Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 17 : Help Is Coming



"Apa kau yakin mereka akan datang sayang?"


"Entahlah.. Aku berharap."


"Ibu menunggu disini tanpa mengetahui mereka datang atau tidak? Great!"


"Kita tidak bisa memaksa mereka datang Alice."


"Memangnya mereka siapa? Mereka hanya penyihir! Bukan tuhan! Mereka bersikap seolah mereka orang penting."


Ibu Allana hanya bisa menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya. Sudah dua jam mereka menunggu tapi yang ditunggu belum datang juga.


"Alice, bukankah seharusnya kamu menjaga Allana?"


"Allana di sekolah bu, dia sedang belajar. Apa yang bisa Alice lakukan disana? Berdiri di depan pintu? Lagipula dia punya dua temannya itu."


"Ayah kira kamu tidak percaya pada mereka berdua."


"Memang tidak. Tapi seperti kata ibu, karena penyesalan mereka, mereka akan melakukan apapun untuk membayarnya. Jadi mereka tidak akan menyakitinya kan? Lagipula hanya sampai sekolah usai."


Ayah dan ibu Allana hanya bisa saling menatap. Di antara ke tiga anaknya, hanya Alice yang sulit di atur dan di larang. Mereka tahu, percuma beradu argumen dengan Alice.


Angin kencang tiba-tiba berhembus. Alice yang duduk tenang di batang pohon yang mati, mulai panik dan berdiri.


"Ini mereka? Bukannya penyihir selalu datang jika ada angin kencang?"


"Tidak selalu Alice, duduk dan tenanglah."


"Bagaimana Alice bisa tenang bu? Kita menunggu penyihir!"


"Memang ada apa dengan penyihir? Apa kami begitu berbeda?" sahut sebuah suara yang tiba-tiba terdengar. Beberapa orang muncul begitu saja di antara mereka. Ibu dan ayah Allana dengan sigap berdiri.


"H-hei... ba-bagaimana kalian bisa begitu saja muncul? Ka-kalian hantu?!" pekik Alice.


"Kami penyihir nona, kami bisa berteleportasi."


"Tele--apa?"


"Teleportasi nona serigala." sahut satu orang yang lebih muda dari semua penyihir yang datang. Ada lima penyihir yang datang. Tiga orang mengenai pakaian putih dan mengenakan tudung kepala sementara yang dua lainnya, yang lebih muda, mengenakan pakaian biasa.


"Nona serigala?"


"Manusia serigala benarkan?"


Saat Alice ingin menyahut lagi ibunya menghentikannya.


"Terima kasih telah datang kemari."


"Dengan telat tentu." celetuk Alice. Ayahnya menyentuh pundak Alice agar Alice berhenti berbicara. Alice yang mengerti isyarat ayahnya hanya menghela nafasnya.


"Kami minta maaf atas keterlambatan kami dan kami sangat menyesal karenanya."


"Kenapa kata-kata mereka baku sekali?" gumam Alice. Ayahnya mulai berdehem. "Ahh iya, iya."


"Kami memiliki sedikit masalah. Masalah penyihir tentu."


"Tidak masalah, kami bisa mengerti. Anda semua datang, kami sudah sangat berterima kasih." kata ibu Alice.


"Sekarang katakan, ada apa?" kata satu orang yang mengenakan pakaian putih lalu melepas tudung kepalanya. "Ahh saya minta maaf. Perkenalkan, saya Rudolf."


"Saya July." satu orang wanita juga melepaskan tudung kepalanya.


"Saya Thomas." kata satu orang lagi. "Itu anak saya Jim." dia menunjuk satu orang yang memanggil Alice nona serigala tadi. "Dan William." Dia menunjuk satu orang lagi.


"Kami adalah orang tua dari--"


"Kami tahu." sahut yang bernama Rudolf. "Ceritakan semuanya. Aku dengar ada penyihir?"


"Benar. Anak saya, seorang warrior."


"Warrior berarti..."


"Ksatria di suatu pack ayah. Alpha, beta, omega ada juga warrior. Mereka biasa paling hebat dalam bertarung." jelas Jim.


"Sepertinya kamu tahu sekali tentang manusia serigala." celetuk Alice.


