Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 32 : Sudden Attack



"Se-sedang apa kamu disini?"


"Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kalian berdua disini?"


"Aku... Aku mengunjungi sepupuku. Dan aku mengajak Gyria."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Kau ingat sepupuku Rodney." Erica menunjuk Rodney yang tersenyum lalu melambaikan tangannya kikuk.


"Aku tahu Rodney. Tapi kamu tidak memberitahukan pada pack jika akan pergi. Setidaknya padaku. Aku beta-mu, apa kau lupa?"


"Well.. Aku--"


"Dan sejak kapan kamu dekat dengan Gyria? Seingatku kalian bermusuhan."


"Tidak selamanya aku akan terus bermusuhan dengannya. Lagi pula ini tentang Allana."


"Allana? Ada apa dengannya?"


"Kami mencari tahu keberadaan kuil itu."


"Kalian mencari kuil itu?" tanya Derek di sambut anggukan kepala Erica. "Tapi kenapa? Bukankan Allana akan aman berada di sana?"


"Tapi tidak ada satupun kabar darinya Derek."


"Selama dia bersama para warrior dan berada di kuil, dia akan aman."


"Kau yakin?" kali ini Gyria yang bertanya. Derek menoleh pada Gyria.


"Tentu saja. Kau tidak yakin?"


"Meragukan. Karena aku tidak mendengar atau bahkan melihat pergerakan dari luna Chloe."


"Apa hubungannya dengan luna itu? Bukankah aman Allana berada disana? Luna itu tidak akan mengganggunya lagi."


"Itu masalahnya. Luna Chloe tidak akan tinggal diam. Dia telah mengambil sebagian besar jiwa serigala Allana, hampir mendapatkan seluruh kekuatan sihir ayahnya. Dia akan semakin kuat. Kekuatannya akan sempurna jika dia mendapatkan seluruh jiwa serigala Allana. Lagipula mereka memiliki penyihir. Kami saja butuh penyihir untuk menemukan kuil itu, sementara mereka sudah tersedia. Antara mereka dan kami, siapa menurutmu yang tertinggal jauh. Luna Chloe dengan sebagian besar jiwa serigala Allana di tambah kekuatan sihir ayahnya, akan mampu mengalahkan para warrior kuil."


"Kenapa kamu masih memanggilnya luna? Dia tidak pantas di panggil luna." gumam Erica.


"Lalu dengan mencari keberadaan kuil itu, akan berguna bagi apa? Para warrior kuil lebih kuat dari padamu bahkan mungkin aku."


"Setidaknya aku ingin memastikan Allana baik-baik saja, lalu akan aku lakukan semampu aku untuk membantunya."


Derek menghela nafas, menatap gadis yang berdiri di hadapannya itu, begitu keras kepala.


"Jika kamu terluka, atau bahkan mati, tidak akan ada gunanya. Lagipula kehadiranmu akan membuat Allana susah. Karena dia akan kesusahan antara melindungimu atau melindungi dirinya sendiri."


"Aku tidak tidak minta untuk di lindungi. Jika perlu aku akan bersembunyi, membantunya tanpa dia tahu."


"Kenapa kamu keras kepala sekali? Dia aman disana. Dia di bantu oleh para warrior kuil. Dan aku dengar, jika warrior kuil dalam masalah, mereka akan memanggil yang terpilih. Kau dengar? Yang terpilih! Dia bukan penyihir sembarangan."


"Aku tahu siapa yang terpilih. Kami mempelajarinya juga. Tapi yang aku tahu, yang terpilih tidak akan mencampuri urusan suatu kaum. Selagi semua permasalahan masih di dalam satu kaum. Sampai sekarang hanya penyihir yang terlibat dan aku dengar para elder akan mengatasi para penyihir disisi luna Chloe. Tapi sampai sekarang tidak ada yang bertindak. Bahkan aku dengar, penyihir yang berada di sisi luna Chloe tidak termasuk dalam tiga golongan penyihir!"


"Okaayy... Dan dari mana kamu tahu semua itu?"


