Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 33 : Rogue



Allana melihat mereka dengan kengerian. Mereka begitu banyak dan mengelilingi kuil yang seharusnya tidak terlihat.


"Ada apa ini? kenapa mereka disini?"


"Aku tidak tahu Luis. Aku akan mencari tahu." Harold melangkah maju tapi Luis dengan cepat menghentikannya


"Apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu? Sebaiknya jangan Harold. Terlalu berbahaya."


"Luis benar. Lagipula mereka Rogue. Mereka tidak bisa di percaya."


"Tapi kita harus cari tahu ada apa." sahut Harold. Harold melangkah perlahan melewati batas wilayah kuil. "Melihat kalian berkumpul disini dan mengepung kuil, aku berasumsi kalian memiliki sesuatu yang penting?"


Hening, tidak ada yang menjawab. Mereka seperti menunggu sesuatu, tapi siapa.


"Hei! Bicaralah. Jika kalian memiliki kepentingan disini sebaiknya bicara." Kulihat Luis sudah berdiri sejajar dengan Harold.


Tak lama beberapa Rogue bergerak. Mereka membuka barisan dan membuat jalan setapak. Satu serigala melangkah pelan. Serigala itu berbulu abu-abu lebat dan bertubuh proposional, sangat cantik. Tidak terlihat jika serigala itu adalah salah satu Rogue. Bahkan Allana pun tidak percaya itu adalah Rogue. Serigala itu tampak sangat terawat dan jauh dari ciri-ciri yang di bicarakan orang tentang Rogue. Tak lama serigala itu berubah menjadi manusia yang terlihat sangat... Tampan? Astaga... Apa dia benar-benar rogue? Aku yakin mereka salah. Ya, sangat salah, batin Allana. Terlebih saat laki-laki itu tersenyum dengan indahnya. Allana semakin tidak bisa percaya mereka adalah Rogue. Allana beralih pada tubuhnya yang penuh tato. Semua tubuhnya penuh tato. Anehnya mata Allana tidak bisa beralih dari tato itu. Seperti ada ketertarikan sendiri pada tato itu. Aneh.


"Grigory."


"Old Harold. Semakin tua saja."


"Aku tidak memiliki masalah denganmu, sebaiknya kau pergi."


"Dan kau tidak berubah old Harold, selalu penuh curiga dan terburu-buru."


"Kami tidak memiliki urusan denganmu. Jadi sebaiknya kalian pergi."


"Kau yakin? Setelah beberapa orangmu terluka? Apa kau takut?"


"Kami warrior kuil tidak pernah takut padamu, pada kalian semua."


"Well, well.. sama sombongnya seperti dulu."


"Katakan apa maumu Grigory. Lalu pergilah."


"Hmmm... Aku ingin sekali tapi sepertinya ini membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk pergi."


Harold mengerutkan keningnya. "Aku tidak--"


"Mengerti maksudku? Baiklah, akan aku katakan keinginanku. Air itu, aku menginginkannya."


"Air?"


"Kau tahu apa yang ku maksud."


"Dan kau tahu itu tidak mungkin. Tidak ada yang bisa mendapatkannya."


"Oh jangan menganggapku bodoh, Harold tua. Kau pikir kau bisa menipuku? Kalian para warrior bisa menggunakannya sementara kalian melarang kami menggunakannya?"


"Meskipun kami ingin, tapi kami tidak bisa menggunakannya sesuka hati kami."


"Meskipun sebentar lagi ada anggota kalian yang akan mati?"


"Apa yang sudah kau lakukan Grigory? Kau tahu kami tidak memiliki urusan denganmu dan kaum Rouge mu. Kami tidak mencampuri urusan di luar kuil meski kami mengetahuinya."


"Yeah tapi sayangnya kami memerlukan air itu."


"Dengan melukai pasukanku?"


"Setidaknya kami memiliki penawarnya."


"Brengsek!" umpat Luis.


"Tenanglah. Kami tidak bisa memberikan air itu."


"Kau yakin? Penawar di tukar dengan air itu. Pertukaran yang adil kurasa. Lagipula kalian tidak akan rugi jika kami meminta sedikit dari air itu."


"Tidak, maaf tapi kami tidak bisa memberikan air itu." Harold bersikeras.


"Harold." Kevin berjalan mendekati Harold. "Tristan... Dia--"


"Bilang pada Harry untuk melakukan yang dia bisa untuk Tristan."


"Jangan keras kepala Harold. Kami memberikan pilihan yang mudah."


