Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 16 : The Truth



"Apa?!" Gyria menatap tidak percaya. "Tidak beta, tidak mungkin. Saya melihat Allana berubah tadi. Dia masih menjadi manusia serigala!"


"Tidak sekarang Gyria. Akan mulai menghilang setelah dua puluh empat jam melakukan ritual itu."


"Tapi... Tapi bagaimana bisa? Lalu untuk apa anda melatihnya?"


"Agar tubuhnya lebih kuat saat melakukan ritual. Semakin kuat tubuhnya, semakin dia bisa bertahan saat ritual."


"Jadi maksud anda... Dia bisa saja mati?"


Beck mengangguk pelan. Gyria menutup mata dan mengacak rambutnya. Dia tidak percaya pada apa yang dia dengar.


"Aku juga tidak ingin melakukan ini Gyria tapi demi pack kita, kita harus melakukan yang terbaik. Aku juga tidak mau Allana terluka, karena itu aku melatihnya sangat keras, lebih keras dari kalian."


"Tapi dia tidak menjadi manusia serigala lagi! Saya juga bahkan tidak tahu jika itu tidak apa-apa."


"Aku mendapat jaminan dari para penyihir."


"Jaminan?"


"Iya, jaminan bahwa Allana akan baik-baik saja. Dia hanya akan kehilangan jiwa serigalanya saja, hanya itu. Yang lain dia baik-baik saja."


"Apa anda yakin?"


"Para penyihir memastikannya. Aku meminta bantuanmu Gyria. Tetaplah bersama Allana beberapa hari ini. Awasi dia dan kabari aku jika terjadi sesuatu."


"Baik beta."


******


Allana membuka lokernya dan meletakkan beberapa buku di dalamnya. Allana sudah kembali bersekolah keesokan harinya. Dia belum menyadari perubahan dirinya. Hanya kadang dia merasa sakit kepala, tapi Allana tidak terlalu menggubrisnya.


"Hai.." sapa seseorang di sebelahnya. Allana mendapati laki-laki yang di kenalnya berdiri di sebelahnya.


"Hai.."


"Kamu... Masih mengingatku kan?"


Allana tertawa kecil.


"Iya aku mengingatmu tuan. Uhmm.. Ben, iya kan?"


"Kau mengingatku."


"Yup, aku mengingatmu." Allana tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Allana kembali ke lokernya.


"Aku tidak melihatmu saat pesta haloween."


"Aku memang tidak pergi."


"Ahh... Kenapa? Punya pesta halloween yang lain?"


Allana menatap Ben dan tertawa kecil.


"Tidak, aku hanya sedikit sibuk."


"Ahh... Kau gadis yang super sibuk sepertinya."


"Well, anggaplah seperti itu."


Allana menutup dan mengunci lokernya lalu berjalan menjauh. Ben mengejarnya.


"Bagaimana jika pesta tahun baru? Mau pergi bersama?"


"Aku tidak tahu jika sekolah mengadakan pesta tahun baru."


"Tentu tidak, tapi temanku mengadakan."


"Ahh..." Allana tertawa lagi.


"Mungkin kamu bisa ikut denganku ke pesta itu. Pestanya meriah dan kamu juga bisa mengajak teman-temanmu atau bahkan pacarmu."


"Aku tidak tahu Ben. Aku tidak tertarik."


"Oh ayolah, pasti akan sangat menyenangkan."


Allana tertawa lalu berhenti dan menatap Ben.


"Aku tidak tahu Ben."


"Ayolah, kamu bisa mengajak pacarmu."


"Aku tidak punya pacar."


"Oh thanks god."


"Apa?"


"Oh tidak, tidak, tidak." sahut Ben cepat. Allana tertawa geli. "Setidaknya pertimbangkan dulu."


Allana menghela nafas. "Baiklah, akan aku pertimbangkan."


"Alright. Thanks. Pertimbangkan dengan baik." Ben melangkah pergi. "Aku menunggu jawabanmu."


Allana tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Laki-laki yang aneh." gumam Allana.


Allana kembali berjalan. Dia akan menuju ke lab yang letakanya agak sedikit di belakang sekolah. Allana bersenandung kecil.


