
Allana menggerakkan tubuhnya perlahan. Dia perlahan membuka matanya, membiasakan pada cahaya. Allana menatap ke sekelilingnya. Dia berada di sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Allana mencoba bangkit perlahan. Tubuhnya masih terasa sakit. Allana langsung berdiri tegak tapi tiba-tiba kepalanya terasa sakit, membuat Allana kembali duduk. Allana memegangi kepalanya yang masih sakit. Dia mendengar suara-suara dari luar. Suara air dan suara beberapa orang. Allana kembali mencoba bangkit perlahan.
Allana berjalan ke luar rumah. Disekelilingnya hijau dan udaranya begitu segar. Allana berjalan menuju suara. Suara-suara itu semakin jelas. Terdengar suara orang sedang bertarung. Allana tampak khawatir dan mempercepat jalannya. Dari jauh dia bisa melihat air terjun. Dia teringat dia sekarang berada di kuil Moon Godness. Allana berjalan cepat. Akhirnya dia bisa melihat orang-orang yang membuat suara tadi. Para warrior kuil sedang berlatih. Allana bernafas lega. Dia mengira ada pertarungan lagi.
"Kau sudah bangun?" Sapa satu orang di antara mereka. Semua warrior kuil menatapnya.
"Syukurlah."
"Kalian... sedang apa?" tanya Allana.
"Kami sedang berlatih bertarung. Kemarilah, duduk bersama mereka." Harold menunjuk beberapa warrior yang duduk di atas batu.
"Tenang saja. Mereka tidak akan menggigit." sahut orang yang tadi berlatih bersama Harold.
Semua orang tertawa. Allana hanya tersenyum tipis lalu berjalan menuju tempat yang ditunjuk lalu duduk bersama mereka.
"Bagaimana tubuhmu? Masih sakit?" tanya Harold.
"Sudah lebih baik."
"Kau yakin? Jika aku jadi kamu, pasti masih terasa sangat sakit." sahut yang duduk di sebelah kanan Allana.
"Tentu saja kau masih sakit. Kamu kan lemah, mirip wanita." sahut yang lain
"Enak saja." protes laki-laki yang duduk di sebelah kanan Allana. "Ahh iya, aku Tristan."
"Benar, sebaiknya kalian mengenalkan diri. Namaku Harold."
"Harold sudah seperti ketua disini. Dia yang paling lama, paling tua dan panutan bagi kami. Aku Eduardo, dari spanyol." sahut orang yang bertubuh agak gemuk dari yang lain.
"Ed paling pintar masak. Aku Sam, yang paling tampan dari semua warrior buruk rupa ini." sahut satu orang yang duduk di hadapan Allana. Dia yang tadi bertarung dengan Harold. Semua orang langsung meleparnya dengan daun dan ranting kecil. Tapi Allana mengakui ketampanan Sam. Kulit putih, rambut coklat, mata coklat muda yang cantik di padukan dengan tubuh yang atletis. Sam tampak sempurna.
"Jangan dengarkan dia. Aku Justin."
"Aku Luis."
"Howard."
"Kevin."
"Harry."
"Alan."
"Hai semua, aku.. Aku Allana."
"Tenang saja. Kami sudah tahu. Kamu cukup terkenal disini." sahut Howard.
"Cukup terkenal? Kenapa?"
"Karena masalah yang menimpamu tentu. Itu sangat gila!" tambah Kevin.
"Ahh itu.. Pasti mengerikan." Allana tertunduk.
"Keren bagiku."
"Eh?"
"Masalahmu begitu rumit. Itu keren bagiku." sahut Alan.
"Dia pembuat onar, karena itu dia suka masalah."
"Kau gila. Sejak kapan aku pembuat onar??" protes Alan di sambut tertawa Sam.
"Uhmm maaf.. Tapi apa disini sama seperti di pack Crysort?"
"Sama seperti di pack Crysort?"
"Iya. Jika pack Crysort isinya semua wanita dan disini saya lihat semuanya laki-laki. Apa begitu?"
