
Allana masih berjalan bolak balik di kamarnya. Dia masih merasa tidak tenang. Dia masih memikirkan Renald dan packnya. Apa mereka selamat dan bagaimana keadaan mereka.
Tak lama terdengar ketukan di kamarnya. Allana membuka pintunya, sudah ada Jim di sana.
"Apa aku boleh masuk?"
"Tentu."
Jim melangkah masuk ke dalam kamar. Allana langsung menutup pintunya.
"Duduklah." tawar Allana.
"Tidak perlu. Maaf aku tahu tidak sopan mendatangi kamar seorang gadis tapi aku hanya akan memberitahukan sesuatu. Nanti malam para Elder akan datang."
"Elder? Penyihir?"
"Iya, petinggi para kaum putih."
"Seperti alpha di kaum manusia serigala."
"Bisa di katakan begitu. Tapi masih ada yang tertinggi."
"Benarkah?"
"Iya, yang terpilih."
"Apa dia sekuat itu?"
"Sangat. Dia bisa menghancurkan satu kaum jika dia mau."
"Apa kamu pernah bertemu dengannya?"
"Dia penyihir dan tinggal di Disprea, tentu aku pernah. Tapi kita tidak akan membahas itu. Elder akan datang nanti malam dan memberitahukan tentang temuan mereka."
"Temuan?"
"Iya, mereka mencari tahu tentangmu, Allana. Bagaimana membuatmu kembali seperti semula."
"Apa mereka tahu caranya?"
"Aku tidak tahu. Mungkin, mungkin juga tidak. Mereka akan berusaha. Kei ingin mengetahui segalanya jadi dia meminta untuk bertemu Elder. Kita akan tahu mereka sudah mengetahuinya atau belum saat mereka datang."
Allana terdiam. Dia sangat berharap mereka tahu agar semua masalah ini selesai. Dia ingin pulang.
"Allana, boleh aku memberi saran?" tanya Jim.
Allana mengangguk. "Tentu."
"Jika memang para Elder belum mengetahui caranya, ikutlah dengan Kei ke CivilHill. Berlatihlah bersama mereka."
"Tapi aku... Tidak memiliki jiwa manusia serigala lagi."
"Kamu masih memilikinya Allana. Hanya sedikit tapi itu cukup."
"Aku tidak yakin. Aku sudah merepotkan semua orang. Kei, Elder, Renald. Aku takut mereka akan terluka karena aku."
"Elder bergerak atas perintah yang terpilih dan Kei? Kei... Raja kaum kalian. Sudah semestinya dia membantumu. Terlebih luna yang membuat masalah. Lagipula Kei kuat Allana, sangat kuat. Jadi tidak perlu khawatir."
"Aku harap begitu."
"Jadi aku sarankan, ikutlah dengannya. Meski masih belum berubah, cari ilmu dengannya."
"Akan aku pikirkan."
"Baiklah. Aku pergi dulu."
"Oke."
Jim melangkah keluar kamar tapi saat membuka pintu, langkahnya terhenti.
"Ahh iya, aku lupa. Temanmu ada di penjara bawah tanah."
"Teman?" Allana terkejut.
"Iya teman... Uhmm... Gy.. Uhmm.."
"Gyria?"
"Ya, dia!"
"Ke-kenapa dia disini?"
"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi dari apa yang di katakan Kei, ada yang menyuruhnya."
"Benarkah?"
"Iya, Kei akan mencari tahu nanti malam. Kamu pasti akan di panggil."
"Baiklah."
"Aku pergi dulu."
Jim menutup pintu kamar dan pergi. Gyria kemari! Tapi bagaimana bisa dia tahu aku kemari? Tunggu, penyerangan itu! Apa dia tahu tentang itu?
Di kepala Allana sudah banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dia jawab. Allana menghela nafas kasar dan merebahkan tubuhnya di kasur.
*****
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dari satu ruangan.
"Masuk." sahut satu orang di dalam ruangan. Satu orang wanita masuk lalu membungkuk hormat.
"Bagaimana? Apa ada kabar dari Gyria?"
"Belum luna. Gyria di tahan oleh mereka."
"Kau yakin di tahan?" Melisa mencurigai.
"Yakin beta. Menurut mata-mata kita di pack Lykort, dia di kurung di penjara bawah tanah."
Luna Chloe mengerutkan keningnya.
