entah kenapa dia tidak bisa lepas. Wanita itu sangan kuat. Tiba-tiba wanita itu mendorong keras tubuh Allana sambil terus mencekiknya hingga menyentuh dinding. Allana semakin berontak tapi usahanya tetap sia-sia.
"Kau..."
Wanita itu mengeluarkan suaranya. Allana terkejut dan terdiam. Suara wanita itu serak dan dalam.
"Seharusnya kau tidak ada, seharusnya kau tidak lahir."
"A-apa... Apa maksudmu?"
"Aku sudah membuatmu untuk tidak lahir. Aku sudah melakukan itu!! Tapi kenapa.. Kenapa kamu tetap lahir!!"
Allana menatap bingung. Dia sangat kebingungan.
"Kau akan menyebabkan kehancuran kaummu sendiri. Seorang warrior yang akan menghancurkan kaum serigalanya. Aku sudah meramalmu, aku sudah menghentikan kelahiranmu."
"Tidak!! Kamu pasti salah!"
Wanita itu tersenyum lalu tertawa. Suara tawanya yang keras dan menyeramkan, menggema di koridor itu.
"Aku tidak pernah salah, ramalanku tidak pernah salah. Hati-hatilah warrior. Kini tidak akan ada yang bisa melindungimu. Hanya dirimu."
Wanita itu tersenyum dan mengangkat satu tangannya ke atas lalu menusuk dada Allana dengan kuat menggunakan pisau belati.
"Aaaakkkkkkkhhhh....!!!"
Allana terbangun. Nafasnya cepat. Dia memegang dadanya yang masih terasa sakit.
"Nona Layford."
Allana menatap ke depan. Sudah ada gurunya yang berdiri dengan melipat tangan di depan dadanya. Kini Allana sadar dia masih berada di sekolah bahkan di kelasnya.
"Aku tahu mungkin pelajaranku membosankan tapi setidaknya hargai aku disini." guru itu tampak kesal.
"Ma-maaf.." Allana tertunduk. Dia masih memegang dadanya yang ditusuk tadi. Semua teman kelasnya menatapnya.
"Jangan hiraukan dia. Kita kembali pada pelajaran kita." guru itu kembali menerangkan materi.
Allana menunduk. Entah apa yang dia alami. Siapa itu? Aku seharusnya tidak lahir? Tapi kenapa? Itu hanya mimpi tapi kenapa tusukkan pisau tadi sakit sekali?
****
Allana berjalan keluar kelasnya. Dia masih bingung dengan mimpi yang dia dapat. Entah apa maksudnya. Apa itu benar atau hanya mimpi belaka?
"Allana." Erica mensejajarkan jalannya dengan Allana. "Ada apa denganmu? Kenapa tadi kamu berteriak?"
"Aku hanya bermimpi, kurasa."
"Kamu yakin? Ini tidak seperti dirimu yang tidur di kelas."
"Entahlah. Aku rasa aku hanya lelah. Kau tahu, latihan menjadi manusia serigala."
"Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?"
"Tentu, mereka semua baik. Hanya saja kau tahu aku bukan perempuan yang suka olahraga, jadi latihan membuat tenagaku cukup terkuras."
"Hmm iya. Allana yang selalu kena tegur saat pelajaran olahraga dan sekarang menjadi warrior yang paling kuat. Sungguh sangat tidak di sangka."
"Well... bahkan bermimpi menjadi warrior saja tidak pernah."
Erica dan Allana tersenyum.
"Al.." Gyria berlari menuju Allana.
"Aku duluan Al, jangan lupa besok Hope turun sekolah. Jangan sampai dia tahu soal perselisihan kita."
"Ya, aku tahu."
Erica berjalan cepat meninggalkan Allana.
"Kenapa? apa dia mengganggumu?" tanya Gyria.
"Tidak, kami sekelas di pelajaran tadi."
"Oh.. Ayo kita pergi. Tadi beta mindlink katanya kita harus pergi, sekarang."
"Bukannya latihan dua jam lagi?"
