Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 45 : Terhubung



"Bagaimana dia?" tanya Lucia pada dokter Harphin. Dokter Harpin menghela nafas. Dia memeriksa hasil pemindaian Renald.


"Semua hasil tes normal luna. Darah, urin, MRI semua normal. Tidak ada keanehan. Tidak ada racun atau apapun. Justru alpha sangat sehat." Dokter Harphin memijat keningnya.


"Lalu kenapa dia seperti itu?" tanya Agatha. Dokter Harphin menggeleng.


"Aku juga tidak tahu, Agatha. Kita tunggu saja. Aku sudah memberikan obat penenang. Dia akan baik-baik saja sementara. Saya permisi." Doktee Harphin pergi keluar ruangan.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Lucia. Dia masih tampak panik dan khawatir.


"Seperti kata Ryan tadi. Kita tunggu saja."


"Aku sungguh tidak tenang. Setelah kemunculan Grigory, rasanya semua semakin aneh."


Tok tok tok


Sebuah ketukan pintu terdengar. Agatha berjalan menuju pintu lalu membukanya.


"Masuklah Ted." pinta Agatha.


"Bagaimana keadaan alpha, bibi?" tanya Ted. Dari wajahnya terlihat kekhawatiran melebihi Lucia.


"Sekarang dia baik-baik saja. Dokter masih mencari apa yang salah. Karena dari hasil tesnya, tidak ada yang salah." jelas Agatha


"Apa Renald menyebut sesuatu? Atau makan sesuatu atau hal lain?" tanya Lucia.


"Tidak ada luna. Alpha seperti biasanya. Tidak ada yang aneh. Dia tiba-tiba memegang dadanya. Katanya terasanya terbakar dan sakit." jelas Ted.


"Aneh sekali. Lalu kenapa tiba-tiba? Apa para Rogue tidak menyakiti Renald?"


"Tidak mungkin luna. Alpha terlalu kuat untuk mereka."


Lucia menghela nafas. "Kau benar. Lalu kenapa? Ini benar-benar aneh. Aku punya dugaan yang aku harap hanya perasaanku saja."


"Uhmm... Lucia... Li-lihatlah." Agatha menunjuk ke Renald. Lucia dan Ted menoleh. Mereka berdua terkejut. Kepala Renald berubah menjadi serigala lalu tapi seperti bayangan saja. Serigala itu seperti meronta untuk lepas.


"A-apa itu?! Kenapa seperti itu?!" pekik Ted.


"Itu jiwa serigala Renald. Ted panggil dokter Ryan!" pinta Lucia. Ted segera berlari keluar ruangan. "Agatha, bantu aku."


Agatha dan Lucia sama-sama melepas rem di tempat tidur Renald. Lalu mendorongnya.


"Tapi mau kemana?" tanya Agatha.


"Keluar wilayah pack. Cepat!"


Agatha membuka pintu lalu kembali mendorong tempat tidur. Dokter Ryan dan Ted terkejut.


"Tu-tunggu! Ada apa ini?!" tanya Ryan terkejut.


"Kita harus bawa keluar dari sini. Dari pack!" kata Lucia.


"Tapi kenapa?" tanya Ryan bingung tapi ikut mendorong tempat tidur.


"Akan kujelaskan nanti. Bantu saja. Agatha, telpon Ben dan suruh dia menyiapkan mobil."


"Baiklah."


Agatha mengeluarkan ponselnya. Beberapa orang melihat mereka. Bahkan perawat dan dokter lain. Mereka bertanya ada apa, Ryan hanya menjawab jika mereka akan memindahkannya ke kota lain. Semua tentu terkejut. Mungkin ayah Renald bukan orang dari pemerintahan seperti walikota dan sebagainya. Tapi keluarga Renald adalah keluarga penemu kota itu dan seketarnya. Jadi mereka mengenal betul siapa Renald.


Mereka sudah sampai di depan unit gawat darurat. Ben sudah menunggu di sana. Ben yang terkejut membantu membukakan pintu mengangkat Renald.


