Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 30 : The Losers



Brakk!!


Satu serigala terguling di tanah lalu dengan segera merubah wujudnya menjadi manusia.


"Ahh sial!"


"Bwahahahahaha.."


"Diam kau!"


"Tidak bisa, ini sungguh lucu. Hahahaha!!" tawa Steve pecah. Dia bahkan sampai memegangi perutnya.


"Benar-benar sial!!" Thomas mengibaskan daun di kepala dan tangannya.


"Kenapa masih saja salah? Kau kurang berkonsentrasi."


"Saya sudah melakukan semua petunjuknya beta." Thomas mengacak rambutnya lalu berdiri. Dia tampak kesal.


"Tidak, itu tidak benar. Lakukan lagi."


Thomas menghela nafas lalu kembali bersiap di posisinya.


"Biar saya saja Beta." tawar Jose.


"Tidak, aku yang akan melakukannya."


"Tapi beta, anda sudah melakukannya sedari tadi."


"Aku baik-baik saja. Cepatlah."


Thomas berubah menjadi serigala dan bersiap. Derek juga ikut berubah. Mereka masing-masing bersiaga. Thomas menyerang Derek. Derek dengan mudah menghindar. Derek hanya terus menghindar. Dia ingin melatih kecepatan dan kekuatan para gamma. Tapi thomas terus saja tidak bisa mengejar gerakan Derek.


Tak lama terdengar suara ribut dari arah luar. Beberapa orang membawa satu orang yang tidak sadarkan diri. Derek merubah dirinya menjadi manusia dan mendekati mereka.


"Ada apa ini? Siapa itu?"


"Salah satu Rogue yang menyerang kota RiverVille."


"Kalian mendapatkannya."


"Ya beta, tidak tanpa kesulitan tentu."


"Bagus sekali. Ayo kita menemui alpha dan bawa dia."


"Baik beta."


Semua orang mulai berjalan mengikuti Derek, kecuali para gamma yang berlatih bersama Derek tadi.


"Lihatlah para pecundang itu." kata satu orang yang tadi bersama rombongan membawa satu rogue.


"Apa kau bilang?"


"PE-CUN-DANG. Itu kalian."


"Brengsek!!" Thomas ingin memukul orang itu tapi Jose dan Steve menghalanginya.


"Tenanglah Tom."


"Tidak! Lepaskan aku! Akan aku beri dia pelajaran!!"


"Wahhh!! Sayang nya aku tidak takut." sahut orang itu lagi. "Tidak perlu berada di dekat beta untuk mendapatkan hasil. Kalian tiga malam berpatroli bersama beta, lalu apa hasilnya? Kalian juga selalu berlatih dengan beta, lalu apa hasilnya? Cih! Menyedihkan! Kami mendapatkan satu rogue tanpa di bawah bayang-bayang beta. Kalian hanya pecundang!!"


"Sudahlah Emmet, pergilah! Jangan mencari masalah." sahut Jose. Dia sudah tidak bisa menahan tubuh Thomas lagi. Thomas sudah begitu marah dan ingin merubah dirinya, tapi Jose dan Steve berusaha mencegahnya. "Tenanglah Tom, tidak perlu meladeninya."


Emmet hanya membuang ludah di dekat kakinya, tersenyum penuh kemenangan, lalu beranjak pergi.


Thomas melepaskan tangan Jose dan Steve dengan kasar. Dia mengendus kesal.


"Dia memang keterlaluan." sahut Steve.


"Kau tahu itu. Tapi kenapa harus menghalangiku menghajarnya?! Dia butuh di kasih pelajaran!!"


"Tenanglah Tom. Aku tahu dia memang brengsek. Tapi melawannya apa yang akan kita dapatkan?"


"Setidaknya aku bisa puas." sahut Thomas. Dia duduk di bangku kosong.


"Percuma saja. Dia tidak akan menang meskipun kalian membiarkan dia melawannya."


Semua orang menoleh pada arah suara. Gyria berdiri dengan nampan berisi minuman. Dia meletakkan minuman itu di sebelah Thomas.


"Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Thomas yang sudah menatap Gyria dengan pandangan tidak suka.


"Aku katakan kau tidak akan menang melawannya." Gyria mengambil nampan lalu segera beranjak. Tapi Thomas berdiri tiba-tiba dan menghalangi jalan.


"Apa? Kau menghinaku?"