"Well yeah aku tahu, tapi beta memajukkannya. Sebaiknya kita pergi."
Gyria menarik tangan Allana dan pergi dari sekolah. Dalam diam Erica memperhatikan mereka.
Di tempat latihan tidak seperti biasanya. Latihan jauh lebih keras dari biasanya dan tidak ada senyuman atau teguran dari Beck. Bahkan Beck seakan menjauhinya. Tapi Allana tidak begitu mempersoalkannya. Dia hanya ingin cepat menyelesaikan sesi latihannya.
"Lelah sekali. Ada apa dengan latihan hari ini?" Leysha mulai mengeluh saat mereka istirahat.
"Entahlah, sepertinya beta berbeda hari ini."
Semua menatap Beck yang sedang berbicara dengan Mel.
"Aku kira aku saja." gumam Allana.
"Ada sesuatu, aku yakin itu. Beta selalu begitu jika ada sesuatu."
"Apa karena pertemuan itu?"
"Mungkin.."
"Pertemuan apa?" tanya Allana.
"Ada pertemuan beberapa waktu lalu. Dari saat itu, beta tampak berbeda dan... Sepertinya mereka membicarakanmu Al."
"Aku?"
"Iya kamu. Mungkin karena kamu adalah warrior yang diramalkan akan menyatukan pack kami lagi."
"Memangnya kenapa pack kalian?"
"Pack kami pack yang damai, hutan, alam semua tumbuh berdamping dengan harmonis. Penyihir bahkan druids semua hidup berdampingan. Kami di juluki pack perdamaian. Setidaknya itu yang aku pernah dengar dari ibu dan nenekku."
"Lalu.. Kenapa pack kalian hancur?"
"Darkness."
"Darkness? Siapa itu?"
"Dia penyihir, penyihir hitam yang sangat kuat. Dia bisa menaklukkan seluruh makhluk supranatural di dunia ini, bahkan yang terpilih saja mati."
"Yang terpilih?"
"Iya, yang terpilih. Tujuh penyihir putih terkuat. Mereka mati di tangan Darkness. Hanya satu yang menyisakan keturunannya dan sekarang menjadi yang terpilih juga. Tapi kini yang terpilih hanya satu."
"Dan Darkness hanya sendiri?"
"Sendiri, kejam dan sangat kuat."
"Kenapa dia begitu kuat?"
"Entahlah aku tidak tahu. Aku tidak paham soal sihir. Yang jelas, karena Darkness itu pack kami jadi runtuh. Pack kami menolak bergabung dengan Darkness. Jika aku pikir, tentu saja menolak. Darkness kejam, dia tidak segan menyiksa bahkan membunuh. Setelah Darkness membunuh luna, mereka juga membunuh seluruh anggota pack. Aku dengar yang tersisa memilih bersembunyi. Karena itu kami tidak pernah membuka jati diri pack kami. Kami biarkan mereka semua menganggap kami punah, untuk kebaikan kami. Karena itu aku mengerti jika ibumu pindah pack Allana. Mungkin dia mau yang terbaik untuk anak-anaknya."
Allana terdiam. Benarkah?
Suara riuh terdengar tiba-tiba. Allana, Gyria dan Leysha serempak menoleh. Mereka kedatangan beberapa manusia serigala. Pria tentu, itu yang membuat mereka sedikit riuh. Dari beberapa pria itu terdapat dua orang yang Allana kenal.
"All, mate-mu." bisik Gyria.
"Sssttt... Dia bukan matre-ku." sahut Allana cepat.
"Apa kau gila? Dia menyatakan kau mate-nya waktu itu, apa kamu tidak ingat?"
"Aku ingat." Lesyha ikut menjawab.
"Tentu aku ingat! Hanya saja dia memang bukan mate-ku. Aku tidak merasakan apapun!"
"Al, kita manusia serigala. Sudah seharusnya jika serigala lawan jenis menyatakan kita mate-nya, kita juga merasakan dia adalah mate kita."
