Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 10 : Plan



"Ada apa denganmu?"


Pertanyaan itu terus di lontarkan oleh tuan Abe. Dia masih tidak percaya dengan kelakuan anak sulungnya.


"Jawab Arthur!" kali ini dia setengah berteriak.


"Arthur baik ayah."


"Jika kamu baik dan jika dia memang mate-mu, kenapa kamu menyuruhnya pergi?"


"Kenapa Arthur harus menerimanya?"


"Dia mate-mu Arthur, demi tuhan! Kamu memang seharusnya menerimanya!"


"Jangan berlebihan ayah. Mate bukan hal yang penting."


Kata-kata Arthur membuatnya ayahnya melongo tidak percaya. Jika Arthur bukan anaknya, mungkin dia sudah menerkam dan mencabiknya kasar.


"Apa kau sakit nak?" kata tuan Abe akhirnya. Dia sudah tidak tahu harus bicara apa lagi. Arthur mendengus kesal dan berdiri dari duduknya.


"Sudahlah ayah, Arthur tidak ingin membicarakan hal ini lagi. Ada rapat dewan yang harus Arthur hadiri."


Arthur beranjak pergi meninggalkan ayahnya yang mulai marah.


"Rapat Dewan?! Dasar anak kurang ajar! Kamu pikir ayahmu ini tidak tahu jika hari ini tidak ada rapat itu?! Arthur!"


Tuan Abe hanya bisa berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya. Dasar anak keras kepala!


****


Semua berkumpul di perbatasan pack Foykolt. Mereka saling menatap benci. Hanya Allana yang merasa terpojok.


"Uhm... Kalian tidak akan bertarungkan?" tanya Allana. Dari wajahnya terlihat kekhawatiran. Dia takut mereka akan saling terkam.


"Tergantung." "Mungkin."


Dereka dan Gyria menjawab bersamaan. Mereka masih saling menatap marah. Allana menundukkan kepalanya dan menghela nafas kasar.


"Jika kalian bertarung, aku akan sangat marah. Aku... Aku warrior kalian tahu!!" Allana menatap mereka. Dia membuat ekspresi berani di wajahnya. Baik Derek maupun Gyria menatap heran Allana. "Aku warrior! Kalian sendiri pernah bilang, kekuatanku setara dengan alpha dan beta. Kan? Kan? Uhm.. Uhm... Jadi... Aku sudah pernah bertarung dengan alphamu kak, dan pernah berlatih dengan Beck, jadi.. Jadi kurasa kalian tahu bagaimana kekuatanku jika aku marah."


Allana masih menatap mereka dengan ekspresi yang di buat-buatnya.


"Ahh... Jadi sekarang kamu warrior?" Gyria menatap Allana dengan kedua tangan terlipat didepan dadanya.


"Tentu! Kan itu memang yang kalian katakan."


"Tentu kamu memang warrior tapi kamu tahu Allana, jangankan kekuatan alpha dan beta, bahkan kekuatanmu sekarang tidak bisa melebihi pasukan biasa. Dan berhentilah membuat ekspresi seperti itu! Kamu terlihat konyol!"


Gyria mendengus kesal lalu pergi.


"Kami pergi dulu." kata Beck akhirnya.


"Sampai jumpa di latihan berikutnya Allana."


"Dia tidak akan datang." Derek memutuskan. Semua menoleh pada Derek, bahkan Allana menatap tidak percaya.


"Kami tetap akan menunggumu Allana." sahut Gyria dengan nada kesal. Dia sudah sangat kesal pada Derek. Sayangnya dia bukan beta jadi dia tidak bisa berbuat banyak.


Beck dan yang lainnya berubah menjadi serigala dan pergi menjauh.


"Kita juga, ayo kembali."


"Baik beta."


"Apa maksud kakak aku tidak akan datang untuk berlatih bersama mereka lagi?"


"Kamu bisa berlatih bersamaku Allana dan juga bersama anggota dari packku. Alpha Dwaine sudah menyetujui nya."


"Tidak, aku akan tetap berlatih bersama mereka."


"Kenapa begitu?"


"Kak, biarkan saja aku berlatih dengan mereka. Aku ingin mencari tahu tentang ramalan itu dan tentang siapa aku sebenarnya."


"Kamu adalah adikku dan seorang manusia serigala. Apa lagi yang ingin kamu cari tahu?"


"Yang sebenarnya."


"Allana, aku tidak mau sesuatu hal terjadi pada dirimu. Bagaimana jika mereka menyakitimu?"


