
Siang ini sesuai dengan rencana ketiga gadis kembar dan juga Raka akan mengunjungi Adrian di rumah sakit, Raka mengendarai mobil Hana sembari mengobrol.
"Aku tidak tahu bagaimana reaksi Adrian bertemu kalian bertiga, aku tidak yakin dia bisa membedakan kalian.
"Dia pasti akan semakin pusing", ucap Hana
"Jangan tertawa di atas penderitaan orang lain", ucap Nara justru membuat mereka tertawa
"Apa kamu benar-benar tidak menyukai Adrian Ra, seorang dokter yang kaya raya, tampan, dan mapan, satu-satunya pewaris lagi". ucap Hana
"Menyukai seseorang tidak bisa di ukur dengan itu, kalau kamu sama Nata mau juga tidak masalah", ucap Nara.
"Aku sudah punya seseorang yang aku suka, mungkin Nata saja", ucap Hana lagi, seketika Raka yang sedang menyetir menoleh pada Hana yang duduk di kursi samping kemudi.
"Kau menyukai siapa???, tanya Raka penuh selidik
"Mau tahu saja", ucap Hana
"Siapa tahu aku mengenalnya, bagaimana kalau bukan orang yang baik", kuatir Raka
"Kau berlebihan Raka, bagaimana denganmu Nat, kau kan setiap hari selalu datang menemani Adrian????, tanya Hana
"Yang disukai itu Nara, Nara alasan dia datang kesini, bukan aku, tidak segampang itu kan pindah ke lain hati", jawab Nata, meski dalam hati tidak bisa di bohongi bahwa dirinya mulai menyukai Adrian, tapi Nata tidak menunjukanya.
Mereka telah sampai di rumah sakit, dan segera turun memasuki rumah sakit, orang-orang yang berada disana begitu terpaku melihat tiga gadis cantik yang serupa, hampir tak terlihat perbedaannya, bahkan staff di bagian informasi yang kemarin mengantar Nara bertemu Danu, itu tertegun hingga lama, tiga wanita dengan kecantikan dan postur tubuh yang terlihat seksi meski dengan balutan baju yang sederhana saja, membuat semua mata tertuju padanya.
Mereka berempat berjalan melewati lorong hingga sampai di depan ruangan Adrian, seseorang tiba-tiba memanggil Nara, dan membuat keempatnya menoleh.
"Nara", panggilnya, ''mau apa kesini???
"Pak Danu", ucap Hana kaget, tapi Danu hanya tersenyum
"Kamu mengenalnya Hana???, tanya Nara penasaran
"Dia pemegang saham terbesar kedua di perusahaanku", bisik Hana.
Danu mendekati Nara, ''kamu tidak ingin mengenalkan aku pada kedua saudaramu sayang???, ucap Danu
"Sayang!!!!!, ucap Raka dan Nata, dan seketika Hana menutup mulutnya.
"Apa anda begitu gila kerja, sampai hari libur begini berada di rumah sakit???, tanya Nara mengalihkan pembicaraan
"Aku hanya sedang memastikan para pekerja, untuk persiapan penyambutanmu besok", jawab Danu
Nara dan yang lain melihat kesana kemari terdapat beberapa papan nama dan bunga bertuliskan sambutan untuk dirinya.
"Anda berlebihan", ucapnya tidak suka.
"Aku akan melakukan yang terbaik untuk calon istriku", ucap Danu
Seketika, Hana, Nata dan juga Raka kaget" calon istri!!!!!. ucap ketiganya hampir bersamaan.
"Kenalkan saya Danuartha Alvarendra, calon suami Reynara, calon istriku sepertinya belum siap mengenalkanku pada keluarganya", ucap Danu sembari tersenyum mengerling
Nara tidak menyangka, Danu akan mengungkapkan hubunganya yang menurutnya baru seumur jagung.
"Sayang, kau dan kedua saudaramu begitu mirip, untung aku bisa mengenali calon istriku yang mana", ucap Danu menarik tangan Nara dan menggegamnya erat.
"Hallo senang bertemu kalian semua", ucap Danu sopan
"Sayang pria ini Raka, ahhhh harusnya aku tidak percaya padamu begitu saja, bagaimana bisa kemarin aku mengantarkan istriku mendatangi rumah pria lain, dia membuatku cemburu", bisik Danu di telinga
"Benarkah yang dia katakan Ra???, tanya Raka penasaran, pupus sudah harapan Raka, Hana dan Nata sudah menolaknya dan kini seseorang mengaku calon suami Nara, harapan satu-satunya Raka untuk memiliki salah satu dari kembar bersaudara ini lenyap seketika.