"Kenapa anak itu di kurung? Bukankah Allana dan Gyria teman baik?"
"Luna, apa mungkin mereka akan menyiksanya?"
"Mungkin. Aku tidak tahu."
"Biar saja Beck. Itu pengorbanannya demi Pack."
"Dia hanya anak-anak Melisa!"
"Lalu? Tidak masalah bagiku."
"Hentikan!" tegur luna Chole.
Beck mendengus kesal. Dia kesal kenapa Gyria terus dilibatkan. Dia sudah bekerja baik menjaga Allana dan sekarang dia harus di korbankan dengan alasan pack.
"Melisa benar Beck. Jangan terlalu perduli padanya. Aku tahu kamu hanya kasihan padanya tapi jangan berlebihan. Biarkan dia berkorban untukku dan packku."
Beck hanya diam. Dari awal dia sudah sangat tidak setuju dengan semua ini. Tapi dia tidak punya pilihan banyak. Chloe adalah lunanya dan dia beta dari luna chloe. Hubungan mereka sangat terikat. Dia cuma berharap anak-anak itu, Gyria dan Allana, bisa bertahan atau bahkan bisa terlepas dari semua ini.
"Tetap awasi mereka dan laporkan segera padaku."
"Baik luna."
*****
Allana berdiri diam. Di ruangan yang cukup luas itu, sudah terdapat beberapa orang. Hanya beberapa yang Allana kenal di ruangan itu. Kei sudah duduk di atas singgasananya. Mereka masih menunggu penjaga yang akan membawa Gyria.
Tak lama beberapa penjaga datang. Dua orang penjaga membawa Gyria dan meletakkannya di tengah ruangan. Gyria duduk di atas kedua kakinya di temani dua penjaga di kedua sisinya.
Allana menghela nafas kasar. Dia masih tidak habis pikir, bagaimana Gyria tahu tentang keberadaannya disini dan juga bagaimana pack Crysort tahu. Di satu sisi Allana masih percaya pada Gyria, entah kenapa. Di sisi lain, dia masih mencoba menyingkirkan pikirannya tentang Gyria yang mungkin, secara diam-diam, memata-matainya dan memberitahukan pada luna Chloe.
"Katakan, siapa kamu sebenarnya." Ian mulai berbicara. Semua orang menatap Gyria. Gyria mengangkat kepalanya. Dia memperhatikan sekitarnya.
"Apa para penjaga menyiksamu sehingga kamu tidak bisa mengatakan apapun?"
"Sa-saya.. Saya..." Gyria menelan ludahnya. Dia mencoba menenangkan dirinya. "Nama saya Gyria. Saya gamma dari pack moon Crysort."
"Pack apa?"
"Crysort?"
"Astaga apa benar? Aku kira pack itu sudah punah."
"Aku juga berpikiran seperti itu."
Satu ruangan mulai riuh.
"Tenang! Harap tenang!!"
"Sudah aku katakan kan ayah, cukup kita saja. Kenapa harus repot mengundang mereka?" bisik Kei pada ayahnya yang juga duduk di sebelahnya. Kei menghela nafas kasar.
"Mereka berhak ikut Kei, mereka--"
"Dewan kerajaan. Iya, aku mengerti ayah. Tapi bahkan kita masih belum tahu pasti ada apa."
"Kamu tahu ayah tidak bisa menyembunyikannya."
"Kei tidak minta di sembunyikan, Ayah. Cukup di tunda, hanya itu. Kita bisa mengundang mereka saat semua sudah pasti."
"Kamu tahu mereka selalu minta di libatkan dalam hal apapun."
"Kalau begitu aku akan gunakan monster itu biar mereka paham dan menurut." tegas Kei. Ayah Kei hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa tujuanmu kemari?" Ian melanjutkan bertanya pada Gyria saat ruangan mulai tenang.
"Aku... Aku... Hanya..."
Gyria semakin gugup.
"Apa kamu tahu siapa aku?" tanya Kei. Gyria menatap Kei sejenak lalu menundukkan kepalanya.
"Ta-tahu. Ra-raja... Raja Lycanthrope."
"Kamu tahu di mana ini?"
"Pack moon Lykort. Pack tempat anda berasal."
"Dan kamu masih tetap berani masuk kemari. Kenapa?"
"Saya... Saya..." Gyria kembali gugup dan semakin tertunduk.
"Apa tujuanmu kemari?"
"Mengu-mengunjungi teman."
