
"Jadi.. Siapa yang mau kamu panggil?" tanya ibu Renald.
"Teman. Yang membantu saya waktu itu. Laki-laki"
"Apa dia Elder?" tanya ibu Renald lagi. Allana mengangguk. "Elder tingkat apa?"
"Uhmm.. Saya tidak ingat."
"Kalau begitu apa dia mengenakan gelang?"
"Gelang?"
"Tidak mungkin laki-laki mengenakan gelang. Aneh sekali." Renald berkomentar.
"Semua Elder di wajibkan mengenakan gelang Elder, Ren. Baik pria maupun wanita. Itu untuk memanggil satu sama lain dan menandakan bahwa mereka Elder. Bahkan gelang itu memiliki tingkatan. Jadi apa temanmu mengenakan gelang? Gelang itu sejenak terlihat seperti asap. Berwarna hijau atau biru atau putih."
"Ahh! Benar! Hijau!"
"Berarti dia Elder tengah. Dia cukup kuat."
"Memangnya kekuatan penyihir di tentukan dari gelang?" tanya Renald.
"Bukan di tentukan oleh gelang itu Renald. Semua ada tahapannya. Mereka juga memilih Elder tidak sembarangan. Tidak semua orang bisa menjadi Elder. Paling rendah itu Elder muda, biasanya yang baru saja menjadi Elder, di tandai dengan pakaian kebesaran mereka dan gelang mereka yang berwarna biru. Elder tengah, seperti teman Allana, berarti Elder yang sangat terlatih. Dia sudah melewati tahapan awal. Baju dan gelangnya berwarna hijau. Dan paling atas Elder tua. Menggunakan pakaian kebesaran berwarna putih dan gelang putih, seperti ibu dulu, kau ingat?"
Renald mengangkat kedua bahunya. " Aku rasa aku tidak perlu tahu itu."
"Sebenarnya ada satu cara agar manusia biasa bisa menghubungi penyihir, terutama Elder. Kamu tahu namanya kan?"
Allana mengangguk. "Tahu, Jim Mayhthem."
Ibu Renald berjongkok untuk menggambar sesuatu di kertas.
"Itu.. Apa?" tanya Allana.
"Diagram sihir."
Tidak lupa ibu Renald menuliskan nama Jim Mayhthem. Ibu Renald membakar diagram itu.
"Hanya begitu saja? Tanpa mantra?"
"Hanya begitu saja. Tapi tingkat keberhasilan sangat rendah. Karena tidak menggunakan mantra. Jadi kita tunggu saja."
"Tunggu? Berapa lama?"
"Entahlah Ren, tidak pasti. Seperti yang ibu katakan tadi, tingkat keberhasilannya sangat rendah. Tapi Allana mengetahui nama dan tingkatan Elder. Mungkin bisa membantu."
"Mudahan saja." gumam Allana.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan dengan teman penyihirmu itu?"
"Ahh saya hanya--"
"Alpha!" satu orang mendatangi mereka dengan terburu-buru.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Renald yang melihat salah satu gammanya panik.
"Ada.. Ada tamu."
"Tamu?" ulang Renald. Gamma itu mengangguk. "Apa Ted ada di rumah?"
"Ada alpha. Beta yang menyuruh saya kemari."
'Ted? Ada apa? Kenapa tidak mindlink saja?' Renald mindlink Ted. Dia heran kenapa Ted menyuruh seorang gamma. Anehnya Ted tidak menjawab.
"Allana, aku harus pulang ke rumah dulu. Tunggulah temanmu disini."
"Apa ada masalah?" tanya Allana yang melihat Renald tampak serius.
"Tidak, hanya kedatangan tamu saja. Aku akan menemui mereka dulu."
"Siapa?" tanya ibu Renald. Renald menggeleng.
"Entah."
Renald berlari bersama gamma nya menuju rumahnya sementara Allana dan ibu Renald masih di perbatasan.