Semua orang saling pandang sejenak lalu tertawa bersamaan.
"Tentu tidak Allana. Ada wanita disini. Tempat yang kamu tiduri tadi adalah rumah para warrior wanita." jelas Harold.
"Lalu... Kemana para wanita?"
"Mereka memiliki tugas yang harus mereka kerjakan."
"Hanya para wanita?"
"Tidak, ada beberapa laki-laki. Disini hanya beberapa saja wanita. Kami tidak hanya menetap disini. Kami bergantian bertugas memeriksa di luar sana."
"Memeriksa?"
"Iya, semua masalah yang ada. Karena itu kami tahu apa masalahmu. Tapi kami hanya memeriksa saja, tidak pernah ikut campur. Kami memeriksa untuk mewaspadai apa yang akan terjadi, seperti beberapa hari yang lalu."
"Beberapa hari yang lalu? Lalu sudah berapa lama aku pingsan?"
"Sudah seminggu lebih." jawab Harold. Allana terkejut.
"Kamu bisa membaca pikiranku?"
"Tentu tidak, tapi semua terlihat dari raut wajahmu."
"Jadi... Saya pingsan sudah seminggu.. Lebih?"
"Iya. Tapi meski begitu, kami terus memberikanmu obat."
"Terima kasih."
"Jangan sungkan. Kamu bagian dari kami."
"Apa aku benar-benar seorang warrior kuil?"
"Tidak, belum. Kamu harus di ikat sumpah dengan kuil, baru kamu menjadi sepenuhnya milik kuil dan menjadi warrior kuil."
"Tapi wanita penyihir itu berkata... Aku harus memilih bergabung atau menjadi pemimpin pack."
"Wanita penyihir?"
"Iya, yang melakukan ritual itu padaku."
"Ahhh... Dia adalah yang terpilih. Penyihir terkuat didunia. Keturunan langsung dari Moon Godness, pemilik kuil ini."
"Ya, dia."
"Allana kamu harus mengerti. Kamu memiliki kekuatan yang luar bisa besar. Jika salah di gunakan akan menjadi bencana. Apa lagi jika yang menggunakan adalah sebuah pack. Jika kamu bukan seorang pemimpin di sebuah pack, maka kamu harus menuruti perintah pemimpin pack. Jika pemimpin itu benar-benar seorang pemimpin sejati dan bijaksana, maka dia akan menggunakan kekuatanmu dengan bijak pula, atau bahkan tidak dia gunakan sama sekali. Tapi jika pemimpin itu seperti luna Chloe, maka kehancuran yang akan datang. Kami mencegah semua itu terjadi. Percayalah Allana, itu sangat buruk. Jika kamu bergabung dengan kuil, maka seluruh tubuh dan kekuatanmu akan di pergunakan untuk kuil. Kami tidak mencampuri urusan pack di luar sana, hanya urusan kuil."
"Bahkan jika urusan mate? Aku mendengar jika bertemu dengan mate, akan sulit untuk di tolak godaannya."
"Apa kamu sudah memiliki mate?"
Allana menggeleng. "Aku rasa belum. Aku belum pernah merasakan apa yang kakakku dan Gyria pernah katakan padaku. Jadi aku rasa belum."
"Benar. Godaan untuk memiliki mate kita sungguh sulit tapi jika kita mengikat diri kita pada kuil, kita akan kuat untuk melepas mate kita."
"Apa mate itu akan mendapat mate baru?" tanya Allana.
"Ya, jika kita menolak mate itu, mate akan mendapatkan mate baru. Itu hanya berlaku pada warrior kuil. Pada manusia serigala biasa, mate akan mendapatkan mate lain hanya jika kita mati. Meskipun kita me-reject mate kita, kita ataupun mate kita tidak akan mendapat mate baru kecuali salah satu di antara kita mati."
"Menyedihkan sekali."
"Yang lebih menyedihkan adalah kita para warrior, karena hanya mate kita yang akan mendapat mate baru dan melupakan kita. Sementara kita, akan terus mengingat sang mate."
