Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 43 : Penyerangan Rogue



Beberapa serigala berlari menyusuri hutan. Dia mengejar beberapa serigala yang yang lewat tadi. Tiba-tiba terdengar lolongan salah satu anggotanya.


"Biar aku kejar dia, kalian ke arah lolongan tadi."


"Baik Beta!"


Ted berlari cepat mencoba mengejar serigala tadi. Serigala itu begitu cepat. Pack Zykolt tiba-tiba mendapat serangan Rogue yang cukup banyak. Mereka tiba-tiba masuk wilayah Zykolt. Karena jumlah yang banyak dan tersebar, mereka sedikit kewalahan.


"Ted, kau di mana?" Renald mindlink Ted.


"Mengejar satu Rogue alpha. Dia... Akan melarikan diri pack."


"Biarkan saja dia keluar."


"Tapi--"


"Lakukan saja lalu kembalilah*."


"Baik."


Ted menghentikan langkahnya lalu kembali. Di lain tempat Renald sudah mematikan tiga Rogue sekaligus. Lolongan demi lolongan terus bersautan. Renald memerintahkan agar melolong ketika mereka bertemu Rogue.


"Alpha..." Ted sampai di tempat Renald. Di melihat tiga serigala yang sudah terbaring kaku di tanah.


"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa mereka banyak sekali?"


" Aku juga tidak tahu. Mereka seperti tidak berhenti berdatangan dan anehnya mereka menyebar. Ren, mereka seperti di organisir oleh seseorang."


"Kamu benar Ted, tapi siapa?"


"Apa mungkin alpha Arthur?"


"Arthur? Apa maksudmu?"


"Setelah dia kemari menjemput Allana, penyerangan ini terjadi."


"Tidak, Ted. Tidak mungkin dia. Harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan hal seperti ini dan Rogue? Dia tidak akan mau berurusan dengan Rogue."


"Aku kira kamu membencinya ternyata kamu sangat mengenalnya."


"Sayangnya aku memang mengenalnya. Ayo kita membantu yang lain jangan sampai mereka menuju ke--"


"Alpha!! Ada Rogue masuk ke wilayah pemukiman manusia biasa!!"


"Sial! Yang baru saja mau aku katakan kenapa sudah terjadi. Ayo, Ted!"


Renald dan Ted berlari menuju perbatasan kastil dan penduduk. Meski pemukiman dan kota merupakan wilayah Zykolt juga tapi selama ini tidak pernah ada yang mengetahui tentang manusia serigala. Beberapa serigala bergabung dengan Renald dan Ted. Mereka berhenti tepat di dekat pemukiman.


"Dia pergi kemana?" tanya Renald pada yang melapor tadi.


"Ke arah sana alpha!"


"Jadi bagaimana sekarang Ren?"


"Ted, minta paman Ben ambil mobil dan kalian, yang diri menjadi manusia dan cari. Jangan sampai lolos."


Ted berlari meninggalkan Renald. Beberapa orang juga.


"Immanuel, apa masih ada yang di hutan?"


"Masih alpha."


"Aku percayakan hutan padamu."


"Baik alpha."


Renald bersama tiga serigala lain merubah diri menjadi manusia lalu berlari mendekat ke kerumunan warga.


"Astaga itu Renald..." beberapa gadis seumuran Renald yang kebetulan berada di sana mulai mengaguminya, terlebih Renald hanya mengenakan celana pendek tanpa kaos. Mereka mulai berbisik.


"Ada apa ini?" tanya salah satu anggota pack Renald yang lebih tua pada beberapa manusia biasa yang sedang berkumpul


"Oh kau Kris. Ada hewan besar baru saja lewat tadi." sahut salah satu manusia biasa.


"Lewat mana?" tanya Kris lagi.


"Menuju ke kota. Makhluk apa itu sebenarnya?"


"Iya, sepertinya berbahaya."


