Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 36 : Crysort, again?!



Renald berpamitan pada para warrior. Renald tahu, bahwa para warrior mengkhawatirkan Allana. Tapi dia bertekad sedari penyihir itu datang padanya dan memberitahukan padanya tentang Allana. Dia harus menyelamatkannya. Renald begitu terkejut dulu saat dia tahu mengenai Allana dan masalahnya dengan luna Chloe. Tapi jika memang dia dan packnya bisa membantu, dia akan mengambil kesempatan itu. Tentu saja karena di prihatin. Terlebih, dia menyukai Allana meski dia tahu Allana bukanlah matenya.


"Kau yakin tentang hal ini?"


"Apa lagi?"


"Tentu saja tentang membawa Allana ke pack kita."


"Tentu saja yakin. Jangan di bahas lagi. Aku tidak akan merubah keputusanku. Kau tahu itu Ted."


"Tapi gadis ini akan aman di kuil, Ren dan kau tahu betul itu."


"Tidak, aku tidak tahu. Buktinya dia terluka parah seperti ini. Itu artinya dia tidak aman."


"Tapi kau dengar kata warrior kuil itu. Mereka diserang rogue karena para rogue ingin mengambil air dari mata air kuil itu. Tidak ada hubungan pribadi dengan Allana. Itu suatu ketidaksengajaan."


"Aku tidak perduli. Allana telah terluka parah dan aku akan membawanya ke pack, suka atau tidak. Ayo kita berlari lagi. Allana di luar kuil akan membuatnya berbahaya."


"Apa kita diikuti?"


"Aku tidak tahu tapi pasti. Pack Crysort memiliki penyihir disisinya yang artinya kemungkinan besar Allana di lacak."


"Yeah, para penyihir. Mereka sulit di tebak."


"Karena itu ayo kita lari, secepat yang kita bisa."


Renald dan Ted berlari kembali. Mereka berlari lebih cepat dari pertama mereka berlari, Renald memiliki perasaan yang tidak enak atau mungkin hanya perasaannya, entahlah dia tidak tahu. Karena dia memiliki kemampuan sihir dari ibunya meskipun dia tidak pernah menggunakan atau mempelajarinya, dia memiliki kepekaan yang lebih besar dan dia tahu, firasatnya tidak pernah salah.


******


...Pack Moon Crysort...


"Luna! Luna!" satu orang terburu-buru mendekati luna Chloe yang sedang berkonsentrasi menggunakan sihirnya.


"Apa kau tidak bisa lebih tenang? Luna sedang berlatih!" sahut Melisa ketus.


"Ma-maafkan saya beta. Tapi.. penyihir...para penyihir itu... mereka... me--"


"Astaga bicaralah yang jelas!!" Melisa mulai tidak sabaran.


"Tenanglah Melisa." sahut Beck yang akhirnya menengahi. "Katakan yang jelas ada apa."


"Ba-baiklah beta. Para penyihir itu... mereka... mereka menemukan Allana."


"Benarkah?! Luna.."


"Aku mendengarnya. Panggil penyihir itu."


"Ba-baik luna."


Gadis itu menunduk patuh lalu pergi. Tak lama dia kembali bersama tiga orang penyihir.


"Luna.. saya membawa penyihirnya."


 "Kamu bisa pergi." gadis itu segera pergi. "Kalian menemukannya?"


"Benar luna." kata salah satu penyihir itu.


"Di mana?"


"Luna... ingat kata--"


"Tidak sekarang Beck."


"Tapi luna--"


"Melisa."


"Iya luna."


"Segera pergi ke tempat para penyihir itu katakan dan kejar dia."


"Baik luna."


Melisa keluar ruangan beserta tiga orang penyihir tadi.


"Tenang saja Beck. Aku tidak akan mengotori tanganku. Belum saatnya. Aku hanya akan menakutinya." sahut Luna dan segera melakukan sihirnya lagi. Beck terdiam dia tempatnya. Dia bingung apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa Allana bisa keluar kuil, tempat yang seharusnya paling aman baginya.


******


"Kita istirahat dulu saja." sahut Ted. Nafasnya memburu. Mereka sudah berlari cukup lama dan jauh. Tubuh serigalanya mulai berjalan pelan lalu akhirnya duduk.


"Tidak Ted, jangan berhenti.Kita harus segera sampai ke wilayah pack. Disana kita aman."


"Aku lelah Ren. Kita tidak bisa memaksa. Kita butuh istirahat."


