
"Tidak! Aku tidak akan pergi kesana! Aku akan kembali ke pack." Renald kembali berjalan. Setelah sadar dia langsung ingin kembali ke Zykolt. Dia menolak untuk tinggal di desa sihir. Sebelum Renald sadar, mereka membawa Renald ke desa sihir, desa Magerios. Renald tidak bisa di Disprea karena setengah dari dirinya adalah manusia serigala. Hanya penyihir murni yang bisa masuk ke Disprea. Kecuali jika mendapat ijin dari yang terpilih dan membuka perlindung
"Ren! Ini semua demi kamu, demi pack! Jangan keras kepala!"
"Kau gila berharap aku akan tetap disini! Aku manusia serigala! Bukan penyihir!" sahut Renald tanpa menghentikan langkahnya.
"Tapi kamu juga penyihir sekarang Ren dan kamu harus belajar menerima itu! Kamu harus bisa melatih sihirmu sebelum--"
Renald berbalik arah menuju Ted. Bola matanya berubah menjadi merah pekat. Dia menatap Ted seakan bisa membunuhnya dengan tatapan itu. Nafasnya memburu.
" Aku adalah alpha. Kau berani menentangku?!"
Ted menundukkan kepalanya. Tugasnya adalah membuat Renald tetap di desa itu. Tapi sangat sulit jika Renald terus menggunakan kekuatannya sebagai alpha.
"Tapi anda tidak boleh pergi alpha. Anda harus tetap disini." ucap Ted.
"Kamu berani melawanku?!"
"Meskipun saya harus melawan anda." Ted mendongakkan kepalanya, menatap tepat ke mata Renald. Renald memiringkan kepalanya. Dia mengepal kuat tangannya. Renald berbalik dan kembali pergi, dia tidak ingin menyakiti Ted, betanya sendiri. Ted mencegahnya. Renald melayangkan kepalan tangannya pada wajah Ted. Ted mencoba bertahan tanpa melawan. Renald yang di penuhi amarahnya terus memukuli Ted. Wajah dan tubuh Ted penuh merah memar terkena pukulan Renald. Bibirnya juga berdarah. Tapi Ted tetap tidak melawan.
Tiba-tiba tubuh mereka berdua melayang, seperti berada di dalam sebuah gelembung yang besar. Mereka berdua terkejut. Mereka menatap pada beberapa orang yang berdiri menatap mereka. Salah satu wanita paling depan merentangkan tangannya.
"Apa kalian akan terus bertarung? Aku bisa melakukan ini seharian." ucap wanita paruh baya itu.
"Lepaskan kami!" pinta Ted.
"Asalkan kalian berjanji tidak bertarung lagi."
"Baiklah, saya berjanji." ucap Ted.
"Bagaimana denganmu alpha?" tanya wanita itu lagi. Renald mendengus.
"Saya berjanji." sahutnya akhirnya.
"Baiklah, saya pegang janji kalian berdua." wanita itu menjentikkan jarinya. Gelembung besar itu pecah membuat Renald dan Ted jatuh bersamaan ke tanah membuat suara mengerang.
"Pertama, ini adalah desa sihirku. Berani sekali kalian berdua membuat keributan disini? Kedua, apa kau akan terus memukuli betamu, alpha? Sampai dia sekarat atau mati? Aku tahu kalian laki-laki tapi kalian bisa berbicara dengan baik selayaknya gentleman. Ketiga, kau alpha, apa kamu lupa bagaimana packmu sendiri? Pack mu tidak menerima penyihir dan kamu penyihir. Kamu tidak akan bisa masuk."
" Tapi aku bukan penyihir!"
"Maafkan aku alpha, tapi kamu adalah penyihir, suka atau tidak."
"SUDAH AKU KATAKAN AKU BUKAN PENYIHIR!!" Renald berteriak.
"Benarkah? Lalu itu apa?" wanita itu menunjuk belakang Renald dengan dagunya.
"Uhmm... Alpha?" Ted ikut terkejut. Renald menoleh dan terkejut. Beberapa batu melayang di udara, daun-daun berterbangan.
"Hentikan itu!" pekik Renald.
"Tapi kami tidak melakukan apapun. Itu adalah ulahmu."
Renald tertawa mengejek. "Jangan berbohong. Kalian tidak akan bisa menjebakku."
Semua orang saling menatap sejenak.
"Dasar remaja!" kata salah satu wanita yang baru saja datang. Kali ini wanita itu berumur sekitar dua puluhan tahun. "Aku heran pada kaummu. Bagaimana bisa alpha diturunkan hanya dengan ayah ke anak? Seharusnya melalui pertarungan, itu baru sepadan. Bagaimana jika alphanya seperti dia." Wanita itu menunjuk Renald. "Kekanak-kanakan."