"Tuan-tuan dan nyonya-nyonya! Sebaiknya anda semua pulang. Biar pihak yang berwenang yang menangani ini semua. Kita tidak tahu apa makhluk itu berbahaya atau tidak. Untuk amannya sebaiknya kita berdiam di rumah." ujar Kris. Semua orang mulai berbicara sendiri lagi sambil mengangguk mengangguk setuju dan membubarkan diri satu persatu.


"Alpha."


"Kalian susuri jalan tadi. Uhmm mengenakan baju tentu. Jika kalian dapat, arahkan ke hutan. Mengerti?"


"Baik alpha."


Tiga orang tadi berlari mengikuti jejak Rogue. Satu orang berlari mendekati Renald.


"Bagaimana dengan yang di dalam?"


"Sudah mulai teratasi alpha."


"Bagus. Yang tersisa hanya yang masuk kepemukiman warga."


"Ini gara-gara saya alpha."


"Kenapa begitu?"


"Saya lengah saat melawannya. Dia memanfaatkan itu dan pergi."


Renald menatap laki-laki di hadapannya. Umurnya terlihat lebih muda dari Renald. Renald menepuk pundaknya.


"Tidak masalah. Jangan khawatir. Kita akan dapatkan Rogue itu. Bersiap bersama yang lain untuk membawanya ke hutan. Mereka yang berada di pemukiman akan menemukan Rogue dan mengarahkan Rogue itu ke hutan. Saat itu tiba kita harus siap."


"Baik alpha."


"Sana pergi."


Anak itu mengangguk lalu pergi meninggalkan Renald. Beberapa orang sudah mulai masuk ke dalam rumah masing-masing. Renald kembali masuk ke dalam hutan.


"Ren, kami akan menjemputmu."


"Tidak, Ted. Kejar saja Rogue itu. Jangan sampai ke kota. Arahkan ke hutan. Aku akan berjaga di hutan."


"Baiklah kalau begitu."


Renald berubah menjadi serigala. Dia berlari menyusuri perbatasan pack di hutan.


Sementara itu di hutan...


Lucia, ibu Renald berlari dari kejaran Rogue. Dia awalnya ingin bertemu penyihir yang di panggil Allana tapi dia tidak tahu jika ada penyerangan Rogue. Lucia berhasil bersembunyi beberapa kali tapi Rogue itu selalu bisa mencium baunya. Alhasil Lucia kembali berlari. Dia tidak berlari kembali ke kastil tapi menuju tempat penyihir itu berada. Dia bisa melihat perbatasan Pack dan melihat satu orang berdiri di luar. Lucia mendatangi pria itu. Pria itu terkejut melihat Lucia berlari ke arahnya. Pria itu adalah Jim.


"Tolong aku..." kata Lucia. Jim mengerutkan keningnya. Sedetik berikutnya dia sadar apa yang wanita itu bicarakan. Satu Rogue sedang mendatangi mereka. Jim memposisikan dirinya di depan Lucia.


"Apa dia anggota pack anda nyonya?" tanya Jim.


"Tidak, dia Rogue."


Jim menatap Rogue. "Pergi."


Rogue itu tidak bergeming. Dia tetap mendatangi mereka dengan geramannya. Rogue itu melompat tinggi menerjang mereka.


"Dipercantian!"


Rogue itu terhempas tapi langsung berdiri kembali seketika.


"Electrico!"


Tubuh serigala itu bergetar hebat.


"Condeconsti!".


Rogue itu pingsan seketika. Lucia bernafas lega.


"Kau pasti Jim Maythem." tebak Lucia.


"Benar, nyonya."


"Apa hubunganmu dengan Thomas Mayhthem?"


"Dia ayah saya."


"Kau Jimmy?! Astaga kau sudah besar!" Lucia terlihat antusias.


"Anda mengenal ayah saya?"


"Tentu saja. Aku berteman dengan ayah dan ibumu sudah sejak lama. Ahhh benar.. Aku mendengar tentang ibumu. Aku turut berduka. Aku minta maaf tidak bisa datang saat pemakamannya. Karena berada di Disprea sementara aku tidak bisa kesana. Tidak lagi."


