
Renald dan Ted berjalan cepat menuju penjara yang di tempati Leysha setelah salah satu pasukannya memberitahukan tentang kematian Leysha. Tak berapa lama mereka sampai di depan pintu masuk. Langkah Renald terhenti. Dia melihat Gyria duduk sambil menekuk lututnya didepannya dan memeluknya. Gyria menundukkan kepalanya. Entah berapa lama Gyria berada di sana dan menangis. Renald menoleh pada penjaga yang sedari tadi berdiri di dekat pintu.
"Sudah berapa lama dia berada disana?" tanya Renald.
"Cukup lama alpha. Dia tidak berhenti menangis sejak tadi. Kami saja sampai tidak tahu jika wanita di dalam sel itu mati. Karena gadis itu hanya menangis tanpa memberitahukan kami." jelas penjaga itu. Renald menoleh pada Gyria lagi.
Tak lama tubuh Gyria bergerak. Gyria mengangkat kepalanya dan mengusap sisa air mata yang ada di pipinya. Dia menghela nafas panjang lalu berdiri sambil berpegangan pada jeruji penjara karena dia sudah lama duduk di posisi seperti tadi sedari tadi. Kakinya sedikit terasa nyeri. Gyria berjalan menuju luar dengan jalan sedikit tertatih. Dia tidak mengucap apapun, bahkan pada Renald. Dia hanya melewatinya saat yang lain membuka jalan untuknya lewat. Tapi sedetik berikutnya tubuhnya rubuh seketika. Ted dengan cekatan menangkap tubuh Gyria. Semua terkejut.
"Kenapa dengannya?" tanya Renald bingung.
"Sepertinya dia pingsan alpha." sahut Ted.
"Bawa dia ke kamarnya."
"Baik alpha."
Ted menggendong Gyria di belakangnya lalu segera membawanya pergi bersama satu orang yang menjaga di belakangnya.
"Keluarkan gadis yang mati itu dari sel dan bawa ke klinik dokter Harphin. Aku akan segera menyusul setelah memeriksa perbatasan pack."
"Baik alpha."
Renald berlari pergi di ikuti beberapa orang. Dia merubah dirinya menjadi serigala dan mengelilingi perbatasan packnya. Bahkan dia sempat ke pemukiman manusia biasa untuk memeriksa keadaan.
Setelah beberapa lama, dia kembali ke packnya. Bibinya sudah menunggu di depan rumah.
"Apa sudah aman?" terlihat kekhawatiran di wajah bibi Agatha.
"Tidak ada bibi. Entah kemana. Tapi dihutan banyak jejak. Kami menyusuri jauh melewati perbatasan dan juga pemukiman manusia biasa. Tapi tidak ada."
"Baiklah, perketat saja penjagaan. Kamu masuk dan istirahat dulu."
"Bagaimana Allana?"
"Dia sudah sadar tapi tubuhnya cukup lemah. Dokter berkata di perlu istirahat total. Dia menggunakan kekuatan melebihi dari yang seharusnya."
"Baiklah kalau begitu."
"Alpha." satu orang pasukannya mendatanginya. "Mayat-mayat dari para penyerang sudah di kumpulkan. Terakhir yang mati di penjara itu."
"Baiklah, persiapkan segalanya. Aku akan segera menyusul." sahut Renald.
"Baik alpha." sahut satu orang itu segera pergi.
"Apa yang akan kamu lakukan pada mayat-mayat itu Ren?" tanya bibinya.
"Membakar mereka bi. Mencegah adanya hal lain yang akan membahayakan pack ini. Bibi masuk saja. Jangan keluar rumah dulu. Sampai benar-benar aman."
"Bibi bisa jaga diri Ren."
"Renald tidak pernah mengatakan bibi tidak bisa menjaga diri. Hanya untuk keamanan saja."
"Ya, ya baiklah. Bibi akan masuk."
"Renald harus pergi membakar mayat-mayat itu, bi. Kita akan bertemu saat rapat nanti malam."
Bibi Agatha tidak menjawab Renald. Hanya menatap bingung ke arah belakang Renald. Renald yang menyadari itu menoleh kebelakang dan mendapati Gyria menatap ke arahnya dengan tatapan tidak suka.
"Gyria?" Renald bingung.
