
Renald masih memikirkan kata-kata Arthur.
"Miliknya? gadis itu miliknya? kenapa dia berkata seperti itu? tunggu, jangan-jangan... gadis itu.. mate nya?"
"Oh astaga... apa tidak ada kata-kata lain? kenapa kamu terus mengulang kata-kata itu?"
"Tidak perlu di dengar."
"Ughh seandainya bisa. Kita terhubung kau ingat? aku betamu."
"Akhh baiklah, baiklah. Aku hanya penasaran."
"Mungkin memang gadis itu adalah mate nya."
Renald terdiam. Dia tampak berpikir.
"Kenapa? apa kamu cemburu?"
"Cem- apa? tentu saja tidak!" jawab Renald cepat. Ted menyipitkan matanya. "Aku tidak cemburu." tegas Renald. "Aku hanya merasa aneh saja dengannya berada di sana."
"Jika gadis itu adalah mate-nya, itu tidak aneh. Mungkin dia ingin menjaga mate-nya."
"Gadis itu bukan anak-anak lagi."
"Aku tahu tapi gadis itu masih bersekolah."
"Entahlah, aku hanya merasa aneh. Ada sesuatu dengan Arthur dan gadis itu."
"Tentu saja Ren, mereka Mate!"
"Tetap saja, aku merasa aneh, entah kenapa."
"Well, pantas saja kamu punya feeling aneh, ada darah penyihir di darahmu."
"Sudah aku katakan berulang kali, jangan mengungkit itu!"
"Ahh maaf.. hanya saja ibumu adalah penyihir dan kelebihan ibumu pintar meramal. Mungkin saja perasaan aneh itu karena darah penyihirmu."
"Entahlah, mungkin hanya perasaanku."
"Mungkin. Sudah jangan terlalu di pikirkan. Tapi... kau yakin tidak cemburu?"
"Shut up!"
Ted tertawa geli.
****
Gyria menarik Allana setelah bel berbunyi. Mereka berlari menuju belakang sekolah. Allana terlihat enggan tapi mau tidak mau dia tetap mengikuti Gyria. Mereka masih berlari dan masuk lebih dalam ke hutan. Allana mulai kelelahan tapi Gyria tetap tidak berhenti.
"Gyria, sebenarnya kita mau ke mana?" sudah kesekian kalinya Allana bertanya tapi Gyria tetap tidak menjawab. Setelah berada di tengah hutan, mereka berhenti. Gyria melepaskan tangannya.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Allana dengan nafas masih terngah.
"Belum."
"Sebenarnya kita mau ke mana?"
"Pack moon Crysort."
"Apa? kenapa tiba-tiba kita ke sana?"
"Luna sedang sekarat. Katanya kemungkinan dia untuk sembuh sudah sedikit dan Luna ingin bertemu denganmu. Jadi beta Beck memintaku membawamu ke sana."
"Bukannya packmu cukup jauh dari sini?"
"Iya, karena itu kita harus berubah wujud."
"Tidak, kita akan menemui orang tuaku terlebih dahulu."
"Apa? tidak, tidak... tidak akan sempat."
"Aku tidak akan pergi kemana-kemana tanpa memberi tahu kedua orang tuaku."
"Kamu anggota pack Crysort."
"Kamu tahu aku bukan anggota pack manapun dan ini bukan tentang aku anggota pack apa tapi tentang sebuah keluarga. Ibuku pasti akan mengkhawatirkan aku jika aku tidak memberitahukannya. Sama atau tidak packnya, dia masih tetap ibu dan ayahku."
"Jika kamu memberi tahukan orang tuamu tentunya kakakmu yang kekanan-kanakannya mulai dengan sisi possessivenya padamu."
"Dia kakakku. Dia hanya khawatir padaku yang baru saja masuk ke dunia ini. Oh ayolah Gyria. Aku yakin kamu paham dengan keadaanku."
Gyria menghela nafas.