"Apa maksud anda? Anda bukan penyihir?"


"Tidak lagi. Well ceritanya panjang. Allana yang memanggilmu kemari."


"Allana? Bagaimana bisa?"


"Aku pernah menjadi penyihir sebelumnya jadi aku tahu trik kecil agar manusia biasa memanggil penyihir yang di kenalnya."


"Ahh... kenapa tidak melalui pos penyihir saja? Biasanya tiap kota memiliki itu."


"Tidak di Zykolt. Karenaku." Lucia merenung sejenak membuat Jim mengerutkan keningnya. "Ahh iya! Allana tidak disini lagi. Dia di bawa oleh mate-nya."


"Mate? Allana memeliki mate?"


"Benar. Kamu tidak tahu? Tunggu, apa kamu menyukai Allana? Maksudku.. Memiliki perasaan untuknya."


"Tidak, tentu saja tidak. Dia pernah berkata dia tidak memiliki mate karena itu--"


"Ahh.. Ya aku mengerti. Anak itu terus mengatakan hal itu. Apa itu mungkin?"


"Uhmm.. Nyonya saya sungguh tidak mengerti apa yang anda katakan."


"Lupakan. Allana berada di pack Foykolt. Mate-nya adalah alpha pack Foykolt."


"Baiklah, nyonya. Saya akan kesana. Terima kasih." sahut Jim lalu berbalik dan beranjak pergi.


"Uhm Jim?" panggil Lucia lagi. Jim berbalik lagi dan menatap Lucia. "Apa.. Ada kemungkinan... Uhmm... Aku bertemu dengan... Yang terpilih?"


"Apa ada masalah nyonya?"


"Tidak, tidak maksudku... Aku hanya bertanya. Mungkin saja aku bisa."


"Saat ini Yang terpilih sedang tidak bisa di temui."


"Tentu, tentu saja. Dia bukan penyihir yang bisa sembarangan di temui. Lalu apa ayahmu bisa?"


"Lucia. Lucia Volkov. Ahh tidak, jangan pakai nama suami saya. Katakan saja Lucia Bellhood ingin bertemu tepat disini dua hari lagi."


"Baiklah, akan saya sampaikan."


"Terima kasih Jim."


"Ibu?" sebuah panggilan membuat mereka menoleh. Renald . "Sedang apa disini?"


"Wow aku sudah lama sekali mendengar kata ibu."


"Itu sebuah kesalahan. Jangan mengalihkan pertanyaanku. Sedang apa disini dan siapa dia? Apa tidak tahu kalau pack sedang dalam penyerangan Rogue."


"Tidak, ibu tidak tahu. Ibu saja di serang tadi dan dia menyelamatkanku." Lucia menunjuk Jim lalu menunjuk Rogue yang masih pingsan. "Kamu ingat penyihir yang ingin di temui Allana? Dia penyihirnya."


"Dia masih... Muda." gumam Renald.


"Kamu pikir semua penyihir setua ibu? Aneh-aneh saja. Maafkan anakku Jim, pack ini tidak bisa dimasuki oleh penyihir jadi dia tidak sering melihat penyihir."


"Tidak masalah nyonya. Kalau begitu saya akan pergi ke pack Foykolt. Saya harus cepat karena ada hal harus saya kerjakan. Permisi nyonya, alpha." Jim berteleportasi.


"Apa tidak ada lagi selain rogue itu?" tanya Renald. Dia memeriksa Rogue yang pingsan itu.


"Tidak, tidak ada."


"Berarti bukan dari sini. Lalu dari mana mereka masuk?"


"Ibu akan masuk."


"Tunggu, jangan sendirian. Renald akan panggil Immanuel."


"Saya disini alpha." kata Immanuel yang baru saja datang.


"Antarkan nyonya itu pulang." sahut Renald tanpa menatap ibunya.


"Ya, benar Immanuel, antarkan nyonya ini pulang. Nyonya ini sungguh sangat lelah karena Rogue itu." sahut Lucia dan langsung beranjak pergi.


