
Gina dan Kate duduk di ruang makan dengan secangkir teh di tangan masing-masing.
"Jadi, bagaimana dia?" tanya Kate.
"Dia remaja yang... Bisa di katakan menyimpan luka. Karena ibunya." Gina meresap tehnya.
"Aku mengerti ibunya tapi aku juga mengerti anak itu. Sulit memang."
"Apa kamu sudah tahu kabar tentang ibunya?" tanya Gina.
"Mereka menyuruhnya masuk, mungkin karena rasa kemanusiaan tapi apa mereka akan membantunya, aku tidak tahu. Aku dengar dari Damian, keluarga itu memang keras. Penyihir darah murni adalah yang paling utama di keluarga itu." jelas Kate.
"Jadi maksudmu... Sedari awal hubungan mereka tidak di restui?"
"Bukan Gina. Mereka di restui. Kenapa tidak? Suaminya seorang alpha, tentu mereka mau. Hanya saja, keputusan Lucia melepaskan sihirnya adalah keputusan yang sangat disayangkan. Meskipun mereka semua tahu hanya itu satu-satunya cara melindungi anaknya dan packnya, mereka tetap menyalahkannya. Seandainya bisa, dia akan menyerahkan Renald pada kedua orang tuanya. Tapi dia tidak melakukan itu. Karena dia tahu Renald adalah manusia serigala. Dia harus bersama kaumnya. Manusia serigala tidak bisa di pisahkan dari kaumnya. Karena itu, dia mengorbankan dirinya dan sihirnya agar anaknya bisa bersama kaumnya."
"Cinta seorang ibu."
"Kau benar Gina. Dia beruntung masih memiliki ibu yang mencintainya. Tapi dia juga terluka. Kita juga tidak bisa menyalahkannya. Jadi bagaimana sihirnya?"
"Masih kacau. Tapi sepertinya dia memiliki sihir keluarga ibunya. Sangat kuat."
"Itu bagus, dia memerlukannya. Bukan hanya untuknya, tapi untuk packnya. Mulai besok aku yang akan melatihnya."
Gina mengangguk. "Aku akan bersama Bian."
Renald mendengar semua perkataan kedua gadis di dapur itu. Hatinya terenyuh. Apa benar dia keterlaluan?
...***...
Brakk!!!
Ini sudah kesekian kalinya Allana terhempas kasar. Allana menutup matanya. Mencoba mengatur nafasnya.
"Kau berkata ingin berlatih tapi jika kamu terus seperti ini, tidak akan ada yang berubah." kata salah satu Warrior pack Sykort bernama Adeira. Allana membuka matanya dan langsung berdiri.
"Ayo kita lakukan lagi!" kata Allana.
"Tidak, All. Kita berhenti."
"Tapi kenapa? Saya siap."
"Tidak, kamu tidak siap. Pergilah ke kamarmu dan bersihkan dirimu." kata Adeira lalu berlalu.
Tidak! Kumohon.. Biarkan aku berlatih." pinta Allana. Adeira menghentikan langkahnya dan berbalik." Aku ingin segera menjadi lebih baik. Aku mohon."
Adeira hanya menatapnya sejenak lalu berbalik dan pergi. Allana menghembuskan nafasnya kasar. Dia duduk di lantai dan berdiam.
"Allana..."
Allana mendongakkan kepalanya. Adeira memberikan satu botol air mineral untuknya. Allana mengambilnya.
"Terima kasih."
Allana meminum air mineralnya. Adeira duduk di sebelahnya.
"Allana, kamu tidak akan bisa melanjutkan latihanmu jika kamu seperti ini terus. Kamu hanya akan membuang tenagamu. Kamu harus berpikiran bersih sementara kamu yang sekarang sama sekali tidak bisa berkonsentrasi."
Allana menghela nafasnya.
"Maafkan saya. Hanya saja... Saya terlalu lelah dengan semua ini. Hidup saya hancur karena semua ini. Maafkan saya, saya... Tahu saya tidak boleh mengeluh. Maaf, anggap saja anda tidak mendengarnya." kata Allana sembari mengusap air matanya yang tidak bisa ditahannya. Adeira mengusap punggung Allana.
"Menangislah Allana. Menangis sepuasmu. Jangan di tahan. Tenang saja tidak ada orang disini. Menangislah."