"Baiklah, tapi cepat. Kita tidak punya waktu." Gyria kembali berjalan. Allana tersenyum.
****
"Tidak Allana, ibu tidak setuju. Kamu tidak akan ke sana."
"Ibu, luna mereka hanya ingin bertemu."
"Tidak Allana, mereka akan meminta lebih."
"Bukannya ibu berasal dari pack sana?"
"Tidak ada hubungannya ibu dari pack sana atau tidak. Ibu tidak akan mengijinkannya."
"Luna mereka hanya ingin bertemu Allana. Ibu tahu Allana tidak memihak pada siapapun."
Ibu Allana terdiam. Dia berfikir.
"Aku rasa tidak apa-apa sayang. Mereka hanya ingin bertemu." ayah Allana mencoba meyakinkan istrinya.
"Jika mereka ingin bertemu, kenapa bukan mereka yang kemari? kenapa harus Allana?"
"Allana tadi sudah menjelaskan, Luna mereka sakit parah. Tentu dia tidak bisa kemari."
"Tapi aku punya firasat buruk tentang ini."
Orang tua Allana kembali terdiam.
"Baiklah." kata ibu Allana akhirnya. "Kamu boleh pergi, tapi ibu ikut denganmu."
"Apa? tidak, tidak.. kamu tidak boleh ikut. Kamu sedang tidak sehat! bagaimana jika sakitmu tambah parah?" ayah Allana protes.
"Ibu sakit?" tanya Derek dan Allana bersamaan.
"Tidak, ibu hanya sedang tidak enak badan. Ayahmu hanya membesar-besarkannya."
"Meskipun begitu, kita tidak bisa ambil resiko kamu ikut dengan mereka."
"Ayah benar bu. Sebaiknya ibu tidak ikut."
"Tapi ibu tidak bisa membiarkan Allana pergi sendiri tanpa pengawasan."
"Bu, Allana bukan anak kecil lagi dan lagipula, ada Gyria yang menemani Allana."
"Kalau begitu biar Derek yang ikut." tawar Derek.
"Tapi kamu tidak akan bisa masuk Derek, tidak ada hewolf yang boleh masuk.
"Kalau begitu kak Derek bisa tunggu di luar saja. Hanya bertemu Luna, Allana rasa tidak akan lama."
"Andai saja Alice disini."
"Meskipun Alice disini bu, dia tidak akan membantuku. Ibu tahu betul bagaimana aku dan Alice."
Ibu Allana menghela nafas. "Baiklah. Tetap bersama Derek Allana dan segera pulang setelah selesai."
Allana menggangguk setuju.
Agak jauh dari rumah Allana. Gyria dan Leysha berjalan pulang. Mereka mendengar pembicaraan Allana dengan keluarganya.
"Menurutmu kenapa ibu Allana membenci pack kita? bukankah dia bagian dari pack kita? well setidaknya dulu."
"Aku tidak tahu Ley."
"Bukankah ibu Allana yang memilih untuk pergi dari pack kita? Yang tidak setia."
"Ley.."
"Apa? Aku benar."
"Lihatlah pack kita sekarang. Kecil dan harus bersembunyi dari pack lain. Kadang kita harus berpindah-pindah jika ketahuan. Terlebih, kita mempunyai banyak pack yang inginkan pack kita punah. Siapa ingin terus bertahan?"
"Lalu kenapa kamu bertahan?"
"Apa kamu lupa ibuku adalah pesumpah setia pada pack kita? Ibuku bersumpah akan tetap bersama pack Crysort. Aku tidak mungkin meninggalkannya terlebih ada adikku yang masih kecil."
"Aku sebatang kara."
"Lalu kenapa kamu masih ikut pack ini? Kamu bisa saja pindah di pack lain."
"Entahlah.. mungkin karena aku merasa nyaman. Lagipula, pack mana yang akan menerimaku sebagai anggota mereka? Aku perempuan, aku lemah dan aku bahkan tidak tahu di mana mate-ku. Ahh satu lagi. Aku berasal dari pack moon Crysort."