"Itu masalahnya! Aku tidak merasakan apapun. Bahkan sedikitpun."
"Jadi maksudmu.... Dia berbohong?"
"Aku tidak mengatakan itu. Aku hanya bilang aku tidak merasakan apapun tentang mate."
Gyria dan Leysha saling menatap sejenak lalu berpaling pada Allana. Allana menatap Arthur yang sedang berbicara dengan Beck dan Melisa. Arthur sekilas menatap Allana, membuat Allana terkejut lalu segera memalingkan wajahnya. Kini wajahnya memerah. Dia ketahuan sedang menatap Arthur diam-diam.
"Apa kamu baru menyadari jika dia tampan?" ledek Gyria yang juga memergokinya. Allana memutar bola matanya.
"Aku juga tahu dia tampan. Aku memang tidak memiliki perasaan tentang mate tapi mata dan penilaianku tidak buta." sahut Allana cuek lalu segera pergi. Gyria segera menyusul.
"Jadi... Kau akan bersamanya kan?"
"Astaga Gyria..."
"Apa? Dia tampan, dia alpha dan terlebih dia mate-mu."
"Sudah aku katakan dia bukan--" Allana terdiam. Dia melihat satu sosok yang membuatnya menghentikan kata-katanya lalu berbalik dan pergi meninggalkan Gyria yang bingung. Gyria ingin mengejar Allana tapi langkahnya terhenti saat melihat Arthur telah mendahuluinya.
"Apa kamu menghindariku?" tanya Arthur saat sudah berada tepat di belakang Allana. Allana menghentikan langkahnya. Allana menarik nafasnya lalu berbalik. Arthur sudah menatapnya menunggu jawaban darinya.
"Aku tidak menghindari siapapun."
"Benarkah?"
"Benar. Aku hanya uhm... sibuk, dengan latihanku."
"Kau bisa menyapaku."
"Apakah aku harus? aku bahkan tidak mengenalmu."
"Kau tidak mengenalku... benarkah?"
"Tentu." jawab Allana pasti. 'Gadis ini aneh' pikir Arthur.
"Kita pernah bertemu Allana, kau ingat?"
"Tentu aku ingat. Aku mengenalimu, kau.. adalah alpha di ...uhm... pack... itu." Allana melupakan nama pack Arthur jadi dia hanya bisa berkata pack itu.
"Lalu kenapa kamu berkata kamu tidak mengenalku?"
"Karena aku memang tidak mengenalmu tuan alpha." kata Allana cepat membuat Arthur mengerutkan keningnya. "Ya, aku tahu, rumit. Tapi begitulah adanya."
Allana berbalik dan pergi meninggalkan Arthur yang masih bingung dengan tingkah Allana sementara Allana berjalan cepat dan semakin jauh dari Arthur lalu bersembunyi di balik pohon untuk menenangkan dirinya. Bahkan sekarang Allana jauh dari tempat mereka berlatih.
"Kenapa aku mengatakan hal aneh itu? aku mulai gila." Allana mulai menyesali kata-kata bodohnya. "Apa benar dia mate-ku? laki-laki sombong itu? lalu kenapa aku tidak merasakan apapun? Dia yang berbohong atau aku yang aneh? tidak, tidak, tidak... dia tidak mungkin berbohong. Untuk apa dia berbohong. Dia alpha, tampan dan dia memiliki segalanya, meski dia sombong. Jadi tidak mungkin dia berbohong, dia tidak punya alasan untuk itu. Apa karena aku warrior? tapi aku di ramalkan untuk menyelamatkan packnya Gyria, bukan pack alpha itu. Lalu apa? aku aneh?"
Allana bergumam sendiri. Dia juga merasa heran kenapa dia tidak merasakan hal-hal tentang Mate dan sebagainya.
"Apa mungkin karena aku baru menjadi manusia serigala jadi aku tidak paham tentang mate? tapi Derek berkata jika kita merasakan kehadiran mate kita akan menjadi sedikit gila, akan jatuh cinta dan... jatuh cinta? pada laki-laki sombong itu? ughh tidak mungkin! aku tidak mau. Huft!! dan bisa aku pastikan aku tidak jatuh cinta padanya! tidak mungkin."
