
"Bagaimana Allana?" tanya Arthur saat sudah memasuki kamar Allana. Dia melihat Allana terbaring di tempat tidur dan masih tidak sadarkan diri.
"Sudah pasti sihir, alpha." kata Jim.
"Lalu? Begitu saja? Apa sudah hilang? Dari mana asalnya?"
"Asalnya tidak tahu tapi ya, sudah hilang."
Arthur terdiam. Dia hanya berdiri di ujung tempat tidur dan menatap Allana penuh arti.
"Apa sudah selesai Alpha? Mereka sudah pergi?" tanya Jim membuyarkan lamunan Arthur.
"Sudah. Mereka sedang membereskan tubuh-tubuh serigala." kata Arthur. Dia masih menatap Allana. Jim menyadari itu.
"Tenang saja alpha, dia baik-baik saja." kata Jim.
"Hmm.. Saya tahu."
"Ini benar-benar kacau. Bisa-bisanya mereka menyerang kita. Untung saja mereka tidak ke pemukiman." tuan Abe masuk ke kamar.
"Ayah, aku ingin berbicara dengan ayah." kata Arthur dan segera keluar kamar.
"Mau bicara apa? Hei! Apa tidak bisa bicara disini saja? Astaga anak itu. Aku permisi dulu anak muda."
"Silahkan tuan. Saya akan menjaga Allana, memastikan tidak ada sihir lagi." kata Jim.
"Baiklah."
Tuan Abe keluar kamar. Dia menuju ke ruang kerja Arthur. Dia yakin Arthur akan ke sana. Abe membuka pintu dan menemukan Arthur dan Rome di sana. Arthur berdiri di dekat jendela dan mengamati keadaan di luar.
"Apa tidak bisa berbicara di kamar tadi saja? Bersikap sopanlah pada penyihir itu. Dia sudah membantu kita." nasihat tuan Abe. Arthur berbalik dan menatap ayahnya.
"Ini adalah packku, ayah."
"Aku tahu, Rome tahu, semua orang tahu. Tapi bukan berarti kamu tidak bisa bersikap sopan."
"Ayah akan mengajariku sopan santun sekarang? Atau kita akan berbicara hal penting?" Arthur berjalan menuju mejanya. Dia benar-benar tidak ingin mendengar kuliah ayahnya tentang sopan santun.
Tuan Abe menghela nafas. "Baiklah, baiklah. Apa yang penting?"
"Allana. Sepertinya masalah yang dihadapinya lebih serius dari yang aku kira. Tidak hanya Crysort, tapi penyihir dan Rogue." kata Arthur. Dia mengira semua hanya tentang Crysort.
"Jika tentang penyihir, ayah akan memakluminya. Sudah sejak dari dahulu kala Crysort memiliki penyihir. Bahkan luna pertamanya juga penyihir. Karena itu dia menerima manusia serigala yang memiliki kemampuan sihir. Tapi untuk Rogue? Ayah tidak yakin."
"Lalu... Apa selanjutnya? Kita harus apa alpha?" kali ini Rome yang berbicara.
"Sepertinya bersembunyi di pack Zykolt memang solusinya jika tentang penyihir. Ayah benar Arthur. Renald bukan ingin mengambil mate-mu. Bersembunyi di pack Zykolt memang salah satu solusi. Tidak ada penyihir yang bisa masuk ke sana. Jadi mereka hanya akan melawan manusia serigala dan itu lebih mudah di atasi."
"Jadi ayah mendukung anak sialan itu?!" Arthur bermuka masam saat ayahnya mengungkit tentang Renald.
"Aku tidak mendukungnya. Aku hanya berkata dia tidak berbohong! Lalu kamu mau bagaimana? Kita akan kewalahan jika dengan penyihir juga!"
"Kalau begitu, suruh para penyihir itu tinggal disini lebih lama." usul Arthur.