"Bukan urusanmu aku tahu dari mana semua itu. Yang jelas, aku mengetahuinya dan aku butuh tahu lokasi kuil itu berada saat ini."


Ya, Gyria memang tahu semua itu, berkat temannya Leysha. Leysha terbebas dari kecurigaan luna Chloe dan selama ini mereka selalu bertemu secara rahasia di tempat yang hanya mereka berdua ketahui. Leysha memberitahukan semua yang dia tahu pada Gyria.


"Baiklah. Tapi itu tetap berbahaya. Tidak perlu mencari lagi, karena tidak akan ada yang kesana."


"Apa?!" Erica dan Gyria sama-sama terkejut. Derek beralih pada Zach.


"Terima kasih atas pemberitahuannya alpha. Saya sangat berhutang budi."


"A-ahh.. Ahahahaha...jangan seperti itu. Kamu juga telah membantuku sewaktu aku dalam masalah waktu itu. Jadi jangan sungkan. Aku hanya memberitahukanmu karena aku khawatir. Karena mereka bawahanmu, aku rasa aku perlu memberitahukanmu."


"Benar alpha."


"Aku akan tetap mencarinya."


"Tidak Gyria, tidak akan aku biarkan."


"Kamu tidak berhak melarangku."


"Kau anggota pack Hysort sekarang, yang artinya kamu adalah tanggung jawabku."


"Aku bukan anggota pack manapun. Jadi kamu tidak bisa melarangku."


"Ohh.. Jadi kau adalah rogue?"


"Anggap saja begitu." jawab Gyria ketus.


"Lalu bagaimana dengan ibu dan adikmu?"


"Mereka akan aku bawa pergi, tenang saja. Aku tidak akan menyusahkan pack kalian lagi."


"Di mana kamu akan menyembunyikan ibu dan adikmu? Kau tahu, luna Chloe akan mencari cara untuk mendapatkanmu dan ibu serta adikmu kembali. Dan jika itu terjadi, kamu akan membuat Allana kesusahan."


"Tidak perlu khawatir. Kami bisa menjaga diri." Gyria berjalan manjauh. Derek mengejarnya lalu memegang lengan Gyria, mencegahnya untuk melangkah.


"Kenapa kamu sangat keras kepala sekali?!"


"Lepaskan tanganku."


"Aku melarangmu untuk kebaikanmu."


"Tidak perlu. Aku bisa menjaga diriku sendiri dan keluargaku. Tidak perlu repot."


"Tidak bisakah kamu tidak keras kepala?"


"Uhmm... Ada apa dengan mereka?" bisik Rodney pada Erica. "Apa ini masalah percintaan? Aku sudah bosan dengan masalah percintaan Zach dan Karen."


"Jangan bawa-bawa aku."


"Apa? Itu benar. Kau sering bertengkar dengan Karen."


"Tapi mereka terlihat.... Bersama. Apa mereka mate?" tanya Daryl yang masih menatap Derek dan Gyria yang masih bertengkar.


"Aku bahkan tidak tahu ada apa di antara mereka." Erica menggelengkan kepalanya.


******


Hosh hosh


Sudah lama semenjak Allana mulai berlari. Tapi dia masih tidak melihat siapapun. Allana berhenti sejenak, menyeka keringat di keningnya dan mengatur nafasnya. Entah apa, di mana dan kenapa dia berada di tempat saat ini dia berada. Dia terus berlari tapi tidak menemukan apapun. Hanya diam di tempat, tapi semua tetap sama. Dia seperti terkurung. Dia mencoba berteriak, memanggil siapapun yang dia kenal. Tidak ada sahutan apapun.


"Allana?"


Sebuah panggilan membuatnya tersentak kaget. Dia menoleh ke arah suara. Dia menemukan satu sosok wanita cantik yang tampak familiar baginya. Allana hanya terdiam di tempatnya, menatap ke arah wanita yang kini sedang tersenyum padanya. Wanita itu berjalan mendekat.