"Allana!! Awas!!"


Erica menarik tubuh Allana menjauh.


Brakk!!


Allana lolos dari terkena sebuah bola. Bola itu mengenai dinding dengan keras.


"Kamu baik-baik saja?"


"Kurasa. Apa itu tadi?"


"Sebuah bola Allana. Ada apa denganmu? Apa kamu tidak bisa merasakan bola itu saat bola itu mendekat? Kamu manusia serigala sekarang, seharusnya indramu lebih sensitif."


"Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin aku terlalu banyak pikiran."


"Allana, kamu baik-baik saja?" Hope ikut mendatangi mereka.


"Aku baik Hope."


"Untung saja."


"Maafkan aku, aku tidak sengaja." kata sang pelempar bola.


"Tidak sengaja?! Kau hampir mencelakakan temanku! Disini bukan lapangan." omel Hope.


"Iya, maaf. Aku minta maaf."


"Tidak masalah." jawab Allana.


"Dasar laki-laki. Apa kau yakin baik Allana? Apa kita perlu ke klinik sekolah?"


"Tidak perlu Hope aku.. Baik."


"Baiklah. Ayo kita jalan lagi."


"Aku tidak tahu apa kamu pikirkan Allana tapi kamu harus lebih berkonsentrasi." bisik Erica.


"Ya, aku tahu itu."


Allana kembali berjalan. Dia merasa heran, kenapa dia tidak menyadari datangnya bola itu.


*****


Allana baru saja sampai di depan rumahnya. Dia mendengar sebuah mobil mendekat dan parkir di depan rumahnya.


"Hai sist." sapa Derek begitu keluar dari mobil.


"Kembali lagi."


"Ada barang yang tertinggal."


"Ahh..."


"Aku akan kembali sore ini juga."


Allana mengangguk dan mulai memutar knop pintu.


"Hei, Allana. Apa kamu mau berlari bersamaku?"


"Berlari?"


"Satu putaran saja di hutan belakang rumah, bagaimana?"


"Dengan wujud serigala?"


"Tentu saja."


Allana tampak berfikir.


"Ayolah... Aku akan lama kembali kemari. Penuhilah kemauan kakakmu ini."


Derek memohon. Allana tertawa.


"Baiklah, baiklah."


"Ayo kita ke halaman belakang."


Derek berlari diikuti Allana. Tak lama mereka sampai. Derek membuka bajunya. Yang tertinggal hanya celana pendeknya.


"Kamu... Tampak berbeda Allana."


"Apa maksud kakak?"


"Entahlah, kamu seperti... Dirimu yang dulu."


"Yang dulu?"


"Saat belum menjadi manusia serigala."


"Benarakah? Kenapa begitu?"


"Entahlah mungkin hanya perasaanku saja. Tidak usah di pikirkan. Ayo kita berubah."


Derek berubah menjadi serigala dan berlari kecil menjauhi Allana. Allana tersenyum lalu mencoba berubah, tapi tidak ada yang terjadi. Dia mencoba lagi, sedikit saja yang berubah lalu dia kembali lagi menjadi manusia. Sudah berulang kali dia mencoba tapi dia tidak bisa. Derek kembali karena adiknya tidak menyusulnya juga. Derek mendekati Allana dan menatapnya.


"Aku... Aku tidak bisa berubah." sahut Allana. Air matanya mulai jatuh. Dia panik. Derek dengan segera merubah diri lagi menjadi manusia dan mendekati Allana yang terduduk ditanah.


"Apa maksudmu Allana? Mungkin kamu hanya kurang konsentrasi."


"Tidak.... Aku sudah mencobanya tapi tetap tidak bisa. Aku harus bagaimana?"


Derek bingung. Dia juga tidak tahu harus bagaimana.


"Aaaakkkhhh..." Allana memegangi kepalanya yang sakit.


"Allana? Hei... Kamu baik-baik saja?"


"Kepalaku... Ahhh... Entah kenapa kepalaku sering sakit."


"Ayo kita masuk ke rumah dulu."


Allana menganggukan kepalanya. Derek memapah Allana masuk ke dalam rumah.