"Apa kau gila?! Mereka elder, kaum putih! Mereka memiliki sistem pemerintahan sendiri, memiliki pemimpin sendiri! Kamu pikir mudah?"
Athur mengusap kasar wajahnya. "Baiklah, baik. Lalu apa solusi ayah?"
"Kembalikan dia ke Zykolt."
Mata Arthur melebar. "Apa ayah sudah gila?!"
"Ayah tidak gila anakku. Ayah hanya berpikir itu hal yang bijak."
Arthur memukul meja. Dia telah susah payah membawanya dari pack Zykolt tapi apa?! Mengembalikannya?
"Nak, kau tahu itu cara terbaik."
"Maaf alpha, tapi saya setuju dengan tuan Abe. Jika memang anda ingin luna selamat, sebaiknya lakukan itu."
"Kau juga?!" Arthur menatap tidak suka.
"Maafkan saya alpha." Rome menunduk.
"Jangan salahkan Rome. Rome benar. Sekarang prioritasnya adalah keselamatan Allana."
Arthur terdiam. Dia tahu dan sangat yakin apa yang ayah dan betanya katakan itu benar. Tapi hatinya tidak bisa merelakan Allana kembali ke pack Renald. Terlebih itu adalah pack Renald. Seharusnya dia yang melindunginya. Bukan anak itu!
...***...
"Terima kasih sudah bersedia menerima kami." kata Lucia. Mereka duduk di meja makan dengan teh hangat untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Selalu, Lucia. Rumah ini selalu terbuka untukmu dan anakmu." satu wanita seumuran Lucia memegang lembut tangan Lucia. "Benarkan Chris?"
"Tentu saja sayang."Chris, suami Wanita itu juga di sana.
"Jadi... Apa yang harus kamu lakukan?" tanya wanita yang bernama Diana itu.
"Aku tidak tahu. Renald adalah alpha. Tapi dia tidak bisa masuk ke dalam packnya sendiri. Satu-satunya cara adalah membuka perlindungan itu."
"Tapi... Bukankah itu berbahaya?"
"Benar. Itu berbahaya. Terutama Grigory. Dia sendiri saja sudah kuat dan sekarang dia memiliki para rogue disisinya. Ini akan sulit."
"Tapi jika tetap seperti itu, anakmu tidak akan masuk. Dia tidak akan bisa memimpin pack." kata Diana.
"Bagaimana jika, sebelum membuka perlindungan, kalian berlatih, bersiap diri dan meminta pack lain untuk membantu? Dan penyihir juga."
"Aku ragu penyihir akan membantu, Chris. Kau tahu kaum putih juga memiliki sistem sendiri. Yang terpilih juga sudah mengatakan dengan jelas. Tidak boleh membantu kaum lain jika tidak ada penyihir yang terlibat." ucap Diana mengingatkan.
"Ya, kau benar sayang. Terlalu rumit. Kalau begitu, pack lain saja."
Terdengar suara langkah mendekati mereka.
"Ryan? Ted? Kemarilah." ajak Lucia. Ryan dan Ted ikut duduk. "Bagaimana dengan Renald?"
"Jauh lebih baik, luna. Luna benar. Sepertinya semua karena perlindungan itu.". kata Ryan.
"Jadi.... Sekarang bagaimana?" tanya Ted.
"Meminta bantuan. Chris benar. Kita harus meminta bantuan. Akan sulit jika kita tidak meminta bantuan, karena aku akan menjadi membuka perlindungan itu. Cepat atau lambat kita memang harus melakukan itu. Apa kalian tahu kira-kira pack mana yang bisa membantu kita?"
"Lykort." jawab Ted singkat.
"Lykort? Apa kau yakin? Bukankah itu pack raja kalian?" Lucia cukup terkejut.
"Setidaknya bisa di coba luna. Pack kita pernah membantunya dulu. Mungkin, setidaknya, mereka akan mengirimkan pasukan mereka."
"Ted benar luna. Saya juga terjun langsung." tambah Ryan.