"Menghina? Tidak. Aku berkata yang sejujurnya." Gyria mendorong pelan tubuh Thomas agar dia bisa berjalan kembali. Tapi Thomas menghalanginya.


"Kau tidak akan kemana-mana sampai kau jelaskan."


"Oh ayolah.. Jangan kekanak-kanakan."


"Kau yang lebih dulu menghinaku." Thomas menekankan kata-katanya. Thomas menatap tajam Gyria. Gyria membalas tatapannya lalu mendesah kesal.


"Aakhhh baiklah.. Kemari."


Gyria melangkah menjauhi bangku taman di ikuti oleh Thomas yang masih bingung. Gyria berhenti lalu menatap Thomas.


"Ayo serang aku."


"Apa? Kau sudah gila."


"Aku tidak gila. Serang saja aku."


"Untuk apa aku menyerangmu?"


"Jika kamu bisa mengalahkanku, berarti kamu bisa mengalahkan teman brengsekmu tadi."


"Apa??" Thomas tertawa terbahak. "Lihatlah dia! Dia mulai gila."


"Kenapa? Apa kau takut?"


Kata-kata itu cukup menghentikan tawa Thomas.


"Sombong sekali. Tapi.. Tidaklah. Hahahah... Melawan wanita bukanlah gayaku."


"Sayang sekali. Aku kira gamma di bawah Derek para pemberani. Ternyata ada yang pengecut."


"Jangan membuatku menghajarmu, nona."


"Ohh percayalah. Itu yang aku tunggu."


Gyria terlihat percaya diri. Membuat Thomas mengerutkan keningnya.


"Kenapa diam saja? Mulai. Lawan aku."


"Gadis ini--"


"Hei, hei.. Sudahlah.. Nona, dia lebih kuat fisiknya dari pada kami semua. Jadi--"


"Lakukan saja. Waktuku tidak banyak. Mau merubah diri atau tidak? Aku bisa keduanya."


Thomas, Jose dan Steve saling berpandangan.


"Atau... Kau terlalu takut karena aku adalah wanita. Aku bisa mengerti itu. Baiklah." Gyria berjalan menjauh. Thomas dengan cepat mencegahnya dengan memegang pundak Gyria. Gyria dengan cepat menarik sedikit tangan Thomas lalu membantingnya ke depan.


"Akkhh... Sial..." keluh Thomas.


"Ohh maaf.. Sakit yaa.. Mungkin aku perlu sedikit pelan." sahut Gyria santai. Kedua tangannya di lipat. Steve dan Jose hanya bisa bengong.


"Tidak perlu. Aku bisa melawanmu." Thomas berdiri cepat dan bersiap. "Baiklah. Berikan serangan terbaikmu."


Gyria menatap Thomas dari atas sampai bawah, merasa ragu.


"Jangan menatapku seperti itu. Ayo mulai."


"Aku akan sedikit--"


"Tidak, tidak.." Thomas menggeleng cepat. "Berikan serangan terbaikmu."


"Uhm.. Tom, aku rasa--"


"Kalian diam saja disana. Aku yang akan menghadapinya."


"Sepertinya sangat percaya diri, itu bagus." puji Gyria. "Aku datang."


"Keluarkan semua kemampuanmu."


"Ohh.. Kau akan menyesal nanti." Gyria memperingatkan.


"Tenanglah.. Aku bukan pengecut."


"Heh! Kita lihat saja nanti."


Thomas kembali menyerang Gyria dan berulang kali dia terhempas. Di mencoba memukul, menendang bahkan melakukan semua bela diri yang di ajarkan, tapi Gyria tetap berdiri. Bahkan Gyria tidak terluka sedikitpun. Thomas geram lalu merubah dirinya menjadi serigala dan menyerang Gyria. Gyria terhempas akibat dorongan tubuh serigala Thomas.


"H-hei Tom.. Pelan-pelan saja. Jangan kasar seperti itu!" pekik Jose tapi Thomas tidak mendengarkan. Thomas menyerang Gyria secara brutal. Gyria yang mulai kewalahan berubah menjadi serigala. Dia menggeram memperhatikan Thomas.


Thomas menggeram lalu berlari ke arah Gyria dan menyerangnya. Gyria bisa menghindar dengan mudah lalu balas menyerang. Gyria menancapkan taringnya pada tubuh serigala Thomas. Thomas mengerang kesakitan dan langsung berbalik. Tapi belum membalas, Gyria sudah mendorong keras tubuh Thomas hingga tersungkur di tanah lalu menginjak tubuhnya, menahan tubuh serigala Thomas agar tetap di tanah. Thomas mencoba untuk melepaskan diri tapi Gyria lebih kuat darinya.


