Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 49 : a kiss?



"Apa kau yakin dia akan datang?" tanya Allana. Ini sudah kesekian kalinya dia bertanya. Mereka sudah menunggu hampir dua jam, tapi tanda-tanda kedatangan orang yang akan membantu mereka tidak juga ada. Jim tidak menjawab. Dia hanya menghela nafas kesekian kalian.


"Maafkan aku. Apa kalian menungguku terlalu lama?" kata seseorang membuat Allana dan Jim menoleh. Mereka melihat seorang pria yang baru saja datang dan... basah kuyup?


"Ada apa denganmu?" tanya Jim. Dia mendatangi pria itu.


"Basah. Kaum hitam."


"Kaum hitam? Apa yang kamu lakukan dengan kaum hitam?"


"Well kami hanya berenang lalu berjemur sambil minum teh."


"Sangat lucu." ironi Jim.


"Kami bertarung tentu. Pertanyaan macam apa itu? Apa kamu lupa kita sedang bermasalah dengan mereka?"


"Aku rasa asal kita tidak mengganggu mereka, mereka juga tidak akan mengganggu kita."


"Astaga Jim, kamu terlalu naif. Aku hanya ingin mencari sesuatu dari mereka. Penting, untuk yang terpilih."


"Aku rasa lebih tepatnya kamu mencuri dari mereka. Dan jangan bawa nama Bian. Dia tidak pantas di sebut olehmu."


"Hei! Dia temanku! Ohh still jealous, do you? Kita tahu kita berdua tidak mendapatkan hatinya. Berhentilah mencurigaiku! Aku benar-benar hanya membantunya, bersama adikmu."


"Gina? Apa yang kamu lakukan dengannya?"


"Membantu yang terpilih. Jika kamu tidak percaya, tanyakan saja pada adikmu. Aku baru memeriksa ponselku. Aku langsung kemari setelah membacanya. Apa ada masalah? Kenapa kalian berubah lokasi terus menerus. Aku membaca setidaknya ada lebih dari lima lokasi. Dan siapa dia?" pria itu menunjuk Allana.


"Aku butuh bantuanmu." ucap Jim akhirnya.


"Bantuan apa?"


"Sebelum itu, perkenalkan, ini Allana. Allana ini James Collins. Dia elder juga sepertiku." Jim memperkenalkan.


"Hai, Allana." sapa James. Dia mengulurkan tangannya. Allana yang sedari tadi hanya diam membalas uluran tangannya.


"Hai."


"Oke, sekarang katakan ada apa?"


Jim menceritakan panjang lebar luas volume tentang apa yang terjadi, siapa Allana sebenarnya dan rencana mereka.


"Jadi... Kalian ingin aku mengubahnya?" James memastikan. Jim mengangguk.


"Benar. Apa bisa?"


"Bisa tentu. Aku pernah melakukannya sebelumnya. Tapi apa kamu yakin ini hal yang benar?" tanya James lagi.


"Tidak ada jalan lagi, James. Kemanapun gadis ini pergi, mereka akan menemukannya."


James mengangguk. "Baiklah. Akan aku lakukan. Tapi biar aku mengeringkan diri dulu. Aku sudah mulai menggigil."


Jame membaca mantra sambil mengibaskan tangannya ke depan tubuhnya. Pakaiannya kering seketika. James mengacak rambut pirangnya. Allana menatap sejenak lalu memalingkan wajahnya. Dia merutuki dirinya. Pasti tadi dia terlihat seperti orang bodoh saat terpesona menatap James. Kenapa semua penyihir tampan dan seksi? Sial!


Allana menunduk dan masih merutuki dirinya.


"Hei... Kamu baik-baik saja?" tanya James yang melihat perubahan wajah Allana. Jim menoleh dan menatap Allana.


"Hm? Oh.. Baik.."


"Kau yakin? Kamu tidak terlihat baik. Pipimu... Merah." Jim menunjuk wajah Allana. Allana menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"A-aku baik-baik.. Saja."


"Jadi... Wajah apa yang kamu inginkan?" tanya James.


"Well... Aku.. Tidak tahu. Gadis random?" jawab Allana.


"James, aku memintamu mengganti wajahnya dan menutup baunya, bukan menjadi orang lain yang sudah ada."


"Okay baiklah, baiklah. Aku akan merubahmu menjadi tipe idealku saja." James tersenyum.


"Lalu kau akan jatuh cinta padanya?" tebak Jim.


"Kamu mau menjadikanku pedofilia? Kamu bilang dia masih tujuh belas tahun. Aku belum gila." James terdiam sejenak menatap Allana. Dia tampak berpikir. Allana yang di tatap seperti itu mulai gugup dan salah tingkah. James yang mengetahui itu tersenyum kecil.


"Berhentilah menggodanya dan cepat! Kita harus berpindah tempat lagi."


"Kemarilah." kata James pada Allana. Allana menurut dan mendekati James. James memegang pundak Allana. "Jangan gugup, Al. Yang akan aku lakukan, murni hanya untuk mengubahmu. Jadi jangan salah paham. Karena hanya dengan cara itu, kamu akan berubah sempurna. Fisikmu, auramu, bahkan baumu. Kamu mengerti?"


