Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 34 : finally the flower works



Allana menghempas satu serigala lagi. Dia melihat sekelilingnya. Banyak rogue yang tergeletak tak berdaya tapi lebih banyak lagi yang baru saja berdatangan. Para warrior kuil tampak kelelahan.


"Allana... Masuklah ke kuil." sahut Harold.


"Tidak, aku akan membantu."


"Masuklah kedalam kuil. Jaga kuil." Hector menghempas satu serigala lagi.


"Tidak, kalian kelelahan dan kalah jumlah. Aku akan membantu."


"Tidak! Harus ada yang di dalam kuil. Kita harus melindungi kuil, tidak perduli apapun. Kuil yang paling utama."


"Melebihi nyawa kalian?"


"Melebihi nyawa kami. Sekarang, pergilah! Sana! Bantu yang lain menjaga kuil. Cepat!"


Allana menggeram kesal lalu segera berlari masuk ke dalam kuil. Meski sempat di hadang beberapa serigala, Harold membantu membuka jalan untuknya. Allana masuk ke wilayah kuil. Dia menatap Harold dan yang lain tapi dia harus menjaga kuil. Allana masuk kembali dan melihat sekitar kuil.


"Tidak mungkinkan? Tidak mungkin mereka masuk."


"Belum, tapi mungkin." sahut Alan dan Ed yang baru saja datang. Mereka juga sudah berubah menjadi serigala.


"Kau baik-baik saja?"


"Aku baik. Harus baik. Kita menyebar. Di dalam sini kita hanya bertiga. Jadi kita menyebar. Melolonglah jika kalian menemukan sesuatu."


"Apa-- apa kalian tidak ingin menolong mereka? Mereka kewalahan melawan rogue itu."


"Tidak ada waktu. Kita harus menjaga kuil ini."


"Tapi mereka akan mati!"


"Ya, dan mereka mati karena melindungi kuil. Itu suatu kehormatan."


"Dasar gila!"


"Menyebar!"


Alan berlari menjauhi Allana dan Ed.


"Dia benar-benar gila..." Allana menggeram marah.


"Dia tidak gila Allana, dia benar."


"Bagaimana bisa dia mau membiarkan anggota packnya mati tanpa membantu sedikit pun?!"


"Karena itu sudah tugas kami. Kami di ciptakan untuk menjaga tempat suci ini, bahkan dengan nyawa kami. Karena tempat ini adalah salah satu keseimbangan supranatural. Terlalu banyak rahasia disini yang tidak bisa di ketahui banyak orang. Jika orang tahu, mereka akan menggunakan hal itu untuk keuntungan diri mereka sendiri. Karena itu kami bertugas menjaganya."


"Ini tempat yang terpilih, suruh saja dia yang menjaganya."


"Tidak semudah itu Allana. Jika bukan karena yang terpilih, kami tidak akan pernah ada dan kami di ciptakan untuk menjaga tempat ini."


"Tapi kalian dulu juga manusia! Dia yang membuat kalian seperti ini.."


"Tapi kami justru berterima kasih Allana. Kami senang dengan apa yang kami dapatkan sekarang. Lagipula, kami yang memilih untuk menjadi seperti sekarang. Mereka, Harold dan yang lain, mereka tahu yang mereka lakukan dan tahu resikonya. Kami tidak memaksa agar kau membantu. Kami tahu kamu belum memutuskan akan menjadi apa. Jaga saja dirimu. Aku harus pergi. Melolonglah jika butuh bantuan."


Ed juga pergi. Dia pergi ke arah gua itu. Tempat dia dan yang terpilih berada tempo hari. Allana berjalan menuju mata air itu. Tidak ada siapa-siapa disana. Hanya dia. Setidaknya dia tahu tujuan pemimpin Rogue itu adalah tempat ini.


