Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 23 : Welcome to Crysort, Your Majesty



Allana berdiri merenung di balkon kamarnya. Kata-kata Damian terngiang bagaikan alunan musik di telinganya, terus berulang. Pertempuran sampai mati.


"Haruskah? Ya, mungkin aku memang pengecut atau pesimis atau.. Entahlah. Aku benar-benar tidak ingin melakukan semua itu. Apa aku menyerah saja dan menjadi manusia kembali? Tapi entah kenapa ada sisi dari diriku yang menolak. Aku mungkin warrior terkuat tapi aku belum kuat, aku tidak sekuat yang mereka kira. Tapi sekarang aku harus mati."


Pikiran Allana masih di penuhi tentang pemikiran bagaimana dia nanti. Dia tidak tahu harus bagaimana.


Tiba-tiba mata Allana menatap cahaya kecil berwarna oranye terbang di sekitarnya. Satu persatu cahaya kecil itu datang dan berhenti tepat di dekat Allana. Di sekitar Allana kini ada banyak sekali cahaya, seperti kunang-kunang. Cahaya-cahaya itu terbang di sekitar Allana. Allana menatap takjub tapi akhirnya dia tersadar dan bertanya-tanya dari mana asal semua cahaya kecil ini. Allana memperhatikan cahaya itu datang. Dari arah bawah.


Allana mendongakkan kepalanya ke bawah dan mendapati Jim berdiri disana. Jim menatap Allana dan tersenyum lalu melambaikan tangannya. Allana membalas tersenyum lalu juga membalas lambaian tangan Jim.


Cahaya-cahaya itu masih muncul dari tangan Jim dan terbang menuju Allana, sampai akhirnya berhenti. Jim tersenyum lalu berjalan menjauh.


"Jim!"


Will berlari menyusul Jim.


"Jadi.. Kita kembali ke Disprea sekarang?" tanya Will.


"Iya, tugas kita sudah selesai. Kita memiliki tugas lain."


"Lalu Allana?"


"Ada Livia dan Lily."


"Aahh... Dua gadis itu."


"Mereka para penyihir yang memang di tempatkan di Lykort. Jadi biar mereka yang mengatasi."


"Apa kamu tidak sedih?"


Jim menghentikan langkahnya dan menatap Will heran. "Sedih? Kenapa aku harus sedih?"


"Karena Allana. Karena kamu harus berpisah dengan Allana."


"Lalu aku harus sedih?"


"Bukannya kamu menyukainya?"


"Siapa? Aku?"


"Iya. Kamu."


"Kau gila." Jim menggelengkan kepalanya lalu beranjak pergi.


"Aku tidak gila tapi memperhatikan. Kamu terlihat lebih perhatian padanya. Lihat saja Cahaya-cahaya itu tadi. Apa yakin kamu tidak menyukainya?"


"Yakin, Will. Aku tidak menyukainya. Aku hanya merasa kasihan padanya. Pada apa yang menimpa dirinya. Dia masih tujuh belas tahun tapi sudah memiliki beban seberat ini."


"Bukannya raja itu juga? Kau ingat, monster itu."


"Mereka berbeda. Meski Kei kewalahan menghadapi Lycan itu tapi dia sudah terbiasa dengan dirinya yang serigala, dengan kekuatannya. Sementara Allana? Dia belum lama menjadi manusia serigala seutuhnya, lalu dia menjadi warrior yang di harapkan oleh banyak orang, lalu luna yang seharusnya melindunginya justru menginginkan jiwa serigalanya. Bahkan sekarang dia harus melalui ritual lagi dan bertarung sampai mati. Untuk anak seusia dia, itu sangat berat Will. Kita saja belum tentu mampu. Karena itu aku kasihan padanya."


"Kenapa dia tidak memberikan saja apa yang luna itu mau. Dia baru saja menjadi serigala, aku rasa tidak masalah jika dia tidak menjadi manusia serigala lagi."