"Apa yang tidak mungkin?"
"Ahh maaf... aku tidak bermaksud."
"Kenapa datang diam-diam seperti itu?"
"Diam-diam? aku? tidak... aku tidak datang diam-diam. Kamunya saja yang dari tadi diam disini dan bergumam tidak jelas."
"A-aku? aku tidak bergumam tidak jelas."
"Benarkah? Kamu bahkan sampai tidak menyadari kedatanganku."
"Kamu saja yang datangnya tidak bersuara."
"Lalu apa kamu bisa jelaskan mereka?" Renald menunjuk beberapa anggota packnya yang berdiri tidak jauh dari mereka. Allana terkejut. "Aku tidak berjalan sendiri. Aku bersama mereka yang bisa aku pastikan sangat ribut dan kamu juga tidak mendengar kedatangan mereka."
Allana memasukkan bibirnya ke dalam mulutnya lalu segera tersenyum kikuk.
"Kamu bahkan sampai tidak menyadari kedatangan kami, berarti kamu sedang memikirkan hal yang menarik."
"Menarik? tidak, sangat tidak menarik." jawab Allana cepat. "Sedang apa kamu disini? dihutan ini sangat berbahaya."
"Whoaa... lihatlah siapa yang berbicara. Khawtirkan dirimu sendiri saja nona. Sedang apa seorang gadis berdiri sendirian disini?"
"Aku-- bukan urusanmu. Aku bisa jaga diriku sendiri."
"Tentu, aku tidak meragukan itu." Renald mencoba percaya karena terakhir dia bertemu Allana, Allana hampir mati di tangan para rogue.
"Kalau begitu aku pergi saja. Kau juga pergilah, bisa-bisa di makan serigala disini." kata Allana seenaknya membuat Renald tersenyum geli.
"Tenang saja, sebelum mereka memakanku aku akan memakan mereka terlebih dahulu."
"Ahh benar, kamu manusia serigala juga."
"Yup!" Renald mengangguk membenarkan.
"Sebenarnya sedang apa kamu disini? maksudku di kota ini."
"Aku pertukaran pelajar, apa kamu tidak tahu?"
"Kamu yakin hal itu?"
Renald tertawa geli. "Tentu saja. Kamu pikir aku akan rela meninggalkan packku begitu saja? Jika bukan karena pertukaran pelajar bodoh ini aku tidak akan pergi."
"Benar itu nona, alpha satu ini gila kerja dan latihan di pack, jadi dia tidak akan pergi." Ted yang sudah berdiri di samping Renald ikut berbicara. Renald memutar bola matanya mendengar perkataan Ted.
"Alpha? dia alpha?"
"Iya, tentu."
"Dia tidak terlihat seperti alpha bagiku." sahut Allana polos. Ted dan semua gamma mulai menahan tawa mereka sementara Renald bermuka masam.
"Lalu aku terlihat apa bagimu?" tanya Renald dengan nada kesal.
"Uhmm... biar ku pikirkan." Allana diam sejenak dan tampak berpikir. "Omega?"
"Om--om-- apa?!" pekik Renald tidak percaya.
"Bwahahahahaha!!!" semua orang yang menahan tawanya mulai mengeluarkan suara tawa mereka. Bahkan mereka tertawa cukup keras. Renald menatap semua orang dengan raut yang sangat kesal membuat mereka semua kembali menahan tawa mereka dan tertunduk.
"Apa kau sudah gila?" tanya Renald pelan dan tegas.
"Aku? tidak, aku tidak gila."
"Aku omega? bahkan itu lebih rendah dari Gamma!"
"Well setidaknya omega bukan yang terendah di kalangan werewolf."
"Ap-- kau gila."
"Hei! tidak sopan. Aku tidak gila! lihat saja tubuhmu."
"Ada apa dengan tubuhku?"