"Jika mereka memang ingin menyakitiku, kenapa mereka repot-repot ingin melatihku? Lagipula aku baru saja mulai latihan dan mereka tidak akan menyakitiku. Percaya padaku."


"Aku percaya padamu Allana tapi tidak dengan mereka. Bisa saja mereka merencanakan sesuatu."


"Jika mereka memang merencanakan sesuatu untuk menyakitiku atau memanfaatkanku, aku janji, kakak adalah orang yang pertama aku beri tahu. Aku janji akan mengatakan jika ada masalah."


"Aku hanya khawatir."


"Allana tahu itu. Aku kesal pada kakak karena kakak menyembunyikan semua ini dariku. Dari semua anggota keluarga, aku selalu bercerita dengan kakak tapi kakak justru menyembunyikannya. Karena itu aku kecewa. Tapi aku tidak membenci kakak. Allana mau kakak mempercayai hal ini padaku."


"Huft... Baiklah.. Tapi kamu harus berjanji pada kakak, apapun yang terjadi, kamu harus memberitahukan padaku, kamu mengerti?"


"Iya, kak. Aku berjanji."


"Bagus." Derek tersenyum dan mengusap kepala Allana. "Ayo kita pulang. Sudah gelap. Kita berubah menjadi serigala saja."


"Apa? apa harus?"


"Bukannya kamu ingin berlatih menjadi manusia serigala? Berubah adalah latihan paling penting. Meskipun kamu kuat dan pandai bertarung tapi kamu tidak bisa berubah, kamu tetap tidak bisa di katakan manusia serigala seutuhnya."


"Ahh baiklah, baiklah...."


"Lagipula Allana, kita bisa melihat dalam gelap dengan jelas jika berubah menjadi serigala. Kita tidak akan memerlukan lampu. Itu kelebihan manusia serigala."


"Benarkah?"


"Akan aku ajarkan. Tapi... Aku penasaran."


"Tentang?"


"Apa benar alpha itu adalah mate-mu?"


"Akh... Really? Kita benar-benar akan membicarakan itu disini? Sekarang?"


"Aku hanya penasaran All. Apa benar?"


"Entahlah, aku tidak tahu."


"Maksudmu?"


"Ya aku tidak tahu. Dia yang mengatakan aku adalah mate-nya, bukan sebaliknya. Tapi apa iya, jika bertemu mate kita harus mengusirnya begitu saja?"


"Tentu saja tidak. Jika bertemu mate kita akan sedikit...gila."


Allana menatap kakaknya bingung.


"Tapi seharusnya kamu merasakannya juga Al. Jika ada satu laki-laki merasa kamu adalah mate-nya, seharusnya kamu juga merasakan laki-laki itu adalah mate-mu."


"Benarkah? Tapi aku tidak merasakan apapun."


"Sama sekali?"


"Iya. Memangnya apa yang harus aku rasakan?"


"Jatuh cinta."


"Jatuh cinta?! Kakak benar-benar gila! Tidak mungkin aku tiba-tiba jatuh cinta padanya."


"Kamu yakin?"


"Tentu saja. Aku tidak jatuh cinta padanya. Aku.. Biasa saja, tidak merasakan apapun." Allana mencoba meyakinkan. Dia memang terkejut dengan prihal mate ini tapi dia berkata jujur pada kakaknya. Dia memang tidak merasakan apapun.


"Lalu... Bagaimana dengan bau harum sesuatu? Uhm.. Seperti bau mint yang khas atau bau harum yang lain yang hanya kamu yang bisa menciumnya."


"Bau?" Allana terdiam. Dia mencoba mengingat sesuatu. "Tidak ada bau apapun."


"Aneh.. Kamu yakin Al?"


"Tentu saja. Lagipula apa wajah ini terlihat sedang jatuh cinta?"


"Uhm..."


"Ini wajah sedang kelaparan luar biasa. Aku bahkan bisa memakan apapun!"


"Whoaa... Hey ayo cepat kita pergi dari sini, sebelum adikku yang satu ini jadi pemakan segala."


Semua orang tertawa lalu satu persatu dari mereka berubah menjadi serigala, begitu juga Allana.


'Allana, sekarang rubah warna bola matamu'


'Apa? Bagaimana Allana bisa melakukan itu?'


'Al, setiap manusia serigala saat berubah, mereka mempunyai dua warna bola mata. Saat normal mereka akan mempunyai warna bola mata yang sama, hitam. Tapi satu lagi warna bola mata yang di miliki menentukan peran apa yang dia miliki dalam satu pack. Sepertiku, lihatlah.'


