Warrior (Shewolf)

Warrior (Shewolf)
Chapter 18 : New War? Bigger than Lykort?



"Liburan?"


"Kemana?"


"Kapan?"


"Kenapa tiba-tiba?"


"Bisakah kalian bertanya satu-satu?" protes Allana. Dia di hujani pertanyaan setelah memberitahukan pada Hope dan Erica bahwa dia akan pergi berlibur. Bukan libur sebenarnya tentu. Dia akan pergi ke pack lain untuk bersembunyi. Semalam ibunya baru bercerita bahwa dia akan pergi ke sebuah pack aman untuk melindunginya dari luna Chloe. Allana enggan pergi tentu, tapi dia tidak punya pilihan lain. Jika dia tinggal, luna Chloe akan melakukan ritual itu lagi padanya.


"Hei, kenapa bengong? Jawab!" Hope cemberut melihat Allana tiba-tiba terdiam.


"Ah.. Maaf, maaf. Aku hanya ingin berlibur Hope. Kamu tahukan aku sudah lama ingin berjalan-jalan keluar dari kota ini. Ayah dan ibuku menyetujuinya."


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Erica penuh curiga. Erica menatap curiga pada Allana. Erica tidak tahu apapun tentang hilangnya jiwa serigala Allana. Derek tidak memberitahukan apapun pada anggota packnya. Keluarga Allana memutuskan untuk menyelesaikan sendiri masalah keluarga mereka.


"Aku... Uhmm... Aku akan mengunjungi keluargaku di Eropa. Mereka.. Uhmm.. Kebetulan mengadakan sebuah acara. Keluargaku yang lain tidak bisa datang karena ada urusan yang lebih penting jadi mereka memintaku untuk menggantikan mereka. Tentu saja aku senang. Siapa yang tidak mau berlibur." Allana berusaha tersenyum semanis mungkin. Erica tentu, dengan insting tajamnya, dia masih curiga pada Allana. Lain halnya pada Hope.


"Jadi kau akan pergi? Berapa lama?" Hope mulai memelas.


"Aku tidak tahu. Mudahan saja tidak lama."


"Bagaimana pelajaranmu?"


"Orang tuaku sudah berbicara pada guru tentang itu."


"Dan?"


"Aku tidak tahu Erica, mereka belum membicarakan tentang itu padaku."


"Aku akan merindukanmu..." Hope memeluk Allana erat.


"Aku juga Hope. Aku masih akan pergi besok."


"Ahh aku tahu!!" pekik Hope tiba-tiba.


"A-apa yang kamu tahu Hope?"


"Kenapa tiba-tiba kamu memekik seperti itu? Bikin kaget saja." omel Erica.


"Kita harus buat pesta perpisahan!"


"Astaga Hope.. Aku hanya akan pergi sementara, untuk liburan, kau ingat? Bukan untuk selamanya." Allana menepuk jidatnya.


"Aku tidak perduli. Pokoknya malam ini kita berpesta. Ayolah... Ada anak-anak yang mengadakan pesta di salah satu rumah mereka. Ya? Ya? Hanya kita bertiga ke pesta itu. Hm?"


"Baiklah, baiklah... Jika tidak dituruti kamu akan merengek sepanjang hari."


"Yay! Kita berpesta!!" pekik Hope.


"Astaga anak ini ribut sekali." Erica memutar bola matanya.


******


Suara musik terdengar keras. Orang-orang banyak yang mulai berdatangan. Mereka berada di hampir seluruh sisi rumah. Bahkan di  halaman belakang rumah. Anak-anak SMA memenuhi rumah itu. Pesta tahun baru di adakan di sebuah rumah di salah satu murid di tempat Allana bersekolah.


"Jika aku tahu disini tempatnya, aku tidak akan pergi." keluh Allana. Dia masih berdiri di depan rumah, tempat pesta itu di adakan.


"Oh ayolah Allana.. Itu masa lalu. Bukannya kalian sudah baikkan?"