Gyria terdiam. Ya, memang serba salah. Bekas anggota Crysort memang sulit untuk bergabung dengan pack lain karena mereka menganggap pack Crysort pembawa sial, pembawa kutukan. Kecuali mereka memiliki mate yang memiliki status tinggi di suatu pack.
"Kenapa kamu diam saja?"
"Tidak ada apa-apa. Kita harus bersiap untuk perjalanan besok."
"Tapi si Derek itu ikut. Bukannya kamu tidak suka padanya?"
"Lalu apa yang bisa aku perbuat? Jika itu akan buat Allana pergi ke Crysort, aku harus menerimanya. Kau dengar kata Beta Beck, bawa Allana apapun yang terjadi."
"Jadi menurutmu, Luna akan mati?"
"Aku tidak tahu. Mungkin."
"Jika Luna mati, apa kita bisa pergi ke pack lain? Ibumu juga. Luna mati maka sumpah akan hilang."
"Kita tidak tahu itu Leysha."
"Itu benar, lalu kemana kita akan pergi. Kita tidak mengenal siapapun di pack lain."
Gyria kembali terdiam. Dia punya banyak pikiran tapi dia tidak tahu dari mana dia memulainya.
****
Gyria berlatih bertarung. Dia terus mengayunkan tinjunya ke udara.
"Berhentilah, apa kamu tidak lelah?" protes Leysha. Dia sudah bosan melihat Gyria berlatih sedari tadi. "Dan di mana mereka? Kenapa mereka lama sekali?!"
Gyria tidak memperdulikan keluhan Leysha dan terus berlatih.
"Sepertinya kamu terlalu berlatih keras."
"Akhirnya! Kenapa lama sekali?" Leysha berdiri dari duduknya.
"Sepertinya perlu waktu untuk berdandan." jawab Gyria.
"Kamu tahu aku tidak suka berdandan." kata Allana.
"Bukan kamu tapi dia." Gyria menunjuk Derek dengan dagunya. "Parfummu bahkan tercium dari sini."
"Kita baru saja bertemu dan kamu sudah mengajakku bertengkar? Gadis yang aneh."
"Oke tidak ada yang bertengkar lagi. Bukannya kamu bilang Crysort jauh dari sini?" Allana menengahi.
"Setengah hari perjalanan dengan berubah wujud menjadi serigala."
"Apa lagi yang kita tunggu?"
"Apa kita harus membawa mereka juga?" tanya Gyria pada tiga orang yang berdiri di belakang Derek.
"Ya, tentu. Mereka akan ikut. Hanya untuk berjaga-jaga." jawab Derek. "Mereka Gamma dan omega dari--"
"Ya, ya terserah saja. Yang aku perlu tahu apa mereka ikut atau tidak. Aku tidak perlu tahu posisi mereka atau nama mereka."
"Always arogant, do you?"
Gyria hanya mengangkat kedua bahunya, tidak perduli. Dia mulai merapikan tasnya.
"Okay boys, waktunya berubah. Kita tidak mau sampai di sana malam."
"Aku tahu dia akan selalu memerintah." bisik Derek pada Allana.
"Ikuti saja kak."
Derek dan ketiga anggota packnya berubah menjadi serigala. Begitu juga dengan Leysha. Hanya tinggal Allana dan Gyria.
"Okay, kalian para pria, sudah hukum alam membawa barang dari para wanita." Gyria mengambil tasnya lalu menyerahkan pada serigala Derek. "Rendahkan kepalamu jadi aku bisa mengalungkan tas ini."
Derek menggeram marah. Allana hanya tersenyum geli.
"Ahhh maaf, maaf... My mistake. Aku lupa kalau kamu Beta." Gyria beralih ke serigala di belakang Derek. Tapi dengan cepat Derek menarik tas itu. Gyria tersenyum penuh kemenangan. Dia juga memberikan tas Leysha pada serigala lain.