"Wah wah.. Kau sudah semakin besar." sahut seseorang. Renald mengenali suara itu. Langkah Lucia ikut terhenti dan menoleh. Dia terkejut pada apa yang di lihatnya. Renald menoleh.


"Halo ponakan."


"KAU! MAU APA KAU DISINI?!" pekik Lucia.


"Immanuel! Bawa dia pergi!" sahut Renald setengah berteriak.


"Kakak ipar? Wah wah... Aku tidak menyangka kau ternyata masih hidup. Ini kabar yang luar biasa."


"Hentikan omong kosongmu! Mau apa kamu kemari?! Jika kau berani menyakiti anakku lagi, aku akan--"


"Ohh tenang saja kakak ipar. Aku memang akan menyakitinya tapi tidak sekarang. Akan ada waktunya."


"Brengsek kau!"


"Immanuel! Bawa ibuku pergi!" pekik Renald.


"Ba-baik alpha."


"Tidak! Aku tidak akan pergi. Tidak akan aku biarkan--"


"PERGILAH! aku mohon.." pekik Renald tanpa melihat ibunya. Tatapannya fokus pada pria di depannya.


"Melihatmu masih menjadi alpha berarti sihirmu masih tidak berfungsi. Menarik." pria itu tersenyum. "Sampai bertemu lagi ponakanku. Ahhh selamat mengatasi para Rogue. Kakak ipar, kau tahu apa yang terjadi jika dia memiliki kekuatan sihirnya kan?" Pria itu tertawa lalu segera berubah menjadi serigala dan pergi. Beberapa gamma ingin menyusulnya.


"Tidak! Jangan menyusulnya. Urus saja para Rogue. Jangan urus yang lain."


"Nyonya! Apa anda baik-baik saja?" tanya Immanuel yang mendapati Lucia terduduk lemas di tanah. Renald menoleh dan hanya menatap Lucia.


"Sial..." lirih Lucia.


...***...


"Allana.."


Allana yang sedang berdiri di balkon kamarnya terkejut lalu berbalik. Jim sudah berdiri di dalam kamarnya.


"Jim? Apa-- bagaimana--"


"Aku penyihir, kau ingat?"


"Ahhh benar."


"Pack ini tidak dilindungi oleh sihir apapun jadi memudahkanku masuk. Kamu mencariku?"


"Benar. Uhmmm... Senang bertemu lagi denganmu by the way. Ini tentang luna Chloe."


"Ada apa dengannya?"


"Duduklah." Allana mempersilahkan Jim duduk di salah satu kursi. Jim menurut. "Aku mendengar dari salah satu beta luna Chloe, bahwa sihir luna Chloe sudah hampir sempurna."


"Sihir? Aku kira dia akan menyempurnakan jiwa manusia serigalanya."


"Karena itu aku ingin membahasnya denganmu."


Jim tampak berpikir. "Aku tahu jika ayah dari luna Chloe adalah penyihir tapi aku kira--"


Jim menghentikan kata-katanya. Dia kembali tampak berpikir.


"Jim, kenapa berhenti?"


"Ti-tidak.. Aku akan menyelidikinya dan memberitahukannya padamu." Jim tiba-tiba berdiri.


"Tidak! Aku tahu kamu tahu sesuatu."


"Tidak, Allana. Aku tidak tahu sesuatu. Aku hanya--"


"Kamu ternyata sama saja dengan mereka! Kamu juga menyembunyikan semua hal padaku. Aku berhak tahu. Ini menyangkut hidupku. Tapi kalian justru menyembunyikan semuanya." Allana menunduk. Air matanya tak terasa jatuh. Jim menghela nafas lalu menarik kursi dan duduk di depan Allana.


"Tatap aku, Allana." pinta Jim. Allana menggeleng. "Allana, lihat aku." pinta Jim lagi. Allana menyeka air matanya lalu menatap Jim. "Dengarkan aku. Aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Aku hanya memiliki dugaan. Dugaan belum pasti kebenarannya. Karena itu aku tidak ingin mengatakannya padamu. Aku perlu menyelidiki kebenaran atas dugaanku dulu, baru jika pasti benar, aku akan memberitahukanmu. Aku tahu masalahmu sudah banyak, karena itu aku tidak ingin menambah masalahmu dengan dugaanku."