"Aku tidak akan membiarkanmu." sahut Gyria dingin.
"Apa mak--"
"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU!! Dia tidak pantas diperlakukan seperti itu!" pekik Gyria dengan penuh emosi.
"Gyria... Tenanglah.."
"Tidak, aku tidak akan tenang. Dia korban dari semua ini dan kalian akan membakarnya begitu saja?! Dia pantas di makamkan secara baik, bukan di bakar seperti seorang pengkhianat! Aku tidak akan membiarkannya." Gyria membuka sarung dari pedang yang dia bawa dan bersiap menyerang. "meskipun aku harus melawan kalian."
Pasukan yang mengikuti Renald mengelilingi kota mulai berdiri di depan Renald untuk melindunginya. Renald berjalan melewati salah satu pasukannya tapi di cegah.
"Jangan alpha. Dia mungkin berbahaya."
"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja." Renald kembali menatap Gyria. "Gyria, semua akan baik-baik saja. Aku membakar mereka untuk mencegah susulan terjadi. Bisa saja tubuhnya mengeluarkan sesuatu atau terjadi sesuatu, terlebih jika mereka mati dengan di racun. Dengan membakar mereka, akan jauh lebih aman. Aku tidak bisa membahayakan packku Gyria."
"Dia sahabatku, tidak akan aku biarkan kamu membakarnya. Tidak perduli apapun. Meskipun aku harus melawanmu."
"Kamu harus mengerti Gyria. Aku tidak bisa memilih satu orang dibandingkan orang banyak. Aku harus melindungi packku. Lagipula, kamu tidak akan bisa melawanku dan aku tidak ingin melawanmu."
"Kalau begitu, kuburkan dia, secara layak."
"Aku tidak bisa. Aku minta maaf."
"Kalau begitu, aku akan memaksanya."
Gyria berlari menuju Renald. Beberapa pasukan menghalanginya. Gyria tidak perduli dan menyerang satu persatu pasukan Renald. Dia tidak merubah dirinya menjadi serigala tapi keahlian berkelahinya bahkan menggunakan pedang sangat cepat dan bahkan jauh di atas rata-rata. Dalam sekejab dia bisa melumpuhkan pasukan Renald. Renald cukup terkejut.
"Kamu membakar sahabatku, kenapa tidak sekalian saja menuduhku sebagai mata-mata atau komplotan mereka. Dia sahabatku dan kami dari pack yang sama."
"Aku tahu kalian tidak sama. Kumohon Gyria, aku tidak ingin melawanmu."
"Kalau begitu, berikan Leysha padaku. Aku akan menguburkannya sendiri."
"Dengan begitu kamu tidak boleh memasuki kawasan pack ini. Aku tidak bisa mengambil resiko."
"Aku tidak perduli. Berikan tubuh Leysha padaku!!"
"Bagaimana dengan Allana? Apa kamu tidak memikirkannya?"
"Allana tidak sendirian. Dia memiliki kakak dan sahabatnya. Sementara Leysha? Dia sendirian, tidak akan aku biarkan dia di bakar begitu saja."
Gyria mengayunkan pedangnya ke arah Renald. Renald bahkan tidak menghindar sedikitpun. Tapi pedang itu tidak sampai pada Renald, seseorang menahan tangannya.
"Lepaskan!"
"Hentikan Gyria." pinta Derek.
"Tidak!" Gyria dengan cepat melepas salah satu tangannya dari gagang pedang lalu memegang lengan Derek dan menarik tubuh Derek kearahnya lalu membalik tubuhnya dan menggunakan sikutnya untuk memukul Derek. Derek terkejut karena semua itu terjadi dengan cepat. Derek melepaskan pegangannya pada tangan Gyria. Gyria kembali menuju Renald. Derek sudah berhasil berdiri kembali dan sekarang berdiri di hadapan Gyria. Kali ini Derek tidak menahan tangan Gyria melainkan pedang yang di ayunkan Gyria, membuat tangannya terluka. Gyria terkejut.
"Apa yang kamu lakukan?!"
"Aku mohon hentikan, kita bisa membicarakan ini secara baik-baik."
"Lepaskan."