"Tasmu Allana."
"Tidak perlu, aku akan membawanya sendiri."
"Baiklah."
Allana dan Gyria berubah menjadi serigala.
"Sudah ahli sepertinya." puji Derek pada Allana.
"Latihan tentu."
Mereka mulai berangkat. Mereka menyusuri hutan, kadang jalan raya yang biasa di lewati manusia. Mereka berhati-hati tentu. Tidak ingin sampai ketahuan manusia biasa.
Mereka sampai saat sore hari. Mereka berhenti di hutan dekat perbukitan. Gyria berubah menjadi manusia lalu pergi ke semak untuk memakai pakaiannya, begitu pula dengan Allana dan Leysha.
"Maaf tapi kalian tunggu disini." kata Gyria pada Derek.
"Tapi perkemahan kalian masih agak masuk ke dalam."
"Aku tahu itu, tapi ini adalah batas kalian. Kalian tidak bisa masuk."
"Kenapa tidak?" tanya salah satu omega.
"Karena jika kalian masuk, kalian mati. Ini adalah perlindungan sihir." Gyria menyentuh sesuatu tidak kasat mata dan benar saja. Sesuatu itu tampak seperti perisai. "Entah kalian tahu atau tidak tapi pack kami dari dulu sudah bekerja sama dengan penyihir. Jadi penyihir membuat perlindungan ini."
"Baiklah, kami mengerti."
"Aku akan menjaganya, aku berjanji. Dan jika ada sesuatu, yang tentu saja aku harap tidak ada, aku akan langsung memberitahukannya padamu."
"Kau yakin bisa melakukan itu?"
"Aku tidak menyukaimu tapi aku selalu menepati janjiku."
"Baiklah, aku percayakan Allana padamu."
Gyria berdiri di depan pagar lalu ada beberapa wanita dewasa datang dan membuat lubang sebesar pintu di perisai tidak terlihat itu. Gyria, Leysha dan Allana masuk ke dalam. Allana melihat kakaknya sejenak lalu kembali berjalan. Mereka melalui hutan lalu tak lama sampai di permukiman. Rumah-rumah mereka sederhana, hanya dari kayu. Tak ada yang istimewa dari rumah mereka. Hanya terlihat seperti gubuk.
"Hmmm... iya."
"Tidak seperti yang aku bayangkan."
"Memangnya apa yang kamu bayangkan?"
"Uhm... Kastil? Mansion? Kau tahu, seperti cerita-cerita di novel tentang werewolf lainnya. Ahhh! Terkecuali twilight. Mereka bercampur dengan manusia, bahkan melindungi manusia dari vampir."
"Astaga Allana, kamu terlalu banyak baca novel dan nonton film! Kastil dan mansion biasanya yang memiliki adalah pack yang besar. Biasanya pack-pack kecil hanya memiliki tempat perkumpulan atau latihan. Sementara rumah mereka bercampur dengan manusia biasa." jelas Gyria. "Dan rumah kami seperti ini agar kami mudah jika kami harus berpindah tempat."
"Kenapa kalian harus berpindah tempat?"
"Banyak pack lain mengira, kami sudah punah, pack kami tidak ada lagi. Tapi bagi mereka yang tahu, mereka mengincar pack kami untuk di musnahkan. Mereka berpikir jika pack kami adalah pack kutukan dan penyebab bencana."
"Apa itu benar?"
"Mungkin. Maksudku.. entahlah."
"Kenapa kamu tidak pindah pack, seperti ibuku."
"Tidak semudah itu Al. Tidak ada yang mau menerima anggota pack yang berasal dari sini."
"Tapi ibuku di terima baik."
"Itu karena ayahmu. Sudahlah, nanti saja ceritanya. Kita sampai."
Di hadapan Allana ada sebuah rumah yang lumayan lebih besar dari yang lain.
