
"Apa ada masalah?" Bian menatap Allana. Allana menggeleng.
"Tidak ada."
"Kamu bisa bertanya, kita masih ada waktu sebelum melakukan ritual."
"Apa maksudnya? Apa kita tidak akan melakukan ritual itu sekarang?"
"Tidak. Ritual akan di lakukan saat matahari akan terbit."
"Kenapa begitu? Sebenarnya ritual apa itu?"
"Ritual harus selesai di lakukan bertepatan matahari tebit. Tidak boleh sebelum atau sesudah. Itu peraturannya."
"Apa... Sakit?"
Bian memperhatikan Allana sejenak lalu berjalan mendekatinya.
"Aku akan jujur padamu. Ya, itu akan sakit."
Allana menatap Bian. Terlihat keseriusan di wajah Bian. Allana yakin Bian tidak sedang bergurau.
"Seandainya aku bisa membantu, aku akan dengan senang hati membantu tanpa kamu harus melakukan hal ini. Tapi aku minta maaf, karena aku tidak bisa membantu. Aku... Sedang dalam masa tidak bisa membantu siapapun. Lagipula, harus kamu yang membunuh luna itu, bukan orang lain."
"Lalu kenapa kamu membantuku sekarang? Dengan melakukan ritual ini?"
"Kamu tahu ini kuil apa?"
"MoonGoddess."
"Benar. Bagi kaum manusia serigala MoonGoddess adalah dewa mereka. Mereka memujanya karena MoonGoddess yang menciptakan mereka. Well, itu tidak sepenuhnya benar. MoonGoddess memang yang menciptakan manusia serigala melalui mantra dan kutukan, tapi dia bukan dewa, melainkan seorang penyihir, yang terpilih, sama sepertiku. Lalu orang itu membuat kuil. Sebuah tempat dimana barang-barang supranatural yang sangat kuat berada. Lihat sekelilingmu."
Allana melihat sekelilingnya. Memang banyak benda yang mengambang di udara dan di lindungi.
"Benda-benda ini sangat kuat. Karena itu semua benda ini harus disimpan disini. Tempat yang memiliki penjagaan terkuat di dunia. Benda-benda ini juga di lindungi khusus oleh mantra khusus."
Bian berjalan menuju satu benda. Sebuah buku. Bian menyentuh benda itu, seakan tidak ada mantra apapun yang melindunginya. Bian membuka buku itu dan meletakkan di atas meja batu.
"Jadi... Jika yang terpilih yang membuat kuil ini.. Berarti hanya yang terpilih yang bisa masuk."
"Benar, tapi aku juga tidak bisa masuk selama yang aku mau. Karena mantra disini akan menguras tenaga dan kekuatanku."
"Lalu kenapa aku bisa? Aku masuk kemari bersama satu orang temanku dan dia terluka sementara aku baik-baik saja."
"Saat Maria membuat tempat ini, dia juga membuat manusia serigala yang bisa tahan dengan mantra ini karena mereka di buat dari serpihan mantra itu. Mereka kuat, kekuatan mereka setara dengan alpha tapi bedanya mereka tidak boleh meninggalkan tempat ini. Sekalipun mereka keluar, mereka harus memiliki tujuan yang berhubungan dengan tempat ini dan harus segera kembali setelah selesai, jika tidak mereka akan langsung hancur, tidak bersisa. Dan tentang kamu Allana, kamu memang bukan dari serpihan mantra disini tapi kamu memiliki kekuatan yang setara alpha dan beta, bahkan kamu lebih kuat dari semua warrior di sini. Jika kamu di miliki oleh pack, mereka akan menyalah gunakan kekuatanmu."
"Itu tidak mungkin."
"Allana, jika kamu sudah masuk ke dalam sebuah pack, kamu harus melakukan sumpah setia pada pack, yang artinya kamu harus menuruti perkataan siapapun yang menjadi alphamu. Kecuali..."
"Kecuali?"
"Kecuali jika kamu yang menjadi pemimpin pack."
"A-apa... Tidak.. Tidak mungkin. Aku tidak mungkin menjadi pemimpin."
"Mungkin, jika kamu mau. Pilihanmu adalah menjadi pemimpin atau bergabung di sini."