"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu menyerang Alpha dan menyakiti dirimu." tegas Derek. Darah dari tangan Derek menetes. "Gyria, kamu tidak akan pernah menang melawannya. Semua masih bisa di bicarakan dengan baik."
Derek menatap Gyria, memohon untuk menghentikan tindakannya. Gyria mulai tampak ragu. Dia dan Derek masih saling menatap. Gyria memalingkan wajahnya lalu melepaskan pegangannya pada pedang itu. Gyria meneteskan air mata lalu segera pergi.
"Aku akan mengejarnya."
"Tidak alpha, biar saya saja. Tapi saya minta, untuk menunda pembakaran mayat-mayat itu. Aku tahu anda melakukannya demi pack anda, hanya sebentar. Saya akan berbicara dengan Gyria."
"Baiklah."
"Sebaiknya kamu mengobati lukamu." bibi Agatha membalut luka Derek dengan sapu tangannya.
"Saya tidak apa-apa nyonya, terima kasih. Saya permisi dulu."
Derek berlari ke arah Gyria pergi.
"Kenapa kamu harus membakar semuanya?" tanya bibi Agatha.
"Bibi tahu, jika orang mati di racun, bisa saja akan ada kelanjutannya, seperti tubuhnya akan mengeluarkan racun yang ada di tubuhnya dan menyebarkan lewat udara. Satu pack akan terkena, lebih parah lagi, penduduk manusia biasa akan terkena juga. Pemerintah dari manusia biasa akan menyelidikinya."
"Aku tahu Renald, aku paham. Akan tetapi, itu adalah sahabatnya sedari kecil. Terlepas baik tidaknya kelakuannya. Lagipula, dia disuruh oleh luna Chloe. Dari yang aku tahu darimu, luna Chloe bukan luna yang baik. Mungkin saja dia terpaksa melakukannya atau ada alasan lain."
"Tapi bi..."
"Renald, sebaiknya... Berikan saja dia membawa tubuh gadis itu. Biarkan dia menguburkannya, dengan layak. Seandainya ini semua terjadi pada Ted, apa kamu akan membakar tubuhnya juga?"
"Tapi Ted tidak akan seperti itu."
Renald terdiam. Mungkin dia terlalu keras. Mungkin dia tidak berpikiran seperti Gyria. Dia hanya khawatir pada packnya dan Allana. Jika Gyria harus pergi mengubur tubuh sahabatnya itu, dia tidak akan bisa kembali.
*******
Gyria berdiri dalam diam menatap di tumpukan manusia yang tidak bergerak itu. Jaraknya tidak jauh dan tidak dekat. Dia dilarang mendekat atas perintah alpha. Di sana Leysha masih terbaring. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Tapi dia berjanji pada dirinya tidak akan membiarkan tubuh Leysha di bakar. Dia tidak perduli pada tubuh yang lainnya. Hanya Leysha.
Allana melihat Gyria dari jauh. Ya, setelah mendengar semua itu, dia langsung mencari Gyria meskipun tubuhnya masih sangat lemah. Dia paham betul bagaimana perasaan Gyria saat ini. Dia juga tahu jika Leysha tidak bersalah. Lesyha terpaksa melakukan semua ini. Dia tahu Lesya tidak akan menyakitinya. Allana melangkah mendekati Gyria. Tapi baru beberapa langkah, langkahnya tiba-tiba terhenti. Derek sudah bersama Gyria. Allana tidak melanjutkan langkahnya dan hanya diam berdiri untuk mendengarkan.
"Jika kamu kemari untuk membujukku agar aku setuju untuk membakar tubuh Leysha, kamu sia-sia. Aku tidak akan merubah keputusanku." sahut Gyria yang menyadari kehadiran Derek.
"Aku hanya ingin tahu keadaanmu."
"Bukankah itu sudah jelas?" sahut Gyria dingin.
"Gy-"
"Tidak, jangan. Jangan mengatakan apapun. Aku tidak akan merubah keputusanku. Aku akan menguburkan Leysha dengan layak, meskipun aku harus bertarung dengan seluruh pack ini."
"Kamu tidak harus seperti itu."
"Mereka tidak akan mengubah keputusan mereka, tidak juga denganku." Gyria menatap tegas pada Derek.
"Aku tahu Gy, tapi mereka memiliki alasan."