Allana langsung menangis. Dia menumpahkan segala kemarahan, kekesalannya di tangisnya. Dia benar-benar menangis tanpa henti. Selama ini dia selalu menahan tangisnya. Adeira menunggunya selesai menangis. Dia bersimpati padanya setelah mendengar ceritanya jadi dia menjadi sukarelawan untuk melatihnya.
Setelah beberapa lama Allana menangis, dia mulai menghentikan tangisannya. Adeira memberikannya tisu yang telah dia siapkan.
"Apa kamu sudah baikan?" tanya Adeira. Allana menganggguk.
"Terima kasih." lirihnya.
"Minumlah dulu."
Allana menurut dan meminum minumannya.
"Aku tahu aku tidak berhak berkomentar tentang bagaimana hidupmu. Aku tahu dan bisa merasakan bertapa sulitnya. Kau pasti ingin bertahan bukan untuk manusia serigalamu, melainkan hidupmu. Lepaskan semuanya, lupakan semuanya. Jangan berpikir bagaimana kamu mengalahkannya, bagaimana jika kamu kalah. Buang semua itu. Pikirkan hanya satu. Pertahankan hidupmu. Jangan pikirkan yang lain. Kamu bertarung untuk mempertahankan hidupmu bukan yang lain."
Allana mengangguk mantap." Bagus. Latihan lagi?" tawar Adeira. Allana mengangguk dan tersenyum.
...***...
"Apa kamu yakin akan melakukannya?" tanya Gina.
"Hmm yakin."
"Tapi kekuatanmu.."
"Aku baik-baik saja, Gina. Tenang saja. Kekuatanku sudah kembali."
"Tapi jika di pakai untuk itu.. Kamu akan kehilangan lagi."
"Kekuatan itu akan selalu seperti itu sampai aku menguasainya. Karena itu, selagi kekuatanku kembali, aku ingin memberi pilihan untuk anak itu. Aku membantu Kei, tapi aku menelantarkan gadis itu. Aku merasa bersalah. Padahal jelas-jelas penyihir terlibat."
"Tapi kamu sudah melakukan sebisamu, Bian."
"Biarkan aku memberikan pilihan padanya. Melepaskan semuanya atau melawannya. Setidaknya aku tidak akan merasa bersalah lagi."
Bian menatap sebuah mansion besar di depannya. Dia berada di luar pagar. Dia tahu ada pelindung tak kasat mata melindungi rumah itu.
"Ini memang pack manusia serigala. Hanya saja lunanya adalah penyihir. Karena itu kita tidak bisa berteleportasi di depan pintu rumahnya." Bian merentangkan tangannya menyentuh pelindung rumah itu. Mengaktifkan alarm yang hanya bisa di ketahui oleh penyihir.
Betul saja, tak lama keluar beberapa orang, penyihir dan manusia serigala.
"Selamat siang, katakan pada Alpha dan luna kalian, yang terpilih ingin bertemu." kata Bian. Mereka saling menatap sejenak lalu salah satu dari mereka pergi, masuk ke dalam rumah. Bian bisa melihat mereka sangat waspada.
Tak lama muncul dua orang paruh baya, pria dan wanita. Yang pria memerintahkan untuk membuka pagar. Saat pagar terbuka, Bian yang hendak menyapa tiba-tiba di kejutkan dengan pelukan mendadak dari wanita paruh baya tadi. Bian yang terlalu terkejut bahkan tidak membalas pelukan wanita itu. Wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap Bian dengan tatapan seperti baru menyambut anaknya datang setelah berpergian jauh.
"Selamat siang luna." sapa Bian sambil tersenyum.
"Tidak, jangan luna. Mom."
"Hah? Ahhh... Saya rasa itu kurang pantas untuk --"
"Kata siapa kurang pantas? Tentu saja pantas. Kamu akan menjadi menantuku, sudah sepantasnya kamu memanggilku mom." kata wanita itu membuat Bian speechless.
"Sayang, biarkan dia masuk terlebih dahulu." kata sang pria. "Saya alpha Jackson, alpha dari pack Sykort. Dia adalah istriku."
Bian mengangguk.
