
Gyria tertidur selama di perjalanan. Tubuhnya terlalu sakit dan sulit di gerakkan. Derek membawa Gyria kembali ke pack alpha Dwaine. Alpha Dwaine memerintahkan untuk kembali ke pack. Tidak ada berpergian sampai benar-benar sembuh.
Gyria sudah satu minggu terbaring lemah. Dokter pack memberinya obat penenang dan penghilang rasa sakit. Meski manusia serigala bisa menyembuhkan diri sendiri tapi itu butuh proses lama dan pack alpha Dwaine tidak bekerja sama dengan penyihir tapi alpha Dwaine memiliki dokter yang handal disisinya.
Gyria membuka matanya perlahan. Angin yang masuk ke dalam kamar melalu jendela terbuka mengenai pipinya lembut. Gyria duduk perlahan. Tubuhnya masih terasa sakit tapi lukanya sudah mulai sembuh. Gyria duduk dan menatap kamarnya. Dia mengenal kamar ini. Kamar kecil berbentuk segi empat. Ada satu ranjang besar dan lemari pakaian di ujung ruang. Ini adalah kamarnya di pack alpha Dwaine. Gyria mengingat semua yang terjadi, termasuk ciuman itu. Gyria tersenyum simpul mengingat kejadian itu. Ciuman intens dan pelukan hangat yang diterimanya dari mate-nya, Derek. Selama ini dia menahan segala keinginan untuk bersamanya, mencari masalah denganya. Dia merasa dia tidak bisa memilikinya karena status mereka dan Gyria yang berasal dari Crysort. Dia selalu berpura-pura tidak tertarik padanya. Tapi sekarang berbeda. Setidaknya itu yang di pikirkan Gyria.
Derap langkah kaki berjalan cepat menuju kamarnya. Adiknya, Lily, berlari ke arahnya.
"Akhirnya kakak bangun juga. Kenapa lama sdkali tidurnya?" tanya Lily. Lily memiliki rambut coklat ayahnya sementara Gyria memiliki rambut merah ibunya.
"Apa kamu menungguku?" tanya Gyria sambil membelai rambut adik satu-satunya itu.
"Hmm..."
Gyria tersenyum lalu mempererat pelukannya.
"Lalu.. Di mana ibu? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Gyria. Lily melepaskan pelukannya.
"Ibu ada di dapur dan kami baik-baik saja. Aku sudah mulai sekolah. Meski aku tidak suka sekolahku." Lily menundukkan kepalanya. Gyria memperhatikan Lily.
"Kenapa? Apa tidak nyaman?"
Lily mengangguk. "Aku tidak suka mereka. Aku lebih suka belajar bersama ibu. Apa aku harus bersekolah?"
"Mereka? Siapa?"
"Anak-anak yang sekolah di sana. Dia mengejekku tentang aku yang tidak memiliki ayah dan penampilanku yang miskin. Kak, apa aku benar-benar harus bersekolah?"
Gyria terdiam sejenak. "Ya, harus."
"Tapi aku bisa belajar di rumah bersama ibu. Aku bahkan mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajaran saat di sekolah. Semua yang di ajarkan ibu itu sama. Aku malah justru lebih paham ibu menjelaskan daripada guru-guru itu."
"Tapi Lily sekolah tidak hanya tentang belajar pelajaran. Tapi bagaimana kita menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, dengan teman-teman kita. Mereka seperti itu karena mereka tidak mengenalmu. Tapi saat mereka sudah mengenalmu dengan baik, kakak yakin mereka akan senang memiliki teman sepertimu."
Lily menatap kakaknya dengan kerutan didahinya.
"Kakak yakin itu?"
Gyria mencubit pelan pipi Lily. "Tentu saja. Apa kamu tidak bermain di luar? Sedang apa disini?"
"Ibu menyuruhku mengejakan PR." Lily berjalan menuju meja di ruangan itu.
"Kalau begitu kakak akan membantu ibu di dapur." Gyria menyingkap selimutnya dan turun dari kasur.
"Bukankah kakak masih sakit?" tanya Lily sambil menatap kakaknya.
"Kakak sudah baik-baik saja. Kerjakan dengan benar."
"Iya, iya..."
Gyria tersenyum lalu keluar kamarnya dan menuju dapur. Di dapur dia melihat banyak pekerja melebihi biasanya. Gyria mencari ibunya yang tidak dia temukan di dapur. Dia bertanya pada beberapa orang di dapur, mereka berkata ibunya sedang mengantar makanan di tempat latihan. Gyria menyusul ibunya ke tempat latihan. Untuk ke sana dia harus melewati halaman belakang yang terdapat taman di sana. Ada air mancur cukup besar di tengah-tengah taman. Gyria ingin memberitahukan ibunya perihal mate-nya, bahwa dia sudah menemukan mate-nya. Karena ibunya berkata jika dia menemukan mate-nya, dia akan terbebas dari luna Chloe. Dia berhak memilih menjadi anggota pack Crysort atau mengikuti mate. Luna Chloe tidak akan memiliki alasan untuk nenyakitinya lagi atau mengincar keluarganya.
