
"All, ayo kita pergi. Aku akan membawamu ke tempat aman." ajak Jim.
"Tidak Jim, aku tidak bisa pergi. Tidak saat aku melihat mereka di serang karenaku. Aku akan membantu mereka." kata Allana lalu segera pergi. Jim memegang tangan Allana.
"Kau yakin?"
Allana mengangguk. "Yakin."
"Kalau begitu aku juga akan membantu dan memanggil Elder lain."
Allana mengangguk lalu keluar kamar. Jim menyentuh gelang di tangannya. Allana bertemu Abe, ayah Arthur di bawah.
"Kamu mau kemana nak?" tanya Abe.
"Membantu."
"Tidak. Sebaiknya jangan. Tunggu saja disini. Semua akan baik-baik saja. Arthur alpha yang kuat."
"Saya tidak meragukannya tuan. Tapi saya harus membantu karena sayalah penyebab semua ini." Allana berlari keluar rumah. Arthur terkejut melihat Allana keluar rumah dan segera menghampirinya. Arthur menggeram pada Allana. Allana hanya menatap Arthur sejenak lalu berubah menjadi serigala.
"Apa kau sudah gila?" tanya Arthur.
"Aku harap aku memang gila."
Allana berlari dan menerjang satu serigala.
"Sial!"
Arthur berlari menuju Allana dan berusaha melindunginya.
"Lindungi luna!" pekik Rome.
"Tidak! Jangan melindungiku. Halau saja mereka ke luar wilayah pack." pinta Allana.
Semua serigala saling menghempas, mencakar dan menggigit. Salah satu serigala terhempas jauh. Para penyihir yang awalnya berdiri jauh dari mereka kini justru semakin dekat. Mereka menyerangi pasukan Arthur.
"Sial! Mereka memiliki penyihir. Curang!"
"Tenang saja, alpha. Kita juga memiliki penyihir."
"Apa maksudmu?"
Arthur menatap Allana bingung. Tiba-tiba tubuh Arthur terhempas. Allana terkejut. Arthur bisa segera bangkit.
"Serahkan Allana pada kami, alpha. Maka kami akan pergi." kata Rosmary. Arthur menggeram. Rosmary merentangkan tangannya dan membaca mantra. Tubuh Arthur menggetar hebat seperti terkena aliran listrik. Allana menggeram marah. Beberapa serigala yang ingin membantu Arthur tertahan oleh mantra para penyihir.
"Ikutlah dengan kami Allana. Maka tidak ada yang akan terluka. Jika kamu menolak, kami akan membunuh semua orang termasuk mate-mu."
Allana menggeram. Arthur berusaha bangkit menahan rasa sakit dan menahan getaran hebat akibat mantra Rosmary. Arthur menggeram marah. Dia berhasil bertahan. Rosmary terkejut. Dia mengira Arthur yang masih remaja akan mudah di kalahkan. Arthur membuktikan bahwa dia adalah alpha.
Arthur berlari cepat ke arah Rosmary. Dia menghindari serangan mantra Rosmary. Dia melompat untuk menggampai Rosmary. Tapi belum sampai mengenai Rosmary, Arthur kembali terhempas. Rosmary menyerang kembali secara membabi buta pada Arthur. Dia juga melontarkan mantra kematian. Untung saja Arthur bisa dengan cepat menghindar. Rosmary kembali bersiap melontarkan mantra. Tapi tubuhnya terhempas sebelum dia melontarkan mantra. Satu persatu elder muncul dan menyerang penyihir Crysort. Penyihir Crysort terkejut dan mencoba melawan.
"Siapa mereka?" tanya Arthur.
"Mereka penyihir kenalanku. Mereka akan membantu kita. Kita hanya perlu fokus pada manusia serigala."
Allana berlari dan menyerang salah satu serigala lalu beralih ke serigala lain. Gerakan Allana cepat.
"Dia tidak terlihat seperti manusia serigala baru." gumam Arthur.
"Anda benar, Alpha. Luna penuh dengan kejutan."
