TRIPLE R

TRIPLE R
9. Kembali



Sudah hampir sebulan Adrian di rawat di rumah sakit, dan selama itu pula Nata senantiasa datang menemaninya, tentunya setelah ia mengajar, atau jika ia sedang ada urusan kampus, Nata akan datang disore harinya hingga sampai malam ia baru pulang ke rumah, mereka juga menjadi semakin akrab, Adrian hampir tidak pernah menanyakan tentang Nara lagi.


Nata sudah berangkat ke sekolah dengan mengendarai mobil milik papanya, suasana kedai terlihat sepi karena sudah memasuki jam kerja dimana orang pasti telah sampai di tempat kerja, biasanya jika pagi akan banyak orang yang membeli makanan, kue ataupun kopi untuk sarapan di kedai papa Rey.


Seorang gadis cantik turun dari taxi berjalan memasuki kedai sembari menyeret kopernya dan tas di punggungnya. Gadis itu sangat merindukan tempat ini, tempat dia dan keluarganya tinggal dan dibesarkan, dia adalah Reynara.


"Pa, ma, Nara pulang". ucapnya berjalan mencari keberadaan orang tuanya.


Mendengar suara yang begitu familiar dan mereka rindukan, dua orang paruh baya itu segera keluar dari dapur, dan alangkah terkejutnya ketika melihat sosok yang saat ini tengah berjalan cepat kearahnya.


"Ma, pa", Nara langsung memeluk mamanya dengan erat, dan papanya juga ikut memeluk putri dan istrinya, dan mereka bertiga menangis haru, hingga beberapa lama mereka bertiga masih tak melepaskan pelukanya. Pelukan yang begitu hangat dan menenangkan hati mereka. Papa Rey menciumi, mengusap rambut putrinya berkali-kali, menumpahkan segenap kerinduan dan kekuatiran yang terpendam selama ini.


Setelah beberapa lama, kedua orang paruh baya itu melepas pelukanya, mama Rey membingkai wajah Nara yang cantik.


"Apa kau benar-benar Nara putriku", ucap mama Rey gemetar memeriksa wajah putrinya takut putrinya terluka.


"Iya nak, apa ada yang terluka", ucap papa Rey


"Pa ma, aku kan tidak pergi berperang", ucapnya sembari menghapus air matanya


Detik kemudian, mama Rey memukuli lengan putrinya, "kau ini keterlaluan Nara, kenapa kau tidak ada kabar beberapa bulan ini, mama sampai tidak bisa tidur memikirkanmu", ucapnya


"Ma jangan memukulinya, putrimu bisa kesakitan", ucap papa Rey memeluk istrinya erat dari belakang agar tak memukuli putrinya.


Nara memeluk mamanya erat, wanita paruh baya itu tidak bisa menahan luapan emosi di hatinya.


"Maaf ma, pa, Nara membuat mama sama papa kuatir", ucapnya, anak dan ibu itu menangis sesenggukan.


"Sudah ma, jangan memarahinya, marahi papa saja yang sudah memberikan ijin Nara pergi kesana", ucap papa Rey. Ia merasa bersalah selama ini pada ketiga putrinya, karena sejak kecil ia sudah meninggalkanya, bekerja jauh menjadi chef di kapal pesiar, putrinya Nara hampir tidak pernah mengeluh saat kecil bahkan ketika ia sakit pun tidak mau mengeluh. Pria itu selalu ingat kata-kata yang putrinya Nara ucapkan.


"Nara tidak ingin papa cari uang terus, Nara ingin papa disini bersama kami dan mama, Nara tidak akan minta apa-apa, Nara akan jadi anak yang baik, Nara tidak akan nakal, Nara akan belajar dengan rajin, Nara mohon jangan pergi pa", dan banyak lagi kata-kata yang terus tergiang di pikiran papa dan mama Rey hingga sekarang, kata-kata itu diucapkan Nara dengan tangisan pilu setiap kali papa Rey berpamitan hendak pergi berlayar.


