
Allana bersiap pergi dari kuil. Kei berkata, dia akan mengantarnya sampai pack Moon Zykolt.
"Allana, apa kamu sudah siap?" tanya Kei.
"Tentu yang mulia. Mari kita pergi."
Allana dan Kei mulai bersiap pergi.
"Allana." sebuah panggilan menghentikan langkah mereka. Beberapa warrior kuil datang mendekat. "Apa kita bisa berbicara sebentar?"
Allana menatap Kei sejenak lalu kembali menatap para warrior itu.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan hal apapun padanya." sahut salah satu warrior pada Kei. Kei akhirnya berjalan menjauh. Allana kembali masuk ke dalam wilayah kuil.
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Allana.
"Kami ingin menawarkan bantuan."
"Bantuan? Tentang?"
"Kami mengetahui situasi kamu. Kehilangan jiwa serigala saat kamu adalah manusia serigala itu bukanlah hal mudah. Kami ingin membantu untuk melatih dirimu." tawar salah satu warrior.
"Melatih?"
"Bertarung. Kami bisa melatihmu. Kita akan berlatih bersama. Kami mungkin memang penjaga kuil dan akan terus begitu. Tapi kami bangga pada apa yang kami kerjakan. Lagipula, selain menjaga kuil, kami juga berlatih bertarung. Tidak satu dua makhluk yang mencoba masuk atau merusak kuil ini. Jadi kami harus membekali diri. Kami bisa membantumu, jika kamu mengijinkan." jelasnya.
Allana terdiam. Tawaran mereka cukup menggodanya. Mereka memang sangat kuat dan ahli dalam pertempuran. Bahkan Kei sendiri mengatakan seperti itu. Tapi dia lebih memilih menuju pack Renald. Di sana aman dari penyihir, setidaknya itu yang Bian katakan tadi. Sementara disini, penyihir masih bisa menyerang pertahanan kuil ini. Terlebih, yang menjaga kuil ini aman adalah mantra dan mantra berasal dari penyihir. Dia tidak ingin memgambil resiko. Setidaknya itu yang terus di pikirkan Allana.
"Terima kasih atas tawarannya tapi aku tidak ingin merepotkan siapapun lagi. Pack Zykolt akan melindungiku dari penyihir meskipun tidak dari manusia serigala. Tapi pack itu cukup besar. Kei berkata jumlah anggotanya melebihi dari anggota pack Crysort jadi aku rasa aku akan aman. Aku akan tetap melatih kemampuanku. Meski hanya sedikit sisa jiwa serigalaku, tidak akan aku sia-siakan."
"Semangat yang bagus. Tapi tawaran kami masih terbuka."
"Terima kasih. Senang bisa bertemu."
"Tentu, kamu bagian dari kami."
Allana tersenyum kecil. Kamu bagian dari kami. Entah kenapa dia tidak yakin dengan kata-kata itu. Allana berlari kecil menuju Kei dan packnya yang sudah siap pergi.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Kei.
"Tentu, semua baik. Mari pergi."
Mia menaiki tubuh serigala Ian. Dia akan belajar berubah saat berada di pack Zykolt.
******
Sebuah ketukan jari dia atas meja terdengar jelas. Beberapa orang telah mengisi ruangan itu tapi semua tampak hening. Tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar deheman kecil sesekali.
Satu orang masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Bajunya terlihat kusut dan basah akibat keringat. Dia berhenti tepat di depan orang yang terus saja mengetukkan jarinya didepan meja dan terlihat tidak sabaran.
"Katakan poinnya saja, aku sedang tidak ingin mendengar hal yang panjang lebar." katanya dengan wajah datar.
"Luna... Saya tahu di mana Allana berada sebenarnya." kata orang itu. Dia terlihat gugup.
"Kau yakin?"
"Te-tentu luna." orang itu menelan ludahnya. Sedari tadi dia mencoba menghilangkan rasa gugupnya tapi tidak berhasil.
"Apa dia berada di kota itu seperti yang raja ingusan itu katakan?"