"Ini kasus berbeda Will. Kamu tahu asal mula manusia serigala?"


"Yang terpilih, Maria, yang membaca mantra kuno, kutukan kuno, membuat dua suku menjadi manusia serigala."


"Dan siapa yang bisa mengangkat kutukan itu?"


"Yang terpilih."


"Benar. Dan jika bukan yang terpilih, maka mereka akan mati. Jadi, jika luna itu berhasil mengambil seluruh jiwa serigala Allana, Allana tidak hanya menjadi manusia biasa, tapi dia akan mati."


"Oh astaga... Apa mereka tahu hal ini?"


"Entahlah, aku tidak tahu."


"Waahh... Aku juga kasihan padanya."


"Begitulah. Ayo kita berteleportasi."


Jim dan Will segera berteleportasi.


*****


Salju turun dengan lebat pagi ini. Semua orang mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Allana juga ikut sibuk. Hari ini rencananya mereka akan pergi ke kota CivilHill, tempat Kei bersekolah. Allana mengepack barangnya, mengenakan pakaian super tebal yang sudah di sediakan dan langsung turun ke bawah.


"Selamat pagi, sweetheart." sapa ibu Kei saat Allana baru saja tiba diruang tahta.


"Selamat pagi, luna." balas Allana.


"Bagaimana tidurmu?"


"Nyenyak Luna." jawab Allana berbohong. Dia sulit tidur tadi malam. Dia masih saja memikirkan tentang pertarungan itu.


"Selamat pagi Allana. Apa kamu siap?"


"Selamat pagi yang mulia. Tentu."


"Bagus. Ryan, panggil yang lain."


"Baik alpha."


"Apa ada yang ikut selain anda dan beta Ian?" tanya Allana.


"Tentu, Ryan dan beberapa gamma akan ikut."


"Apa mereka bersekolah juga?"


Kei tertawa kecil. "Tidak, beberapa sudah lulus sekolah. Mereka ikut karena aku membutuhkan mereka."


Allana mengangguk mengerti. Beberapa orang masuk ke dalam ruang tahta.


"Apa kalian sudah siap?"


Orang-orang itu mengangguk pasti.


"Perjalanan ini bisa menjadi sangat berbahaya. Aku ingin kalian waspada."


"Baik yang mulia!"


"Dan di mana gamma itu?"


"Ian dan Jake sedang membawanya kemari."


"Hei, hei.. Kalian tidak akan pergi tanpa sarapan kan?" protes ibu Kei.


"Tentu saja tidak bu."


"Bagus, ibu akan menyiapkan semuanya." ibu Kei beranjak pergi.


"Alpha, kita tidak akan sampai tepat waktu."


"Kau tahu bagaimana ibu. Jika tidak menurutinya, dia akan mengomel sampai kupingku panas."


"Ahh iya. Luna... Tidak bisa di tolak. Tidak.. Tidak... Aku lebih baik menurutinya untuk sarapan daripada mendengar omelannya." Jason bergidik ngeri.


"Setuju." semua orang mengangguk menyetujuinya.


"Aku mendengar hal itu." sahut ibu Kei. Semua orang terkejut. Ibu Kei sudah berdiri berkacak pinggang.


Semua orang terdiam, tidak ada yang berani bicara.


"Kenapa kalian diam saja sekarang?"


"Ibu.. Mereka--"


"Tenang saja. Ibu tidak akan MENGOMEL hari ini karena ibu tahu kalian akan berpergian jauh. Tapi ibu khawatir padanya." ibu Kei menunjuk Allana. "Ibu tahu, semenjak dia tinggal disini, dia tidak makan dengan benar. Karena itu, ibu ingin dia makan terlebih dahulu. Dengan baik." ibu Kei menatap Allana. "Kemarilah sayang, mari kita sarapan."


"I-iya.. Baik Luna." Allana berjalan perlahan menuju ibu Kei.