"Apa.. Kemungkinan akan lama?" tanya Allana.
"Aku tidak bisa memastikan. Begini saja." ibu Renald menulis sesuatu di atas kertas. Kertas itu di letakkan di tanah dengan batu di atasnya agar tidak terbang di tiup angin. "Sudah. Di kertas itu ada nomor telepon rumah Renald atau nomorku. Aku juga menuliskan nama temanmu. Jadi jika dia lihat kertas itu, dia akan menghubungi."
"Baik, terima kasih nyonya."
"Jangan nyonya, ibu saja. Aku ibunya Renald dan kalian berteman." ibu Renald tersenyum
"Baik, ibu."
Allana tampak canggung memanggil ibu pada ibunya Renald.
"Sekarang, ayo kita kembali. Aku sudah penasaran siapa tamu Renald." ibu Renald menggandeng tangan Allana.
Di pintu gerbang kastil, sudah berkumpul beberapa orang, mencoba untuk masuk. Beberapa sudah berteriak, bersumpah serapah.
Renald terkejut saat baru saja datang.
"Ada apa ini?!" tanya Renald dengan berteriak agar suaranya terdengar. Semua orang terdiam dan menoleh. Beberapa orang membuka jalan untuk Renald yang berjalan mendekati pagar.
"Arthur?"
"Akhirnya. Kamu muncul juga. Aku sudah bosan menunggu." sahut Arthur. Dia berdiri dari duduknya di batang kayu.
"Sedang apa kamu disini dan membuat keributan? Ini pack Zykolt."
"Aku tahu ini pack apa, aku tidak bodoh."
"Lalu untuk apa kamu kemari?"
"Mengambil sesuatu yang menjadi milikku."
"Milikmu? Disini? Sudah gila rupanya. Aku tidak akan pernah menyentuh apa yang jadi milikmu. Jadi pergilah."
"Benarkah? Tapi kamu menyentuhnya. Kamu membawanya pergi tanpa seijinku." Arthur menatap Renald tajam. Renald mengerutkan keningnya. "Allana."
Renald baru sadar. Dia lupa jika Allana adalah mate dari Arthur.
"Serahkan Allana padaku. Dia milikku."
"Dia bukan barang."
"Tapi dia tetap milikku. Bukan milikmu."
Renald terdiam. Ya, benar Allana memang mate-nya. Tapi kemana saja dia selama ini? Kenapa baru muncul sekarang?
Allana baru saja datang dan berdiri di sebelah Erica yang sedang memperhatikan Renald dan Arthur.
"Ada apa? Siapa yang datang?" tanya Allana pada Erica.
"Mate-mu, Arthur."
"Arthur? Kenapa dia disini? Dan dia bukan mate-ku."
"Dia kesini untuk menjemputmu Al, dia menawarkan perlindungan padamu."
"Untuk apa dia melakukan itu?"
"Kamu adalah mate-nya, All. Wajar dia memberikan perlindungan untuk mate-nya. Memang sudah seharusnya begitu."
"Tapi aku bukan mate-nya. Sudah berapa kali aku katakan!"
Erica menatap Allana, mencoba mencari sedikit kebohongan disana. Tapi dia tidak menemukannya sama sekali.
"Aku bahkan sama sekali tidak tertarik padanya." gumam Allana. Dia tidak menatap Arthur, melainkan dia menatap Renald. Ya, dia menyukainya. Allana mengakui itu.
Renald berjalan menuju Allana.
"Aku tahu kamu mate-nya tapi aku menyerahkan keputusan padamu." sahut Renald. "Kamu memang mate-nya tapi bukan berarti dia bisa mengontrolmu. Pilihan ada padamu, Allana." sahut Renald. Allana terdiam. Kenapa semua ini menjadi rumit?
"Bibi..."
"Aku hanya menyarankan, Ren. Dia mate Arthur dan kau membawanya tanpa mengatakan apapun. Tentu dia marah."