"Tidak yang mulia, saya mendengar hal yang berbeda."
"Mendengar? Jadi kau belum yakin?!" luna Chloe memukul kasar meja di depannya. Orang yang berdiri di depannya tersentak kaget. Dia menundukkan kepalanya.
"Sa-saya... Saya..."
"Enyah dari hadapanku. Aku tidak sedang ingin mendengar kabar yang masih belum bisa di pastikan." luna Chloe membuang wajahnya.
"Luna... Saya.. Bisa jelaskan." wanita itu mencoba menghilangkan gugupnya tapi tangannya yang gemetar terlihat jelas. "Saya mendengar Allana pergi ke kota RotternVille tapi katanya pertengahan jalan dia beralih tujuan menuju Kuil lalu sekarang menuju pack Zykolt."
"Kuil?" luna Chloe mengerutkan keningnya.
"Kuil MoonGoddess."
Luna Chole terdiam. 'Kuil MoonGoddess? Itu aneh. Itu kuil terlarang.'
"Jadi, apa kamu sudah memastikan dia berada di kuil itu?" tanya luna lagi.
"Kami mengikutinya dan benar, dia berada di kuil itu sampai saat kami pergi. Sekarang kami yakin mereka dalam perjalanan ke Zykolt."
"Chloe, ini kesempatanan kita mengambil Allana lagi." sahut Rosemary.
"Tidak, luna. Mereka memiliki raja Lycanthrope, kita tidak bisa mengalahkannya." Beck mencoba mencegah.
"Kalau begitu kita alihkan mereka." luna Chloe tersenyum. "Aku memiliki rencana. Beck, kumpulkan semua pasukan. Kita akan segera menyerang."
Beck tunduk hormat lalu segera pergi. Beck memiliki firasat yang tidak enak untuk hal ini. Dia menyuruh beberapa penjaga untuk mengumpulkan semua pasukan yang ada. Setelah beberapa lama, beberapa pasukan telah berbaris rapi. Bahkan para penyihir juga. Tak lama terdengar suara teriakan
"Tidak, jangan ibuku! Biar aku saja. Aku mohon..."
Beck mencari arah suara dan menemukan Gyria dan ibunya sedang di seret. Beck terkejut dan segera mendatangi mereka.
"Ada apa ini?! Apa yang sedang kalian lakukan?!" tanya Beck setengah berteriak.
"Maaf beta, kami... Kami hanya--"
"Lepaskan mereka!" Beck menatap marah.
"Maafkan kami beta, tapi kami tidak bisa melepaskan mereka. Ini perintah."
"Perintah? Dari siapa?!"
"Dariku." sahut satu orang yang sudah berdiri agak jauh dari mereka.
"Luna."
"Apa kamu tidak berlebihan dengan berteriak seperti itu? Ribut sekali."
"Maafkan saya luna tapi... Ada apa dengan Gyria dan ibunya? Kenapa mereka di perlakukan seperti itu?" tanya Beck bingung.
"Aku yang menyuruh untuk membawa mereka ke penjara goa."
"Tapi... Tapi kenapa?"
"Karena dia telah membohongiku."
"Apa maksud anda?"
"Allana tidak pergi ke kota itu, benarkan Gyria?" luna Chloe menatap Gyria dengan tatapan menahan amarah. Gyria hanya terdiam. Dia tertunduk. "Kenapa tidak jawab?"
"Saya... Saya tidak tahu--"
"Berhenti berpura-pura! Aku sungguh muak dengan itu." luna Chloe menghela nafas kasar. "Kamu kira bisa membohongiku dengan mudah? Bawa dia. Pisahkan mereka."
"Tidak luna. Saya mohon. Saya sungguh tidak tahu." Gyria memohon, Dia memang tidak di beritahu apa-apa soal itu. Yang dia tahu, Allana akan ke Civilhill, tempat raja itu bersekolah.
"Cepat singkirkan mereka. Aku tidak ingin dengar rengekan mereka."