"Kami memang di larang mencampuri urusan masing-masing kaum tapi kami tetap mempelajari mereka."


"Anak saya memang warrior." lanjut ibu Allana. "Tapi bukan warrior biasa."


"Dan maksudnya dia lebih kuat?"


"Benar. Di sebuah pack bernama Crysort, ada sebuah ramalan."


"Tunggu dulu, Crysort? jangan katakan kau dari pack Crysort." Rudolf tampak terkejut.


"Dulunya. Istri saya dulu berasal dari pack sana, tapi dia keluar dan bergabung dengan pack saya, pack Hysort."


"Aku selalu bingung dengan nama pack-pack mereka." keluh July.


"Aku juga tidak terkecuali." sahuh Tom. "Ahh maaf... lanjutkan." sahut Tom saat mereka mulai menatapnya.


"Di pack Crysort mempunyai ramalan jika suatu hari pack Crysort akan hancur dan terpecah belah. Dan jika itu terjadi, akan ada satu warrior yang akan lahir. Warrior yang memiliki kekuatan setara dengan alpha dan beta, yang akan bisa menyatukan pack Crysort lagi."


"Well, bukankah itu bagus. Pack Crysort sudah punah, tidak, setidaknya itu yang semua orang kira. Anakmu bisa menyatukan pack lagi,"


"Tapi ada masalah lain. Ada satu ramalan lagi."


"Apa ramalan itu buruk?" tanya July.


"Bisa di katakan begitu. Bahwa di katakan, luna yang memimpin pack Crysort adalah luna terakhir."


"Oh tidak.." July menatap iba.


"Tunggu, aku bingung. Aku minta maaf. Aku tidak terbiasa mengurusi masalah manusia serigala. Kalian katakan tadi pack Crysort punah? hancur?"


"Masih ada yang tersisa Tom, akan aku jelaskan nanti. Lanjutkan nyonya. Apa ramalan tentang luna ada hubungannya dengan warrior?"


"Iya, mereka percaya jika mereka menyembuhkan luna mereka, mereka akan menyatukan pack lagi. Jadi mereka melakukannya."


"Mereka sudah menyembuhkan luna mereka?" tanya Rudolf di sambut anggukan dari ibu Allana. "Maaf tapi saya rasa ini tidak ada kaitannya dengan penyihir. Kami tidak di perbolehkan untuk campur tangan masalah kaum lain. Itu sudah ketentuannya. Kalian harus menyelesaikan masalah kaum kalian sendiri."


"Kalian tidak mengerti! ini semua juga berkaitan tentang penyihir. Penyihir Psythic. Anda tahu bagaimana pack Crysort. Pack Crysort selalu berhubungan dengan penyihir, terutama penyihir Psythic."


"Tapi kami sudah menarik segala bentukĀ  sihir dan penyihir dari pack itu karena pembantaian yang di lakukan luna mereka pada penyihir."


"Dan mereka memiliki penyihir lagi yang lain dan kali ini penyihir-penyihir itu membantu luna mengambil jiwa serigala anakku!"


"Tenanglah sayang." ayah Allana mencoba menenangkan.


"Apa penyihir Psythic memberi anda peringatan sebelumnya?" tanya July. Ibu Allana terdiam. "Dari reaksi anda, sepertinya mereka sudah memperingatkan anda."


"Anda seorang perempuan. Bisa bayangkan jika ada orang yang meminta anda untuk membunuh anak sendiri yang belum lahir dan tidak berdosa. Apa anda akan melakukannya?" ibu Allana menatap tajam. Dia tahu keputusan mempertahankan Allana tidaklah salah.


"Kalau begitu, terimalah akibat dari semua keputusan yang anda buat." sahut Rudolf.


"Jadi... Kalian tidak akan melakukan apapun untuk membantu kami?"


"Sudah Alice duga bu, mereka tidak akan membantu." Alice menatap sinis.


"Setidaknya sembunyikan anakku. Saya mohon, sembunyikan dia. Mungkin di kota Disprea?"


"Dia akan mati sebelum masuk ke kota itu. Tidak sembarangan orang bisa masuk."


"Atau mungkin yang terpilih bisa membantu? Siapapun, asal bisa menolong Allana. Saya mohon."


"Maafkan kami. Banyak wilayah pack yang cukup kuat. Mungkin bisa membantu anda."