"Alasan? Hah! Baiklah aku mengerti. Karena itu, berikan saja Leysha padaku. Aku akan menguburkannya jauh dari sini, dengan layak. Tapi mereka juga tidak mengijinkan hal itu."
"Karena jika kamu keluar, kamu tidak akan bisa kembali karena bisa saja racun itu sudah ada pada dirimu. Allana akan--"
"Ahh iya... Kalian hanya mengkhawatirkan Allana. Benar, itu benar. Tapi Allana memiliki kalian, memilikimu, memiliki Renald, pack mu dan teman-temannya. Sementara Leysha, hanya memilikiku. Jadi aku tidak perduli jika bisa kembali atau tidak karena aku tahu Allana tidak akan sendirian. Aku bisa menjaga diriku."
Gyria membelakangi Derek. Air matanya jatuh dan dia tidak bisa menahannya. Derek tahu itu dan menundukkan kepalanya.
"Aku tidak hanya mengkhawatirkan Allana, tapi aku juga mengkhawatirkanmu."
"Jika kamu berpikir aku akan bunuh diri atau dengan bodohnya menyerang luna Chole, kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan sebodoh itu. Tapi aku akan tetap membalasnya."
Gyria melangkahkan pergi. Tapi langkahnya terhenti. Dia melihat Renald berjalan padanya.
"Kamu bisa menguburkannya. Sebagai alpha wilayah Zykolt, mengizinkanmu." sahut Renald. "Tapi aku memiliki syarat. Kamu harus menguburkannya jauh dari pack ini. Dan sebelum masuk kemari lagi, kamu harus menghilangkan racun di tubuhmu."
"Racun? Tapi aku tidak--"
"Aku tahu kamu tidak meminumnya, karena itu aku membawakanmu dokter pack sini. Dokter Harphin akan menjelaskanmu tentang racun dari tubuh temanmu itu."
Seorang lelaki paruh baya maju dan berdiri sejajar dengan Renald.
"Selamat siang, nama saya Ryan Harphins. Anda bisa memanggil saya dokter Harphins. Saya sudah memeriksa tubuh-tubuh mereka. Tubuh mereka mengandung suatu racun yang berbeda dan langka, begitu juga dengan teman anda. Hanya saja, pada tubuh teman anda tidak terdapat racun Wolfsbane seperti pada tubuh para penyerang yang lain. Alpha berkata, mereka berhasil menghentikan gadis itu memakan racun itu. Hanya saja ada satu racun dan dibandingkan racun Wolfsbane, racun itu jauh lebih berbahaya. Tidak hanya bagi orang yang memakan racun itu, tapi juga yang dekat dengan orang yang terkena racun. Apalagi menghirup nafasnya. Racun itu juga lebih berbahaya jika orang yang memakan racun itu sudah mati. Dalam kurang dari dua puluh empat jam, racun itu akan mengeluarkan zat racunnya dan menyebar ke udara. Saat itu, jika menghirupnya, kita akan terkena racun itu juga. Racun itu bisa bertahan lama dalam tubuh orang yang masih hidup, hanya bereaksi sangat cepat jika di tambahkan racun lain. Tapi berbeda dengan orang yang sudah mati. Racun itu akan cepat menyebar dan tidak bisa di pastikan kapan. Yang saya tahu hanya kurang dari duapuluh empat jam. Karena itu anda tidak bisa kembali setelah menguburkan gadis itu. Karena kita tidak tahu kapan anda terkena racun itu. Bisa saja tidak terkena, tapi sebaiknya berhati-hati. Karena tidak ada yang memiliki penawarnya."
"Ada satu orang yang memilikinya, luna Chloe. Tidak masalah. Aku akan pergi menjauh."
"Tapi dokter, apa setelah di kuburkan, apa tidak akan terjadi masalah? Maksudku... Racunnya. Apa akan hilang?" tanya Renald.
"Sejujurnya saya tidak tahu alpha, tapi dugaan saya, racun itu tidak akan hilang dan tidak ada jaminan racun itu tidak akan menyebar. Satu-satunya cara adalah membakarnya. Racun itu hanya akan hilang jika di bakar. Bahkan asap dari bakaran racun itu, tidak berbahaya."
"Aku tidak akan membakarnya, tidak perduli apapun."
