Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 11 : I Kill Someone?!



"Lagi!"


Beck berteriak tegas. Allana menghela nafasnya dan mengelap keringatnya.


"Allana! Jangan lambat, cepatlah! Lakukan lagi!"


Allana mendengus kesal. Dia sudah merasa tidak kuat lagi. Seluruh tubuhnya sakit dan lelah. Allana menelan ludahnya lalu bersiap. Dia memegang perisai dan mengarahkan perisai itu kedepan dadanya. Dia mulai berlari dan mendorong kuat orang yang sudah bersiap tidak jauh di depannya.


Klang!!


Suara dentuman perisai terdengar.


"Terlalu lemah. Lebih kuat lagi."


Allana mundur beberapa langkah. Dia segera mulai berlari lagi dan menabrak lagi orang di depannya dengan perisai yang di bawanya.


"Masih lemah Allana! Kamu harus lebih kuat lagi!"


"Tapi aku sudah mendorongnya dengan kuat!"


"Belum cukup kuat. Lakukan lagi!"


Allana mendengus kesal. Dia merasa sudah mendorong dengan keras tapi masih saja tidaj cukup bagi Beck.


"Allana, kamu seorang warrior. Kamu bisa lebih kuat dari itu."


"Ya mungkin dan mungkin kamu juga lupa aku baru saja menjadi manusia serigala. Bahkan aku tidak meminta untuk menjadi warrior terkuat." gerutu Allana sambil berjalan ketempatnya semula. Beck mendengar semua perkataan Allana. Beck berjalan mendekati Allana.


"Aku juga tidak meminta untuk menjadi beta dalam hidupku. Kita tidak memilih semua peran di dalam pack manusia serigala, entah itu beta, gamma, warrior. Kekuatan mereka yang memilih peran mereka. Saat kamu menjadi beta, maka kamu memang mempunyai kekuatan beta itu. Bagi yang baru saja menjadi manusia serigala sepertimu, kekuatan aslimu masih tersembunyi atau belum di asah. Itu tugasku disini. Aku mencoba mengeluarkan kekuatan warrior yang sebenarnya dari dirimu. Jadi Allana, jangan menahannya. Keluarkan semua kekuatanmu."


"Bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikan kekuatan itu?"


"Kamu bisa Allana, kamu harus bisa. Aku akan mengajari bagaimana mengendalikan kekuatanmu."


"Apa... Uhmm... Aku bisa jadi manusia serigala biasa saja? Aku tidak ingin menjadi warrior." Allana menundukkan kepalanya.


"Percayalah pada dirimu dan kekuatanmu Allana. Mereka akan membimbingmu."


"Huft.. Entahlah. Sudah beberapa hari aku berlatih tapi tidak ada perkembangan sedikitpun."


"Karena kamu melakukan tidak sepenuh hati."


Allana menatap Beck.


"Aku tahu kamu kemari untuk latihan. Tapi ini bukan latihan biasa. Kami semua melewati latihan ini. Ini latihan untuk membentuk karakter kamu, mengembangkan dan menguasai kekuatan kamu. Atau mungkin kamu punya tujuan lain?"


Allana terdiam. Dia mulai gugup. Benar perkataan Beck. Dia tidak ingin berlatih terlalu keras. Yang dia inginkan hanya mencari tahu kebenaran siapa dirinya, apa dirinya. Hanya ingin menguasai sisi serigalanya dan setelah itu? Setelah itu dia tidak akan menjadi manusia serigala lagi. Setelah dia mengetahui kebenarannya dan bisa mengendalikan sisi serigalanya, dia akan kembali, kembali menjadi Allana yang dulu.


"Tentu saja aku ingin berlatih." jawab Allana berbohong dan tentu, Beck dan yang lain tidak perlu mengetahui hal itu. Beck menatap mata Allana. Allana hanya menatap Beck sejenak lalu menundukkan kepalanya. "Tapi.. Apa perlu sesulit ini?"


"Kamu seorang warrior Allana, terlebih warrior yang di ramalkan itu. Berarti kamu memiliki kekuatan yang besar. Kamu harus bisa mengendalikan kekuatan itu."