"Berarti tidak salah kita mempertahankan gadis itu. Aku tidak perduli dia mateku atau bukan. Dia akan berguna untuk pack!"
Arthur kembali berlari dan menyerang. Dia bertarung melawan Marissa. Tapi tiba-tiba terjadi serangan rogue yang cukup banyak. Gawat!
...***...
Grigory duduk di atas batu cukup besar di pinggir sungai. Tatapannya tajam dan tanpa mengenakan pakaian bagian atas. Beberapa orang berjaga di sekitarnya.
"Apa kita tidak akan menyerang, tuan?" tanya satu orang yang berdiri di dekat Grigory.
"Tidak. Apa kamu sudah menyampaikan anggota yang lain?"
"Sudah, tuan. Tapi kenapa kita berhenti?"
"Karena kita akan menunggu."
"Menunggu?"
"Ya, menunggu. Menunggu kabar dari penyihir Crysort."
"Tapi apa anda yakin bekerja sama dengan Crysort? Apa anda percaya pada mereka?"
"Percaya?" Grigory tertawa mengejek. "Aku tidak percaya pada siapapun. Kita sudah melakukan tugas kita. Membantu mereka dalam penyerangan. Meski packnya berubah tapi target tidak berubah. Disaat bersamaan, penyihir mereka sedang melakukan tugasnya."
"Apa anda yakin?"
"Aku terlalu mengetahui banyak tentang mereka, Scott dan mereka tahu itu. Lagipula aku memiliki sesuatu yang tidak mereka miliki. Jadi aku yakin, meski luna itu tidak mengijinkan para penyihirnya, para penyihir itu akan datang sendiri padaku. Karena air dari mata air di kuil. Hanya dengan iming-iming itu, semua penyihir akan rela membantu kita." Gregory tersenyum.
"Tuan! Tuan!"
Satu orang berlari dengan cepat menuju tempat Grigory berada.
"Aku harap berita yang bagus." ucap Grigory sambil menatap orang yang berlari tadi.
"Para penyihir. Para penyihir memberitahukan jika mereka telah selesai."
Grigory berdiri. "Bagus. Sekarang kita tinggal menunggu reaksinya."
...***...
Lucia, ibu Renald terus mondar mandir di ruang pertemuan. Semua petinggi penting pack Zykolt duduk di kursi mereka.
"Lucia.. Duduklah." bisik Agatha.
"Maafkan aku, Agatha. Aku tidak bisa. Aku begitu resah. Pria itu kembali lagi. Kembali lagi! Apa yang harus aku lakukan?! Semua yang aku lakukan sia-sia!"
Agatha berdiri dari duduknya dan menghampiri Lucia.
"Dengarkan aku, Lucia. Apa yang kamu lakukan, tidak sia-sia. Kamu melakukannya dengan baik. Kakakku tidak mati, karena itu dia bisa kembali kapan saja. Jadi tenanglah. Kita cari solusinya bersama-sama."
"Yang seharusnya tidak kembali adalah anda luna!" hardik salah satu petinggi. "Anda sebarusnya sudah mati. Kami percaya anda sudah mati. Bahkan kami mengadakan acara pemakaman anda!"
"Aku melakukan itu untuk putraku!"
"Lalu kenapa kembali? Seharusnya tetap menghilang saja." ucap Renald.
"Apa kita akan membahas itu? Kita harus membahas Grigory! Dia kembali. Dia akan melakukan pemberontakan seperti dulu lagi! Dan aku tidak memiliki sihir seperti dulu." Lucia terlihat khawatir dan panik.
"Jadi Rogue adalah pasukannya, benar begitu?" tanya salah satu petinggi pack.
"Benar. Aku melihatnya sendiri dia mengendalikan mereka." ucap Renald.
"Ini gila. Bagaimana bisa dia mengendalikan mereka? Aku kira selama ini dia disembunyikan oleh warrior kuil."