"Benarkah?" Erica menatap terkejut. Allana hanya menatap Hope sejenak lalu menghela nafas.


"Belum? Kalian belum baikkan? Ohh Allana.. Aku minta maaf. Aku kira kamu dan Kim sudah baikkan."


"Astaga Hope." Erica menepuk jidatnya. "Jadi kamu sudah baikkan dengannya Hope?"


"Mau bagaimanapun dia masih sepupuku Er. Apa kamu mau pergi dari sini?" tawar Hope. Allana menghela nafas lagi.


"Tidak, itu tidak perlu. Ayo masuk." Allana mulai berjalan masuk. Erica mencegahnya.


"Apa kamu yakin?"


"Yup, yakin. Ayo." Allana menarik lengan kedua temannya.


Di dalam rumah, sangat ramai. Bahkan sesak, hampir tidak bisa masuk.


"Cari tempat yang nyaman, aku akan mengambil minuman untuk kita."


Erica berjalan menjauh sementara Allana dan Hope mencari tempat yang sedikit lenggang. Musik terdengar keras. Mereka harus berbicara keras.


"Lihat para atlit Rugby itu." Hope berbicara agak keras dan menunjuk sekumpulan para pemain Rugby. "Mereka terlihat sangat--"


"Berapa banyak yang telah mengajakmu kencan?"


"Entahlah."


"Really? Seriously?" Allana menatap tidak percaya. "Kamu mulai pintar berbohong Hope."


"Hei! Aku tidak berbohong. Well hanya saja, aku sedang tidak ingin berkencan dengan para pria satu sekolah. Mungkin bisa jika dengan para pria dari sekolah atau kota lain. Atau aku masih membuka hati untuk kakakmu."


"Astaga, apa kau tidak bosan mengejar Derek? Dia bahkan tidak perduli padamu."


"Dia my first crush All. Aku suka dia dari aku kelas dua SD! Tapi dia tidak pernah melihatku."


"Kau tahu bagaimana Derek. Jika dia tidak tertarik, dia tidak akan perduli."


"Yeah, begitulah dia."


"So, cari saja yang lain. Yang seumuran denganmu."


"Tetap saja. Pesona kakakmu begitu mempesona."


"Dasar gila!" Allana tertawa.


"Hai! Wah aku kira kamu tidak akan datang. Aku bahkan tidak menerima jawabanmu sama sekali."


"Oh.. Hai Ben. Maafkan aku. Aku hanya--"


"Ya, ya aku mengerti. Pasti kamu sibuk. Tidak masalah asal kau sudah datang." sahut Ben antusias.


"Kau datang sendiri?"


"Tidak, dengan para Hyper itu." Ben menunjuk teman-temannya yang sedang menari dengan luar biasa semangat. Bahkan tarian mereka terlihat berantakan. Allana menggelengkan kepalanya. "Jangan di hiraukan mereka. Begitulah. Tapi mereka baik."


"Yeah, aku yakin itu." Allana tersenyum.


"Aku Hope." Hope mengulurkan tangannya pada Ben.


"Ah ya, hampir lupa. Ini temanku, Hope. Hope, ini Ben."


"Hope."


"Ben."


"Dia memang suka lupa padaku." sahut Hope. Ben tertawa.


"Dan Hope suka lupa padaku. Hai aku Erica." sahut Erica yang baru saja datang dan membawa tiga buah gelas berisi air minum dan membagikannya pada Allana dan Hope.


"Hai, aku Ben."


"Kau... Anak baru kan?"


"Iya, benar."


"Anak baru yang mana?" tanya Hope bingung. "Sekolah kita terlalu banyk anak baru."


"Dia, anak baru. Tapi ada juga beberapa siswa pertukaran pelajar, jadi mereka hanya sementara di sekolah kita. Aku dengar mereka akan kembali besok."


"Benarkah?"


"Lalu gadis itu, dia juga baru kan?"


"Gadis?"