Tidaklah mudah membesarkan tiga bayi kembar, kebutuhan yang begitu besar, membuat papa Rey rela pergi jauh meninggalkan anak-istrinya, hanya ingin hidup berkecukupan, itulah yang menjadi alasan Nara belajar begitu keras mengikuti tes kelas unggulan agar bisa segera menyelesaikan sekolahnya serta menerima undangan belajar ke luar negeri yang memberi biaya pendidikan secara gratis, agar bisa meringankan beban ayahnya yang harus menyekolahkan ketiganya bersamaan, namun kepintaran Nara justru membuatnya harus tinggal jauh dari keluarganya diusianya yang masih menginjak 13tahun, itu juga yang menjadikan alasan ketiga putrinya memanggil kedua orang tua Raka dengan sebutan mama dan papa, karena saat kecil ketiga putrinya seperti kehilangan sosok seorang ayah. Sehingga sering menganggap papa Raka sebagai papanya juga, dan Raka pun tidak keberatan ia malah begitu senang, merasa punya saudara karena Raka anak tunggal.


"Papa tutup dulu pintu kedai" membuat Nara dan mamanya saling mengurai pelukan.


"Kenapa pa, ini kan masih siang, Nara bisa bantu", ucapnya


"Kedai hari ini tutup saja, papa kangen sama kamu, hari ini papa akan masakin khusus buat kamu", ucapnya begitu semangat, berlalu menutup pintu kedai.


"Biar saja hari ini libur dulu, kamu juga lelah kan, besok-besok buka lagi", ucap mama Rey yang sudah mulai tenang dan bisa tersenyum.


Nara hanya bisa menurut gadis itu melepas tas punggungnya dan duduk di kursi bersama mamanya.


"Kamu mau makan apa sayang???, tanya papa Rey


Nara tersenyum pada ibunya yang terus memegangi kedua tanganya, seperti tak ingin berpisah.


"Nata masih mengajar ma??, ucapnya sembari membelai lembut tangan mamanya.


"Iya, Nata masih mengajar di sekolah taman kanak-kanak, dan Hana dia jarang pulang, paling sebulan sekali pulangnya itupun hanya sebentar", keluh mama.


"Kalau Raka, apa dia juga sering berkunjung kesini????


"Sebulan lalu dia datang bersama Hana, katanya baru di pindah tugas disini, setelah itu belum kesini lagi, sepertinya dia juga sibuk".


"Ma, bolehkan Nara mandi dulu, Nara gerah, nanti kita ngobrol lagi", ucapnya lembut, ia tahu mamanya masih ingin melepas rindu.


"Iya sayang pergilah, mama bantu papa masak dulu".


Nara beranjak dari duduknya,"Pa, Nara keatas dulu ya".


"Iya nak, mandilah biar segar dan capeknya hilang".


Nara segera naik ke lantai dua, ia memandangi setiap sudut ruangan yang tidak berubah, ia masuk ke kamarnya yang ia tempati bersama kedua saudara kembarnya sejak mereka pindah dan tinggal di kedai, duduk di tempat tidurnya sebentar menarik nafas dalam-dalam, dia begitu rindu dengan suasana kamarnya dan tentunya rindu dengan kedua saudara kembarnya. "Tempat ini masih seperti dulu, tidak ada yang berubah", Nara melihat sebuah foto masa kecilnya bersama kedua saudara kembarnya dan juga teman kecilnya Raka, ia tersenyum mengingat masa kecilnya bersama. Kemudian ia bergegas ke kamar mandi.


Nara mengguyur tubuhnya dengan air shower yang terasa begitu segar membasahi tubuhnya, selama tinggal di Gaza seringkali Nara harus mandi sehari sekali, karena kekurangan air, belum lagi di musim dingin di luar negeri ia harus menahan rasa dingin sendiri. Nara merasa begitu menikmati mandinya hingga ketukan pintu mengagetkannya.


"Sayang, lama banget mandinya, makanannya sudah siap, nanti keburu dingin". panggil mama


"Iya ma sebentar lagi Nara keluar". Nara segera membungkus tubuhnya dengan handuk dan keluar dari kamar mandi, dan ternyata mama Rey masih disana mengambilkan baju untuk putrinya itu.


"Ini mama siapin baju untukmu", ucap mama Rey


"Trimakasih ma".


"Sini, mama mau periksa tubuhmu, ada yang terluka tidak", ucapnya.


"Mama terlalu berlebihan, Nara tidak kenapa-napa ma".


"Tetap saja mama kuatir", wanita paruh baya itu memeriksa tubuh putrinya yang hanya terbalut handuk, Nara merasa malu sudah sebesar ini harus di periksa tubuhnya oleh mamanya.


"Ya sudah pakai bajumu dan segera turun makan, papa sudah menunggumu".


"Iya ma, Nara segera turun".


Papa Rey menunggui putrinya yang makan begitu lahap, sedang mama Rey menyisir rambut putrinya perlahan, tidak ada yang bicara, membiarkan putrinya makan dengan tenang.