
"Apa kau siap Allana?" tanya Jim. Allana mengangguk. "Aku akan mengantarmu sedekat yang aku bisa di pack itu. Kemungkinkan mereka mengira kamu ada di dalam rumah alpha, jadi seperti rencana. Berbaurlah di kota."
"Baik, aku mengerti." jawab Allana.
"Apa benar-benar harus seperti ini? Aku bisa mengantarnya!" kata Arthur. Dia tampak tidak rela Allana pergi.
"Nak, ini semua demi keselamatan Allana. Jika dia langsung masuk ke dalam pack Zykolt, itu akan membuatnya aman." kata Abe. Arthur mendengus.
"Kami permisi dulu." pamit Jim. Allana memeluk Abe dan mengangguk pelan ada Arthur yang menatapnya penuh arti.
Jim memegang tangan Allana dan berteleportasi. Kaki mereka mendarat sempurna di tanah. Mereka berada disisi jalan. Sedikit masuk ke hutan. Terlihat papan nama kota wilayah Zykolt di balik pepohonan.
"Kita sampai Allana. Kamu hanya tinggal melewati-- Ugghhh..." Jim memegang dadanya. Dadanya terasa sakit. Jim terjatuh di tanah.
"Jim? Jim! Apa? Ada apa?!" tanya Allana.
"Dadaku... Sakit... Aku sulit... Berna.. Fas.."
Allana panik melihat Jim tiba-tiba kesakitan seperti itu. Tak lama terdengar suara geraman. Allana bisa merasakan ada beberapa serigala yang mengintai mereka.
"Me-mere-ka.. Sud-ah.. Ber--jaga.. Di-s-sinn-i. P-per-pergil-lah..."
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi." tegas Allana. Serigala-serigala muncul dari segala arah. Allana bersiap untuk berubah. Jim tahu dia akan mati jika tetap di sana dan mereka akan membawa Allana. Dengan sisa tenaganya, Jim meraih Allana lalu berteleportasi.
Tubuh mereka melayang sejenak, lalu kembali mendarat kasar.
"Uhuk! Uhuk!" Jim terbaring di tanah. Dia melihat ke arah Allana yang juga terbaring di tanah dengan posisi tengkurap. Tapi Allana tidak bergerak.
"Allana... A-All-lana!" Jim memanggil Allana. Tapi Allana tidak bergerak. Mereka mendarat cukup keras tadi karena Jim terburu-buru. Jim berusaha bergerak menuju Allana. "Allana!!"
Ada pergerakan dari Allana. Allana bergerak perlahan, dia mencoba untuk mengangkat kepala lalu tubuhnya dengan menjadikan tangannya sebagai tumpuan.
"Allana... Kau baik-baik saja?" tanya Jim. Allana mengangguk lalu merangkak menuju Jim. Allana membantu Jim menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon. "Maafkan aku. Pasti sakit."
Allana menggeleng. "Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Apa masih sakit?"
"Tidak, aku... Aku baik-baik saja." jawab Jim. Dia mengatur nafasnya.
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba menjadi seperti itu?" tanya Allana lagi. Jim menggeleng.
"Entahlah. Kita tidak berada di dalam pack Zykolt tapi rasanya seperti tiba-tiba aku kehilangan tenaga dan nafasku. Aneh."
"Tidak usah di pikirkan lagi. Yang terpenting kita sudah selamat." ucap Allana. Allana melihat sekelilingnya. "Dimana ini?"
"Aku hanya memikirkan tempat paling aman dan disinilah kita."
"Tapi... Di mana?"
"Disprea. Tepatnya.. Didepan Disprea, kota sihir."
Allana mengerutkan keningnya. "Tapi aku tidak melihat apapun disini." Allana masih menatap sekitarnya. Benar-benar tidak ada kota bahkan satu rumah pun.
"Kota sihir, Allana. Yang artinya dilindungi oleh sihir. Tidak akan terlihat. Sebentar." Jim merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya.
"Wahhh aku kira penyihir tidak akan memiliki ponsel." ucap Allana.