Hope menunjuk Gyria yang sedang berdiri bersama Leysha.


"Ahh iya, dia anak baru." gumam Erica tidak senang.


"Sepertinya kamu masih tidak menyukainya Erica?"


"Tidak, aku baik-baik saja Hope."


"Jangan membohongiku Erica. Aku tahu bagaimana kamu."


"Tapi hal yang wajarkan? Anak baru cenderung banyak tidak di sukai atau tidak punya teman, seperti aku."


"Oh tidak Ben. Kau tampan dan hot, kau akan baik-baik saja." jawab Hope spontanitas.


"Ahh...okay..itu tadi sangat... To the point." kata Ben dengan keterkejutannya. Allana dan Erica terkekeh geli.


"Allana... Aku tidak menyangka kamu akan datang ke rumahku."


"Hai Kim."


"Kejutan yang menyenangkan."


"Apa kamu tidak suka? Aku akan pergi jika kamu tidak suka?"


"Oh All, jangan begitu. Aku senang kamu datang, well setidaknya itu tanda kita baik-baik saja kan?"


Allana tidak menjawab, hanya tersenyum seadanya.


"Baiklah.. Silahkan menikmati apapun yang di sediakan. Kamar ada di atas jika kalian ingin... Kau tahu." Kimberly tersenyum menatap Allana lalu Ben. Allana yang mengerti arti tatapan itu hanya memutar jengah bola matanya. "Aku tinggal dulu. Hai sepupu." Kimberly melambai ada Hope lalu pergi meninggalkan mereka.


"Dia memang tidak pernah berubah."


"Yup. Jangankan kau Er, aku yang sepupunya saja heran dengan tingkahnya." Hope menggelengkan kepalanya.


"Ya, kurang lebih denganmu." sahutan Erica membuat Hope cemberut.


"Mau dansa?" ajak Ben pada Allana.


"Dengan senang hati Allana akan menerima." Hope yang menyahut.


"Tidak, tidak.. Aku tidak suka berdansa. Jika kamu mengajakku ke toko buku atau perpustakaan, dengan senang hati akan aku terima. Lagipula di mana kita akan berdansa? Lihatlah, penuh sekali. Aku akan ke halaman belakang. Disini sesak."


Allana berjalan menjauhi kerumunan. Sakit kepalanya mulai menderanya lagi. Setidaknya di halaman belakang tidak begitu banyak orang karena cuaca yang cukup dingin. Meski salju tidak turun di kota Riverville tapi hawa dingin begitu menusuk. Selama menjadi manusia serigala, Allana tidak merasakan hawa dingin. Tapi sekarang setengah jiwa serigalanya sudah hilang, bahkan dia tidak bisa merubah dirinya. Kini semua kembali normal dan dia bisa merasakan hawa dingin lagi.


"Kau tahu disini dingin kan?" tanya Gyria yang berdiri di sebelahnya.


"Sedang apa kamu disini?"


"Aku tahu kamu membenciku Allana dan aku tidak tahu harus bagaimana untuk menebus semua kesalahanku tapi aku sudah berjanji pada orang tuamu untuk menjagamu. Setidaknya itu yang bisa aku lakukan."


Allana hanya diam. Dia tidak berkata apapun lagi. Di dalam hatinya sebenarnya dia tidak membenci Gyria. Dia mengerti, kenapa Gyria melakukannya. Jika dia berada di posisi Gyria, kemungkinan dia juga akan melakukan hal yang sama.


Dari kejauhan Renald memperhatikan Allana. Entah kenapa dia merasa ada hal aneh pada diri Allana.


"Aku kira Alpha Arthur telah mengatakan untuk menjauhi matenya." sahut Ted membuyarkan lamunan Renald.


"Aku tidak mendekatinya."


"Benar. Tapi kamu menatapnya, seperti kamu akan menerkamnya saja."


"Ughh... Jangan berlebihan Ted."


"Bukan aku tapi kau."