"Tidak seperti tubuh alpha kabanyakan."
"Memang seperti apa tubuh alpha kebanyakan?"
"Tinggi, berotot, kekar dan memiliki kharisma khas layaknya pemimpin." kata Allana. Dia melihat tubuh alpha Dwaine dan alpha Arthur seperti yang di sebutkannya tapi tidak dengan tubuh Renald.
Renald menatap Allana tidak percaya. Ya, dia memang tidak seperti alpha Dwaine maupun Arthur. Tubuhnya tinggi berotot tapi tidak sebesar Arthur. Tubuhnya tinggi proposional. Tapi tidak sekekar Arthur yang terlihat otot-otot besarnya meski dia mengenakan baju. Tubuh Renald lebih mirip Kei, tinggi proposional tapi tidak nampak otot jika mengenakan baju.
"Allana....!!" sebuah teriakan menariakkan nama Allana. Allana terkejut.
"Mereka mencariku. Aku harus segera kembali. Sebaiknya kalian pergi dari sini jika tidak ingin mendapatkan masalah. Ada alpha yang cukup kuat di sana." Allana berjalan menjauhi mereka. "Sampai jumpa omega dan cepatlah pergi." Allana berlari.
"Omega? dia memanggilku-- aakhhhh menyebalkan!!"
Ted tertawa lagi sementara para gamma hanya tersenyum kecil karena mereka masih menahan tawa mereka. Mereka takut jika mereka tertawa, Renald akan semakin marah. Mungkin tubuh Renald tidak sekekar Arthur tapi Renald alpha yang sangat kuat, terlebih jika dia marah. Renald mulai berjalan berlawanan arah dari tempat Allana berlatih, tentu saja dengan muka masam. Ted tidak henti-hentinya tertawa, membuat Renald muak.
"Hentikan tawa jelekmu itu!" pekik Renald.
"Oh ayolah Ren, ini lucu sekali!" Ted tertawa lagi. "Bayangkan saja, kau di bilang seorang omega gara-gara kamu tidak tinggi, berotot, kekar dan kamu bahkan tidak memiliki kharisma sebagai pemimpin. Bwahahahahah itu lucu sekali. Bahkan omega kita saja ototnya besar-besar."
"Akkhh diamlah!!"
"Mungkin anda perlu membesarkan otot anda alpha, mungkin dengan begitu anda terlihat seperti alpha." saran Immanuel. Renald menatap Immanuel kesal dan membuat Ted semakin tertawa geli.
"Ternyata gammamu sendiri menganggapmu tidak punya otot Ren, tidak kekar! astaga ini lucu sekali!!" Ted tertawa lagi. Renald semakin kesal.
"KAU..." Renald menunjuk Immanuel. Immanuel terkejut lalu menundukkan kepalanya sambil merutuki dirinya. Ted merangkul pundak Renald.
"Sudahlah jangan marah. Mereka hanya bercanda."
"Tidak lucu!" Renald melepaskan tangan Ted dari pundaknya.
"Oh ayolah... kita butuh hiburan, kita sudah berjalan jauh di hutan ini, tapi setidaknya kita butuh hiburan sedikit. Well... tadi itu bukan sedikit tapi luar biasa." Ted kembali terkekeh.
"Tapi itu tidak lucu. Bagaimana bisa kealphaanku di pertanyakan?"
"Dia hanya tidak tahu Ren."
"Ya, ya terserah saja." Renald masih saja kesal. Ted tersenyum geli.
"Tapi ngomong-ngomong, sampai kapan kita terus berjalan? kakiku sudah sakit. Kita tidak akan sempat latihan jika terus berjalan."
"Hutan ini kelihatannya bagus untuk latihan alpha." Immanuel, salah satu gamma mulai berbicara saat mereka sampai di hutan sisi yang lain.
"Karena itu kan kita kemari? mencari tempat latihan. Tapi tidak apa-apa alpha? maksudnya disini memang wilayah netral tapi disini masih banyak manusia serigala yang lain seperti tadi. Pasti mereka juga berlatih."
