
Allana POV
Aku bersama Jim dan Will duduk di sebuah ruangan. Mirip seperti meja makan tapi laki-laki bernama Ian berkata itu merupakan ruangan rapat. Aku melihat Jim terlihat bingung bahkan Will.
"Apa ini hanya aku atau kita tidak sedang berada di ruang tahta?" Will mulai berbicara. Aku sedari tadi sudah bertanya-tanya kenapa Will yang selalu berbicara belum juga bicara sepatah katapun semenjak memasuki ruangan ini.
"Karena memang ini tentu saja bukan ruang tahta." aku mendengarkan Jim berbicara.
"Aneh. Bukannya biasa raja selalu menerima tamu atau rakyatnya di ruang tahta?"
"Mungkin. Tapi bisa saja tidak, itu tergantung rajanya. Lagipula apa bedanya. Yang terpenting dia menerima kita."
"Menurutmu Allana?" Will bertanya padaku dan hanya aku jawab dengan mengangkat bahuku. Jujur aku tidak begitu merasa aneh atau apapun karena aku tidak tahu tentang itu. Aku tidak begitu suka dengan film atau cerita kolosal. Jadi aku tidak terlalu memperhatikan tentang hal itu.
Satu pintu terbuka, masuk Ian dan dua pemuda lagi. Satu terlihat lebih dewasa, sama seperti Ian. Satu lagi terlihat seumuran denganku. Apa salah satu dari mereka adalah raja itu? Mereka berdua tidak terlihat raja bagiku tapi semua orang menundukkan tubuh mereka hormat, termasuk aku yang tentu dengan kikuk mengikuti mereka. Satu lagi masuk ke ruangan. Kali ini laki-laki paruh baya. Yup, pasti ini raja. Dia terlihat seperti raja bagiku dan semua orang juga menunduk hormat padanya. Apa mereka semua gila hormat?
"Jadi... Kamu adalah warrior itu?" kata pria paruh baya yang ku yakini sebagai raja itu. Aku menunduk patuh dan sangat gugup meski tatapannya sangat ramah.
"Y-ya, yang... Yang mulia. Saya.. Warrior itu. Nam-nama saya Allana Layford."
"Allana. Nama yang cantik. Tapi jangan panggil aku yang mulia. Aku memang alpha disini tapi bukan raja. Anakku yang raja, bukan aku."
Aku bengong dengan indahnya. D-dia bukan raja tapi anaknya? Aku menatap laki-laki yang aku rasa seumuran dengan Ian karena aku tahu Ian adalah beta jadi tidak mungkin dia adalah raja. Jadi aku berasumsi pria itu adalah raja.
"Oh jangan menatapku nona, aku juga bukan raja. Aku hanya beta, Ryan Reynolds."
Jika bukan laki-laki paruh baya dan si Ryan itu berarti...
Aku melihat anak laki-laki yang seumuran denganku yang telah duduk di ujung meja melambai padaku. Dia Raja?!
"Ouh.. Ya.. Aku tahu tatapan itu. Aku paham." kata anak itu. Aku cepat-cepat menundukkan kepalaku.
"Ma-maafkan aku yang mulia." sahutku. Bodohnya aku. Anak itu terkekeh geli.
"Tidak masalah. Aku sudah sering di salah pahami. Aku bisa mengerti. Silahkan duduk."
Semua orang langsung duduk. Aku yang sudah cukup malu duduk dengan gugup dan cukup awakward.
"Kalian.. Terlambat."
"Maafkan kami yang mulia. Ada sedikit masalah di perjalanan kami kesini."
"Itu bukan sedikit." Will mulai berceletuk. Itu orang memang tidak bisa diam. Ada saja yang di bicarakannya.
"Masalah itu membuat kami tertahan."
"Apa kalian baik-baik saja?"
"Kami baik."
"Pantas saja nona Gina tidak bisa melacak kalian."
"Ah iya, di mana adik saya?"
"Oh dia..."
Terdengar pintu terbuka lagi. Aku menoleh kebelakang dan mendapati seorang gadis masuk.