"Aku--" Renald menatap Ted tapi pandangannya beralih pada para gamma di belakangnya. "Kalian juga menyangka aku menatapanya berlebihan?"


Para gamma mengangguk dengan cepat dan kompak. Renald menghela nafas dan ingin menjelaskan tapi Ted dengan cepat memotongnya.


"Kau menyukainya, iya kan?"


"Apa? Aku-- kau gila."


"Aku tidak pernah melihatmu menatap gadis dengan begitu... Apa namanya? Yang biasa di ucapkan orang dewasa. Begitu..."


"Sudahah Ted."


"Intens! Ya, itu.. Kau selalu cuek pada gadis-gadis. Tapi berbeda pada gadis itu."


"Terserah kau sajalah. Aku sedang tidak ingin menyangkal atau mengiyakan kata-katamu."


"Tapi hati-hati alpha. Dia milik orang lain. Bisa-bisa hanya gara-gara gadis kita perang lagi dan mungkin perangnya melebihi antara pack Lykort dan Bykort tempo hari."


"Kau seharusnya mendengar perkataannya." Arthur sudah berdiri di dekat mereka.


"Arthur." sahut Renald dingin.


"Setidaknya dari semua orang-orang bodoh di packmu, ada satu yang memiliki kepintaran." ejek Arthur.


Immanuel mulai kesal. Gamma lainnya berusaha menenangkannya.


"Sudah kukatakan dia milikku. Seharusnya kamu mengerti kata-kata itu."


Renald masih membuang wajahnya. Dia benar-benar tidak ingin melihat Arthur.


"Cantikkan? Ya, aku tahu. Terlebih dia seorang warrior yang sangat kuat. Itu akan menjadikannya luna yang hebat disisiku. Packku akan semakin kuat."


"Warrior? Dia seorang warrior?"


"Kamu tidak tahu? Aneh sekali. Bukankah kamu mengincarnya karena dia warrior itu?"


"Apa yang kamu bicarakan?" Renald menatap Arthur bingung, begitu juga Arthur.


"Ya, dia seorang warrior."


Renald memalingkan wajahnya. Dia merasa Arthur menyembunyikan sesuatu. Warrior itu? Itu? Apa maksudnya?


Mereka berdua terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Rome.." Arthur mindlink Rome.


"Ya, alpha."


"Ini hanya perasaanku atau memang ada sesuatu yang berbeda dari gadis warrior itu?"


"Berbeda? Berbeda bagaimana alpha?"


"Entahlah, aku tidak tahu. Dia hanya terlihat... Berbeda."


"Maaf alpha tapi saya tidak melihat apapun."


"Mungkin hanya perasaanku saja. Lupakan."


Arthur memutuskan mindlinknya. Allana menatap tepat ke arah Arthur dan Renald. Mereka berdua melambaikan tangan mereka bersamaan lalu saling menatap dingin ketika mereka menyadari mereka melakukan itu secara bersamaan. Allana mengerutkan keningnya.


"Ada apa dengan mereka? Tunggu, mereka saling kenal?!"


"Kamu benar-benar harus menjelaskan padaku Allana." Hope berdiri di samping Allana dengan tangan di kedua pinggangnya.


"Jelaskan? Tentang apa?"


"Bagaimana bisa dalam waktu singkat kamu bisa di sapa oleh tiga anak laki-laki tampan, hot, dan menggairahkan itu?!"


"Astaga Hope, apa kamu tidak bisa memilih kata-kata yang lebih baik dari menggairahkan itu?"


"Itu tidak penting." Hope terlihat tidak tertarik pada kata-kata Erica. "Disapa tiga laki-laki tampan yang terpenting."


Allana terkekeh geli. Sementara Erica sudah mulai geram dengan kelakukan Hope.


"Eh tunggu, sepertinya mereka ada masalah." Hope menunjuk Arthur dan Renald. "Jangan-jangan gara-gara kamu All."


"Jangan bercanda, itu tidak mungkin."


