Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 19 : Not Your Mate!



"Allana?"


Allana berjalan cepat mendatangi mereka.


"Bagaimana kalian bisa, dengan mudahnya, ingin membunuhnya?!" pekik Allana.


"Allana...tidak...tidak..." manusia itu mulai berbicara. Semua orang terkejut. "Allana... Tidak!! Kamu harus pergi!! Cepat!! LARI!!"


"A-Allana?" semua heran manusia itu mengenal Allana.


"Astaga! Ben?!"


"Allana cepaat!! Kumohon, pergi!!"


"Tunggu dulu. Kamu mengenalnya Allana?" tanya Arthur. Semua menatap Allana bingung.


"Allana? Kenapa tidak menjawabnya? Apa kamu mengenal laki-laki ini?"


"Well.. Iya. Dia... Dia..."


"Kamu... Ka-kamu mengenal.. Mereka?" tanya Ben. Dia tidak kalah terkejutnya dari para serigala.


"Ya, uhm... Bisa di katakan seperti itu."


"Astaga.. Bagaimana kamu bisa-- tunggu, kamu bukan seperti mereka kan? Bukan monster seperti mereka kan?"


"Apa dia bilang? Monster? Dia benar-benar ingin mati."


"Bisakah kau tenang sedikit? Itu memang panggilan dari mereka untuk kita dan itu sudah beribu tahun lamanya."


"Ya, dan aku membencinya."


"Tidak hanya kamu, Ar. Tidak hanya kamu." Renald menggelengkan kepalanya. Allana berjalan mendekati Ben.


"Ben.. Dengarkan aku."


"Tidak!! Menjauh dariku!!"


"Aku tidak akan menyakitimu."


"Tidak! Pergi!! Tolong!! Tolong aku!!" Ben mulai berteriak minta tolong.


"Cepat bunuh dia Rome!"


"Tidak akan aku biarkan kamu membunuhnya, aku tidak perduli meski kamu adalah alpha!" tegas Allana. Dia menatap tajam Arthur.


"Kenapa kamu begitu membelanya?"


"Tolong!! Ada monster disini!! Tolong aku!!"


"Apa kamu menyukainya?" tuding Arthur. Allana hanya menatap Arthur tidak percaya.


"Tolong... Tolong...!!!"


"Astaga dia ribut sekali.."


Bukk!!


Arthur memukul belakang kepala Ben. Ben dengan segera jatuh pingsan.


"Apa yang kau lakukan padanya?!"


"Aku hanya membuatnya pingsan karena dia begitu berisik!"


"Bisakah kalian membantuku?" pinta Allana pada pack Renald. "Tolong bantu aku membawanya pulang ke rumah."


"Tunggu, apa? Rumah? Apa maksudnya dengan rumah? Rumahnya atau rumahmu?"


"Apa kalian bisa?" Allana tidak menghiraukan protes Arthur.


"Tentu." jawab Renald.


"Hei!" Arthur menarik lengan Allana agar Allana menatapnya. "Jangan menghindariku dan jawab pertanyaanku!"


"Lepaskan aku! Kau menyakitiku!"


"Jawab!"


"Hei! Hentikan itu! Apa tidak bisa jika tidak menyakiti?" Renald mencoba menengahi.


"Jangan ikut campur! Ini bukan urusanmu."


"Ini urusanku jika kamu menyakitinya. Meski dia matemu, kamu belum mengklaim dia sepenuhnya, yang artinya, dia belum milikmu sepenuhnya dan aku masih bisa ikut campur jika kamu menyakitinya." tegas Renald. Renald dan Arthur saling menatap tajam. Allana menarik lengannya yang sedari tadi di pegang oleh Arthur.


"Ayo pergi. Aku akan ikut dengan kalian. Kita kerumahku." kata Allana pada pack Renald. "Dan kau." Allana menatap Arthur. "Aku sudah muak dengan perihal mate ini. Aku tegaskan. Aku bukan matemu!"