"Dan untuk kalian, aku tidak perduli kalian makan atau tidak."


Ibu Kei membuang wajahnya lalu berjalan sambil menggandeng tangan Allana.


"Bu, bagaimana denganku?" tanya Kei. Ibu Kei berhenti dan menoleh.


"Hmm... Sepertinya aku tidak mengenalmu." kata ibu Kei cuek lalu pergi menuju ruang makan. Kei menatap tidak percaya.


"Astaga.. Apa-apaan itu?"


"Hmmff... Bwahahahahaha.." tawa Jason meledak. "Wahhh alpha.. Anda tidak di anggap lagi."


"Diamlah! Huft ibu mengerikan jika kesal."


"Sudah tahu ibumu seperti itu, masih saja membuatnya kesal." sahut Ian yang baru saja datang.


"Hah! Ibu saja yang terlalu sensitif."


"Ya, tentu. Mirip denganmu."


"Ya, ya, ya.. Aku memang keturunan menyebalkan."


"Ayah tidak termasuk." sahut ayah Kei yang dengan santai berjalan melewati mereka.


"Tapi ayahkan, ayahku!" protes Kei cepat. "Astaga menyebalkan sekali." Kei mendengus kesal. " Ayo makan. Sebelum aku benar-benar di pecat jadi anak."


*****


Kei, Allana bersama beta dan tiga orang gamma berada di perbatasan pack. Mereka masih diam menunggu dua orang lagi yang akan membawa Gyria.


"Maaf, tapi.. Kenapa kita harus membawa Gyria?"


"Karena aku membutuhkannya. Lagipula dia memang seharusnya ikut."


"Alpha."


Dua orang yang membawa Gyria datang bersama Gyria. Allana terkejut melihat kondisi Gyria.


"Gy-Gyria? Ada apa dengannya?" Allana mendatangi Gyria. "Kalian benar-benar menyiksanya."


Wajah dan tubuh Gyria penuh lebam dan ditutupi darahnya. Tubuhnya lemas, bahkan hampir tidak bisa berdiri.


"Kami harus melakukannya."


"Harus?!"


"Kita tidak akan menuju CivilHill All. Kita akan menuju pack Crysort."


"A-apa? Tapi kenapa?"


"Agar mereka tidak curiga pada Gyria dan menyiksa ibunya. Untuk itu, kami harus menyiksanya, agar terlihat dia tidak bekerja sama dengan kita."


"Tapi... Apa harus sampai seperti ini?"


"Ya, harus. Tenang saja Allana. Dia akan baik-baik saja."


"Dia tidak terlihat baik bagiku."


"Karena mereka memiliki penyihir. Jika kita melakukan dengan sihir, mereka akan mengetahuinya. Tapi aku bisa pastikan, tidak ada yang parah. Dia manusia serigala, dia akan sembuh dengan sendirinya. Aku tahu kamu khawatir, tapi dia akan baik-baik saja."


Allana menatap Gyria. Gyria mengangguk lemah.


"Karena Gyria terluka, kita akan menggunakan penyihir. Livia, apa sudah siap."


"Siap yang mulia. Lily sudah menunggu kita di sana, memastikan jalan untuk kita aman."


"Bagus. Jake, bawa Gyria di punggungmu. Apa kau bisa?"


"Bisa alpha."


"Bagus. Kalian semua siap?"


"Siap!"


Mereka membentuk lingkaran dan saling berpegangan tangan.


"Entah kenapa aku merasa risih saat seperti ini." keluh Jason.


"Diamlah Jason."


"Aku hanya--"


"Apa kamu akan terus mengoceh atau kita akan segera pergi."


Jason mendengus kesal dan tidak berbicara lagi.


"Teleportatian!!"


Mereka melayang sejenak lalu kembali mendarat dalam hitungan detik. Mereka kembali berada di hutan, agak jauh dari pack Crysort.