"Tapi aku tidak merasakan kekuatan apapun! Ya, itu benar, aku memang lebih kuat dari sebelum aku menjadi manusia serigala. Tapi itu saja, tidak ada yang lain. Aku yakin kamupun merasakan hal itu."


Allana mendengus kesal. Hal itu lah yang sebenarnya membuatnya yakin bahwa dia bukan warrior itu. Dia mengatakan sejujurnya, jika dia memang tidak merasakan hal apapun.


"Itu karena kamu tidak melakukanny sepenuh hati. Lakukan lagi, sekarang."


Allana menarik nafas panjang. Beck kembali ke tempatnya tadi.


"Sepertinya jalan buntu." sahut Melisa yang sudah berdiri di dekat Beck.


"Entahlah Mel. Ada sesuatu yang menahannya."


"Atau kita bangkitkan saja jiwa serigalanya? Kita minta Luna yang melakukannya."


"Aku tidak yakin Luna bisa. Melihat dari kondisi Luna dan ibu Allana yang bukan dari pack kita lagi."


"Tapi apa salahnya mencoba. Atau. Kita minta bantua yang mulia saja?"


Beck menatap Melisa.


"Yang mulia?"


"Kau tahu, raja Lycanthrope, raja Kei."


"Tidak, jangan. Jangan libatkan mereka. Kamu ingat perkataan Luna. Jangan libatkan raja dalam hal pack kita terutama hal ini. Lagipula mereka belum tentu percaya jika pack kita masih ada."


"Huft.. Lalu kita harus bagaimana?"


"Aku yakin dia bisa. Hanya saja dia terlalu... Menahannya. Entah apa masalahnya."


"Mungkin saja dia takut. Kau tahu, dia memiliki kekuatan setara alph dan beta. Dia sangat kuat. Mungkin saja dia takut tidak bisa mengendalikan kekuatannya."


"Mungkin."


Beck menatap Allana yang sudah bersiap.


"Kau siap Allana?"


Allana mengangguk yakin.


"Jangan menahan kekuatanmu Allana. Biarkan dia keluar. Dia..." Beck menunjuk wanita yang akan di tabrak Allana. "Dia manusia serigala. Dia sudah terlatih. Dia akan bisa menahan seranganmu. Kalaupun dia terluka, dia akan segera baik-baik saja. Kita bisa menyembuhkan diri."


Allana mengangguk. Dia masih ragu.


"Lakukan Allana!"


Allana berlari kencang dan menabrak wanita di depannya dengan perisai. Wanita itu hanya bergerak sedikit.


"Tidak kuat Allana. Dia bahkan tidak begeming!"


Allana kembali pada posisinya. Dia memejamkan matanya dan mengatur nafasnya.


"Kamu ingin aku mengeluarkan semua kekuatanku dan tidak menahannya? Baiklah. Kamu akan mendapatkannya. Meski aku tidak yakin aku punya kekuatan besar itu, tapi kamu akan mendapatkan keinginanmu Beck."


Allana membuka matanya. Dia terlihat fokus dari sebelumnya. Dia menarik nafas panjang. Dia merasakan ada sesuatu di dalam tubuhnya. Suatu kekuatan yang besar. Dia merasakan kekuatannya.


Allana berlari kencang. Dia mendorong wanita di depannya dengan seluruh kekuatannya. Wanita itu melayang cukup tinggi dan terhempas jauh. Allana terkejut. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Beck dan yang lainnya jug terkejut. Mereka mematung dia tempatnya.


"Allana, kamu berhasil! KAMU BERHASIL!!" Gyria berteriak dan melompat kegirangan. Dia memeluk Leysha yang masih berdiri mematung di sebelahnya lalu ikut melompat bersama Gyria.


"Astaga ini luar biasa."


Beck dan Melisa tersenyum.


"Told you. Dia hanya menahannya." Beck menepuk pundak Melisa.


"Sepertinya begitu."


"Cepat periksa Arnett. Lihat apa dia baik-baik saja."