"Tidak mungkinkan pemimpin rogue itu kemari? Tidak ada yang bisa masuk ke dalam tempat ini. Setidaknya jika dia bukan warrior. Jadi tidak mungkin dia--"


Allana belum sempat menyelesaikan kata-katanya dia sudah mendengar sebuah geraman. Allana membalikkan tubuh serigalanya. Di sana sudah ada serigala berbulu hitam pekat yang ukuran tubuhnya lebih besar dari ukuran tubuh manusia serigala biasanya. Seketika Allana merasa terintimidasi karena ukuran tubuhnya.


"Aku tidak pernah melihat mu disini sebelumnya." sahut serigala hitam itu. Allana tidak menjawab. "Kau... Baru. Tapi... Baumu berbeda."


"A-apa maksudmu?"


"Kau orang baru, siapa kau?"


"A-aku... Aku.."


"Oh jangan gugup manis. Seharusnya kau takut. Jangan menghalangi jalanku dan pergilah. Maka kau akan aku biarkan hidup."


Allana diam. Dia bingung. Dia juga baru melihat serigala itu disini. Tapi... Suaranya... Suaranya mirip...


"Pergi!" Sahut serigala hitam itu. Serigala itu mendekati mata air pelangi.


"Tunggu, kenapa dia kesana? Astaga sepertinya dia memang pemimpin dari para rogue itu. Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya aku tidak bisa melawannya. Dia... Dia terlalu kuat. Tapi Harold berkata, air dari mata air pelangi itu tidak boleh jatuh ke tangan orang yang salah. Aku harus bagaimana? Ahh! Melolong."


Allana mundur beberapa langkah lalu segera melolong keras. Belum selesai dia melolong, tubuhnya sudah terhempas kasar. Dua kaki depan serigala itu berada di atas tubuh Allana. Serigala itu menggeram kasar.


"Berani sekali..."


Allana mencoba bangkit, tapi entah kenapa serigala itu benar-benar kuat. Bahkan melebihi luna Chloe. Hanya dengan dua kaki depannya saja, Allana tidak bisa bergerak. Allana mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri. Allana berhasil menggoyahkan pertahanan serigala itu dan melepaskan diri. Serigala itu menggeram dan semakin marah. Serigala itu melompat tinggi ke arah Allana. Allana panik tapi dengan cepat menghindar. Serigala itu terus menyerang tanpa henti. Allana mencoba menghindar. Tapi tiba-tiba serigala itu berhenti saat Allana mulai kelelahan. Serigala itu menyadari sesuatu lalu menggeram kasar. Serigala itu berbalik dan kembali berjalan menuju mata air itu.


'Gawat!'


Allana sedari tadi berusaha untuk mengalihkan serigala itu dan memberi waktu yang lain untuk datang ketempat itu.


'Kenapa mereka belum datang juga... Sial!'


Allana berlari cepat dan berhenti tepat di depan serigala hitam itu.


"Sudah aku katakan untuk tidak menghalangi jalanku."


Allana diam saja dan tidak bergeming. Meskipun dia takut, dia tetap berdiri tegak di depan serigala itu, menghalanginya untuk mengambil air dari mata air itu.


"Entah kau naif atau kau bodoh. Verywell then. Aku sudah memberitahukanmu sebelumnya. Kau yang tidak mendengar"


Serigala itu menggeram lalu menyerang Allana. Dari caranya menyerang, dia siap dan ingin membunuh Allana. Kali ini Allana tidak bisa menghindar lagi. Gerakan serigala itu sangat cepat dari yang pertama tadi, membuat Allana kewalahan.


Bukk!!


Sudah kesekian kalinya dia terhempas. Tubuhnya tidak bisa bangkit lagi. Alan dan Ed tidak kunjung datang.


Allana kembali terhempas. Serigala itu tak kenal ampun. Meski  Allana sudah tidak bisa bangkit, dia masih menyerang Allana.


"Sudah aku katakan, kau mati jika menghalangi jalanku. Jadi, selamat tinggal."


Serigala itu membuka mulutnya lebar lalu menggigit Allana dengan tangan juga mencabik Allana. Allana mengerang kesakitan. Darah Allana sudah keluar banyak. Lukanya sangat parah.