Livia mencari keberadaan Lily.


"Di mana Lily?"


"Tidak tahu. Dia seharusnya disini, sesuai perjanjian. Kemana dia?"


Terdengar suara di balik semak. Semua orang bersiaga. Lily keluar dari semak.


"Astaga Lily.. Kamu mengagetkan kami."


"Maaf."


"Dari mana?"


"Habis menjelajah."


"Menjelajah?"


"Iya, mencari tahu sekitar. Aku baru tahu jika--"


"Apa kamu gila? Menjelajah di daerah asing? Bagaimana jika terjadi sesuatu?!" Jason memekik. Semua orang menatap Jason.


"Itu urusanku, bukan urusanmu."


"Tentu saja itu urusanku!"


"Kenapa itu jadi urusanmu?!"


"Itu karena kau--" Jason menghentikan ucapannya. Dia baru sadar dia mulai over reacting.


"Ayolah, lanjutkan saja." timpal Kian. Mereka mulai tersenyum penuh arti.


"Aku hanya mengatakan, ini daerah asing. Aku mengatakan ini karena dia perempuan."


"Lalu, kenapa jika dia perempuan? Dia penyihir knirer yang hebat."


"Tetap saja dia perempuan." Jason mulai gugup dan salah tingkah. Dia masih enggan mengakui bahwa Lily adalah mate-nya. Kei dan Ian hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Apa yang kamu temukan?" tanya Livia.


"Keanehan."


"Aneh? Kenapa?"


"Pelindung mereka. Pack itu. Crysort. Pelindung mereka... Berbeda Livia. Aku tidak mengenal mantra apa yang mereka gunakan. Aku sudah mencari mantra yang mereka gunakan, hasilnya nihil."


"Apa mungkin kaum hitam?"


"Tidak Ian. Kaum hitam memiliki sihir dasar yang sama, hanya beberapa yang berbeda dan khusus. Kami mengetahui sihir-sihir khusus kaum hitam. Karena memang di ajarkan dan sebagai Knirer kami harus tahu. Tapi pelindung itu, tidak ada hubungannya sama sekali dengan sihir khusus itu atau kaum hitam."


"Apa berbahaya?"


"Itu masalahnya. Karena aku tidak tahu itu sihir dan mantra apa, jadi aku tidak bisa memastikan apa itu berbahaya atau tidak."


Kei terdiam lalu menatap Ian sejenak.


"Kalau begitu kita coba. Apa kalian siap?"


"Ya!"


"Bagus."


"Satu lagi." kata Lily lagi. Semua orang kembali menatapnya. "Semua ini palsu."


"Palsu? Apa yang palsu?"


"Aku akan menunjukkannya padamu." Lily berjongkok membuat sesuatu. "Setelah aku tidak mengetahui mantra apa yang mereka buat untuk membuat pelindungnya, aku semakin curiga. Karena itu aku membuat ramuan ini."


Tak lama Lily kembali berdiri. Lily terkenal dengan keahliannya meramu ramuan sihir sementara Livia, lebih ke mantra dan bertarung.


"Efek dari ramuan ini hanya sementara, hanya beberapa detik dan tenang saja, mereka tidak akan menyadarinya. Kalian siap?"


Semua mengangguk pasti. Lily meniup ramuan yang di buatnya. Tiba-tiba semua yang ada di sekitarnya seperti terbakar habis, bahkan tanah dan rumput yang mereka pijak. Bahkan beberapa orang terkejut dan menghindar. Setelah Lily menjelaskan bahwa itu tidak akan menyakiti mereka, mereka tetap diam di tempat mereka.


Sekarang di hadapan mereka bukan lagi pohon-pohon hijau, rumput, tanah basah atau semak belukar tapi tanah gersang dengan pepohonan yang mati. Tidak ada yang hijau disana. Mereka bisa melihat tanaman dan pohon yang asli sangat jauh. Tapi ada satu yang hanya berjarak satu kilometer, tepat di hadapan mereka.