"Bu?"


Derek memanggil ibunya begitu dia sudah masuk lewat pintu belakang.


"Ibu? Ibu di mana?!"


"Di kamar. Ibu tadi di kamar. Ada apa? Kenapa kamu-- Allana? Allana kenapa Derek?!"


Ibu Allana panik dan mendatangi mereka.


"Derek tidak tahu bu. Tadi kami berencana untuk berlari di hutan sebelum Derek kembali ke pack, tapi Allana mengatakan dia tidak bisa berubah. Lalu Allana berkata dia sakit kepala."


Derek mendudukkan Allana di sofa.


"Allana, kamu baik-baik saja?" tanya ibunya yang sudah berjongkok di hadapannya.


"Ini, minumlah." Derek menyerahkan segelas air mineral. Allana mangambilnya dan meminumnya sedikit.


"Allana baik bu. Hanya sedikit sakit kepala."


"Ada apa ini?" tanya ayahnya yang baru saja masuk ke dalam rumah bersama Alice.


"Aahhh drama Allana lagi. Apa kamu tidak bosan Al." sahut Alice malas lalu melemparkan tubuhnya di sofa.


"Allana sakit kepala."


"Allana baik bu."


"Minumkan saja dia obat bu, jangan di besar-besarkan."


"Tapi bu, Allana berkata dia tidak bisa merubah dirinya menjadi serigala." jelas Derek.


"Benarkah? Kenapa kamu tidak bisa?" tanya ayahnya bingung.


"Kemarin Allana bisa. Mungkin karena sakit kepala jadi Allana tidak bisa berkonsentrasi."


"Mungkin, ya sudah. Mungkin kamu harus beristi--"


"Apa yang kamu lakukan di pack Crysort?" tanya ibu Allana tiba-tiba.


"Kamu yakin?"


"Iya bu."


"Tunggu, Allana pergi ke pack Crysort?" Alice tampak terkejut.


Allana diam. Dia mencoba mengingat yang terjadi di Crysort.


"Tidak ada yang terjadi. Allana ingat betul. Kami datang sore, hampir gelap. Mereka bilang Luna sedang tidak bisa menemui Allana jadi Allana di minta untuk beristirahat terlebih dulu. Keesokan harinya luna baru bertemu Allana."


"Apa ada hal yang mengganjal? Maksud ibu... Hal yang aneh?"


Allana mencoba mengingat lalu menggeleng.


"Allana rasa tidak bu. Hanya saja luna tampak begitu baik dan sehat."


Ibu Allana terdiam. Entah kenapa ada yang terasa aneh baginya. Ibu Allana tiba-tiba teringat sesuatu. Ibu Allana langsung berdiri dan mulai memeriksa tubuh Allana.


"Bu? Ada apa sih?"


Allana bingung. Ibunya memeriksa seluruh tubuh Allana. Semua orang manatap bingung.


Ibu Allana tiba-tiba terdiam. Dia menatap marah dan tidak percaya.


"Kamu bohong pada ibu Allana. Apa yang sebenarnya terjadi di sana?!" pekik ibunya. Semua orang terkejut.


"Allana tidak berbohong bu. Allana tidak melakukan apapun!"


"Bohong!"


"Allana berkata jujur saja pada ibumu." pinta ayahnya.


"Tapi ayah, Allana tidak berbohong."


"Lalu tanda apa di leher belakangmu?" tanya ibu Allana.


"Tanda? Tanda apa? Allana tidak memiliki tanda apapun."


Derek yang penasaran menyibak rambut Allana dan melihat leher belakang Allana. Disana ada sebuah gambar seerti tatto bulan lingkaran dan dua bulan sabit di dalam lingkaran. Gambar itu belum jadi dengan sempurna.


"Apa ada sesuatu?" tanya Alice melihat Derek dan ayahnya terdiam. Alice beranjak dari duduknya dan ikut melihat. "Astaga Allana. Kamu sungguh ketahuan."


"Apa? Ada apa?" tanya Allana panik.


"Ohhh jangan mulai berkata kamu tidak tahu tentang gambar itu."