Jim tertawa. "Ya, itulah yang banyak orang pikirkan. Kami hanya jarang menggunakannya." kata Jim sambil masih mengutak-atik ponselnya. "Sudah. Will akan datang."
Tak berapa lama, Will keluar entah dari mana. Yang jelas dia muncul begitu saja, membuat Allana melongo.
"Hai. Maaf agak lama. Kalian baik-baik saja?" tanya Will.
"Baik." jawab Jim.
"Kamu.... Muncul dari mana?" tanya Allana.
"Dari sana, Disprea." ucap Will sambil menunjuk belakangnya yang jelas hanya terdapat pepohonan. Allana menatap belakang Will sejenak lalu menatap Will. Allana semakin penasaran. Dia berdiri dan berjalan cepat ke tempat yang Will tunjuk. Allana berdiri diam disana.
"Tidak ada apapun disini. Lihatlah!" kata Allana. Will dan Jim saling menatap sejenak. Jim berdiri dari duduknya.
"Tentu saja tidak ada bagimu. Hanya penyihir yang bisa masuk. Aku bisa tunjukkan jika kau mau, tapi kamu tidak akan bisa masuk." jelas Jim. Allana mengangguk lalu berdiri disisi Jim.
"Tunjukkan." kata Allana. Jim membaca mantra dan mengayunkan tangannya. Tak lama muncul sebuah kota kecil dengan banyak rumah bahkan gedung tinggi! Mata Allana membesar, mulutnya terbuka. Dia benar-benar terkejut.
"Uhmm... Apa kita punya waktu untuk ini? Bukankah kalian terburu-buru?" tanya Will.
"Ahh benar. Allana?" panggil Jim yang melihat Allana masih tampak mengagumi.
"Hm? Ahh iya. Maaf.. Hanya... Takjub."
"Yeah, kami tahu." Jim membaca mantra dan mengayunkan tangannya lagi. Disprea menghilang dari pandangan mereka.
"Jadi.. Jika aku ingin mencarimu, aku harus kemari?" tanya Allana.
"Uhmm... Tidak harus. Disprea kota yang unik. Kota itu selalu berpindah-pindah lokasi dan kapan pindahnya juga tidak tentu. Tidak seperti kota sihir lain yang selalu tetap." jelas Jim. Allana mengangguk mengerti.
"Benarkah? Apa itu?" Allana tampak antusias.
"Will akan menjelaskannya. Sebenarnya ini adalah idenya. Ide brilian." puji Jim.
"Well.. Bukan brilian. Hanya terpikirkan olehku saja. Baiklah, caranya adalah mengubah wajahmu, auramu bahkan baumu." kata Will.
"Hah?? Tu-tunggu, apa? Kenapa aku tidak mengerti?" Allana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kata lainnya, kamu harus membuat identitas baru."
"Identitas baru?"
"Ya, agar kamu bisa berlatih tanpa mereka ganggu. Kamu sudah di tandai, Allana. Dari wajah dan baumu. Bahkan para penyihir sudah memberimu mantra agar terlacak. Aku yakin mereka melacak tempat ini. Yang mereka tidak ketahui adalah tempat ini adalah Disprea."
Allana terdiam. "Apa kalian yakin dengan rencana ini?"
"Well kurang lebih? Setidaknya rencana ini akan memberikanmu waktu."
"Baiklah. Akan aku lakukan. Aku harus apa?"
"Menemui satu orang yang menguasai mantra itu." ucap Jim. Allana kembali mengerutkan keningnya. Siapa dia?
...***...
Darr!!
" Lagi!" perintah Gina. Renald mengayunkan tangannya dan lagi-lagi suara ledakan yang terdengar.
"Aku tidak bisa melakukannya lagi." ucap Renald.
"Apa kamu mau menyerah alpha?" tanya Gina.
"Tapi ini tidak akan berhasil!"
"Jadi kamu menyerah pada packmu."
Renald mengeraskan rahangnya. "Aku tidak menyerah pada packku!"
"Tapi kau terlihat menyerah. Hanya dengan kamu menguasai sihirmu, kamu bisa kembali ke packmu dan melindungi packmu, alpha. Jika kamu menyerah pada sihir, kamu tidak akan bisa melindungi packmu." kata Gina. Renald mengepalkan tangannya. Dia tahu dia harus menahan emosinya tapi Gina terus memancing amarahnya.