"Itu pack mereka."


"Apa pohon-pohon disana asli?"


"Tentu. Hanya ini yang palsu."


Dengan seketika semua berubah menjadi hijau kembali lagi, seperti tidak terjadi apapun.


"Apa-apaan itu tadi?"


"Itu tadi adalah yang asli. Ini semua.." Lily menunjuk ke sekitarnya. "... Ini semua palsu."


"Tapi.. Kenapa mereka melakukan itu?"


"Aku tidak tahu Kei."


"Allana, Gyria. Apa kalian tahu?"


Allana mengangguk pasti, begitu juga Gyria. Mereka terlihat sama terkejutnya dengan yang lain.


"Aku tidak tahu apa lagi yang mereka sembunyikan, tapi kita harus hati-hati."


"Baik alpha."


Kei melangkah maju mendekati pack Crysort. Tapi baru beberapa langkah, Kei berhenti kembali.


"Ahh iya, Allana, kamu tidak perlu ikut."


"Apa? Tapi kenapa?"


"Karena mereka akan curiga. Aku yakin Gyria di kirim karena mereka sudah mengira karena Gyria adalah temanmu. Jadi mereka berpikir kami akan membiarkan Gyria masuk dengan mudah dan untuk meyakinkan bahwa Gyria memang berada dipihak mereka. Kami sengaja membuatnya seperti ini, seolah kamu dan Gyria tidak berteman lagi, untuk meyakinkan mereka bahwa Gyria berpihak dengan mereka, agar Gyria dan orang tuanya aman dari mereka. Jika kamu ikut, mereka akan curiga. Mereka akan berpikir bahwa kita hanya bersandiwara untuk menipu mereka. Jika seperti itu, Gyria akan dalam bahaya. Mereka akan semakin yakin bahwa Gyria memang tidak dipihak mereka. Bahkan kami menipu mata-mata pack mereka yang berada di pack Lykort, bahwa kamu saat ini berada di CivilHill untuk berlibur. Jadi kamu tidak boleh terlihat oleh mereka." jelas Kei. Allana menghela nafas panjang lalu mengangguk.


"Baiklah." jawab Allana akhirnya.


"Bagus. Kian dan Moles akan menjagamu dan membawamu ke tempat yang aman." Kei menatap Kian dan Moles. "Aku percayakan dia pada kalian berdua."


"Baik alpha."


"Bagus. Yang lain ikut aku. Ayo pergi."


Mereka kembali berjalan sejauh satu kilometer untuk mencapai perbatasan pack. Livia menyentuh pelindung pack Crysort saat mereka sudah sampai, karena hanya penyihir yang bisa melihatnya.


Tak lama dua orang wanita mendekati mereka dari dalam pack.


"Siapa kalian dan mau apa?"


Kei mendekat lalu merubah warna matanya menjadi merah pekat sejenak lalu kembali berubah menjadi putih pucat. Kedua wanita itu terkejut lalu saling pandang.


"Aku raja Lycanthrope, Kei Lyroso Laros. Aku ingin bertemu dengan lunamu."


"Tapi...tapi.."


"Apa Lunamu tidak mengatakan jika aku akan datang? Bukankah dia memiliki penyihir Phyrtia disisinya."


"Cepat sampaikan padanya, yang mulia ingin bertemu! Jangan biarkan yang mulia menunggu!" sahut Ian setengah berteriak.


Mereka mulai beranjak pergi.


"Astaga kenapa mereka pergi tanpa membukakan pelindung ini terlebih dahulu?"


"Mereka harus memastikan bahwa dia benar-benar Kei, Ryan." jelas Ian.


"Bukannya alpha sudah merubah bola matanya?"


"Itu tidak cukup. Mereka harus benar-benar pasti. Setelah apa yang mereka alami selama ini, aku rasa wajar jika mereka begitu berhati-hati."


