
Allana duduk diam di kantin sekolah. Dia pergi sekolah sangat pagi hari ini. Bahkan sebelum semua orang bangun dan duduk di kelasnya dalam diam. Sudah seharian ini Allana hanya diam saat di kelas. Beberapa temannya menegurnya tapi dia hanya tersenyum kecil.
"Allana aku harus bicara denganmu." Erica tiba-tiba datang dan duduk di hadapan Allana. Allana menghela nafas kasar lalu berdiri dan beranjak pergi tapi Erica menahan tangannya.
"Allana.. Aku mohon. Kamu harus dengar penjelasan dariku."
"Sudahlah Erica, aku tidak ingin mendengar apapun." Allana melepas tangan Erica lalu kembali berbalik dan berjalan menjauhi Erica. Tapi baru beberapa langkah, dia berbalik menghadap Erica kembali. "Apa kamu tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada Hope? Atau Hope sebenarnya tahu tentangku dan kalian?"
"Hope tidak tahu tentangmu maupun aku atau sejenis kita, tapi ya, aku tahu apa yang terjadi pada Hope."
Allana menatap Erica tidak percaya. Erica membuatnya terlihat tampak bodoh dengan berpura-pura tidak tahu dan membuatnya berbohong tentang hal yang bodoh. Allana berbalik dan pergi menjauhi Erica. Erica tidak mencegahnya lagi karena dia tahu Allana sedang sangat marah padanya.
"Apa maksudnya itu? Kamu? Allana? Sejenismu?" tanya Marco yang sudah berdiri di sebelah Erica. "Tunggu.. Allana tahu tentang kita? Maksudku Kita? Apa kita?!"
"Ah sudahlah Marco ayo kita pergi."
Erica berjalan keluar dari kantin diikuti oleh Marco sementara Allana pergi menuju lapangan. Dia sana ada beberapa anak sedang berlatih rugby. Allana duduk disalah satu tempat duduk penonton, menatap para pemain dalam diam.
"Allana." panggil seseorang. Allana menoleh.
"Hai Kim." sapa Allana malas.
Kimberly duduk di sebelah Allana dengan cantik. Dia mengenakan seragam cheerleadersnya berwarna putih kuning dan coklat. Rambutnya yang coklat di ikat keatas. Kimberly adalah gadis terpopuler di sekolahnya. Dia cantik, kaya, tubhh yang bagus dan para anak laki-laki menyukainya.
"Duduk diam sendiri tidak akan membuatmu menjadi populer."
"Kim, aku tidak ingin menjadi populer."
"Oh ayolah Allana. Kau cantik dan kau tahu itu. Banyak anak laki-laki yang menyukaimu. Sangat menyukaimu. Bahkan sedari kita SD."
Allana hanya tersenyum dan menunduk.
"Kamu berubah Allana. Semenjak masuk SMP, kamu berubah dan berteman dengan kedua orang aneh itu. Padahal kita dulu berteman baik."
"Yeah itu benar. Itu sebelum kamu merusak segalanya Kim."
"Oh ayolah Allana. Itu sudah lama terjadi. Kita bisa jadi teman kembali. Begini saja aku memasukkanmu ke dalam Cheers ku dan kita pergi bersama ke pesta Haloween akhir minggu ini, bagaimana? Anggap saja ini permohonan maafku."
"Aku tidak tertarik Kim."
"Oh ayolah All.."
"Kim..!!" beberapa teman Kim yang sudah siap di lapangan untuk berlatih. Kim menoleh ke arah suara dan melambai.
"Anyway.. Tawaranku masih berlaku. Aku harus pergi. Pertimbangkanlah..."
Kim berlari meninggalkan Allana yang hanya bisa menghela nafas. Allana kembali menatap para pemain rugby yang sedang berlatih.
"Sepertinya kamu cukup populer untuk orang yang sangat suka bengong." sahut seseorang yang sudah duduk di sebalahnya. Allana menoleh dan terkejut. Dia adalah laki-laki yang Allana tabrak kemarin.
"Aku tidak populer." kata Allana lalu memalingkan wajahnya.