"Maaf tapi tidak ada pilihan disini." Harold berjalan masuk ke dalam wilayah kuil. Kevin menghela nafas kasar lalu ikut masuk ke dalam wilayah kuil.


"Aku masih akan berada disini. Mungkin jika kamu berubah pikiran!!!" pekik Grigory lalu tersenyum puas.


"Harold, tidak bisakah kau berubah pikiran? Tristan--"


"Tristan akan baik-baik saja. Mereka akan sampai sebentar lagi." Harold pergi untuk melihat Tristan. Luis berjalan mengikuti Harold tapi Allana menghentikannya.


"Air apa yang di minta mereka? Ada apa sebenarnya?"


"Air dari sebuah mata air dari sini. Ikut aku."


Luis berjalan ke suatu tempat di belakang air terjun. Mereka menaiki bukit. Tepat di belakang air terjun ada suatu kolam berukuran sedang. Sekilas tidak ada yang salah dengan kolam itu.


"Itu. Dulu itu adalah sebuah mata air."


"Dulu?"


"Iya. Sekarang hanya sebuah kolam."


Tiba-tiba warna air kolam itu berubah.


"Airnya... Berwarna..."


"Pelangi. Benar."


"Bagaimana bisa?"


"Sihir tentu."


"Sihir?"


"Kudengar yang terpilih pertama mengikat sihir mereka pada kolam ini."


"Bukan yang terpilih." Semua orang menoleh. Howard sudah berada di sana. "Waktu itu yang terpilih belum terbentuk. Mereka hanya sekelompok orang. Penyihir paling kuat di dunia. Mereka mengambil sumpah setia dan kemanapun mereka pergi atau berpisah, mereka akan kembali. Kolam ini akan menyatukan mereka. Bahwa kolam ini menjadi tumpuan mereka."


"Jadi... ini bukan milik yang terpilih?"


"Milik yang terpilih tentu. Para penyihir yang terkuat itu adalah leluhur dari yang terpilih. Mereka menurunkan sihir mereka pada keturunan mereka. berpuluh tahun setelah mereka mengucap sumpah disini, keturunan mereka mengumumkan bahwa mereka di panggil sebagai yang terpilih."


"Lalu.... para serigala tadi..."


"Rogue Allana. Mereka Rogue." koreksi Luis.


"Mereka serigala juga."


"Tapi mereka liar. Aku benci mereka. Semakin banyak saja."


"Mereka meminta air ini?"


"Benar. Air ini memiliki sihir yang sangat kuat. Yang meminumnya akan menyembuhkan luka apapun di tubuhnya dan akan semakin kuat. Karena air ini tidak bisa di berikan pada siapapun. Akan ada konsekuensinya dan tidak banyak yang akan bertahan saat meminum air ini. Banyak dari mereka bahkan mati saat meminumnya. Meski air ini memilik fungsi yang banyak dan hebat, ini tetap memiliki sihir yang kuat. Tidak banyak yang bisa menahan sihir sekuat itu."


"Jadi karena itu kamu tidak memberikan air ini pada mereka?"


"Tidak, aku sungguh tidak perduli jika mereka mati setelah mereka meminum air ini. Hanya saja jika mereka berhasil, maka mereka akan berbuat lebih banyak kehancuran, melebihi yang sudah mereka lakukan."


"Kami saja sekian lama tinggal disini tidak pernah meminum air ini. Jika kami terluka akan menyembuhkan diri dengan cara manusia serigala dan di bantu dengan obat-obatan baik dari alam maupun manusia biasa. Benarkan Harold?"


"Benar."


"Bagaimana Tristan?"


"Aku tidak tahu."


"Lalu untuk apa kamu kemari? apa kau mempertimbangkan untuk memberikan Tristan air ini atau... tidak. Kau tidak akan memberikannya kan?"


"Tentu saja tidak. Aku belum gila."


"Untunglah. Tapi bagaimana dengan Tristan?"


"Bantu aku jaga kuil ini. Aku akan segera kembali."


Harold melangkah pergi menuju belakang kuil.


"Tunggu, kau mau kemana?"


"Aku akan bertemu dengan Elder."


"Elder?"


"Mereka akan mencoba membantu Tristan."


"Apa mereka bisa?"


"Oh aku tidak tahu Luis. Tapi tidak menutup kemungkinan."


Tak lama mereka sampai di ujung perbatasan kuil paling belakang. Di luar kuil sudah terlihat beberapa orang menunggu. Harold di temani Luis dan Allana pergi mendekati beberapa orang itu.