"Livia, apa mereka tidak tahu kedatanganku?" tanya Kei.


"Aku rasa tidak."


"Bukankah mereka memiliki penyihir Phyrtia? Penyihir yang bisa meramal dan melihat masa depan?"


"Itu benar. Tapi tidak semua. Kadang penglihatan mereka tidak sempurna, kadang acak. Lagipula, aku yakin mereka tidak akan melihat apapun darimu."


"Kenapa seperti itu?"


"Karena Bian. Aku baru menyadarinya sekarang."


"Apa maksudnya itu?"


Belum sempat Livia menjawab, dua penjaga tadi sudah kembali dengan tergesa-gesa lalu membuka pelindung packnya dan mempersilahkan Kei masuk.


"Hanya yang mulia dan betanya, para pria lain, tidak boleh masuk." kata salah satu penjaga.


"Apa kamu sudah gila?! Kami pengawal raja!" protes Mike.


"Maaf sudah peraturan dari pack kami."


"Apa tidak ada keringanan atau pengecualian? Kami disini untuk melindungi raja." pinta Jake.


"Maaf, tapi tidak ada."


"Tidak apa-apa Jake." Kei mengiyakan. "Jaga di luar saja. Beritahukan padaku jika terjadi sesuatu."


"Baik yang mulia." Jake menunduk patuh.


"Jaga Allana. Jangan sampai mereka tahu keberadaannya." sahut Kei melalu mindlink-nya. Jake mengangguk pelan. Kei masuk bersama Ian dan Ryan yang memapah Gyria, beserta Lily dan Livia.


"Tap-tapi.. Tapi... Alpha.. Yang mulia..."


"Hentikan Jason. Alpha sudah memberi perintah."


"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?"


"Tidak akan ada yang terjadi Jason. Alpha terlalu kuat untuk di kalahkan oleh luna mereka, bahkan satu pack sekalipun. Lagipula, ada hal yang harus kita kerjakan bukan?"


"Tapi ada Moles dan Kian."


"Tidak bisakah kamu tidak membantah sekali ini saja? Kadang aku muak dengan bantahanmu." Mike yang kesal langsung pergi.


"Apa kau bilang?!"


"Hei, hei, hentikan. Jangan bertengkar disini."


"Tapi Jake, dia yang lebih dulu membuatku marah."


"Biarkan saja dia. Ayo, kita pergi. Kita cari tempat duduk dan beristirahat."


Jake mendorong pelan tubuh Jason menjauh dari perbatasan pack.


******


Dari kejauhan, luna Chole berdiri, bersiap menyambut kedatangan Kei.


"Apa kamu yakin dia adalah raja itu?" tanya luna Chloe.


"Yakin luna. Itu adalah dia. Mata-mata kita sudah memastikan."


"Untuk apa dia kemari? Apa karena Gyria?"


"Kemungkinan besar luna."


Luna Chloe kembali terdiam. Dia masih mengira-ngira kenapa Kei datang ke packnya dan untuk apa. Tak lama Kei dan yang lain sampai. Luna Chloe terkejut melihat Gyria yang di gendong oleh Ian. Dia terkejut melihat kondisi Gyria tapi dengan cepat merubah ekpresinya menjadi datar kembali. Yang dia heran adalah tidak adanya Allana di rombongan mereka.


"Selamat datang yang mulia." sambut luna Chloe sambil membungkuk hormat. "Selamat datang di packku. Saya ada Chloe, luna dari pack ini."


"Terima kasih luna."


"Mari masuk, akan saya jamu dengan teh mungkin? Atau kopi dan makanan. Anda pasti lapar karena perjalan jauh."


"Tidak jauh. Kami menggunakan penyihir, sama seperti anda."


"Ahh..begitu.."