"Tapi--"


"Sudahlah ibu, mereka tidak akan membantu."


Ibu Allana menghela nafas. Beberapa butir air matanya terjatuh.


"Selamat tinggal."


Satu persatu para penyihir pergi meninggalkan keluarga Allana dan kembali ke Disprea.


"Rudolf, apa itu tidak berlebihan? Mereka membutuhkan bantuan kita."


"Tidak Tom, aku benar. Kita tidak bisa membantu mereka. Mereka harus menyelesaikan masalah mereka sendiri, kaum mereka sendiri."


"Tapi Tom benar. Mereka butuh bantuan kita. Bukankah itu tujuanmu mengajakku? Memeriksa ramalan itu karena aku penyihir Psythic. Benarkan? Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti perempuan itu jika aku menjadi dia. Aku tidak akan mengorbankan anakku apapun yang terjadi. Dan mereka sudah mengambil resiko untuk menghubungi kita dan bekerja sama dengan kita. Apa salahnya kita membantunya?" July mendukung gagasan Tom. Tom dengan cepat mengangguk menyetujui.


"Kamu berkata Elder telah menarik semua bentuk sihir dan penyihir dari pack itu. Kita bisa memeriksanya jika memang pack itu memiliki penyihir dan jika memang benar dan membahayakan, kita bisa menindak lanjuti. Karena campur tangan penyihir, kita bisa ikut campur tangan juga."


Rudolf hanya terdiam. Dia menatap lurus ke depan. Rambut pirang agak panjangnya di biarkan berantakan. Ada keinginan itu, keinginan ingin membantu. Tapi apa yang terjadi pada masa lalu, pembantaian penyihir itu, kembali terngiang jelas di benaknya.


"Apa buruk? Ramalan itu?" Rudolf menatap July.


"Aku melihatnya. Memang benar dia luna terakhir dari keturunan Brea dan memang benar, anak itu penyatu pack itu kembali. Tapi cara luna itu salah. Bukan mengambil jiwa serigala anak itu."


"Maksud kamu... Mereka telah melakukan pelanggaran?"


"Sepertinya begitu. Pelanggaran mutlak pada kaum mereka."


"Dan kita tidak bisa ikut campur dengan itu kan? Itu kaum manusia serigala."


"Tapi kita bisa mengurus tentang penyihirnya Rudolf. Jika memang ada penyihir."


"Tom benar. Jadi bagaimana? Aku tahu kaum putih sedang dalam masalah yang cukup rumit, tapi kita tidak bisa membiarkan hal itu. Apa kita akan membicarakan hal ini pada Damian?"


"Baiklah, kita akan meminta saran Elder lain dan memutuskan secara langsung bersama Elder lain. Tapi jika mereka memutuskan untuk tidak membantu mereka, sebaiknya kita menurut saja. Situasi kita sedang tidak baik dan jangan di perburuk."


"Kami setuju." jawab Tom dan July bersamaan.


"Kalian pergilah lebih dulu ke kantor Elder. Aku akan menyuruh Jim dan Will mencari tempat untuk menyembunyikan anak itu. Setidaknya itu yang bisa kita lakukan untuk mereka saat ini."


Rudolf dan July mengangguk lalu segera pergi meninggalkan Tom bersama Jim dan Will.


"Kalian berdua kembalilah ke hutan tadi dan cari para serigala tadi. Bilang padanya kita akan segera carikan tempat untuk melindungi anak itu."


"Ayah tahu dimana tempatnya?"


"Ayah masih memikirkannya Jim. Apa kalian bisa membantu ayah mencari tempat itu? Sebaiknya pack manusia serigala. Jika di kaum lain, mereka akan di anggap mencampuri urusan kaum lain. Cari pack yang kuat dan bekerja sama dengan penyihir."


"Akan kami usahakan ayah."


"Bagus. Ayah tunggu kabar dari kalian dan hati-hatilah, jangan sampai ada yang tahu kalian membantu mereka."


Jim dan Will mengangguk dan segera berteleportasi lagi ke hutan itu. Tapi mereka tidak menemukan siapapun. Orang tua Allana sudah pergi dari sana.


"Jadi bagaimana Jim? Kita susul ke rumahnya?"