"Berteman dengan Kimberly Harper itu sudah termasuk populer.
"Aku tidak pernah melihatmu di sekitar sini. Aku rasa kamu anak baru."
"Well.. Begitulah. Namaku Ben." Ben mengulurkan tangannya. Allana tersenyum kecil tapi tidak menyambut tangan Ben.
"Well Ben... Anak baru dan sudah mengenal siapa Kimberly Harper, itu luar biasa."
Ben tertawa.
"Aku sudah di perkenalkan mana yang bisa jadi kawanku mana yang harus aku hindari. Dan aku juga pasti tahu siapa gadis populer."
Allana tertawa.
"Kamu memiliki informan yang bagus."
"Sepertinya. Dan kamu adalah Allana Layford, gadis pintar dan cantik."
"Whoaa... Sepertinya kamu sudah melewati batas tuan."
Allana dan Ben tertawa. Allana tiba-tiba menghentikan tawanya. Matanya menangkap seseorang di ujung lapangan yang juga sedang menatapnya, Gyria.
"A-aku harus pergi." Allana mendadak berdiri.
"Mau kemana?" Ben ikut berdiri.
"Sampai jumpa lagi Ben." Allana berlari meninggalkan Ben yang masih kebingungan.
Allana mendatangi Gyria berada. Gyria mengetahui Allana sedang mendekatinya lalu berjalan perlahan menuju hutan belakang sekolah. Allana terus mengikuti kemana Gyria pergi sampai ke tengah hutan. Dia tidak melihat Gyria lagi. Dia mencari ke sekitarnya, tapi tidak menemukannya.
"Instingmu sangat buruk untuk seorang warrior sepertimu." sahut Gyria lalu melompat turun dari atas pohon tepat di hadapan Allana. Allana terkejut. "Hallo Allana.."
"Sedang apa kamu disini?"
"Aku bersekolah disini, kamu ingat?".
"Tapi mereka pasti sudah tahu kamu siapa."
"Tenang saja.." sahut satu orang lain, Leysha. "Kota ini adalah wilayah netral. Jadi siapapun boleh tinggal disini. Bahkan si penghisap darah sialan itu. Asalkan tidak berbuat onar."
"Peng... Hisap darah?"
"Ya.. Vampir. Tunggu... Kamu tidak tahu vampir?"
"Jadi maksud kamu.. Vampir itu nyata juga?"
"Tentu saja. Vampir, penyihir bahkan peri. Apa mereka belum memberitahukanmu tentang semua hal?"
"Hanya tentang manusia serigala, pack, alpha, beta, gamma, o... Om...omega? Ya, omega.."
"Yup dan kamu adalah warrior."
"Warrior? Ceritakan padaku, semuanya."
"Tapi masalahnya... Apa kamu akan percaya? Terlebih keluarga kamu bukanlah keluarga yang menyukai pack kami, meskipun ibumu berasal dari pack kami sebelumnya."
"Ibuku...dari pack kalian? Bagaimana bisa?"
"Pack kami adalah pack moon Crysort. Pack Crysort hanya berisikan shewolf, manusia serigala wanita. Hanya wanita. Jika mereka ingin mencari mate, tentu di perbolehkan tapi harus di luar pack. Setelah itu harus kembali ke pack. Tidak di perbolehkan membawa mate ke dalam pack dan hanya bisa membawa anak perempuan mereka. Jika ingin tinggal bersama mate, mereka harus keluar dari pack. Kamu sudah di beritahu soal mate bukan?"
"Tentu, pasangan kita. Satu untuk seumur hidup."
"Iya dan ibumu adalah contoh anggota pack yang keluar dari packnya. Pasti ibumu memiliki tanda bintang dan bulan sabit di pinggangnya sebelah kiri, seperti ini." Gyria membuka kausnya dan memperlihatkan tanda bakar berbentuk bulan sabit dan bintang. Gyria kembali menutup kausnya. "Tapi punya ibumu pasti berbeda karena untuk keluar dari pack kami punya ritual tersendiri."
"Lalu siapa aku?"