Setelah puas mencabik Allana dan di rasanya Allana tidak akan selamat, serigala itu menghentikan tindakannya. Dia lalu pergi ke mata air itu kembali.


Allana menggerakkan tubuhnya perlahan. Dia berusaha sekuat tenaganya tapi dia terlalu lemah. Bahkan dia sudah yakin dia akan segera mati. Terlalu banyak darah yang keluar. Manusia serigala memang bisa menyembuhkan diri tapi butuh waktu. Tidak seperti vampir yang bisa langsung sembuh. Manusia serigala butuh waktu lebih lama dari vampir. Tapi melihat luka Allana, biasanya sulit untuk sembuh. Terlalu parah dan Allana sadar itu. Dia akan mati.


"Entah... En-nntaahh... ap-apa.. yang... Yang... para...para...warrior itu...pp-pikir-kkan..dd-de-denga-an...mati... uu-ntuk...kk-kuil? Mereka...mereka...pp-pasti...pasti...gila. Dan...dan...aku...aku...a-a-aakan...akan mati...akan mati...k-karena...me-mela-akukan...hal...hal...yang...ss-sa-sama, sial"


Allana menoleh pada serigala hitam tadi. Serigala itu meminum mata air itu lalu tak lama serigala itu bersinar terang. Sangat terang sampai Allana tidak bisa melihat apapun.


*****


...Pack Zykolt...


Renald duduk di sebuah bangku taman. Tubuhnya tidak mengenakan baju dan berkeringat. Dia masih berusaha mengatur nafasnya. Dia menatap lurus kedepan. Entah kenapa dia terus menerus tidak tenang. Padahal bunga itu menunjukkan hal lain. Renald mengusap kasar wajahnya. Jika dia terlalu banyak pikiran, dia akan melampiaskan dengan berlatih dan berlatih. Seperti sekarang. Dia sudah berlatih sedari pagi, sendirian. Awalnya Ted ikut berlatih tapi dia akhirnya menyerah. Dia tidak bisa menyaingi stamina Renald. Sedari kecil Renald terbiasa seperti itu, melampiaskan emosinya dengan berlatih keras. Terlebih jika di teringat peristiwa pembantaian keluarganya dulu. Itu membuatnya begitu trauma. Dia hanya bisa menenangkan dirinya dengan berlatih keras.


"Apa mimpimu kembali lagi?" tanya Ted sembari menyodorkan botol minuman. Renald mengambil botol itu dan meminumnya.


"Tidak." Renald mengusap mulutnya.


"Lalu kenapa kamu berlatih keras seperti ini jika mimpi itu tidak muncul?"


"Entahlah. Aku hanya... Tidak tenang."


"Tidak tenang? Apa ini karena gadis itu? Allana?"


"Sepertinya."


"Kenapa kamu seperti itu? Jujur, aku mengerti kekhawatiran bibimu. Dia bukan mate-mu dan bunga itu tidak beraksi apapun. Tapi kau sudah khawatir berlebihan seperti ini. Ren, disana kuil yang isinya warrior yang memiliki kekuatan setara kau! Setara alpha! Dan tidak ada yang bisa masuk ke kuil itu. Jadi apa yang bisa terjadi? Hanya orang gila yang mau menyerang kuil itu."


"Mungkin kau benar. Tapi entahlah. Aku juga tidak bisa mengendalikan perasaanku."


"Kalau gitu belajarlah. Aku paham jika ini tentang mimpi, karena aku tahu kau trauma. Tapi jika ini tentang gadis itu? itu sudah sangat berlebihan Ren."


"Baiklah. I will."


"Alpha!! Alpha!!" seseorang dari kejauhan berlari dan memanggil Renald.


"Kenapa lagi anak itu?" Ted menggelengkan kepalanya. George sampai di depan mereka. Dia berusaha mengatakan sesuatu tetapi nafasnya tertahan. "Hei, hei, hei... Bernafaslah dulu."


"Saya...saya...hosh hosh hosh.."


Ted menepuk jidatnya. "Kadang aku benar-benar sulit mengerti dirinya."


"Itu apa? Bicara yang jelas."