"Jim!"
Jim berdiri dan memeluk gadis itu. Apa itu gadis yang mereka bicarakan tadi? Siapa namanya tadi? Bian?
"Astaga Jim kamu membuatku sangat khawatir."
"Aku tahu. Kami di serang."
"Apa? Apa kamu baik-baik saja?"
"Kami baik nona." aku lihat Will yang menjawab.
"Dia tidak bertanya padamu." Jim menjawab ketus.
"Aku hanya membantu menjawab."
"Aku tidak butuh bantuanmu."
Astaga mereka bertengkar lagi.
"Hentikan itu." gadis itu memukul lengan Jim. "Kalian kembali dengan selamat itu sudah cukup."
"Allana, perkenalkan ini adikku, Gina." Gina mengulurkan tangannya padaku. Aku dengan cepat menyambutnya. Ternyata adiknya. Entah kenapa aku merasa lega. Aku mulai gila.
"Siapa yang menyerang kalian?" Raja itu mulai bertanya.
"Kami rasa pack Crysort dan para penyihirnya."
"Mereka tidak tahu malu."
"Dari mana kalian tahu itu pack Crysort?"
"Allana mengenalinya. Benarkan All?"
"Iya, aku melihat dan mengenali luna dan beta mereka." kataku memastikan.
"Mereka bukan penyihir biasa. Mereka cukup kuat."
"Bukannya kamu sudah terlatih Jim?"
"Memang, tapi tidak mudah Gin. Mereka banyak, serigala dan penyihir. Sementara kami hanya berdua, dan Allana yang tidak bisa merubah dirinya. Jadi kami cukup kesulitan. Terlebih mereka membuat kami tidak bisa berteleportasi atau memanggil penyihir lain."
"Allana, kamu tidak bisa berubah?"
"Iya, alpha." jawabku tertunduk. Aku masih merasa kesal pada diriku sendiri karena menjadi beban saat mereka diserang.
"Itu semua karena Luna itu mengambil setengah jiwa manusia serigalanya." Jim membantu menjelaskan tapi entah kenapa aku masih merasa tidak enak.
"Karena itu aku tidak bisa membantu mereka saat kami di serang, hanya menjadi beban."
"Allana, sudah kami katakan kamu bukan beban kami."
"Tapi tetap saja. Saya juga tidak ingin membebani kalian, terutama anda yang mulia." ya, aku merasa bersalah melibatkan mereka semua. Aku sama sekali tidak berguna.
"Apa.. Kita bisa berbicara? Empat mata."
Aku terkejut. Dia mau berbicara empat mata denganku? Tapi untuk apa? Mungkin dia ingin membujukku atau memberi semangat padaku seperti yang lainnya. Tapi aku sungguh tidak butuh itu.
"Allana?"
Aku tersadar aku belum menjawab pertanyaannya.
"Ah ya, tentu." kataku cepat.
"Kalau begitu ayo, ikut aku. Dan Jim dan juga..."
"William yang mulia."
"William. Sebaiknya di periksa oleh dokter kerajaan. Memastikan apa ada luka atau semacamnya. Temani mereka Ryan."
"Baik yang mulia."
Raja itu mulai berjalan keluar ruangan. Aku dengan kikuk mengikutinya entah kemana. Dia berjalan keluar kastil tanpa berbicara sepatah katapun. Aku juga masih diam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Kita terlihat seumuran tapi entah mengapa di depannya aku terlihat... Seperti bukan siapa-siapa. Yang awalnya terlihat biasa saja sekarang aku melihat perbedaan dia dengan serigala lain.
"Indah bukan?" raja itu mulai berbicara. Dia menunjuk hamparan padang rumput yang tertutup oleh salju. Meski begitu, ya, itu sangat indah. Seperti sengaja di bentuk seperti itu.
"Tidak ada yang membentuknya jika itu pikiranmu. Selama musim dingin dan turun salju, dia membentuk seperti itu. Hanya bagian atas rumput saja sisa-sisa salju terlihat. Di bagian bawahnya bahkan tidak tersentuh salju dan musim semi akan ada bunga yang menutupi rumput-rumput itu, seperti padang bunga."