"Menyerahlah Thomas. Kau bukan tandinganku"


Thomas tidak perduli. Dia masih memberontak. Tapi semakin dia berontak, semakin kuat Gyria menginjaknya.


"Kau menyerah sekarang??"


"Never"


Thomas mencoba berontak lagi dan kali ini dia berhasil.


"Oh ayolah Tom, hentikan semua ini!!" pinta Jose. Tapi Thomas sudah terlanjur kesal. Thomas melompat tinggi, tepat menuju tubuh serigala Gyria. Gyria dengan cepat menghindar lalu segera menabrak tubuh Tom dari samping, saat tubuh Tom bahkan belum mendarat di tanah. Tom terguling di tanah. Gyria kembali berada di atas tubuh Tom. Tom kembali meronta, tapi Gyria sudah menggeram kasar dan keras, memerlihatkan gigi-giginya. Matanya tajam menatap Tom, membuat Tom terdiam seketika. Melihat Tom yang sudah tenang, Gyria melepaskannya. Gyria berjalan menjauh lalu merubah dirinya di balik pohon. Steve menyerahkan jaket yang di kenakannya untuk Gyria pakai. Gyria mengambil jaket lalu mengambil nampan dan segera pergi tanpa berkata apapun.


Thomas berubah menjadi manusia. Dia berjalan mendekati Steve dan Jose yang masih melihat kepergian Gyria.


"Dia tidak bisa di remehkan." komentar Steve.


"Berarti benar apa yang di katakan ibuku dulu."


"Apa itu Jose?"


"Ibuku pernah berkata sewaktu aku kecil, konon katanya para serigala wanita di pack Crysort adalah para serigala yang kuat. Mereka di latih dengan keras. Katanya karena itu pack mereka di musnahkan, karena takut tersaingi."


"Kejam sekali."


"Aku kira itu hanya dongeng belaka, tapi melihatnya bertarung bersama Thomas tadi, dia benar-benar hebat dalam bertarung. Aku rasa cerita itu memang benar."


"Pantas saja sewaktu kita melawan mereka dulu, mereka sulit di kalahkan. Terlebih, mereka pantang menyerah. Meskipun terluka, mereka tetap bangkit."


"Kau benar Steve. Mereka luar biasa."


Steve menoleh pada Thomas. "Kau baik-baik saja?"


"Yeah.. Terluka, tapi aku baik dan kalian benar. Dia sama sekali tidak bisa di remehkan. Aku salah tentang itu. Tapi ada yang aneh."


Jose dan Steve sama-sama menoleh pada Thomas.


"Apa maksudmu? Apa yang aneh?"


"Kau tahu, saat dia menindih tubuhku dengan kakinya yang terakhir kali? Aku sempat terdiam saat itu. Aku melihat auranya, aura serigalanya mirip dengan seseorang."


"Seseorang? Siapa?"


"Beta Derek. Karena itu aku terdiam karena aku terkejut."


"Wait, jika aura mereka sama... Apa mereka kakak adik? Atau..."


"Mate." sahut Jose dan Thomas bersamaan.


******


Gyria kembali bersekolah. Dia enggan melakukannya terlebih tidak adanya Allana di sekolah. Tapi ibunya terus memaksanya. Terlebih, dia harus mengantarkan adiknya ke sekolah juga.


Gyria duduk di kantin dengan hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa memakannya sedikitpun.


"Kau sakit atau apa??"


"Kamu mau apa? Katakan saja. Lalu segera pergi dari hadapanku."


"Ini tempan umum kau tahu. Semua bebas berada disini." Erica duduk di depan Gyria. Gyria menatap tidak suka. "Sekarang katakan padaku, bagaimana keadaan Allana?"


Gyria mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku tidak tahu."


"Kau yang terakhir di temuinya."


"Iya dan setelah itu aku tidak tahu kabarnya lagi. Mereka menghilang tanpa jejak. Kuil itu juga."


"Itu aneh. Apa memang bisa begitu?"


"Sepertinya bisa. Buktinya itu terjadi."


"Jadi... Kita tidak bisa tahu keadaan Allana?"