Beberapa penjaga membawa mereka pergi.
"Luna... Luna!!"
Beck menatap mereka dengan iba. Dia tidak menyangka Gyria membohongi luna.
Flashback on
Beck sudah menggandeng Gyria menjauhi kerumunan.
"Beta, ada apa ini?" sahut Gyria yang kebingungan.
"Diam dan ikut saja."
Mereka terus berjalan dan masuk ke dalam hutan. Saat merasa sudah aman, Beck melepaskan tangannya dari Gyria.
"Jawab dengan jujur, apa Allana akan menuju pack yang mulia Kei? Raja Lycanthrope?" tanya Beck membuat wajah Gyria memucat. Gyria terdiam. Matanya tidak fokus. "Gyria, lihat aku!" Gyria menatap mata Beck. "Jawab pertanyaanku."
"Saya... Benar, beta. Allana akan menuju pack Lykort di bantu para penyihir."
"Ternyata benar." gumam Beck.
"Tapi.. Tapi dari mana beta tahu?"
"Luna mengikutimu sejak lama."
"Lu-luna?"
"Dia mengetahui semuanya Gyria. Dia mendengar apa yang kamu dengar."
Gyria terbelalak kaget.
"Dia tidak mempercayaimu, itu benar."
Gyria tertunduk lemas.
"Dengarkan aku Gyria. Luna akan menyuruhmu masuk ke pack Lykort. Jika penyerangan kami tidak berhasil."
"Penyerangan?"
"Kamu belum tahu? Kita akan menyerang Allana. Penyihir akan menjebak mereka. Jika mereka tidak berhasil, kamu akan menjadi rencana kedua mereka."
"Tapi itu seperti rencana bunuh diri. Meski mungkin saya bisa masuk tapi bukan berarti mereka akan membebaskan saya walau saya teman dari Allana."
"Kami tahu. Kamu akan dijadikan pengalihan. Akan ada yang masuk selain kamu. Dia akan menjadi mata-mata di sana."
"Tapi.. Bagaimana bisa? Seharusnya mereka mengetahui anggota pack mereka."
"Ini berbeda Gyria. Pack lykort akan menjadi perpindahan beberapa pack karena biasanya pack yang di huni oleh raja Lycanthrope adalah pack paling aman bagi para manusia serigala. Mata-mata akan membaur pada anggota pack pendatang. Maka akan sulit untuk membedakan. Tapi dia akan terus mengawasimu. Jadi jangan melakukan hal yang bodoh yang bisa membahayakan dirimu dan ibumu. Dan laporkan saja semua yang kamu lihat atau kamu dengar disana, kamu mengerti?"
Gyria hanya mengangguk pelan. Dia masih terkejut dan bingung.
"Kembalilah setelah aku kembali, lakukan yang aku pesan tadi. Jangan bertindak gegabah. Doakan saja penyerangan kita berhasil." Beck melangkah pergi.
"Tapi beta..." Beck menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Gyria. "Jika penyerangan berhasil maka... Maka Allana dalam bahaya."
Beck tersenyum kecil lalu mengangguk. "Aku juga tidak punya pilihan lain."
"Tidak! Selalu ada pilihan lain. Tapi anda memilih untuk melakukan apa yang disuruh luna Chloe."
"Dia lunaku, aku adalah betanya. Apa yang bisa aku lakukan? Ikatan kami terlalu kuat. Kecuali dia mati, aku harus tetap melakukan perintahnya. Itu hukum ikatan kami."
Beta Beck melangkah pergi meninggalkan Gyria yang hanya bisa menghela nafas panjang.
Flashback end
******
Renald duduk termenung di ruang kerjanya. Beberapa kertas dan map tersusun rapi, seperti tidak tersentuh sedari tadi. Laptopnya pun masih terbuka. Dia memang masih remaja. Tapi menjadi alpha membuatnya tidak bisa bergerak bebas seperti anak remaja pada umumnya.