"Ibumu adalah beta terdahulu. Teman dari beta kami yang bertarung denganmu kemarin. Tapi ibumu adalah beta dari Luna terdahulu, bukan luna yang sekarang. Luna terdahulu sudah mati. Karena itu, ibumu bebas keluar dari pack dan kamu, kamu adalah bukti dari sebuah ramalan kuno dari pack kami."
"Ramalan kuno? Ramalan apa?"
"Ada sebuah ramalan mengatakan, saat keruntuhan pack, saat pack terpecah belah, saat pack tidak mempunyai harapan lagi, akan datang satu warrior yang mempunyai kekuatan setara alpha dan beta dan menyatukan pack kembali. Pack sudah hancur bertahun tahun lamanya, anggota kami sudah mencoba bertahan selama bertahun-tahun meski dalam kelompok kecil dan lemah, tapi kami tetap terpecah belah. Contohnya adalah ibumu."
"Jadi packmu menyalahkan ibuku?"
"Aku hanya membuatnya menjadi contoh karena yang keluar tidak hanya ibumu. Masih banyak lagi. Itu bisa di maklumi, karena pack kami lemah. Tidak ada gunanya berlindung di pack kami."
"Lalu kenapa kamu tidak pergi seperti yang lain?"
"Karena kami, yang tersisa, percaya pada ramalan itu. Dan penantian kami tidak sia-sia. Karena kamu datang."
"Dari mana kamu tahu aku adalah warrior itu?"
"Aku melihatmu berubah menjadi serigala. Matamu, bulumu. Semua tanda-tandanya."
"Aku baru tahu siapa aku-- tidak, apa aku sebenarnya. Bahkan aku juga belum menguasai tubuh serigalaku. Bagaimana bisa kalian menyatakan aku adalah warrior itu."
"Well kami punya cara tersendiri Allana." Gyria mendekati Allana. Dia berdiri tepat di depan Allana dan menatapnya sejenak lalu melanjutkan kata-katanya. "Dan untuk membuktikannya, ikutlah latihan dengan kami, besok, sepulang sekolah. Kami akan berada di selatan hutan ini. Disana akan ada beta Beck, yang melawanmu kemarin. Dia adalah petarung yang hebat dan kuat. Dia akan melatihmu dengan baik, dengan caranya. Atau mungkin kamu lebih tertarik di latih oleh kakakmu atau keluargamu?"
Gyria dan Leysha beranjak pergi.
"Ingat! Selatan kota ini. Jika tidak bisa pakai indra serigala, pakailah kompas atau apapun itu. Sampai jumpa besok Allana."
Gyria berubah menjadi serigala begitu juga Leysha. Allana menghela nafas. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia masih tidak yakin siapa yang harus dia percaya.
****
Allana pov
Aku masuk ke rumah. Aku melihat semua keluargaku sedang berkumpul di ruang keluarga dengan beberapa orang yang tidak aku kenal. Semua orang terdiam begitu melihat aku masuk. Aku hanya menatap mereka sejenak, dengan ketidaktertarikanku, lalu berjalan kembali menuju kamarku sampai akhirnya ibuku memanggilku.
"Allana... Kemarilah sebentar. Ada yang ingin bertemu denganmu."
"Allana tidak tertarik bu." kataku malas lalu kembali melangkah.
"Allana.. Ibu mohon. Hanya sebentar."
Aku menghela nafas kasar. Aku benar-benar tidak ingin membicarakan soal manusia serigala atau apapun yang berhubungan dengan itu. Aku sudah mulai muak dengan semua itu. Aku berbalik lalu berjalan mendekat.
"Lihatlah dia, sombong sekali." Alice mulai berkomentar. Aku tidak perduli sama sekali dengan komentar sinisnya.
"Allana perkenalkan, ini adalah alpha Dwaine, alpha dari pack kita. Dan ini betanya, sama seperti kakakmu, beta Gary."
Aku memperhatikan orang yang di perkenalkan padaku, yang bernama Alpha Dwaine. Dia terlihat lebih tua dari kakakku Derek tapi terlihat lebih muda dari ayahku. Dia masih duduk dan tersenyum. Lalu pandanganku menuju ke Gary, beta. Jadi... Mereka punya dua beta? Atau mungkin lebih banyak lagi? Entahlah, aku tidak perduli. Semua ini benar-benar membuatku gila.