"Aku rasa cukup untuk saat ini. Kami akan memberitahukan apapun yang kamu ingin tahu tapi sepertinya kamu terlihat lelah. Istirahatlah. Masih ada hari esok."
"Apa kamu lapar All? Aku bisa memasak makanan untukmu." tawar Ed.
"Hanya untuk Allana? Bagaimana dengan kami?? Kami juga lapar!!"
"Bukan urusanku." sahut Ed cuek lalu berdiri dan pergi.
"H-hei Ed.. Ohh ayolah..." Sam berdiri lalu mengikuti Ed sambil membujuknya.
"Jangan hiraukan anak-anak ini. Mereka kadang suka usil."
"Oh ayolah Chief, kami bukan anak-anak." protes Alan.
"Ya, ya kalian bukan anak-anak. Hanya kelakuannya saja."
"Chief!!"
"Ayo Allana, aku akan antarmu kembali ke rumah para warrior kuil wanita." Harold berdiri dari duduknya, begitu juga Allana. Mereka berjalan kembali ke rumah tempat Allana di rawat tadi.
"Apa kamu yakin kamu sudah baik-baik saja?" tanya Harold saat mereka masih berjalan menuju rumah.
"Apa aku terlihat tidak baik?" tanya Allana. Harold menggangguk.
"Hmm iya. Wajahmu masih terlihat pucat."
"Aku masih pusing sedikit. Tapi aku akan baik-baik saja." Allana meyakinkan.
"Tentu saja. Kamu warrior yang kuat, All. Jangan biarkan orang lain menganggapmu dan membuatmu lemah."
"Akan aku coba."
Mereka sampai di depan halaman rumah para warrior wanita. Tampak seperti rumah-rumah kecil pada umumnya. Hanya saja, di dalam rumah itu hanya terdapat tempat tidur. Jika mereka ingin berkumpul dan bercengkrama, mereka bisa melakukan itu di tempat Allana makan tadi, tempat berkumpul.
"Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini. Kami para warrior laki-laki tidak di perbolehkan masuk ke dalam. Sudah peraturan. Kami menghormati privacy masing-masing."
"Aku mengerti. Terima kasih."
"Dengan senang hati. Masuklah. Ed akan mengantarkan makanan untukmu. Aku pergi dulu. Aku harus mendisiplinkan anak-anak itu."
Allana mengangguk. Harold beranjak pergi. Allana masih di depan rumah memperhatikan Harold. Harold terlihat sudah paruh baya. Usianya sama dengan ayah Allana, dengan rambut hitam dan ada beberapa helai rambut berwarna putih, tubuh tegak dan keras. Janggut yang menutupi dagu dan rahangnya. Dia terlihat baik dan bijaksana, tidak seperti saat mereka pertama bertemu. Harold tampak tegang dan sangat tegas.
Allana menghela nafas lalu masuk ke dalam rumah. Mungkin dia harus beristirahat beberapa hari lagi agar segera pulih dan berlatih.
******
Suara derap langkah kaki terus terdengar. Tidak hanya satu, tapi beberapa langkah kaki. Satu orang berhenti lalu melolong kuat. Tak lama beberapa serigala itu mulai berlari. Mereka mengejar dua serigala yang berlari tak jauh di depan mereka.
Kedua serigala itu berlari lebih cepat. Kedua serigala itu hampir meninggalkan beberapa serigala yang mengejar.
"Menyebar!"
"Baik beta"
Beberapa serigala mulai terbagi. Beberapa menuju di sebelah kanan, beberapa menuju di sebelah kiri, beberapa masih mengikuti di belakang kedua serigala tadi.
Semua serigala berlari semakin cepat. Mereka bertemu di satu titik dan terkejut. Hanya anggota mereka saja yang ada disana. Kedua serigala yang tadi mereka kejar sudah tidak ada lagi.
"Mereka tidak mungkin jauh. Ayo! Pakai penciuman kalian! Melolonglah jika menemukan mereka"
"Baik beta!!"