"Ada apa ini?" tanya Renald pada Agatha. Agatha menggeleng.


"Saya akan mengikuti dari belakang." Ryan berlari menuju mobilnya.


"Cepat Ben, berangkat. Ke luar wilayah pack!" pinta Lucia. Ben segera menginjak gas dan pergi. Mobil melaju di atas rata-rata. Lucia terus saja meminta Ben untuk melaju. Sebuah papan nama kota besar terbentang di pinggir jalan.


"Berhentilah. Cari tempat untuk berhenti." ucap Lucia. Tak lama mobil itu sedikit masuk ke dalam hutan dan berhenti. Mobil Ryan juga ikut berhenti di belakangnya. Lucia turun dan menatap Renald. Renald terlihat mulai stabil.


"Sebenarnya ada apa ini luna? Apa yang terjadi?" tanya Ryan. Lucia mundur beberapa langkah. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya. Lucia berjongkok dan menangis. Semua orang bingung melihatnya.


"Kalian tahu kenapa pack kita tidak bisa di masuki oleh penyihir?" tanya Lucia.


"Kau yang melakukannya, benarkan?" kata Agatha.


"Benar. Kau benar. Aku dari keluarga penyihir terpandang dan kuat di kaumku. Aku memberikan seluruh kekuatan sihirku pada pack Zykolt. Aku berusaha melindunginya."


"Kami tahu itu, Lucia. Bahkan kamu sekarang menjadi manusia biasa dan tidak diterima oleh keluargamu lagi, karena itu."


"Tapi semua itu ada konsekuensinya. Tidak hanya kekuatanku tapi juga Renald."


"Apa maksudmu?"


"Mate. Renald tidak akan menemukan mate-nya."


"Apa? Apa yang luna katakan?" Ted terkejut.


"Tapi bukankah mate itu penting bagi manusia serigala?" tanya Ben.


"Sangat Ben."


"Kamu tahu hal ini Agatha."


Agatha menggeleng. "Kenapa kamu tidak memberitahukanku, Lucia?"


"Aku terpaksa. Aku harus melindungi pack ini dulu. Untuk hal mate, aku bisa minta tolong kenalanku. Renald masih remaja dia memiliki waktu. Tapi masalah terbesarnya bukan itu!"


"Apa maksudmu?"


"Tapi... Tapi kenapa begitu?"


Lucia berdiri. "Aku merasa curiga saat melihat Grigory waktu itu. Firasatku buruk. Ternyata aku benar. Ada yang dia kerajakan. Dia membangkitkan sihir Renald. Renald perlahan-lahan akan menjadi penyihir."


"Tapi alpha adalah manusia serigala!" kata Ian setengah berteriak.


"Dan dia masih tetap manusia serigala, dia masih tetap alpha. Hanya saja dia juga seorang penyihir. Dan pack Zykolt tidak menerima penyihir, kalian ingat? Karena itu Renald seperti itu. Masalahnya sekarang, dia adalah alpha. Bagaimana bisa dia memimpin packnya jika dia berada di luar?"


"Lalu.... Kapan anda berencana menarik kekuatan anda, perlindungan anda, luna?" tanya Ted.


"Sampai Grigory mati. Kalian pikir kenapa aku berpura-pura mati? kenapa aku tega meninggalkan Renald? Itu karena selama ini aku mencari Grigory. Semua orang berpendapat dia telah mati. Tapi aku tidak! Aku terus kehilangan jejaknya. Karena itu aku kembali kemari. Aku menduga dia akan kemari dan ternyata dugaanku benar. Dia berani menghidupkan sihir Renald berarti dia memaksaku untuk membuka perlindungan ini. Mau tidak mau aku harus membukanya."


"Brengsek! Ada apa sebenarnya dengan orang itu? Belum puas setelah apa yang dia lakukan pada pack?" umpat Agatha.