"Allana, alpha kemari secara khusus untuk bertemu denganmu." kata ayahku.
"Kenapa begitu? Bukankah yang memegang jabatan alpha itu berarti orang terhormat? Untuk apa ingin bertemu denganku yang baru saja menjadi manusia serigala ini?"
"Allana... Jangan bersikap seperti itu."
"Tidak apa-apa. Hai Allana senang bertemu denganmu."
Alpha itu berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Aku hanya menatapnya.
"Allana..." ibu mulai menegurku. Aku mendengus kesal lalu menyambut tangannya.
"Aku sudah mendengar banyak tentangmu."
"Termasuk tentang siapa aku sebenarnya? Ahh iya, atau mungkin anda kemari karena hal itu? Bahwa kemungkinan aku adalah warrior itu, yang ada di dalam ramalan?" tebakku.
"Dari mana kamu tahu hal itu?" kulihat ibuku tampak terkejut.
"Tidak masalah Allana tahu dari mana tapi yang pasti Allana sudah muak dengan semua ini ibu. Jadi Allana mohon... Hentikan. Jangan memaksa Allana lagi. Allana butuh waktu."
"Apapun yang mereka katakan tentang dirimu dan tentang ramalan itu, jangan mudah percaya pada mereka Allana. Mereka--"
"Itu semua untuk kebaikanmu Allana, untuk melindungimu."
"Melindungi Allana dari apa bu?! Dari ramalan? Dari mereka? Atau apa? Allana sudah muak dengan semua ini!"
"Dan aku sudah muak dengan drama keluarga ini!" Alice meninggikan suaranya. Dia berjalan ke arahku. "Aku sudah muak dengan segala protes, keluhan dan manjamu. Kamu manusia serigala? Terimalah, pelajari dan biasakan! Berhenti mengeluh seperti anak manja!!"
"Alice..."
"Tidak bu! Dia harus mengerti. Kau! Sudah cukup dengan semua drama yang kamu buat. Alpha kesini dan bersedia menampungmu di packnya. Seharusnya kamu bersyukur atau setidaknya tahu diri untuk berterima kasih."
"Aku tidak pernah meminta untuk di terima." geramku.
"Lalu kamu mau jadi apa? Sendirian tanpa pack? Jadi rogue? Manusia serigala sudah seharusnya memiliki pack, Allana. Jika tidak, kamu akan menjadi rogue. Kamu tahu rogue bukan? Yang pernah menyerangmu dan membunuh semua orang di hutan itu. Kamu akan menjadi pembunuh!!"
"Aku tidak akan menjadi seperti itu!"
"Hanya manusia serigala yang tidak punya pack yang akan menjadi rogue dan kamu akan menjadi salah satunya!!"
"Alice, hentikan."
Aku menatap Alice. Aku begitu marah dan kesal. Aku hanya bisa diam menatapnya.
"Allana.. Sayang... Semua bisa di bicarakan dengan baik-baik."
Ibuku membujukku tapi aku tidak perduli. Aku berlari keluar dari ruangan itu dan menuju belakang rumahku. Aku berlari tidak tentu arah. Ingin rasanya meluapkan semua kemarahanku. Kenapa mereka tidak mengerti sedikitpun? Aku hanya ingin waktu, waktu untuk memahami semua ini. Kenapa mereka terus mendesakku dan menjadikan demi melindungiku dan kebaikanku sebagai alasan.
****
Author pov
"Ini benar-benar kacau." ibu Allana mendengus kesal.
"Kenapa kamu ikut berbicara?" Derek mulai menuduh Alice.
"Oh ayolah. Jangan salahkan aku. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!"
"Sudahlah jangan bertengkar. Sebaiknya kita cari adikmu." ayah Allana bangkit dari duduknya bersamaan dengan alpha Dwaine.
"Kita cari bersama-sama." kata alpha Dwaine.
"Tidak perlu alpha. Biar kami yang mencari. Anda tunggu disini aja."