"Apa kau sudah gila?! Jelas kau mateku! Aku merasakannya dan itu adalah kamu. Kamu seharusnya merasakan hal itu juga karena sudah pasti matemu adalah aku."


"Seandainya aku bisa. Tapi aku tidak merasakan apapun."


"Jangan berbohong dan jangan menolaknya. Sampai kapapun kamu tidak akan pernah bisa menolaknya."


"Apa wajah ini terlihat tergila-gila padamu?"


Arthur terdiam. Allana memang tidak terlihat senang jika melihatnya, ekpresinya juga tidak terlihat jika Allana jatuh cinta padanya. Dia tahu pasti bagaimana wanita jatuh cinta. Dia sangat mengenali itu. Dia mengenal banyak wanita dan semua wanita pasti jatuh cinta padanya. Karena dia tahu bagaimana wanita jatuh cinta dan Allana, sama sekali tidak terlihat jatuh cinta padanya.


"Jadi, berhentilah menggangguku."


Allana berjalan menjauhi Arthur yang masih terdiam. Salah satu gamma pack Renald sudah berubah menjadi serigala dan mereka meletakkan tubuh Ben di atas punggungnya.


"Allana, kamu naik di tubuh serigalaku saja." sahut Gyria. Allana mengangguk.


"Apa kamu belum bisa berubah menjadi serigala atau..."


"Ada hal yang membuatku tidak bisa berubah. Maaf aku tidak bisa menjelaskan."


"Tidak masalah. Ayo kita pergi. Kamu dan temanmu yang memimpin jalan."


Gyria berubah menjadi serigala. Dia merendahkan tubuhnya agar Allana bisa naik ke aras tubuhnya. Renald mengulurkan tangannya. Allana menyambutnya dan langsung naik ke atas tubuh Gyria.


"Terima kasih." sahut Allana. Renald tersenyum.


"Apa kamu akan baik-baik saja?" tanya Renald.


"Apa kamu mengkhawatirkan aku alpha?"


"Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya khawatir kamu akan memperlambat." sahut Renald cuek lalu menepuk pelan tubuh Gyria. Allana hanya tersenyum. Gyria berdiri dan bersiap berlari.


"Apa tidak apa-apa jika aku memegang kuat bulumu?" tanya Allana. Gyria menggeram pelan.


"Semua siap?"


Renald memeriksa semua anggota packnya. Dia juga akan berubah menjadi serigala. Arthur menarik lengan Renald.


"Guard her with your life."


"Tidak perlu meminta. Aku tahu apa yang aku lakukan. Urusi saja packmu."


Renald berubah menjadi serigala. Mereka semua mulai berlari menuju rumah Allana, berjalan menembus malam tanpa hambatan.


Allana turun dari tubuh Gyria setelah mereka sampai di perkarangan belakang rumahnya. Satu persatu dari mereka juga berubah kembali menjadi manusia.


"Allana? Apa itu kau?" tanya suara dari dalam rumah.


"Iya bu, ini Allana." jawabnya. "Ayo, bawa dia masuk. Lewat pintu belakang saja."


Allana berjalan menuju pintu belakang rumah dan membukanya. Disana ada ibunya yang sudah berdiri di dapur.


"Aku merasakan banyak serigala." ibunya menatap waspada.


"Mereka teman Allana bu. Jangan khawatir."


Allana masuk ke dalam di ikut Renald dan pack nya.


"Letakkan dia di kursi ini." kata Allana saat mereka sudah di ruang tamu.


"Siapa itu Allana? Kenapa dia?" tanya ibu Allana. Ayah Allana juga sudah ikut bergabung.


"Teman Allana, dia pingsan bu. Dia.. Manusia biasa dan.. Dan... Melihat mereka berubah menjadi serigala."


"Apa?" ayah dan ibu Allana sama-sama terkejut.


"Dia di buat pingsan karena histeris."


"Lalu kenapa kamu membawanya kemari?"


