Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 35 : I Will Take Care Of Her And Protect Her



"Hei, kau tahu dari mana?" tanya Ted lagi. Serigala hitam itu berbalik arah lalu melolong keras dan pergi dari mereka. 


"Dia akan lolos." Renald ingin menghentikan serigala hitam itu.


"Tidak! jangan! Apa kau suda gila?" Ted menahan lengan Renald. Renald menghela nafas panjang sambil masih menatap serigala hitam itu. Tak lama beberapa serigala mengikuti kemana serigala hitam itu pergi.


"Mereka... Rogue."         "Rogue."


Renald dan Ted mengatakannya bersamaan. Mereka saling menatap ngeri. Renald lalu berlari menuju tempat pertempuran tadi. Tidak ada siapapun kecuali para warrior dan mayat-mayat serigala. Para warrior tidak membiarkan satu rogue pun hidup. Tak lama para warrior menatap Renald dan Ted lalu menggeram kasar bersamaan.


"Oh tidak lagi... uhm... kami bukan--"


"Saya Renald Gerard Volkov, alpha dari pack Zykolt!" pekik Renald tiba-tiba. Bahkan Ted pun terkejut Renald tiba-tiba berkata seperti itu.


Harold maju kedepan sambil menggeram keras pada Renald. Para warrior tidak percaya padanya. Mereka bahkan belum merubah diri mereka menjadi manusia, mereka masih bersiap untuk bertempur. Renald heran melihat itu. Karena sejauh yang Renald lihat, tubuh mereka penuh dengan luka bahkan beberapa terlihat cukup parah tapi mereka tetap akan bertempur. Renald menghela nafas lalu merubah dirinya menjadi serigala. Renald menggeram pelan lalu merubah bola matanya dari coklat menjadi merah terang, menandakan dia alpha.


"Aku tidak berbohong pada kalian. Aku adalah alpha, dari pack Zykolt. Dia betaku, Ted."


"Anda datang dari tempat yang sangat jauh alpha. Apa ada sesuatu atau hanya lewat?" tanya Harold.


"Sesuatu yang membawaku kemari, meski aku tidak menginginkannya."


"Sesuatu? tidak mungkin. Anda tahu tempat apa ini?"


"Jika aku tidak salah, kuil moon goddess."


"Sepertinya anda sangat mengenal tempat ini."


"Sangat mengenal tidak, tapi aku di beri petunjuk tentang tempat ini berada." Renald merubah dirinya menjadi manusia.


"Petunjuk?" Harorld juga berubah menjadi manusia. "Petunjuk apa... tepatnya?"


"Sebuah bunga."


"Sebuah bunga?"


Satu warrior yang juga telah berubah menjadi manusia mendekati Harold dan memberikan sepasang pakaian padanya. Ted yang menyadari itu, melepaskan jaketnya lalu membalutkan jaket yang dikenakannya ke pinggang Renald, karena Renald benar-benar telanjang bulat.


Harold memerintahkan satu warrior lagi untuk memberikan Renald sepasang pakaian juga. Taklama baik Harold, Renald dan para warrior lain sudah mengenakan pakaian.


"Akhirnya mataku tidak sakit lagi." komentar Ted.


"Sekarang jelaskan pada saya alpha, bunga apa yang membawa kalian kemari?"


"Apa kalian mengenal bluemoon?" tanya Renald membuat Harold cukup terkejut.


"Dari mana anda mengetahui bunga itu? dan jika benar bunga bluemoon yang membawa kalian kemari, lalu di mana bunga itu?" Harold seperti tidak sabaran.


"Aku... saya..."


"Benar juga, aku tidak melihat bunga itu sejak kita sampai disini." Ted berkomentar lagi. Renald menatap kesal Ted.


"Sangat tidak membantu." bisik Renald. Renald beralih menatap para warrior. "Bunga itu... entah di mana."


Harold diam menatap Renald. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya


"Jangan diam saja Harold. Kita beri saja mereka pelajaran. Mereka mengetahui bunga itu dan jika apa yang mereka katakan itu benar, bahwa mereka memiliki bunga itu, berarti mereka mencurinya. Kita harus tindak mereka."


"Wooo... wooo... wooo... tunggu dulu. Kami tidak mencuri apapun." Ted dengan cepat menyanggahnya.


"Dari mana kami tahu yang kalian katakan itu benar?!" sahut Kevin.


"Kami hanya manusia serigala biasa. Meski aku alpha, aku tetap manusia serigala biasa dan aku tidak akan bisa masuk ke dalam wilayah kuil meski aku ingin. Dan aku juga tidak meminta bantuan warrior kuil manapun karena aku tidak mengenal salah satu dari kalian. Well... ada satu. Tapi dia tidak akan memberikanku bunga itu karena aku tahu, yang bisa memetik bunga itu adalah yang terpilih." jelas Renald.