"Terima kasih telah datang." Harold menajabat tangan beberapa orang itu.


"Jangan sungkan." sahut satu orang bertopi tinggi.


"Lalu di mana dia?" tanya satu orang lagi. Kali ini orang itu menggunakan stelan jas serba putih dan rabut panjang nya berwarna putih.


"Di dalam." jawab Harold.


"Kalau begitu bawa dia keluar. Kami tidak bisa kedalam."


"Tentu, tapi... akan kalian bawa kemana?"


"Kesalah satu tempat aman kami. Kami biasa membantu para supranatural disana." jelas pria bertopi tinggi.


"Baiklah."


"Kami akan berusaha sebisa mungkin. Apa kalian tahu apa penyebabnya?"


"Tidak. Tapi mereka berkata, ada penawarnya jadi saya rasa... racun?"


"Penawar? bisa jadi. Tapi bisa juga karena hal lain."


"Baiklah, para warrior lain sedang membawa mereka."


Allana hanya dia menatap mereka.


"Elder. Mereka penyihir."


"Ahhh..." Allana mengaggukkan kepalanya. "Seperti James."


"Mereka terlihat anehkan? begitulah penyihir." komentar Kevin.


"Mereka datang!" sahut Harold tiba-tiba.


"Mereka? mereka siapa?" para penyihir kebingungan.


"Para Rogue!!"


"A-apa?"


"Kevin bersiap! Allana! masuklah..." sahut Harold pada Allana. "Cepatlah, mereka mulai datang." Harold mindlink para warrior yang membawa tubuh Tristan.


Dari jauh terlihat beberapa rogue berlari mendekati mereka.


"Para Knirer, jika mereka menyerang kita... serang balik." sahut pria berjas putih. "Maafkan kamu Harold, jika mereka tidak menyerang kami, kami tidak bisa membantu kaum kalian."


"Kami mengerti itu. Sangat mengerti. Anda tidak perlu khawatir tuan."


Harold berubah menjadi serigala.


"Allana pergilah." sahut Luis lalu berubah juga. Harold menyerang satu serigala, Luis ikut menyerang juga. Allana berlari menuju kuil tapi terlambat. Di hadapannya sudah menghadang dua serigala. Allana terkejut. Dia melihat Harold dan Luis masih sibuk menghadapi Rogue yang lain.


"Aku harus bisa." sahut Allana pelan. Allana merubah dirinya menjadi serigala. Allana melompat tinggi dan mendarat di salah satu serigala. Serigala itu segera bangkit dan menyerang balik. Mereka menyerang Allana tanpa ampun. Mereka menggigit bahkan menghempas tubuh Allana berulang kali.


"Apa ini? mereka.... sangat cepat."


"Mereka Rogue Allana, mereka memang liar, tapi mereka kuat. Berhati-hatilah."


Luis kembali mendorong keras satu serigala yang menyerangnya. Allana mendengar geraman di belakangnya. Dia menoleh. Serigala yang tadi menyerangnya sudah bersiap menyerang lagi.


"Oh tidak. Aku tidak akan kalah lagi. Kalian telah membunuh cukup banyak."


Allana menggeram balik lalu melompat tinggi, mencoba menerkam serigala itu. Tapi serigala itu lebih cepat dan menghidar lalu dengan cepat berbalik menyerang Allana dengan membabi buta. Allana kewalahan. Tubuh serigala Allana terhempas keras di pohon dan terjatuh. Satu serigala lain mendorong kuat tubuh serigala Allana yang masih terbaring di tanah. Allana mencoba berontak dan melepaskan diri, tapi serigala itu sangat kuat.


Para warrior yang membawa tubuh Tristan mulai berdatangan. Mereka terkejut atas penyerangan. Semua mulai berubah menjadi serigala.


"Tidak! jangan bantu kami. Antarkan saja Tristan pada para penyihir itu. Cepat!"


Para warrior saling tatap lalu akhirnya mengangguk. Dua di antara warrior kembali berubah menjadi manusia dan memapah tubuh Tristan sementara dua lagi tetap menjadi serigala untuk membuka jalan dan menghalangi para Rogue. Harold melihat Allana sudah tidak berdaya.


"Luis, tolong Allana. Aku akan menahan mereka disini."


"Tidak! jangan menghiraukan aku. Aku bisa dan harus bisa."


"Tapi Allana--"


"Tidak!"


Tubuh Allana mulai lemas. "Tidak, aku tidak boleh... tidak boleh..."