"Kurasa tidak. Pihak kuil yang melakukan itu. Mungkin itu yang terbaik untuk Allana, kurasa. Kita tidak tahu keberadaan Allana, aku rasa luna Chloe juga tidak. Jadi mungkin itu yang terbaik."


"Tapi aku khawatir."


"Aku juga. Sayangnya kita tidak memiliki informasi apapun tentang kuil itu."


"Ahh!! Sepertinya aku tahu!" pekik Erica.


"Sstttt... Kau ribut sekali. Tahu apa?"


"Tahu di mana aku bisa mendapatkan informasi tentang kuil itu."


"Di mana??"


"Sepupuku. Well bukan sepupu dekat. Dia anak dari sepupu ibuku. Dia tapi hanya manusia biasa."


"Bagaimana bisa manusia biasa tahu tentang kuil manusia serigala sementara kita manusia serigala tidak?"


"Dia tidak hanya manusia biasa. Aku dengar dari ibuku, dia manusia penjaga perjanjian makhluk supranatural."


"Dia... Apa?"


"Akan aku jelaskan nanti. Intinya, dia memiliki buku, sebuah buku tentang makhluk supranatural terlengkap yang pernah ada. Kuil MoonGoddess adalah sesuatu yang berbau supranatural, aku yakin di buku itu ada."


"Mungkin saja."


"Aku akan kesana. Kamu mau ikut?"


"Aku? Kenapa aku?"


"Yaahh mungkin saja kamu mau ikut. Aku hanya menawarkan."


Gyria mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu bersikap baik padaku?"


"Aku tidak mungkin bermusuhan terus denganmu. Aku memang tidak menyukaimu, tapi ini demi Allana dan kita berdua sama-sama perduli dengannya."


Gyria terdiam sementara Erica mulai memakan makan siangnya.


"Baiklah, aku ikut."


"Kau yakin? Kita akan pergi diam-diam. Ibumu pasti--"


"Tidak usah khawatir. Ibu berada di packmu yang aku yakin aman. Jadi dia akan baik-baik saja. Aku akan cari alasan untuk pergi."


"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu malam ini jam sebelas di hutan belakang sekolah."


"Deal!"


"Deal? Apa yang deal?" sahut Hope yang baru saja datang. Gyria dan Erica terkejut.


"Eh? Oh.. Tidak apa-apa Hope. Kemarilah duduk." kata Erica cepat. Hope menurutinya.


"Kalian... Kalian tumben sekali berdua? Bukankah kalian bermusuhan?"


"Tidak selamanya kami harus bermusuhan Hope. Lagipula kami sama-sama teman Allana."


"Kau benar. Aku merindukannya." Hope menundukkan kepalanya.


"Kami juga Hope."


"Tapi dia jahat!" sahut Hope tiba-tiba.


"Jahat... Kenapa?"


"Dia bahkan tidak mengatakan salam perpisahan. Pesta itu! Dia meninggalkan kita di pesta itu!" Hope cemberut.


"Sudahlah Hope, mungkin dia punya alasan."


"Tapi apa?!"


"Kita tanya setelah dia kembali, okay? Sekarang, ayo kita makan."


"Tidak mau, tidak berselera. Bagaimana jika.... Kita ke burger itu lagi?"


"Bukannya kita sudah ke sana kemarin?"


"Oh ayolah... Aku ingin kesana lagi."


"Katanya kamu ingin diet, tapi lihatlah, burger lagi yang di makan. Yang ada bukan kurus tapi sebesar beruang."


Hope kembali cemberut. Erica dan Gyria terkekeh geli.


"Biar saja, aku tidak perduli. Yang aku inginkan hanya makan burger itu, pulang sekolah."


"Baiklah, baiklah.. Kita kesana pulang sekolah."


"Yess!! You're the best, ever!! Ahh... Kamu boleh ikut Gyria."


"Ahhh... tidak, tidak... Aku baik-baik saja."


"Ohh ayolah... Kita makan burger itu bersama. Aku yang traktir!"


"Tidak perlu, aku sungguh--"


"Aku tidak menerima penolakan. Pokoknya kau ikut. Ahh iya! Aku ada rapat cheers. Aku tunggu pulang sekolah. Byeeeee.." tanpa menunggu Erica berbicara, Hope segera pergi meninggalkan mereka.


"Dasar anak itu." Erica menggelengkan kepalanya heran. "Ikut saja kami sepulang sekolah, tidak ada salahnya."