Astaga aku bahkan tidak menyadari ini musim dingin. Aku mulai merasakan dingin yang menusuk ketubuhku.
"Apa terasa dingin?" Raja itu ternyata memperhatikanku sedari tadi. Dia membuka jaket yang di kenakan. Lalu menyerahkannya padaku.
"Ti-tidak perlu yang mulia."
"Tak apa. Aku baik-baik saja. Aku masih serigala seutuhnya kau tahu. Aku tidak akan kedinginan."
"Terima kasih yang mulia."
"Kei. Panggil saja aku Kei. Kurasa umurku hanya setahun lebih tua darimu."
Kei, itu namanya. Kami masih berjalan, kali ini kami berada disisi hutan.
"Apa susah? Maksudku menjadi warrior yang di takdirkan oleh ramalan dan terkuat?"
"Bahkan saya tidak tahu jika saya manusia serigala."
"Benarkah?"
"Iya, seluruh keluarga saya adalah manusia serigala. Mereka menutupi siapa mereka sampai saya memergokinya."
"Dan saat itu kamu belum menjadi manusia serigala?"
Aku hanya menggeleng lemah.
"Lalu... Bagaimana rasanya menjadi manusia serigala?"
"Terkejut awalnya. Tapi semakin lama semakin terbiasa. Bahkan sekarang rasanya aneh tidak menjadi manusia serigala lagi."
"Kau masih manusia serigala Allana. Aku bisa melihatnya."
"Yeah, mungkin."
"Kamu mirip dengan Zach."
"Zach?"
"Yup. Dia juga baru mengetahui jika dirinya manusia serigala. Tapi itu cukup normal mengingat ibunya manusia biasa."
"A-apa bisa manusia serigala bersama dengan manusia biasa?" aku cukup terkejut. Selama ini yang aku tahu mate manusia serigala hanya dengan manusia serigala juga.
"Tentu saja bisa. Mateku juga manusia biasa."
"Anda... Sudah memiliki mate?" kini mataku terbelalak. Tapi dia umurnya hanya setahun lebih tua dariku. Cepat sekali.
"Tentu. Tania. Dia juga otomatis seorang ratu."
Raja itu duduk di sebuah batang kayu dan mempersilahkanku duduk di hadapannya, di batang kayu yang mati juga. Kami terdiam kembali. Seketika aku rindu keluarga dan teman-temanku. Aku tertunduk.
"Menakutkan ya?"
Aku mengangkat kepalaku dan menatap Kei.
"Menjadi manusia serigala, memiliki kekuatan luar biasa, dan menjadi harapan orang banyak."
Aku terdiam. Tidak menjawabnya. Baru benar-benar aku sadari. Ya, pack Crysort memang sedang di ujung tanduk. Terlebih bagi mereka yang setia. Tentu ingin pack mereka pulih, mereka sudah putus asa. Terlebih banyak yang menghindari menerima mereka masuk ke pack lain karena pack Crysort dianggap pack terkutuk. Aku bisa mengerti sekarang kenapa mereka bersikap seperti itu. Tapi... Apa mereka tidak bisa setidaknya bermusyawarah dulu denganku? Apa harus melakukan hal itu padaku? Apa hanya itu satu-satunya cara?
"Aku tidak menyalahkanmu jika kau ketakutan. Karena aku juga begitu dulu. Menjadi musuh bagi pamanku sendiri, memiliki kekuatan dan tanggung jawab yang luar biasa padahal waktu itu usiaku saja belum tujuh belas tahun. Musuhku juga banyak."
"Apa kamu juga memiliki kekuatan setara alpha dan beta sepertiku?" aku memberanikan diri bertanya. Tapi dia malah tersenyum geli.
"Lebih parah. Aku memiliki monster di dalam tubuhku!"
"Mo-monster?!" aku menyadari aku setengah berteriak tadi. "Ma-maaf.."
"Tidak masalah. Anggap saja kita teman."