"Mungkin tapi kita setidaknya mencarinya. Aku tidak perduli, meski kita disini kita tetap akan latihan. Jangan malas!"
"Apa kamu lupa jika alpha kita satu ini gila latihan? meski dia tidak berotot dan kekar, dia yang paling gila latihan." bisik Ted.
"Aku dengar itu!" mereka masuk semakin dalam ke hutan.
"Bagaimana jika disini?" Ted menyarankan. Renald berkeliling di sekitar sebelum memutuskan.
"Baiklah. Mari kita berlatih."
Semua mulai bersiap dan membuka baju masing-masing.
"Ahh sial!" keluh salah satu gamma.
"Ada apa Rodge?"
"Makanan."
"Jangan katakan kamu meninggalkannya."
"Uhmm..."
"Ahh sialan kau Rodg! kenapa yang begitu penting tertinggal?"
"Hehehe maaf..."
"Lalu kamu mau kita makan apa?"
"Bagaimana kita kalahkan serigala Rodge lalu memanggangnya bersama." saran Brody.
"Ahhh tidak, dagingnya tidak enak, pahit! huweek.."
"Berhenti bercanda. Rodge kembali dan ambil makanan kita."
"Tapi saya bahkan tidak hafal jalan kembali alpha."
"Waktumu hanya setengah jam." Renald mengancam.
"Ahh sial, kita saja jalan satu jam lebih tadi." kata Rodge pelan.
"Karena itu sebaiknya kamu berangkat sekarang."
"Ba-baik alpha."
Semua tersenyum senang melihat kesengsaraan Rodge.
"Berhenti tersenyum dan ayo latihan."
"Wah... wah... lihatlah siapa disini."
Sebuah suara mengehentikan latihan mereka. Semua orang menoleh.
"Aku tidak tahu akan melihatmu disini."
"Arthur." Renald hanya menatap sejenak lalu memaligkan wajahnya.
"Apa yang kau lakukan disini? jauh dari rumah?"
"Bukan urusanmu."
"Ahh apa bocah sepertimu gagal memimpin packmu? kasihan sekali."
"Lalu apa yang kamu lakukan disini? berusaha mencari perlindungan terhadap semua penyerangan yang terjadi di hampir seluruh pack?"
"Hah!" Arthur tertawa. "Packku besar kau tahu, bahkan pasukanku lebih banyak dari para gadis-gadis itu." Arthur menunjuk para gamma Renald.
"Apa dia bilang? gadis?" Immanuel mulai kesal.
"Hei, hei..dia itu alpha." Brody mencoba menenangkannya.
"Apa maumu Arthur?"
"Hanya menyapa para gadis."
"Aku tidak ingin berurusan denganmu."
"Aku juga tidak ingin, sangat tidak ingin. Tapi aku peringatkaanmu. Jangan sekali-kali kamu mendekati gadis itu."
"Gadis? gadis apa?"
"Kau tahu gadis siapa. Sepertinya kalian dekat." Arthur memperhatikan mereka saat mereka berbicara tadi. Dia bersembunyi dan mendengarkan dalam diam sedari tadi lalu mengikuti Renald. Renald menatap Arhur bingung sejenak lalu akhirnya dia mengerti siapa yang di bicarakan Arthur.
"Ahhh... lalu apa urusanmu jika aku mengenalnya? urus saja packmu yang di serang itu, jangan suka mencampuri urusan orang lain dan pergilah! ini tempat kami latihan dan kami akan latihan."
Arthur tersenyum sinis.
"Ingat ini, Jika kamu mendekatinya itu akan menjadi urusanku, jika kamu berbicara padanya itu akan menjadi urusanku dan jika kamu menyentuhnya sedikit saja, itu juga akan menjadi urusanku, kau mengerti?"
Arthur menatap tajam Renald. Renald mengenali tatapan Arthur. Dia tahu Arthur tidak main-main.
"Kenapa itu jadi urusanmu?"
"Karena dia milikku."
*****
tadariez