Salah satu dari mereka langsung pergi dan memeriksa Arnett, wanita yang tadi di hempas Allana. Gyria mendatangi Allana dan menggoyang tubuhnya kuat.


"Allana kamu berhasil! Kenapa kamu diam saja?"


"Apa.... Apa aku yang me-melakuan itu?"


"Iya Allana, itu kamu. Itu kamu!!"


Gyria menggoyangkan tubuh Allana lagi.


"Beta!!"


Satu orang yang tadi memeriksa Arnett kembali dengan tergesa-gesa.


"Beta..."


"Ya? Ada apa? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?"


"I-itu... Itu..."


"Katakan dengan benar. Ada apa dengan Arnett?" Melisa tampak tidak sabaran.


"Dia.. Dia tidak sadarkan diri beta. Dia.. Dia.."


Beck berlari menuju Arnett berada, disusul yang lainnya. Tak lama mereka sampai. Arnett memang terhempas cukup jauh. Beck melihat tubuh Arnett. Tubuhnya tergeletak ditanah dan tidak sadarkan diri.


"Coba periksa, apa dia masih hidup."


Melisa berjongkok dan memeriksa tubuh Arnett.


"Dia masih hidup tapi sangat lemah."


"Cepat bawa dia. Kita bawa ke pack."


"Tapi pack kita jauh Beck."


"Benar. Kita bawa saja ke rumah sakit kota ini. Rumah sakit manusia biasa. Bilang saja dia jatuh di jurang."


"Baik. Ayo angkat dia!"


Beberapa orang membantu mengangkat Arnett dan membawanya pergi.


"Oh tidak... Tidak... Aku.... Aku membunuhnya..."


Allana menatap takut. Dia terduduk di tanah.


"Aku membunuhnya.."


*****


Dengusan kesal keluar dari Renald untuk kesekian kalinya. Dia memasang ransel di pundaknya dan menarik kopernya lalu pergi meninggalkan kamarnya.


"Kenapa harus aku?" gumamnya kesal saat dia sudah di depan rumahnya.


"Oh ya tuhan Renald... Berhentilah mengucapkan hal itu." keluh bibinya.


"Tapi Renald tidak ingin pergi bi."


"Kamu perlu pergi dari sini. Kamu sudah seperti orang gila, berlatih terus menerus."


"Apa salahnya berlatih?"


"Tidak salah Ren. Tapi jika kamu berlatih dari awal kamu bangun pagi sampai kamu akan tidur, itu yang salah. Bahkan kamu hanya berhenti saat sekolah. Makanpun tidak teratur. Jadi sebaiknya kamu pergi." bibi memberikan satu bingkisan yang lumayan besar.


"Apa ini?"


"Titipan untuk teman bibi. Ahh masih ada lagi, tunggu sebentar."


"Uhm.. Tunggu dulu, jangan banyak-banyak bi!" kata Renald setengah berteriak. Bibinya hanya terus berjalan sambil melambaikan tanganya tanpa melihat Renald.


"Huft... Menyebalkan sekali."


"Berhentilah mengeluh alpha." Ted, betanya datang menghampiri.


"Aku hanya tidak mengerti, kenapa harus aku yang ikut pertukaran pelajar ini. Apa harus aku lakukan?."


"Ren, kamu itu cerdas, kau tahu. Bahkan nilai akademikmu sangat tinggi. Kamu salah satu murid terpandai di sekolah!"


"Lalu? Masih banyak murid pandai lainnya Ted, tidak hanya aku."


"Apa kamu tidak dengar apa kata kepala sekolah waktu itu? Beberapa sudah di kirim bahkan ke negara lain. Itu program sekolah tiap tahun sejak kepala sekolah itu menjabat menjadi kepala sekolah. Kau sendiri yang menginginkan kepala sekolah dari kalangan manusia biasa dan tidak tahu apapun soal manusia serigala."


"Ya, ya... Aku yang menginginkan itu. Aku hanya bermaksud agar kita bisa berbaur dengan mudah terutama di sekolah. Tapi aku donatur utama di sekolah, aku ingin menolaknya."