Renald menghela nafasnya untuk kesekian kalinya. Dia mengingat wanita penyihir itu yang memberikannya. Dia bahkan masih takjub dengan cara wanita itu memberikan bunga itu. Wanita itu memberikan bunga itu saat Renald sedang berlari menuju panggilan anggota packnya. Bahkan dia tidak menyadari adanya bunga itu sampai Ted, betanya, bertanya tentang bunga yang berada di punggung serigala Renald. Dia bahkan merutuki dirinya karena tidak menyadari keberadaan bunga itu. Dan langsung saja dia menebak, jika bunga itu di berika oleh wanita penyihir tadi. Bahkan ada kertas bertuliskan, bunga ini akan membantumu saat kamu begitu membutuhkan harapan terakhir saat sudah tidak ada harapan lagi.
Apa maksud wanita itu? Harapan terakhir? Renald mengusap kasar wajahnya. Dia semakin tidak mengerti.
Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka lebar. Bibi Agatha masuk dengan seenaknya.
"Ren, apa tidak bisa di pikirkan lagi? Itu terlalu beresiko." bibi Agatha mulai berargumen saat sudah menerobos masuk ke dalam ruang kerja.
"Astaga bibi. Apa tidak bisa mengetuk terlebih dahulu?" Renald memutar bola matanya.
"Kenapa harus mengetuk? Toh kamu keponakanku satu-satunya dan ini hanya ruang kerja, bukan kamar tidurmu." bibinya menatapnya dengan penuh menyelidik. "Atau jangan-jangan.... Di ruang kerja ini kamu juga--"
"Tahan pikiran bibi. Jangan berkata apapun yang aneh-aneh. Aku tidak melakukan apapun. Hanya saja bagaimana jika Renald mengadakan rapat penting yang tidak bisa di ganggu siapapun. Bukankah bibi harus mengetuk terlebih dulu?"
"Bibi tahu semua jadwalmu dan bibi juga tahu kamu tidak ada rapat hari ini."
Renald mengangkat kedua tangannya dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia menyerah. Dia tahu dia tidak akan pernah menang melawan bibinya jika berargumentasi. Dia selalu kalah. Bibinya selalu saja memiliki jawaban yang membuat Renald mengangkat kedua tangannya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Tetap akan membawa gadis itu?"
Renald tahu yang di maksud bibinya adalah Allana. Renald sudah memberitahukan pada bibinya.
"Dia butuh bantuan, bi. Kita harus membantunya."
"Kamu pernah hampir celaka karenanya Ren, apa tidak cukup?"
"Tapi aku baik-baik saja, bi. Aku adalah alpha."
"Tapi Chloe sudah memiliki sebagian besar jiwa serigala Allana. Dia bukan manusia serigala yang bisa di remehkan." sahut satu wanita lagi yang baru saja masuk.
"Kenapa dia ada disini?" tanya Renald tidak suka.
"Ibumu khawatir, sama seperti bibi."
Renald menghela nafas kasar. Dia sungguh tidak ingin bertemu dengan ibunya. Renald berdiri dan mulai melangkah tanpa menghiraukan ibunya.
"Bunga itu-- siapa yang memberinya?" tanya ibunya saat Renald akan keluar ruangan. Renald berhenti sejenak, menatap bunga yang tengah di tatap ibunya. Bunga biru.
"Bukan urusan ibu." sahut Renald lalu mulai melangkah pergi.
"Tapi itu bunga langka. Seharusnya tidak boleh berada disini." katanya ibunya masih menatap bunga itu.
"Langka?" Renald menatap ibunya. "Apa... Ibu tahu bunga apa itu?"
"Tahu. Itu bunga BlueMoon. Bunga yang mengandung supranatural. Bunga itu berdiri sendiri. Tidak di beri mantra atau apapun agar bisa menjadi suprantural, tapi bunga itu memang sudah supranatural. Dari mana kamu mendapatkannya? Tidak semua orang bisa memilikinya."
"Sudah aku katakan bukan urusan ibu." Renald kembali berjalan.