"Tidak. Aku akan ikut. Ada yang ingin aku pastikan darinya."
Alpha Dwaine beranjak pergi. Keluarga Allana hanya saling pandang dalam diam.
****
Allana berhenti berlari. Dia berjalan pelan menyusuri hutan. Pikirannya begitu penuh, dia merasa sesak. Allana duduk di sebuah batang pohon. Dia yang awalnya benci masuk hutan di belakang rumahnya, sekarang tidak perduli lagi dengan ketakutannya. Dia hanya ingin menyendiri dari semua tekanan-tekanan.
"Alice benar.. Aku tidak bisa menghindar terus. Aku harus berpikir."
Allana memejamkan matanya dan mengatur nafasnya agar tenang.
Srek!
Allana mendengar bunyi dari kejauhan. Dia membuka matanya dan tampak siaga. Dia mulai terbiasa dengan pendengaran super nya.
Srek!
Suara itu semakin dekat. Mendekat dengan cepat. Allana berdiri. Dia melihat kesekitarnya. Dari kejauhan dia melihat beberapa dahan pohon bergoyang. Allana berjalan mundur.
"A-apa itu? R-Rogue?"
Tak lama dahan-dahan itu berhenti bergoyang. Henin g sekarang. Tapi Allana tidak langsung tenang. Dia masih wasdapa meskipun dia tidak panik lagi.
Bukk!
Satu serigala besar mendarat tepat di depan Allana. Allana terkejut dan berteriak. Allana terduduk. Dia menatap serigala itu dengan mata terbelalak. Serigala itu berbulu berwarna abu-abu bercampur putih dan matanya berwarna merah.
Allana segera berdiri dan menjaga jarak dari serigala itu.
"Siapa kamu?!" pekik Allana. Serigala itu hanya menggeram dan terlihat marah. Allana semakin ketakutan.
Muncul satu persatu keluarganya. Ayah, ibu, Derek bahkan Alice. Ayahnya ingin mendekati Allana tapi serigala alpha Dwaine menggeram marah. Dia melarangnya. Ayah Allana hanya bisa kembali mundur.
Serigala alpha Dwaine kembali menatap Allana. Dia menggeram lebih keras dari sebelumnya. Perlahan serigala alpha Dwaine berjalan mendekati Allana. Allana panik.
"Ma-mau apa ka-kamu?" Allana berjalan mundur kebelakang.
"Allana... Rubah dirimu!" sahut Derek. Allana masih diam. "Allana!! Rubah dirimu atau kamu akan mati!"
"Ba-bagaimana caranya?!"
"Lakukan seperti yang pernah aku beri tahu. Perintahkan tubuhmu untuk berubah. Cepat Allana!!"
"Konsentrasi sayang... Kamu pasti bisa..." ibunya menambahkan.
Nafas Allana cepat. Dia gugup dan panik. Dia tidak ingin berubah tapi serigala di depannya sudah semakin marah dan tampak akan segera menyerangnya. Tiba-tiba serigala alpha Dwaine mengayunkan satu kaki depannya. Allana dengan sigap menghindar. Lalu berlari menjauh.
"Allana kamu harus berubah!"
"Apa alpha benar-benar akan menyerang Allana?" tanya ibunya pada Derek.
"Iya bu. Dia akan menyerang Allana dan kita dilarang membantunya"
"Tapi Allana masih belum bisa berubah dengan bebas. Dia masih harus belajar!"
Ibu Allana mulai panik tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Perintah alpha tidak bisa di ganggu gugat. Allana memejamkan matanya dan mengatur nafasnya.
"Bisa, aku pasti bisa berubah. Pasti bisa."
Allana melakukan persis apa yang kakaknya pernah instrusksikan padanya. Serigala alpha Dwaine mulai mendekat. Tubuh Allana mulai panas. Terdengar suara patahan tulang. Allana berteriak keras. Dengan segera Allana berubah menjadi serigala berbulu putih yang khas. Matanya berwarna coklat indah. Allana mendatangi alpha Dwaine perlahan.
'Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?'