"Huft... Baiklah, baiklah. Tapi alpha apa yang meninggalkan packnya."


"Pack akan baik-baik saja. Kamu tahu pack ini di lindungi mantra ibumu. Setidaknya sampai kamu bisa mandiri melindungi pack ini. Kamu sendiri yang cari masalah. Kenapa kau harus berlatih seperti orang gila, tanpa henti."


"Hei, aku hanya berlatih! Bukannya kamu baru saja mengatakan jika aku harus mandiri melindungi packku, tanpa sihir wanita itu?"


"Wanita itu ibumu Ren. Mau bagaimanapun kamu membencinya dia tetap ibu yang melahirkan kamu. Hubungan darah tidak bisa putus begitu saja."


Renald menatap Ted tidak percaya.


"Tumben sekali kamu berkata bijak seperti itu. Apa kamu sakit? Atau kerasukan?"


"Hah! Apa aku terlihat kerasukan sekarang?" Ted cemberut. Renald tersenyum geli.


"Dan juga, kenapa kamu harus ikut? Kamu bukan salah satu murid terpandai."


"Tapi aku salah satu murid tertampan di sekolah tentu aku ikut."


Renald terdiam. Dia terlihat bengong sejenak lalu akhirnya...


"Huweeekkk!!!"


"Hei, hei itu benar. Aku memang tampan!"


"Ughh baiklah, baiklah.. Memikirkannya saja membuatku mual."


Ted cemberut ria. Dia memajukan bibirnya. Tapi akhirnya di tersenyum.


"Alpha.... Aku ini beta tampan, imut dan manis." kata Ted dengan suara yang di buat-buatnya. Ted berubah menjadi imut. "Ayolah alpha... Aku serigala tampan nan imut."


Renald berusaha keras menghindari Ted yang terus mendekatinya dan bersikap imut padanya


"Berhenti melakukan itu atau kau akan kugigit dengan gigi alphaku!"


"Whoaa kau ini. Sedikit sedikit menggunakan alphamu, apa kamu tidak bosan?"


"Itu semua gara-gara kamu yang menyebalkan."


"Akkhh sungguh menyakitkan hatiku.. Ughh... Sakit sekali..." Ted memegangi dadanya dan membuat ekpresi sakit.


"Hah! Lucu sekali. Lalu kenapa mereka ikut juga?" Renald menunjuk sekumpulan anak muda yang berkumpul tidak jauh darinya dan tersenyum melihat tingkah Ted tadi.


"Ohh... Mereka hanya menjagamu saja."


"Astaga, kamu saja sudah merepotkan. Apa perlu?"


"Tentu perlu. Kamu alpha dan masih muda, berada di kota lain bahkan di negara lain sendirian. Dan aku dengar disana wilayah netral, jadi itu akan sangat berbahaya jika kamu bertemu manusia serigala lain dan mereka mengetahui kamu adalah alpha dari sebuah pack. Terlebih kamu tidak memiliki keturunan."


"Jika alpha, beta dan beberapa gamma ikut pergi, siapa yang akan menjaga pack ini?"


"Sudah aku katakan, pack ini aman. Lagipula bibimu bisa menjaganya selagi kamu pergi. Hanya dua minggu Ren."


"Huft... Baiklah... Merepotkan sekali."


"Apa yang kalian bicarakan? Serius sekali?"


Bibi Agatha datang menghampiri mereka dengan membawa bingkisan yang lumayan besar. Renald dan Ted terdiam. Tidak ada yang menjawab.


"Kenapa kalian diam?"


"Tidak apa-apa bi. Apa semua sudah selesai?"


"Sudah. Ini, berikan ini pada teman bibi."


Bibi Agatha menyerahkan satu bungkusan besar yang di bawanya, bahkan lebih besar dari yang tadi.


"Astaga bi, apa ini tidak berlebihan?"


"Tentu saja tidak. Aku akan menitipkan keponakan kesayanganku beserta teman-temannya yang tukang makan. Tentu semua ini perlu." Rendal dan Ted memasang wajah cemberut. "Sudah sana berangkat. Kalian akan ketinggalan pesawat."