Derek memejamkan matanya sejenak lalu membukanya lagi. Bola mata Derek yang awalnya berwarna hitam pekat, kini sudah berubah menjadi berwarna kuning cerah dan bersinar.


'Bola mataku berwarna kuning, menandakan aku adalah beta. Setiap beta di dalam pack, mempunyai warna bola mata sepertiku. Hanya beta. Alpha, omega, gamma dan yang lain mempunyai warna yang berbeda.'


Allana mengangguk mengerti. Dia teringat warna bola mata dari alpha Dwaine saat bertarung dengannya. Bola mata alpha Dwaine berwarna merah.


'Jika dia alpha akan berwarna merah, benarkan? Seperti alpha Dwaine.'


'Benar'


'Lalu... Bagaimana denganku?'


'Warrior biasanya memiliki warna bola mata berbeda. Sebelah berwarna biru sebelah lagi berwarna amber. Bola mata berbeda ciri khas warrior dan mereka juga kuat bahkan melebihi gamma karena mereka di latih untuk bertempur. Mereka seperti kesatria bagi manusia biasa. Tapi berbeda denganmu. Warna bola matamu berubah menjadi putih.'


'Kenapa begitu?'


'Karena kamu adalah warrior berbeda dari warrior biasa. Karena itu mereka meyakini kamu adalah warrior yang disebutkan dalam ramalan kuno pack mereka.'


'Jadi... Benar. Aku memang warrior itu?'


'Masih belum di pastikan. Aku janji akan mencari tahu hal itu. Meski kamu memang warrior itu, tidak akan aku biarkan mereka memanfaatkanmu Al.'


'Apa yang mereka bisa dapat dari manusia serigala pemula sepertiku?'


'Al, jika kamu memang warrior seperti yang ada di ramalan itu, berarti kamu memiliki kekuatan yang lebih besar dari warrior biasa. Kamu memiliki kekuatan setara alpha dan beta. Bahkan aku saja mungkin tidak bisa mengalahkanmu.'


Allana terdiam. Apa benar?


'Beta, sudah waktunya pergi'


Satu serigala mendatangi mereka.


'Baik, mari kita pergi. Ayo Allana, rubah bola matamu.'


'Tapi bagaimana caranya?'


'Rasakan kekuatan?'


'Iya, rasakan. Kamu akan bisa merasakan kekuatan warriormu. Saat kamu rasakan itu, bola matamu akan berubah dengan sendirinya.'


Allana menutup matanya. Dia mencoba berkonsentrasi. Tiba-tiba ada sesuatu dari dalam dirinya. Hangat, sangat kuat dan ingin keluar.


'Apa kamu merasakannya Al? Jika kamu merasakannya, buka matamu.'


Allana masih diam. Dia masih merasakan apa yang dia rasakan saat ini. Ada kekuatan besar yang ingin keluar dari dalam dirinya. Allana membuka matanya. Bola matanya sudah berubah menjadi putih cerah dan terang.


'Bagus Al, kamu sudah ahli.'


Allana melihat sekitar. Sangat jelas. Semua benda maupun hewan terlihat sangat jelas.


'Whoa... Ini... Luar biasa.'


'Akan ada banyak hal luar biasa lagi saat kamu berlatih nanti. Sekarang kita harus pulang.'


Allana mengangguk dan mulai berlari bersama dengan yang lain. Hanya Derek yang masih terdiam di tempatnya.


'Akan banyak yang mengincarmu Al. Aku harap kamu sudah kuat saat itu.'


Derek menghela nafas lalu ikut berlari menyusul Allana.


*****


Arthur duduk di meja kerjanya. Dia melihat beberapa kertas yang di atas mejanya. Sudah setahun ini semenjak Arthur menggantikan ayahnya menjadi alpha di pack, Arthur lebih banyak berdiam di ruang kerjanya. Dia masih sekolah, masih berumur delapan belas tahun, tapi dia juga harus mengurusi pack dan semua bisnis ayahnya. Dia terpaksa menggantikan ayahnya karena ayahnya sudah semakin tua dan beberapa dewan di packnya meminta ayahnya mundur karena dinilai sudah terlalu tua. Ayah dan ibu Arthur baru bisa memiliki Arthur saat usia mereka sudah paruh baya dikarenakan ayah Arthur yang terlalu terobsesi pada pekerjaan dan jabatan alphanya sehingga dia lupa mencari matenya. Karena itu ayah Arthur begitu mendorong Arthur untuk bersama mate-nya agar tidak seperti dirinya.