George menarik nafasnya dalam-dalam. "Bunga alpha."


"Bunga?" tanya Ted dan Renald bersamaan.


"Iya, bunga. Bunga itu.."


"Apa tidak bisa kau bica--"


"Bunga biru?" tebak Renald.


"Ya! Ya! Bunga biru!"


"Ada apa dengan bunga biru itu? Katakan!"


"Bunga itu... Kelopaknya... Berjatuhan."


"Berjatuhan? Apa maksud-- hei Renald! Astaga..."


Renald berlari sekuat tenaga disusul oleh Ted dan George di belakangnya.


Tak lama Renald sampai di depan ruang kerjanya. Dia terkejut. Bunga itu sekarang hanya terdapat satu kelopak kecil yang melekat. Sisanya sudah berjatuhan.


"Hei, kenapa kalian berlari seperti itu?" tegur bibia Agatha yang melihat mereka berlari begitu cepat. "Ted apa ini? Kenapa-- astaga ada apa dengan bunga itu??"


Renald masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dia menghampiri bunga itu. Tak lama kelopak kecil itu juga terjatuh.


"Apa maksud semua ini?"


Tiba-tiba kelopak bunga itu bercahaya lalu satu demi satu kelopaknya kembali tersusun di tangkainya. Cahayanya semakin lama semakin terang dan menyelimuti seluruh bunga itu. Renald mengulurkan tangannya untuk mengambil bunga itu.


"Renald... Don't..." tegur bibi Agatha. Renald tidak menggubrisnya. Tangan tetap terulur perlahan. "Renald! Don't you dare--"


Belum sempat bibi Agatha menyelesaikan kelimatnya, Renlad sudah menyentuh bunga itu. Cahaya bunga bluemoon menyelimuti seluruh tubuh Renald.


"Oh tidak.." Ted yang melihat itu menyerobot masuk ke dalam ruangan kerja dan menyentuh tangan Renald. Cahaya semakin terang lalu menjadi gelap seketika. Baik Renald, Ted maupun bunga Bluemoon lenyap, tak bersisa.


"Dimana.. Dimana mereka? Di mana Renald? Di mana Ted?" bibi Agatha mulai panik.


"Sa-saya... Tidak--"


"Cari mereka George! Sekarang!"


George segera berlari untuk mencari Renald dan Ted sementara bibi Agatha pucat dan terlihat sangat panik.


"Apa maksud semua ini?" 


********


Brakk!!!


Tubuh Renald dan Ted terhempas keras di tanah.


"Aarrghhh.... What the..."


Renald dan Ted mengerang kesakitan. Mereka terhempas cukup keras.


"Jika aku bukan manusia serigala pasti tulangku sudah patah semua bahkan aku bisa saja mati." keluh Ted. Dia berbaring terlentang di tanah, begitu juga Renald. Mereka terkejut, mereka sudah tidak berada di ruang kerja Renald lagi. Renald dan Ted berdiri perlahan sambil menahan rasa sakit yang masih terasa.


"Dimana kita?" tanya Ted.


"Entahlah. Aku tidak tahu. Kita berada di hutan belantara entah di mana."


Tak lama terdengar suara erangan geraman bahkan hempasan. Renald dan Ted segera berlari ke arah suara. Betapa terkejutnya mereka melihat pertempuran hidup dan mati di depan mereka. Banyak yang sudah terbujur kaku, tidak, sangat banyak. Mereka terkejut betapa banyaknya serigala yang mati dan lebih terkejut lagi banyak yang masih bertarung tapi tidak sebanding.


"Ada apa ini? Kenapa dengan semua bertarung seperti itu?"


"Aku tidak tahu Ted."


"Itu sepertinya tidak adil Ren, ayo kita bantu."


"Tunggu, jangan gegabah. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kita tidak bisa ikut campur begitu saja."


"Tapi Renald, lihatlah, jumlah mereka tidak sebanding!"


"Itu benar. Tapi jika kau perhatikan lagi, meski tidak sebanding, mereka kuat."


"Siapa sebenarnya mereka?"