"Baiklah, jika itu maumu. Aku tidak akan menghalangimu." sahut Renald.
"Aku akan membawanya jauh dari sini dan tidak akan kembali."
"Tapi bagaimana dengan Allana?"
"Sudah aku katakan tadi, Allana memiliki keluarganya, temannya bahkan anda. Sementara Leysha hanya memilikiku."
"Tapi bagaimana dengan ibumu? Saudaramu? Apa kamu tidak khawatir?" tanya Derek.
"Kamu tidak akan mengusirnya kan?"
"Tentu saja tidak. Mereka sudah menjadi bagian pack."
"Kalau begitu semua selesai. Salamkan saja pada ibu dan saudaraku. Aku yakin mereka akan mengerti."
"Kamu yakin akan melakukan semua ini?" Derek memastikan.
"Yakin." Gyria terlihat pasti.
"Baiklah, aku akan menyiapkan semuanya."
Allana masih diam menatap mereka semua. Dia ingin mencegah Gyria tapi, entah kenapa kata-kata tidak keluar dari mulutnya.
*****
Gyria berdiri menunggu di kota manusia biasa. Dia heran, kenapa tidak melalui hutan saja. Gyria berdiri, menatap orang berlalu lalang di depannya. Mereka tampak normal, pikir Gyria. Dia kadang ingin menjadi manusia biasa saja. Mungkin keadaan hidupnya tidak akan serumit ini.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Derek membuat Gyria tersentak kaget.
"Kau mengagetkanku."
"Apa melamun menjadi hobimu sekarang?"
"Bukan urusanmu. Di mana alpha. Dia berkata aku tidak boleh melebihi dua puluh empat jam dan memintaku menunggu disini. Kenapa tidak muncul juga?" Gyria mulai kesal. Derek menyentil dahi Gyria.
"Aww.. Apa-apaan itu?"
"Dia alpha, apa tidak bisa bersikap baik?"
Gyria tidak menanggapi Derek. Dia hanya memalingkan wajahnya saja. Derek memperlihatkan kunci di depan wajah Gyria.
"Apa lagi itu?"
"Ini sebuah kunci."
"Aku tahu itu. Maksudnya itu kunci apa dan untuk apa?"
"Ini kunci mobil. Kamu akan membawa tubuh Leysha menggunakan mobil."
"Astaga, bagaimana aku bisa membawanya menggunakan mobil? Aku tidak bisa mengendarai mobil! Kalian sudah gila!"
"Apa kamu tidak melihatku berdiri disini?"
Gyria terdiam. Jadi maksudnya...
"Tidak, tidak, tidak. Kamu tidak boleh ikut."
"Bukankah kamu berkata kamu tidak bisa mengendarai mobil?"
"Itu benar tapi--"
"Kalau begitu aku yang akan menyetir dan kita akan melewati jalanan tempat manusia biasa lewati."
"Tunggu, bukankah membahayakan manusia biasa jika racunnya menyebar?"
"Sebelum dua puluh empat jam, racunnya masih aman. Lagipula, kota tidak akan terus menerus di jalan raya. Aku sudah memilih daerah dimana kita bisa menguburkannya."
"Apa aman?"
"Dari kita? Aku tidak tahu tapi dari manusia biasa atau serigala lain, kemungkinan. Aku sudah meminta bantuan penyihir. Aku tidak tahu akan berhasil atau tidak, yang jelas kita akan tetap berusaha. Ayo cepat. Kita harus bergerak cepat."
Gyria memegang lengan Derek saat dia berjalan menuju mobil. Derek menatap Gyria.
"Apa kamu yakin akan melakukan ini? Bagaimana dengan Allana."
"Allana akan baik-baik saja. Begitu juga anggota pack. Allana yang memintaku untuk menemanimu. Lagipula, kita tidak akan lama. Batas waktu kita hanya dua puluh empat jam setelah dia mati."
Derek kembali berjalan menuju mobil. Gyria masih diam di tempatnya. Dia ragu untuk melibatkan Derek. Allana juga pasti membutuhkan Derek.
"Apa kau akan berdiri di sana atau kita akan mulai pergi?" tany Derek saat dia sudah duduk di dalam mobil. Gyria menghela nafas. Dia sepertinya tidak punya pilihan.
*******
...tadariez...