Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 38 : Goodbye Leysha



Sementara itu....


"Apa kalian menemukannya?" tanya Derek.


"Maaf beta, tapi tidak ada." sahut anggota pack Derek.


"Kami juga sudah mencari di seluruh rumah. Tidak ada Allana." sahut Gyria dan Erica yang baru saja dari rumah Renald.


"Tempat latihan juga tidak ada beta."


"Astaga kemana anak itu." Derek mulai khawatir. Dia menatap sekitarnya dan berkacak pinggang. Derek mengusap wajahnya kasar.


Sekelompok orang mulai berdatang. Di antara kelompok itu ada Renald dan Tedd. Derek segera mendatangi mereka.


"Bagaimana alpha? Apa penyusupnya tertangkap?" tanya Derek.


"Kami berhasil menangkap beberapa orang. Tapi hanya satu yang tersisa. Karena mereka mulai membunuh diri mereka sendiri dengan memakan racun wolsfbane. Tapi kami berhasil menyelamatkan satu orang." jelas Renald.


Terlihat dua orang mengangkat satu orang yang terlihat tidak sadar.


"Bawa dia ke sel. Salah satu gamma awasi dia."


"Baik alpha." beberapa orang mulai membawanya pergi.


"Bagaimana Allana? Apa dia sudah kembali?" tanya Renald.


"Kami tidak bisa menemukannya di manapun. Kami sudah mencarinya kemana-mana."


"Itu tidak mungkin.. Itu aneh. Kecuali jika dia berada di..." Renald tidak melanjutkan kata-kata.


"Tidak mungkin kan alpha? Dia tidak mungkin ke sana. Tidak ada yang boleh."


"A-apa maksudnya? Apa yang tidak boleh? Kemana?" tanya Derek.


"Ada sebuah tempat di hutan terlarang. Tempat itu tidak boleh di datangi oleh siapapun. Tapi tempat itu sudah di sembunyikan, dengan aman. Sampai sekarang, tidak ada yang masuk kesana. Jadi tidak mungkin."


"Tapi alpha, dia tidak ada di mana-mana. Mungkin saja dia di sana." sahut Derek. Dia terlihat putus asa.


"Baiklah. Aku akan menunjukkan jalannya. Ayo."


"Itu-- itu Allana!" tunjuk Erica tiba-tiba. Semua menoleh ke arah yang ditunjuk Erica. Mereka melihat satu orang yang berjalan terhuyung menuju mereka. Derek dengan cepat berlari.


"All!!"


"Kak.." tubuh Allana lemas. Derek menangkap tubuh Allana yang terjatuh.


"Allana?! Kau kenapa?"


"Sebaiknya bawa dia ke kamar. Gyria, Erica, ikut Derek dan rawat Allana." pinta Renald. Derek menggendong Allana dan segera masuk ke dalam rumah diikuti Erica. Hanya Gyria yang terdiam di tempatnya.


"Berarti masih ada yang tersisa dari penyusup itu." sahut Ted. Renald mengangguk.


"Benar Ted, ayo kita berkeliling lagi." sahut Renald.


"Alpha, boleh kami ikut berkeliling?" sahut salah satu anggota Derek.


"Tidak perlu, kalian tamu. Jika kalian ingin membantu kami, patrolilah sekitar rumah, berjagalah."


"Baik alpha."


"Sedang apa kamu disini? Apa tidak ingin menemani Allana?" sahut Renald saat melihat Gyria masih berdiri diam ditempatnya. Gyria tidak menjawab. Hanya diam. "Gyria? Kau baik-baik saja?"


"Crysort."


"Apa?"


"Crysort alpha. Pelakunya... Crysort."


"Kau yakin?"


Gyria mengangguk. "Hmm... Yakin."


"Baiklah. Sebaiknya kau masuk. Mungkin Allana butuh dirimu." Renald segera melangkah pergi. Gyria juga melangkah masuk ke dalam rumah.