"Renald tahu. Aku membantunya murni karena dia temanku. Aku tidak perlu meminta ijin padanya untuk membantu temanku. Dia bahkan belum mengklaim Allana."
"Tapi Renald, akan terjadi kesalahpahaman dan akhirnya akan ada pertarungan dua pack."
"Renald tidak perduli, bibi. Renald tidak melakukan kesalahan apapun."
Bibinya hanya bisa menghela nafas menghadapi keras kepala keponakannya. Allana masih diam. Dia sungguh tidak ingin pergi tapi dia juga tidak ingin menjadi pemicu pertarungan antar pack.
...***...
Terdengar erangan pelan dari Gyria. Matanya mulai membuka perlahan. Dia mencoba menggerakan tubuhnya. Tubuhnya terasa sangat sakit tapi anehnya tidak bisa bergerak, seperti terikat sesuatu. Gyra mencoba melihat dengan jelas. Tapi kepalanya terlalu sakit. Gyria menutup matanya. Dia menghela nafas panjang berulang kali, berharap dengan begitu sakit kepalanya akan berkurang. Gyra mencoba membuka matanya. Tepat lurus dari tubuhnya berada, dia bisa melihat api unggun yang berkobar dengan gagahnya. Hari sudah gelap. Dia melihat beberapa orang di dekat api unggun itu. Sesekali dia meringis kesakitan. Kini dia sadar, tubuhnya telah di ikat di sebuah pohon dalam posisi duduk. Sepertinya tangannya patah.
"Gyria..."
Gyra mendengar sebuah bisikan memanggil namanya. Gyria menoleh. Dia mendapati Derek yang juga telah terikat, memanggilnya.
"Kau... Baik-baik saja?" tanya Derek. Dari raut wajahnya dia tampak sangat khawatir. Gyria tidak menjawab, hanya mengangguk. Dia melihat kaus Derek yang terkena noda darah cukup banyak. Kepalanya masih ada sisa darahnya. Meski gelap, Gyria bisa melihat sisa darah itu.
"Akhirnya... Kau sudah bangun." satu wanita mendatangi Gyria. "Lama sekali tidurnya, tuan putri."
Tamparan keras mendarat di pipi Gyria.
"Hentikan!" sahut Derek. "Dia sudah terikat dan tidak berdaya!"
"Hei kau beta bodoh! Diam saja disana! Kau ini bodoh atau apa? Bisa-bisanya rela mengantarkan jal*ng ini." kata wanita itu.
"Aku rasa kau yang bodoh." Melisa sudah berada di belakang wanita tadi. Wanita itu menoleh. "Dia melakukan itu aku yakin karena Gyria adalah mate-nya."
Wanita itu terkejut. Dia menatap Gyria yang tertunduk lalu menatap Derek secara bergantian.
"Benarkah?" wanita itu masih tidak percaya.
"Aku senang kamu sudah bangun Gyria, jadi aku bisa melajutkan pekerjaanku. Kau tahu apa pekerjaanku?" tanya Melisa.
"Membunuhku." kata Gyria pelan.
"Ding ding deng dong... Benar sekali. Dan akan aku pastikan kau mati secara perlahan dan menyakitkan." Melisa tersenyum. Gyria menatapnya dengan marah. "Oh jangan menatapku seperti itu. Ini semua bukan soal pribadi. Tapi perintah dari luna. Lunamu."
"Dia bukan lunaku lagi." sahut Gyria tanpa menatap Melisa.
"Bagus kalau begitu. Aku yakin luna juga tidak ingin memiliki anggota sepertimu, pengkhianat."
Srukk!!
Gyria berteriak keras. Melisa baru saja menikam pahanya dengan keras dan kasar.
"Hentikan! Cukup! Aku tidak akan membiarkan..."
