
Allana semakin panik.
"Ba-bagaimana ini?"
"Tetap di dekat kami Allana. Lily, serang mereka yang mendekat selagi aku mencoba membuka ini."
Lily mengangguk dan bersiap.
Kei terhempas keras dan langsung bangkit. Dia kembali menyerang para serigala yang menyerangnya. Dia berusaha untuk tidak terlalu menyakiti mereka terlebih menggunakan racun gigitannya yang membuat mereka mati.
Sekali lagi Kei terhempas. Dia menggeram marah. Ian mendatangi Kei.
"Jangan ragu Kei, kita kalah jumlah. Jika kamu ragu untuk menyakiti mereka, kita akan kalah."
Kei menggeram marah. Dia berlari menuju satu serigala yang mendekatinya. Kei menghempas serigala itu dengan kepalanya. Satu serigala datang dan menggigitnya. Kei mengerang kesakitan. Dia berlari sambil membawa tubuh serigala yang menggigitnya bersamanya lalu membuatnya menabrak pohon. Serigala itu terbaring di tanah. Tak lama Kei terhempas lagi. Dia menggigit, menendang, tapi Serigala-serigala tetap berdatangan dan menyerangnya. Kei mulai kewalahan.
Sementara itu para penyihir
"Apa masih belum?" tanya Lily. Ini sudah kesekian kalinya dia terhempas akibat mantra dan hampir terkena mantra kematian.
"Belum Lily. Ini rumit. Aku sudah mencoba beberapa mantra untuk membukanya tapi semua tidak berhasil."
"Aku tidak tahu apa bisa bertahan. Mereka dengan mudah melontarkan mantra kematian. Terus coba Liv." Lily mengayunkan tangannya, menangkis mantra.
"Apa itu mantra kematian?" tanya Allana.
"Mantra yang jika kau katakan dan arahkan pada lawanmu, lawanmu akan mati."
"Hanya sebuah mantra?"
"Yup, satu mantra sederhana tapi mematikan. Arrgghh!! Sial!!" Wajah Lily terluka terkena daun yang sudah di pertajam.
Allana terdiam. Ini tidak bisa di biarkan. Dia ingin membantu. Allana menutup matanya, menyuruh tubuhnya untuk berubah. Tapi tidak ada yang terjadi.
Brakk!!
Lily terhempas jauh.
"Lily!!"
"Aku tidak apa-apa Liv. Lanjutkan!"
Lily bangkit dan mulai menyerang. Bahkan Lily pun melawan banyak penyihir. Sama sekali tidak seimbang.
"Apa... Apa yang harus aku lakukan untuk membuat aku berubah?"
"Tidak ada Allana. Kamu tidak bisa memaksakannya. Meski sudah hidup, jiwanya masih terlalu lemah. Jadi-- Allana!!" Livia terkejut melihat Allana mulai berlari ke arah kerumunan serigala yang sedang bertempur.
"Buka saja!!" pekik Allana. "Kamu bisa Allana, kamu bisa!!" Allana menyemangati dirinya.
Dia melihat Ian yang sedang di kerumuni tiga serigala. Allana melompat ke atas satu serigala dan menarik keras bulunya. Kekuatan serigala Allana belum pulih tapi di cukup kuat. Serigala itu menggeram dn menggoyangkan tubuh Allana agar Allana jatuh, tapi Allana terus berpegangan dengan kuat. Tapi dengan keras Allana terhempas di detik berikutnya. Ukuran tubuh Allana jauh berbeda dari serigala itu, tentu dengan mudah bisa di hempas. Serigala itu menatap dan menggeram kasar pada Allana yang duduk di tanah. Allana mulai takut, mulai menyesali kenekatannya. Allana mudur dengan posisi duduk di tanah. Tangannnya tiba-tiba menyentuh sebuah batang kayu. Allana dengan sekuat tenaga mengayunkan kayu itu ke depan serigala. Membuat serigala itu tersentak kaget dan mundur beberapa langkah. Allana berdiri dengan tongkat di tangannya. Serigala itu menggeram lalu berjalam cepat menuju Allana. Serigala itu melompat tinggi ke arah Allana. Allana dengan cepat menghindar. Allana terus bisa menghindari serangan serigala itu. Dalam hati dia berterima kasih pada Beck telah mengajarinya beberapa bela diri. Allana sedikit ceroboh yang membuatnya terhempas mengenai pohon. Allana meringis kesakitan. Tapi dia langsung bangkit dan menahan kepala serigala yang akan menghempasnya lagi dengan kayu yang dia bawa. Allana termundur dengan cepat dengan kayu yang masih menahan dorongan kepala serigala. Allana mencoba menahan dorongan itu dengan kakinya, agar dia tidak terus mundur dan menabrak pohon. Tapi sia-sia. Dia tidak bisa menahannya.