'Hanya ingin memastikan sesuatu'
Alpha Dwaine berlari menuju Allana dan menerjangnya. Tubuh mereka merubuhkan dua buah pohon sekaligus. Mereka berguling lalu terpisah. Alpha Dwaine segera berdiri kembali lalu kembali menyerang Allana. Dia menggigit pundak Allana. Allana mengerang kesakitan. Dia berusaha melepaskan diri. Dengan susah payah Allana terlepas dari gigitan alpha Dwaine, tapi alpha Dwaine tidak melepaskan Allana begitu saja. Dia kembali menyerang Allana. Allana sempat nenghindar tapi dengan sigap alpha Dwaine menggerakkan kakinya dan menendang tubuh Allana yang berada di dekat kakinya. Allana terhempas. Tubuhnya mengenai pohon. Allana bersusah payah berdiri. Dia menggeram marah. Bola matanya berubah menjadi putih pekat.
"Allana bisa mati jika dia seperti ini terus. Alpha Dwaine sudah menggigit Allana. Allana akan segera menjadi lemah."
"Tenang saja bu, Allana akan baik-baik saja. Percayakan pada alpha Dwaine."
"Derek, gigitan alpha mematikan bagi kita!"
"Tenanglah bu. Alpha Dwaine tahu apa yang dia lakukan."
Alpha Dwaine kembali menyerang Allana. Dia melayangkan cakarnya. Allana berusaha untuk menghindar tapi tetap saja berkali-kali terkena cakaran alpha Dwaine. Tubuh Allana kini penuh luka. Allana berdiri dengan susah payah.
'Apa... Apa yang kamu.... Inginkan... Dariku..."
'Tunduk padaku, patuh padaku dan setia padaku. Aku adalah alphamu.'
'Aku... tidak akan tunduk... patuh... setia... pada siapapun!'
'Alice benar Allana. Kamu harus memiliki pack. Keluargamu adalah bagian dari packku, maka otomatis kamu juga bagian dari packku dan aku adalah alphamu.'
'Kamu bukan alphaku dan aku... Tidak memiliki alpha.'
'Jangan keras kepala Allana.'
'Aku tidak perduli! Menjauhlah dariku.'
'Aku tidak akan menjauh sampai aku selesai memastikan sesuatu.'
Alpha Dwaine menyerang kembali. Dia melompat ke arah Allana. Allana menghindar dengan cepat. Kakinya pincang akibat terhempas dan mengenai dahan pohon. Allana tidak pernah menyerang balik. Yang dia lakukan hanya menghindar.
Brak!
Allana tidak bisa menghindar lagi. Alpha Dwaine menyerangnya dengan kasar. Allana terkena cakaran, tendangan dan terhempas keras. Allana mencoba berdiri tapi tubuhnya lemah, di tambah dengan racun alpha akibat gigitan dari alpha Dwaine, membuatnya semakin lemah. Bola matanya berubah menjadi coklat kembali. Alpha Dwaine menatap Allana tajam. Allana berusaha, dengan sekuat tenaga untuk bangkit. Dia masih tertatih tapi akhirnya dia bangkit. Alpha Dwaine berjalan perlahan mendekati Allana. Allana mundur, dia takut alpha Dwaine akan menyerangnya lagi. Alpha Dwaine menatap tajam Allana lalu menggeram. Dia meninggikan tubuhnya, mencoba mendominasi. Suara geraman alpha Dwaine semakin lama semakin keras. Anggota packnya yang mendengar akan ketakutan dan tunduk padanya. Tapi tidak bagi Allana. Allana dengan susah payah berdiri tegak dan ikut menggeram marah. Dia tidak ingin patuh dan tunduk. Baginya dia adalah serigala bebas. Geraman Allana semakin keras dan kasar. Bola matanya kembali berubah menjadi putih dan dia bersiap menerima serangan lagi.
Tak lama alpha Dwaine terdiam. Dia menatap Allana dengan tatapan berbeda. Bukan tatapan marah atau ingin menyerang lagi. Alpha Dwaine mundur beberapa langkah dari Allana. Allana masih menggeram dan siaga meskipun dia melihat tatapan berbeda dari alpha Dwaine. Tapi tak lama tubuh Allana ambruk. Dia lemas.