Gyria berlari kecil melewati air mancur yang cukup besar itu. Air mancur itu tinggi dan sangat indag. Tapi langkahnya terhenti. Dia menoleh melihat air mancur. Di sana ada Derek sedang berdiri. Gyria tersenyum simpul. Perlahan kakinya mendekat ke arah Derek. Saat semakin dekat, langkahnya terhenti, senyumnya hilang. Dia melihat Derek mencium seorang wanita di sana. Mereka berciuman seolah tidak ada hari esok. Bahkan tangan Derek mulai menjalar ke dada wanita itu. Seketika itu tubuh Gyria membeku di tempat. Dia mengira Derek akan melupakan tunangannya tapi dia salah. Dia salah karena berharap. Dia menyaksikan semua itu sejenak lalu mundur kebelakang perlahan dan berbalik. Dia berjalan menjauh. Setelah agak jauh, dia berlari sekuat tenaganya dengan air mata yang mulai turun.
...***...
Allana terus melihat kebelakang, ke arah Renald selagi kakinya melangkah pergi dari pack Renald. Allana memutuskan untuk pergi. Meskipun dia merasa Arthur bukanlah mate-nya, tapi semua orang tidak akan mempercayainya. Dia tidak memiliki bukti dan bisa saja perasaannya tertunda karena kesibukannya melarikan diri akhir-akhir ini. Mungkin karena dia belum mengenal Arthur sama sekali. Dia juga tidak ingin ada pertikaian antar pack hanya karena dia.
"Kamu baik-baik saja Al?" tanya Erica. Allana mengangguk.
Mereka memasuki mobil yang terparkir agak jauh dari rumah Renald. Sebelum masuk mobil sekali lagi dia menoleh pada Renald. Mobil itu melaju dengan kencang keluar dari pack Zykolt.
"Apa kamu yakin untuk keluar dari Zykolt? Aku rasa Zykolt lebih aman." tanya Erica setelah mereka sampai dan berada di kamar yang telah disiapkan untuk Allana. Allana menatap Erica bingung.
"Itu benar All, sebagai mate itu hal yang wajar. Menyelamatkanmu. Tapi aku tetap berpendapat Zykolt tempat yang aman. Terlebih jika itu dari pack Crysort. Karena pack itu memiliki penyihir."
Allana menghela nafas lalu berjalan menuju jendela. Dia menatap beberapa orang berjalan di luar. Kamarnya di lantai dua. Rumah itu tidak seperti rumah Renald yang bentuknya seperti kastil kerajaan. Rumah Arthur hanya seperti rumah orang kaya kebanyakan. Elegan, besar, dan memiliki perabotan yang mahal.
"Katakan padaku All." Erica sudah berdiri di sebelah Allana. "Apa kamu sungguh tidak memiliki perasaan dengan Arthur?"
"Entahlah Er, aku tidak tahu."
"Kau tidak tahu?"
"Hmm... Mungkin karena aku tidak mengenalnya dengan baik, atau mungkin aku terlalu sibuk jadi aku tidak pernah memikirkan tentang perasaanku. Entahlah aku tidak tahu. Tapi aku benar-benar tidak memiliki rasa apapun saat melihatnya." Allana menatap Arthur yang sedang berbicara dengan beberapa pria paruh baya. "Tapi anehnya, aku justru menyukai orang lain."
"Orang lain? Siapa?" tanya Erica. Dia cukup terkejut dengan pernyataan Allana. Erica terdiam sejenak, tampak berpikir lalu dia tersentak. "RENALD?"
Allana tidak menjawab. Dia masih menatap Arthur dari jendela kamarnya. Kenapa aku tidak menyukaimu?
...***...
"Luna..." satu wanita paruh baya menunduk hormat pada luna Chole. Luna masih menutup matanya dan berkonsentrasi.
"Luna.. Maaf tapi ini penting."
Luna Chloe membuka matanya, menunjukkan bola matanya yang merah. Dia teramat tersinggung melihat kekurangajaran anggota packnya yang mengganggunya.
"Saya membawa kabar, luna." kata wanita itu lagi. Luna Chloe menghela nafas kasar.
"Jika ternyata tidak penting, aku akan membunuhmu."
"Allana pergi dari pack Zykolt."
Luna Chloe terkejut. "Apa katamu?"
"Allana meninggalkan pack Zykort."
"Lalu kemana dia?!"
"Kami menduga ke pack Foykolt luna."
"Foykolt? Tapi kenapa?"
"Kami mendengar, alpha baru dari pack Foykolt adalah mate dari Allana."
Luna Chloe kembali terkejut. Dia menaikkan satu alisnya.
"Mate?"
"Iya luna. Alpha dari Zykolt dan alpha dari Foykolt sempat bersitegang. Alpha pack Foykolt menjemput Allana secara langsung ke Zykolt."
"Menarik sekali. Kalau begitu kita tidak perlu repot."
"Benar luna." sahut Melissa.
"Siapkan pasukan." kata luna Chloe pada Melissa. Melissa menunduk hormat lalu pergi meninggalkan ruangan itu. "Rosmary, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?" tanya luna Chloe pada salah satu penyihir.
Rosmary tersenyum. "Tentu saja."
"Kita akan melakukan perburuan." luna Chloe tertawa.
...***...
tadariez