"Baiklah, sekarang kita harus mencari tempat untuk Renald. Rumah atau motel? Hotel? Apapun. Tidak mungkin kita membiarkan Renald disini." kata Dokter Ryan.


"Ryan benar. Ayo, aku akan membawanya ke rumah kenalanku."


"Agatha, sebaiknya kita pulang. Jaga rumah agar tetap kondusif." saran Ben. Agatha menolak.


"Tidak, aku ingin bersama Renald." tolak Agatha.


"Tidak ada bagusnya jika kita ikut mereka. Sudah ada Lucia dan dokter Ryan yang akan memantau. Ted juga ada. Pack sedang dalam keadaan genting karena tidak ada alpha di tempatnya. Kita tidak boleh membiarkan mereka tahu atau menyebarkan rumor aneh tentang pack atau Renald."


"Ben benar. Kalian pulanglah. Aku akan bersama Ryan dan Ted. Sudah ada dua manusia serigala yang kuat bersamaku."


Agatha menghela nafas. "Baiklah. Kita berpisah disini?"


"Tentu, mari kita pindahkan Renald ke mobil Ryan."


...***...


"Sial! Mereka semakin banyak! Apa perbatasan lain aman?" tanya Arthur. Dia mindlink Rome, betanya yang sedang mengamankan perbatasan lain.


"Aman Alpha. **Kami akan kembali."


"Tidak, Rome. Jangan. Tetap berjaga disana. Ada penyihir yang membantuku disini."


"Baik alpha**."


Arthur menggigit satu Rogue lagi. Allana juga berhasil menjatuhkan satu lagi. Tubuh Allana penuh luka tapi dia masih bisa bertahan.


Deg!


"Aakkhh... Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba dadaku sakit sekali?"


Tubuh serigala Allana terjatuh di tanah lalu berubah menjadi manusia. Allana terbaring di tanah sambil memegangi dadanya.


"Sial! Allana!"


Arthur menghempas satu Rogue lalu berubah menjadi manusia dan mendatangi Allana.


"Allana?! Ada apa denganmu? Allana!"


"Dadaku... Dadaku... Sakit sekali..."


"Alpha, biar aku bawa dia ke rumah alpha. Alpha tetaplah bertarung." tawar Jim yang melihat Allana kesakitan.


"Tidak! Dia mate-ku. Tidak ada yang boleh menyentuhnya. Tidak akan aku biarkan!"


"Dengarkan aku alpha, Allana kemungkinan terkena sihir. Hanya penyihir yang bisa membantunya. Lagipula anda harus mengamankan pack anda. Kami telah membantu anda, jangan di sia-siakan. Aku hanya ingin membantu." jelas Jim. Dia heran dengan keras kepala Arthur.


Arthur menghela nafas kasar. "Baiklah, aku peringatkan-- Hei!"


Belum selesai Arthur berbicara, Jim sudah menyentuh Allana dan berteleportasi.


"Sial!"


Arthur kembali berubah menjadi serigala dan menyerang.


...***...


"Apa masih jauh, luna?" tanya Ryan.


"Tidak, sebentar lagi kita akan sampai di kota itu. Sebentar lagi."


"Ada apa luna? Anda terlihat khawatir. Apa ada masalah lain?"


"Hanya satu. Mate."


"Mate? Mate siapa? Alpha?"


"Ya. Jika dia sudah bertemu dengan mate-nya, sengaja atau tidak, mate-nya juga akan terkena dampak."


"Apa maksud anda? Bukankah perlindungan itu membuat alpha tidak mengenal mate-nya?" tanya Ted.


"Itu benar. Tapi sihirnya kembali. Cepat atau lambat dia akan mengenali mate-nya. Saat Renald tidak memiliki sihir tapi ternyata dia bertemu dengan mate yang sudah di takdirkan untuknya, meskipun dia tidak tahu, mate itu akan merasakan hal yang sama yang Renald rasakan saat ini. Aku berharap dia belum bertemu. Karena jika sudah, kita akan kesulitan membantunya."


Semua orang di mobil kembali terdiam.


...***...