"Saya minta maaf atas kedatangan saya yang begitu mendadak. Saya kemari bukan untuk beramah tamah, tapi mendapatkan jawaban, kenapa kamu mengirimkan dia ke dalam Lykort."


Ian meletakkan Gyria di depan Kei dengan kasar. Dia sengaja melakukan itu, agar terlihat meyakinkan. Luna Chloe menatap Gyria dengan menggeretakkan giginya.


"Dia berkata, dia ingin bertemu temannya yang berada di pack Lykort."


"Siapa? Allana?"


"Itu yang saya tahu."


"Dari mana dia tahu Allana berada di pack Lykort?"


"Itu... Saya tidak tahu. Tapi melihat keadaannya yang memprihatinkan saat ini, saya rasa anda sudah mendapatkan jawaban anda."


"Anda benar. Tapi sangat tidak masuk akal. Allana menceritakan padanya? Hah! Bahkan Allana berkata dia tidak memberitahukan apapun pada gadis itu."


"Sayang sekali saya tidak mengetahui apapun tentang itu, yang mulia." kata Luna Chloe dengan wajah datarnya. "Lalu... Di mana anak itu? Allana?"


"Dia sedang berlibur di CivilHill."


"Benarkah? Kenapa?"


"Apakah berlibur harus ada alasan?"


"Mungkin. Karena saat ini tidak ada jadwal libur di sekolahnya, bukan saatnya liburan. Dan... Kenapa CivilHill?"


"Aku tahu apa yang kamu lakukan padanya."


"Ahhh... Benarkah? Jadi karena itu anda melindunginya, yang mulia?"


"Itu sudah menjadi tugasku."


"Ahh jadi begitu. Tapi dia adalah anggota pack saya."


"Aku tidak melihat dia terikat dengan pack manapun jadi kamu tidak bisa mengklaimnya sebagai anggota packmu."


"Bagaimana dengan anda? Dia sekarang berada di pack anda. Seperti yang anda ketahui, Dia... Spesial." luna Chloe tersenyum tipis.


"Aku tidak mengurungnya atau mengklaim apapun darinya. Aku membebaskan dia pergi kemanapun."


"Benarkah? Dengan mengirimnya di kota tempat anda bersekolah? Agar anda bisa mengawasinya?"


"Tidak akan berhasil Kei, dia terus saja mencari kesalahanmu." kata Ian melalui mindlink alpha beta mereka.


"Aku tidak akan kalah dengannya."


"Apa kamu mulai mencari kesalahanku?"


"Mungkin, mungkin juga tidak. Saya hanya mencari jawaban yang mulia. Seperti yang anda lakukan sekarang di pack saya."


"Dia yang memilih ikut dan aku bersedia menampung dan mengajarinya."


"Ahhh...anda baik hati sekali."


"Aku tidak tahu ada masalah apa di antara kalian tapi jika aku melihat kamu menyakitinya lagi, aku tidak akan tinggal diam."


"Ohh.. Jangan katakan anda menyukainya dan membelanya sekarang."


"Dia manusia serigala, aku raja dari segala alpha. Kamu adalah luna yang seharusnya melindunginya tapi justru menyakitinya. Itu yang akan aku cegah."


"Lalu bagaimana dengan kami, pack ini? Seperti yang anda katakan tadi, bahwa anda adalah raja dari segala alpha. Aku adalah luna dan mereka adalah manusia serigala, bukankan anda juga harus melindungi kami? Kami sudah di fitnah menjadi pack terkutuk, dijauhi, di asingkan, selama lebih dari ratusan tahun. Kami bertahan dan terus bertahan. Bertahan hidup dan bertahan dari cacian, hinaan dan serangan. Lalu apa yang akan anda lakukan untuk kami? Anda rela membela satu orang anak kecil, tapi tidak bisa membela kami?!"


Kei terdiam. Kali ini kata-kata luna Chloe membuatnya tidak bisa berkata apapun lagi.


*****


Tadariez