"Lihat! benarkan?! mereka mencurinya! melalui salah satu warrior kuil! Sekarang katakan, siapa yang kalian suruh??"


"Kami tidak mencurinya. Dan warrior kuil yang kukenal bukan orang yang memberiku bunga itu, tapi dialah alasan bunga itu membawaku kemari."


Para warrior saling menatap bingung.


"Lalu siapa warrior yang kalian kenal itu?" tanya Kevin lagi.


"Allana." yang menjawab bukanlah Renald, melainkan Harold. Dia sudah bisa menebaknya. Tidak ada warrior yang masih berhubungan dengan dunia di luar kuil selain Allana. Jadi Allana pasti orangnya. "Apa anda... mate dari Allana?"


"Mate? oh tidak, dia bukan mate-ku."


"Apa anda yakin?"


"Tentu, umurku sudah tujuh belas tahun. Cukup matang untuk merasakan kehadiran Mate dan Allana, bukan mate-ku."


"Lalu bagaimana bunga itu bisa berkerja baik dengan anda jika bukan karena mate?"


"Apa maksudnya itu?"


"Bunga itu hanya bekerja jika kalian memiliki hubungan khusus. Keluarga? mate?"


"Sahabat, mungkin." jawab Renald. Semua warrior menatapnya bingung. "Well, is that matter now? bunga itu membawaku kemari yang artinya Allana dalam bahaya. Setidaknya itu fungsi bunga itu bukan? dimana Allana?"


"Dia ada di dalam kuil."


"Harold!!" Harold menoleh ke aras suara. Di sana ada Ed yang wajahnya sudah pucat pasi. "Allana..."


Harold berlari masuk kuil tapi baru setengah jalan Renald menghentikannya.


"Apa? ada apa dengan Allana?" tanya Renald yang mulai panik.


"Dia... dia terluka sangat parah. Aku.. aku tidak bisa menyelamatkannya. Dia sekarat." jelas Ed.


"Apa?!"


"Aku harus melihatnya." Harold melepas pegangan tangan Renald di lengannya dan pergi masuk ke dalam kuil.


"Tapi aku ingin masuk juga!" pekik Renald. Tapi Harold sudah hilang di balik semak.


"Maaf alpha, anda tidak bisa masuk. Kecuali, jika anda memiliki bunga itu, yang anda hilangkan tadi. Itu akan menjadi pengecualian anda." jelas Kevin.


"Kenapa begitu?" 


"Karena anda kemari karena warrior kuil, jadi kemampuannya masuk ke dalam kuil, anda juga akan memilikinya selama anda memegang bunga itu."


Kevin masuk kedalam kuil dan meninggalkan Renald dan Ted. Renald mendengus kesal. Dia merasa tidak berguna.


"Berarti benar. Bulu yang ada di serigala itu adalah bulu Allana. Lalu siapa serigala itu?"Renald bergumam sendiri.


"Ren, aku akan memeriksa di tempat saat kita tiba disini tadi, mungkin saja bunga itu masih ada di sana."


"Capatlah."


Ted mengangguk lalu segera pergi.


Sementara itu di dalam kuil...


"Bagaimana Allana?" tanya Harold yang baru saja sampai.


"Aku tidak yakin dia akan selamat. Dia masih bernafas saat ini tapi dia sudah kehilangan kesadarannya." jelas Ed.


"Tidak ada yang bisa di lakukan lagi?"


"Tidak. Kecuali..."


"Kecuali apa?"


"Yang terpilih atau para penyihir... Mungkin bisa membantu." saran Ed.


"Tapi apa mungkin para penyihir akan membantu? Tadi saja demi menyerahkan tubuh Tristan, mereka hampir di serang para rogue." Luis mengingatkan.


"Tapi... Tapi apa kalian sadar? Para rogue tidak menyerang penyihir-penyihir itu. Rogue-rogue itu terlihat jelas sekali sangat liar, tapi mereka hanya menyerang kita, tidak dengan penyihir. Apa mungkin mereka ikut andil dalam penyerangan ini?" Sam mulai berasumsi.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak."


"Kau tahu rogue seperti apa Ed. Mereka akan menyerang semua orang! Tapi tadi, mereka tidak menyerang para penyihir itu. Bukankah itu aneh?"


"Tapi jangan berasumsi mereka ikut membantu para rogue."


"Apa kau sekarang menjadi pembela para penyihir, Ed?"