Renald menghela nafas. Dia tahu Ted benar. Mereka sedari tadi terus berlari tanpa istirahat minum sekalipun. Mereka butuh istirahat atau mereka tidak akan sampai ke pack. Renald duduk di dekat pohon. Tubuh Allana masih terikat di punggungnya. Para warrior membantu mengikat tubuh Allana.


"Minumlah air sungai ini." sahut Ted. Renald bangkit perlahan dan meminum air sungai itu. Ted juga ikut meminumnya lalu membasahi wajah serigalanya. Mereka masih dalam wujud serigala. Mereka sengaja tidak merubah menjadi manusia agar siap berlari kembali.


Tiba-tiba Renald terdiam. "Ted, aku mendengar suara."


"Suara? suara apa?"


"Manusia. Kita harus pergi."


Renald dan Ted beranjak pergi. Tapi terlambat, dua orang manusia biasa melihat mereka bahkan sudah berada di seberang sungai yang dangkal itu. Renald dan Ted tertegun sementara manusia itu sudah berteriak terkejut. Bahkan salah satu dari mereka sudah terduduk kaku.


"Kita harus pergi sebelum manusia lain datang." Renald berlari melewati manusia itu disusul Ted.


"Kenapa kita harus takut pada mereka? kita lebih kuat!"


"Bukan masalah kuat Ted. Kita dilarang menunjukkan diri dalam wujud suprantural, ingat? itu yang selalu di ajarkan. Lagi pula mereka sekarang memiliki senjata canggih. Kaum kita bisa rata dengan tanah jika terkena senjata itu."


"Sial!!"


Ted dan Renald berlari tapi langkah mereka terhenti saat mendengar suara lolongan. Mereka saling menatap.


"Apa... apa ini wilayah sebuah pack?" tanya Renald.


"Entahlah Ren, aku... aku tidak tahu."


"Sebaiknya kita segera pergi dan--" Renald tidak melanjutkan kata-katanya setelah mendapati tiga ekor serigala di depannya. Tiga serigala itu menggeram marah. "Kami tidak bermaksud mengganggu. Kami hanya kebetulan lewat."


Renald tidak tahu apa mereka memasuki wilayah suatu pack atau tidak. Dari raut wajah tiga serigala itu, dia tahu mereka dalam masalah. Tidak ada yang berkata sedikitpun dari tiga serigala itu. Mereka hanya menatap dan menggeram marah. Tak lama datang lebih banyak lagi.


"Astaga... bagaimana ini Ren?" Ted mulai panik. Renald hanya diam mengamati mereka. "Kami dari pack Zykolt , aku bersama alphaku. Kalian bisa memanggil alpha kalian untu--"


"Tunggu. Mereka bukan dari pack sini." sahut Renald di mindlink khusus alpha dan beta.


"Apa maksudmu?"


"Mereka semua... wanita."


"Jadi maksudmu mereka..."


"Benar. Pack moon Crysort."


"Sial! apa yang harus kita lakukan?"


"Apa kau lelah Ted?"


"Well, sedikit."


"Kalau begitu kita bertarung."


"Aku akan menjaga belakangmu."


Renald melompat, menyerang salah satu serigala itu. Dia tidak lagi menunggu para serigala itu menyerang. Dia sudah tahu pasti siapa mereka. Dugaannya benar. Dia yakin mereka telah memasang pelacak pada Allana dan selama ini Allana aman di kuil karena kuil itu tidak bisa dilacak. Tapi sekarang Allana diluar kuil bersamanya. 


Renald berhasil menjatuhkan satu serigala dan menuju satu serigala lagi. Statusnya sebagai alpha cukup menguntungkannya. Selain dia lebih kuat, gigitannya mematikan bagi serigala di bawahnya.


Darrr!!


Tiba-tiba terdengar suara tembakan berkali-kali. Semua serigala yang bertarung berhenti seketika. Mereka melihat sekumpulan orang membawa senjata berbagai jenis. 


"Sial! kenapa para manusia itu disini?" Renald terkejut dengan keberanian para manusia biasa itu. Salah satu serigala Crysort mulai menyerang para manusia itu. Renald ingin menghentikannya tapi terlambat.  Terdengar tembakan lagi. Renald mengira manusia biasa itu terluka karena tubuh serigala Crysort telah berada di atasnya, tapi Renald salah. Serigala itu justru tergeletak tidak berdaya. Serigala itu terlihat lemah dan sekarat. Semua serigala mundur perlahan, begitu pula Ted.


"Kita harus pergi Ren."


"Apa manusia itu..."