Bola mata Allana yang semula berwarna coklat kini berubah menjadi putih pekat lalu tubuhnya mulai bersinar lagi. Allana menendang kuat serigala yang mendorong tubuhnya secara terus menerus. Serigala itu terhempas jauh. Satu serigala lagi menggigit kakinya. Allana menggeram keras lalu dengan cepat merendahkan tubuhnya lalu menggigit telinga serigala itu dan menariknya sampai putus. Allana mendorong keras tubuh serigala itu hingga terhempas beberapa meter. Dia menatap Harold dan Luis yang mulai kesusahan karena jumlah Rogue yang terlalu banyak. Setelah tumbang beberapa tapi akhirnya kembali berdatangan dengan jumlah banyak. Bahkan mereka sudah mulai bisa mengambil tubuh Tristan. Allana menggeram marah. Dia berlari cepat menuju lima serigala yang menyerang Harold dan menghempas mereka sekaligus.


"Aku tidak apa-apa Allana. Bantu mereka mengantarkan tubuh Tristan pada para penyihir itu. Cepat!"


Allana menggeram lalu segera berlari. Satu serigala sudah menyeret tubuh Tristan. Allana berdiri tepat di depan serigala itu lalu menggeram kasar. Serigala itu menggeram sambil masih menarik tubuh Tristan. Allana melompat tinggi. Serigala tadi melepaskan Tristan lalu menghindar. Allana kembali menyerang dengan cepat dan merubuhkan satu serigala. Dengan cepat serigala lain berdatangan dan mulai menyerang Allana. Semakin lama jumlah Rogue itu semakin banyak.


"A-ada apa ini? Kenapa dengan para Rogue ini?" tanya penyihir berambut putih.


"Mereka menyerang membabi buta dan-- tunggu dulu. Ada kasus penyerangan pack bukan? dan pelakunya adalah Rogue."


"Jika menyerang pack masih sangat wajar Barnabas, tapi mereka menyerang para warrior di kuil mereka."


"Kau benar. Lalu kita harus apa Augys?"


"Tidak ada. Mereka tidak menyerang kita."


"Mereka memang para warrior yang sangat kuat, tapi jika melawan Rogue sebanyak ini dengan jumlah mereka yang sedikit, mereka tidak akan bertahan Augys."


"Peraturan tetap peraturan Barnabas, mereka tidak menyerang kita, kita tidak bisa menyerang mereka."


"Aneh sekali."


"Apa yang aneh?"


"Rogue biasanya menyerang apa saja yang ada di hadapannya tapi kita tidak di serang. Ini aneh."


"Kau benar. Aku baru menyadarinya. Seharusnya mereka menyerang kita." satu serigala baru saja melewati Augys. "Dan mereka tidak menyerang sama sekali. Mereka seperti--"


"Ada yang mengontrolnya." sambung Barnabas.


"Mereka memiliki Alpha?"


"Rogue tidak memiliki alpha, mereka memiliki pemimpin. Tapi meski begitu, mereka tetap akan menyerang siapapun. Itu sudah jadi jati diri mereka."


"Lalu... apa yang mereka cari dengan menyerang warrior ini? apa yang ada di dalam kuil itu?"


Barnabas dan Augys terdiam sejenak lalu saling menatap terkejut.


"Mata air pelangi samar." sahut mereka bersamaan. Lalu menatap ratusan rogue yang menyerang para warrior.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


*****


Renald berjalan mondar-mandir di ruangannya. Dia sudah seperti itu sejak sepuluh menit yang lalu. Bibinya membuka pintu ruangan itu dan terlihat bingung.


"Uhm.. ada apa dengannya?" tanyanya pada Teddy yang juga masih bengong melihat Renald.


"Entahlah. Saya masih mencoba memahaminya."


"Uhm... Renald..."


"Tunggu bi, tunggu. Jangan ganggu Renald dulu."


"Tapi kamu sudah seperti ini dari sepuluh menit yang lalu Ren-- uhm... alpha."


"Sepuluh menit? Astaga apa kau sakit Ren?"


"Tidak bi, tidak. Hanya... jangan ganggu Renald."


"Apa ada yang di pikirkannya?" tanya Bibi Agatha lagi pada Teddy.


"Kami hanya membahas Allana dan bunga biru itu lalu tiba-tiba dia jadi seperti itu."


"Gadis itu lagi? sudah beruntung dia berada di kuil itu dan tidak menyusahkan kita, kenapa harus di pikirkan lagi? bukankah dia aman di kuil itu?"