"Memang tidak salah. Tapi bukankah kita akan pergi malam ini? Ada yang ingin aku lakukan sebelum itu jadi.. Aku tidak ikut."


"Well baiklah. Terserah kamu saja."


"So, jam sebelas di hutan belakang sekolah?"


"Yup."


"Okee..see you there. I have to go." Gyria berlari kecil meninggalkan kantin.


*******


Beberapa mantra yang di baca terdengar di seluruh sudut ruangan. Beberapa orang duduk membentuk lingkaran sambil tak hentinya membaca mantra. Ada satu orang di tengah lingkaran mereka. Satu orang yang juga duduk menyilangkan kaki dan dengan mata terpejam, berusaha untuk konsentrasi.


"AAARRRRGGGHHHHH!! HENTIKAN! HENTIKAN SEMUA!!"


Wanita itu tiba-tiba berdiri dan berteriak.


"Aku tidak mau melakukan hal bodoh ini lagi!"


"Tapi Luna.."


"Tidak! Yang kuperlukan hanya anak itu, hanya Allana."


"Kita tidak tahu di mana dia."


"Kalau begitu cari!! Apa yang kalian kerjakan selama ini?! Bukankah kalian pengikut setia ayahku?!"


"Pasukan serigalamu sudah berusaha mencarinya. Tapi anda tahu, pihak kuil yang menyembunyikan yang artinya butuh sihir untuk menemukannya. Hanya sihir ayah anda yang mampu menemukannya dan itu ada di dalam diri anda."


"Apa kalian bahkan yakin kekuatan itu ada?"


"Tentu saja. Hanya perlu di bangkitkan saja."


"Tapi bagaimana kalian tahu sihir itu ada di dalam diriku? Bisa saja sihir itu ada di.... Adikku.."


"Tidak pada adik anda luna. Dia tidak bisa menerima kekuatan itu."


Luna Chloe terdiam. Dia enggan melakukan hal yang menurutnya membuang waktunya. Tapi jika ini cara untuk menemukan Allana, dia tidak punya pilihan lain.


"Baiklah, tapi aku tidak punya waktu banyak."


"Kami mengerti. Tenang saja, kita sudah hampir sampai."


"Bagus."


Luna Chloe kembali duduk di tempatnya tadi dan berusaha berkonsentrasi kembali.


******


Sebuah suara mengagetkan Erica yang sedang menunggu dalam gelapnya hutan.


"Maaf, aku terlambat."


"Aku sudah berasumsi kamu batal ikut."


"Tentu saja tidak. Hanya ada masalah sedikit dengan ibuku dan jadwal patroli."


"Baiklah, apa kamu siap?"


"Tentu, tapi.. Kita mau kemana?"


"Kota RotternVille."


"Di mana itu?"


"Ikut saja. Ayo kita berubah. Jika kita pergi sekarang, sebelum subuh sudah sampai. Ayo."


Erica mulai merubah dirinya dan pergi disusul Gyria. Mereka pergi menembus malam yang panjang dan dingin. Berusaha mengindari patroli malam yang di lakukan pack Erica.


Tepat sebelum subuh, mereka sampai di sebuah hutan yang terlihat berbeda dari RiverVille. Batang kayu pohonnya kecil dan tinggi menjulang ke atas. Berbeda dengan RiverVille yang pohon-pohonnya berbatang cukup besar.


"Kita sudah sampai. Rumahnya di selatan kota. Ayo."


Erica kembali berlari. Gyria dengan setia mengikutinya dari belakang.


Tiba-tiba terdengar beberapa langkah di sisi kanan dan kiri mereka. Mereka di ikuti.


"Sial!"


"Siapa mereka? Apa kita memasuki pack mereka?"


"Tentu saja tidak. RotternVille adalah wilayah netral, sama dengan RiverVille. Tidak ada yang menguasai wilayah ini."


"Tapi kita sudah jelas di ikuti. Apa rogue?"


Erica menoleh melihat ke mata salah satu serigala yang mengejar mereka. Biru.


"Bukan, mereka bukan Rogue. Mata mereka berwarna."


"Berarti wilayah ini milik seseorang."


"Tidak mungkin."


Erica berhenti mendadak dan menghadapi para serigala.


"Erica! Kau sudah gila!"


"Cepat atau lambat mereka akan menangkap kita. Jadi, kita hadapi saja. Apa mau kalian?!"


Para serigala itu menggeram mendekati mereka perlahan. Mereka saling bersiap menyerang.


******


Tadariez