"Apa itu tempat tinggal Luna?"
"Iya."
"Gyria. Kamu sudah sampai." beta Melisa mendatangi mereka.
"Iya beta. Di mana beta Beck?"
"Dia sedang bersama Luna."
"Kalau begitu kami akan masuk."
"Tidak, tidak perlu. Kalian istirahatlah dulu. Bawa dia ke rumah yang sudah kita siapkan. Luna akan bertemu dengan Allana besok. Lagipula sudah hampir gelap."
"Baik beta."
Melisa masuk ke dalam rumah luna mereka. Gyria mengajak Allana untuk ke tempat dia akan menginap malam ini. Rumah itu sama seperti yang lain, terbuat dari kayu dan kecil. Tidak ada yang istimewa dari rumah itu, hanya sedikit berdebu.
"Rumah ini sudah di bersihkan dan di rapikan meski masih sedikit berdebu."
"Rumah siapa ini?"
"Tidak ada. Dari dulu ini kosong. Ada beberapa rumah kosong."
"Apa... Ada yang mati atau--"
"Tidak, tidak... Bukan seperti itu. Hanya saja rumah-rumah seperti ini di buat untuk para penyihir yang berkunjung ke pack ini."
"Apa penyihir itu jahat?"
"Setahuku tidak. Mereka tidak ramah, itu benar tapi mereka tidak jahat. Baiklah, istirahatlah. Kita sudah jalan jauh." Gyria keluar rumah lalu tak lama masuk lagi bawa satu nampan makanan. "Ini makan malam. Makanlah."
"Kamu tidak makan?"
"Aku akan makan di rumah bersama ibu dan adikku. Tapi sebelum itu aku akan mengecek kakakmu dan memberinya makanan."
"Sebenarnya ada apa dengan kamu dan kakakku? Kenapa kamu membencinya?"
"Aku tidak membencinya, aku hanya tidak menyukainya."
"Tapi kenapa?"
Gyria hanya mengangkat kedua bahunya.
"Makan dan istirahatlah. Jika ada apa-apa atau perlu sesuatu, beritahukan pada penjaga. Ada beberapa orang penjaga yang berjaga-jaga di sekitar."
"Oke."
"Kamu... Tidak takut tidur sendiri kan?"
"Tentu saja tidak. Kau ini konyol sekali."
"Mungkin saja kamu takut dengan... Hantu...."
"Astaga pergilah cepat. Kasian para laki-laki itu kelaparan."
Gyria tertawa geli lalu segera pergi meninggalkan Allana. Gyria membawa dua nampan penuh makanan. Dia meminta para penjaga membuka perlindungan lalu keluar membawa dua nampan itu ke Derek dan teman-temannya yang berkemah tidak jauh dari sana.
"Ini." Gyria menyerahkan dua nampan itu.
"Ahh akhirnya. Kami sudah kelaparan." kata salah satu dari mereka.
"Hei kalian laki-laki. Kalian bisa berburu."
"Kami terlalu lelah untuk berburu nona."
"Hah! Lemah sekali."
"Apa kamu akan bertengkar juga dengan mereka?" tanya Derek yang baru saja datang membawa kayu untuk membuat api.
"Bukan urusanmu."
"Tentu saja urusanku. Mereka temanku."
"Iya, iya terserah kamu saja. Aku masuk."
"Bagaimana Allana? Apa dia sudah bertemu luna kalian?"
"Belum, Luna sedang istirahat. Besok mereka akan bertemu setelah itu kalian semua bisa pulang."
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih makanannya."
Gyria hanya berbalik dan pergi meninggalkan mereka.
"Dia sinis sekali. Baru kali ini aku bertemu dengan gadis seperti itu."
"Aku juga. Bahkan dia tidak pernah tersenyum. Ahh untung saja bukan mate-ku. Aku sudah berdebar tadi saat Derek bilang akan bertemu dua shewolf lagi."