"Tapi.. Anda adalah raja."
"Lalu? Kita sedang tidak di dalam situasi yang resmi Allana. Tidak masalah. Bahkan betaku saja kurang ajar terhadapku."
Aku menatapnya bingung. Beta kurang ajar? Kakakku juga beta tapi dia terlihat sangat menghormati alphanya.
"Kami semua keluarga. Jadi jika tidak ada hal yang resmi, kami bersikap selayaknya keluarga."
"Tapi apa kamu... Maksudku anda benar-benar memiliki monster? Monster apa?"
"Kami menyebutnya Lycan. Monster itu sudah ada di dalam diriku semenjak aku lahir. Sudah di turunkan secara turun menurun. Tapi ayahku tidak memilikinya begitu juga dengan kakakku. Hanya aku. Yang memiliki sebelumnya adalah kakekku."
"Apa monster itu kuat?"
"Sangat dan aku tidak bisa mengendalikannya. Well itu dulu. Bahkan demi mengendalikannya aku harus membunuh mateku dengan tanganku sendiri."
Aku semakin terkejut.
"Jadi... Jadi sang ratu... Mati?"
Raja.. Lycanthrope? Alpha dari segala alpha? Apa maksudnya itu? Tadi di ruangan itu ada ayahnya yang juga alpha tapi yang jadi raja anaknya. Astaga sangat membingungkan.
"Rumit? Ya aku tahu." Kei tertawa. Dan aku baru menyadari betapa tampannya dia. "Alpha adalah pemimpin tertinggi di sebuah pack. Aku adalah alpha dari segala alpha yang artinya aku pemimpin dari para alpha itu, termasuk ayahku. Raja Lycanthrope artinya aku raja dari seluruh manusia serigala."
"Jadi packmu.."
"Pack seluruh dunia adalah packku Allana. Karena itu aku bersedia membantumu. Karena itu tugasku. Aku bahkan tidak tahu jika pack Crysort masih ada. Sedari aku kecil aku selalu di ceritakan bahwa pack itu telah punah berpuluh tahun silam. Jadi bisa kamu bayangkan bagaimana menakutkan semua itu untuk anak sepertiku."
Aku bahkan tidak bisa membayangkan semua itu.
"Jadi Allana... Jangan menyerah. Akan ada jalan keluar dari semua masalah ini. Jadi jangan khawatir. Pack Lykort adalah pack terkuat, jadi kamu akan aman disini. Tapi.. Aku tidak akan ada disini, itu masalahnya. Aku akan ada di kota CivileHill. Aku bersekolah di sana, tidak disini. Jadi pilihan ada di tangan kamu, ingin ikut aku ke kota CivilHill atau tinggal disini. Aku akan mengirimkan gamma terbaikku untuk menjagamu. Setidaknya sampai kita temukan jalan keluar."
"Tapi... Aku akan menyusahkan."
"Tidak sama sekali Allana. Aku punya kewajiban sebagai pelajar tapi aku juga punya kewajiban sebagai raja. Jadi meski aku berada disana aku akan tetap mengurus masalah ini. Jangan khawatir. Jadi... Kamu mau disini atau ikut denganku, itu adalah pilihanmu. Pikirkan baik-baik."
Aku mengangguk pelan. Aku juga tidak tahu harus bagaimana.
*****
Kei dan Allana berjalan kembali ke kastil. Di perjalanan kembali, mereka bertemu dengan Ian.
"Ini." Ian menyerahkan selimut tebal pada Allana. Allana masih bengong dan belum mengambil selimut itu dari Ian. "Kamu pasti kedinginan gara-gara raja satu ini."
"Te-terima kasih."
"Kenapa lagi denganku?" protes Kei.
"Apa kamu tidak lihat betapa dinginnya di luar sini? Dia bukan manusia serigala Kei, dia pasti kedinginan. Lagipula, apa di kastil kehabisan ruangan sampai-sampai memilih di luar seperti ini."
"Lihatkan Allana, beta kurang ajar. Dia sama sekali tidak menghormatiku. Dan dia sangat cerewet, menyaingi ibuku sendiri."