"Tidak, bukan seperti itu. Yang terpilih tidak mungkin pilih kasih."


"Aku tidak membicarakan yang terpilih. Aku membicarakan para penyihir itu!"


"Hentikan! Both of you." Harold menatap tajam baik Ed maupun Sam. "Kalian sangat tidak membantu dengan berdebat."


Ed dan Sam akhirnya terdiam.


"Aku akan meminta Elder datang kembali." Harold bangkit dari duduknya.


"Hei! Bagaimana kau bisa masuk?" Kevin menunjuk seseorang. Semua orang menoleh. Renald sudah berdiri di dekat mereka.


"Alpha? Anda--" belum selesai Harold berbicara, Renald sudah memperlihatkan bunga bluemoon yang ada di tangannya. Semua orang terkejut.


...Beberapa saat yang lalu.......


Ted kembali dari pencariannya.


"Tidak ada. Aku tidak menemukan bunga itu. Jejaknya saja tidak." sahut Ted.


"Itu bunga Ted. Bukan serigala dan kau belum lama mencarinya."


"Aku tidak perlu lama mencari Ren. Bunga itu berbeda dari bunga kebanyakan. Terlebih warnanya yang berwana biru cerah itu. Tentu saja aku bisa mengenalinya bahkan dari jauh."


"Artinya percuma kita kemari." Renald tampak berpikir. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Lalu kenapa bunga itu membawa kita kemari jika tidak berguna sama sekali?"


"Aku tidak tahu Ren. Aku-- whoaaa..." Ted tampak takjub menata sesuatu. "Ren.. Tanganmu... Tanganmu lihat!"


Renald menatap kedua tangannya. Tangan kanannya mengeluarkan cahaya terang. Lalu tak lama muncul bunga bluemoon.


"Fascinating!! Bagaimana bisa?" Ted sangat takjub pada apa yang terjadi.


"Entahlah Ted. Ini sungguh membingungkan."


"Tunggu apa lagi? Ayo masuk!"


Renald dan Ted masuk ke dalam wilayah kuil. Ted tiba-tiba melambat.


"Ren.. Uhuk uhuk... Ren..." Ted memanggil Renald dengan suara serak dan tertahan. Renald menoleh.


"Ted? Kau kenapa?" Renald panik.


"Aku... Aku... Aku tidak bisa... Bernafas..." tubuh Ted terjatuh di tanah. Dia kesulitan Bernafas. Tubuhnya melemah. Renald melihat bunga bluemoon sejenak lalu kembali ke Ted. Renald memapah Ted keluar wilayah kuil lalu meletakkannya bersandar di satu pohon.


"Bernafaslah pelan-pelan. Kau baik-baik saja?"


"Pernah... Lebih.. Baik..."


"Sepertinya bunga ini hanya di peruntukkan untukku. Kau tunggu disini, aku akan masuk dan segera kembali."


Renald berdiri dan segera pergi. Tapi Ted meraih tangan Renald, menahannya untuk pergi.


"Jangan... Nanti.. Terjadi... Sesuatu..."


"Aku tidak apa-apa Ted. Lagipula aku tidak akan memicu pertempuran."


"Aku percaya kau.. Mereka tidak..."


"Kalau begitu percayalah. Aku tahu kamu ingin melindungiku karena aku adalah alpha mu tapi tidak kali ini Ted, harus aku."


Ted menutup matanya, menghela nafas panjang lalu mengangguk setuju. Ted melepaskan pegangannya.


"Kembalilah... Utuh..."


"I will.. Kau harus cepat pulih."


Renald berlari ke dalam wilayah kuil.


******


"Ternyata anda memang memilikinya." sahut Harold.


"Aku tidak akan berbohong. Bagimana Allana?"


"Sangat parah. Aku akan pergi untuk memanggil Elder, penyihir." Harold pergi meninggalkan mereka. Renald melihat tubuh Allana yang terluka. Tertutup darah dan tidak sadarkan diri.


"Apa saya boleh bertanya alpha?" Kevin mulai lagi.


"Sudahlah Kev." cegah Alan


"Tapi aku sungguh penasaran."


"Apa yang membuatmu penasaran?" tanya Ed.


"Darimana dia mendapatkan bunga itu? Bunga itu hanya yang terpilih yang bisa memetiknya. Kita saja tidak bisa."


"Sudah jelaskan? Yang terpilih yang memberikannya."


"Apa itu mungkin? Tapi kenapa?"


"Mana aku tahu."


Renald tidak menjawab apapun pertanyaan para warrior. Dia masih melihat Allana yang tidak sadarkan diri.