"Dia teman Allana bu. Dan mereka ingin membunuhnya karena dia tahu mereka adalah manusia serigala."


"Mereka?" ibu Allana menatap pack Renald.


"Bukan mereka. Pack yang satunya lagi."


"Mereka ada dua pack?" kali ini ayahnya yang bertanya.


"Ya, seperti itu."


"Apa Allana membuat drama baru lagi?" Alice baru saja turun dari tangga disusul Derek. Derek meminta ijin pada alpha Dwaine untuk pulang karena Allana besok sudah harus pergi.


"Bukan aku."


"Lalu dia siapa?"


"Dia teman Allana, Alice. Dia manusia biasa dan dia melihat mereka berubah menjadi serigala."


"Kalau begitu bunuh saja dia."


"Apa? Tidak! Aku membawanya kemari berharap kalian bisa membantuku untuk menyelesaikan ini tanpa membunuhnya."


"Apa kau bodoh? Tidak ada lagi yang bisa di lakukan. Kenapa juga dia bisa melihat mereka berubah? Apa jangan-jangan kalian sengaja berubah di hadapan dia?" Alice menatap curiga pada pack Renald.


"Tentu saja tidak. Kami sedang bertarung dan.." Renald tidak meneruskan kata-katanya.


"Bertarung?"


"Bukan dengan manusia ini. Tapi dengan pack yang satunya."


"Sepertinya aku pernah melihatmu. Entah dimana?" Derek mencoba mengingat.


"Itu tidak penting Derek. Yang terpenting manusia ini harus pergi. Tidak ada gunanya dia disini. Lagipula harus ada penyihir jika kamu tidak mau dia mati. Di mana kita bisa mencari penyihir!" Alice menggelengkan kepalanya.


"Besok para penyihir datang. Mungkin mereka akan membantu."


"Lalu kita harus apa sampai para penyihir datang? Dia akan histeris dan lari. Lalu akan memberitahukan tentang kita ke semua orang."


"Ikat saja dia. Ikat seluruh tubuhnya dan tutup mulutnya. Selesai."


"Derek benar. Setidaknya sampai para penyihir datang."


"Ibumu benar All. Kalau begitu kita ikat dia dan kembali beristirahat. Teman-teman kamu juga bisa pergi sekarang."


"Baiklah All. Kami pergi dulu."


"Terima kasih."


"Tentu. Kami permisi." Renald menginstruksikan packnya untuk pergi.


"Lewat pintu depan saja." tawar ayah Allana sambil berjalan membukakan pintu.


"Aku tahu! Aku ingat sekarang!!" sahut Derek setengah berteriak. Semua orang menatapnya. "Kamu." Derek menunjuk Renald. "Kamu adalah orang yang menyelamatkan Allana waktu itu. Menyelamatkan Allana dari para Rogue. Kamu alpha itu, benarkan?"


"Alpha?" semua orang terkejut kecuali Allana. Allana sudah mengetahui itu.


"Kamu alpha itu kan? Aku paling bisa mengenali wajah dan aku tahu alpha itu kamu, maksudku.. Anda. Benarkan?"


Renald menghela nafas lalu menatap keluarga Allana yang masih terlihat terkejut.


"Nama saya Renald Hayken. Saya alpha dari pack Zykort. Dan ya, kamu benar. Aku yang waktu itu ada di hutan."


"Astaga maaf, saya benar-benar tidak mengenali anda."


"Tidak masalah nyonya. Saya memang jarang keluar dari pack."


"Tapi pack Zykort sangat jauh dari sini. Kenapa anda bisa sampai disini?"


"Waktu itu saya dari pack Lykort, kebetulan raja Kei memanggil. Saya melewati kota lalu bertemu dengan kakak Allana dan juga Allana. Sekarang, saya hanya siswa pertukaran. Hanya sementara. Besok saya juga akan kembali ke pack. Saya bahkan tidak tahu jika disini lokasi pertukaran pelajarnya."


"Ahh begitu."