"Aku juga. Yang satunya cantik juga tapi sayang bukan mate-ku. Bagaimana denganmu Derek?"
"Hei, jangan tanya padanya. Dia sudah punya tunangan."
"Tapi untuk apa punya tunangan jika bukan mate-nya? Kita ini manusia serigala, bukan manusia biasa. Pertunangan seperti manusia biasa tidak berlaku bagi kita jika bukan mate."
"Kamu benar. Tumben sekali kamu pintar."
"Hei, aku selalu pintar, kau tahu?"
"Tidak pernah dengar hal itu."
"Kau--"
Thomas dan Steve bergulat.
"Astaga mereka seperti anak kecil saja." komentar Jose. "Bagaimana menurutmu Derek?"
"Tentang apa?"
"Pertunanganmu dan mate."
"Kenapa dengan itu?" tanya Derek sambil masih makan, terlihat tidak perduli.
"Bagaimana jika suatu saat mate-mu muncul? Kamu tahu daya tarik mate luar biasa karena mereka di ciptakan untuk kita, satu-satunya."
"Jangan mengajariku konsep tentang mate. Kamu tahu aku paham itu."
"Lalu?"
"Aku mencintai tunanganku dan itu sudah cukup bagiku."
"Kau sungguh keras kepala."
*****
Allana sudah tertidur. Tapi dia terlihat tidak tenang dalam tidurnya. Dia terlihat gelisah.
"Lari.. larilah... Kau harus lari Allana..."
Ada suara itu di mimpinya. Allana semakin gelisah.
"Allana... Pergilah..."
Allana gelisah tapi tidak juga bangun dari tidurnya.
"Allana.."
"Allana... Bangunlah."
Allana terbangun dari tidurnya. Tubuhnya berkeringat.
"Hei, apa kamu baik-baik saja?"
"Aku.. aku baik. Hanya mimpi buruk kurasa."
"Minumlah." Gyria memberikan satu gelas air pada Allana. Allana menghabiskan satu gelas.
"Ayo kita harus pergi." ajak Gyria.
"Pergi kemana?"
"Luna ingin bertemu denganmu."
"Sekarang? Tapi ini..." Allana melihat jam tangannya. "... Tengah malam."
"Aku juga tidak tahu. Ayo cepat."
Allana bergegas turun dari tempat tidur lalu berganti pakaian.
Allana dan Gyria bersama dua orang lagi berjalan menuju rumah luna.
"Siapa mereka?" Allana menunjuk dua orang yang mengikuti mereka.
"Hanya penjaga."
"Penjaga? Untuk?"
"Entahlah, aku juga heran. Mereka sedari tadi mengikutiku."
"Aneh."
"Iya, aneh."
Mereka sampai di depan rumah Luna. Hanya ada dua penjaga saja di sana.
"Maaf tapi pertemuannya berganti tempat. Tidak di rumah luna tapi di ruang pertemuan." kata salah satu penjaga.
"Apa? Kenapa aku tidak di beritahukan tadi?"
"Ini mendadak."
"Huft baiklah. Ayo Allana."
Mereka berjalan kembali lalu berhenti di sebuah mulut goa.
"Ruang pertemuan ada di dalam sana."
"Tapi itu goa."
"Iya aku tahu itu. Biasa kami mengadakan rapat di sana."
"Tapi bukannya Luna kalian sedang sakit?"
"Entahlah, aku juga bingung Allana."
"Kalian sudah sampai. Maaf mengganggu tidurmu Allana." sahut Melisa yang sudah menunggu mereka di depan goa.
"Ti-tidak apa-apa."
"Mari masuk." ajak Melisa. Allana masuk ke dalam tapi tidak dengan Gyria. "Maaf Gyria, tapi kamu tidak bisa masuk."
"Apa? Tapi kenapa Beta? Allana temanku."