"Mereka pemburu. Pemburu manusia serigala tepatnya. Mereka memiliki wolfsbane di senjata mereka. Kita bisa mati. Ayo lari!!" Ted mulai berlari tapi Renald masih diam saja melihat serigala Crysort berusaha melawan para manusia  itu. "Ren, apa yang  kau lakukan? ini kesempataan kita."


"Mereka akan mati."


"Lalu? biarkan saja mereka asalkan bukan kita yang mati. Ingat Allana. KIta harus menyelamatkannya."


"Tapi aku tidak akan membiarkan mereka."


"Tidak! Renald!! astaga..." 


Ted segera menyusul Renald dan memotong jalannya. Ted menggeram pada Renald.


"Sekarang bukan saatnya kamu perduli dan prihatin, tapi keselamatan kita."


"Mereka hanya bawahan Ted."


"Dan bukan bawahanmu. Renald, aku tahu aku hanya betamu tapi aku tidak akan membiarkanmu mati atau terluka, jadi Renald, for goodness sake, we have to move!"


Renald terdiam sejenak lalu akhirnya dia berbalik dan pergi. Ted benar. Jika dia mencoba melawan para pemburu itu, Ted atau Allana akan terluka. Dia memilih menutup mata.


Mereka kembali berlari tanpa halangan di depannya. Para pemburu dan serigala Crysort tidak ada yang mengejar mereka. Mereka juga menghidari berlari masuk ke pack lain. Sekarang tinggal sedikit lagi sampai di packnya sampai mereka akhirnya tertahan lagi. Kali ini kembali serigala-serigala lagi menghalanginya.


"Sedang apa kalian disini?" tanya Renald.


"Saya mendengar anda membawa Allana dari kuil." kata serigala itu.


"Itu benar."


"Bagaimana keadaannya?"


"Aku tidak tahu. Tapi aku masih


mendengar detak jantungnya, normal tapi dia tidak sadar sepanjang perjalanan. Bagaimana kalian bisa sampai disini sebelum kami?"


"Kami memiliki penyihir." serigala itu memperlihatkan satu sosok manusia biasa yang berdiri di antara para serigala.


"Baiklah, sekarang sudah gelap. Sebaiknya kita masuk ke pack. Aku mengundang kalian masuk dan beristirahat."


Renald melangkah pergi terlebih dahulu diikuti Ted.


"Kamu mengenal mereka?" tanya Ted dengan mindlink alpha beta.


"Apa kau lupa? mereka kakak dan teman Allana. Aku rasa mereka mengkhawatirkan Allana juga."


Renald masuk ke pack tapi sebelum berjalan lebih jauh, dia berhenti.


"Kalian semua bisa masuk, kecuali penyihir itu."


"Kenapa dia tidak bisa masuk?" tanya Derek bingung.


"Pack ini di lindungi khusus dari penyihir. Jika dia tetap masuk, dia akan mati. Bukan karena aku dan packku tapi karena perlindungan itu."


"Baiklah, saya akan memberitahukannya."


Derek berubah menjadi manusia dan berjalan mendekati Rodney.


"Sorry Rod, kamu tidak bisa masuk."


"Apa? Tapi kenapa?"


"Pack ini berbeda dari pack yang lain. Pack ini di lindungi sihir."


"Itu bagus bukan? Aku penyihir, pasti bisa masuk."


"Tidak bisa Rod, sihir disini berbeda. Aku tidak bisa menjelaskannya, yang jelas jika kamu masuk, kamu mati."


"Ma-mati?"


"Mati."


"Baiklah aku akan pergi." sahut Rodney akhirnya. Dia sesungguhnya sudah penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi dia lebih ingin menyelamatkan dirinya.


"Kau bisa berteleportasi sendiri kan?"


"Tentu. Setidaknya itu sihir yang aku bisa dengan baik."


"Bagus. Pergilah dan terima kasih telah mengantarkan kami."


"Tentu, jangan sungkan."


"Sampaikan salamku pada alpha Zach."


"I will. Kalian berhati-hatilah. Entah aku merasa.. Tidak enak.."


"Kami akan berhati-hati. Sampai jumpa Rod."


Rod mengangguk dan melambaikan tangannya lalu segera menghilang dari sana.


Renald, Ted dan semua serigala masuk ke wilayah pack Moon Zykolt.


"Whoah pack ini... Pack ini terlihat ... Berbeda." sahut Erica berbisik pada Gyria sambil berlari menyusuri hutan bersama yang lain. Sepanjang perjalanan menuju rumah Renald, Erica terus bergumam takjub.