"Aku tidak akan kalah. Aku tidak akan kalah. Aku tidak akan kalah." Allana bergumam sendiri. Tiba-tiba tubuh Allana tertahan. Dia menoleh kebelakang dan sudah ada Kei di sana yang menahan tubuhnya. Kei menatap tidak percaya. Kei mengayunkan satu tangannya dan membuat serigala yang menyerang Allana terhempas cukup jauh. Kei merendahkan tubuhnya, agar Allana naik. Allana yang mengerti langsung naik. Kei berlari menuju Livia. Sesekali para serigala mendekat dan Allana dengan cepat mengayunkan kayunya, membuat Kei terkejut. Allana masih memiliki kekuatan yang cukup membuat beberapa serigala mundur.
Allana turun dari tubuh serigala Kei dan Kei merubah dirinya.
"Livia?"
"Maaf Kei, ini sulit. Entah mantra apa yang mereka berikan." Livia terlihat panik dan bingung. "Condeconsti!" Livia memingsankan satu penyihir. "Terlebih, mereka terus menyerang, membuat kami kehilangan fokus. Sepertinya mereka tidak akan membiarkan kita lewat. Jalan satu-satunya adalah kita harus kembali."
"Tidak mungkin Liv. Kembali berarti harus melewati pack Crysort dan aku yakin luna itu telah menunggu di sana."
Livia dan Kei terdiam.
"Bagaimana... Bagaimana jika kita kembali?"
"Tidak bisa Allana. Luna Chloe terlalu kuat untuk di hadapi pasukan kecil kita. Lagipula Lykort sangat jauh dari sini."
"Aku tidak bilang kita akan ke Lykort. Kita akan menuju ke kuil itu."
"Apa?"
"Sepertinya memang ini yang terbaik. Berkumpul dengan sejenisku lebih baik."
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada. Kita bisa menghadapi Luna dengan monster yang ada di dalam tubuhmu." Allana menunjuk dada Kei. Kei menghela nafas.
"Aku berusaha untuk tidak menggunakannya."
"Allana benar Kei. Hanya itu caranya. Kamu sudah bisa mengendalikannya."
"Itu benar Liv. Tapi monster itu memiliki hasrat membunuh yang tidak akan pernah puas. Itu yang masih sulit untuk aku kendalikan. Bisa, tapi cukup sulit."
"Kei, kamu pemiliknya sekarang. Kamu bisa. Kita tidak akan bertahan di sini Kei."
Kei menatap ke sekelilingnya. Beberapa pasukannya mulai mengalami kekalahan.
"Baiklah, akan aku lakukan."
"Tapi dengan rencana." sahut Allana lagi dengan cepat membuat Kei dan Livia menatapnya. "Yang di incar adalah aku. Mereka menginginkan aku. Mereka tidak akan memperdulikan hal lain. Karena itu, kita bagi tugas. Ada yang bersamaku untuk menuju ke kuil, ada yang bersama Kei, yang akan melawan luna itu."
"Aku yang akan ke sana bersamanya. Ryan akan membantumu, Kei." sahut Ian yang sudah bergabung bersama mereka.
"Baik kalau begitu. Kalian bersiap aku akan membuka jalan."
Kei mengatur nafasnya. Detak jantungnya semakin cepat, Kei menutup matanya. Sudah ada tiga serigala di depannya. Kei membuka matanya. Warna bola matanya putih pucat. Tak lama tubuhnya meninggi dan membesar. Kaki dan tangannya ditumbuhi bulu-bulu yang panjang dan lebat berwarna abu-abu tua. Wajahnya berubah menjadi serigala bercampur wajah monster. Kuku-kukunya panjang dan tajam. Kei berdiri dengan kedua kakinya. Dia menatap tiga serigala yang berdiri di depannya. Ketiga serigala itu terlihat terkejut dan ketakutan.
"Aku kira serigala Kei berwarna putih." gumam Allana.
"Saat menjadi serigala memang berwarna putih tapi saat menjadi Lycan, seperti itu dan percayalah. Dia sangat kuat." jelas Ian. "Saat Kei mulai menyerang, naiklah ke punggungku."