"Apa Renald harus pergi?"


"Kita sudah membahas ini Ren dan bibi tetap pada keputusan bibi."


"Huft... Baiklah. Renald harap bibi akan menyesal mengirim Renald jauh dari rumah."


"Ohh bibi tidak akan menyesal. Bibi senang mengirimmu pergi, jauh dari masalah pack dan kegilaanmu pada latihan. Sebenarnya ada apa dengan latihan-latihanmu? Bibi tidak pernah melihat kamu latihan sekeras itu?"


"Sepertinya aku tahu kenapa." kata seorang pria yang baru saja datang.


"Kau tahu Beny?"


"Kurasa aku tahu. Mungkin dia sedang menahan.. Nafsu seksualnya. Mungkin ini waktunya dia untuk kawin."


"Hah! Lucu sekali paman!" protes Renald.


"Benarkah itu Ren?" semua menatap Renald.


"Tentu saja tidak bi!"


"Tapi kami juga berpikir hal yang sama seperti tuan Beny." kata salah satu gamma bernama Imanuel, disambut anggukan yang lain, bahkan Ted.


"Apa?!"


"Alpha mengajak kami latihan tanpa henti."


"Dan alpha sungguh sangat bersemangat."


"Whoaaa... Aku benar-benar tidak menyangka kamu... Kamu seperti itu alpha." Ted melipat kedua tangannya di dadanya dan menggelengkan kepalanya.


"Aku... Tidak... Wahh kalian benar-benar bekerja sama... Waahh... Aku tidak percaya!!" Renald terlihat panik. Semua orang tersenyum geli. Renald mengusap wajahnya.


"Katakan pada bibi, apa itu benar? Well yeah kalau pun benar tidak masalah Ren, mungkin sudah waktunya. Jangan lupa beli tisu yang banyak dan jangan lupa kunci kamar."


"Bibi!!"


"Bwahahhahahahha...!!"


Semua orang tertawa geli. Terlebih wajah Renald sudah semerah tomat. Dia marah.


"Aku tidak seperti itu!" geram Renald marah. Bola matanya berubah menjadi merah.


"Whoaa... Tenanglah alpha.."


"Okay baiklah, baiklah... Sudah waktunya kalian pergi. Berpamitanlah, aku akan menunggu kalian di mobil."  Beny menepuk pelan pundak Renald sambil tertawa pelan.


"Ini semua gara-gara paman!"


Beny hanya tertawa geli dan melambaikan tangannya. Beny bukan manusia serigala. Dia hanya manusia biasa. Keluarga Renald dan keluarga Beny merupakan teman baik sejak dahulu. Mereka selalu saling membantu. Seluruh keluarga Beny mengetahui tentang adanya manusia serigala. Keluarga Beny merahasiakan hal itu bertahun-tahun lamanya.


"Baiklah... Hati-hati disana. Telpon aku jika ada masalah atau mindlink juga tidak apa-apa. Dan kumohon... Jangan membuat masalah dan merepotkan orang lain. Ini berlaku untuk semua orang." bibi Agatha menatap semua orang dengan tajam. Bibi memeluk Renald erat. "Jaga alpha kalian."


"Baik nyonya."


"Pergilah, kalau tidak kalian akan ketinggalan pesawat. Dan ingat, teman bibi itu manusia biasa dan di tidak mengetahui apapun tentang manusia serigala. Jadi berhati-hatilah. Kalian mengerti?"


"Kami mengerti bi, tenang saja. Tolong kabari Renald jika ada masalah dengan pack."


"Tentu. Pergilah."


Renald mengangguk dan berjalan menuju mobil paman Benny.


****


Allana masih terdiam di kamarnya. Dia terus saja menggigiti kukunya. Dia menunggu dengan gugup. Bahkan dia tidak ikut makan malam bersama keluarganya, dia beralasan terlalu lelah. Padahal dia tidak lelah, dia hanya terlalu takut dan gugup menungu berita tentang Arnett. Beck menyuruhnya langsung pulang dan menunggu, tapi sudah hampir tengah malam, dia tidak mendengar kabar darinya.


