Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 31 : We Just Want To Find The Tample



"Siapa kalian?"


"Harusnya kami yang bertanya. Siapa kalian? Kenapa kalian kemari? "


"Bukan urusan kalian kenapa kami datang."


"Tentu urusan kami. Kami yang berwenang disini."


"Ini wilayah netral."


"Kami menjaga tempat ini sekarang."


"Omong kosong. Kalian dari pack mana?"


"Itu juga seharusnya kami yang bertanya."


Erica dan beberapa serigala menggeram marah. Mereka saling siaga untuk menyerang.


"Jika kalian mengacau, kalian akan berhadapan dengan kami."


"Cih! Kami tidak takut. Kami bukan Rogue, kami memiliki pack."


"Okee! Hentikan!"


Gyria segera merubah dirinya lalu mengenakan kaos dan jaketnya.


"Sudah, cukup."


"Gyria, dia... Akh sial!"


"Hentikan Erica. Kita yang salah karena memasuki wilayah mereka."


"Kau gila?!" Erica ikut merubah dirinya di balik pohon. "Disini wilayah netral. Aku sudah sering kemari. Aku baru pertama kali melihat mereka!"


"Sesering apa kamu kemari?" satu laki-laki yang telah merubah dirinya juga.


"Cukup sering. Aku memiliki sepupu yang tinggal disini."


"Benarkah? Siapa?"


"Untuk apa aku memberitahukanmu?"


"Dengar nona, kami memiliki masalah disini. Jadi kami hanya ingin memastikan." kata satu orang lagi.


"Beritahukan saja siapa, mereka akan memastikan benar atau tidak." pinta Gyria.


"Sepertinya temanmu lebih mengerti."


Erica menarik nafasnya.


"O'bryan. Rodney O'bryan. Dia sepupuku."


Semua laki-laki terdiam dan saling menatap.


"Kau yakin nona?"


"Tentu saja yakin."


Para lelaki itu saling menatap kembali sejenak.


"Baiklah, kami akan mengantar kalian."


"Tidak, tidak perlu. Kami baik-baik saja."


"Tidak baik nona. Beberapa hari ini rogue terus menyerang wilayah ini. Sudah beberapa yang jatuh korban. Kami tidak akan mengambil resiko."


"Kenapa tiba-tiba kalian baik pada kami?"


"Ohh jangan anggap kami baik dulu. Kami akan memastikan apa kamu benar-benar sepupu dari Rodney."


"Aku rasa itu tidak perlu. Aku bukan orang jahat."


"Maaf tidak bisa nona. Kami harus mengantarmu, sampai tujuan. Kebetulan kami mengenal Rodney."


"Kalian? Mengenal Rodney? Jangan buat aku tertawa."


"Kami sedang tidak ingin membuat siapapun tertawa."


Erica menatap mereka dan melihat kesungguhan di mata mereka.


"Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri."


"Tidak bisa. Dengan kami atau tidak sama sekali."


"Kalian--"


"Baiklah. Silahkan antar kami." potong Gyria.


"Apa? Kau--"


"Kita tidak akan bisa ke rumah sepupumu jika kamu terus berkeras."


"Karena itu... Karena itu, kenapa mereka memaksa untuk mengantar. Selama ini aku baik-baik saja dan sampai dengan selamat di rumah sepupuku tercinta, SENDIRI."


"Situasi sekarang berbeda, nona. Kami tidak ingin mengambil resiko."


Erica menghela nafas kasar.


"Kami mengerti." Gyria berbalik dan mendorong tubuh Erica untuk berjalan setelah mereka selesai berpakaian. Erica dengan enggan melangkahkan kakinya.


"Kamu tidak mengerti..."


"Apapun itu... Nanti saja. Kita harus pergi ke rumah sepupumu dulu."


"Tapi... Tap-tapi..." Erica tidak bisa menolak lagi.


Mereka berjalan beberapa lama, lalu sampai di sebuah rumah bercatkan hijau muda. Rumah itu terlihat cukup gelap karena orang rumah sudah tidur.


"Ayo, ketuk pintunya." pinta salah satu serigala laki-laki. Erica maju perlahan, dia terlihat ragu. "Ayo ketuk. Kenapa diam saja?"


Erica masih terdiam di tempatnya.


"Erica? Kau baik-baik saja?" kali ini Gyria bertanya.


"A-aku... Aku baik.."


"Kalau begitu cepatlah! Kami tidak bisa menunggu lama. Kami harus berpatroli kembali."


"Kalau begitu pergilah. Kami sudah di sini. Tak perlu menunggu kami." sahut Erica kesal.


"Kami harus memastikan kamu adalah sepupu Rodney."