"Oh beta Derek. Tenang saja, kami tidak akan membunuhmu. Kami tidak akan menambah masalah dengan melawan packmu. Setidaknya belum saatnya." Melisa tersenyum kembali lalu menatap Gyria. "Ohh... Apa itu sakit? Maafkan aku. Tapi aku perlu pisauku kembali."
"Tidak! Tidak aku mohon.. Jangan ambil pisaunya. Dia bisa pendarahan hebat."
"Lalu apa perdulimu? Karena dia mate-mu? Tapi bukankah kamu memiliki kekasih? Ahh tidak! Tunangan. Kalian akan segera menikah kan? Tenang saja. Aku akan membantumu. Akan aku singkirkan gadis ******* ini untukmu lalu kamu akan bebas bersama tunangnmu. Menikah dan memiliki anak."
Tangan Melisa menyentuh pisau yang menancap di paha Gyria. Gyria menutup matanya.
"Tidak! Aku mohon jangan." ucap Derek lagi.
"Kamu benar-benar sulit dimengerti ya beta. Sebenarnya kamu menginginkan tunanganmu atau dia. Kamu harus memilih salah satu, beta. Jangan serakah!"
Melisa ingin mengambil pisaunya tapi tiba-tiba terdengar teriakan dari anggota packnya. Beberapa Serigala telah menyerang mereka bahkan jumlahnya sangat banyak. Serigala serigala itu membunuh dan menyiksa anggota pack dari Melisa. Satu serigala paling depan dengan mata merahnya mendatangi Melisa. Melisa hampir tidak bisa bergerak sama sekali, dia tidak bisa berubah menjadi serigala. Serigala itu menggeram marah dan kasar. Meskipun dengan wujud serigalanya, raut wajahnya terlihat jelas sangat marah. Melisa terlihat takut, dia terlihat terintimidasi. Serigala bermata merah itu berubah menjadi manusia. Dia adalah alpha Dwaine, alpha dari Derek.
"Berani sekali kamu menawan dan menyiksa Betaku. Lepaskan mereka atau kamu dan pasukanmu yang akan jadi mayat malam ini. Aku tidak perduli siapa lunamu."
Melisa menatap pasukannya. "Ayo kita pergi!"
Anggota pack Crysort berlari pergi dari sana.
"Apa kita kejar, alpha?" tanya satu orang.
"Tidak, jangan. Biarkan saja mereka. Lepaskan kedua orang ini."
Beberapa orang bergerak dan melepaskan ikatan Derek dan Gyria. Derek langsung mendatangi alpha Dwaine.
"Maafkan saya, alpha. Saya telah membuat anda khawatir."
"Khawatir katamu? Kamu pergi begitu saja tanpa memberitahukan padaku lalu kamu memutuskan mindlinkmu. Kamu tahu betul bagaimana hubungan antara alpha dan beta tapi kamu masih melakukan Kebodohan seperti itu?! Apa kau sudah gila?!"
"Saya tidak bisa berkata apapun, Alpha. Saya bersalah." Derek menundukkan kepalanya.
"Bagaimana dengan gadis itu?" tanya alpha Dwaine.
"Dia tidak baik-baik saja, alpha. Kakinya tertusuk pisau dan tangan kanannya patah." kata satu orang yang membebaskan Gyria.
"Kalau begitu kita beristirahat saja disini. Jumlah anggota kita banyak, jadi akan baik-baik saja."
"Biaik, alpha."
Semua orang duduk dan bersantai. Hanya beberapa orang yang berjaga di sekitar. Gyria duduk bersandar di pohon. Kali ini tanpa diikat. Dia menatap pisau yang tertancap di pahanya. Dia tahu jika dia melepas pisau itu darahnya akan keluar. Gyra duduk agak jauh dari mereka. Dia ingin menyendiri. Tubuhnya membelakangi anggota lain. Dia bahkan memikirkan Leysha. Entah dimana mayat Leysha berada. Apa mungkin mereka membakarnya atau membuang mayatnya begitu saja.