Allana terdiam. Bertambah sudah pikirannya. Dia menghelaa nafas panjang.
"Jangan terlalu di pikirkan. Itu masih bisa dipikirkan nanti."
Bian kembali ke buku di depannya meninggalkan Allana yang terdiam membisu.
Sementara itu di luar...
"Apa kamu yakin Allana masuk ke sini?" tanya Kei.
"Yakin yang mulia. Dia mengikuti para warrior masuk."
"Bagaimana ini? Apa kita masuk?"
"Tidak bisa, tidak ada yang bisa masuk ke dalam."
"Itu benar. Aku.. Aku hampir mati tadi."
"Bagaimana kamu bisa selamat?"
"Allana membawaku keluar dari wilayah kuil."
"Dan sekarang dia berada di dalam. Apa jangan-jangan dia mati? Mike berkata dia hampir mati saat masuk ke dalam."
"Aku rasa tidak. Saat aku dan dia masuk ke dalam, dia tidak apa-apa. Dia tidak merasakan apapun. Dia baik-baik saja."
"Benarkah?"
"Aku akan memanggil penjaga. Kita harus memeriksanya."
Kei berjalan mendekati batas wilayah kuil. Dia menatap beberapa warrior yang berjaga tidak jauh dari sana. Salah satu warrior melihat Kei lalu mendekat. Warrior itu membungkuk hormat.
"Yang mulia."
"Ada apa? Apa yang terjadi? Di mana Allana?"
"Allana ada di dalam kuil, bersama seorang penyihir."
"Penyihir? Siapa?"
"Maaf yang mulia tapi saya tidak bisa memberitahukannya."
"Kenapa tidak bisa?"
"Atas permintaan sang penyihir."
Kei mengerutkan keningnya. "Kenapa begitu rahasia sekali?"
"Livia." panggil Kei. "Apa ada pemberitahuan dari Elder tentang siapa yang akan melakukan ritual pada Allana?"
"Elder tua tidak mengatakan apapun."
"Sama sekali?"
"Saya mendapatkan informasi yang sama dengan yang anda dapatkan."
"Kenapa ini begitu aneh dan rahasia?"
"Jadi bagaimana Kei?" tanya Ian.
"Aku akan masuk."
"Tidak, tidak... Kamu dengar sendiri apa kata Mike, tidak ada yang bisa masuk."
"Apa itu benar?" Kei menatap warrior yang masih berdiri di depannya. "Aku raja Lycanthrope, aku tidak memiliki pengecualian?"
"Tentu anda memilikinya."
Kei terkejut. "Aku.. Bisa masuk, benarkan?"
"Bisa, tapi tidak dalam waktu yang lama."
"Kalau begitu aku akan masuk."
"Hei, hei, tunggu dulu." cegah Ian. "Setidaknya kamu harus memikirkannya dulu atau, membicarakannya pada kami."
"Tidak ada waktu. Allana sudah cukup lama di sana."
Kei melangkah masuk ke dalam wilayah kuil.
"Kei-- dasar keras kepala." Ian mendengus kesal.
Kei berjalan dengan cepat menuju kuil. Tapi anehnya begitu sampai di anak tangga, dia tidak bisa naik. Seperti ada yang menahannya. Kei terus mencoba tapi hasilnya nihil.
"Ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa naik ke atas?! Allana!!!"
"Penyihir itu tidak mengijinkan anda naik. Tidak ada yang di ijinkan kecuali Allana."
"Apa? Tapi kenapa?"
"Saya hanya menuruti perintah pemilik kuil, saya tidak berhak bertanya."
"Pemilik?"
Kei mencoba mengingat apa yang pernah di katakan Bian tentang kuil ini.
"Seingatku, kuil ini milik MoonGoddess. Bagi penyihir, yang terpilih, Maria. Tapi Maria sudah tidak ada lagi. Dia sudah mati. Berarti... Bian?"
Kei menatap mulut goa. Dia berhenti mencoba untuk naik ke atas.
******
"Aku... Mendengar suara..."
"Jangan mendengarkan suara apapun dari luar."
"Tapi namaku--"
"Kamu harus konsentrasi Allana."
"Bagaimana aku bisa berkonsentrasi."