"Temanmu benar, itu gara-gara kamu. Atau mungkin pemicunya adalah kamu." bisik Gyria yang masih berdiri di sebelahnya.


"Apa maksudmu?"


"Lihatlah. Alpha Arthur marah karena Renald menatap bahkan melambaikan tangannya padamu. Dia terus mengatakan kamu adalah matenya. Kamu yakin bukan matenya?"


"Mate?! Allana, kamu punya mate?!" pekik Erica yang mendengarkan pembicaraan mereka. Semua orang menoleh padanya.


"Astaga Erica kamu membuatku terkejut. Mate? Allana punya mate? Apa itu mate?"


"Ahh... Bukan apa-apa Hope." Allana menatap tajam Erica yang kini menutup mulutnya dengan tangannya.


"Mereka masuk kedalam hutan. Sepertinya akan ada pertarungan. Alpha Arthur terlihat sangat marah."


Allana mulai panik.


"Tidak mungkinkan kerena aku? Itu sangat tidak masuk akal. Tapi jika mereka bertarung apa tidak apa-apa?"


"Se-sebaiknya kita memisahkan mereka kan?" bisik Allana pada Gyria.


"Sebaiknya jangan. Aku dengar mereka sudah lama saling bersiteru jadi percuma jika di pisahkan. Mereka akan tetap bertarung."


"Tapi mereka bisa terluka."


"Mereka anak laki-laki Allana, biarkan saja. Itulah yang anak laki-laki lakukan."


"Tidak, aku tidak tenang." Allana berjalan mengikuti Arthur dan Renald. Gyria dan Erica saling menatap.


"Hei All, kamu mau kemana?" Hope bingung melihat Allana pergi tanpa berkata apapun. "Mau kemana lagi dia?"


"Kamu ikuti Allana, biar aku yang menemani Hope." bisik Erica sepelan mungkin tapi dia tahu Gyria mendengarnya. Gyria mengangguk mengerti lalu mengejar Allana.


"Biarkan saja Allana, Hope. Ayo ambil minum, aku haus."


"Tap-tapi..."


"Ayo.. Dia baik-baik saja. Paling hanya mencari tempat tenang."


"Ahh baiklah."


Erica menarik tangan Hope masuk ke dalam rumah.


*****


"Allana... Tunggu!"


Gyria memanggil Allana. Tapi Allana tidak memperdulikannya.


"Allana!!"


Gyria berlari mendahuli Allana lalu menghentikan Allana.


"Menyingkirlah, aku harus melihat mereka."


"Tidak, kau akan tersesat."


"Apa maksudmu? Aku kenal hutan ini."


"Pada malam hari? Dan di saat indra serigalamu tidak berfungsi?"


"Well.. Aku.."


"Aku akan membawamu pada mereka."


"Baiklah."


Gyria meruba warna bola matanya. Sekarang berwarna biru terang dan bersinar. Gyria melangkah cepat diikuti Allana.


"Apa kau yakin ini jalannya?"


"Kamu masih tidak mempercayaiku?"


"Tidak, aku--"


"Ssttt..."


Allana terdiam. Gyria menunjuk sesuatu di depannya. Allana melihat arah yang di tunjuk Gyria. Para lelaki itu sudah berkumpul hanya dengan penerangan dari ponsel-ponsel mereka.


"Ini benar-benar membuang waktuku." keluh Arthur. Dia duduk di atas batu.


"Kau yang meminta, kau ingat? Lagipula apa kau terlalu takut gadis itu akan jatuh ketanganku sehingga kamu bersikap seperti ini?" kata Renald dengan nada mengejek.


"Dasar brengsek!" Arthur tertawa tidak percaya. "Renald aku tahu kamu iri padaku, tapi kamu tahu ketentuannya. Dia mateku yang sudah pasti, kamu suka atau tidak, dia akan menjadi milikku. Ahh! satu hal lagi. Dia juga pasti merasakan hal yang sama denganku."