"Tentu, hanya itu satu-satunya cara."


"Baik kalau begitu. Ayo, setelah itu, kita cari pack. Aku tidak yakin kita akan mendapatkan pack dalam waktu singkat."


******'


"Apa itu benar?" ibu Allana berdiri dan menatap tidak percaya. Jim dan Will sudah berada di rumah Allana.


"Benar nyonya. Para Elder akan mengadakan rapat tentang itu. Mereka akan memutuskan akan melakukan apa. Tentu, kami akan memeriksa apa memang ada keterlibatan penyihir." jelas Jim.


"Dan kami juga akan berusaha mencari pack untuk bersembunyi." tambah Will.


"Pack? Kenapa harus pack? Apa tidak bisa di salah satu kota sihir kalian?"


"Maaf nyonya, tidak bisa. Jika kami melakukan itu, mereka akan mengatakan kami mencampuri urusan kaum kalian dan itu tidak akan berimbas baik pada kami."


"Apa yang membuat kalian merubah pikiran kalian?" Alice menatap curiga.


"Alice.."


"Alice hanya bertanya bu. Mereka terlihat mencurigakan."


"Maafkan kami tentang yang terjadi di hutan tadi. Kaum putih sedang mengalami situasi yang sedikit tidak menyenangkan."


"Kami berdua akan kembali setelah kami menemukan pack untuk anak anda. Kami butuh waktu setidaknya beberapa hari."


"Jangan terlalu lama. Batas Allana hanya sampai bulan purnama."


"Terima kasih, terima kasih banyak." mata Ibu Allana mulai berkaca-kaca.


"Kami bahkan belum melakukan apapun."


"Tapi kalian telah menyetujui membantu menyembunyikan Allana. Sampaikan terima kasihku pada para Elder."


"Akan kami sampaikan. Kami permisi."


Will dan Jim berteleportasi pergi.


"Setidaknya aku bisa tenang sedikit." gumam ibu Allana lalu duduk di sofa.


"Tapi bu, kenapa harus melibatkan para penyihir itu? Kita bisa saja melawan pack Crysort dan menyembunyikan Allana sendiri."


"Tidak bisa Alice. Jika kaum putih terlibat, mereka bisa membantu menyingkirkan para penyihir yang ada disisi luna Chloe. Jika para penyihir itu sudah pergi, kita bisa lebih mudah menyerang pack Crysort. Dan kaum putih hanya bisa membantu kaum lain jika ada penyihir lain yang terlibat, jika tidak, mereka tidak akan membantu. Itu hukum mutlak kaum putih. Dan dengan bantuan mereka, kita bisa dengan cepat dan mudah memindahkan Allana dan meminta bantuan mereka untuk menghilangkan bau Allana agar luna Chloe tidak bisa menciumnya."


"Apa ibu yakin akan berhasil?"


"Ibu harap."


"Baiklah, Alice harus kembali ke sekolah Allana untuk menjemputnya. Huft! merepotkan sekali."


Alice mengambil kunci mobilnya dan pergi.


"Mudah-mudahan saja semua akan berjalan lancar."


"Aku harap juga begitu." gumam ibu Allana lirih. Dia sungguh berharap dia tidak terlambat untuk menyelamatkan Allana.


******


Disprea


Jim berjalan lebih cepat dari biasanya. Dia melewati lorong demi lorong. Langkahnya nyaris tidak bisa diikuti oleh Will yang kesusahan mensejajarkan langkahnya. Bahkan dia sesekali tersandung jubahnya sendiri.


"Bisakah kau pelan sedikit? Aku lelah mengejarmu."


"Bukannya sudah aku katakan untuk menungguku di luar saja?"


"Aku tidak bisa menunggu saja di luar dan lagipula bukankah kita harusnya mencari pack? Kenapa kembali ke kantor Elder?"


"Itu yang sedang aku lakukan Will, mencari pack."


"Disini?" Will meraih lengan Jim untuk menghentikannya. Jim menghentikan langkahnya dan menatap Will.


"Iya Will, disini. Ikut saja."


Jim kembali berjalan meninggalkan Will yang masih bengong.


"Disini? Tapi... Di mana?" Will mulai bergumam sendiri. "Hei, tunggu aku."