Beberapa saat yang lalu...


Allana dan Melissa sama-sama terbaring lemah. Mereka berusaha kembali bangkit dan siaga. Melissa tidak menyangka Allana bukan seperti Allana yang dulu. Allana memang terluka karena serangannya tapi dia juga sama terlukanya dengan Allana. Mereka seimbang. Allana kuat dari sebelumnya. Melissa bersiap menyerang lagi tapi tiba-tiba dia merasakan kehadiran satu serigala lagi. Melissa tampak waspada sejenak lalu mulai bersikap tenang saat serigala itu menggeram pelan. Melissa menggeram pelan lalu pergi bersama serigala yang baru saja datang tadi. Allana masih berdiri tegak, waspada jika Melissa kembali. Tapi setelah beberapa lama, tubuh serigalanya jatuh di atas tanah. Nafas terengah. Dia begitu lelah, sakit dan lemas. Tubuh serigala Allana berubah menjadi tubuh manusia. Allana tidak langsung bangkit. Dia ingin memulihkan tenaganya sedikit sebelum berjalan mencari jalan. Tubuhnya tidak mengenakan sehelai kain pun tapi dia tidak perduli. Rasa lelah dan sakitnya melebihi apapun. Terlebih, dia harus waspada jika Melissa kembali.


*******


Gyria berjalan mengendap-endap. Berusaha tidak terlihat. Sejujurnya, dia ahli itu, karena memang dia dilatih untuk menyusup. Tapi belakangan ini dia sulit fokus dan berlatih. Terlebih anehnya, Derek selalu tahu saat dia menyusup. Tapi sekarang semua orang sibuk dengan Allana, membuatnya bisa bergerak sedikit bebas.


Gyria membuka sebuah pintu lorong menuju bawah tanah setelah memingsankan satu orang penjaga dan membuatnya seolah-olah sedang tidur. Gyria melangkah masuk. Di dalam terlihat gelap. Hanya beberapa lampu redup yang menyala. Gyria melangkah masuk lebih dalam melalui lorong panjang yang hanya cukup di lewati dua orang. Setelah beberapa lama, langkahnya terhenti. Dia tiba di pertigaan lorong. Ada dua jalan yang harus dia lalui. Tapi sebelum memilih, dia mendengar jelas suara langkah menuju ke arahnya. Dua orang penjaga terlihat dari jauh sedang berjalan sambil mengobrol. Gyria memanjat dinding dengan melebarkan kedua kakinya dan menyeimbangkan dirinya dengan kedua kaki dan tangannya terbuka lebar, menumpu pada dinding paling atas. Dia menunggu para penjaga itu lewat.


"Gadis itu sudah sangat lemah tapi masih saja tidak berbicara sepatah katapun, bahkan menolak di berikan obat. Ini sungguh gila. Sebenarnya dari mana asal gadis itu?"


"Sepertinya dia di perintahkan mati daripada tertangkap, tapi malangnya gadis itu tertangkap."


"Kita tunggu alpha saja. Alpha punya keahlian dalam mengintrogasi seseorang. Aku yakin gadis itu akan mengakui semuanya jika alpha yang mengintrogasi."


"Kau benar, tidak ada yang bisa lolos maupun berbohong jika alpha yang berbicara."


Kedua penjaga itu berbelok dan menjauh dari Gyria. Setelah di rasa aman, Gyria melompat turun. Gyria melangkah ke arah lorong tempat kedua penjaga tadi keluar. Dia yakin yang di cari ada di sana.


Tak lama Gyria sampai di pintu terbuat dari besi yang cukup berat. Gyria membuka perlahan pintu itu. Satu orang penjaga terkejut, begitu juga Gyria.


"Sedang apa kau disini? Siapa kau?" tanya penjaga itu yang sudah waspada.


"Aku tamu alpha kalian. Aku... Ingin bertemu dengan gadis itu."


"Apa kamu sudah meminta ijin pada alpha?"