"Membantumu saat kamu begitu membutuhkan harapan terakhir saat sudah tidak ada harapan lagi." gumam ibunya. Cukup jelas hingga Renald menghentikan langkahnya. Dia menatap ibunya lagi.
"Ibu tahu tentang itu juga?"
"Tentu tahu. Itu fungsi dari bunga itu. Memberikan harapan terkhir. Tidak pernah jelas bagaimana cara menggunakannya karena bunga ini tidak tumbuh di sembarang tempat dan tidak bisa di petik oleh sembarang orang."
"Maksudnya... Hanya orang tertentu saja?"
"Ya, hanya satu orang. Yang terpilih."
"Yang apa?"
"Yang terpilih. Penyihir terkuat didunia."
"Dari mana kamu mengetahui hal ini Lucia?" kali ini bibi Agatha yang bertanya.
"Apa kamu lupa siapa aku dulu? Aku penyihir Agatha. Dan yang terpilih adalah penyihir terkuat didunia. Dia pemimpin kita semua. Kita sudah seharusnya tahu tentang dia."
"Aku tahu siapa yang terpilih, hanya saja tentang bunga itu."
"Aaahh... Aku mengetahuinya dari sekolah sihir, saat aku berusia sama dengan Renald. Kami di ajarkan tentang benda-benda atau sesuatu yang memiliki kekuatan supranatural sendiri dan sangat kuat. Bunga itu adalah salah satunya. Bunga itu hanya terdapat di kuil MoonGodness. Bahkan warrior yang menjaga disana tidak bisa memetiknya. Hanya yang terpilih. Tapi aku melihat bunga itu ada di ruangan ini. Bagaimana bisa?" tanya ibunya lagi.
Renald hanya terdiam. Dia tidak bisa berkata apapun. Dia hanya memikirkan tentang orang yang memberikan bunga tadi.
"Renald, kenapa diam saja? Jawab pertanyaan ibumu. Dari siapa kamu mendapatkan bunga itu!" bibinya gemas melihat Renald hanya diam membisu.
"Apa... Apa yang terpilih seorang wanita?" tanya Renald tanpa menjawab pertanyaan ibu atau bibinya.
Ibunya mengangguk. "Iya, dia seorang wanita."
"Bagaimana rupanya?"
"Itu... Ibu tidak tahu. Ibupun belum pernah bertemu atau melihat wajahnya. Yang jelas, dia masih muda, sekitar dua puluh tahunan. Itu yang ibu dengar."
Renald mengerutkan keningnya. "Bukankah ibu penyihir? Jadi seharusnya tahu itu."
"Ibu memang penyihir tapi tidak semua penyihir pernah melihat yang terpilih. Dia bukan penyihir yang bisa kamu lihat setiap waktu. Terlebih, aku mendengar ada penjagaan ketat pada yang terpilih." jelas ibunya.
"Penjagaan ketat? Apa dia melakukan kesalahan?" Agatha terkejut.
"Aku tidak tahu Agatha. Dari yang aku dengar dia berbeda sekarang."
"Berbeda."
"Hmm.. Jadi katakan pada ibu, siapa yang memberimu?" tanya ibunya lagi, dia tampak penasaran.
"Sudah Renald katakan bukan urusan ibu. Renald tidur bi dan Renald pinta jangan diganggu." Renald melangkah pergi.
"Apa mungkin yang terpilih memberikannya?" tanya bibi Agatha sepeninggal Renald.
"Mungkin, itu bisa terjadi."
"Kalau begitu akan aku beri air agar tidak mudah layu." sahut bibi Agatha dan mulai beranjak pergi.
"Tidak perlu. Bunga itu tidak akan layu. Tidak sampai dia digunakan. Bunga itu akan baik-baik saja."
*****
Kei masih terus berlari. Mereka berlari tanpa henti. Kei memberi perintah untuk terus berlari tanpa henti, terlebih saat mereka berada di dekat pack Crysort.