"Kalau begitu permisi, ini sudah malam."


Renald beranjak pergi dari rumah Allana.


"Alpha." ayah Allana memanggil setelah agak jauh dari rumah. Renald berhenti dan menoleh. "Saya mohon maaf, saya belum bisa membalas kebaikan anda setelah menyelamatkan Allana."


"Tidak perlu tuan. Saya hanya membantu."


"Tapi saya ingin membalasnya."


"Kalau begitu, jaga saja anak anda dengan baik. Saya permisi."


Renald merubah dirinya menjadi serigala lalu pergi diikuti anggota packnya.


'Jaga anak anda dengan baik? Itu? Dia orang tua Allana, dia pasti menjaganya dengan baik'


'Ohh shut up Ted.'


Mereka semua berlari cepat menembus malam.


*****


Sudah sedari pagi suara-suara itu terdengar. Bahkan kursi sudah mulai bergoyang tidak tentu arah.


"Apa kita tidak bisa membuatnya pingsan lagi saja? Dia berisik sekali." Alice mengambil pancakenya lalu duduk dengan kasar.


"Sebaiknya aku coba untuk berbicara dengannya."


"Deyaa akkaan endenganya?" sahut Alice dengan mulut penuh makanan.


"Dia kenal Allana. Sudah seharusnya Allana yang berbicara padanya. Lagipula setidaknya kita mencoba. Dan kunyah makanan di mulutmu dengan baik. Ibu hampir tidak mengerti apa yang kamu bicarakan."


"Pergilah Allana."


Allana mengangguk dan segera menuju ruang tamu. Dia melihat Ben masih meronta untuk melepaskan diri. Ben melihat Allana berdiri di dekatnya.


"Hmmp... Hmpp.." mulut Ben ditutup kain agar dia tidak berbicara. Allana mendekat perlahan. Lalu duduk di sebelah Ben.


"Aku akan membuka kain yang ada di mulutmu tapi berjanjilah untuk tidak berteriak atau menjerit." kata Allana pelan. Ben mengangguk menyetujuinya. Allana segera melepas kain yang ada di mulut Ben.


"Di mana aku? Kamu apakan aku?"


"Tenanglah Ben. Kamu berada di rumahku dan aku tidak melakukan apapun padamu."


"Ya, setidaknya belum. Buktinya kamu mengikatku dan membungkam mulutku." Ben masih menatap ngeri pada Allana.


"Aku mengikatmu agar kamu tidak lari dan menutup mulutmu agar kamu tidak berteriak tapi aku tidak akan menyakitimu."


"Agar aku tidak lari?"


"Kamu telah melihat yang seharusnya tidak kamu lihat Ben. Kami tidak ingin mengambil resiko kamu akan memberitahukan pada orang lain."


"Karena itu kalian akan membunuhku, iya kan?"


"Tidak Ben, sudah aku katakan aku tidak akan menyakitimu."


Ben menatap Allana. Dia melihat kesungguhan di mata Allana. Dia tahu Allana tidak berbohong.


"Lalu... Siapa mereka? Bukan, apa mereka? Ke-kenapa mereka seperti itu? Dan kamu! Kamu mengenal mereka, apa kamu... Apa kamu seperti mereka?"


Allana menghela nafas sejenak.


"Mereka... Adalah manusia serigala. Ya, aku mengenal mereka karena mereka adalah temanku. Aku... Aku juga sama seperti mereka, manusia serigala."


"Tap-tapi... Tapi itu hanya mitos."


"Apa yang kamu lihat tadi malam itu mitos?"


Ben terdiam. Dia tampak berpikir.


"Aku tahu ini tidak masuk akal bagimu tapi kami nyata, manusia serigala itu nyata dan percayalah aku juga pernah mengalami hal sepertimu. Melihat sesuatu yang selama ini aku anggap dan ketahui sebagai mitos."


"Kamu... Awalnya bukan manusia serigala?"