Allana berlari menuju mulut goa. Dia melihat Kei berdiri di bawah.
"Itu Kei.." gumamnya. Allana kembali masuk ke dalam.
"Di luar ada Kei, ijinkan dia masuk."
"Tidak ada yang boleh masuk kemari."
"Apa?"
"Aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun."
"Tapi dia bukan siapapun! Dia Kei, raja Lycanthrope."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa dia tidak boleh masuk?"
"Sudah aku katakan, aku tidak ingin di ganggu."
Allana menatap Bian heran. Entah kenapa dia merasa curiga.
"Waktunya hampir tiba. Apa kamu sudah siap?"
"Tidak, aku tidak siap." sahut Allana mantap. Bian menatap Allana dengan tatapan bingung. "Aku ingin Kei, ada disini."
Bian menghela nafas. "Sudah aku katakan, aku tidak ingin di ganggu." Bian memberikan tatapan seriusnya.
"Ada apa sebenarnya? Ritual apa ini?"
"Aku sudah--"
"Tidak. Yang sebenarnya. Katakan padaku yang sebenarnya."
Bian terdiam. Dia tidak menjawab. Hanya menatap Allana dalam diam.
Allana tersenyum sinis. "Benarkan? Kau berbohong padaku. Siapa kamu dan apa maumu?! Apa ini salah satu tipuan dari luna Chloe?!"
Bian masih terdiam. Allana mendengus kesal.
"Kenapa tidak menjawab? Apa aku benar? Hah! Kalian tidak pernah menyerah!" Allana melangkah pergi.
Bian mengayunkan tangannya, membuat perisai tak kasat mata. Allana terkejut. Dia mencoba menerobos perisai itu, tapi tidak bisa. Perisai itu lentur seperti karet, tapi sangat kuat. Dia seperti berada di dalam sebuah gelembung yang cukup besar. Bian mengayunkan tangannya lagi. Sebuah tali bercahaya putih muncul dan mengikat tubuh Allana. Allana terkejut.
"Apa yang kamu lakukan?!"
"Menahanmu pergi. Sudah saatnya kamu melakukan ritual. Kemarilah." sahut Bian yang sudah berdiri di depan meja batu.
"Tidak! Aku tidak akan melakukan ritual itu sampai Kei berada disini. Lepaskan aku!!"
"Itu tidak akan terjadi."
"Kalau begitu, bunuh saja aku! Bukankah itu yang kalian mau?"
"Kamu mati memang menyelesaikan masalah. Luna itu mati, pack itu mati, begitupula denganmu. Tapi apa kamu yakin akan melakukan itu? Apa kamu begitu pesimis pada apa yang terjadi?"
Allana terdiam. Dia tidak menjawabnya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Ya, dia memang pesimis. Masalah yang menimpanya satu demi satu memang membuatnya menjadi patah semangat. Dia tidak memilih untuk menjadi manusia serigala apalagi menjadi warrior yang katanya memiliki kekuatan setara Alpha dan beta, yang bahkan tidak bisa dia gunakan. Dia begitu lemah, tidak seperti apa yang ada di ramalan.
"Aku tahu kamu tidak percaya padaku tapi aku hanya ingin membantumu, setidaknya... Dengan sisa kekuatanku."
"Sisa... Kekuatan?"
"Aku seharusnya tidak bisa melakukan sihir besar untuk sementara ini tapi aku akan melakukannya untukmu."
"Kenapa seperti itu? Kenapa kamu mau melakukannya untukku?"
"Karena kita mirip. Aku melihat diriku dalam dirimu. Aku juga tidak tahu jika aku adalah penyihir, terlebih aku adalah yang terpilih. Bahkan tidak pernah terpikirkan olehku. Hal-hal yang aku kira hanya ada di sebuah cerita fantasi, dongeng dan film, justru nyata di hadapanku. Aku juga hampir menyerah dan putus asa. Banyak yang menginginkan aku mati. Terlebih, aku tidak boleh mati karena jika aku mati, aku akan membangkitkan seseorang yang seharusnya tidak boleh bangkit. Aku juga harus mengendalikan kekuatanku yang begitu besar." Bian melihat telapak tangan kanannya." Dan sekarang, aku harus mengendalikan hal lain dalam tubuhku. Seakan semua masalah tidak hentinya mendatangiku."