"Alpha"


Renald mendengar sebuah panggilan. Dia mendongakkan kepalanya, mencari arah suara.


"Alpha".


Suara itu lagi. Renald berdiri dan melihat ke segala arah.


"A-ada apa alpha?" tany Ed.


"Apa... Apa kalian mendengarnya?"


"Mendengar? Mendengar apa?"


"Suara."


Semua warrior yang ada di sana saling menatap bingung.


"Suara apa alpha?" kali ini Kevin yang bertanya.


"Seorang wanita."


"Wanita? Apa jangan-jangan Allana?"


Semua menatap Allana. Tidak ada pergerakan apapun.


"Alpha."


"Itu! Suara itu lagi!"


"Tapi kami tidak mendengar apapun." tegas Kevin.


"Aneh." gumam Renald.


"Tidak ada yang aneh jika di dunia supranatural"


Renald semakin terkejut dan bingung. Tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya tapi hanya didalam pikirannya. Dia tahu pemilik suara itu mendengarnya.


"Siapa kamu?"


"Tidak ada waktu lagi. Berikan bunga itu pada Allana."


"Bunga?" Renald menatap bunga bluemoon yang masih di pegangnya.


"Bunga itu, berikan bunga itu pada Allana."


"Tapi kenapa?"


"Bunga itu akan menyelamatkannya."


"Kalau bunga ini akan menyelamatkannya, kita bisa ambil bunga bluemoon yang lain dan--"


"Tidak, jangan. Hanya bunga bluemoon yang ada di tanganmulah yang bisa menyembuhkannya."


"Apa? Tapi kenapa?"


"Apa kau akan bertanya terus atau kau ingin menyelamatkannya? Waktu Allana tinggal sedikit. Bahkan para penyihirpun tidak akan bisa menyelamatkannya. Hanya bunga yang ada di tanganmu."


Renald melihat bunga di tangannya lagi lalu dengan segera meletakkan bunga itu di dada Allana.


"Berikan sedikit darahmu."


"Darah?"


"Ya, darahmu. Hanya beberapa tetes."


Renald mencari sesuatu yang cukup runcing untuk menggores tangannya. Matanya tertuju batu kecil yang ujungnya agak runcing. Renald mengambil batu itu lalu menggores tangannya.


"Akhh..." darah segar keluar dari tangan Renald.


"H-Hei.. Kenapa anda lakukan itu?"


Para warrior menatap Renald bingung. Renald segera meneteskan darahnya di bunga itu. Dengan segera warna bunga itu berubah yang semula biru cerah menjadi merah tua pekat lalu masuk kedalam tubuh Allana.


"Ke-kemana bunga itu?" tanya Luis. "Apa itu tadi... Alpha?"


"Entahlah." Renald menggeleng.


"Hah?? Lalu kenapa anda lakukan?"


"Karena sesorang menyuruhku."


"Seseorang? Siapa?"


"Aku rasa... Yang terpilih. Tapi kenapa dia bisa berkomunikasi lewat pikiranku?"


"Itu mungkin jika yang terpilih. Dia penyihir terkuat di dunia."


"Ed benar, alpha."


"Tapi... Apa kalian tidak tahu apa-apa tentang bunga itu?" tanya Renald bingung.


"Kami tahu bunga apa itu, bagaimana bunga itu bekerja jika sudah di berikan pada seseorang, siapa yang bisa memetiknya dan hubungan apa orang yang di berikan bunga itu dengan orang yang sedang dalam masalah. Hanya saja, kami tidak pernah melihat hal yang anda lakukan tadi. " jelas Luis.


"Lalu... Apa Allana akan sembuh?" tanya Kevin.


"Aku tidak tahu, aku belum sempat menanyakan hal itu. Aku tidak mendengar suara itu lagi." sahut Renald.


"H-hei... Li-lihat!!"


Semua darah Allana yang sudah berhamburan ditanah mulai kembali masuk ke dalam tubuh Allana sedikit demi sedikit. Tak lama tubuh Allana bersih dari luka dan darah. Semua orang menatap diam, bingung dan terkejut.


"Apa... Apa dia akan sadar?" tanya Kevin akhirnya. Tidak ada yang menjawab. Mereka dia menunggu.


"Aku sudah menghubungi Elder dan mereka akan-- kalian kenapa?" Harold yang baru saja datang setelah memanggil Elder bingung melihat semua orang bengong. Harold menoleh pada apa yang sedang mereka lihat, Allana. Harold ikut terkejut. "Ada apa dengannya?"


"Entahlah, kami tidak mengerti." sahut Ed dengan masih menatap Allana. "Bunga itu menghilangkan seluruh luka bahkan mengembalikan semua darah yang keluar, tapi kenapa dia tidak bangun juga?"