"Aku sungguh tidak tahu."


"Tidak mungkin."


"Sungguh... Aku--" Allana tampak sangat bingung sekarang.


"Gambar apa itu bu?" tanya Derek. Karena ibunya tampak mengenali gambar itu. "Sepertinya gambar itu belum sepenuhnya jadi."


"Tanda itu akan terbentuk sendiri. Tidak ada yang menggambarnya."


"Apa maksud ibu?"


"Kamu melakukan sesuatu Allana. Apa kamu tidak menyadarinya?"


"Sungguh bu, Allana tidak tahu apapun."


"Para serigala sialan!! Akan aku bunuh mereka!!" ibu Allana bangkit dan mulai berjalan. Ayah Allana mencegahnya.


"Tenanglah sayang."


"Aku tidak akan bisa tenang setelah apa yang mereka perbuat pada Allana!!"


"Memangnya apa yang di perbuat mereka?"


"Saya bisa jelaskan." kata Gyria yang baru saja datang. Dia sebenarnya melihat dan mendengar semua pembicaraan keluarga Allana. Rasa bersalah terus menghantuinya.


"Kau... Kau yang menyebabkan semua ini!!" ibu Allana mendatangi Gyria dan mencengkram bajunya. "Kamu dan packmu harus bertanggung jawab!!"


"Sayang, tenanglah."


"Tidak! Dia yang bertanggung jawab."


"Dia masih anak-anak! Sama seperti Allana. Kita dengarkan dulu penjelasannya." pinta ayah Allana. Ibu Allana masih menatap marah. Lalu akhirnya melepaskan cengkramannya dan berjalan menjauh. Ibu Allana duduk di salah satu sofa.


"Ceritakan ada apa sebenarnya." pinta ayah Allana.


"Saya... Saya sungguh tidak tahu. Mereka berkata jika luna hanya ingin bertemu dan berbicara pada Allana. Hanya itu. Lalu saya menjemput Allana dengan perintah beta agar membawa Allana apapun yang terjadi. Jadi saya melakukan perintahnya."


"Kamu melakukan perintahnya tanpa memikirkan resikonya? Allana temanmu!" sahut ibu Allana.


"Dan dia adalah luna dan beta saya. Apa saya harus mencurigai mereka saat mereka bilang luna sedang sekarat dan ingin bertemu Allana? Jika ini yang terjadi mungkin saya bisa mencari alasan untuk tidak menjemput Allana. Sekalipun saya tidak pergi, akan ada orang lain yang pergi. Tapi saya tetap bersalah, saya tahu itu. Saya sungguh minta maaf."


"Tapi.. Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak ingat apapun?"


"Aku juga tidak mengerti kenapa kamu tidak ingat, tapi sepertinya karena para penyihir."


"Oh tentu saja. Mereka pasti meminta bantuan penyihir." ibu Allana menundukkan kepalanya.


"Mereka meminta untuk bertemu denganmu malam itu. Tengah malam. Mereka membawamu ke dalam goa. Aku bahkan tidak di ijinkan masuk. Tapi aku merasa ada yang aneh jadi aku menyelinap, dengan bantuan tentu. Mereka... Mereka melakukan ritual penyembuhan padamu."


"Itu yang mereka katakan padamu? Ritual penyembuhan?" tanya ibu Allana. Gyria mengangguk. Ibu Allana menghela nafas.


Allana terdiam. Dia mencoba mengingat semuanya. Tapi semakin dia coba kepalanya semakin sakit.


"Agghh.."


"Allana, jangan memaksa untuk mengingat."


"Allana baik-baik saja. Aku... Aku meminta bantuanmu kan? Aku ingat itu. Aku melihatmu di sana Gyria! Aku meminta pertolonganmu! Tapi kamu diam saja. Kamu tidak perduli."


"Dan aku meminta kamu untuk memberitahukan padaku jika ada sesuatu yang terjadi dan kamu sudah berjanji akan melakukannya." Derek menatap kecewa ada Gyria. "Aku percaya padamu."


"Saya minta maaf." Gyria terduduk.


"Pergi dari sini!" usir Allana. "Aku tidak ingin melihatmu lagi."