"Apa... Kamu baik-baik saja?"
Bian menatap Allana. "Tidak, tapi aku harus. Saat pertama kali memiliki kekuatanku, ada seseorang yang selalu mengatakan padaku. Rasakan kekuatanmu, biasakan dan kendalikan. Dan semua itu hanya kamu yang bisa melakukannya. Saat semua sudah di lakukan, maka kamu akan bisa dengan mudah menggunakannya."
"Bicara sangat mudah, tapi itu sulit."
"Aku tahu, aku pernah merasakannya. Dan sekarang, aku mau kamu merasakan kekuatan itu."
"Aku bahkan tidak memilikinya lagi!"
"Tapi kamu bisa mengingat rasanya. Rasa saat kamu masih memilikinya."
"Aku... Aku tidak tahu."
"Apa kamu pernah dengan tidak sengaja melakukan kesalahan menggunakan kekuatanmu? Atau mungkin, menyakiti orang lain menggunakan kekuatanmu?"
Allana teringat Arnett. Ya, dia ingat tanpa sengaja menyakitinya. Bahkan dia mengira telah membunuh Arnett. Dengan diamnya Allana, Bian tahu tebakkannya benar.
"Kalau begitu. Rasakan lagi. Rasakan kekuatan saat kamu menyakiti orang itu."
"Tapi kenapa?"
"Itu salah satu syarat ritual ini."
"Aku berusaha untuk melupakannya selama ini. Itu sebuah kesalahan."
"Aku tahu itu ketidaksengajaan, tapi kamu harus merasakannya Allana."
"Aku... Aku..."
Bian melangkah ketempat Allana berdiri lalu memegang kepala Allana dengan tangan kanannya. Allana berteriak keras. Bahkan teriakannya terdengar sampai di telinga Kei.
"A-ada apa itu?"
"Ritual, telah di mulai yang mulia."
"Tapi kenapa dia berteriak seperti itu?"
Warrior itu tidak menjawab. Kei ingin menghampiri tapi dia tahu dia tidak akan bisa.
"Lep-lepas-kkan... Lepaskan..."
Bian melangkah mundur, memberikan jarak antara dia dan Allana. Bian merentangkan tangannya. Dia menuntup matanya lalu membaca mantra.
"Hehayes, Hehayes akhta
Dukh althera syefi khas hehayes
Kiezha Khiezha ethaute hestias"
Bian terus membaca mantra. Dari tangannya keluar cahaya putih terang mengenai Allana. Allana berteriak kembali. Saat cahaya hilang, Allana jatuh terbaring di tanah, begitu juga Bian. Bian terduduk. Dari mulutnya keluar darah.
"Uhuk... Uhuk..."
Allana mulai bergerak perlahan dan mulai duduk. Dia mencoba bernafas perlahan. Allana menatap Bian dan terkejut. Bola mata Bian berubah menjadi putih pucat, sama dengannya saat dia berubah menjadi warrior. Warna putih di rambut Bian, yang semula hanya setengah, sekarang hampir menutupi seluruh rambutnya.
Bian mencoba berdiri. Dia menyadari Allana memperhatikannya. Dia membalikkan tubuhnya dan menutup matanya. Bian berusaha menenangkan dirinya agar bola matanya kembali seperti semula.
Setelah tenang, Bian membalikkan tubuhnya lalu melepas ikatan tubuh Allana hanya dengan mengayunkan tangannya.
"Pergilah, ritual sudah selesai."
"Lalu... Apa yang terjadi padaku?"
"Setiap manusia serigala memiliki satu jiwa serigala. Luna itu mengambil sebagian besar jiwa serigala itu darimu sehingga kamu tidak bisa berubah menjadi serigala. Indra serigalamu tidak berfungsi. Aku membuat sisa jiwa serigala yang ada dirimu bangkit. Mungkin tidak sekuat dan sehebat saat seluruh jiwa serigala itu ada dirimu, tapi kamu bisa melatihnya untuk melawan luna dan mengembalikan seluruh jiwa serigalamu."
"Apa hanya dengan membunuhnya?"