"Aku tahu kamu akan bertahan dan tidak menyerah." sahut wanita itu. Allana tidak berbicara sepatah katapun, bahkan bergumampun tidak. Wanita itu kini sudah berdiri di hadapan Allana. Wanita itu tersenyum lalu memiringkan kepalanya.


"Kau sangat kuat. Aku bangga padamu."


"Terima kasih. Tapi... Tapi siapa anda?" tanya Allana akhirnya saat otaknya menyerah mencari tahu di mana dia pernah melihat wanita itu. Wanita itu tertawa kecil.


"Wajahku sepertinya mudah dilupakan. Tapi mungkin karena kita hanya bertemu sekali di mimpimu."


"Mimpi?" Allana kembali mencoba mengingat. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Tunggu, kau adalah--"


"Benar, senang bertemu denganmu lagi."


"Tunggu, bagaimana-- bagaimana anda bisa berada disini? Apa ini mimpi?"


"Aku disini ingin membantumu Allana. Aku di beri kesempatan untuk membantumu dan ya, ini adalah mimpi."


"Mem-membantu saya? Maksudnya?"


"Kau tahu, kekuatan yang kamu miliki tidaklah mudah untuk di kendalikan. Kamu memiliki kekuatan leluhur sekarang. Itu akan membantumu bertahan. Itu juga memberikan kesempatan padamu untuk melawan dan mengambil kembali jiwa serigalamu."


"Jadi... Anda akan mengajari saya bagaimana menggunakan kekuatan ini?"


"Benar."


"Apa... Apa anda juga memiliki kekuatan ini sebelumnya? Apa begitu sulit mengendalikannya?"


Wanita itu tertawa. "Benar. Tisan pernah memberiku kekuatannya seperti dirimu. Tapi aku melakukan kesalahan, kesalahan yang cukup membuatku harus menerima akibatnya dan kehilangan pack Crysort."


"Apa?? Jadi... Pack Crysort hancur... Gara-gara... Anda?"


"Tentu saja tidak. Pack itu sudah di ramalkan untuk hancur. Tapi seharusnya aku bisa menyelamatkannya. Aku juga seorang warrior kuil yang memutuskan untuk berjalan sendiri dan membentuk sebuah pack. Tisan memberkatiku dengan memberikan kekuatannya dan bersama kekuatan sihirku, aku tidak terkalahkan. Tapi karena keegoisanku dan keserakahanku, aku mendapatkan balasan setimpal. Kekuatan Tisan pergi dan kekuatan warriorku tidak bisa mematahkan ramalan itu. Yang akhirnya harus menunggu keturunanku berikutnya yang memiliki kekuatan sepertiku. Tapi ya.. Bisa dikatakan, semua ini secara tidak langsung, karenaku."


"Lalu?"


"Pack Crysort hancur dan kamu yang akan menyatukannya kembali. Seperti itu ramalannya. Tapi ramalan itu bisa berubah."


"Benarkah?"


"Tentu. Tergantung keputusanmu."


"Apa maksudnya itu?"


"Keputusanmu yang menentukan segalanya."


"Tapi... Keputusan apa itu?"


"Kau akan mengetahuinya nanti. Sekarang, aku ingin tahu apa yang kamu rasakan."


"Uhm.."


"Kekuatan yang kamu miliki, apa yang kamu rasakan?"


"Tidak ada."


"Tidak ada?"


"Tentu saja berbeda. Warrior adalah kekuatan besar. Kekuatan perpaduan kekuatan terkuat di klan manusia serigala, beta dan alpha. Sementara kekuatan Tisan, kekuatan yang berbeda. Sangat kuat."


"Apa aku akan kesulitan?"


Brea tersenyum. "Tentu saja tidak. Tisan yang ada di dalam tubuhmu sekarang, akan membantumu. Hanya saja, jangan sepertiku. Tetaplah pada hati murnimu."


"Tapi kekuatan warriorku yang di katakan setara dengan kekuatan alpha dan beta saja saya tidak bisa mengendalikan, bagaimana anda yakin saya bisa?"