Semua serigala kembali berlari keseluruh penjuru hutan. Tapi kedua serigala tadi hilang tanpa jejak. Mereka seperti tidak pernah ada di hutan itu. Hanya tertinggal korban mereka saja.
******
"Bagaimana Derek?" tanya alpha Dwaine saat Derek baru saja masuk ke ruang kerjanya. Alpha Dwaine menghentikan pekerjaannya dan menatap Derek penuh harap. Derek berdiri di depan alpha Dwaine.
"Hilang alpha, tanpa jejak."
"Sama sekali?" apha Dwaine terkejut.
"Iya."
"Lalu korban mereka?"
"Tiga orang. Total tujuh orang minggu ini."
"Semakin lama semakin banyak. Ini mengkhawatirkan." alpha Dwaine menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Iya alpha. Semua korban mereka mati."
"Aku sudah meminta bantuan para penyihir. Mereka akan membantu kita. Tidak mungkin mereka menghilang begitu saja. Aku yakin sihir terlibat."
"Mungkin saja alpha."
"Ya sudah. Suruh beberapa orang berpatroli bergantian. Kamu istirahatlah."
"Tidak alpha, saya baik-baik saja." sahut Derek. Dia tidak ingin lalai lagi dengan beristirahat. Sudah tujuh orang yang mati dan itu tidak bisa dibiarkan.
"Ini perintah Derek. Kamu harus mengumpulkan tenaga kamu untuk memimpin para pasukan itu saat mereka menyerang lagi."
"Baik alpha."
Derek membungkuk sedikit lalu keluar ruangan. Dia menutup pintu lalu menghela nafas panjang dan melangkah pergi.
"Beta, apa ada perintah dari alpha?" tanya satu gamma kepercayaan Derek.
"Ada. Kita harus istirahat. Itu perintahnya." jawab Derek lalu beranjak pergi.
"Apa? Bagaimana itu jadi perintah?"
"Sudahlah Thomas." satu gamma lain menenangkan.
"Aku hanya bertanya. Biasanya perintah itu menyerang ini itu atau berpatroli kesini kesitu." sahut Thomas.
"Karena kita butuh istirahat. Kita telah berpatroli tiga malam berturut-turut. Kita butuh istirahat. Setelah itu kita berpatroli lagi." jelas Derek.
"Baiklah beta." Steve dan Thomas akhirnya menurut.
"Di mana gadis itu?"
"Gadis beta?"
"Yang melarikan diri dari pack Crysort."
"Ahh Gyria? Saya rasa dia masih di pack. Saya tadi melihatnya ada di dapur saat mengambil minuman."
"Baiklah. Kalian istirahatlah."
Derek berjalan menuju dapur. Dia harus bertemu Gyria. Mungkin saja pelaku dari semua ini adalah pack Crysort. Derek masuk ke ruang makan. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang membersihkan meja dan menyiapkan sarapan. Derek melangkah ke dapur.
"Beta?" sebuah panggilan membuat langkah Derek terhenti. Dia menoleh lalu membungkuk sedikit.
"Luna."
"Sedang apa kamu disini? Bukankah sudah aku tegaskan, pria di larang masuk kemari kecuali saat makan?"
"Ahhh... Saya lupa luna, saya minta maaf."
Luna menghela nafas. "Tidak masalah. Apa kamu lapar? Sebentar lagi sarapan akan siap."
"Tidak luna, saya baik-baik saja. Saya hanya mencari Gyria."
"Gyria? Ahhh... Gadis dari pack Crysort itu?" tanya luna disambut anggukan Derek. "Dia sedang memasak di dapur."
"Memasak luna?"
"Iya. Sebenarnya sudah aku larang. Aku sudah memintanya untuk beristirahat, tapi dia bersikukuh untuk membantu. Jadi aku membiarkannya. Mungkin dia hanya ingin menyibukkan diri. Ada apa ingin bertemu dia?"
"Hanya ingin bertanya perihal pack Crysort luna."