"Teman?"
"Y-ya yang mulia."
"Siapa?"
Gyria menatap Allana yang berdiri agak jauh di sebelah kanannya.
"Allana."
Semua menatap Allana.
"Allana adalah temanmu?" ulang Ian.
"Iya beta. Dia alasan saya kemari."
"Bagaimana kamu tahu dia ada disini?" tanya Ian lagi, membuat Gyria menunduk lagi.
"Saya... Saya..."
"Apa ada yang menyuruhmu?"
"Saya... Tidak.. Saya.."
Gyria kembali terbata. Dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Kei memperhatikannya sedari tadi. Ada yang aneh menurutnya.
"Ian, apa kau perhatikan?" tanya Kei melalui mindlink alpha beta mereka.
"Iya Kei. Dia selalu terbata saat membahas tentang dia disini."
"Kepalanya Ian! Saat kamu bertanya tadi, dia selalu menoleh sedikit kebelakang."
"Benarkah?"
"Iya. Coba kau tanya lagi."
"Baik Kei. Akan aku coba."
"Kenapa kamu tidak menjawab?! Bagaimana kamu tahu dia disini sementara yang tahu hanya anggota keluarga kerajaan!"
Ian memperhatikan Gyria. Dia terkejut. Apa yang dikatakan Kei memang benar. Saat Gyria mulai gugup, dia selalu menoleh kebelakang sedikit. Ian menatap orang-orang yang berdiri di belakang.
"Sepertinya ada yang dia sembunyikan."
"Sepertinya ada seseorang di ruangan ini yang membuatnya seperti itu."
"Jadi apa yang harus kita lakukan Kei?"
"Biar aku ambil alih."
Kei menatap Gyria.
"Apa kau tidak mau menjawab pertanyaannya?!"
Kei mulai bertanya.
"Maaf... Saya.. Saya..."
"Very well then. Bawa kembali dia. Siksa dia sampai dia mengaku. Kalau perlu aku sendiri yang akan menyiksanya." Kei mengeluarkan kuku tangannya yang panjang. Bola matanya berubah menjadi merah terang lalu memutih. Semua orang terkejut. Ada beberapa orang terlihat ketakutan melihat Kei mulai berubah. "Dia sudah membuang waktuku."
"Tu-tunggu, apa benar dia akan disiksa? Itu bohongkan?"
"Aku rasa tidak, mengingat reaksi yang mulia seperti itu, dia sudah pasti di siksa." jawab satu orang yang berdiri di dekat Allana.
"Tapi, dia belum tentu bersalah!"
"Tenanglah Allana, mungkin ada penjelasan tentang ini." Jim mencoba menenangkan. Allana menghela nafas kasar. Tiba-tiba mata Allana menangkap satu sosok di kejauhan. Ryan. Allana mulai berlari menuju Ryan.
"Hei, Allana! Mau--" Jim ikut berlari.
"Beta Ryan! Beta!"
"Allana?"
"Saya ingin bertanya, kenapa--"
"Mari, ikut saya." Ryan langsung berjalan menuju keluar ruangan tanpa menghiraukan kata-kata Allana.
"Tunggu, saya--"
"Nanti saja bicaranya. Ikuti aku saja."
Ryan berjalan lebih cepat lagi menyusuri koridor demi koridor, membuat Allana dan Jim kewalahan mengikutinya. Tak lama Allana dan Jim kehilangan jejak Ryan.
"Astaga, di mana dia? Kenapa dia berjalan cepat sekali?" Jim mengacak rambut hitamnya.
Tiba-tiba tangan Allana di tarik. Allana terkejut dan hampir berteriak. Ryan dengan cepat menutup mulut Allana dengan tangannya dan menempelkan jari telunjuk tangan satunya ke mulutnya. Ryan kembali menarik Jim yang masih bengong berdiri lalu menutup pintunya.
Allana memperhatikan sekitarnya. Yang seharusnya dinding, kini berubah menjadi sebuah jalan rahasia.
"Ini jalan rahasia?" tanya Jim.
"Begitulah. Ayo kita pergi." Ryan kembali berjalan. Allana dengan segera menyusul.
"Tapi kenapa kita disini?"
"Agar tidak ada yang bisa mengikuti kita."
"Memangnya ada yang mengikuti?"
"Menurut kami ada. Ada pengkhianat di pack ini."
"Siapa??"