"Uhmm tapi nona Magnofold, dia memang masih anak-anak." kata salah satu penyihir.
"Ya, aku tahu. Karena itu, bisa saja posisi alpha bisa di berikan pada orang yang lebih dewasa dan bijaksana."
Renald menggeram.
"Apa? Kamu marah? Mau berubah menjadi serigala? Berubahlah dan menjadi anak-anak selamanya. Tapi jangan menjadi alpha, jangan menjadi pemimpin pack. Pack mu tidak butuh anak kecil untuk memimpin mereka. Mereka butuh alpha yang bijaksana dan bisa melindungi dan memimpin mereka." ucap wanita itu. Dia menatap Renald dengan tangan dilipat di depan dada.
"Aku bukan anak kecil."
"Benarkah?" Wanita itu berjalan menuju Renald. "Kamu tidak bisa mengendalikan amaramu, kamu memukuli betamu hanya karena keinginanmu tidak di penuhi, kamu menuduh semua orang berbohong dan menjebakmu tanpa ingin mendengarkan penjelasan orang lain. Kamu yakin itu bukan prilaku anak kecil?"
Renald terdiam. Dia tahu yang di katakan wanita itu benar adanya. Dia terlalu ceroboh, terlalu dipenuhi amarahnya.
"Lalu apa maumu?"
"Ayo kita berbicara. Dengan baik. Like gentleman."
Renald mengerutkan keningnya. "Tapi kamu adalah wanita."
"Lalu? Apa tidak boleh?" Wanita itu menghela nafas. "Baiklah, a gentleman and a lady. So?"
Renald terdiam lagi. Lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah."
"Kalau begitu perkenalkan. Namaku Kate Magnofold." Kate menunjukkan gelang di tangannya. "Elder tengah."
...***...
Renald duduk di meja makan di salah satu rumah. Rumah itu terlihat bersih dan rapi tapi terlihat sepi. Tidak ada satu pun orang di sana kecuali Renald, Ted dan wanita bernama Kate itu. Kate berdiri membelakangi Renald dan Ted. Mereka memperhatikan Kate. Rambut coklat panjang dan mengenakan jeans slim fit dan sweater hijau lumut. Kate berbalik dan membawa dua gelas coklat panas lalu menyerahkannya pada Renald dan Ted.
"Aku bukan anak kecil. Kenapa di berikan coklat?" tanya Renald. Kate menatap tidak percaya.
"Hei tuan alpha. Tidak hanya anak kecil yang suka coklat. Orang dewasa juga. Lagipula cuaca sedang dingin, cocok untuk minum coklat panas." Kate mengambil satu gelas lagi untuk dirinya lalu duduk di hadapan Renald dan Ted. "Sekarang ceritakan padaku, bagaimana kamu menjadi penyihir? Apa dari ibumu?"
Renald mengangguk. "Ibuku."
"Tapi jika salah satu orang tua adalah penyihir, apa anaknya akan menjadi penyihir juga?" tanya Renald.
"Tidak selalu. Jika anak satu-satunya, itu sudah pasti. Tapi jika anaknya dua atau tiga, itu belum tentu. Bisa salah satunya atau dua-duanya."
"Jadi mau tidak mau, aku harus menjadi penyihir." gumam Renald.
"Kenapa? Kamu tidak ingin menjadi penyihir?" tanya Kate.
"Tapi aku manusia serigala. Aku alpha!"
"Lalu?"
"Aku.. Aku merasa bersalah pada jiwa manusia serigalaku. Aku seperti mengkhianatinya."
Kate menatap Renald sejenak lalu tertawa. "Bwahahahahaha...!!"
"Apa ada yang lucu?!" Renald menatap kesal.
"Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud mengejek. Bahkan aku tidak mengejek. Kamu tahu apa? Jika kamu bisa menjadi keduanya, kamu akan menjadi alpha yang terkuat. Seharusnya kamu bersyukur. Kamu tidak mengkhianati siapapun. Biasanya manusia serigala yang menjadi penyihir juga, terlebih alpha, dia sangat kuat. Bagaimana tidak, dia memiliki kekuatan besar bersamanya. Tenanglah, tidak hanya kamu yang menjadi alpha dan penyihir."