Allana mengangguk meskipun dia tidak mengerti apa yang akan James lakukan.


James semakin mendekat dengan Allana. Lalu sedetik berikutnya... James mencium bibirnya. Mata Allana membulat sempurna karena terkejut. Jim saja melongo dengan indahnya. James melepaskan ciuman. Dia menatap Allana membeku di tempatnya.


"All? Allana... Hei... Bernafas... Perlahan." James menyadarkan Allana.


"Kamu benar pedofilia ternyata!" kata Jim setengah berteriak.


"Enak saja. Dari semua pengalamanku, hal itu sangat manjur dan mantranya tidak bisa di balik."


"Kau! Sungguh memalukan."


"Benarkah? Lihatlah dia!" James menunjuk Allana. Jim menoleh pada Allana. Jim terkejut melihat Allana sudah berubah menjadi orang yang berbeda. Jima menatapnya dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Benar-benar ajaib!


"Tapi bagaimana... Bagaimana bisa?"


"Aku pernah melakukan itu sebelumnya, dengan Bian."


"Kau menciumnya?!" pekik Jim.


"Astaga tenanglah! Paman memintaku untuk merubahnya sempurna. Jadi aku melakukan itu. Hei kita berbeda! Aku melakukannya karena perintah, sementara kamu karena kamu menyukainya! Kamu pikir aku tidak tahu kamu pernah menciumnya?" James menggeleng.


"A--well itu--"


"Sekarang tinggal cari tempat kan? Aku rasa aku tahu dimana tempat yang tepat. Ayo!" ajak James.


"Kau ikut?" Jim bingung.


"Apa kalian sudah memiliki tempat? Jangan katakan kamu akan menempatkan dia di tempat lama."


"Tidak, tentu tidak."


"Kau ingin dia berlatih kan? Aku tahu tempatnya. Aku mengenalnya dan packnya. Apa kalian mau coba?"


Jim dan Allana saling menatap sejenak.


"Bagaimana menurutmu Al?" tanya Jim pada Allana.


"Patut di coba. Memangnya ada di mana? Apa jauh?" tanya Allana.


"Cukup jauh. Kampung halamanku, inggris." jawab James membuat kedua orang didepannya melongo.


"Itu jauh sekali!"


"Well memang. Tapi pack itu terkenal dengan warrior yang sangat kuat. Mereka bisa melatihmu. Kamu harus segera bisa menyeimbangkan luna itu."


Allana tampak berpikir lalu tak lama dia mengangguk. "Baiklah! Semakin jauh lebih baik. Jadi orang terdekatku akan aman."


"Tentu. Kita pergi sekarang?" James mengulurkan tangannya. Allana mengangguk dan menggengam tangan James. James mengulurkan tangannya juga pada Jim.


"Tidak, terima kasih. Aku memegang ini saja." kata Jim sambil meremas baju bagian lengan milik James. James memutar bola matanya.


Setelah beberapa lama, mereka sampai di depan sebuah rumah megah. Mansion lebih tepatnya. Mulut Allana terbuka lebar melihat mansion itu. Baru pertama kali dia melihat rumah semegah itu. Bukan kastil, melainkan sebuah rumah.


"Kau yakin kau mengenal pemilik rumah ini?" bisik James.


"Tentu saja."


"Lalu kenapa kita masih berdiri disini?"


"Kau ini! Sangat tidak sabaran!"


Sebuah mobil sport masuk ke dalam perkarangan depan mansion. Semua orang menoleh pada mobil itu. Lalu keluar satu pria berumur sekitar tiga puluhan turun dari mobil itu. Pria itu berpostur sempurna dibalut suit mahalnya. Rambut hawk yang tertata rapi dan ada janggut tipis di wajahnya. Pria itu membuka kaca matanya.


"James?" panggil pria itu dengan suara baritonnya.


"Hai, Ed." James mengulurkan tangannya dan disambut oleh pria bernama Ed itu. "Ini Jim, teman penyihirku dan ini Allana, manusia serigala."


"Hmm... Aku bisa mencium baunya. Ayo masuk." Ed berjalan masuk ke dalam mansion diikuti James, Jim dan Allana.


"Jadi maksudmu, kamu ingin dia tinggal di pack dan berlatih bersama warrior terlatih di pack?" tanya Edward setelah James menjelaskan situasinya.


"Iya, apa boleh?"


"Hmmm... Mungkin. Aku rasa."


"Kenapa tidak yakin?" kali ini Jim yang bertanya.


"Aku tidak mengurusi pack. James tahu itu. Ini rumah pribadiku dan pack? Agak jauh dari sini. Kalian langsung ke pack saja dan bicara pada ayahku." kata Edward.


"Setidaknya aku ingin minta ijinmu."


"Ayolah James, kamu tahu aku tidak mengurusi pack." Edward menggulung lengan bajunya. "Aku mengurusi perusahaanku."