"Jangan mengalihkan pembicaraan." geram Ian.
"Aku tidak mengalihkan pembicaraan. Itu kenyataan." Kei melangkah pergi.
"Maafkan raja kami yang gila itu."
"Aku dengar itu!!"
Ian dan Allana tertawa.
"Abaikan dia. Jadi bagaimana? Kau ikut dengan kami?"
"Kamu... Akan pergi juga?"
"Tentu, raja gila itu adalah alphaku, aku harus ikut kemana pun dia pergi. Tapi di kota CivilHill ada mateku, jadi.."
"Ahh... Aku mengerti. Sepertinya kalian sudah memiliki mate."
"Apa kamu belum?"
"Tidak, belum."
"Kau akan menemukannya nanti, tenang saja."
"Yeah aku tahu."
Salah satu manusia serigala perempuan mendatangi mereka dan menawarkan Allana untuk mengantarnya ke kamarnya. Allana mengikuti wanita itu dan pergi.
"Jadi.. Apa rencanamu Kei?" tanya Ian sepeninggal Allana.
"Entahlah, aku bingung. Aku ingin bertemu Bian untuk mengatasi ini tapi mereka tidak mengijinkanku. Sepertinya ada sesuatu."
"Aku juga merasa begitu."
"Tapi Gina berkata mereka akan mencari tahu. Para elder maksudku. Kita disuruh menunggu. Aku harap dia ikut kita selama kita menunggu kabar dari Elder."
"Kau yakin? Tania tidak akan marah?"
"Akan aku beritahu yang sebenarnya pada Tania. Hanya saja dia tidak terlihat warrior yang memiliki kekuatan setara alpha dan beta bagiku. Dia terlihat... Lemah. Terlebih dia baru saja menjadi manusia serigala. Banyak yang dia tidak tahu. Seandainya dia masih memiliki jiwa serigalanya. Mungkin kita bisa melatihnya menjadi apa seharusnya dia. Dan selanjutnya tinggal mengembalikan sepenuhnya jiwa serigalanya."
"Bagaimana jika membangkitkannya?"
"Membangkitkannya?"
"Kau tahu, menyudutkannya, memaksanya untuk berubah. Seperti dulu kamu memaksa Zach menggunakan kekuatan alpha murninya."
"Itu berbeda Ian."
"Tapi mungkin bisa kita coba. Ayolah Kei, kau adalah raja. Pemimpin para serigala. Itu patut di coba."
"Huft... Baiklah. Tapi aku tidak yakin akan berhasil. Tapi kau benar. Itu patut di coba."
"Yang mulia!! Yang mulia!!"
Kei dan Ian menoleh ke arah suara yang cukup keras itu.
"Astaga Jason. Apa tidak bisa tidak berteriak? Menyakiti telingaku."
"Ahh..hehhehe maaf.. Tapi kami baru saja mengejar satu serigala yang berusaha masuk ke Lykort."
"Serigala? Manusia serigala maksudmu?"
"Ya, itu."
"Apa kalian menangkapnya?"
"Iya beta."
Kei dan Ian saling menatap sejenak.
"Bawa aku pada serigala itu."
"Aku bisa membawanya kemari."
"Tidak Jason. Biar aku yang kesana."
"Baik yang mulia."
Jason, Kei dan Ian langsung berubah menjadi serigala berlari ke perbatasan. Mereka berlari cepat sehingga sampai dengan cepat. Kei melihat satu serigala di sana. Diam dan tampak ketakutan, bahkan tidak meruba dirinya menjadi manusia. Kei mendekati serigala itu.
"Siapa kau?"
Serigala itu tidak menjawab, hanya menatap takut.
"Aku bertanya, siapa kau? Tidak ada yang berani masuk kemari kecuali para rogue. Apa kau rogue?"
Serigala itu tiba-tiba merubah bola matanya menjadi biru terang.
"Dia gamma Kei, berarti dia memiliki pack."
"Kau...gamma. Katakan siapa kamu dan packmu."