Renald terkejut." Apa ada yang lain? "
Kate tersenyum."Ada. Aku pernah melihatnya. Dan kau tahu? Dia sangat kuat, karena dia bisa mengendalikan keduanya. Kamu tidak bisa menolak sesuatu yang sudah di takdirkan untukmu. Percuma membuang tenagamu untuk menolak atau meratapi nasibmu. Kamu justru bisa memanfaatkan semua itu untuk dirimu sendiri dan packmu."
"Tapi..." lanjut Kate. "Kamu harus bisa mengendalikan sihirmu dulu atau kamu akan meledakkan packmu dengan satu ayunan tangan. Karena itulah ibumu membawamu kemari. Agar kamu bisa mengendalikan sihirmu."
"Lalu kemana wanita itu? Tidak bertanggung jawab meninggalkanku disini." Renald mendengus. "Aakkhh!! Aww!!"
Renald memekik karena Kate sudah menarik telinganya.
"Apa-apaan itu?!" Renald menggosok telinganya yang sakit.
"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan ibumu tapi kamu tetap harus menghormati ibumu. Wanita itu? Wanita itu sedang memohon keluarganya untuk membuka perlindungan terhadap packmu. Ibu bukan lagi penyihir. Jadi yang bisa membukanya adalah keluarganya yang memiliki aliran sihir yang sama dengannya."
"Untuk apa dia melakukan itu?"
"Apa kamu lupa packmu tidak bisa di masuki oleh penyihir? Sementara kamu alpha sekaligus penyihir. Bagaimana kamu bisa memimpin packmu jika kamu berada di luar."
Renald menatap Ted. "Dia benar Ren. Tapi nona penyihir, Renald juga memiliki aliran sihir yang sama dengan ibunya kan?"
"Dia saja belum bisa mengendalikan kekuatannya. Perlu kekuatan yang sangat besar untuk membuka perlindungan itu. Keluarga ibumu adalah salah satu keluarga penyihir terpandang dan terkuat dan termasuk Elder tertua inti, yang artinya selalu berada langsung di bawah yang terpilih." Kate menatap Renald yang kini menunduk." Apa kamu mau melatih sihirmu? "
Renald mengangkat kepalanya dan menatap Kate lalu mengangguk.
"Akan aku coba. Aku minta maaf atas yang terjadi tadi. Padamu, pada penyihir lain dan juga padamu, Ted." Renald menatap Ted. "Aku sudah bertindak tidak bijaksana dan kekanak-kanakan. Menjadi penyihir membuatku... Menjadi ibuku. Aku hanya merasa marah akan hal itu."
"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan ibu tapi menyalahkan sihir berarti kamu menyalahkan penyihir diseluruh dunia, termasuk aku. Aku bahkan tidak mengenalmu."
Renald mengangguk. "Aku tahu. Aku minta maaf."
"Kalau begitu, besok kita akan memulai pelatihannya. Sekarang kalian bisa istirahat di atas."
"Tunggu, rumah siapa ini? Kenapa seenaknya menyuruh kami ke atas? Bagaimana jika yang punya rumah marah?"
"Tidak akan. Aku pemilik rumahnya. Well sebenarnya ini rumah nenekku. Tapi nenekku sudah meninggal dan menjadikan ini rumahku. Jadi, naik saja ke atas dan istirahatlah. Ahh iya! Tunggu." Kate berdiri dan mengambil sesuatu di lemari. "Ini. Oleskan pipi dan bibirmu dengan krim ini." Kate menyerahkan obat pada Ted.
"Te-terima kasih nona penyihir."
"Kate. Namaku Kate. Sana pergi."
Renald dan Ted berjalan ke kamar mereka.
"Aku tidak menyangka aku akan menjadi pengasuh anak remaja." Kate menghela nafas lalu meminum susu coklatnya. "Tidak, aku butuh bir bukan susu."
...***...
Seorang wanita tua menatap keluar jendela. Dari raut wajahnya di tampak khawatir. Sudah sekian kalinya dia menghela nafas.
"Bu.." panggil seorang pria dari belakangnya. "Ayo kita makan malam."
"Ibu tidak berselera. Makanlah bersama ayahmu." ucap wanita itu tanpa menoleh. Pria itu mendekati ibunya dan ikut menatap keluar jendela.
"Sudah berapa lama dia disana?" tanya pria itu.
"Entahlah, beberapa jam."
"Sepertinya dia tidak akan pergi."
"Dan ayahmu sungguh keras kepala."
"Mereka berdua keras kepala bu."
"Kau benar. Apa yang harus aku lakukan?"
"Menunggu. Hanya itu bu. Sebaiknya jangan melakukan apapun."
Wanita itu kembali menatap keluar jendela, pada wanita yang sedang duduk di halaman depan rumahnya sambil menundukan kepalanya.
...***...