Tapi konsentrasi Kei mulai berubah saat dia mendengar langkah lain dari langkah anggota packnya. Langkah itu sangat banyak.
'Ian, ada yang mengikuti kita.'
'Benar Kei. Kita harus apa?'
'Berlari saja. Lebih cepat. Beritahukan pada yang lain.'
'Baiklah.'
Kei dan anggota packnya berlari jauh lebih cepat membuat Allana kebingungan. Dia mengeratkan pegangannya pada Ian. Tapi semakin cepat Kei berlari, beberapa serigala yang mengikuti mereka juga semakin cepat. Bahkan dua di antaranya sudah berada di sisi kanan dan kiri mereka.
'Alpha, biar saya dan Kian saja yang menghadang.' sahut Jake dengan mindlink.
'Tidak Jake, terus berlari saja. Jangan berhenti.'
'Tapi alpha, mereka akan terus mengejar kita.'
'Ian, apa masih jauh pack Zykolt?"
'Masih lumayan jauh.'
'Kalau begitu, kita berlari saja dan lebih cepat. Aku akan memanggil Renald dengan--'
Brakk!!!
Seluruh pasukan serigala Kei terhempas kebelakang bersamaan. Mereka terjatuh kasar di tanah, begitu juga Allana. Kei segera bangkit dan menggeram. Dia terkejut saat melihat yang di tabraknya. Tidak ada apapun.
'Tunggu, lalu.. Apa yang kita tabrak tadi?' Kei bingung dengan apa yang dilihatnya.
'Yang saya duga, ini perbuatan para penyihir.'
Kei merubah dirinya menjadi manusia.
"Livia, Lily, apa kalian bisa membukanya?"
"Akan kami coba."
"Alpha..."
Kei menoleh dan mendapati banyak serigala di hadapan mereka.
"Mereka semua wanita." sahut Ian yang sudah merubah dirinya.
"Crysort. Mereka tidak menyerah juga."
"Jadi bagaimana Kei?"
Kei hanya terdiam. Dia mencoba berfikir.
"Satu-satunya jalan adalah halangan yang tidak tembus pandang itu." Kei kembali terdiam, sementara para serigala mulai maju perlahan dan menggeram marah.
"Uhm.. Alpha..? Mereka... Mereka mulai bergerak. Kita harus cepat!"
"Kei?" semua menatap Kei penuh harap dan waspada.
"Livia, Lily, apa kalian bisa membuka jalannya?" tanya Kei.
Livia mengangguk. "Sepertinya. Aku tidak tahu. Tapi kami butuh waktu."
"Akan kami berikan selama yang kami bisa. Allana, tetap disini bersama kedua penyihir. Yang lain, ayo bertarung. Waspada pada mantra para penyihir." perintah Kei.
"Baik!"
Satu persatu merubah dirinya menjadi serigala kembali, menggeram kasar dan bersiap.
'Berikan para penyihir waktu yang cukup.'
'alpha.'
Semua serigala mulai berlari menuju lawan mereka. Pasukan Kei kalah jumlah, tapi mereka cukup kuat. Kei dan Ian masih diam di tempatnya sementara yang lain sudah mulai bertarung.
"Kamu baik-baik saja Kei?"
"Aku baik. Aku hanya berharap, aku tidak akan mengeluarkan monster Lycan ini. Aku tidak ingin ada pembantaian. Meski aku sudah bisa menguasai monster ini, tetap saja hasrat membunuh Lycan tidak bisa di tahan." sahut Kei.
"Aku juga harap begitu. Ayo kita pergi, kita bantu para gamma." ajak Ian.
Kei mengangguk. "Ayo!!"
Kei berlari cepat menuju pertarungan yang tidak seimbang itu. Allana melihat semua itu dengan tatapan ngeri, pasukan Kei benar-benar tidak memiliki harapan dengan jumlah pasukan Crysort yang banyak. Dia begitu terkejut melihat jumlah dari pasukan Crysort.
"Bagaimana mereka bisa menjadi begitu banyak?"
*******
Tadariez