Seriala itu masih diam. Kei mulai kehabisan kesabaran dan merubah bola matanya menjadi merah pekat untuk mengintimidasi serigala itu. Serigala itu semakin takut.
"Aku aja Lycanthrope, alpha dari segala alpha, memerintahkanmu untuk menjawab pertanyaanku. Kamu memasuki wilayahku, gamma. Jangan sampai aku merubah diriku menjadi monster Lycan. Kau akan menyesal nanti."
Serigala itu berubah menjadi manusia. Dia seorang gadis dan mulai gemetar ketakutan.
"Kei, sepertinya tadi itu berlebihan."
"Aku juga berpikir begitu. Akkh... Sial!"
"Kau harus bertanggung jawab."
"Hei, aku bahkan tidak melakukan apapun!"
"Kau mengancamnya tadi. Benarkan Jason?"
"Setuju."
"Tapi aku..Akhh!! Baiklah, baiklah. Bisa-bisanya raja disuruh suruh."
Ian dan Jason tertawa geli sementara Kei sudah merubah dirinya menjadi manusia.
"Jawab pertanaanku. Kenapa kamu memasuki wilayah ini? Kamu gamma, dari pack mana?"
"Sa-saya.. Saya.."
"Tenang saja nona, raja ini sudah jinak." celetuk Jason. Kei menggeram kesal.
"Dan sudah di suntik rabies." sambung Ian. Kei semakin kesal dan cemberut.
"Jangan dengarkan kedua orang aneh itu. Tapi kamu benar-benar harus menjawab."
"Saya..saya mencari Allana."
"Allana?" Kei dan Ian saling pandang.
"Untuk apa kamu mencarinya? Dan bagaimana kamu tahu dia ada disini?"
"Aku temannya. Aku tidak sengaja mendengar percakapan keluarga mereka jika Allana akan di pindahkan kemari."
"Lalu...dari pack mana kamu?"
"Crysort. Saya dari pack Crysort."
Tiba-tiba semua orang menggeram marah. Bahkan yang masih berwujud serigala bersiap untuk menyerang.
"Hei hei hei.. Tenang.. Tidak ada yang menyerang. Ini perintah." Kei melarang mereka. Dia menatap gadis itu.
"Allana di terima disini yang artinya aku telah mengetahui masalah kalian dan kau berani kemari?"
"Aku hanya.. Saya.. Saya hanya ingin membantu."
"Tunggu, kenapa sekarang aku bingung?" gumam Kei.
"Uhmm... Sepertinya aku juga bingung."
"Bahkan aku yang biasanya jenius, juga bingung."
"Jason, sebaiknya kau diam saja." protes Ian.
"Apa? Itu benar."
"Kau tadi bilang kamu temannya Allana bukan?" tanya Kei. Gadis itu mengangguk. "Siapa namamu? Allana akan mengkonfirmasi apa kamu benar temannya atau tidak."
"Gyria, nama saya Gyria. Tapi..." Gyria tidak melanjutkan perkataanya.
"Tapi apa?"
Gyria terdiam dia tidak menjawab. Tiba-tiba Gyria bersujud pada Kei.
"Maafkan saya yang mulia. Saya tidak bermaksud mengganggu anda."
Kei terkejut.
"H-hei! Tunggu dulu. Apa yang kau--"
Kei terdiam. Gyria sudah mengubah posisi sujudnya menjadi duduk di atas kakinya. Kei melihat tulisan yang dibuat Gyria di tanah. Awalnya dia bingung tapi akhirnya dia mengerti.
"Kei... Itu kan.." Ian berkata melalui mindlink alpha beta mereka.
"Di perintah? Maksudnya... Ada yang menyuruhnya kemari? Tapi siapa?"
"Jadi bagaimana Kei?"
"Kita tahan saja dia lalu kita cari tahu ada apa."
Ian mengangguk.
"Bawa dia! Kurung dia di penjara."
"Baik yang mulia."
Dua penjaga menarik tangan Gyria dan membawanya.
******
Tadariez