"Tapi kamu calon alpha, Ed. Astaga! Kamu anak tertua!"


"That god damn heir! Aku tidak mau menjadi alpha. Mengurus perusahaanku saja sudah sulit."


"Baiklah, baik. Apa Allana di terima? Dengan rekomendasimu akan sangat bagus."


Ed menghembuskan nafasnya. "Oke, aku akan menelepon ayahku. Dan kau nona kecil, apa kamu siap berlatih dengan mereka? Latihan mereka keras." tanya Ed pada Allana. Allana menatap James dan Jim yang juga menatapnya.


"Hmm aku siap."


Ed tersenyum dan mengangguk. "Baguslah."


Allana menatap satu persatu pria yang duduk bersamanya. Astaga dia baru saja sadar. Dia dikelilingi oleh para dewa yunani.


Edward menutup telponnya. Dia baru saja selesai menelpon ayahnya.


"Kalian bisa ke pack. Ayah setuju untuk membawa Allana masuk ke dalam pack, begitu juga dengan para warrior."


"Tunggu, rumah ini bukan pack?" tanya Jim bingung.


"Bukan. Ini rumah pribadiku. Rencananya ayah juga akan memperluas packnya kemari. Dia sangat memaksa ingin memasukkan aku ke dalam pack." Ed meminum wiskinya.


"Tentu saja. Kamu anak tertua." James mengelengkan kepalanya.


"Tuan. Ada paket." kata salah satu pelayan Edward.


"Paket?"


"Ya, untuk nona Allana."


Semua orang menatap Allana.


"U-untukku?" tanya Allana yang juga tampak kebingungan. James dan Jim menatap Allana.


"Dia masih dalam wujud samarannya, kenapa ada paket untuknya?" tanya Jim di sambut gelengan kepala James. James mengambil paket itu lalu membukanya. Dia melihat gagang pedang. Hanya gagangnya saja. James mengambil gagang itu.


"Apa-apaan ini?" tanya James. Jim mengambil gagang itu lalu mengamatinya. Jim menyerahkan ke pada Allana. Allana memegang gagang pedang itu dan tiba-tiba keluar mata pedangnya. Semua orang terkejut.


"Itu pedang untuk Allana. Hanya Allana yang bisa mengeluarkan mata pedangnya." Jim memegang pedang itu dan benar saja. Mata pedang itu kembali menghilang. Jim melihat sebuah tulisan di gagang pedang itu.


"Apa arti tulisannya?" tanya James. Jim menggeleng.


"Ini... Bahasa kuno."


"Biasanya benda-benda seperti itu hanya akan berada di kuil para manusia serigala kan? Kuil MoonGoddess. Dan ada lagi." James mengeluarkan sebuah kalung dari kotak paket. "Ini adalah kalung yang pernah dikenakan Kei dan Zach. Ini juga seharusnya ada di kuil."


"Tapi ini semua ada disini. Berarti..."


"Bian." kata James. Semua orang menoleh padanya. "Ini semua Bian yang mengirimkannya. Hanya Bian yang bisa masuk ke kuil dan membawa benda-benda ini keluar. Dan satu lagi, hanya dia yang tahu dimana Allana."


"Bian? Yang terpilih?" tanya Allana. James mengangguk.


"Iya, apa kamu pernah bertemu dengannya?"


"Dia yang membangkitkan sisa jiwa serigalaku."


"Hmm dia. Seharusnya tadi dia titip padaku saja."


"Kamu bertemu dengannya?" tanya Jim.


"Tentu saja. Aku sudah bilang tadi mengambil sesuatu untuk yang terpilih. Tentu saja bersamanya. Hanya dia yang tahu benda itu."


"Bagaimana keadaannya? Aku dengar tidak baik." tanya Jim.


"Jika kamu khawatir, temui saja dia." James menggeleng heran.


"Kalian... Kenal yang terpilih?" tanya Ed.


"Tentu. Ahh benar! Aku diberi tahu para manusia serigala dari pack Kei. Bian adalah mate-mu kan?"


"Apa?" Jim dan Allana terkejut.


"Bian adalah mate dari Edward. Apa kamu bertemu dengannya?" tanya James. Edward berdehem.


"Bukan kah kalian harus pergi ke pack. Ayo, aku akan mengantar ke mobil. Aku sudah meminta sopir untuk mengantar kalian." Edward berdiri dan menghindari pertanyaan James. Mereka bertiga beridiri dari duduknya dan menuju ke mobil yang telah disiapkan.


"Terima kasih.," ucap Allana pada Edward.


"Tentu saja. Semangatlah!"


Allana mengangguk lalu masuk ke mobil. Jim juga ikut masuk.


"Terima kasih bro!" James menepuk lengan Edward.


"Tentu, anytime."


"Apa kamu ingin bertemu dengan Bian? Atau mungkin... Nomor telponnya?" tawar James.


"Sana masuk!" Edward mendorong tubuh James masuk kedalam mobil lalu menutup pintunya.


"Kau tahu, Ed. Godaan mate itu luar biasa!" goda James. Edward hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar gila!"


...***...