Will berlari mengejar Jim. Jim tiba-tiba berhenti di depan satu ruangan lalu mengetuk pintunya.


"Masuk." sahut orang yang berada di dalam ruangan itu. Jim memutar knop tapi saat akan membukanya, Will menahannya.


"Ruangan siapa ini?" bisik Will. Jim memutar bola matanya lalu masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan itu hangat saat di masuki. Api di perapian menyala dengan indahnya. Cocok untuk saat musim dingin seperti sekarang.


"Jim?" sahut satu orang saat melihat siapa yang masuk ke ruangan itu.


"Hai sis." sapa Jim santai lalu duduk di salah satu sofa di sana. "Masuklah Will. Sedang apa kamu berdiri di sana?"


Will yang masih bengong di depan pintu mulai tersadar. Dia menggelengkan kepalanya cepat lalu segera berjalan dan duduk di sebelah Jim.


"Dia adikku, Gina." Jim memperkenalkan gadis yang sudah duduk di hadapan mereka.


"Adikmu yang teman dari yang terpilih itu?"


"Aku tidak punya adik lagi selain Gina Will."


"Ahh benar." Will terlihat gugup.


"Ini temanku William. Aku rasa aku pernah menceritakan tentangnya padamu."


"Iya, aku mengingatnya. Sahabatmu saat bertugas di dunia manusia biasa kan?"


"Kau menceritakanku?!" tanya Will setengah berteriak membuat Gina terkejut. Jim menggosok telinganya yang berdengung akibat suara Will.


"Iya Will, Astaga kau berteriak tepat di telingaku."


"A-ah.. Maaf." Will tersenyum canggung.


"Jadi, ada apa kakak ke sini? Tidak mungkin kamu mengunjungiku kan kak? Tidak seperti dirimu."


"Well..kau adikku, tentu aku mengunjungimu."


Gina menyipitkan matanya, menyatakan jika kakaknya tidak berkata jujur padanya.


"Apa? Aku benar." tegas Jim. Gina menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan tentu, masih menyipitkan matanya. "Huft, susah sekali meyakinkanmu. Baiklah, aku mengunjungimu sekaligus meminta bantuanmu."


"And that's much better."


"Akkhh Sist.. Tidak bisakah kamu percaya saja jika aku, dengan ramahnya mengatakan, jika aku mengunjungimu?"


"Karena kakakku tersayang, aku tahu kamu tidak akan melakukan itu karena kamu selalu tidak punya waktu."


"Hei, hei.. Kenapa jadi aku? Kamu, my beloved sist, yang tidak punya waktu untukku. Kamu selalu pergi bersama yang terpilih dari pada dengan kakakmu sendiri." protes Jim. "Dan di mana dia? Yang terpilih?"


"Bersama Elder tua. Kami masih mencoba untuk menyelesaikan masalahnya."


"Lalu kenapa kamu disini? Bukannya seharusnya kamu menemaninya?"


"Ada yang harus aku kerjakan disini. Jadi, kakakku yang menyebalkan, katakan padaku, bantuan apa itu?"


"Beritahukanku pack serigala yang menurutmu kuat dan aman."


"Pack? Serigala?" ulang Gina. Dia merasa salah mendengar tapi Jim dengan cepat mengangguk. "Kenapa kakak bertanya tentang pack denganku? Aku penyihir, sama sepertimu, bukan manusia serigala."


"Aku tahu itu. Tapi bukankah kamu baru saja membantu para manusia serigala bersama Bian dan Kate dan tentu, si brengsek James?"


"Ahh well dan kakak berasumsi aku mengetahui pack-pack manusia serigala?"


"Mungkin tahu sedikit atau mungkin kamu bisa memberikan saran padaku."


"Aku tidak tahu kak. Hanya beberapa pack yang aku tahu. Untuk apa kakak mencari pack?"


"Aku, Will dan beberapa Elder tua, termasuk ayah tentu, sedang membantu, tidak, mencoba membantu manusia serigala."


"Elder membantu serigala? Apa ada penyihir yang terlibat?"


"Kemungkinan." Gina menunjukkan ekpresi herannya. "Kami masih mencari tahu Gina."


"Ohh okay, ada apa dengan pack ini?"