Ian merubah dirinya menjadi serigala dan bersiap. Kei menoleh ke belakang, pada Ian dan Allana. Dia menggeram lalu berlari mendatangi para serigala yang menyerang mereka. Dia mencabik mereka, merobek tubuh mereka hingga membelahnya. Bahkan Kei cukup cepat menghindari serangan penyihir.
Allana naik ke punggung Ian. Ian berlari cepat, mencari celah.
"Beta." panggil Jack dengan pikirannya.
"Jack, aku akan membawa Allana kembali ke kuil karena kita tidak akan bisa menuju ke pack Zykort. Bantu Kei untuk membuka jalan dan mengalihkan luna Chloe dari kami. Sampaikan pada yang lain."
"Baik beta."
Jack beralih menuju Kei dan membantunya, sementara Ian terus berlari menghindari beberapa serigala dan penyihir. Serigala Kian bersama Livia di atasnya mendekati Ian.
"Ian, bergabung dengan kami dulu. Aku akan membuat jalan agar kalian tidak ketahuan."
Ian mengubah arah. Mereka berkumpul, bersiap untuk menyerang kembali. Kei yang sudah berdiri mulai berlari kembali menuju para serigala di ikuti para gamma dan betanya. Serigala Kian dan Ian berlari berdampingan. Begitu juga dengan serigala Jason yang sudah ada Lily di atas tubuhnya.
"Lily menyebar! Sesuai rencana!" pekik Livia. Jason menurutinya dan langsung berpindah ke sisi satunya.
"Misty Helamo" Livia membaca mantra begitu juga dengan Lily. Kabut mulai muncul dan semakin lama semakin lebat. Livia dan Lily masih terus membaca mantra agar jika para penyihir menyapu kabutnya, kabut yang lain akan tetap datang.
Livia menyerahkan satu benda seperti batu berwarna merah pada Allana dan memintanya menggenggam kuat benda itu sampai mereka tiba di tempat tujuan. Allana menurut dan Ian telah berlari berpisah dari yang lain. Beberapa serigala mengejar mereka.
"Sial! Mereka akan terus mengejarku karena aku menggunakan mata betaku. Sangat sulit untuk tidak menggunakannya di dalam kabut seperti ini!"
Ian terus berlari menghindari kejaran para serigala.
"Ian! Jangan menggunakan mata Betamu." pinta Allana. Ian menggeram. Dia tidak bisa. "Aku mohon padamu. Aku bisa menunjukkan jalannya!"
Ian ragu. Tapi akhirnya menuruti perkataan Allana dan merubah matanya menjadi mata serigala biasa. Langkah Ian terhenti. Dia melihat kesekelilingnya. Jarak pandangnya terbatas. Berbeda saat dia menggunakan mata betanya.
"Terus berlari lurus ke depan." bisik Allana tapi Ian tidak bergerak. "Percayalah padaku."
Ian akhirnya berjalan lurus. Dia sedikit berlari. Dia waspada akan kehadiran serigala lain. Allana juga terus melihat kanan dan kirinya. Seluruh hutan ini sudah tersebar kabut yang di buat Livia dan Lily.
Langkah Ian terhenti. Dia mendengar ada suara langkah yang cukup banyak.
"Apa ada yang mengikuti kita? Kita harus bagaimana?" Allana mencari-cari kehadiran serigala lain. "Arrgghhh...!"
Allana terkejut. Tangannya panas akibat batu yang di bawanya. Tangannya mulai terasa terbakar.
"Ada apa dengan batu ini?" tiba-tiba Allana teringat pesan Livia untuk terus berlari sampai tujuan. "Itu berarti kita tidak boleh berhenti. Ian berlarilah. Kita tidak boleh berhenti."
Ian bingung dengan maksud perkataan Allana. Sementara dia masih diam tidak bergerak karena beberapa serigala akan mendengar langkahnya.
"Ian aku mohon cepatlah, batu ini akan segera meleleh dan habis. Jika habis, aku tidak akan bisa menunjukkan padamu jalannya."
Ian menggeram kesal lalu akhirnya berlari cepat. Terdengar langkah beberapa serigala yang berubah arah menjadi mengikuti mereka.
"Sial! Aku harap kamu bisa berpegangan dengan erat Al."
Sementara itu Kei...
Kabut telah menghilang sempurna di sekitar Kei dan kawanannya. Kei melihat luna Chloe yang tampak terkejut melihat Kei berubah menjadi Lycan.
"Apa-apaan ini?! Kalian menyerang kami!" Lily mulai protes.