"Tentu sudah." Gyria berbohong. "Aku mengenal gadis itu, mungkin aku bisa membantu bertanya padanya. Aku dengar, kalian sulit membuatnya berbicara. Mungkin aku bisa, karena aku mengenalnya."


Penjaga itu tampak ragu. Dia tidak mudah percaya dengan ucapan Gyria.


"Apa aku perlu... Memanggil alpha kalian untuk mengkonfirmasi keberadaanku disini?"


"A-ah.. Tidak.. Tidak perlu. Silahkan." akhirnya mau tidak mau, penjagan itu membiarkan Gyria. Gyria bernafas lega, dia berhasil.


Di ruangan itu ada beberapa sel. Sel nya hanya terisi setengahnya. Gyria mendatangi sel gadis dari Crysort itu di antar penjaga itu. Di depan sel, dia melihat seroang gadis terbaring lemah membelakanginya.


"Terima kasih, kau bisa kembali ketempatmu." sahut Gyria. Tapi penjaga itu terlihat ragu meninggalkan Gyria hanya bersama tahanan itu. "Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya akan berbicara."


Penjanga itu akhirnya mengangguk dan pergi kembali ketempatnya semula.


"Gyria..." sebuah panggil lemah dari dalam sel. Gyria menoleh. Gadis itu telah duduk dan menghadap Gyria.


"Leysha... Kau baik-baik saja?" Gyria tampak khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.


"Kalau seorang dokter memangnya tidak bisa terluka? Lagipula, kenapa kau disini? Ada apa ini?"


"Aku tidak tahu Gy, aku hanya menuruti perintah."


"Ya, dari luna gila itu. Aku kira karena kamu ahli medis, kamu tidak akan turun ke lapangan, bertempur. Lalu apa ini?"


"Aku tidak tahu. Semenjak kepergianmu, aku tidak lagi memegang obat-obatan atau mengobati orang. Aku selalu berlatih bertempur siang dan malam. Uhuk... Uhuk.. Uhukk..."


"Kau baik-baik saja? Aku akan mengambilkan air."


"Tidak! Jangan kemana-mana. Aku.. Aku ingin kamu disini, menemaniku."


"Tapi--"


"Waktuku tidak banyak Gy."


"Apa maksudmu?"


"Mereka memang bisa mencegahku meminum racun itu tapi mereka sudah meminumkan racun lain padaku sebelum kami kemari. Racun yang penawarnya hanya di miliki luna Chloe."


"Luna sialan itu..." geram Gyria.


"Dia lunamu Gy."


"Tidak lagi. Dia sudah lama bukan luna ku lagi. Aku akan memberitahukan pada alpha Renald. Dia akan membantumu."


"Dia tidak akan membantuku setelah apa yang aku lakukan Gy. Sekalipun dia membantuku, semua sudah terlambat. Aku sudah tidak tertolong lagi. Racunnya sudah menyebar Gy. Wolfsbane hanya akan mempercepat kematianku. Meskipun aku tidak memakannya, tetap saja terlambat."


"Tidak, itu tidak benar. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku akan memberitahukan alpha." Gyria mulai berjalan.


"Aku mohon.... Aku mohon tinggalah." sahut Leysha membuat Gyria menghentikan langkahnya. "Jangan pergi Gy. Temani aku."


Gyria masih diam lalu akhirnya dia menghela nafas kasar. Dia duduk tepat didepan sel Leysha sambil bersandar di sel. Leysha melakukan hal yang sama dari dalam sel.


"Aku minta maaf Gy."


"Aku sudah memintamu untuk pergi dari pack itu, kau menolaknya. Kau berkata kau akan baik-baik saja disana karena mereka tidak akan melakukan apapun padamu karena kau bagian mengenal penyembuhan."


"Aku juga tidak... uhuk.. menyangka.... akan seperti ini."