"Tidak.. Allana..." ibu Allana mulai panik.
Alpha Dwaine mendatangi tubuh serigala Allana. Allana yang melihat alpha Dwaine mulai menggeram lagi dengan sisa tenaganya dan berusaha bangkit.
'Tidak perlu bangkit. Aku tidak akan menyerang lagi. Semua sudah di pastikan. Aku akan membantu menghilangkan racun dari gigitanku'
Allana tetap menggeram. Alpha Dwaine menjilati luka gigitannya di tubuh serigala Allana karena hanya air liur alpha yang bisa menyembuhkan racun dari luka gigitan seorang alpha.
'Kami masih perlu banyak berlatih tapi kamu memang warrior. Itu sudah aku pastikan. Berjuanglah, kamu pasti bisa.'
Alpha Dwaine mundur beberapa langkah dari Allana lalu merubah dirinya menjadi manusia kembali. Gary memberikan pakaian pada alpha Dwaine.
"Bagaimana adik saya alpha?"
"Dia bagus Derek dan dia memang warrior. Jika dia manusia serigala biasa, dia tidak akan bisa bertahan lama dari seranganku tadi. Tapi Allana, dia bisa bertahan. Tapi sayangnya dia bukan anggota packku. Dia tidak tunduk saat aku mendominasinya tadi. Jadi sekarang terserah Allana. Jika dia ingin bergabung, aku akan dengan senang hati menerimanya. Tapi jika tidak, sebaiknya dia memiliki pack yang baik dan bisa melatihnya dengan benar, karena untuk ukuran manusia serigala baru, dia sangat kuat. Jika dia di latih dengan benar, dia akan jadi warrior yang hebat. Mari kita pulang Gary."
Alpha Dwaine melangkah pergi bersama beta Gary dan beberapa omega yang dia bawa.
"Derek pergi dulu bu. Sebaiknya segera rawat Allana. Derek akan segera kembali."
Derek pergi menyusul alpha Dwaine, begitu juga Alice dan beberapa temannya yang baru saja datang. Ibu dan ayah Allana langsung mendekati Allana dan menutupi tubuh Allana yang telah menjadi manusia dengan pakaian seadanya.
"Bahkan alpha Dwaine telah memastikan bahwa Allana adalah warrior itu." gumam ibu Allana.
"Mungkin memang benar. Tidak ada jalan lain selain menerima bahwa Allana memang warrior yang ada diramalan itu."
"Tapi... Tapi bagaimana jika mereka mengklaim bahwa Allana adalah anggota pack mereka, pack moon Crysort."
"Kita akan lihat nanti sayang. Alpha Dwaine sudah membuktikan bahwa Allana bukan anggota packnya. Jadi kita akan lihat nanti, apa Allana akan tunduk pada Luna dari pack moon Crysort atau tidak."
"Jika memang begitu, aku tidak masalah. Asal Allana punya pack. Pack Crysort bukan pack yang buruk, mereka pack yang kuat hanya saja mereka punya peraturan yang mengikat. Tapi itu lebih baik dari pada tidak punya pack sama sekali. Tapi bagaimana jika Allana juga tidak tunduk pada Luna?"
"Berarti terserah Allana. Semua keputusan ada di tangan Allana. Sudahlah ayo kita bawa Allana masuk. Dia sudah terluka cukup parah. Kita tidak tahu penyembuhan dirinya sudah bekerja atau belum jadi aku harus memeriksanya."
Ayah Allana mengangkat tubuh Allana yang lemas. Dia masih bisa mendengar pembicaraan ibu dan ayahnya tadi meski tidak begitu jelas. Dia tidak perduli lagi. Yang dipikirannya hanya satu. Dia ingin segera pergi. Pergi yang jauh dari semua ini. Serasa semua beban diberikan padanya tanpa jeda. Membuatnya ingin lari dan menjauh. Penglihatan Allana mulai gelap. Dia sudah tidak mendengar apapun. Allana tidak sadarkan diri.
****
tadariez