"Sungguh sangat menyesal yang mulia, tapi anda memiliki sesuatu yang menjadi milik saya."
Kei menggeram keras, memperlihatkan giginya yang besar dan tajam. Tangannya mengepal keras.
"Kamu tahu akibatnya jika menghalangi bahkan menyerang rombongan yang mulia?!"
"Tahu. Tapi tenang, saya hanya akan mengambil apa yang menjadi milik saya."
"Kalau begitu kami akan mengambilnya dengan paksa."
"Kamu yakin akan melawan yang mulia?" tanya Livia. Luna Chloe menggeretakkan giginya.
"Patut di coba. Lagipula, dia tidak akan pernah bisa membunuhku. Kamu penyihir, kamu tahu benar hal itu bukan?"
Livia menatap Kei. Memang benar, hanya Allana yang bisa membunuhnya. Jika orang lain yang membunuh luna Chloe, jiwa serigala Allana tidak akan bisa kembali. Kei mulai bergerak.
"Kei, jangan membunuhnya." pesan Livia. Kei hanya terdiam sejenak lalu melangkah kembali.
"Serang mereka!"
Beberapa kilatan sudah mulai terlihat. Beberapa di antaranya mengenai Kei. Kei menggerang kesakitan meski itu belum cukup untuk menjatuhkannya.
Luna Chloe hanya terdiam di tempatnya. Matanya mencari-cari keberadaan Allana yang tidak bisa dia temukan sedari tadi.
"Luna, sebaiknya kita masuk ke dalam pack. Pack kita telah terlindungi dan--"
"Aku tidak melihatnya di manapun."
"Apa?"
"Allana! Aku tidak melihatnya. Apa kamu yakin tadi dia bersama raja itu?"
"Tentu saja luna, saya sudah memastikannya." sahut Melisa yakin.
"Aneh." luna Chloe mengerutkan keningnya.
"Ayo luna, raja itu semakin tidak terhentikan."
"Hitung! Hitung anggota mereka."
"Tapi luna--"
"Hitung sekarang Melisa! Ini perintah!"
"Ba-baik luna." Melisa menghitung yang bisa dia lihat tapi Melisa terlihat tidak bisa menghitung dengan benar karena mereka semua sedang bertempur.
"Dasar bodoh! Menghitung saja tidak becus!!"
Luna Chloe mulai marah. Dia terlihat panik dan gelisah.
"Satu! Hanya satu. Mel, berapa beta yang di miliki raja itu?"
"Yang saya ingat sewaktu mereka kemari.... Ada dua luna."
"Dugaanku benar. Brengsek!!! Ikut aku!!"
Luna Chloe berubah menjadi serigala dan segera berlari menjauh.
Sementara itu Allana...
Ian baru saja menjatuhkan salah satu serigala. Masih ada lima lagi yang bersiap menyerang. Ian tidak bisa bergerak mudah karena Allana berada dia atas punggungnya. Dia tidak bisa mengambil resiko dengan menurunkan Allana. Satu serigala mulai maju dan melompat. Ian bersiap melawan. Tapi satu serigala lain yang baru saja datang, menghempas serigala itu. Ian terkejut.
"Itu... Gyria.." Allana terkejut melihat kedatangan Gyria.
"Beta, pergilah. Bawa Allana pergi dari sini. Saya yang akan mengurus mereka."
"Apa kamu yakin bisa menghadapi mereka sendiri?"
"Yakin beta. Saya bisa melawan mereka. Jangan khawatir dan pergilah! Kalian tidak punya banyak waktu."
Ian segera berlari dan pergi meninggalkan Gyria sendirian menghadapi lima serigala.
Flashback on
Gyria hanya bisa mengerang kesakitan. Dia di siksa sedari tadi. Tubuhnya mulai melemah. Dia bahkan mulai tidak bisa menggerakan tubuhnya. Dia melihat kesekelilingnya. Tidak ada orang. Hanya dia sendiri di ruang gelap itu. Gyria menghela nafas. Setidaknya dia tidak akan disiksa untuk sementara ini, itu pikirnya.
Tak lama terdengar suara dari pintu. Seseorang mencoba membuka pintu. Gyria menutup matanya. Baru saja dia bisa bernafas lega, kini dia harus menghadapi siksaan lagi.
"Gyria?" terdengar suara memanggil namanya. Suara itu terdengar sangar familiar. "Gyria?"
Gyria hanya bisa mengerang pelan.
"Astaga Gyria."
"Le-Leysha?"
Leysha berlari menuju Gyria. Dia berusaha membuka rantai yang mengikat tangan Gyria.