"Belum bisa dipastikan. Kami masih mencari tahu."
Allana memegang lengan Ryan, menghentikan Ryan berjalan.
"Lalu kita mau kemana?" Allana menatap Ryan dengan kebingungan di matanya. "Temanku akan disiksa dan sekarang aku tidak tahu akan di bawa kemana."
"Kamu akan segera tahu Allana, setelah kita sampai. Ayo, semakin cepat semakin baik." Ryan kembali berjalan. Allana hanya menghela nafas kasar. Jim mendorong pelan tubuh Allana agar kembali berjalan. Mau tidak mau, Allana kembali berjalan.
Ryan membuka satu pintu saat mereka sudah sampai di ujung lorong. Cahaya yang cukup terang menyilaukan mata.
"Masuklah." Ryan mempersilahkan. Allana menatap Ryan sejenak lalu segera masuk ke dalam.
Allana terbelalak kaget. Ruangan itu cukup luas, bercatkan warna putih bersih. Ada lampu kristal cukup besar menggantung di langit-langit ruangan, beberapa kursi di sisi-sisi dekat dinding dan juga satu meja panjang terbuat dari kayu yang di letakkan di tengah ruangan.
"Kemarilah." pinta Kei. Allana menurut dan berjalan mendekat.
"Allana!"
Gyria meneriakkan nama Allana. Allana menoleh dan mendapati Gyria berdiri di ujung ruangan itu bersama dua penjaga. Allana cukup terkejut dengan itu. Dia mengira Gyria sudah berada penjara bawah tanah dan di siksa.
"G-Gyria? Ba-bagaimana bisa?"
"Kami tidak membawanya ke ruang bawah tanah lagi Allana." sahut Ian.
"Lalu... Apa yang terjadi? Aku tidak mengerti."
"Duduklah."
Allana masih diam berdiri di tempatnya. Dia mencoba mencerna apa yang terjadi.
"Apa yang kau pikirkan? Ayo duduk."
"Jadi apa Gyria adalah tawanan kalian?"
"Tidak Allana. Well, awalnya iya. Tapi sekarang tidak. Kami memutuskan untuk mengintrogasinya, disini."
"Karena ada pengkhianat di pack kalian?"
"Mungkin, itu baru dugaan kami dan di perkuat oleh Gyria."
Allana menatap Gyria yang juga sedang menatapnya lalu dengan segera kembali menatap Kei.
"Apa maksudnya?"
"Dia, dengan secara tidak langsung tentu, memberitahukan pada kami jika ada pengkhianat di packku tapi kami masih menyelidikinya."
"Tap-tapi saya..." Gyria bingung. Dia tidak merasa memberitahukan apapun tapi dalam hatinya dia lega, Kei telah mengetahui hal itu bahkan tanpa dia memberitahukannya secara langsung.
"Jadi... Gyria, kamu harus berkata jujur sekarang." Kei menatap Gyria. "Tenang saja, ruangan ini aman. Hanya orang yg terpercaya yang tahu dan bisa masuk ke dalam ruangan ini."
Gyria masih diam. Dia tertunduk. Ada sedikit keraguan di hatinya. Dia punya alasan untuk ragu, tapi dia sisi hatinya yang lain dia tahu, jika dia bisa mempercayai Kei.
"Mereka mengikuti dan memata-matai saya selama ini."
"Mereka?"
"Anggota pack lain, atas perintah luna Chloe."
"Berarti mereka tidak percaya padamu? Kenapa?"
"Karena saya... Berteman dengan Allana dan mencoba menolongnya. Saat di goa itu, saya mencoba menolong Allana dari ritual itu, tapi saya gagal, saya tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. Saya hanya bisa menyaksikan semua itu." Gyria meneteskan air matanya." Saya sungguh menyesal yang mulia."
"Apa kamu punya alasan untuk itu? Alasan kenapa kamu tidak membantunya?"
"Itu karena.. Karena..."
"Karena ibunya." Allana yang menjawab. "Ibunya juga anggota pack Crysort. Mereka menjadikan ibunya sebagai alat untuk mengendalikan Gyria."
"Apa itu benar?"
"Luna chloe membuat ibuku bersumpah yang mulia."
Semua menatap iba. Mereka tahu Gyria di posisi sulit saat ini. Hanya satu orang yang terlihat bingung, Allana.
"Aku tidak mengerti, sumpah apa yang kalian maksud."