Tok... tok... tok...


Ketukan pintu tidak membuat Arthur menghentikan pekerjaannya.


"Masuk." katanya sambil masih memperhatikan kertas yang di pegangnya. Suara pintu berderit. Masuk Rome, betanya. Rome menutup pintu saat sudah berada di dalam.


"Anda masih disini alpha."


"Tentu saja. Mau di mana lagi?"


"Ini sudah larut malam alpha, sudah waktunya anda beristirahat."


"Aku baik-baik saja Rome. Bagaimana dengan perbatasan?"


"Semua baik-baik saja alpha."


"Apa ada yang menyerang lagi?"


"Tidak ada alpha, semua normal."


"Baguslah. Aku terlalu lelah untuk mengatasi masalah lagi."


"Sebaiknya anda beristirahat alpha."


"Sedikit lagi Rome. Aku akan menyelesaikan ini, tinggal sedikit lagi."


"Baiklah."


Rome dan Arthur terdiam. Arthur kembali mengerjakan pekerjaannya sementara Rome hanya terdiam menatap Arthur.


"Alpha, apa boleh saya bertanya?"


"Hmm... Tentu saja Rome." kata Arthur tanpa melihat ke arah Rome.


"Tentang mate itu..."


Arthur menghentikan pekerjaannya. Dia tahu siapa yang di maksud oleh Rome. Arthur menatap Rome tidak percaya.


"Yang benar saja. Kamu juga akan seperti ayah? Mencoba membujukku menerimanya?"


"Ti-tidak alpha, bukan seperti itu. Tapi.. Apa anda tidak bisa memikirkannya?"


Arthur memutar bola matanya dan menghela nafas kasar. Dia tidak percaya akan mendengar hal itu dari betanya sendiri yang biasanya selalu menurutinya. Arthur tidak menjawab ucapan Rome dan hanya melanjutkan pekerjaannya.


"Maaf alpha tapi tolong dengarkan penjelasan saya dulu. Saya dengar gadis itu adalah warrior."


"Well yeah.. Bagus sekali dan kalian akan memiliki luna warrior."


"Tapi dia bukan warrior biasa alpha."


"Semua warrior sama Rome. Mereka petarung. Kita banyak memiliki warrior di pack ini."


"Tapi alpha, dia sungguh berbeda. Pack moon Crysort memiliki ramalan. Dan ramalan itu telah di akui oleh beberapa penyihir terkuat dan beberapa pack termasuk pack Lykort."


"Lalu apa hubungannya ramalan pack itu dengan gadis warrior itu?"


"Ramalan itu berkata, akan ada warrior yang berasal dari pack itu dan memiliki kekuatan setara alpha dan beta. Dia adalah warrior terkuat alpha."


"Jadi maksud kamu... Gadis itu adalah warrior ramalan itu."


"Itu yang diyakini para anggota pack moon Crysort alpha. Dan jika memang benar dan warrior itu menjadi luna kita, pack kita akan menjadi kuat. Banyak anggota pack moon Crysort akan bergabung, terlebih meski tidak banyak yang tahu pack itu belum punah, tapi pack moon Crysort terkenal dengan kerja sama mereka dengan penyihir terkuat. Pack yang selalu di lindungi oleh penyihir. Itu akan menguntungkan kita alpha. Anggota pack moon Crysort akan bergabung dengan kita, para penyihir akan memberikan dukungan pada kita dan juga kita memiliki warrior terkuat disisi kita! Itu akan membuat pack kita mendapat tempat di mata raja Kei."


Arthur terdiam. Dia memikirkan semua perkataan Rome.


"Apa kamu yakin dia adalah warrior itu?"


"Masih belum di pastikan tapi saya dengar dari mata-mata kita, anggota pack moon Crysort meyakini bahwa gadis itu adalah warrior itu."


"Hmm.. Begitu... Cara yang bagus. Akan aku pikirkan. Aku sungguh sedang tidak ingin di ganggu dengan mate atau apapun itu. Mate sungguh menyusahkan. Aku tidak ingin terlibat percintaan apapun. Tapi jika itu semua untuk kelangsungan pack, Kenapa tidak? Akan aku lakukan apapun untuk pack ini, meski aku harus berurusan dengan mate itu."


"Alpha, apa anda yakin dia mate anda?"