Allana kembali meneteskan air mata. Jim mengusap air mata Allana. "Jangan menangis. Nanti wajahmu jadi jelek."


"Aku memang jelek." gerutu Allana.


"Hmm benarkah? Kau yakin?"


"Yakin, tuan penyihir."


Jim tertawa kecil. "Baiklah, baiklah. Kau cantik. Dan.. Kau memiliki mate? Kamu berkata kamu belum menemukannya."


"Itu karena-- entahlah. Aku tidak merasa dia adalah mate-ku."


"Kenapa seperti itu? Lalu untuk apa kamu disini jika memang bukan mate-nya?"


"Dia mengatakan dan merasakan aku adalah mate-nya tapi aku tidak. Aku tidak menyukainya. Tidak memiliki perasaan apapun padanya. Tertarik saja tidak. Tapi kenapa aku menjadi mate-nya? Itu aneh. Aku tidak bisa menyanggah karena aku tidak punya bukti atas perkataanku. Menyebalkan sekali."


"Itu aneh. Mau aku selidiki juga?"


"Apa bisa?" Allana terlihat tertarik.


"Mungkin. Akan aku coba."


Allana menghela nafas. "Hanya kamu yang mempercayaiku. Yang lain tidak. Menyebalkan sekali. Ahh! Benar.. Apa kamu tidak bisa memberitahukan tentang dugaanmu itu? Kumohon.."


"Aku tidak ingin---"


"Ya, aku tahu. Tapi aku harus tahu. Meskipun itu hanya dugaan tapi setidaknya biar aku bersiap."


Jim terdiam. Ya, itu memang hanya dugaannya saja.


"Baiklah. Aku menduga dia sengaja mengambil hanya setengah dari jiwa manusia serigalamu."


"Kenapa begitu?"


"Karena dia ingin mengembalikan sihirnya."


"Apa hubungannya sihir dengan manusia serigala?"


"Satu. Supranatural. Tapi yang jelas dia harus mendapat setengah jiwa serigala agar sihir bisa bangkit. Dan harus hanya setengah, karena jika tidak jiwa serigala yang akan mendominasi. Itu akan membuat sihirnya tidak bangkit. Sekali lagi, itu hanya dugaanku. Aku harus menyelidikinya dulu. Apa aku bisa memberitahukan semua ini pada Elder tua? Mungkin mereka bisa bantu."


"Tentu saja."


"Terima kasih. Aku harap kamu mau menunggu."


"Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi selain menunggu."


"Kalau begitu aku harus pergi." Jim berdiri. Allana juga ikut berdiri.


"Baiklah, terima kasih sudah mau datang."


"Tentu saja Allana, anytime."


Darr!!


Ledakan terdengar di luar rumah. Allana dan Jim berlari menuju beranda kamar. Mereka melihat diluar beberapa orang sudah terkapar tidak berdaya.


"A-ada apa ini?" tanya Allana.


"Kita di serang!!" teriak salah satu orang di luar. Allana bisa melihat Arthur berlari dan melawan beberapa orang.


"Penyihir." gumam Jim.


"Apa katamu?"


"Penyihir. Ini aneh. Kami sudah mengatasinya mereka."


"Apa maksudmu?"


"Yang terpilih memerintahkan untuk menangkap semua penyihir dari pack Crysort. Aku sendiri yang turun tangan dan menangkap mereka. Tapi anehnya mereka masih ada."


"Mereka.. Dari Crysort? Dari mana kamu tahu?"


"Aku kenal serigala itu." Jim menunjuk satu serigala yang sedang melawan Arthur.


"Melissa." gumam Allana.


"Mereka mencarimu, All. Mereka tahu kamu disini."


"Tapi... Bagaimana bisa?"


...***...


tadariez