Tak berapa lama mereka sampai di sebuah rumah, tidak bukan rumah, sebuah kastil. Kastil ini terlihat cukup tua. Tapi bukan seperti kastil di Lykort. Kastil ini terlihat lebih kecil.


Beberapa orang keluar dari dalam kastil, membawa beberapa pakaian. Renald duduk dan melepaskan Allana dari punggungnya, di bantu beberapa orang tadi. Beberapa orang tadi membawa Allana masuk kastil. Renald merubah dirinya dan membalut tubuhnya dengan handuk yang sudah di sediakan. Satu persatu merubah diri mereka menjadi manusia. Mengenakan pakaian yang di sediakan. Renald sudah memerintah beberapa orang untuk menyiapkan segalanya.


"Kalian pasti lapar dan lelah. Kami sedang mempersiapkan kamar kalian, kalian bisa menunggu di ruang tamu. Sebentar lagi makanan akan siap." sahut Renald.


"Tidak perlu repot alpha. Kami bisa tidur di ruang latihan atau di gudang sekalipun. Tidak perlu repot."


"Aku tidak merasa repot. Kalian tamuku sudah seharusnya aku menjamu kalian. Lagipula ruang latihan untuk berlatih, bagaimana jika para serigala ingin berlatih sementara kalian tinggal di sana dan gudang penuh dengan barang-barang dan berdebu. Bukan tempat yang tepat untuk di tempati. Masuklah." Renald masuk ke dalam kastil. Derek dan yang lainnya mengikuti mereka.


"Astaga Renald... Syukurlah kau baik-baik saja."


"Renald baik bi."


"Kau buat bibi terkejut setengah mati!" bibi Agatha memukul lengan Renald.


"Akhh... Untuk apa itu bi? Sakit sekali."


"Aku sudah katakan untuk tidak menyentuh bunga itu dan kau berani menyentuhnya! Kau membuat bibi mengerahkan seluruh pasukanmu untuk mencarimu!!"


"Renald tidak ingat bibi pernah berkata seperti itu. Apa kau ingat Ted?" tanya Renald pada Ted. Ted hanya mengangkat kedua bahunya. Bibi Agatha menghela nafas panjang lalu tersenyum lalu menatap Derek dan anggotanya.


"Kalian sangat di terima disini. Anggap rumah sendiri. Makanan sudah siap, para maid akan membawa kalian ke ruang makan."


"Ah terima kasih nyonya..." sahut Derek kikuk.


"Kalau boleh, saya akan membawa kedua serigala ini." bibi Agatha menepuk pundak Ted dan Renald.


"Mau bawa kemana? Renald lapar bi." protes Renald disambut anggukan Ted. Bibi Agatha masih tersenyum manis lalu tiba-tiba menarik telinga Renald dan Ted sekuat tenaganya. Renald dan Ted berteriak keras.


"Aaaaahhhh sakit bi!!"


Bibi Agatha menarik telinga Renald dan Ted sambil berjalan masuk ke dalam. Renald dan Ted pasrah mengikuti bibi Agatha. Beny berusaha menghentikan bibi Agatha tapi sepertinya bibi Agatha sudah sangat marah.


"Ahhh maafkan soal itu. Silahkan.. Kalian bisa segera makan. Jangan menunggu Renald dan Ted, mereka akan lama. Sudah di pastikan."


Derek tersenyum kikuk dan mengangguk lalu menuju ruang makan.


*****


Allana POV


'Allana... "


"Allana..."


"Allana tolong aku..."


"Allana aku mohon .."


"Aku mohon...."


Nafasku tertahan sejenak. Aku membuka mataku dan melihat ke sekeliling. Aku berada di sebuah kamar. Aku akhirnya menghela nafas. Para warrior akhirnya membawaku kembali. Aku menundukkan kepalaku. Tunggu. Aku duduk dan kembali menatap sekeliling. Ini... Ini bukan kamarku di kuil. Kamar ini lebih luas dan bagus. Lalu ini di mana? Kenapa aku bisa sampai disini? Apa ini mimpi? Aku mencubit tanganku. Sakit. Ini bukan mimpi. Lalu ini di mana?


Aku bergerak dan mulai duduk disisi tempat tidur, berusaha untuk bangkit. Tapi kepalaku sakit. Terasa habis di timpa bongkahan batu besar. Tapi aku harus kuat. Aku harus tahu di mana ini.