"Jika jiwa serigalamu yang ada pada luna itu belum menyatu dengannya, kamu bisa merebutnya kembali dengan sebuah mantra dan kemampuan dari sisa jiwa yang ada dirimu saat ini tanpa harus membunuhnya. Tapi jika jiwa itu telah menyatu, kamu harus membunuhnya."
"Jadi... Kamu akan membantuku lagi?"
Bian tersenyum kecil. "Tidak, aku tidak bisa membantumu, tapi mungkin ada yang akan membantumu."
"Siapa?"
"Kamu akan mengetahuinya nanti. Sekarang pergilah. Sembunyikan dirimu dari luna itu sambil melatih kemampuanmu. Dan satu lagi. Di dunia ini, hanya ada satu pack yang terbebas dari penyihir. Berlindunglah di pack itu. Aku yakin kamu akan aman."
"Di mana pack itu? Lykort?"
"Lykort memiliki penyihir, Livia dan Lily. Bahkan beberapa Knirer juga menjaga pack itu."
"Knirer?"
"Di pack manusia serigala, para ksatria di panggil warror. Sementara di kaum putih, kami menyebutnya Knirer."
Allana mengangguk mengerti. "Lalu di mana pack itu?"
Bian tersenyum kembali. "Kamu mengenal pemimpinnya."
Jawaban Bian semakin mengerutkan kening Allana.
"A-aku--"
"Jangan pesimis Allana. Usaha dan kerja keras akan membantumu. Masih banyak orang di sekitarmu yang akan membantu dan memberimu semangat. Yakinlah pada dirimu sendiri, bahwa kau bisa."
"Akan aku coba."
"Bagus. Sudah saatnya kamu melawan dan sudah saatnya juga kamu benar-benar menjadi seorang warrior, seperti yang telah di takdirkan untukmu."
Ucapan Bian sedikit memberikan semangat untuk Allana. Allana mengangguk.
"Pesanku, jangan meremehkan dirimu sendiri dan kekuatanmu. Percaya pada dirimu dan kekuatanmu. Jika kamu percaya dan yakin, maka mereka akan membantumu."
"Terima kasih."
"Pergilah. Mereka sudah menunggumu."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku bisa pergi dengan caraku sendiri. Tenang saja."
"Tapi... Apa kamu baik-baik saja?"
"Apa aku tidak terlihat baik?"
"Tadi aku lihat bola matamu berubah. Lalu.. Lalu.. Kamu sekarang terlihat sangat pucat. Rambutmu. Aku yakin warna putih di rambutmu tidak sebanyak itu tadi."
Bian diam sejenak lalu tersenyum. "Aku baik-baik saja. Pergilah."
Bian berusaha menunjukkan ekspresi jika dia baik-baik saja, agar Allana tidak khawtir dan segera pergi. Allana mengangguk pelan tapi entah kenapa hatinya ragu jika Bian baik-baik saja. Ada sesuatu yang aneh dan berbeda dari pertama dia melihat Bian.
Bian mengayunkan tangannya, membuka perisai tak kasat mata.
"Selamat tinggal Allana. Semoga berhasil."
Allana mengangguk. "Kamu juga. Ahh.. Maaf selama ini aku tidak sopan. Anda juga."
Bian hanya tersenyum. Allana berjalan keluar dari goa. Diluar dia melihat Kei yang telah menunggunya. Allana segera turun ke bawah.
"Allana... Ohh syukurlah.. Apa kamu baik-baik saja?"
Allana mengangguk. "Saya baik, yang mulia."
"Syukurlah. Lalu.. Di mana penyihir itu?"
"Bian berkata, dia akan pergi dengan caranya sendiri. Well, saya rasa teleportasi."
"Bian katamu?"
"Hmm.. Bian. Apa anda mengenalnya?"
"Sangat mengenalnya. Aku sudah menganggapnya seperti kakaku sendiri. Tapi kenapa dia tidak menyapaku?" gumam Kei.
"Dia juga aneh."
"Aneh?"
"Dia memintaku untuk bersembunyi di sebuah pack yang tidak tersentuh oleh penyihir dan dia berkata, aku mengenal pemimpin pack itu. Tapi saya benar-benar tidak mengetahui tentang pack itu."