"Mereka memiliki penyihir, seharusnya sudah kau duga hal itu. Kita mempelajari penyihir saat kita kecil kan? kata beta Beck, kita harus mengenal musuh kita dengan baik dan kau tahu, penyihir tidak perlu dokter untuk menyembuhkan diri. Mereka hanya memerlukan mantra dan ramuan."


"Aku tahu itu, tapi--"


"Jika kau tahu kenapa kau masih bertahan di sana?! kau ini bodoh atau terlalu naif?!" Gyria berbalik dan menatap Leysha. Leysha hanya duduk lemah menatap dinginnya tembok sel. "Maaf, aku terlalu... aku keterlaluan." Gyria kembali ke posisi awal.


"Tidak masalah Gy, aku tahu kamu seperti itu karena kamu perduli padaku. Aku saja yang terlalu bodoh dan naif, seperti katamu--"


"Tidak, abaikan kata-kataku tadi. Aku hanya--"


"Tidak Gy, kau benar. Aku begitu bodohnya masih bersama luna Chloe dan begitu naifnya saat aku berharap dia akan berubah. Aku masih ingat dia begitu baik pada kita dulu. Aku tidak menyangka dia akan seperti ini."


"Para penyihir itu aku rasa. Semenjak mereka datang ke pack, luna berubah. Crysort sungguh mengecewakan."


"Tidak Gy, bukan Crysort. Pack tidak bersalah. Yang salah adalah penghuninya, anggotanya. Ditambah pemimpin yang penuh ambisi seperti Luna. Entah bagaimana jadinya pack ini nanti. Sayangnya aku tidak akan melihatnya."


Gyria menoleh kesal dan menatap Leysha tajam. "Kau akan melihatnya. Harus melihatnya! kau dengar aku?! kau akan melihatnya!"


"Uhuk... uhuk....." Leysha mulai batuk lagi. Rasa terbakar di tenggorokannya kembali lagi. Tubuhnya mulai lemah, bahkan kakinya sudah mati rasa. Dia tahu dia tidak akan bertahan sampai besok pagi.


"Kamu... baik-baik saja?" tanya Gyria khawatir.


"Kamu tahu aku tidak baik-baik saja. Tapi aku pernah lebih baik dari ini." Leysha terkekeh kecil.


"Kamu masih bisa tertawa? apa kau gila?"


"Mungkin... tapi apa kamu ingat waktu kita kecil saat kita lomba lari bersama anak-anak lain?"


"Kenapa dengan itu?"


"Apa kamu ingat anak yang bernama uhm... Sofia, ya Sofia. Rambut coklat ikal? dia selalu sombong pada kita berkata bahwa dia selalu yang paling unggul? Saat lomba lari itu dia mendorong anak culun itu... uhmm... Dex! agar si culun Dex memilih jalan yang penuh dengan air. Dia tidak hanya sombong, tapi licik. Tapi akhirnya si culun Dex bisa mengalahkannya. Dan lucunya lagi, Sofia berusaha menabrak tubuh Dex ke kubangan lumpur, tapi Dex bisa menghindar dan justru Sofia sendiri yang jatuh ke lumpur. Kau ingat saat semua tubuhnya bahkan rambutnya penuh lumpur dan pasir? hahahaha... the best day ever!!"


"Hentikan Leysha."


"Oh ayolah... aku ingin bernostalgia denganmu. Dan kau ingat waktu--"


"Hentikan!! aku tidak mau mendengarnya lagi!" Gyria menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya. Entah kenapa dia menolak untuk menerima kenyataan jika Leysha sekarat. Dia tahu betul Leysha tidak akan bertahan. Gyria meneteskan air matanya.


"Gy." Leysha menyentuh lembut tangan Gyria yang masih menutup telinganya. Gyria menurunkan tangannya. Dengan cepat dia menghapus air matanya lalu menoleh pada Leysha. "Berjanjilah padaku Gy. Berjanjilah kau akan tetap hidup."


"Tentu saja, aku tidak akan mati sebelum aku membunuh luna itu."