Aku ingat! Rogue. Ya, mereka. Mereka menyerang kuil. Aku mencoba menghentikan serigala hitam yang aku yakini sebagai pemimpin itu. Aku diserang lalu... Lalu tidak ingat lagi. 


Aku berdiri, agak melayang tapi aku berusaha berdiri tegak. Kakiku juga terasa sakit saat aku berusaha jalan. Aku tidak perdulikan rasa sakitku. Aku harus tahu ini di mana.


Aku melihat jendela dan mulai berjalan menuju jendela kamar. Ada tirai berwarna putih dan tipis menutupi jendela itu. Aku membuka tirainya dan melihat keluar jendela. Di luar hanya halaman luas dan beberapa tanaman tertata rapi. Sepertinya ini rumah orang penting. Tunggu, ini seperti kastil di Lykort. Apa aku kembali ke pack Lykort? tapi suasananya terlihat berbeda. Aku bisa melihat dari rumah di mana aku berada, ada rumah-rumah di sana. Terlihat lumayan jauh. Tapi tidak ada satupun yang aku tahu dan kenal.


Aku berbalik dan melihat pintu kamar lalu berjalan kembali menuju pintu kamar dan memutar knopnya. Aku membuka sedikit pintunya dan mengintip keluar. Tidak ada siapapun. Yes!! setidaknya aku harus keluar dari sini. Aku tidak perduli ini di mana. Yang penting aku harus keluar. Aku membuka pintunya lebar dan mulai melangkah keluar. Tidak ada siapapun sepanjang perjalan. Tapi... aku harus kemana? kenapa rumah ini luas sekali?


Aku sudah berjalan entah berapa lama. Aku rasa cukup lama karena kakiku mulai sakit. Aku berhenti untuk menepuk-nepuk kakiku yang mulai sakit. Tapi aku mendengar suara langkah. Aku menegakkan tubuhku, melihat sekeliling, mencari tempat bersembunyi. Tapi tak ada apapun. Tidak ada ruangan atau lemari atau apapun. Akhirnya aku hanya berdiri tegak dan kaku. 


Dua orang wanita paruh baya berjalan di depanku sambil berbicara bahasa yang tidak aku kenali. Kedua wanita itu melihatku lalu tersenyum dan mengangguk hormat padaku. Aku ikut mengangguk kikuk. Huh?? mereka tidak takut, berteriak atau apapun? bukankah aku orang asing? aku rasa aku tidak pernah kemari, lalu kenapa mereka terlihat biasa saja? Aku kembali berjalan dengan perasaan bingung. Sesekali aku bertemu orang tapi mereka sama saja. Hanya tersenyum dan mengangguk. Ada apa dengan mereka?


Setelah sekian lama berjalan aku melihat sebuah pintu menuju keluar, thank god, akhirnya. Rasanya ingin melompat-lompat tapi aku menahannya. Aku harus keluar dari sini dulu. Dengan cepat aku melangkah keluar.


"Nona?" sebuah suara mengagetkanku dan menghentikan langkahku. Aku berbalik perlahan dan mendapati seorang gadis berdiri menatapku bingung.


"Y-yy-ya?"


"Apa anda sudah baikan?" tanya gadis itu. Aku terdiam. Dia tahu aku terluka. Apa semua orang disini tahu karena itu mereka tidak ketakutan atau bahkan menahanku karena aku orang asing? tapi bagaimana? . "Nona? apa anda baik-baik saja?"


"Huh?? ahh aku baik." aku melihat gadis itu menatapku dengan tatapan khawatir. "Aku baik-baik saja."


"Anda yakin?"


"Tentu, lihatlah.. aku baik." sahutku meyakinkan. Aku lihat gadis itu mengangguk dan merasa lega.


"Syukurlah. Alpha menyuruh kami untuk menjaga dan merawat anda. Syukurlah anda sudah baik-baik saja. "


Alpha? alpha siapa?


"Uhmm... kalau boleh tahu... aku berada di pack mana?"


"Pack moon Zykolt nona."


"Pack... moon... Zykolt?" tunggu jika ini pack Zykolt berarti alpha mereka adalah...


"Akhirnya... kamu bangun juga Allana..." sahut sebuah suara. Aku mencari arah suara itu dan menemukan lelaki seumuranku berdiri tak jauh dariku dan tersenyum manis. Senyum itu! aku mengenal senyum itu! Senyuman termanis yang pernah aku lihat seumur hidupku.


"Renald?"


Detak jantungku mulai tidak beraturan. Nafasku mulai tersendat. Ada apa denganku tiba-tiba?


*******


Tadariez