"Ada ramalan di pack itu. Well, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Mereka memiliki ramalan yang mengatakan ada warrior yang akan menyatukan pack mereka lagi.. Uhmm..."


"Pack mereka hancur. Lebih tepatnya di ambang kehancuran." lanjut Will cepat.


"Right. Kamu saja yang jelaskan Will."


"Pack itu hanya bisa disatukan kembali oleh warrior itu. Setidaknya itu yang di katakan ramalan itu."


"Lalu warrior itu sudah ada?"


"Ini masalahnya." Will mulai menjadi antusias bercerita. "Mereka memiliki ramalan lain yang mengatakan bahwa luna mereka sekarang adalah luna terakhir. Ohh! Mereka pack manusia serigala wanita by the way. Semua isinya wanita! Jadi mungkin mereka berpikir dengan menyelamatkan luna mereka, mereka akan menyelamatkan pack mereka. Aku benar kan Jim?"


Jim hanya mengangkat kedua tangannya.


"Lalu mereka--"


"Anyway.." Jim memotong kata-kata Will. "Sebaiknya pada intinya saja."


"Tapi kau yang memintaku untuk bercerita."


"Well kamu benar tapi yang penting saja, lagipula kita tidak punya waktu, benarkan?"


"I-itu..."


"Begini Gina. Mereka menggunakan warrior itu untuk menyembuhkan luna mereka dengan mengambil jiwa serigalanya, dengan bantuan penyihir tentu. Yang berarti dia tidak akan menjadi manusia serigala lagi. Ibunya berkata, luna itu belum mengambil sepenuhnya jiwa serigalanya jadi bisa dipastikan mereka akan kembali melakukan yang mereka sebut ritual. Kami memerlukan pack untuk menyembunyikan warrior itu dari luna. Kita tidak bisa menyembunyikannya di sini atau di kota penyihir lainnya. Kita tidak ingin di anggap campur tangan dengan urusan kaum lain."


"Jadi kalian memerlukan pack serigala."


"Benar sist. Yang aman dan kuat itu lebih baik. Ibunya berkata luna itu sangat kuat sekarang."


"Hmm... Aku tidak banyak mengetahui pack-pack yang ada tapi jika terkuat, tentu pack di mana raja Lycanthrope berada."


"Yang kalian bantu waktu itu?"


"Iya, dia. Kei."


"Apa dia bisa menerima warrior itu?"


"Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin bisa, jika kita menceritakan yang terjadi. Tapi aku tidak yakin akan baik menceritakan masalah pack mereka pada pack lain."


"Dia raja dari segala alpha, tentu dia bisa mencampuri urusan mereka."


"Entahlah kak, tapi akan aku coba berbicara padanya. Tapi aku akan bicarakan dulu pada Bian."


"Baiklah sist. Aku tunggu kabar darimu. Aku harap secepatnya."


"Aku usahakan."


Jim berdiri lalu memeluk Gina.


"Terima kasih adikku. Kamu memang bisa di andalkan."


"Apa itu pujian?"


"Tentu saja." Jim menyentil dahi Gina.


"Aww!!"


"Kau ini. Aku pergi dulu."


"Hati-hati."


"Tentu."


"Sampai jumpa nona Gina." sahut Will dengan senyum menawannya.


"A-a.. Ya, sampai jumpa." sahut Gina canggung.


Jim menatap tajam Will.


"Jika kau berani menggoda adikku, kau mati di tanganku." ancam Jim dengan tatapan tajamnya. Will berjalan secepatnya keluar dari ruangan itu.


"Jika kakak terus bersikap begitu pada semua pria di dekatku, aku akan jadi perawan tua tahu!" Gina cemberut.


"Tidak harus dia juga kan?"


"Terserahlah, pergi sana!" Gina mendorong tubuh Jim keluar.


"H-hei tu-tunggu dulu, tunggu." Jim membalikkan tubuhnya. "Nama pack yang kamu sarankan?"


"Aku masih harus membica--"


"Ya, ya aku tahu. Tapi namanya?"


"Lykort. Pack Lykort. Sana!"


Gina menutup pintu ruangannya.


"Lykort. Sebaiknya aku memberitahukan mereka."


Jim membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan. Setidaknya dia memiliki harapan untuk menyembunyikan Allana.


*****


tadariez