"Tidak, jangan.. bukan itu. Tapi berjanjilah, berjanjilah kamu akan bertahan hidup, entah kamu melarikan diri, bertarung atau apapun, kamu akan tetap hidup. Berjanjilah Gy."


"Kau memintaku berjanji tapi lihatlah dirimu, kau sendiri seperti ini."


"Tidak ada yang bisa dirubah dariku Gy, kau tahu itu. Tapi kamu bisa. Berjanjilah Gy, aku mohon."


Gyria menundukkan kepalanya. Lalu mengangguk perlahan.


"Aku perlu kata-katamu. Aku tahu kamu orang yang selalu menepati kata-katamu."


"Baiklah, baiklah... Kamu cerewet sekali. Istirahat saja sana." gerutu Gyria. Leysha tertawa tertahan. Bahkan dia tidak punya tenaga untuk tertawa. Taklama mereka terdiam sejenak, mencoba menikmati kesunyian. Ada beberapa sel yang terisi tapi sunyi, karena mereka tertidur. Hanya sesekali terdengar gerakan seseorang yang membalikkan tubuhnya, atau batuk bahkan tak segan meminta mereka untuk memelankan suara mereka.


"Gy..." Leysha sudah semakin lemah. Tangannya mulai tidak bisa di gerakkan.


"Hm?" jawab Gyria lembut.


"Kau ingat lagu kita? Yang kita selalu nyanyikan dari kita kecil? Kita mendengar lagu itu saat kita memasuki kota pertama kali dari persembunyian."


Gyria hanya diam. Ya, dia ingat lagu itu. Lagu itu sepertinya cukup terkenal di kota itu sampai-sampai mereka mendengarnya berulang kali. Mereka bersenandung nada dari lagu itu kemanapun mereka pergi. Bahkan saat mereka takut atau ada masalah, mereka bersenandung dengan lagu itu untuk menenangkan diri.


"Hmm~ Hmmm~~ Hmmm~~..." Leysha mulai bersenandung lagu itu. "Oh ayolah Gy, ayo bersenandung denganku."


Leysha mulai bersenandung lagi. Gyria kembali meneteskan air matanya tapi segera dia hapus lalu menarik nafasnya dan bersenandung bersama Leysha.


Mereka bersenandung selama beberapa menit sampai akhirnya Gyria menyadari hanya suara dia yang terdengar. Leysha tidak bersenandung lagi. Gyria menghentikan senandungnya.


"Ley, kau tidur? Katanya kau ingin bersenandung." Gyria mengamati Leysha. Tidak ada jawaban maupun gerakan dari Leysha. Hening. Gyria mengulurkan satu tangannya, memeriksa hidung Leysha. Tidak terasa hangat atau nafas keluar. Gyria memposisikan tubuhnya menghadap Leysha. Dia mencoba mendengar dengan pendengaran serigalanya. Tidak terdengar detak jantung Leysha. Sedari tadi Gyria memang terus mendengarkan detak jantung Leysha makanya dia sering terdiam. Sampai saat Leysha memintanya untuk bersenandung dengannya.


"Kau ingat saat kita masih kecil? Kita bersumpah untuk selalu bersama.." Gyria memeteskan air matanya lagi. Kali ini jauh lebih banyak dari sebelumnya. Gyria memegang tangan kaku Leysha. "Maafkan aku... Seharusnya aku memaksamu untuk pergi bersamaku. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu... Hiks.. Ini semua salahku.. Aku... Hiks... Aku... Maafkan aku Ley... Kita berjanji akan selalu bersama-sama. Tapi aku meninggalkanmu.... Aku minta maaf... Kamu akan baik-baik saja sekarang. Tidak ada rasa sakit lagi dan tidak ada lagi yang akan menyakitimu. Kau akan tenang. Tunggu aku Ley, aku akan menyusulmu. Pasti."


Gyria menundukkan kepalanya lalu menangis. Selamat jalan Leysha.


******


...tadariez...