"Warrior kuil."


"Apa? Dari mana kamu-- hei! Kau mau kemana?" Ted mulai bingung melihat Renald yang pergi begitu saja. Ted segera menyusul. "Kau mau kemana?"


"Mereka warrior kuil. Berarti kita berada di kuil Moon godness berada."


"Dari mana kau tahu mereka itu warrior?"


"Bola mata mereka. Berwarna putih. Mereka warrior."


"Jika mereka warrior dan kita berada di dekat kuil berarti... Berarti Allana disini."


"Tepat sekali. Bunga itu mengirim kita kemari. Pasti ada hubungan dengan Allana. Bisa saja Allana terluka parah." Renald masih mencari keberadaan kuil itu.


"Tapi sulit jika Allana di dalam kuil Ren, kita tidak bisa masuk."


Renald menghentikan langkahnya. Ted benar. Mereka bukan warrior kuil atau raja Lycanthrope atau yang terpilih. Mereka tidak akan bisa masuk. Renald berpikir keras harus bagaimana.


"Aku akan meminta mereka mengeluarkan Allana dari dalam kuil, mungkin akan berhasil."


"Tidak, tidak akan berhasil." sahut Ted yang mendengar suara pikiran Renald.


"Apa maksudmu tidak berhasil?"


"Mereka warrior kuil, mereka tidak akan mengijinkan anggota mereka di ambil begitu saja."


"Allana anggota mereka?"


"Astaga Ren... Allana adalah warrior yang kekuatannya setara alpha dan beta. Tentu saja dia anggota klub para warrior itu. Bahkan dia saja bisa masuk ke kuil itu. Dia resmi menjadi anggotanya."


"Jika memang dia adalah anggota dari warrior, kenapa yang terpilih memberikan aku bunga itu?"


"Itu yang aku tidak mengerti Renald. Diam-diam aku juga memikirkannya tahu! Dan semakin aku memikirkannya semakin aku tidak mengerti."


Mereka berdua terdiam. Tak lama terdengar suara ribut, suara seperti seseorang atau sesuatu berusaha keluar dari tumpukan semak belukar.


Crashh!!


Satu tebasan terakhir lalu satu serigala hitam muncul entah dari mana. Renald dan Ted terkejut dan tidak bergeming dari tempatnya. Mereka mematung sejenak.


"Kau lihat itu?"


"Sangat jelas."


"Itu serigala terbesar yang pernah aku lihat. Terkecuali raja itu tentu, raja Lycanthrope."


"Percayalah, aku juga Ted."


Serigala hitam itu menoleh pada Ted dan Renald kemudian menggeram keras.


"Oh hei.. hei.. kami tidak tahu apapun. Kami baru sampai dan tidak tahu apa yang terjadi disini." sahut Ted cepat. Serigala itu tetap menggeram keras bahkan mulai menghadapkan tubuhnya pada Renald dan Ted. "Oh tidak.. dia tidak percaya."


Renald hanya diam saja. Dia memperhatikan serigala itu dari atas sampai bawah. Dia mengamatinya. Ada banyak bercak darah di tubuhnya dan beberapa bulu putih di sana. Renald menatap semak tempat serigala itu keluar.


"Sepertinya di balik semak itu adalah kuil. Dia baru saja dari kuil. Apa dia salah satu dari warrior kuil? tubuhnya penuh darah dan bulu yang aku asumsikan manusia serigala. Tapi tak ada luka sedikitpun di tubuhnya. Tidak masuk akal."


"Siapa kau?" tanya Renald akhirnya.


"Apa kau sudah gila? Kenapa kau bertanya siapa dia? tentu saja dia warrior kuil di lihat dari tubuhnya yang besar itu."


"Aku rasa tidak Ted. Dia bukan warrior."


"Dari mana kau tahu itu?"


Renald hanya diam dan kembali menatap serigala itu. Sekarang yang ada di pikirannya justru Allana. Jika bahkan serigala yang bukan warrior kuil bisa masuk, lalu Allana? di mana dia?


******


tadariez