Gyria semakin tertunduk. Dia beranjak pergi.


"Kenapa kamu tidak mengatakan alasannya Gyria?" sahut Leysha. Leysha sudah berdiri di dekat pintu. "Alasan kenapa kamu tidak menolong Allana."


"Tidak, tidak perlu." sahut Gyria terburu-buru lalu segera menarik tangan Leysha.


"Mereka menyalahkanmu dan itu tidak adil!"


"Sudahlah Leysha. Kita pergi dari sini."


"Apa ada sesuatu?" tanya Derek.


"Ti-tidak, tidak ada."


"Karena ibunya."


"Leysha..."


"Gyria tidak membantu Allana karena ibu dan adiknya."


"Sudah Leysha, hentikan!"


"Mereka membuat ibunya bersumpah pada luna."


"Leysha!!"


"Oh tidak.. Mereka melakukan itu padamu. Kasihan sekali." sahut ibu Allana iba. "Mereka melakukan hal itu pada ibumu dan sekarang mereka membohongi kamu."


"Kami tidak punya pilihan. Dia adalah luna terakhir menurut ramalan."


"Karena itu aku katakan mereka membohongi kamu."


"Apa maksud anda?"


"Apa kamu mau tahu kenapa aku pergi dari pack Crysort? Bukan karena packnya terpecah belah tapi karena perintah lunaku dan karena ramalan itu. Ada dua ramalan. Pertama tentang warrior yang tentu kalian tahu. Yang kedua tentang luna terakhir. Benar, luna kalian, luna Chloe adalah luna terakhir. Jika dia berkata sakitnya karena ramalan itu, berarti dia berbohong. Dia sakit karena ayahnya. Suami luna Megi adalah penyihir. Selama ini hubungan mereka sangat baik meski setiap hari mereka selalu bertemu di luar pack. Tapi suaminya berbohong padanya selama ini. Dia bukan penyihir baik. Luna kalian sakit bukan karena dia di ramalkan akan sakit, tapi karena kutukan ayahnya sendiri. Yang hanya bisa menyembuhkan adalah manusia serigala yang telah di takdirkan datang, kamu Allana."


"Jadi... Ibu sudah tahu Allana adalah warrior itu?"


"Tidak, ibu tidak tahu. Ibu hanya menduga. Warrior kelahiran dari keturunan mulia. Aku adalah anak seorang luna terdahulu. Meski aku bukan luna, aku adalah keturunan mulia. Begitu juga anak-anakku. Luna Megi memiliki anak laki-laki dan satu perempuan. Warrior yang di maksud adalah perempuan. Setidaknya itu yang di katakan ramalan itu. Luna Chloe jelas bukan warrior itu. Satu-satunya keturunan mulia yang tersisa adalah aku. Mengetahui hal itu dan mengetahui luna Chloe di kutuk, luna Megi memintaku, tidak, memerintahkanku untuk keluar dari pack dan bergabung dengan ayahmu Allana. Untung saja alpha Dwaine dengan senang hati menerima. Saat itu aku masih mengandung Alice."


"Jadi... Ibu mengira aku adalah warrior itu?" tanya Alice.


"Itu yang ibu takutkan, karena jika itu benar. Mereka akan mengambilmu Alice. Luna Chloe tidak sebaik yang kamu pikirkan. Dia licik. Bahkan dia pernah mencoba menculik Alice dulu. Meski dia tidak mengaku, tapi aku tahu itu dia. Tapi setelah mereka tahu Alice bukan warrior itu, Chloe berhenti menggangguku. Dan aku ditakdirkan memilikimu Allana. Banyak yang memintaku untuk menggugurkan kandunganku saat aku mengandungmu."


"Tapi... Tapi aku masih dalam kandungan! Bagaimana, bagaimana kalian tahu itu aku?!"


"Kamu luar biasa kuat sayang." kali ini ayah Allana yang berbicara. "Bahkan ibumu sering masuk rumah sakit dan patah tulang saat mengandungmu. Tapi untungnya ibumu manusia serigala. Dia bisa sembuh dengan sendirinya."