"Tidak, aku tidak tahu jika aku seorang manusia serigala. Keluargaku menutupi hal itu karena aku belum bisa berubah menjadi serigala. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasa. Ketakutan, panik, bingung, tidak tahu harus berkata dan melakukan apa. Tapi percayalah Ben, kamu akan baik-baik saja."


"Tapi aku mendengar dari mereka semalam. Mereka berkata, karena aku telah melihat mereka aku harus mati."


"Aku tidak akan membiarkan hal itu Ben."


"Karena itu kami menggunakan cara lain." kata ayah Allana yang baru saja datang bersama ibu, Alice dan Derek.


"Mereka keluargaku. Itu ayah dan ibuku, kakakku Alice dan Derek. Mereka manusia serigala juga."


Ben menatap keluarga Allana dengan tatapan bingungnya.


"Mungkin di potong lima lalu di bakar. Dia tidak kurus, cukup berotot. Pasti enak." gumam Alice. Mata Ben terbuka lebar. Dia terkejut sekaligus takut.


"Alice! Hentikan itu!" tegur ibunya.


"Dia hanya bercanda Ben. Alice memang suka seperti itu. Kami tidak memakan manusia tenang saja." Allana mencoba menenangkan sementara Alice sudah tertawa geli.


"Para penyihir datang. Kamu sudah siap All?"


"Tinggal mengambil tas Ransel di atas." Allana beranjak naik ke kamarnya.


Suara ketukan pintu terdengar. Ayah Allana sudah menunggu di balik pintu.


"Selamat datang." sambut ayah Allana.


"Bagaimana kalian tahu kami datang?" tanya Jim bingung. Ayah Allana menunjuk telinganya.


"Pendengaran kami lebih tajam."


"Ahh maaf.. Aku lupa jika kalian manusia serigala."


"Tidak masalah. Mari masuk, Allana sudah siap."


Jim dan Will masuk dan langsung menuju ruang tamu.


"Selamat pagi nyonya." sapa Jim. Dia juga mengangguk pada Derek dan Alice. "Uhm.. Siapa dia.."


"Ahh.. Dia.. Kami ingin meminta bantuan perihal dia."


Jim dan Will saling pandang sejenak.


"Dia teman Allana, manusia biasa dan tanpa sengaja melihat kaum kami berubah wujud. Menurut hukum kami, dia harus di rubah menjadi kaum kami atau dibunuh jika dia menolak. Tapi ada satu cara lagi, melalui penyihir."


"Menghapus ingatannya." tebak Jim.


"Benar."


"Baiklah, akan kami lakukan."


"Kalian bisa?" tanya Allana yang sudah turun dengan ranselnya.


"Ini anak kami, Allana."


"Selamat pagi. Saya Jim, ini Will. Kami yang akan membawamu pergi."


"Hai... Allana."


"Apa kalian ingin menghapus ingatannya sekarang?"


"Lebih cepat lebih baik."


Jim berjalan mendekat pada Ben.


"Si-siapa kau? Mau apa?" Ben mulai ketakutan lagi.


"Apa kalian punya lilin?"


"Tentu..."


Ibu Allana berjalan kedapur dan kembali dengan lilin di tangannya. Jim menyalakan lilin itu lalu membaca mantra. Dengan sekejap Ben sudah tidak sadarkan diri.


"Kenapa dengannya?"


"Tidur. Dia hanya tidur. Saat dia bangun, dia tidak akan ingat tentang manusia serigala. Kalian bisa tenang sekarang."


"Syukurlah." ibu Allana bernafas lega. "Derek, antar anak ini pulang nanti."


"Baik, bu."


"Maaf tuan, nyonya, kami harus pergi sekarang. Kami tidak ingin membuang waktu."


"Tentu."


"Akan kami beri waktu kalian untuk berpamitan. Kami akan menunggu di halaman belakang."


"Tidak perlu." sahut Allana cepat. "Kami baik-baik saja. Lagipula aku hanya pergi sebentar, iyakan bu?"