"Mari masuk." luna mengalungkan tangannya pada Bian lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
"Tujuan saya kemari adalah ingin bertemu dengan Allana." kata Bian saat mereka sudah duduk di ruang tamu. Mereka bahkan menyajikan teh untuk Bian dan Gina.
"Kamu memang yang terpilih. Kamu bahkan tahu dia berada disini." puji luna. Bian hanya tersenyum kikuk.
"Apa saya bisa bertemu sekarang?" tanya Bian.
"Tentu saja. Saya akan memanggilnya." Alpha berdiri dan meminta satu orang omega memanggil Allana.
"Jadi sayang, bagaimana kabarmu? Aku mendengar kamu sedang tidak sehat?"
"Saya baik-baik saja luna."
"Aku sempat ke Disprea, tapi mereka berkata kamu sedang tidak bisa dikunjungi."
"Benar, luna. Karena suatu hal, saya memang sedikit lemah, tapi saya sudah membaik. Terima kasih perhatiannya."
"Jangan berterima kasih. Aku calon ibu mertuamu, itu sudah sepantasnya. Dan jangan panggil aku luna, panggil aku mom." kata luna itu. Tari hanya bisa tersenyum kikuk. "Ahh apa mau aku panggilkan Edward? Aku yakin dia senang bertemu denganmu."
"Ahh... Ti-tidak usah luna. Saya hanya ingin bertemu Allana." tolak Bian.
"Sebentar lagi dia datang." kata alpha Jackson.
Mereka menunggu sambil membicarakan Allana dan luna Chloe. Bian berbicara serius dengan alpha Jackson. Mungkin alpha memiliki solusi. Meskipun dia yang terpilih tapi dia tidak bisa sesuka hatinya. Dia juga harus berhati-hati. Dia penyeimbang supranatural, bukan menghancurkannya. Dia harus bisa secara adil memahami dan menanganinya. Tak lama pintu terbuka.
"Ed!" pekik luna menyambut anaknya.
"Mom, aku sedang sibuk. Sebenarnya ada ap--" Ed terdiam. Dia mengendus pelan. Dia mengenal bau ini. Pandangn Ed beralih ke gadis yang sedang memijat pelipisnya dan memalingkan wajahnya. Ed menatapnya tanpa berkedip.
"Kemarilah Ed, sedang apa kamu berdiri disana." pinta alpha.
"Ti-tidak dad, aku... Aku akan pergi saja. Aku sedang.... Sibuk."
"Apa kau yakin Ed?" tanya ibunya dengan nada menggoda anaknya.
"Mom..."
"Godaan mate itu sulit di hindari." bisik ibunya. Ed menghela nafas dan memutar bola matanya. Semantara alpha Jackson yang mendengar itu hanya tertawa kecil.
Tak lama pintu terbuka lagi. Kali ini Allana yang masuk bersama Adeira.
"Kemarilah nak." pinta alpha Jackson pada Allana. Allana menurut dan menghampiri alpha. Tapi dia terkejut saat melihat Bian.
"Ka-kamu... Kamu..."
"Halo Allana, kita jumpa lagi." sapa Bian.
"Se-sedang apa..."
"Duduklah nak. Atau kamu ingin privasi, Bian?" tanya alpha.
"Tidak perlu alpha. Disini tidak masalah dan akan lebih baik jika anda disini." kata Bian. Alpha Jackson mengangguk.
"Apa yang kamu lakukan, Allana? Ayo duduk."
Allana patuh dan duduk di depan Allana.
"Hei, Ed. Duduklah. Jangan bengong disana." kata Ibunya. Ed tersadar dari lamunannya lalu duduk agak jauh dari Bian.
"Dia yang bertanggung jawab atas Allana disini. Namanya Adeira."
"Hai." sapa Bian dan Gina.
"Aku kemari ingin memberi pilihan padamu. Seharusnya aku memberi pilihan ini padamu sejak awal tapi aku masih belum cukup kuat untuk melakukannya. Sekarang aku bisa. Karena itu aku akan memberimu pilihan itu."
"Apa lebih buruk dari pilihan membunuh untuk tidak di bunuh?" tanya Allana.
"Tergantung bagaimana kamu menganggapnya."
"Lalu... Pilihan apa itu?"
"Apa kamu mau menjadi manusia biasa?"
...***...