"Tentu saja kamu bisa. Butuh perjuangan, tapi tetap bisa di lakukan."


Brea mendekat pada Allana lalu membelai lembut rambutnya.


"Gunakan sisa jiwa serigalamu."


"Tapi aku tidak bisa. Aku terlalu lemah untuk--"


"Tidak Allana, kamu bisa. Kamu tahu kenapa selama ini kamu gagal mengendalikan kekuatan warriormu? Karena kamu tidak bersatu dengan kekuatanmu. Kamu hanya merasakannya dan ingin mengendalikannya. Jika kamu benar-benar ingin mengendalikannya, bersatulah dengan kekuatanmu, jadilah kekuatan itu sendiri."


"Tapi... Saya tidak tahu caranya."


"Kau akan tahu. Ada disini." Brea menunjuk dada Allana. "Dan disini." tangan Brea beralih ke kepala Allana.


Allana menatap bingung.


"Bersatulah dengan hati, jiwa dan pikiranmu. Maka kekuatan itu, akan menjadi milikmu, selamanya."


Tak lama tangan Allana terlihat memudar. Allana terkejut dan menatap kedua tangannya.


"I-ini.. Ini kenapa??" Allana mulai panik.


"Ingatlah Allana, keputusanmu yang akan menentukan masa depan pack Crysort. Choose it well."


Pandangan Allana mulai kabur. Semua terlihat putih dan samar sejenak. Lalu tak lama, mulai terlihat jelas. Beberapa dedaunan dari pohon-pohon yang rimbun. Allana mengerjapkan matanya berulang kali. Dia bisa merasakan hembusan angin dan suara dari beberapa orang.


"Allana? Kau sudah bangun?"


Allana mendudukan tubuhnya. Dia menatap sekitar. Sekarang dia ingat, dia sedang berlatih bersama warrior lainnya.


"Waahh kau sudah bangun? Lama sekali kau tidur." sahut Tristan yang kini berdiri di depannya lalu mengulurkan tangannya pada Allana. "Ayo, kembali berlatih."


Allana menghela nafasnya lalu menyambut tangan Tristan.


"Apa kamu baik-baik saja? Tidak menyerahkan?" tanya Harold.


"Tentu saja dia tidak menyerah! Iya kan All?" Kevin yang menjawab.


"Sepertinya aku payah dalam hal ini." keluh Allana.


"Kau tidak payah, hanya kurang berlatih." Harold menenangkan.


"Tidak, dia payah. Sangat payah." sahut Alan.


"Hei, hei, hei.. Dia tidak payah. Harold benar, dia kurang berlatih. Lagipula, dia belum lama menjadi manusia serigala jadi wajar saja." bela Kevin.


"Apa kau ibunya? Kenapa kau terus saja membelanya." Alan menggelengkan kepalanya heran.


"Aku hanya--"


"Berhenti membelanya. Dan buktikan saja jika aku salah. Dia bahkan sedari tadi tidak bisa mengalahkan Ed yang gendut itu."


"Hei, hei.. Jangan bawa-bawa aku." protes Ed.


"Semua tahu, Ed paling lemah di antara kita. Dia bahkan tidak bisa mengalahkannya? Are you kidding me? Hah! Dia payah. Tidak cocok untuk kekuatan warrior alpha dan beta."


"Apa kau lupa dia kehilangan kekuatan itu?"


"Ya, ya... Klasik. Dia berkata dia pernah berlatih dengan pack Crysort. Jika dia memang sudah terlatih dia akan tetap bisa, setidaknya, menyamai Ed. Tapi sayangnya, dia tidak bisa. Bagaimana dia bisa mengendalikan kekuatan leluhur?"


"Sudahlah, hentikan. Kita disini sama-sama belajar. Alan berpatrolilah di luar kuil bersama Tristan, Sam dan Howard. Yang lain kembali berlatih."


Alan segera berubah menjadi serigala di susul Sam dan Tristan.


"Baiklah Allana, ayo berlatih lagi. Tidak perlu memikirkan ucapan Alan. Dia memang seperti itu." sahut Harold.