"Kau tahu alpha.." lanjut Gina. "sihirmu berasal dari amarahmu dan itu berbahaya. Karena semakin kamu marah, kekuatanmu semakin tidak terkontrol. Itu berbahaya bagi penyihir maupun orang sekitar kita." jelasnya. Renald terdiam. Ya, belakangan ini amarahnya selalu menguasainya. "Aku tahu kamu masih remaja. Wajar jika emosimu masih belum stabil. Tapi kamu bukanlah remaja kebanyakan remaja lain. Kamu memiliki tanggung jawab besar. Walau aku tahu itu bukan salahmu. Keadaan yang membuatmu seperti ini. Tapi aku mendengar dari pack lain yang kukenal, reputasi pack Zykolt sangat bagus."
"Terima kasih." ucap Renald datar.
"Usahamu sudah cukup bagus. Di tambah ibumu yang mengorbankan sihirnya demi melindungimu. Sekarang giliranmu, melindungi dirimu sendiri dan packmu."
"Jangan sebut-sebut wanita yang meninggalkan anaknya sedari kecil itu."
"Kau benar. Perbuatannya tidak bisa dibenarkan tapi karena dia juga kamu bisa bertahan sampai detik ini."
Renald mengerutkan keningnya. "Apa kamu berteman wanita itu? Kenapa sangat membela sekali?"
"Aku bahkan hampir tidak mengenalnya. Aku mengenal Diana dan Chris, itu benar. Tapi tidak dengan ibumu. Tapi cerita tentang ibumu sudah menyebar."
"Cerita tentang dia meninggalkan anaknya? Menelantarkannya?"
"Itu juga. Dan juga cerita tentang bagaimana dia mengorbankan sihirnya demi anaknya."
"Kenapa semua orang membicarakan itu? Membosankan sekali!" Renald mendengus. Gina menyerahkan botol minuman pada Renald lalu duduk di atas rumput. Renald membukanya dan meminumnya lalu ikut duduk di atas rumput.
"Tapi itu benar. Packmu dilindungi sihir ibumu."
"Tentu saja, dia penyihir. Dia pasti menggunakan sihir kan?"
"Benar tapi yang aku maksud adalah, seluruh sihirnya dan itu membuatnya menjadi manusia biasa. Bukan penyihir lagi." ucapan Gina membuat Renald menatapnya heran. "Kamu.. Tidak tahu?" Gina terkejut. Renald hanya diam. Dia tampak bingung.
"Ahh ternyata kamu memang tidak tahu. Apa karena kebencianmu yang membuatmu tidak perduli?"
"Bukan urusanmu." ucap Renald kesal.
"Benar. Itu memang benar bukan urusanku. Hanya saja gara-gara dia kehilangan sihirnya, dia tidak di anggap oleh orang tuanya lagi. Kau tahu, kakek nenekmu. Aku yakin sudah lama sekali kamu tidak melihat mereka."
Renald masih terdiam. Entah kenapa hatinya sakit mendengar semua itu.
"Dan perlindung pack Zykolt yang mengambil sihir ibumu itu, hanya bisa di cabut oleh keluarga ibumu karena ibumu menghubungkannya pada keluarganya."
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Untuk keselamatanmu Ren. Jadi tidak semua orang bisa membukanya. Bahkan penyihir terkuat didunia sekalipun, butuh kekuatan besar untuk membukanya. Karena itu, dia menghubungkan keluarganya pada perlindungan itu. Karena itu selama ini perlindungan itu sangat aman. Berbeda dengan perlindungan lain. Tapi masalahnya, keluarga ibumu tidak menganggap ibumu sebagai bagian keluarga mereka lagi. Bagaimana dia bisa meyakinkan keluarganya agar membuka perlindungan itu? Aku memang tidak mengenal ibumu tapi aku cukup khawatir."
Gina menatap langit di atasnya. Dada Renald terasa bergemuruh. Rasa khawatir memenuhi pikirannya.
...***...