"Tentu, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Maafkan saya alpha, hanya saja... Anda tidak seperti orang yang telah menemukan mate mereka. Biasa mereka terlihat... Jatuh cinta."


"Jatuh cinta? Cih! Aku tidak mau merasakan itu. Aku juga tidak mau memiliki mate. Seandainya aku bisa memilih, aku ingin tidak memiliki mate. Tapi dia memang benar mateku. Awalnya aku mulai mencium bau yang... Sedikit membuatku gila saat aku menemui mereka tadi. Aku coba dengan sangat keras untuk tidak memperdulikanya. Sulit, tapi aku bisa. Semua baik-baik saja sampai dia mulai berbicara. Aku mulai semakin... Menggila dan aku membenci perasaan itu!"


"Dia memang mate anda."


"Pastikan dia adalah warrior itu. Jika memang sudah pasti dia adalah warrior itu, aku akan menemuinya dan mengklaimnya."


"Jika dia bukan warrior itu?"


"Jangan bodoh Rome, tentu aku tidak akan bersamanya."


"Tapi dia mate anda alpha."


"Berhentilah menjadi seperti ayahku! Kamu mulai menyebalkan sepertinya. Lalu kenapa jika dia mateku? Aku juga bisa hidup tanpanya. Jika memang dia warrior itu, setidaknya dia berguna untuk pack ini. Segera pastikan siapa dia."


"Baik alpha. Saya permisi."


Rome pergi meninggalkan Arthur sendiri. Mate? Cih! Yang benar saja! Tidak akan pernah terjadi!


****


Dua minggu sudah berlalu dan selama itu Allana berlatih bersama Beck dan anggota pack Crysort yang lain. Mereka selalu berlatih sepulang sekolah saat masih sekolah.


"Beck.."


"Hai Melisa, sejak kapan kamu datang?"


"Baru saja."


"Apa bersama Luna?"


"Tidak, aku bersama beberapa omega saja. Seharusnya kamu tahu, bukankah kamu dan Luna mempunyai mindlink khusus?"


"Luna memutuskan mindlinknya. Sepertinya keadaannya semakin parah."


"Luna semakin lemah Beck. Aku tidak tahu apa dia akan bertahan."


"Dia akan bertahan. Luna kita bukan shewolf yang lemah."


"Tapi jika hal yang kita takutkan terjadi, bagaimana?"


"Jangan berpikiran seperti itu."


"Aku tahu tapi kita harus memikirkan yang terburuk yang akan terjadi. Bagaimana dengan warrior itu?"


"Tidak ada kemajuan."


"Benarkah? Bukankah dia sudah lumayan lama berlatih denganmu?"


"Tidak lama. Lagipula waktunya sempit. Kamu tahu dia masih remaja dan bersekolah."


"Benar. Terlebih keluarganya yang mengatur banyak tentangnya."


"Begitulah."


"Lalu di mana dia?"


"Belum datang. Dia masih bersekolah."


"Aku harap dia bisa mengusai kekuatannya secepatnya. Aku takut jika semakin lama, pack ini akan sulit bertahan."


"Jangan terlalu pesimis Mel."


"Aku tidak punya pilihan lain selain pesimis Beck. Kita tahu Luna kita tidak memiliki keturunan dan sekarang Luna sudah sangat lemah. Racun di tubuhnya mulai menyebar."


"Pelankan suaramu Mel, tidak ada yang boleh tahu itu."


"Oleh karena itu, cepatlah buat anak itu siap! Kamu tahu hanya Allana yang bisa membantu Luna dan pack kita kan?"


"Aku sedang mengusahakannya disini. Jangan terlalu terburu-buru atau hasilnya tidak akan baik."


"Masalahnya kita tidak punya banyak waktu!"


"Aku tahu, tenanglah."


Mereka berdua terdiam. Mereka tahu harapan mereka hanya pada Allana. Mereka melihat Allana yang baru saja datang. Allana sedang berbicara pada Gyria.


"Apa kamu yakin dia bisa menjadi warrior itu?"


"Tentu saja. Mungkin dia terlihat lemah, tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu didalam dirinya yang berbeda dan sangat kuat."


"Sesuatu yang berbeda dan kuat? Apa itu?"


"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi aku merasakan hal itu semakin kuat."


"Aku hanya berharap tidak akan terjadi hal yang buruk."


"Aku juga berharap begitu Mel. Meletakkan tanggung jawab sebesar itu di pundak gadis berumur tujuh belas tahun, memang penug resiko."


*****


tadariez