"Tidak.. Ti-tidak.. Pergi... Pergilah..."
"Aku tidak akan kemana-kemana."
Gyria menggeleng sekuat yang dia bisa. Menolak untuk di bebaskan.
"Me-mereka... Mereka akan menyik-samu jika.. Jika mereka tahu.. Pergi.. Aku mohon.."
"Mereka tidak akan melakukannya. Diamlah dan biarkan aku membebaskanmu."
Leysha berusha membuka rantainya. Dia tidak bisa menggunakan kekuatan serigalanya karena rantainya di olesi oleh racun wolfsbane yang membuatnya lemah. Leysha mencoba untuk menggunakan kunci. Tapi dari beberapa kunci, banyak yang tidak cocok.
Klik!
Kunci terbuka. Dia berhasil membebaskan Gyria.
"Uhuk.. Uhuk..."
"Ini... Minumlah.." Leysha menyerahkan satu botol kecil minuman. Gyria meminumnya.
"Aaakkhhh..." Gyria mengerutkan keningnya.
"Tidak, kamu harus meminumnya."
"Tapi--"
"Aku tahu, rasanya tidak enak. Ini ramuan penyihir, yang akan menghilangkan efek dari wolfsbane yang telah kamu minum. Aku tahu mereka memberikan itu padamu."
Gyria menghela nafas dan berusaha menghabiskan semua isi botol. Perutnya mulai mual.
"Sebisamu jangan memuntahkannya." pinta Leysha. Gyria mengangguk pelan.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Menyelamatkanmu tentu."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi Gyria. Disini mulai ricuh. Aku dengar raja itu menggunakan Lycan. Mereka akan kewalahan melawannya. Luna meminta semua orang untuk membantu bertarung, bahkan yang tidak bisa bertarung sekalipun. Dia sudah gila!"
"Ibuku! Aku harus menyelamatkan ibuku."
"Tidak perlu. Beta Beck sudah melakukannya. Beta menitipkan ibumu ketempat yang cukup aman, setidaknya untuk sementara. Sekarang, kamu harus pergi."
"Tapi...tapi bagaimana denganmu?"
"Aku akan baik-baik saja."
"Tidak! Ikutlah denganku."
"Aku tidak bisa Gyria."
"Tapi--"
"Tidak ada tapi. Sekarang pergilah. Ibumu memerlukanmu. Ini alamat di mana ibumu berada." Leysha menyerahkan secarik kertas. Gyria membaca alamat di kertas itu. Mereka berdiri. Gyria menatap Leysha. Dia berharap Leysha berubah pikiran.
"Ayo! Pergilah. Lewat belakang pack, kamu akan aman."
Gyria mengangguk lalu berlari pergi. Semakin lama kekuatannya kembali. Ramuan itu berhasil. Gyria berlari menuju belakang pack. Saat sudah melewati perbatasan pack, dia berubah menjadi serigala lalu berlari cepat menjauhi pack. Tapi tak lama langkahnya terhenti. Tiba-tiba kabut muncul entah dari mana. Semakin lama semakin tebal, membuatnya harus menggunakan mata gammanya.
Gyria terus berlari tapi langkahnya terhenti lagi. Dia melihat ada yang bertarung dari kejauhan. Dia mendekat perlahan.
"Allana?" Gyria melihat satu orang yang ada di punggung satu serigala. "Sedang apa Allana disini?"
Gyria melihat serigala yang di tunggangi Allana berhasil menjatuhkan satu serigala. Gyria yakin mereka tidak memiliki waktu yang banyak. Gyria melangkah ingin membantu, namun akhirnya dia berhenti lagi. Dia teringat ibunya.
"Tidak, kata Leysha ibu aman, meski hanya sementara, tapi ibu aman. Ibu bisa menunggu. Sekarang kekuatanku sudah kembali normal. Aku harus membantu Allana. Ya, ibu bisa menunggu, Allana tidak."
Gyria berlari menuju Allana dan menghempas satu serigala yang melompat tinggi untuk menyerang Allana.
"Beta, pergilah. Bawa Allana pergi dari sini. Saya yang akan mengurus mereka."
"Apa kamu yakin bisa menghadapi mereka sendiri?"
"Yakin beta. Saya bisa melawan mereka. Jangan khawatir dan pergilah! Kalian tidak punya banyak waktu."
Gyria melihat Ian berbalik dan pergi.
"Jika kalian ingin mengejarnya, kalian harus melewati aku dulu."
*****
tadariez