"Astagaa... Kalian keras kepala."


"Kalau begitu ketuklah pintunya. Ayolah Erica. Biar kita segera terlepas dari mereka." sahut Gyria.


"Apa... Apa Rodney tahu kalian adalah manusia serigala?" tanya Erica pada para lelaki itu. Mereka hanya bisa saling menatap.


"Tentu saja dia tahu." salah satu mereka menjawab dan menatap Erica heran. Erica menghela nafas.


"Erica, sebenarnya--"


Klik


Terdengar suara dari balik pintu dan tak lama pintu terbuka. Semua orang terkejut dan menatap orang yang membuka pintu.


"Ada apa ini? Erica??"


"H-hai... Hai... Rod." Erica tersenyum terpaksa dan melambaikan tangannya kikuk.


"Sedang apa kamu disini dan bersama mereka?" Rodney menatap Erica dan para lelaki bergantian.


"Well... Aku--"


"Kami bertemu dengannya dan temannya di hutan."


"Tunggu, di hutan? Er, apa yang kamu lakukan di hutan malam-malam?" Rodney menatap Erica bingung. "Uhm.. Hutan mana Ad? Rumah Erica atau sini."


"Tentu saja disini." sahut satu laki-laki bernama Adrian.


"Ahh... Hah? Apa? Kenapa kamu ke hutan malam-malam? Kenapa tidak langsung kemari? Dan... untuk apa kamu kemari tanpa pemberitahuan?"


"A-ku.."


"Apa dia benar sepupumu Rod?"


"Tentu saja Austin. Dia sepupuku."


"Ahh baguslah." semua serigala laki-laki bernafas lega.


"Kami hanya memastikan jika dia benar sepupumu." sahut Roland.


"Kami hampir mengira dia dan temannya itu rogue."


"Rogue? Apa maksud kalian?"


"Ya, kami tahu sekarang dia sepupumu. Tapi dia masuk hutan secara tiba-tiba dan kami tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya terlebih di sini banyak penyerangan Rogue beberapa hari ini jadi... Kami mengira mereka adalah rogue. Kami minta maaf." jelas Roland.


"Tunggu, apa? Dia manusia."


"Iya Rod, tentu saja dia manusia sekarang. Maksud Roland saat di hutan tadi, saat dia berubah menjadi serigala."


"Dia... Berubah... Apa?"


"Aku bisa jelaskan Rod. Akan aku jelaskan. Apa kita bisa masuk? Apa orang tuamu ada?"


"Tentu saja ada. Mereka sedang tidur. Tapi--"


"Kalau begitu mari masuk."


"Tunggu!" Erica yang mulai menarik tangan Rodney, menghentikan langkahnya. "Jangan katakan kamu adalah manusia serigala." Rodney menatap Erica.


"A-ahahahaha.... Kau ini... Hahahaha..." Erica tertawa canggung. Tapi setelah dia melihat ekspresi serius di wajah Rodney, dia menghentikan tawanya.


"Uuhm.. Aku.."


"Kamu tidak tahu dia adalah manusia serigala?!" tanya Brad setengah berteriak. Rodney tidak menjawab, hanya masih menatap Erica menunggu jawaban. "Wahh ternyata benar."


"Apa itu benar Erica? Kamu... Adalah manusia serigala?"


"Itu.. Yang akan aku jelaskan."


"Seriously?! Astagaaa!!!"


Rodney berjalan masuk ke dalam rumah. Erica menatap para serigala laki-laki.


"Ini kenapa aku tidak ingin kalian mengantarku."


"Tapi tidak masalahkan? Toh dia adalah penjaga perjanjian supranatural." sahut Roland


"Dia tetap manusia biasa dan dia sepupuku. Bahkan ibuku tidak pernah berkata apapun pada sepupunya yang bukan manusia serigala. Itu adalah kebiasaan keluargaku dan kalian harus menghormatinya."


Erica berjalan masuk kedalam di ikuti Gyria dan menutup pintunya.


"Apa-apaan itu tadi?"


"Sepertinya kita memang salah."


"Tidak, tidak Roland. Kita tidak salah. Kita hanya berhati-hati."


"Sudahlah.. biarkan mereka menyelesaikan dulu masalah mereka. Kita bisa meminta maaf lagi besok. Lagipula, kita harus berpatroli lagi. Alpha akan segera ikut berpatroli. Ayo pergi, sebelum alpha mencari."


"Baiklah... Ayo!"


*****


"Apa kau yakin??"


"Tentu saja aku yakin. Semua ada di buku ini."


"Sudah kuduga."