"Baiklah. Tunggu saja di halaman belakang. Aku akan memintanya untuk menemuimu." sahut Luna lalu beranjak pergi.
"Baik. Terima kasih luna."
"Sama-sama."
Derek melangkah pergi dari dapur menuju halaman belakang. Sisa-sisa salju masih ada meski tidak banyak. Cuaca masih terasa sangat dingin bagi manusia biasa. Derek duduk di satu bangku di bawah pohon. Dia memeriksa ponselnya. Dia berharap Allana menghubunginya. Sudah lama Allana tidak memberi kabar. Yang dia tahu, Allana berada di kuil moon Godness bersama para warrior kuil. Raja Kei berkata jika Allana akan aman di kuil itu. Setidaknya itu yang membuat Derek dan keluarganya tidak begitu khawatir. Tapi tetap saja, dia ingin bisa membantu adiknya. Beberapa pesan masuk. Dari ayah dan ibunya, dari tunangannya tapi tidak satupun dari Allana.
"Kamu... Mencariku? Ahh maksud saya... Anda mencari saya beta?"
Derek menoleh. Sudah ada Gyria yang berdiri di sebelahnya. Gyria mengenakan celana jeans biru muda dengan sweater hijau tua dan celemek memasaknya. Rambutnya di ikat ekor kuda.
"Iya, duduklah. Aku ingin bertanya tentang sesuatu."
"Saya berdiri saja, Beta." Gyra tentu merasa canggung dan aneh jika duduk berdua. Terlebih Derek adalah beta di pack yang sekarang dia tempati.
"Duduklah. Kumohon."
Gyria ragu-ragu. Dia akhirnya menghela nafas lalu menurut dan langsung duduk di sebelah Derek, tepatnya duduk di sisi bangku paling ujung, berusaha untuk tidak mendekati Derek.
"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Derek. Dia menatap Gyria.
"Ibu saya? Ibu baik. Dia akan segera pulih." jawab Gyra tanpa menatap Derek.
"Itu bagus. Lalu kamu?"
"Saya sudah pulih beta." lagi-lagi Gyria menjawab tanpan menatap Derek, dia hanya menundukkan kepalanya.
"Jangan formal denganku. Bersikap seperti biasa saja." pinta Derek. Dia tahu Gyria tidak pernah bersikap sopan padanya, lebih pada membencinya.
"Ingin sekali rasanya. Terlihat canggung sekali berbicara seperti ini. Tapi kita berada di pack anda dan kedudukan anda lebih tinggi dari saya."
"Sejak kapan kamu mempermasalahkan kedudukan?"
Gyria mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Mungkin kesadaran saya sudah pulih sepenuhnya."
Derek mengerutkan keningnya. "Lalu waktu itu tidak sadar?"
"Yeah.. anggap saja saya di rasuki setan saat itu beta. Jangan katakan itu hal yang ingin anda tanyakan. Saya masih banyak pekerjaan beta." saat Gyria hendak berdiri, Derek berbicara lagi.
"Itu juga dan ada hal lain. Tentang packmu, Crysort. Bagaimana menurutmu luna Chloe?"
"Psyco." jawab Gyria singkat. Derek menatapnya dengan tatapan penuh arti. Gyria mendapati tatapan Derek padanya. "Apa? Itu benar. Lihat saja apa yang dia lakukan pada Allana. Hanya demi kekuatan abadi dan kekuasaan."
Derek mengamati Gyria. Gyria terlihat marah saat bercerita tentang luna Chloe. Sepertinya dia benar-benar membenci lunanya sendiri, atau mantan luna? Gyria juga tidak terlihat akan bersumpah pada pack Derek dan Gyria adalah gadis yang sulit di tebak.
"Ada hal lain?"
"Awalnya saya mengira... Dia luna yang baik, sangat baik. Dia begitu perhatian pada kami semua. Entah apa yang membuatnya berubah. Atau mungkin, kami yang terlalu meremehkan tentang siapa dia. Dia berubah menjadi mengerikan saat dia memiliki kekuatan Allana."
"Apa mungkin luna itu bekerja sama dengan rogue?"