"Bunga? Bunga apa yang kalian bicarakan?" Harold bingung.


"Bunga bluemoon. Bunga itu berubah menjadi warna merah lalu masuk ke dalam tubuh Allana." jelas Luis. "Aku bahkan tidak tahu jika bunga itu bisa menyembuhkan seseorang. Apa kau tahu Harold?"


Harold menggelengkan kepalanya. "Biarkan saja Allana. Mungkin butuh proses untuk sembuh. Sebaiknya luka kalian di rawat. Aku tahu kalian bisa menyembuhkan diri tapi lebih cepat jika di rawat."


Semua orang mengangguk setuju.


"Aku akan membawa Allana."


"Apa?" semua orang tampak terkejut.


"Aku bilang, aku akan membawa Allana, ke pack ku dan merawatnya."


"Untuk apa? Dia bahkan bukan mate anda?" tanya Harold.


"Aku tahu. Tapi aku akan tetap membawanya."


"Tidak, dia akan tetap disini. Allana akan tetap disini. Dia bagian dari kami." tolak Harold.


"Tapi kalian bahkan tidak bisa menjaganya."


"Dia bukan anak kecil yang harus di jaga! Dia harus bisa melawan." sahut Alan.


"Melawan? Melawan apa? Bahkan kalian tidak bisa menghadang para rogue. Terutama pemimpinnya. Kalian membuat Allana menghadapi pemimpin rogue!"


"Pemimpin rogue? Apa maksudnya itu?"


"Kau tidak tahu Harold? Pemimpin rogue itu masuk ke dalam kuil." sahut Renald.


"Hei! Jangan bicara sembarangan!" sahut Alan setengah berteriak. "Itu tidak benar Harold. Aku dan Ed di dalam kuil dan tidak menemukan pemimpin rogue itu! Benarkan Ed?"


"Ya, aku tidak melihat pemimpin itu masuk." Ed membenarkan.


"Jika memang Allana melihat atau bertemu dengan pemimpin rogue itu, seharusnya dia melolong." sahut Alan lagi.


"Apa yang kalian bisa harapkan dari gadis tujuh belas tahun yang baru saja mengenal dunia manusia serigala? Melawannya? Aku yakin dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk melolong! Lalu kenapa kalian membiarkannya sendiri?" Renald mulai emosi.


"Anda berkata sepertinya anda adalah mate nya. Kenapa anda begitu perduli padanya... Alpha?"


"Bunga itu. Tidak mungkin yang terpilih memberikan bunga itu tanpa alasan. Yang terpilih juga memintaku menyelamatkan Allana dan membawanya ke pack ku. Jika tidak, untuk apa dia memberikanku bunga itu? Allana akan ikut bersamaku, kalian setuju atau tidak. Jika kalian tidak setuju, kalian tidak mengikuti perintah yang terpilih dan aku yakin yang terpilih tidak akan menyukainya."


"Kau--"


"Alan..." Harold menghentikan Alan yang ingin beradu argumen dengan Renald. "Apa anda yakin bisa menjaganya?"


"Tentu, kenapa tidak?"


"Percaya diri sekali." sahut Alan.


"Setidaknya beri aku kesempatan. Aku tidak akan menyakitinya atau membiarkannya terluka. Aku akan menjaganya dan melindunginya."


"Baiklah, anda bisa membawanya. Hanya saja, jika terjadi sesuatu di luar sana, kami tidak bisa membantu. Karena kami di larang mencampuri urusan di luar kuil." jelas Harold.


"Aku mengerti."


Renald menggendong Allana dengan bridal style dan membawanya keluar kuil.


"Kau yakin memberikan Allana padanya??" Alan menatap tidak percaya.


"Mungkin itu yang terbaik." sahut Harold dan langsung menyusul Renald.


"Apa-apaan itu?!" Alan tampak kesal.


"Kau ini kenapa?" tanya Kevin heran.


"Kenapa apanya?!" jawab Alan ketus.


"Waktu kita latihan kau selalu meremehkan Allana, kau tidak menyukainya, kau membencinya. Sekarang kamu protes alpha itu membawanya."


"Aku memang tidak menyukainya tapi aku tidak membencinya. Bagaimanapun dia warrior, bagian dari kita. Sudah seharusnya dia bersama kita."


"Tapi dia bahkan belum memutuskan untuk ikut membela kuil atau berdiri sendiri. Dia belum menjadi bagian dari kita." sahut Sam dan langsung menyusul Harold diikuti yang lainnya.


*******


tadariez