"Di pack manusia serigala ada dua sumpah Allana. Sumpah setia pada alpha dan pack. Tentu itu harus di lakukan. Tapi ada sumpah yang satu lagi. Dan aku tebak, sumpah itu yang ibumu lakukan?"
Gyria hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kei.
"Karena itu aku mengerti kesulitanmu."
"Tapi.. Sumpah apa itu?"
"Tidak hanya sumpah setia, tapi bersumpah jika tidak menurut atau ada salah satu dari keluarga berkhianat dan membuat ulah, mereka akan dibunuh, seluruh keluarga akan dibunuh."
"Apa? semuanya? Meskipun mereka tidak bersalah? +"
"Iya. Tapi... Bagaimana bisa ibumu melakukan sumpah itu?"
"Karena ayahku. Ibu menyelamatkanku dari ayahku dengan meminta bantuan dari luna Chloe dan sebagai balasan, ibuku melakukan sumpah itu."
"Bagaimana cara mematahkan sumpah itu?"
"Tidak ada Allana. Itu sumpah sampai mati."
Semua orang terdiam. Lalu tak lama terdengar ketukan di pintu. Ryan bergegas menuju pintu dan membukanya. Beberapa orang berpakaian serba putih masuk ke dalam ruangan. Yang paling menarik perhatian Allana adalah satu pria bertubuh agak gemuk, yang mengenakan pakaian gaun panjang putih bersih. Dia merasa aneh pada pria itu. Bahkan Allana mulai berfikir pria itu aneh atau fanatik bahkan gila. Semua berpakaian seperti biasa, sewajarnya manusia tapi pria itu berbeda. Pria itu di sambut Kei dengan hangat.
"Aku tahu kamu memperhatikan apa." tebak Jim yang melihat ekspresi Allana saat menatap pria bergaun panjang tadi.
"Apa.. Dia memang aneh begitu? Maksudku... Pakaiannya." tanya Allana tanpa mengalihkan pandangannya dari pria itu.
Jim tersenyum geli. "Dia tidak aneh Allana. Itu adalah pakaian kebesaran dari kaum putih. Biasa yang mengenakan itu para elder tua. Dan jangan salah. Dia damian, pemimpin elder sekaligus elder yang terkuat."
Allana terkejut dan menatap Jim tidak percaya.
"Jangan bercanda."
"Tidak bercanda. Dan aku rasa, dia yang akan membawa informasi tentangmu mengingat dia sendiri yang datang kemari." Jim ikut menatap Damian.
"Saya kira hanya utusan anda saja yang datang. Saya tidak ingin merepotkan."
"Tidak repot yang mulia. Lagipula saya ingin datang sendiri kemari. Tampaknya kastil ini lebih sedikit berwarna dari terakhir saya kemari?"
"Yeah, begitulah. Ibu suka menghiasi segalanya. Wanita."
"Ahh... Karena sebelumnya tidak ada wanita."
"Anda benar. Ordovic tidak memiliki istri. Jadi setelah kami kembali tinggal disini, ibu saya yang sibuk mendandani kastil ini. Bahkan dia ingin mencat kastil ini berwarna pink! Astaga, jika saja ayah tidak menghentikannya mungkin ini sudah menjadi kastil pink."
Damian tertawa geli. "Anda sungguh beruntung memiliki ibu seperti ibu anda."
"Yeah, saya yakin begitu. Tapi meski kadang suka menyulitkan dan membuat saya tepuk jidat, setidaknya itu sebuah hiburan keluarga yang sangat menarik dan hangat."
"Anda benar sekali. Wanita sangat cerewet tapi di balik cerewetnya, ada kehangatan hatinya yang selalu menghangatkan kita. Anda ternyata sudah sangat paham akan wanita."
"A-apa? A-hahhaha.. Tidak, tidak.. Saya tidak begitu."
"Ehem!" Ian berdehem keras membuat Damian dan Kei menoleh padanya. "Apa kalian akan terus membahas soal wanita?"
"Ah! Benar! Bicara soal wanita, warrior itu... Wanita, bukan?"
"Benar sekali. Allana kemarilah." pinta Kei. Allana menoleh ke Jim sejenak lalu berjalan menuju Kei. "Perkenalkan, ini ketua elder, Damian Breggier dan Damian, ini warrior yang sudah di ceritakan pada anda, Allana Layford."
"Hallo Allana... Senang akhirnya, bisa bertemu denganmu."