"Tentu sayang, tentu. Setelah semua ini selesai, kami akan menjemputmu kembali. Kemarilah."


Allana berjalan ke ibunya dan memeluknya.


"Hati-hati disana dan teruslah kirim kabar." Allana mengangguk mengerti. Dia melepaskan pelukkannya lalu memeluk ayahnya.


"Kami akan segera menjemputmu. Jangan khawatir."


Allana memeluk Derek lagi. "I will miss you little sist. Don't cry and miss me too much."


"You wish." sahut Allana membuat Derek tertawa.


Allana dengan enggan memeluk Alice. Dia dan Alice tidak begitu akur, tidak, sangat tidak akur. Allana berjalan menuju Jim.


"Aku siap."


"Kau yakin? Tidak perlu perpisahan lagi?"


"Tidak."


"Baiklah. Kami akan melindungi dan membawa Allana ke pack Lykort dengan selamat. You have my words. Kami pamit."


"Hati-hati."


Jim memegang lengan Allana begitu juga Will. Mereka berteleportasi.


******


Dalam sekejap mereka mendarat kembali. Allana membuka matanya. Mereka berada di sebuah hutan yang luas, entah di mana.


"Uhm.. Jim? Apa ini tempatnya?"


"Aku tidak yakin tapi aku rasa bukan. Aku dan adikku sepakat bertemu di kastil pack Lykort, bukan di hutan."


"Lalu...kenapa kita disini?"


"Apa? Ada apa? Apa ada masalah?" Allana bingung melihat ekspresi kedua penyihir di depannya.


"Seharusnya kita bukan tiba disini, seharusnya kita tiba di sebuah kastil, bukan di hutan."


"Mungkin kastil itu di dekat hutan ini?"


"Mungkin dia benar Jim. Mungkin kita hanya meleset sedikit."


"Aku tidak pernah meleset Will. Sihirku selalu tepat. Ada yang salah disini. Perasaanku mulai tidak enak."


"Ya sudah, bagaimana jika kita berteleportasi ulang?"


"Ayo."


Jim dan Will mencoba berteleportasi lagi, lagi dan lagi tapi mereka tetap muncul di tempat yang sama.


"Ini aneh."


"Kenapa aneh? Mungkin memang ini tempatnya." sahut Allana.


"Tidak Allana, ini aneh. Tujuan teleportasiku yang terakhir tadi adalah rumahmu tapi kita kembali kesini lagi."


"Apa?"


"Dugaanku... Ada yang membuat kita kemari, menjebak kita."


"Siapa?"


Tiba-tiba ada sebuah kilatan cahaya melewati mereka. Lalu semakin banyak kilatan cahaya menuju mereka. Jim dan Will berusaha keras menangkisnya. Jim menarik tangan Allana dan bersembunyi di balik pohon.


"Apa itu?" tanya Allana yang mulai ketakutan.


"Penyihir."


Kilatan masih terus mendatangi mereka.


"Aku benar Will, kita di jebak. Jaga Allana."


Jim berdiri dan merentangkan tangannya. Dia membaca mantra dan mendorong balik kilatan cahayanya.


"Dipercantian!!"


Satu penyihir terhepas jauh. Jim mulai menyerang.


"Will!!"


"Electrico!!"


Will menyerang penyihir yang berada didekatnya. Jim bersembunyi di pohon yang berbeda dari Will dan Allana. Pohon-pohon itu memiliki batang yang cukup besar. Serangan bertubi-tubi mendarat di pohon dan sekitar Jim.


"Sial, Jim!"


Jim bertahan dengan baik. Dia memberi isyarat jika dia baik-baik saja. Jim mulai mengintip dari sisi pohon.


"Sial!" umpatnya. Dia menatap Will. "Wolf." bisiknya.


"Oh tidak. Mereka menggunakan manusia serigala juga."


"Ma-manusia serigala?"


"Iya, ini akan sulit."


******


tadariez