"Aku dan pak Danu sudah kenal lama, dia yang menawarkan padaku untuk bekerja disini", jelasnya
Danu mengangguk, untuk meyakinkan ketiganya.
Ada perasaan aneh yang menghimpit dada Hana, selama ini ia begitu mengagumimu Danuartha Alvarendra sebagai pemegang saham terbesar kedua di perusahaan tempatnya bekerja, meski Hana hanya beberapa kali bertemu dengan Danu, namun sosok Danu yang cuek namun tegas dan berwibawa itu telah membuatnya menyukainya, dan sekarang ia tahu jika Danu menyukai saudara kembarnya Nara, sikap cuek, tegas dan berwibawa yang biasa ia lihat saat bertemu di perusahaan itu seperti tak ada lagi di tunjukan didepan Nara, melainkan sikap begitu mencintai dan menjaganya.
Hati Hana seketika menciut, meski dia terkenal cantik dan seksi diantara teman-teman pramugarinya, tapi nyatanya tidak bisa membuat seorang Danu melihatnya, jadi Nara lah yang telah mengalihkan pandangan seorang Danuartha Alvarendra, seorang pembisnis muda dan handal yang banyak di kagumi di perusahaan tempatnya bekerja. Pak Danu menyukai wanita yang pintar, cerdas dan cantik serta mandiri seperti Nara, Hana merasa tak ada apa-apanya di banding Nara meski hampir tak ada perbedaan diantara ketiganya, akan tetapi Danu bisa mengenali Nara saat ini, itu pertanda kalau Danu benar-benar mengenal Nara dengan baik.
"Sayang, apa ada keluargamu yang sakit, kenapa kalian datang kesini bersama-sama????, tanya Danu.
Nara binggung menjawabnya, "kami mau menjenguk seorang teman yang kebetulan di rawat disini". jawabnya kemudian.
"Oh ya, kalau begitu silahkan, boleh aku ikut menjenguknya??, tanya Danu
"Saya tidak ingin mengambil waktu anda yang berharga". Nara membeliakan matanya, merasa jengkel dengan Danu yang tiba-tiba memberitahukan hubunganya yang masih abu-abu. Bagaimana jika orang tuanya sampai tahu, ia pasti akan di suruh untuk segera menikah.
"Aku punya banyak waktu untukmu sayang", ucap Danu tersenyum penuh kemenangan.
Mereka akhirnya masuk ke ruangan Adrian, setelah mengetoknya.
Adrian tertegun sesaat menatap kelima orang yang berdiri di depannya. Terlebih melihat seorang pria yang tak lain direktur rumah sakit tempatnya di rawat memegang tangan salah satu gadis yang ia yakini pasti adalah Nara, gadis yang dia kejar hingga datang ke negara ini.
"Hallo dokter Adrian, bagaiman keadaan anda??, sapa Nara sopan, ia melepas pegangan tangan Danu dan mendekat ke samping Adrian.
Suara itu begitu familiar di telinga Adrian. Dia ingin bersikap biasa tapi dadanya terasa bergemuruh.
"Seperti yang anda lihat dokter Nara, saya mengalami patah tulang di kaki, kapan anda kembali ???, jawab Adrian apa adanya, sejak semalam ia tidak bisa tidur dan membayangkan pertemuannya dengan gadis pujaanya.
"Baru dua hari lalu, maaf saya baru tahu, dan baru bisa melihat anda sekarang". ucap Nara
Suasana di ruang perawatan Adrian begitu canggung, Danu merasa ada hal yang terjadi diantara mereka yang tidak ia ketahui. Panggilan dokter itu membuktikan kalau mereka saling mengenal dengan baik.
"Adrian kami bawakan makanan dari rumah untukmu, mama kami yang memasaknya, apa kamu mau mencobanya", ucap Nata untuk mencairkan suasana
"Taruh saja dulu Nat, sampaikan salam trimakasihku pada mama kalian", ucap Adrian
"Hallo Adrian, apa kakimu sudah bisa berjalan???", suasa di ruangan tidak enak, Raka pun berbasa-basi.
"Aku masih menjalani terapi, masih terasa kaku", jawab Adrian menatap Danu dengan inten yang membuat Danu tak enak, semua keluarga Nara mengenal baik pasien di rumah sakitnya.
"Hallo saya Danu, apa ada keluhan selama anda di rawat di sini tuan???, tanya Danu merasa sedikit terabaikan.
"Saya Adrian, trimakasih atas kunjunganya, trimakasih sudah meluangkan waktu untuk melihat keadaan saya, sejauh ini sangat baik", balas Adrian sopan
"Semoga lekas sembuh".
Mereka berbincang sebentar, dan Danu tak henti menatap kekasihnya yang terlihat akrab dengan pasien, meski obrolan itu seperti basa-basi.