Tuk!


Suara sebuah ketukan kecil di jendelanya. Allana mendengar itu dan langsung berlari menuju jendela kamarnya. Allana membuka gordennya dan melihat dua orang dalam ke gelapan. Salah satu orang yang dia kenal sebagai Gyria itu melambaikan tangannya, memintanya untuk turun. Allana segera membuka jendelanya dan segera turun. Mereka berlari menjauhi rumah.


"Bagaimana? Apa dia mati? Apa aku membunuhnya?"


"Banyak sekali pertanyaanmu?"


"Ahh ayolah... Aku khawatir! Kalian berkata akan segera memberitahukanku, tapi jam segini kalian baru datang!"


"Tenanglah Allana. Kamu harus tenang!"


"Bagaimana aku bisa tenang?! Aku membunuh orang!"


"Kamu tidak membunuhnya Allana, dia selamat."


"Be-benarkah?"


"Benar. Dia langsung masuk ruang operasi di rumah sakit itu. Dia mengalami patah tulang di rusuk, lengan dan leher bahkan punggung."


"Astaga..." Allana menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya terbelalak kaget.


"Dia hampir mati, itu benar. Jika dia manusia biasa, dia pasti sudah mati dengan patah tulang sebanyak itu. Tapi dia manusia serigala, meskipun butuh waktu untuk menyembuhkan dengan luka yang sebanyak itu, tapi dia akan bertahan. Dia kuat. Beck akan segera membawanya pergi ke pack kami. Kami tidak ingin manusia biasa mengetahui kesembuhan Arnett yang cepat."


"Kalian tidak berbohongkan? Hanya untuk membuatku tidak takut lagi?"


"Tentu tidak Allana. Kami mengatakan sebenarnya. Arnett salah satu pelatih senior kami, dia hampir sekuat Beck dan Melisa. Tentu kami akan sedih jika kehilangannya."


"Baiklah jika memang seperti itu."


"Kembalilah dan tidur. Kita harus sekolah besok, kau ingat?"


"Aku tahu. Lalu... Di mana Beck?"


"Dia kembali ke pack kami."


"Itu benar. Sepertinya dia akan bertanya pada penyihir kota kita."


"Memang harus di tanyakan Leysha."


"Uhmm... Apa yang akan di tanyakan?"


"Tentangmu, tentang kekuatanmu. Al, kamu memiliki kekuatan besar! Bahkan beta Beck pun tidak memiliki kekuatan sebesar itu. Terlambat sedikit saja, Arnett akan mati. Tapi tenang saja. Beta akan kembali dan mengajari bagaimana mengendalikan kekuatan besar seperti milikmu, Beta sangat ahli dalam mengendalikan kekuatannya. Jadi jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."


"Aku jadi ragu untuk menggunakannya lagi."


"Tidak, jangan berkata seperti itu. Kekuatanmu adalah anugerah al, tidak semua orang memiliki kekuatan seperti milikmu. Yang sekarang harus kamu lakukan hanya mengendalikannya."


"Itu yang aku takutkan. Bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku? Aku akan menyakiti orang lain lagi!"


"Al, jika kamu membiarkan kekuatanmu, lambat laun kamu akan mengeluarkannya lalu kamu tetap akan menyakiti orang lain. Tapi jika kamu mengendalikan kekuatan kamu sesegera mungkin, kemungkinan kamu menyakiti orang akan semakin kecil."


"Gyria benar Al, aku tahu ini berat bagimu, tapi cobalah. Demi dirimu, keluargamu dan orang lain. Kamu harus bisa kendalikan kekuatanmu."


Allana masih terdiam. Pikirannya sudah terpenuhi dengan semua ketakutan-ketakutannya.


"Entahlah, aku tidak tahu. Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana."


Hanya itu yang bisa Allana katakan. Dia begitu bingung dengan perasaannya yang campur aduk.


"Ada apa ini? Apa ada masalah?"


Mereka semua menoleh dan mendapati Derek berdiri tidak jauh dari mereka.


****


tadariez