"Aku tahu Gy, tapi ini perintah luna. Tenang saja, ini hanya pertemuan biasa. Di dalam hanya terdapat Luna dan Beck."
"Baiklah kalau begitu."
Melisa tersenyum lalu masuk ke dalam goa. Gyria menghela nafas. Entah kenapa sedari tadi perasaannya tidak enak. Dia merasa ada yang salah, entah apa itu.
"Aneh sekali. Jika memang hanya bertemu, kenapa harus di goa ini? Kenapa tidak di rumah luna? Biasa Luna menerima tamu penyihir di rumahnya. Hanya jika akan melakukan ritual, mereka akan kemari. Lalu kenapa bertemu Allana disini? Dan kenapa aku terus merasa tidak enak dan gelisah?"
Gyria tidak tahan lagi. Dia harus memeriksa. Tapi saat dia ingin masuk, kedua penjaga menghalanginya.
"Aku harus masuk tapi bagaimana caranya?"
"Tolong... Tolong..." Leysha datang dan terlihat panik.
"Ada apa? Kenapa kamu minta tolong?" tanya Gyria.
"Aku harus bertemu dengan Beta Melisa."
"Iya tapi kenapa?"
"Nyonya Rimple.. nyonya Rimple sedang sekarat. Dia ingin bertemu dengan Beta Melisa."
"Beta Melisa sedang sibuk, dia tidak bisa di ganggu." jawab salah satu penjaga.
"Tapi nyonya Rimple sedang sekarat. Kalian tahu jika nyonya Rimple adalah ibu angkat Beta Melisa. Kalian akan lihat betapa marahnya Beta jika dia sampai tidak bisa bertemu dengan nyonya Rimple." kata Leysha dengan nada sedikit mengancam. Kedua penjaga itu saling berpandangan. "Jika kalian tidak percaya, kalian bisa ikut aku pergi. Lihat sendiri. Lagipula aku butuh penjaga, tapi aku tidak melihat para penjaga sedari tadi! Ikutlah denganku, biar Gyria yang memberitahukan Beta Melisa."
"Ta-tapi.."
"Tidak ada tapi, cepatlah atau Beta Melisa akan marah. Kalian tahu bagaimana jika beta marah."
"Ba-baik..." para penjaga langsung pergi. Leysha menatap Gyria lalu menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih." bisik Gyria dan langsung masuk ke dalam.
Leysha sebenarnya sudah memperhatikan Gyria sedari tadi. Dia melihat kegelisahan Gyria. Leysha tumbuh bersama Gyria jadi dia mengenal betul bagaimana sikap dan kebiasaan Gyria. Melihat kegelisahan Gyria, Lesyha tahu jika ada sesuatu yang salah, setidaknya itu yang dirasakan Gyria. Leysha memang baru saja dari rumah nyonya Rimple untuk membantu dokter mengobati nyonya Rimple. Leysha adalah salah satu asisten salah satu dokter di pack Crysort. Saat dia kembali ke pack, dia pasti akan membantu para dokter. Nyonya Rimple memang sedang sakit tapi dia tidak sekarat. Hanya sakit biasa dan Leysha membuat seolah-olah nyonya Rimple sedang sekarat. Dia tahu dia akan mendapat masalah tapi dia tidak perduli. Dia ingin membantu Gyria yang sudah di anggap adiknya itu.
Leysha kembali ke rumah nyonya Rimple sementara Gyria masuk ke dalam goa. Dia menyusuri goa dengan perlahan agar tidak ketahuan. Di ujung goa sudah terlihat cahaya yang terang. Di dalam goa ada ruangan yang cukup luas. Gyria mengintip. Dia terkejut. Allana sudah di pegangi oleh dua penjaga. Allana tidak sadarkan diri. Di sana ada beta Beck dan Melisa. Ada Luna juga dan beberapa penyihir yang mengenakan baju serba hitam. Gyria sadar mereka sedang mengadakan ritual.
*****
tadariez