"Harold benar. Dia dingin pada semua orang disini dan suka seenaknya. Kau akan terbiasa nanti."


"Apa kau--"


Tiba-tiba terdengar suara raungan serigala yang begitu keras.


"Apa itu? Bukannya itu suara Tristan?"


"Baru saja mereka keluar tadi. Apa ada masalah?"


"Kevin, pergi lihat."


Kevin mengangguk lalu merubah dirinya dan pergi.


"Aku akan pergi juga keperbatasan kuil. Kalian berjaga saja di sini."


"Harold!! Harold!!" Howard berlari mendekati Harold dengan terburu-buru dan wajah pucat. "Harold.. Tris--Tristan.."


"Ada apa dengan Tristan? Tenanglah dulu.. Bernafaslah." sahut Harold. Nafas Howard memburu.


"Ada sesuatu yang menyerang kami segera setelah kami keluar wilayah kuil."


"Menyerang? Siapa?"


"Itu masalahnya. Kami tidak bisa melihatnya."


"Apa maksudnya itu? Kenapa kalian tidak bisa melihatnya?"


Howard menggeleng cepat. Dari wajahnya terlihat ketakutan.


"Harold!"


Dari kejauhan terlihat Alan dan Kevin memapah Tristan yang tidak sadarkan diri. Mereka membawanya mendekati Harold dan meletakkannya di tanah.


"Ada apa dengannya?" tanya Harold.


"Kami... Kami tidak tahu. Kami di serang." ucap Alan yang masih terlihat panik. Tubuh Alan penuh dengan darah dan luka.


"Baiklah, obati dulu lukamu dan--"


"Tidak, aku harus tahu apa dia baik-baik saja."


"Aku akan mengurusnya! Khawatirkan dulu dirimu. Sana! Ed bantu Luis membersihkan dan mengobati Alan."


Ed dan Luis segera memapah Alan pergi.


"Harry, periksa dia."


Harry segera berjongkok di sebelah Tristan dan memeriksanya.


"Dia terlalu lemah dan.. Dan..."


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Allana.


"Dan apa Harry?"


"Tubuhnya... Tubuhnya mengeras."


"Apa?"


Harold segera memeriksa tubuh Tristan. Seluruh tubuhnya berubah dingin dan membeku. Mulai dari kaki dan mulai menyebar.


"A-ada apa dengannya?"


"Aku tidak tahu."


Harold berjalan cepat mendatangi Alan yang sedang di bersihkan lukanya.


"Alan ceritakan apa yang terjadi? Ada apa sebenarnya?"


"Aku tidak tahu Harold. Semua terjadi begitu saja. Bahkan yang menyerang kami saja, kami tidak tahu. Aku tidak bisa melihatnya."


"Dan Sam? Di mana dia?"


Alan terdiam. Dia baru teringat dengan Sam.


"Aku... Aku tidak tahu. Makhluk itu menyerangku lalu menyerang Tristan. Terakhir aku melihat Sam sedang membantu memapah Tristan. Saat aku terbebas, aku melihat Tristan sudah tidak berdaya lalu Kevin datang dan membawa kami masuk. Lalu aku... Aku tidak tahu dimana Sam. Aku... Aku tidak ingat."


"Tidak masalah. Kita akan cari. Kamu beristirahatlah."


"Tristan, bagaimana dia?"


"Seluruh tubuhnya beku. Harry sedang membantunya. Urus saja lukamu dulu."


"Harold!"


Dari kejauhan Luis memanggil.


"Sebaiknya kamu melihat ini."


Harold segera mendatangi Luis dan pergi bersamanya. Harold dan Luis mendatangi perbatasan. Disana para warrior lain sudah berkumpul, menatap keluar perbatasan dengan ngeri. Harold dengan segera menatap apa yang di tatap para warrior lain.


"Astaga.. Mereka..."


"Rogue."


Mereka semua menatap ratusan rogue yang berdiri menatap dan menggeram pada mereka.


*******


tadariez