"Er, apa harus seperti itu, menyembunyikan semua dariku? Aku sepupumu. Aku paling dekat denganmu sejak kita kecil. Tapi kamu justru menyembunyikannya. Aku kecewa."


"Maaf Rod. Seperti yang aku jelaskan semalam. Ayah dan ibu melarangku memberitahukan padamu. Dan.. Dan aku kira kamu belum menemukan makhluk supranatural. Jadi, aku juga tidak berkata apapun."


"Seandainya kau mengatakan padaku, kau menjadi makhluk supranatural pertama untukku."


"Aku sungguh minta maaf." Erica menunduk menyesal. Ya, dia sungguh menyesal. Dia selalu bercerita pada Rodney tentang apapun semenjak kecil. "Tapi... Siapa mereka? Bagaimana kamu bisa mengetahui siapa mereka?"


"Mereka?"


"Kau tahu, yang mengantar kami semalam, dengan paksa tentu."


"Mereka tidak jahat Er."


"Aku tidak berkata mereka jahat."


"Disini banyak sekali penyerangan terhadap para manusia biasa. Rogue pelakunya. Karena itu mereka waspada."


"Tapi mereka itu siapa? Terakhir aku kesini, mereka tidak ada."


"Kamu sudah lama tidak kemari Er. Sekitar delapan bulan lalu."


"Dan pada saat itu mereka datang? Tapi kenapa? Ini wilayah netral."


"Mereka tidak ingin mengklaim wilayah ini. Hanya membantu menjaganya saja. Seharusnya semua orang berterima kasih, karena mereka mencegah hal lebih buruk terjadi."


"Tapi... Kenapa mereka datang kemari? Apa mereka menetap?"


"Aku rasa iya. Karena alpha mereka tinggal disini."


"Alpha? Siapa alpha mereka?"


"Zach."


"Zach? Zachary Payne?! Zach temanmu itu?!"


"Begitulah... Long story. Tapi Zach sekarang alpha dan dia yang mengawasi kota ini."


"Jadi... Ini pack baru?"


"Tidak, Zach alpha yang istimewa. Alpha keturunan murni. Dia penerus pack Hykort."


"Hykort? Hykort adalah pack tertua di dunia beserta pack Lykort. Aku kira pack itu telah hancur, sama seperti pack Crysort."


"Tidak, pack itu masih ada. Mereka bersembunyi. Hanya saja, Zach yang akan menjadi pemimpin pack itu, jadi tidak ada yang berani mengganggu pack itu lagi."


"Mengejutkan sekali."


"Ya, sama seperti kamu."


"Ya, ya.. Tapi sepertinya para Rogue itu melakukan penyerangan secara luas."


"Dan tidak ada yang mengetahui penyebabnya. Dan menurut ceritamu, temanmu Allana di ambil jiwa serigalanya oleh luna pack Crysort tapi sekarang kamu bersama salah satu anggota pack Crysort?" Rodney menatap Gyria dan Erica bergantian.


"Long story... Tujuan kami kemari untuk mengetahui bagaimana caranya mengetahui keberadaan kuil itu."


"Hanya itu satu-satunya cara Er, seperti yang aku beritahukan tadi."


"Berarti kita memerlukan penyihir. Tapi siapa? Gyria, pack Crysort bekerja sama dengan penyihir--"


"Sebaiknya jangan. Penyihir di Crysort tidak baik."


"Huft... Lalu cari di mana?"


"Apa packmu tidak memiliki penyihir? Maksudku... Mungkin ada teman seorang penyihir?"


"Jika ada, aku tidak akan bingung seperti ini."


"Well... Aku memiliki teman penyihir."


"Benarkah?!" Erica antusias.


"Ohh.. Tidak, tidak... Jangan antusias.. Dia bukan penyihir kebanyakan."


"Apa maksudnya itu?"


"Maksudnya... Dia baru bisa.. Tidak, tidak, hampir bisa melakukan sihir."


"Apa itu buruk?"


"Sebaiknya kamu melihatnya sendiri."


Erica dan Gyria saling menatap sejenak.


"Baiklah, tidak masalah. Lebih baik dari tidak ada penyihir sama sekali. Bagaimana denganmu Gy?"


"Lebih baik di coba kan?"


"Baiklah jika itu yang kalian mau." Rodney berdiri dari duduknya. "Jangan katakan aku belum memperingatkan kalian."


Rodney berjalan meninggalkan Erica dan Gyria yang masih saling menatap dalam diam.


*****


Daaarrrr!!!!!


Sudah kesekian kalinya terdengar bunyi ledakan. Awalnya suara itu membuat Erica dan Gyria terkejut, tapi sekarang bahkan telinga mereka hampir terbiasa dengan suara ledakan itu.