"Paman anda adalah warrior kuil, alpha."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Dia terpilih menjadi warrior kuil karena kekuatannya. Setelah menjadi warrior kuil dia malah berbalik melakukan pemberontakan di wilayah Zykolt untuk mengambil alih pack." jelas salah satu pentinggi.
"Dia sengaja menerima kekuatan warrior itu bukan? Tapi seharusnya tidak seperti itu. Dia harus memilih salah satu, menjadi warrior atau tidak. Tapi anehnya dia bisa mendapatkan keduanya." kata petinggi yang lain.
"Karena itukan luna melakukan semua itu hingga kehilangan sihirnya? Karena dicurigai mengandung sihir."
"Tapi kita tidak tahu itu berhasil atau tidak. Melihat luna masih hidup itu menjadi diragukan."
"Apa kalian gila?!" pekik Lucia. Dia tidak percaya apa yang di dengarnya. "Tidak berhasil?! Kalian pikir kenapa para penyihir tidak pernah masuk kemari. Kalian pikir kenapa dia tidak pernah muncul di pack? Bahkan aku tadi melihatnya diluar wilayah pack, bukan di dalam. Hanya para Rogue nya yang berada di dalam pack. Itu karena sihirku! Aku melakukan itu dengan merelakan hidupku, anakku, sihirku, bahkan anakku--"
"Lucia!" potong Agatha cepat. Dia menghentikan kata-kata Lucia. Lucia menghela nafas kasar lalu pergi dari ruangan pertemuan. "Kalian semua sungguh keterlaluan!" Agatha ikut menyusul Lucia.
Semua orang terdiam didalam. Hanya saling menatap satu sama lain. Ya, meragukan sihir Lucia memang keterlaluan. Selama ini sihir Lucia lah yang melindungi pack.
"Baiklah, sekarang apa yang harus kita lakukan? Apa ada saran?" tanya Renald.
"Sebaiknya perketat perbatasan terutama di kota. Suruh para prajurit berjaga di kota secara bergantian."
"Baik. Lalu bagaimana dengan Rogue yang terlihat di kota?"
"Kami sulit untuk menghapus ingatan para warga. Kita juga tidak bisa meminta bantuan para penyihir mengingat pack ini tidak bisa di masuki oleh penyihir. Jadi mau tidak mau, kita harus memberi alasan yang tepat."
"Baiklah. Tuan Lokhort, tolong beri saran pada walikota untuk memberi kabar yang baik agar bisa di terima warga. Dan semuanya, tolong pastikan hal ini tidak akan terjadi lagi, kalian mengerti?"
"Mengerti alpha."
"Kalian boleh pergi."
Satu persatu orang keluar dari ruangan pertemuan. Meksipun masih remaja, Renald alpha yang sangat di hormati oleh packnya. Dari anak-anak hingga orang tua tidak ada yang berani menentangnya.
"Uggghh..." Renald meringis sambil memegang dadanya.
"Kamu baik-baik saja, Ren?" tanya Ted yang sudah menghampirinya.
"Entahlah, tiba-tiba dadaku terasa sakit."
"Duduklah dulu." Ted membantu Renald duduk kembali. Dia menyerahkan air mineral untuk diminum. Renald hanya minum sekali teguk.
"Tiba-tiba sakit sekali. Rasa seperti terbakar."
"Apa saat mengejar rogue ada masalah?"
Renald menggeleng. "Tidak, tidak ada."
"Bagaimana dengan pamanmu?"
"Kami tidak berdiri berdekatan, aku tidak menyentuhnya bahkan nyaris tidak berbicara. Aakkkhh!!"
"Aku akan membawa dokter. Tunggu disini."
Ted berlari ke luar ruangan sementara Renald terus mengerang kesakitan. Tubuhnya terasa panas dan dadanya sakit. Ada apa denganku?
...***...
"Apa kau yakin nak?" tanya ibunya kesekian kalinya. Gyria menghela nafas panjang.
"Iya bu, aku yakin. Aku akan membaur saja di sana nanti. Tapi aku benar-benar tidak ingin memaksa ibu untuk pergi. Disini jauh lebih aman."