"Ha-hallo..."
"Oh jangan gugup denganku. Aku tidak akan menyihirmu menjadi kodok." ucap Damian ramah. Allana hanya tersenyum kecil.
"Jadi.. Apa anda membawa kabar?"
"Ahh... Tentang itu.. Tentu saja. Hanya saja, agak sulit."
"Apa yang membuatnya sulit? Ahh.. Maafkan ketidaksopanan saya. Mari, silahkan duduk."
Semua orang mulai memenuhi kursi yang tersedia, termasuk Allana.
"Ada satu cara, menurut buku maria, para Elder dan tentu saja Bian. Kami sepakat, hanya itu cara yang tepat."
"Apa itu?"
"Perlu ditegaskan, kami para elder, ikut membantu hal ini karena kami mencegah terjadinya perang lagi. Sudah cukup yang kita alami saat Kei, Ordovick dan Roger. Meski kita berhasil mengatasinya tapi kita harus bisa mencegah yang lain terjadi. Kami sudah berbicara juga pada penyihir Phyrthia. Jika luna itu bisa mendapatkan seluruh jiwa serigala dan kekuatan Allana, akan terjadi perang lagi. Dia akan menjadi sangat kuat. Menjadi kuat tidak masalah, yang menjadi masalah adalah untuk apa kekuatan itu di gunakan. Saat para knirer membantu pelarian Allana kemari, kami menangkap beberapa penyihir."
"Apa mereka mengatakan sesuatu?"
"Ya yang mulia. Mereka mengatakan sejujurnya. Tentu, setelah meminum ramuan the truth dari kami. Tidak akan ada yang bisa berbohong setelah meminum itu."
"Apa yang mereka katakan?"
"Sesuatu yang membuat saya cukup terkejut. Luna itu berencana akan mengambil alih beberapa pack, sebanyak mungkin yang dia bisa."
"Apa? Untuk apa itu?"
"Setelah mengumpulkan pack, mereka berencana mengambil alih kerajaan ini."
Semua terkejut.
"Dia... Tidak akan bisa, benarkan? Aku memiliki monster itu."
"Yang mulia, jika dia memiliki semua jiwa serigala dan kekuatan Allana, itu mungkin. Karena bisa di pastikan, dia sangat kuat karena dia juga seorang penyihir. Jadi saya sarankan, mengalahkannya sebelum dia mendapatkan seluruh jiwa serigala dan kekuatan Allana."
"Tapi bahkan Allana tidak bisa berubah."
"Bisa. Ada cara untuk membuatnya berubah. Tapi hanya untuk sementara."
"Be-benarkah? Saya bisa berubah?"
"Iya nona. Tapi... Ini sulit."
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Pergi ke kuil moon godness, kuil maria."
"Ma-maria? Siapa itu?"
"Manusia serigala memiliki dewa yang mereka puja. Moon Godness. Moon godness sebenarnya adalah seorang penyihir, yang terpilih, yang menciptakan manusia serigala pertama kali. Dia mendirikan tempat peristirahatan yang memiliki kekuatan sihir yang luar biasa. Tidak semua orang bisa masuk. Bahkan yang terpilihpun akan terkuras tenaganya jika terlalu lama disana."
"Jadi.. Jika kamu adalah warrior itu, kamu pasti bisa."
"Lalu...apa yang harus aku lakukan?"
"Melakukan sebuah ritual di sana."
"Ritual? Lagi?"
"Iya. Lalu setelah itu, jiwa serigalamu akan kembali, tapi hanya untuk sementara. Akan ada batas waktunya. Jadi sebelum batas waktunya, kamu harus bisa mengalahkan luna itu dan mengembalikan jiwa serigalamu."
"Aku akan membantumu mengalahkannya, tenang saja."
"Ohh tidak yang mulia. Jika tentang pertarungan Allana dan Luna itu, anda tidak bisa membantu. Jiwa serigala Allana yang di pertaruhkan disini, jadi hanya Allana yang harus melakukannya. Karena jika salah satu dari mereka mati, maka yang menang akan mendapatkan jiwa serigala seutuhnya."
"Ma-mati? Kenapa harus mati?"
"Karena nona, ini pertarungan sampai mati."
Semua orang menatap Allana yang sudah terdiam dan menatap Damian tidak percaya.
"Aku... Tidak akan bisa melawannya. Aku akan mati."
*****
Tadariez