"Peneroran pada keluarga kita di mulai. Tapi kali ini ada dua pihak. Satu ingin kamu lahir, satu lagi ingin kamu tidak di lahirkan. Sulit, tapi akhirnya ibu memutuskan kamu untuk di lahirkan. Tidak akan ibu biarkan mereka membunuh anak ibu, sebelum atau sesudah lahir. Ibu sudah mencoba beberapa cara tapi akhirnya cara itu membuat jiwa serigalamu tidak muncul saat kamu lahir. Kami bingung tapi akhirnya kami justru lega, dengan begitu, tidak ada yang mencelakaimu sampai kamu berubah menjadi serigala dan mereka kembali datang. Ibu mencoba mencegah tapi Beck berkata dia menjamin kamu akan baik-baik saja. Aku tidak menyangka dia berbohong seperti itu. Tidak seperti Beck yang aku kenal."


"Ibu... Mengenal Beck?"


"Tentu. Dia sudah ibu anggap adik sendiri. Ibu begitu terkejut saat dia ternyata adalah beta dari chloe."


"Karena itu... Karena itu luna membutuhkan jiwa serigala Allana. Luna harus sembuh agar bisa mempertahankan pack. Untuk itukan ramalan tentang Allana? Warrior yang akan menyelamatkan pack Crysort." sahut Leysha.


"Kamu salah. Kamu benar saat kamu berkata tentang ramalan warrior yang akan menyelamatkan pack Crysort. Tapi kamu salah jika cara menyelamatkan pack kalian dengan menyerahkan jiwa serigala Allana untuk ritual penyembuhan. Justru itu yang di cegah oleh para penyihir itu."


"Uhmm tapi nyonya... Para penyihir yang melakukan ritual itu." jawab Gyria.


"Berapa banyak yang kalian berdua tahu tentang penyihir?" tanya ibu Allana. Gyria dan Leysha saling pandang. "Tidak banyak kan? Paling tidak... Kalian tahu penyihir hitam dan putih atau Elder, Darkness dan yang terpilih. Tapi satu golongan di penyihir, hitam maupun putih. Mereka di sebut Phyrthia, peramal. Mereka memiliki kekuatan khusus untuk meramal. Seperti luna Brea. Dia setengah penyihir dan dia penyihir Phyrthia. Karena kehebatan mereka, banyak yang terbunuh. Sekarang jarang sekali ada peramal itu. Yang terbanyak ada di pack kita. Yang menyuruh membunuh Allana saat masih dalam kandungan adalah para penyihir Phyrthia. Mereka penyihir yang baik tapi mereka mendapatkan penglihatan yang buruk tentang Chloe dan benar saja, dia bukan orang yang baik. Chloe membunuh seluruh penyihir Phyrthia karena mereka menginginkan anak-anakku mati, mencegah lahirnya warrior, membuat kaum putih murka. Kaum putih menarik semua bantuan penyihir dari pack Crysort. Karena itu kalian selalu berpindah. Kalian tidak memiliki penyihir disisi kalian sampai ada penyihir Phyrthia lagi di pack kalian. Aku tidak mengenal mereka tapi aku duga mereka adalah kaum hitam."


"Jadi kita harus apa bu? Kita tidak bisa membiarkan Allana seperti ini." Derek terlihat khawatir.


"Tentu tidak. Chloe cukup kuat sekarang. Dia memiliki hampir seluruh jiwa serigala Allana."


"Tunggu, sayang... Kamu tadi katakan hampir seluruh?"


"Iya, dia belum mendapatkan seluruhnya. Tanda di leher belakang Allana belum jadi sempurna. Dia harus melakukan ritual lagi."


"Kita tinggal melawannya saja. Derek akan minta alpha Dwaine meminjamkan--"


"Tidak semudah itu Derek. Chloe memiliki kekuatan ayahnya di tambah kekuatan jiwa serigala Allana. Dia akan sangat sulit di kalahkan. Karena itu kenapa para penyihir Phyrthia melarang lahirnya warrior. Kita harus sembunyikan Allana sambil mencari cara untuk mengembalikan jiwa serigala Allana. Jika belum hilang sepenuhnya, jiwa serigala Allana bisa kembali lagi."