"Well sepertinya aman."


"Tapi aku tidak tenang!" sahut Renald setengah berteriak. "Aku rasanya akan gila. Kepalaku akan meledak. Jika memang dia aman, kenapa aku memikirkannya terus, khawatir padanya. Lagipula dia bukan mate-ku! kenapa aku merasa seperti ini? dan kenapa bunga ini tidak bisa kugunakan?!"


"Hei... tenanglah. Kau harus mengendalikan dirimu, anak muda!" sahut bibi Agatha.


Renald menghela nafas panjang lalu duduk dikursinya.


"Apa mungkin ini mate-syndrome?" tanya bibinya yang sudah duduk di depan Renald.


"Tidak tidak, tidak ada mate-syndrome bi. Dia bukan mate Renald, itu sudah pasti. Tapi dengan penyihir memberikan tugas pada Renald, itu selalu menjadi beban karena Renald merasa tidak memenuhi itu."


"Dia penyihir, kita manusia serigala. Sama-sama makhluk supranatural tapi beda kaum. Kita di larang mencampuri urusan kaum lain."


"Bi, penyihir itu memintaku menjaga Allana dan Allana adalah manusia serigala. Bukan penyihir."


"Tapi penyihir itu sudah mencampuri urusan manusia serigala dengan memerintahkan alpha sepertimu untuk menjaga gadis seperti Allana."


"Allana bukan gadis biasa bi. Dia warrior, yang Renald dengar memiliki kekuatan setara alpha dan beta."


"Yang jiwa serigalanya juga telah di ambil oleh luna dari Crysort itu. Ahh Renald... tidak ada masa depan di sana. Aku akan mengerti jika dia adalah matemu. Tapi ini bukan! dia bukan matemu jadi kamu tidak punya kewajiban pada gadis itu apalagi itu hanya karena perkataan penyihir itu."


"Tapi dia--"


"Bukan penyihir sembarangan." tambah ibu Renald yang baru saja datang.


"Dari mana kau yakin itu? bisa saja dia hanya penyihir biasa."


"Sudah kukatakan Agatha, yang bisa memetik bunga itu hanya yang terpilih."


"Oke, baiklah. Jika memang begitu, untuk apa dia meminta Renald untuk menolong gadis itu. Bisa saja dia meminta raja Lycanthrope itu. Raja itu lebih kuat dan memiliki wilayah yang cukup luas."


"Aku yakin ada alasannya. Dia tidak mungkin--"


"Bagaimana cara menggunakannya?" tanya Renald tiba-tiba.


"Menggunakan apa?"


"Bunga itu. Bagaimana cara menggunakannya? Renald mencoba menenangkan diri dengan cara apapun tapi entah kenapa tidak bisa. Menyebar beberapa orang untuk mencari tahu keberadaan Allana, tapi tidak ada satupun yang mengetahuinya, tidak satupun. Yang mereka ketahui Allana berada di kuil MoonGodness."


"Selesai kalau begitu. Jika dia benar disana, dia akan aman. Disana lebih aman dari pada di pack manapun. Bahkan yang menjaga kuil itu manusia serigala yang sangat kuat. Jadi untuk apa di cari lagi."


"Tidak bi. Renald merasa ada sesuatu yang terjadi. Entah apa itu."


"Hanya perasaanmu saja Ren."


"Tidak bi, ini pasti sesuatu dan Renald akan membawa Allana kemari, sesuai permintaan penyihir itu. Jika memang yang terpilih meminta Allana disini, pasti ada alasannya. Mungkin bunga itu bisa membantu Renald menemukan Allana."


"Bunga itu tidak akan bisa digunakan jika belum waktunya digunakan."


"Tapi aku rasa ini waktunya."


"Tidak Renald, ibumu benar. Jika memang Allana dalam bahaya, bunga itu akan bisa digunakan. Lihatlah, bunga itu normal. Tidak menunjukkan tanda akan bahaya atau akan segera di gunakan. Berati gadis itu baik-baik saja."


"Bibimu benar. Ingat fungsi bunga Bluemoon adalah memberikan harapan saat tidak ada harapan lagi. Jika bunga itu belum bekerja sesuai fungsinya, berarti gadis itu masih baik-baik saja."


"Tenang saja Ren, bibi yakin dia baik-baik saja."


"Entahlah bi. Renald harap bibi benar."


Benarkah Allana baik-baik saja?


******


TADARIEZ