"Percaya diri sekali." bisik Allana. Gyria menutup mulut Allana dengan tangannya. Allana menatap Gyria. Gyria hanya menggelengkan kepalanya lalu menunjuk telinganya. Allana mengangguk mengerti. Dia lupa mereka semua adalah manusia serigala. Tentu pendengaran mereka tajam, terlebih Arthur dan Renald adalah alpha.


"Jika begitu. Kau tidak perlu takut dan marah ketika aku menyapanya. Aku hanya bersikap ramah padanya. Ahh iya, aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu. Aku tidak mau bertengkar hanya karena urusan gadis. Membuang-buang waktuku. Ayo pergi."


Renald berbalik begitu juga para pengikutnya.


"Apa kau takut Renald?" pertanyaan Arthur membuat langkah Renald terhenti. "Sama seperti dulu kan? Kau takut. Dasar pengecut. Sekali pengecut tetap pengecut, tidak akan berubah."


Renald menarik nafasnya, berusaha untuk tenang. Lalu kembali berjalan.


"Lihatkan? Alpha mereka saja pengecut begitu, bagaimana isi packnya." Arthur dan semua pengikutnya tertawa keras. Tapi Renald tidak perduli, dia tetap berjalan.


"Sama persis dengan ayahnya yang pengecut!"


Renald berhenti lagi. Entah sebutan "ayahnya" begitu mengganggunya.


"Alpha..." Rome mencoba mengingatkan.


"Apa? Aku benar! Bukannya melindungi pack dan keluarganya, tapi ayahnya malah pergi meninggalkan packnya pada anaknya yang masih kecil!"


Bukk!!


Arthur terduduk di tanah akibat pukulan Renald yang tiba-tiba. Arthur tertawa sambil menyeka darah dari bibirnya.


"Aku tahu, ayahmu adalah pemicu. Setidaknya sekarang aku punya alasan untuk menghajarmu." Arthur berdiri. Bola matanya berubah menjadi merah. "Kau akan mati malam ini."


Arthur berubah menjadi serigala. Dia menggeram kasar dan bersiap menyerang. Arthur melompat tinggi, menyerang Renald. Renald dengan cepat menghindar. Arthur menyerang dengan cepat dan terus menerus. Renald masih dengan tubuh manusianya mencoba menghindar.


"Aakkhh!!" Renald mengerang kesakitan terkena cakaran Arthur. Tapi entah kenapa dia enggan berubah. Bahkan Ted dan para gamma terlihat khawatir.


"Apa yang kamu lakukan Ren, ayo berubah!"


"Tidak." 


"Apa kau gila?! Kau bisa mati!!"


Renald tidak menjawab. Dia sibuk menghindar dari serangan Arthur. Ted geram dan ingin membantu tapi dari seberang terlihat Rome sudah menatapnya tajam seakan memperingatinya untuk tidak ikut campur. Dia paham, jika dia membantu, akan terjadi perang antara dua pack. Sementara ini hanya pertempuran antara kedua alpha mempertaruhkan harga diri mereka.


"Dasar bodoh! Kau pikir ayahmu akan bangga kamu mengorbankan diri tanpa melawan secara pantas?! ada apa denganmu?! berubah!!"


Ted masih terus mencoba membujuk Renald. Dari agak jauh, Allana menatap dengan khawatir.


"Apa yang sebenarnya mereka lakukan?" bisik Allana.


"Bertarung." jawab Gyria singkat dan juga berbisik.


"Iya aku tahu, tapi mereka bisa mati. Dan kenapa dia tidak berubah?"


"Entahlah, yang aku yakini mereka sama-sama kuat. Tidak banyak alpha yang masih remaja di dunia ini. Dan mereka berdua, cukup pantas menjadi alpha."


"Tidak penting mereka pantas atau tidak, yang terpenting bagaimana caranya menghentikan mereka untuk saling membunuh."


"Tidak bisa di hentikan kecuali mereka sendiri yang berhenti. Tidak ada yang berani menghentikan mereka, mereka alpha."