"Tidak! Jika kamu pergi, ibu akan pergi. Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian. Tidak lagi."
"Aku juga!" ucap Lily. Gyria tersenyum sambil membelai rambut adiknya.
"Lalu... Apa rencanamu?" tanya ibunya.
"Kita akan pergi ke wilayah netral bu. Tidak ada pack apapun di sana dan hidup tenang. Aku akan menyelesaikan sekolahku dan mulai bekerja paruh waktu."
"Ibu juga akan mulai bekerja."
"Tidak bu, jangan. Ibu masih lemah."
"Ibu sudah baik-baik saja, Gy. Lagipula ibu tidak bisa hanya diam di rumah. Kau tahu itu. Kita masih memiliki tabungan hasil menjual semua barang peninggalan ayahmu. Cukup untuk perjalan kita ke sana dan untuk tempat tinggal. Selebihnya ibu bisa bekerja mencari uang. Sejujurnya, ibu juga merasa tidak enak tinggal disini."
"Apa Lily juga boleh bekerja?" tanya Lily. Dia menatap ibu dan kakaknya penuh harap.
"Tidak boleh, Ly. Kamu masih anak-anak dan harus bersekolah."
"Kakak juga masih sekolah tapi bisa bekerja paruh waktu."
"Itu karena kakak jauh lebih besar darimu. Nanti jika kamu sebesar kakak, kamu boleh bekerja paruh waktu juga."
"Benarkah? Benar?" Lily tampak antusias.
"Tentu."
"Ini salah ibu. Seharusnya ibu yang bekerja dan kalian menikmati masa muda kalian." ibunya tertunduk.
"Ibu bercandakan? Ibu tahu bagaimana aku. Aku tidak akan mau diam di rumah atau hanya sekedar berkumpul bersama teman. Aku kan mirip ibu."
Ibunya tertawa kecil sambil mengelus punggung Gyria.
"Aku sudah menentukan rute kita. Aku sudah memeriksa berulang kali. Kita tidak akan ketahuan. Bagusnya pack ini adalah di dekat kota besar. Jadi kita bisa membaur dengan mudah dan pergi."
"Tapi.. Apa kamu yakin kita tidak perlu berpamitan? Ibu jadi merasa tidak enak. Alpha dan luna disini sangat baik."
"Jika kita berpamitan, aku takut kita tidak akan sanggup pergi atau mereka akan menahan kita. Kita harus bisa hidup sendiri, bu. Demi kita."
"Baiklah, jika itu menurutmu benar. Sebentar lagi pagi."
Gyria melihat jam didinding. Sudah menunjukkan pukul empat tiga puluh pagi. Biasanya ada pergantian penjaga. Jadi base camp akan banyak orang. Karena itu mereka akan leluasa pergi tanpa ada yang curiga.
"Sudah saatnya. Ayo bu. Lily apa kamu masih bisa menahan rasa kantukmu?"
Lily mengangguk. Gyria merapikan baju Lily.
"Dengarkan kakak, kakak ingin kamu bekerja sama dengan kakak. Diam saja, jangan bicara apapun dengan siapapun. Kamu mengerti?"
"Hmm.. Mengerti. Lagipula aku sudah sangat mengantuk. Tidak ada tenaga untuk berbicara."
"Bagus."
Gyria membawa tas ransel ukuran besar dan tas jinjing besar. Ibunya membawa tas jinjing ukuran besar pula. Gyria tidak lupa meletakkan sepucuk surat di kamar itu lalu beranjak pergi. Dan benar saja, para penjaga yang berganti shif mulai ramai. Mereka segera membaur para penjaga yang akan pulang lalu segera pergi. Sebelum pergi, Gyria menoleh. Dia mendapati sosok Derek yang sedang sibuk dengan para gamma. Gyria berhenti sejenak.
"Selamat tinggal, mate-ku. Semoga bahagia." gumamnya lalu menyusul ibunya pergi.
...***...
tadariez