"Pack yang tidak tersentuh oleh penyihir? Maksudmu... Pack yang tidak bisa di masuki oleh penyihir?"
"Saya rasa begitu."
"Kalau begitu, hanya ada satu."
"Ya, kata Bian juga hanya ada satu di dunia. Apa anda tahu di mana itu?"
"Tentu, pack Zykort. Dan Bian juga benar, kamu mengenal alpha dari pack itu."
"Benarkah?"
"Iya. Dia adalah orang yang menolongmu waktu itu, Renald."
"Renald?!"
******
...Pack Zykolt ...
Renald berlari di sekitar packnya. Dia berpatroli bersama beberapa anggota packnya. Meski dia bisa menyuruh para prajurit dan bawahannya untuk berpatroli, tapi Renald tidak akan merasa puas jika bukan dia yang berpatroli sendiri. Sudah menjadi kebiasaannya sedari kecil.
Renald mengitari seluruh perbatasan wilayahnya. Wilayah Renald ditutupi oleh salju yang cukup lebat tapi sama sekali tidak mengganggu kegiatan patroli mereka.
Lari Renald tiba-tiba terhenti. Ada kabut tebal yang tiba-tiba muncul dan semakin tebal. Renald bahkan tidak bisa melihat apapun. Renald mengganti bola matanya menjadi bola mata alpha-nya yang berwarna merah terang, agar bisa melihat dengan jelas. Tapi tetap saja, jarak pandangnya terbatas.
"Ted! Kau di mana?"
Renald mindlink Ted, Beta-nya. Tapi tidak ada jawaban dari Ted.
"Astaga, kemana dia? Apa jangan-jangan dia meninggalkan aku?"
Renald menggeram kesal. Dia mencoba kembali berjalan. Tiba-tiba kabut itu mulai berkurang dan semakin lama semakin menghilang. Kini penglihatan Renald menjadi jelas. Renald terkejut, ketika mendapati satu orang wanita berdiri di hadapannya. Renald menggeram keras dan kasar.
"Tenanglah, aku datang dengan damai." wanita itu mencoba menenangkan. Wanita itu bahkan tidak merasa takut pada Renald sedikitpun.
"Dia penyihir."
"Kamu benar. Aku adalah seorang penyihir."
"D-dia.. Dia bisa mendengar suara di pikiranku dalam wujud serigala? Ba-bagaimana bisa?!"
"Ohh tentu aku bisa. Nenek moyangku yang menciptakan kalian dan aku keturunan langsung darinya, jadi... Aku bisa mendengar suara mu dalam wujud serigala sekalipun."
Renald merubah dirinya menjadi manusia. "Si-siapa kamu?"
Bian berjalan mendekat tapi dengan cepat Renald menghentikannya.
"Berhenti! Jangan mendekat!!"
"Aku tidak akan menyakitimu."
"Bagaimana aku bisa percaya itu sementara kamu bisa masuk dengan mudahnya ke dalam packku yang seharusnya tidak bisa dimasuki oleh penyihir manapun?"
"Mungkin karena aku bukan penyihir biasa."
"Apa maksudnya itu?"
"Aku kemari untuk meminta bantuanmu."
"Ba-bantuan?"
"Iya, untuk melindungi seseorang. Dia tidak akan datang kecuali jika kamu mengajaknya. Well, setidaknya itu yang aku duga."
"Apa? Tunggu, melindungi seseorang? Siapa? Dan kenapa aku harus mengajaknya? Mengajak kemana?"
"Mengajak untuk tinggal, berlatih dan berlindung sementara di pack ini."
"Apa?! Kau sudah gila! Kamu datang kemari, memintaku untuk memberikan tempat tinggal, berlatih dan berlindung di packku, pada orang yang tidak aku kenal? Apa tidak salah?! Bahkan aku juga tidak mengenalmu!"
"Kamu mengenalnya."
Renald semakin bingung.
"Dan aku yakin kamu akan membantunya."
"Aku--"
"Allana. Dia orangnya."
"Allana?! Tunggu, dari mana kamu mengenalnya?"
"Huft.. Apa kamu akan terus memberikanku pertanyaan?"