"Rogue?" Gyria menatap bingung. "Ahhh... Apa ini tentang penyerangan di kota Riverville?"
"Benar. Para rogue kembali menyerang dan itu mengakibatkan beberapa orang tewas. Semakin lama semakin banyak. Para manusia biasa sudah mulai mengambil tindakan tegas dan kita juga harus mengambil tindakan. Setidaknya mencari tahu ulah siapa ini."
"Jadi maksud anda, mungkin luna Chloe di balik semua ini?"
"Iya. Hanya kemungkinan."
"Setahu saya tidak. Luna sedari dulu memang bekerja sama dengan para penyihir. Kami melihat mereka keluar masuk pack. Tapi tidak dengan Rogue. Pack kami sempat di serang beberapa hari sebelum kejadian Allana. Saya mendengar beberapa pack juga ikut di serang. Tapi... Sekali lagi, itu hanya setahu saya. Karena banyak yang tidak saya ketahui darinya." jelas Gyria, Ya, dia mengira dia mengenal lunanya, packnya, tapi ternyata dia salah. Bahkan dia telah di tipu.
"Dan yang paling menyusahkan adalah kita tidak tahu siapa di balik semua ini." gumam Derek. Dia menatap lurus kedepannya.
"Boleh saya beri saran?"
"Tentu, kenapa tidak?" Derek menatap Gyria.
"Bekerja samalah dengan pack lain. Ajak pack lain untuk mengejar mereka. Jika perlu kaum lain, seperti penyihir."
"Alpha memberi tahu jika alpha telah menghubungi penyihir."
"Kaum putih?"
"Iya. Tapi aku akan terima saranmu. Aku pernah bertemu dengan alpha dari pack Foykolt dan Zykolt. Mungkin mereka bisa membantu. Terima kasih sarannya."
"Tidak masalah. Sudah Selesaikan? Aku masih banyak pekerjaan." Gyria bangkit dari duduknya.
"Karena itu, kenapa kamu bekerja? Kamu tamu disini. Luna bahkan sudah melarangmu." Derek bingung denga pilihan Gyria untuk tetap bekerja.
"Meski aku tamu-- ahh aku lupa, maaf. Meski saya tamu, tidak enak hanya berdiam diri saja. Saya masih tahu diri. Setidaknya saya bisa sedikit membantu di sini."
"Sedikit? Aku bertanya pada pelayan tadi, kamu terlalu banyak melakukan pekerjaan sehingga para pelayan merasa tidak enak."
"Hei, kamu sedang tidak mencari tahu tentang aku kan?"
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk tamu pack ini. Tamu harus di perlakuan sebagai tamu, bukan pelayan."
"Tetap saja. Aku sudah terbiasa bekerja. Kami di pack Crysort tidak memiliki pelayan. Kami semua bekerja, membantu satu sama lain. Karena itu aku terbiasa." Gyria menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Aaakkkhhh aku lupa terus. Sadar Gyria! Sadar!!" Gyria memukul kepalanya karena dia terus bersikap tidak hormat dan tidak sopan pada Derek.
"Hei, hei.. Jangan memukul kepalamu seperti itu." Derek memegang kedua tangan Gyria agar tidak memukuli kepalanya lagi. "Karena itu, berbicaralah seperti biasa padaku."
Derek masih memegang kedua tangan Gyria. Wajah mereka begitu dekat. Mata mereka bertemu. Detak jantung Gyria mulai tidak karuan. Dia terdiam menatap Derek. Tak lama dia tersadar, dia menggelengkan kepalanya lalu langsung melepaskan tangannya dan berdiri.
"Sa-saya harus pergi. Masih banyak pekerjaan." kata Gyria tanpa menatap wajah Derek dan langsung berbalik pergi.
"Astaga Gyria. Kau gila, kau gila! Sadar Gyria... Astaga." sahut Gyria pelan sambil melangkah pergi.
Derek masih diam di tempatnya, menatap Gyria berjalan menjauh.
*******
Tadariez