"Baik, Derek akan membawa Allana ke pack."


"Tidak Derek, jangan kesana. Kita tidak bisa ambil resiko pack akan di serang."


"Tidak masalah. Kami akan melawan."


"Dengan Chloe dan para penyihir disisinya? Ibu rasa tidak Derek. Percayalah, jangan meremehkan Chloe. Kita harus mencari tempat aman. Ibu dan ayah akan memikirkannya. Kita punya waktu sampai bulan purnama berikutnya. Untuk sementara kita bersikap normal saja. Tidak terjadi apapun. Dan jangan katakan pada siapapun. Kalian juga." ibu Allana menatap Gyria dan Leysha. "Apa kalian tidak merasa bersalah atas apa yang menimpa Allana? Allana mempercayai kalian."


Gyria dan Leysha tertunduk. Mereka memang begitu merasa bersalah.


"Kalau kalian memang merasa bersalah, bekerja samalah dengan kami."


"Bu, mereka sudah mengkhianati Allana sebelumnya!" protes Alice.


"Karena itu mereka harus membayarnya sekarang. Aku tidak meminta kalian mengkhianati atau melawan pack kalian. Aku tahu bahkan sangat paham kalian hanya melakukan perintah. Kalian tidak punya banyak pilihan. Tapi kalian masih bisa membantu kami. Apa yang mereka perintahkan pada kalian tentang Allana?"


"Kami di suruh mengawasi Allana dan bersikap seperti biasa."


"Kalau begitu lakukan tugas kalian. Awasi Allana dan bersikap seperti biasa. Tapi jangan pernah katakan pada mereka apa yang aku katakan pada kalian hari ini dan jangan katakan rencana kami untuk menyembunyikan Allana. Setelah semua yang terjadi, aku rasa kalian bisa melakukan hal itu bukan?"


Gyria dan Leysha saling menatap sejenak lalu mengangguk mantap.


"Kami bisa."


"Bagus, sekarang kembalilah sebelum ada yang curiga."


Gyria dan Leysha langsung pergi meninggalkan rumah Allana.


"Ibu yakin bisa percaya pada mereka?"


"Mereka tidak punya pilihan Alice selain mengikuti yang di perintah. Tapi ibu rasa mereka bukan orang yang jahat."


"Derek setuju." Semua orang menatap Derek. "Sepertinya Gyria berusaha menyelamatkan Allana malam itu."


"Dari mana kakak tahu? Aku melihatnya duduk diam."


"Apa kamu ada pingsan malam itu?" tanya Derek. Allana mencoba mengingat.


"Sepertinya."


"Jadi kamu tidak tahu pasti Allana. Aku melihat luka di pundaknya saat kita pulang dari sana. Luka itu cukup dalam dan parah. Bukan jenis luka saat latihan tapi saat bertarung. Aku tidak melihat luka itu saat kita datang ke sana."


"Tunggu, Allana tidak tahu kakak perhatian padanya?"


"Bukan perhatian Allana. Aku hanya memperhatikan sekitarku, itu penting." jawab Derek. Allana masih menajamkan matanya, masih curiga pada kakaknya. Derek hanya menggelengkan kepalanya.


"Jadi sekarang bagaimana?"


"Kita sembunyikan Allana. Ibu dan ayahmu akan melakukan perjalanan. Tidak lama, paling tidak seminggu. Aku ingin kalian mengawasi Allana. Terutama kamu Alice."


"Kenapa jadi Alice bu? Kan ada Derek."


"Derek adalah beta, Alice. Tempatnya adalah disisi alphanya."


"Huh! Menyebalkan!" Alice kembali melemparkan tubuhnya di kursi.


"Dan Derek, jangan beritahukan alpha Dwaine terlebih dahulu. Kita harus anggap ini adalah masalah keluarga. Kita tidak ingin melibatkan pack."


"Baik bu, Derek mengerti."


"Ibu cuma berharap rencana ibu akan berhasil. Jika tidak, ibu tidak tahu lagi apa yang harus di lakukan."


*******


tadariez