"Aku bertanya.. Agar.. Semua jelas."
"Merepotkan sekali." Bian menghela nafas. "Apa kamu tahu masalah yang di alami Allana?"
"Tentu aku tahu."
"Kalau begitu bagus. Aku tidak perlu menjelaskan semuanya. Allana harus bersembunyi disini karena disini adalah satu-satunya tempat yang tidak bisa di masuki oleh penyihir. Pack Crysort memiliki cukup banyak penyihir. Mereka penyihir bebas, yang artinya mereka tidak memiliki ikatan dengan kaum putih maupun kaum hitam. Mereka bergerak sendiri, jadi sulit bagi kami untuk mengontrolnya. Allana harus di hindarkan dari mereka karena itu packmu di perlukan. Setidaknya sampai kaum putih mengatasi para penyihir itu. Kami akan mencari cara untuk mengatasinya. Jadi sebelum itu, Allana harus berada disini. Karena para penyihir tidak akan bisa mengganggu packmu, terima kasih pada ibumu dan mantranya."
"Jangan bawa-bawa dia."
"Tapi itu benar. Jika bukan karena ibumu, packmu mungkin sama seperti pack lain."
"Apa kita akan terus membahasnya?"
"Tentang ibumu? Tentu saja tidak. Tapi.. Apa kau setuju untuk membantu Allana?"
"Tentu, akan aku lakukan sebisaku."
"Bagus."
"Tapi siapa kamu sebenarnya? Kamu berkata pack ini aman dari penyihir, Lalu kenapa kamu bisa masuk?"
"Sudah aku katakan, aku berbeda dari penyihir lain."
"Alpha!!"
"Alpha!!"
"Pasukanmu mencarimu, pergilah. Dan jemput Allana."
"Baiklah."
"Jaga dia baik-baik dan beri kami waktu untuk mengatasi penyihir pack Crysort."
"Akan aku lakukan sebisaku."
Renald pergi menjauh dari wanita itu dan mendatangi packnya.
"Bagaimana? Apa dia setuju?" tanya satu orang wanita lagi yang sedari tadi mengamati mereka dari jauh.
"Tentu dia setuju."
"Kamu benar, di pack ini sungguh tidak nyaman. Meski kamu telah membuat mantra untukku, tetap tidak bisa."
"Karena mantra pelindung pack ini sangat kuat. Ibu Renald memberikan seluruh kekuatan sihirnya untuk pack ini."
"Ya, dan sekarang ibunya menjadi manusia biasa. Penyihir tapi tidak bisa melakukan sihir lagi? Pasti sangat berat."
"Tentu saja. Ayo kita pergi."
"Tapi Bian, apa kamu yakin tempat ini aman? Ya.. mungkin tidak bisa di masuki oleh penyihir tapi bisa saja jika penyihir lain merapalkan mantra untuk menghapus mantra ini."
"Mereka tidak akan bisa menghapus mantra ini. Tidak, jika mereka tidak mengetahui siapa mate dari Renald."
"Tunggu, apa hubungannya dengan mate?"
"Gina, kamu tahu jika sihir besar dan kuat memiliki konsekuensi. Dan konsekuensi dari sihir disini adalah mate dari Renald. Renald tidak akan mengetahui siapa mate-nya begitu pula dengan mate-nya, yang tidak akan mengetahui jika Renald adalah pasangannya. Bahkan merasakan kehadiran mate saja tidak. Pack ini akan tetap aman jika Renald tidak mengetahui mate-nya. Sihir disini dan di tubuh Renald akan menutupinya."
"Astaga... Kasihan sekali."
"Kamu tahu apalagi yang paling tragis?"
"Apa itu?"
"Renald akan berusaha melindungi mate-nya tanpa tahu dia, adalah mate-nya dan tidak akan pernah tahu sampai mantra ini di tarik kembali."
"Allana?!"
"Hmm... Allana."
"Dan Allana tidak akan merasakan Renald adalah mate-nya?"
"Hmm... Tidak akan pernah."
"Aku yakin, Renald akan semakin membenci ibunya jika dia tahu ini."
Bian hanya diam. Ya, semua memiliki konsekuensi yang harus di terima.
******
Tadariez