Allana mendengus kesal. Dia tidak tahu harus bagaimana menghentikan mereka. Mereka terlihat akan saling membunuh. 


Renald berteriak untuk kedua kalinya. Kali ini punggungnya yang terkena cakaran. Renald mundur perlahan. Arthur juga berhenti dan berdiri di tempat di tempatnya dan menatap Renald. Dia heran kenapa Renald tidak juga mau berubah. Dia cukup mengenal Renald untuk tahu Renald menyembunyikan sesuatu. Tapi sayangnya dia tidak tahu apa itu. 


Arthur bersiap menyerang kembali. Dia membengkokkan kakinya, bersiap melompat. Renald sudah berdiri tegak. Arthur melompat tinggi dan menerjang Renald, tapi belum sampai pada Renald, Renald sudah berubah menjadi serigala dan ikut menerjang Arthur. Mereka bertarung dengan wujud serigala mereka sekarang. Renald menggigit Arthur tepat di punggungnya lalu mendorong tubuhnya keras. Arthur terhempas kasar. 


"AAAAAAAKKKKKKKHHHHHHH.....!!!!" 


Sebuah teriakan keras mengagetkan semua orang. Arthur dengan cepat bangkit dan mengejar orang berteriak tadi yang kebetulan tadi berada di dekat dia terhempas. Renald ikut mengejar dari belakang. Dalam hitungan detik, Arthur sudah berdiri di depan orang yang berteriak tadi. Renald dan lainnya menyusul. Arthur menggeram keras, seperti akan membunuhnya.


"Tidak Arthur! jangan." sahut Renald yang telah berubah menjadi manusia. Arthur menggeram. 


"D-dia manusia!" pekik Immanuel.


"Aku tahu itu Immanuel, tapi kita tidak perlu membunuhnya."


"Apa kau gila?!" Arthur telah merubah dirinya menjadi manusia. "Dia sudah melihat kita berubah dan tahu siapa kita!"


"Tapi bukan berarti itu alasan membunuhnya."


"Jangan terlalu lembut Ren, demi tuhan!" pekik Arthur. Renald terdiam. Dia tahu dia tidak akan bisa menyelamatkan manusia itu. Manusia itu telah melihat mereka. 


"Mereka tidak akan membunuhnya kan?"


"Tapi dia telah melihat mereka Allana, melihat apa mereka sebenarnya. Bisa berbahaya jika orang lain tahu."


"Apa tidak ada cara lain?"


"Membuat dia menjadi manusia serigala juga atau... Meminta bantuan penyihir untuk menghapus ingatannya tentang manusia serigala. Tapi masalahnya, aku rasa kedua pack itu tidak memiliki kerja sama dengan penyihir."


"Dari mana kamu tahu?"


"Jika iya, mereka akan meminta bantuan penyihir yang mereka kenal tapi mereka justru berpendapat untuk membunuhnya."


Allana menghela nafas kasar.


"Apa kamu tahu siapa kami? Tidak, apa kami?" Arthur bertanya pada manusia itu. Manusia itu hanya ketakutan, panik dan bingung. Dia hanya bisa menatapi semua orang yang mengelilinginya. "Dia bisu atau apa? Kenapa dia diam saja?"


"Dia hanya terkejut dan ketakutan. Jangan mendesaknya lagi."


"Really? Kau akan membelanya? Kau lemah Ren. Rome!"


"Ya alpha."


"Bunuh dia."


"Baik alpha."


Rome bersiap merubah dirinya. Manusia itu semakin panik. Dia berteriak tidak karuan.


"Dia tidak bisu. Dia hanya lemah dan penakut. Bunuh dengan cepat."


"Baik alpha."


Rome berubah menjadi serigala. Dia menggeram keras, membuat manusia itu semakin takut.


"HENTIKAN!! APA KALIAN SUDAH GILA?!"


Allana keluar dari tempat persembunyiannya.


"Allana?" "Allana?"


*****


tadariez