"Apa kita harus menyaksikannya terus?" bisik Gyria pada Erica.


"Entahlah.. Tapi apa kita punya pilihan?" Erica kembali berbisik.


"Ssstttttt!!! Jika kalian berisik aku tidak bisa berkonsentrasi." sahut seorang lelaki yang sedari tadi membuat ledakan memekakkan telinga. Lelaki itu kembali dengan mulutnya yang tidak hentinya membaca mantra.


"Uhmm... Maaf? Tapi.. Apa harus seperti itu. Bahkan aku sama sekali tidak mengerti--"


"Sstttt!! Aku sedang berusaha untuk berkonsentrasi." sahut lelaki itu, memotong ucapan Erica.


"Apa yang kalian lakukan disini?"


Sebuah suara mengagetkan mereka. Bahkan satu kuali kecil hampir terjatuh.


"Zach! Ohh... Haii..."


Laki-laki bernama Zach itu berjalan mendekati mereka.


"Apa yang kamu lakukan? Jangan katakan kamu melakukan sihir lagi?"


"Well.. Mereka memintaku untuk melakukannya."


Zach menatap arah yang ditunjuk. Ada Erica dan Gryria berdiri.


"H-hai... Hai Zach..." sapa Erica.


"Hai Erica. Aku dengar kamu datang tadi malam."


"Yeah... Begitulah."


"Rodney sudah cerita tadi, begitupula dengan yang lain. Tapi... Kenapa kalian meminta Daryl melakukan semua ini?"


"Well... Rodney berkata, kami memerlukan penyihir untuk menemukan apa yang kami cari dan dia... Hanya satu-satunya penyihir yang kami tahu."


"Apa Rodney memberitahukan pada kalian jika Daryl termasuk penyihir yang sangat tidak berpengalaman?"


"Hey hey man.. Come on... Aku.. Aku berlatih setiap hari."


"Yeah tentu.. Dengan memecahkan barang-barang dan memekakkan telinga."


"Oh ayolah... Aku masih baru."


"Nah itu dia. Masih baru. Seharusnya kau terima saja tawaran Bian tempo hari. Agar kamu ikut dengannya belajar sihir di Disprea."


"Apa kau akan membahasnya terus? Ya, ya aku menyesalkan hal itu. Tapi tidak bisa kembali kan? Kita bahkan tidak tahu bagaimana menghubungi yang terpilih itu." Daryl bermuka masam. Zach hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya kalian mencari penyihir yang lain, jika kalian tidak ingin membuang waktu."


"Tapi kami tidak tahu di mana kami bisa menemukannya dalam waktu dekat."


"Oh ayolah dude, biarkan aku melakukan ini. Aku hampir berhasil. Biarkan aku membantu."


"Kau yakin hampir berhasil?"


"Iya.. Aku melakukan dengan baik. Hanya saja... Ada bahan yang kurang, kurasa."


"Apa maksudmu? Apa yang kurang?" Gyria dan Erica menatap bingung. Bahkan Zach pun terlihat sama.


"Krieg... blood? Hmmm... Aku tidak mengerti."


"Tunggu, aku kira itu buku pengetahuan tentang makhluk supranatural. Apa ada mantra disana?" Zach semakin bingung.


"Bukan buku mantra. Hanya cara menemukan kuil itu. Itu kata Rodney. Lalu kemana dia? Dia menghilang."


"Rodney sedang dalam perjalanan kemari."


"Lalu apa Kei... Uhmm Kei..."


"Kreig Blood. Singkatan dalam bahasa jerman, artinya warrior."


"Ohh akhirnya kamu datang juga Rod." Daryl menghela nafas lega.


"Kau meledakkan hutan lagi? Tidak bisa di percaya. Apa kamu tidak bosan?"


"Tentu saja aku bosan. Aku ingin meledakkan seluruh kota."


"Kau ini penyihir atau *******?"


"Hentikan kalian berdua." Zach menengahi. "Lalu bagaimana? Apa maksudnya dengan warrior?"


"Artinya harus menggunakan darah warrior."


"Warrior? Warrior?!" pekik Erica. "Dari mana kita bisa mencari warrior?"


"Bukannya tiap pack memiliki warrior?"


"Itu benar Daryl tapi kita mencari kuil MoonGoddess yang artinya warrior itu harus warrior penjaga kuil. Tidak boleh yang lain." jelas Rodney.


"Bagaimana kita bisa menemukannya? Astaga."


"Aku bisa membantu." sahut satu orang yang datang tiba-tiba membuat Gyria dan Erica membelalakkan mata mereka.


"Derek!!"


*******