"Baiklah. Tentang pack sekutu, aku akan serahkan pada kalian. Apa di pack ada yang bisa melatih para anggota pack?"
"Banyak yang terlatih, luna. Jangan khawatir." kata Ted.
"Suruh mereka tetap berlatih keras. Sementara aku akan kerumah keluargaku."
" Apa?" Diana dan Chris sama-sama terkejut. "Apa kau yakin Lucia?"
"Aku tidak punya cara lain. Satu-satunya yang bisa membukakan perlindungan hanya keluargaku."
"Baiklah. Kami akan menjaga Renald." kata Diana.
"Tidak, tidak perlu. Aku akan mengirimnya ke salah satu kota sihir." kata Lucia membuat semua orang terkejut. "Renald sekarang adalah penyihir. Dia harus mengendalikan sihirnya dan menguasainya. Dia akan membutuhkannya nanti saat melawan pamannya sendiri. Lagipula kota sihir adalah tempat yang aman untuknya. Kita akan menjemputnya saat perlindungan telah di buka."
Semua orang terdiam. Sepertinya itu memang jalan yang terbaik.
...***...
"Lily, ayo bangun." Gyria membelai lembut rambut adiknya. Lily hanya mengerang pelan. "Lily, ayolah.. Sudah siang. Kau harus sekolah, ingat?"
"Lima menit lagi kak, lima menit lagi." pinta Lily.
"Tidak ada lima menit, Lily. Jika tidak bangun kau akan terlambat di hari pertamamu sekolah."
"Ugghh!! Aku benci sekolah!" Lily duduk di tempat tidurnya. Dia mengerjapkan matanya, mencoba menyadarkan dirinya.
"Ugghh adik kecil manisku. Cepatlah bersiap. Kita sarapan lalu pergi."
Gyria keluar kamar dan membantu ibunya menyiapkan sarapan.
"Bagaimana adikmu?" tanya ibunya.
"Dia akan segera datang." Gyria membalik pancake. Ibunya meresap kopi yang baru saja di buat.
"Kau akan baik-baik saja di sekolah?" tanya ibunya.
"Ibu bercandakan? Aku sudah besar bu, jangan khawatir."
Ibunya menghela nafas. "Benar, itu benar. Tapi ibu tetap khawatir."
"Ibu akan bekerja hari ini kan?"
"Hmmm ibu mulai bekerja hari ini dan jika ibu tidak berangkat sekarang, ibu akan terlambat." ibunya menghabiskan kopinya. "Ah iya. Kamu jadi mencari pekerjaan sambilan hari ini?"
"Aku sudah mendapatkannya." kata Gyria.
"Benarkah? Kenapa tidak memberitahukan ibu? Apa sekarang kamu main rahasia padaku nona?"
Gyria tertawa. "Tidak bu. Aku juga baru tahu semalam. Salah satu restauran tempat aku mengajukan diri meneleponku katanya salah satu pegawainya mengundurkan diri. Jadi aku keterima dan ibu sudah tidur. Jadi aku tidak bisa memberitahukan ibu."
Ibunya memincingkan matanya. "Kau yakin?"
Gyria tertawa lagi. "Yakin bu. Sana pergi. Bukankah katanya ibu akan terlambat."
"Ahh benar."
"Ibu mau kemana?" tanya Lily yang baru saja datang ke dapur.
"Kerja sayang. Selamat bersenang-senang disekolah ya.." ibunya mencium kepala Lily lalu pergi.
"Ayo sarapan. Lalu kita pergi sekolah."
"Wahhh.. Pancake!" sahut Lily bersemangat. Dia langsung duduk dan mengambil pancakenya.
Gyria menatap adiknya. Mereka berhasil pergi jauh dari Derek. Dia merindukannya? Tentu saja. Bagaimanapun Derek adalah mate-nya. Meskipun terluka, dia akan tetap mencoba melupakannya.
...***...