"Kenapa kamu duduk diam saja disini dalam gelap?" Derek baru saja datang.
"Bukan urusanmu."
Derek duduk di sebelah Gyria. "Apa kamu baik-baik saja?" Derek memeriksa tubuh Gyria. Mungkin ada luka lain.
"Aku baik-baik saja. Khawatirkan dirimu sendiri saja." sahut Gyra tanpa menoleh.
"Istirahatlah. Kata alpha kita berangkat pagi-pagi sekali."
Gyria tidak menjawab. Dia hanya menatap ke dalam kegelapan di depannya. Derek menghadap Gyria dan menatapnya.
"Dengarkan aku Gy. Leysha sudah tenang, di tempat lebih baik. Aku tahu dia sahabatmu. Tapi dia akan sangat sedih melihatmu seperti ini."
Gyria menoleh pada Derek. "Itu urusanku. Jangan mencampuri. Dan sebaiknya kamu pergi ke sisi alphamu dan jangan menggangguku."
"Jadi aku mengganggumu?"
"Hmm benar. Jadi pergilah. Aku mohon." Gyria memalingkan wajahnya. Derek menatapnya sejenak. Dia lalu meletakkan tangannya di pipi Gyra, membuat Gyria menoleh seketika karena terkejut. Belum habis rasa terkejut Gyria, tiba-tiba bibir Derek menyentuh bibirnya. Gyria semakin terkejut. Dia mendorong tubuh Derek untuk menjauh. Tubuh Derek hanya terdorong sedikit, hampir tidak terlihat. Derek menatap Gyria.
"Berhentilah menyalahkan dirimu. Kamu tidak salah, Gyria. Semua ini terjadi karena memang harus terjadi. Aku turut berduka, tapi bukan berarti kamu harus terus menyalahkan dirimu sendiri. Aku yakin Leysha juga mengatakan hal yang sama denganku."
"Tapi aku tidak bisa berhenti." air mata Gyria menetes. Kepalanya tertunduk. "Aku tidak bisa berhenti."
Derek memegang dagu Gyria dan mengangkat kepalanya.
"Kau bisa. Kau harus bisa. Tidak apa terlihat lemah sesekali, Gyria. Itu bukan berarti kau orang yang lemah."
Derek memeluk Gyria. Gyria menangis dalam pelukan Derek. Derek membiarkan Gyria menangis sampai Gyria merasa lebih baik. Setelah beberapa lama, tangis Gyria reda. Meski masih terdengar sesegukan sesekali, tapi dia tidak histeris lagi. Gyria melepaskan pelukannya dari Derek. Dia menghapus air matanya.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Derek.
"Sudah, beta. Terima kasih sudah membiarkan saya menangis. Sekarang kembalilah. Alpha pasti mencari anda." Gyria kembali bersikap sopan pada Derek.
"Tidak apa-apa, Gyria. Aku sudah--"
"Aku mohon pergilah, beta. Saya bukan siapa-siapa jadi jangan pedulikan saya. Lebih baik anda memperdulikan alpha anda." Gyria tahu Derek adalah mate-nya. Dia juga yakin Derek tahu itu. Dari sikap awal Derek yang tidak menyukainya, dia tahu dia akan di tolak. Terlebih dia sekarang mengetahui tentang tunangan Derek. Dia tidak memiliki harapan. Dia yakin Derek melakukan semua ini karena dia adalah teman Allana.
"Bukan siapa-siapa katamu?"
Gyria menghela nafas lalu menatap Derek. "Benar. Jadi saya mo--"
Derek kembali menciumnya. Gyria mencoba menjauhkan tubuh Derek lagi, tapi Derek tidak bergeming. Bahkan bibir mereka tidak hanya bersentuhan. Derek memperdalam ciuman mereka. Gyria masih terus mencoba melepaskan diri. Tapi Pelukan Derek terlalu kuat. Dia tidak punya pilihan lain selain menyerah.
...***...
tadariez